Disini aman. Gue yakin. Gue menoleh ke kiri dan ke kanan, setelah memastikan nggak ada manusia ataupun dedemit, gue segera masuk ke sebuah pintu.
Setelah gue buka, pandangan menyilaukan mendatangi mata gue tanpa mengucapkan salam. Angin semilir meniup rambut seputih bulu ayam betina tetangga yang sekarang lagi disesar.
Gue sekarang berada di atap. Kabur dari mereka.
Ya, mereka.
Disclaimer: Bleach © Tite Kubo.
Warning: OOC tingkat akut, AU, typo bertebaran, bahasa gaul, gak sesuai EYD, humor garing dan roman hampir gak ada.
— Jangan Sentuh Gue! —
— Chapter Tiga: DAFUQ! Kehidupan SMA-ku adalah Neraka! Ψ(‾ʬ‾)Ψ —
Semenjak Hinamori mengaku kalo dia adalah calon istri gue di depan publik (sebenarnya cuma kelas gue doang, sih), telah terjadi perombakan besar-besaran dalam hidup gue.
Gue, Hitsugaya Toushiro, cowok idola semua idola, yang dulu dipuja-puja oleh para shotacon kini tambah dikejar-kejar... Oleh golongan-ayo-buat-Hitsugaya-mimisan.
Tepat keesokan harinya setelah Hinamori menyebarkan gosip itu, di mading sekolah telah tertempel fan-art pernikahan gue sama Hinamori. Di bawahnya terdapat tulisan kecil, 'Gimana malam pertamanya, ya?'.
Keesokan harinya lagi, OSIS mengadakan survei tentang, 'bagaimana malam pertama Hitsugaya dan Hinamori?', dan 79% memilih 'Malam yang bersimbah darah'. 11% memilih 'Gak peduli', 9% memilih 'Malam yang romantis', dan 1% yang memilih 'Hitsugaya itu siapa, ya?'.
Oke, gue akui hal di atas itu benar-benar nggak penting. Yang terpenting sekarang adalah mencari tempat persembunyian yang strategis.
Ah, gue lupa. Gue menerima kabar buruk; HAMPIR SEMUA golongan pecinta-Hitsugaya-apa-adanya-yang-kebanyakan-adalah-kakak-kelas sudah melakukan pengkhianatan golongan ke golongan-ayo-buat-Hitsugaya-mimisan.
Lalu, apa artinya itu? Neraka.
Gue memegangi lutut gue, lalu menghela nafas berkali-kali. Gue menoleh ke arah pintu.
DUAK DUAK DUAK! Pintu itu digedor-gedor secara paksa dari dalam. Pffft, dasar bodoh. Pintu itu ditarik, bukan didorong, bego. "Hei, masa' kamu lupa? Pintu atap ini akan ditarik!" ucap suara seorang perempuan dari dalam.
Ah, sialan. Apa yang harus gue lakukan? Apa gue harus menggunakan semacam bom air mata? Sayangnya, gue nggak bawa bahannya. Seandainya adapun, gue nggak ngerti cara membuatnya.
Apa gue sentil satu-satu jidat mereka aja? Hal itu mustahil. Telunjuk gue bisa jadi asimetris dengan telunjuk yang satunya lagi.
Sialan. Seandainya gue nggak punya penyakit ini, gue pasti bakal biarin mereka nyentuh-nyentuh gue, terus bakal gue grepe satu-satu disini.
Tunggu. Begitu. Ah, ya! Benar! Ide sedang mengalir deras dari otak gue sekarang. Gue segera lari ke sudut mati dari pintu itu. Ketika pintunya dibuka, dan rombongan cewek-cewek-sialan itu berhamburan ke atap, gue segera masuk ke dalam pintu gedung. Gue tutup pintunya dari dalam, lalu dengan laknatnya gue geser kunci geser pintu itu dari dalam.
"Mampus lo semua! Selamat membusuk disana! Hahaha!" tawa gue laknat. Kayak peran antagonis di sinetron-sinetron silat Indosiar. Iya, yang kalo mau beli celana dalam aja mesti naik elang itu.
Gue menuruni tangga dengan bangga. Mengacuhkan suara gaduh yang terdengar dari atas sana. Ketika gue sampai di belokan, gue bertabrakan dengan seseorang, dan buku yang dibawanya berserakan di lantai.
Dia menunduk, memunguti buku-bukunya. Dia menggunakan jas dokter putih.
Kenapa gue nggak ngebantu dia? Lah? Emang kalian nggak pernah nonton sinetron? Kalo kalian pernah nonton, pasti tau, dong. Adegan tabrakan-ngebantuin-gak sengaja kepegang tangannya-saling memandang-ciuman-bawa ke hotel. Adegan itu selalu ada di sinetron, kok.
Ah, kecuali dua adegan terakhir.
"Kalo jalan tu pake mata, dong!" teriaknya sambil berdiri. "Lah?! Yang namanya jalan tuh dimana-mana pake kaki, beg—"
Ucapan gue terpotong melihat wajah calon orang yang bakal gue katain bego. Soi Fon-sensei.
Mampus gue. Dengan ini, udah dua kali gue nge-troll-in dia. Mana pas gue telat kemarin gue pura-pura nggak tau kalo disuruh ke ruangan dia, lagi.
Ini yang namanya udah jatuh tertimpa tangga, lalu jatuhnya keinjek kotoran kebo.
"Hitsugaya-san," panggilnya dengan ramah. "Ke ruangan saya."
"Uhm, sekarang, Sensei?" tanya gue sambil menggaruk kepala.
"Se-ka-rang," ucapnya dengan pandangan tajam. Saking tajamnya mungkin bisa dipake buat memotong Orichalcon, yang disebut-sebut sebagai bahan terkeras dalam komik Black Cat—Ah, gue ngelantur lagi.
Gue mau bilang "Ahaha, saya kira tahun depan," sambil nyengir. Tapi kayaknya itu bakal menambah daftar trolling gue ke Soi Fon-sensei. Jadi gue memutuskan buat nggak bilang begitu.
Sensei menuntun gue ke arah ruang UKS, dan gue membuntutinya kayak belakang. Kayak kucing yang bakal dikasih makan. Padahal sebenarnya gue lebih mirip kayak tikus percobaan yang bakal dieksekusi pancung.
Karena gue bosen, akhirnya gue ngebuat list cewek yang bakal gue cium setelah gue sembuh.
"Masuklah," ujar Soi Fon-sensei sambil ngebukain pintu UKS. Gue masuk, lalu duduk di ranjang pasien. Soi Fon-sensei duduk di kursi depan gue. Dia memandangi wajah gue. Karena gue merasa diliatin, gue ngebales ngeliatin Soi Fon-sensei. Wajahnya memerah, lalu membuang mukanya. Dalam artian kiasan, tentunya.
"Buka baju," perintahnya. Gue ngebuka kancing seragam sekolah gue.
Tunggu. NGAPAIN GUE BUKA BAJU?!
"S-Sensei, buat apa saya membuka baju?"
"Pake ini," dia ngasih seragam ke gue. Berat, begitu kesan pertama gue ketika menangkap seragam itu. Gue bentangin entu seragam. Di bagian perut ada kayak semacam bantalan. Di pundaknya ada gumpelan.
Gue sadar akan tiga hal: Satu; Ini seragam American Football. Dua; ini seragam Seibu Wild Gunmans dari manga Eyeshield 21. Dan tiga; Soi Fon-sensei sekarang nyuruh gue buat cosplay jadi Kaitani Riku.
"S-sensei?" panggil gue pelan. "Apaan?"
"Ini seragam Riku dari Eyeshield 21, 'kan?" dia ngangguk. "Terus, ngapain saya harus cosplay jadi Riku?"
Soi Fon-sensei nunjukin kamera digital di tangannya. "Mau saya foto, terus saya upload ke Twitter saya."
"T-tapi—"
"Nggak ada tapi-tapian. Kalo nggak mau, catatan kesehatanmu akan saya buat jadi 'mengkonsumsi narkoba', dan 'terkena HIV'."
Gue terdiam. Nggak berani lagi ngelawan. Orang bilang, guru paling seram itu guru kimia. Tapi dimata gue, Pengawas Kesehatan jauh lebih seram lagi karena bisa mengeluarkan murid hanya dengan mengubah sedikit hal di dalam dokumen laporan kesehatan siswa.
Gue akhirnya memakai seragam ini dengan pasrah.
"Tangkap ini!" ujar Soi Fon-sensei, ah, dia tak pantas kupanggil sensei di dalam pikiran gue. Soi Fon melempar bola american football ke arah gue. Karena lemparannya cukup tinggi, akhirnya gue menangkap bola itu dengan melompat.
Cekrek.
"Nice angle, Hitsugaya-san. Mari lakukan beberapa pose lagi!" ujar Soi Fon sambil tersenyum, dengan rona merah di pipinya. Dia terlihat bahagia. Ya, bahagia di atas penderitaan orang lain.
Yah, setidaknya dia nggak ngebuat gue mimisan.
Gue diselamatkan oleh bel masuk. Akhirnya gue nggak lagi dipaksa melakukan pose ala Riku. Gue bisa menghirup oksigen lagi. Tangan gue sampe jadi kemerahan gara-gara megangin bola lonjong itu terus.
"Hitsugaya-kuun~!" gue mendengar suara Hinamori dari belakang. Gue segera menghindar ke samping, tapi kaki kiri gue tetap di tempat. Hinamori yang lagi lari pengen meluk gue dari belakang jatuh menyandung kaki gue, dengan posisi hidung menyentuh tanah terlebih dahulu.
"Hitsugaya-kun kenapa menghindar?!" tanyanya protes sambil megangin hidungnya yang kesakitan.
"Gue masih mau hidup, Hinamori," ucap gue dengan raut sedih, biar dia kasihan sama gue. "Gue juga manusia yang pengen hidup tenang."
"Aku nggak peduli! Hidungku jadi pesek, nih! Lagian, cuma satu pelukan doang, gak apa-apa, kok! Palingan nanti mimisannya tinggal disumbat pake tisu! Lagipula, aku membawakan tisu untukmu," ujarnya sambil nunjukkin sebungkus tisu bayi yang ada di saku seragamnya.
Hinamori, jika ada pelajaran Membaca Raut Wajah, gue bakal ngasih elo nilai nol. Negatif kalo bisa.
"H-hahaha, terima kasih. Maaf membuatmu jatuh. Maaf juga nggak bisa ngebantuin beridiri," ucap gue ringan sambil garuk-garuk rambut gue yang tadi pagi lupa gue keramas.
Hinamori berdiri, membersihkan debu yang menempel di bajunya karena jatuh, lalu dia tersenyum manis ke gue, "Nggak apa-apa, kok."
Gue cuma bisa membalas senyum semanis jeruk mandarinnya dengan senyum sekecut jeruk nipis yang baru tumbuh akarnya doang.
"Meskipun begitu, —Aku tetap mencintaimu," ucapnya dengan senyum yang masih belum luntur. Rona merah yang muncul di pipinya menambah kesan manisnya.
"Ahaha, i-iya," jawab gue ragu-ragu. "K-kita ke kelas, aja, yuk."
Dia menganggukan kepalanya semangat, lalu berjalan ke kelas di samping gue. Gue sempat mendengar 'cieh-cieh', 'cuit-cuit', dan 'prikitiew' dari segala arah. Gue tau kalo gue memang bikin iri; karena gue dikira macarin cewek pindahan yang manisnya nggak ketulungan.
Tapi sebenarnya, gue nggak mampu buat ngebales kata-katanya tadi; "Aku juga mencintaimu,". Gue nggak bisa. Gue selama ini selalu menganggap Hinamori cinta monyet gue, dan bakal tetap begitu.
Kita memang nggak pernah bilang kata putus, tapi pada dasarnya, hubungan pacaran kita waktu itu hanyalah omong kosong anak TK.
Dan gue tau, setelah dia pergi, setelah gue menantikan kepulangan dia, pas gue masih SMP, gue sadar; kami telah putus dengan sendirinya.
Hinamori, lo dan gue itu kayak sandal. Kita awalnya sepasang. Tapi begitulah, sandal yang terpisah cukup lama, akan menimbulkan perbedaan dengan sandal yang satunya. Misal, yang satu udah digigit anjing, sedangkan yang satu lagi nggak sengaja keinjek kotora kucing.
Maaf, Hinamori.
Gue mungkin... Belum siap kalo harus mencintai elo satu kali lagi.
"Nee, Hitsugaya-kun, yang begini gimana rumusnya? Sekali inii, aja!" tanya Hinamori pada gue, sambil menunjuk satu soal. Gue ngajarin dia dengan males. "Ini udah yang kelima kali kamu bilang 'sekali ini aja'."
"Ini yang terakhir, deh!" ucapnya sambil nunjukin tanda peace di jarinya. Gue akhirnya ngajarin dia juga, pada akhirnya. "Ah, penaku jatuh."
Pena Hinamori jatuh ke bawah meja. Gue menunduk buat ngambilin. Tanpa gue sadari, gue nggak sengaja kepegang tangan Hinamori. Gue mimisan, darah menetes ke lantai.
Hinamori ngasih tisu ke gue. Gue make tisu itu buat nyumbat hidung gue. Gue menghela nafas. Tanpa gue sadari, kepala gue dan Hinamori udah cukup lama berada di bawah meja.
"Ah, Hitsugaya-kun, Hinamori-san, saya tahu kali pacaran, tapi mohon jangan ciuman di dalam kelas," gue menaikkan kepala gue buat melihat siapa yang lagi ngomong. Ichimaru-sensei, sang guru fisika.
"Sensei, kalo mereka ciuman, ntar bakal ada banjir lokal! Gyahaha!" pancing seorang siswa. Murid-murid yang lain ikutan haha-hihi nggak jelas. Sialan. Kalo gue tau siapa yang bilang begitu, bakal gue jitak kepalanya sampe botak.
"Ah, ya, benar juga, ya," ujar sensei dengan nada datar. Guru sialan. Guru macam apa yang ikutan mengejek muridnya? Gue jadi pengen make tusuk gigi buat nusuk hidung ini guru. Terus memakai senter pembesar Doraemon buat ngebesarin tusuk giginya.
Gue menatap wajah Ichimaru-sensei dengan datar, "Ah, maaf. Lagipula saya tidak pacaran dengan Hinamori-san."
Seandainya hidung gue nggak lagi disumbat pake tisu, pasti gue terlihat keren sekarang.
"Hoo," ujarnya Ichimaru-sensei, menebar aroma jengkol ke bangku gue. Lalu dia kabur begitu aja tanpa bertanggung jawab. Guru kampret. Untung hidung gue masih disumbat. Coba aja kalo nggak, bisa pingsan di tempat gue.
Gue melirik ke Hinamori.
"Aaah~, aku ditembaki bom busuk sama teroris~"
Ah, dia pingsan. Yah, setidaknya kau sudah berusaha, Hinamori. Gue mengacungkan jempol gue dengan tatapan 'good job!'. Meskipun gue sendiri nggak tau itu buat apa.
Gue melihat ke bangku depan gue. Bangku Rukia. Dia lagi belajar dengan serius—sejak kapan dia bisa belajar? Pelajaran fisika minggu lalu, kerjaannya cuma nyusun puzzle 3D Doraemon yang dia dapetin dari belanja lebih dari 25 ribu di Alfamart.
Fak. Udah gue duga. Rukia ngehindarin gue. Seolah gue adalah kotoran kucing yang belum pernah mandi sejak dilahirkan.
"Oi," ujar gue pelan sambil nyodok punggungnya dengan pena Doraemon gue. "Rukiaa~!"
Dia mengacuhkan gue. Pura-pura nggak dengar. Atau dia emang udah budeg? Gue menyodok punggungnya lebih keras lagi. Dia nahan ketawa karena kegelian. "Oi oi oi oi~!"
Kayaknya gue berbakat jadi penggemar AKB48, deh. Tinggal embat lampu batangan (baca: light stick) punya tetangga.—Ngapain gue malah mikirin soal AKB48?!
Ah, akhirnya dia menoleh. "Apaan, kampret?!"
What the?! Tiga hari elo diemin gue, dan kata pertama yang elo bilang adalah kampret?! Elo sungguh teman yang baik, Rukia. "Ngapain elo ngediemin gue? Emang gue salah apaan?"
Gue berbisik pelan. Dia menatap gue datar, "Nggak ada."
"Ciyus, neh? Miapah? Enelan?"
"Toushiro, sejak kapan elo jadi alay?" tanya Rukia sambil ngeliat gue ngeri. Gue ngegeleng-geleng, "Sori, gue ketuleran FTV tengah malem."
Hening.
Kenapa elo nggak ketawa?! Padahal gue udah mikirin joke itu tujuh hari tujuh malam! Gue pundung di pojokan hati gue. "Seriusan, gue salah apa?"
"Nggak ada," jawabnya lagi dengan nada datar. Sedatar dadanya. Untung dia nggak punya kemampuan membaca pikiran.
"Apa gue pernah nggak sengaja ngintip elo tanpa sadar?"
"Nggak pernah."
"Atau karena gue pernah nggak sengaja ngeliat elo bikin video harlem shake sama Inoue?"
"Buk—EH?! ELO LIATT?!" teriaknya tanpa sadar. Kepalanya langsung dikasih hadiah penghapus papan tulis sama Ichimaru-sensei. Dia jadi tenang lagi. "Oh."
"Buat apa elo ngomong 'Oh'?!" ujar gue, sewot.
"Karena elo liat gue sama Inoue bikin begituan. Makanya gue ngerespon pake 'Oh'," ujarnya sambil nulis sesuatu di meja. Kertasnya diremukinnya pake tangannya,lalu dilemparnya ke gue.
"Apa ini?" tanya gue heran. Dia ngejauhin bangkunya. Gue speechless lagi.
Gue buka remukan kertasnya. Isinya:
[Temui gue. Perpustakaan. Pulang sekolah. Bagian buku-buku fiksi. Gue mau ngomong. Sendirian. Jangan ajak Hinamori.]
Pikiran gue udah kemana-mana. Sendirian, apa Rukia mau nembak gue? Atau dia mau ngaku kalo sebenarnya da itu cowok yang dipaksa jadi cewek oleh Ayahnya yang ngebet punya anak cewek? Atau, malah—dia pengen ngebuat gue kena amnesia dengan ngebuat gue mengalami mimisan terhebat dalam hidup gue?!
Ah, sori. Maksut gue anemia.
Apa yang harus gue lakukan? Nanyain maksud dia apaan? Nggak bakal dijawab. Ngebangunin Hinamori? Bisa mimisan gue. Akhirnya gue mutusin buat ngehitung berapa detik Ichimaru-sensei tahan ngajar sambil nyengir.
"Hinamori, elo pulang sono," ujar gue, nyuruh Hinamori pulang duluan. Dia miringin kepala. Menatap gue bingung.
"Sekarang 'kan, emang jam pulang, Hitsugaya-kun?" ucapnya polos. Gue garuk-garuk kepala. "Iya, ya. Hahahaha."
Garing. Gue sendiri nggak ngerti kenapa gue ketawa. "Nggak, maksud gue, elo pulang duluan aja. Gue masih ada urusan di sekolah."
"Kamu 'kan nggak ikut klub apapun?"
Gue speechless. Mata kanan dan kiri gue udah muter secara simetris saking pusingnya mikirin alasan. "Ah, ano... Itu... Gue ada... Ya, gitu, deh. Pokoknya gue ada urusan."
"Hoo..." Hinamori menutup mulutnya dengan ekspresi nggak percaya. "Kamu mau menangkap hantu? Ne? Ne? Hantu apa yang mau kamu tangkep, Hitsugaya-kun? Kuntilanak? Genderuwo? Pocong? Ah, kalo abis main guling-gulingan sama pocong jangan lupa bantuin berdiri, ya. Terus, kalo ketemu tuyul nasehatin kalo mencuri itu nggak baik. Terus—"
"AH! DUIT KORUP—TABUNGAN GUE KETINGGALAN DI KOLONG MEJA! Udah dulu, ya, Hinamori! Gue takut duit gue ilang! Jaa ne!"
Gue berlari secepat kembaran gue di Eyeshield 21. Gue berlari ke arah perpus scepat mungkin. Kalo gue ngedengerin ocehan nggak jelas Hinamori, kuping gue bisa kena bronkitis stadium tiga koma lima.
Gue sayup-sayup mendengar Hinamori ngomong, "Tapi 'kan kelas kita ke arah situ..."
Ah, masa' bodo.
Sekitar semenit setelah gue kabur dari Hinamori, gue sekarang udah berdiri di depan pintu perpustakaan. Gue ngelepas sepatu gue, lalu naruh ntu sepatu yang udah sebulan nggak gue cuci di rak sepatu.
Ah, semoga semua orang sedang terkena pilek sekarang.
Gue masuk ke dalam perpustakaan. Hal pertama yang gue rasakan adalah: dingin banget, bo. Ciyus, dah. Suhu AC-nya berapa, sih? Gue berjalan ke arah bagian buku-buku fiksi. Sambil berjalan, gue menoleh ke kiri dan ke kanan.
Disini sepi. Cuma ada satu cowok berambut klimis berkacamata yang sedang menjahit, dan beberapa murid perempuan yang bergerombol. Menurut perkiraan gue, mereka lagi ngebaca novel romantis. Soalnya mereka dikit-dikit ngomong, 'Uuuh~ Co cwiit~!' dan 'Kenapa cowok gue nggak kayak Paijo, yaa'.
Setelah sampai di bagian buku-buku fiksi, gue ngeliat Rukia lagi baca, uuh—novel ringan komedi romantis. Gue nggak nyangka dia suka baca yang begituan. Nggak keliatan dari mukanya. Di mata gue, Rukia itu cocoknya baca komik semacam Naruto atau One Piece.
Yah, bagaimanapun juga, dia adalah cewek normal.
"Oi," panggil gue. Dia ngebales dengan 'Hm?'. Tanpa mengalihkan pandangannya dari buku. "Gue nggak nyangka elo suka buku begituan."
Dia langsung gelagapan. Nyembunyiin buku di balik punggungnya. "G-gue nggak suka, kok! Tadi cuma ng-nggak sengaja gue liat terkapar, jadi g-gue baca dikit. Nggak taunya... K-keterusan. B-bukannya gue suka sama cerita komedi-romantis macam ini, ya! G-gue cuma nggak tau buku yang bagus, j-jadi gue—"
"Iya-iya. Gue ngerti," ujar gue males. "Jadi, elo mau ngomongin apaan?"
"Nee, Toushiro."
"Apaan?"
"E-etto... Toushiro... G-gimana ngomongnya, ya..." dia ngegaruk-garuk pipinya yang udah bercorak kemerah-merahan.
"Elo mau ngomong apaan? Bilang aja, kali. Nggak usah make manggil-manggil nama gue dulu. Gue jadi ngeri," Rukia nyubit pipi gue. Gue mimisan. "Elo apaan, sih?!"
Gue nutupin hidung gue pake saputangan. "Dengerin dulu gue ngomong!" ujar Rukia dengan nada dan tatapan serius. Gue terenyuh. Akhirnya gue duduk di kursi samping Rukia, dengan hidung yang masih gue tutupin pake saputangan.
"E-elo... Baca send all gue yang waktu itu, 'kan?" ujarnya sambil memandang bukunya. Padahal bukunya kebalik. Ketahuan bener kalo dia lagi nggak berani natap gue.
"Iya, gue baca."
Wajahnya tambah merah lagi. "S-sebenarnya, itu..."
"—Buat Ukitake-sensei, kan?" ujar gue dengan mantap.
"B-bukan—,"
"Nggak usah malu-malu. Gue mendukung sepenuh hati, kok. Hubungan elo dengan ntu Sensei. Meskipun umur kalian beda jauh, belum tentu nggak bisa. Liat aja Rapi Amat sama Yuni Salah. Mereka baek-baek aja, kok."
"A-ah..." wajah merahnya menunjukkan ekspresi kosong. Gue nggak ngerti maksudnya apa. Gue melirik jam tangan gue. Udah jam lima sore. "Maaf, Rukia! Tapi bentar lagi angkot yang lewat bakal sepi, jadi gue pulang sekarang, ya!"
Gue ngebawa tas gue dipunggung, lalu pergi melengos tanpa dosa.
Brak! Gue menoleh ke belakang.. Rukia berdiri, mukul meja. Bangku yang didudukinnya tadi jatuh, efek dramatisasi dari adegan pas dia berdiri. Gue menatap dia dengan pandangan menanti jawaban dari apa yang barusan dia lakukan.
"B-bukan, Toushiro! Gue nggak suka sama Ukitake-sensei! Gue nggak pengen pacaran sama om-om! G-gue... Sebenarnya suka sama..."
"Elo suka sama?"
"G-gue..."
"Oh! Kalo nggak sama Ukitake-sensei, berarti sama Ichimaru-sensei?! Gue denger dia pernah mimisan pas nggak sengaja ngeliat pakaian renang murid cewek lepas pas pelajaran renang! Jadi elo terpesona pas ngeliat dia mimisan?!"
"Nggak, T-Toushiro, g-gue—"
"Maaf, Rukia! Gue bisa nggak dapet angkot! Lagian, gue capek kalo harus pulang jalan kaki, daah~!" ujar gue, lalu pergi keluar perpustakaan, dan memakai sepatu serta mencari angkot secepat yang gue bisa.
... Yang gue inginkan sekarang hanyalah pulang, makan, mandi, lalu tidur.
"Nggak, T-Toushiro, g-gue—"
"Maaf, Rukia! Gue bisa nggak dapet angkot! Lagian, gue capek kalo harus pulang jalan kaki, daah~!" dia pergi meninggalkan gue. Dengan alasan mencari angkotlah, nggak mau capek-capek jalan kakilah.
"Gue... Gue, suka sama elo..." gumam gue pelan. Airmata mengalir deras dari mata gue. Gue ngehapusnya dengan punggung tangan gue.
Bodoh.
Elo cowok paling bodoh yang pernah gue temui. Elo seharusnya masih disini, dan ngapus airmata gue pake saputangan bekas mimisan elo itu. Elo satu-satunya cowok yang udah ngebuat gue nangis.
Sialan. Kenapa elo mesti dilahirin, sih? Kenapa elo nggak mati kehabisan darah aja sebelum kita ketemu? Jadi gue nggak perlu nangis begini.
Jadi gue nggak perlu merasa dicampakkin begini.
... Jadi gue nggak perlu mencintai seseorang yang nggak bakal pernah ngebalas mencintai gue. Lalu kenapa, setelah elo gini'in gue, gue masih tetep pengen mencintai elo?
Apa lo make' pelet buat maling hati gue? Atau elo udah nyogok Cupid buat nembak gue?
Apa gue bego, karena tetap mencintai elo?
Apa gue bego, mencintai seseorang yang bahkan, mungkin nanti nggak bisa pegangan tangan sama gue pas kencan? Nggak, Toushiro. Gue nggak bodoh. Elo yang bodoh. Lebih milih angkot daripada gue.
Huh, semacam Cintaku Mentok di Angkot, gitu. Gue mengingat lagi setahun yang udah gue jalani setelah kenalan sama elo. Tiap hari gue ngebuat elo mimisan, dan tiap hari pula elo makin terlatih buat menghindari gue.
Gue tersenyum. Senyuman Airmata. Egao no Namida. Kalo gue bisa buat lagu, mungkin itu judul lagu yang gue buat untuk lo. Orang yang bisa ngebuat gue nangis karena ketidakpekaan elo, dan ngebuat gue tersenyum di saat yang sama karena ekspresi marah elo pas gue buat mimisan.
Ya, judul lagu buat elo. Gue nggak bisa buat lagu, tapi setidaknya gue bisa kalo cuma ngebuat judulnya doang. Mungkin, suatu hari nanti, gue bisa ngebuat lagunya. Tapi untuk sekarang, judulnya dulu.
Nee, lo juga nggak mungkin selamanya bakal nganggap gue cuma teman elo, 'kan? Karena itu, gue bakal menunggu. Menunggu saat elo bisa suka sama gue. Meskipun saat itu nggak mungkin ada. Meskipun elo udah punya calon istri yang badannya lebih tinggi dari gue.
Cepatlah sadar, kalo gue menunggu elo.
Toushiro no baka...
~ To Be Continued ~
Catatan Penulis:
Halo. Lama tak jumpa (kalo kalian nganggap seminggu itu lama).
Yosha! Inilah chapter ketiga dari Jangan Sentuh Gue. Ini adalah fict pertama saya yang saya kerjakan secara matang. Sampai-sampai satu chapternya aja saya bisa ngetik empat hari. Yah, kebanyakan stop, sih. Tee-hee.
Kalo ngetik empat hari, kenapa baru diapdet tiga hari berikutnya? Untuk menyegarkan mata, lalu melakukan typo-check. Nggak seperti fanfic-fanfic saya setahun yang lalu, yang ngetik di hari itu, selesai di hari itu, dan publish di hari itu pula. #insap
...
Segmen terakhir adalah Rukia POV, bagi yang tidak sadar. Maafkan kegalauan Rukia yang rada-rada gaje dan nggak nyambung. :v
Harus saya akui, saya sempat kehilangan arah pada pertengahan chapter ini. Jadi saya mohon maaf jika anda merasa terjadi ketidaksinambungan ataupun ketidakpuasan terhadap chapter ketiga ini.
Chapter ini lagi-lagi menonjolkan satu heroine, yakni Rukia, dan Soi Fon (meskipun cuma satu setengah segmen).
Lalu, kenapa Toushiro jadi nggak peka?! Bukannya dia kebelet punya pacar?! Ah, itu. Itu seperti kamu punya teman lawan jenis yang berantem tiap hari. Kalo teman-lawanmu itu bilang 'ailopyuh', ke kamu, kamu pasti mikir, 'ini anak pasti mau nipu gueh'. Secara garis besar, Toushiro udah nganggep Rukia sebagai sohibnya.
Saya mau curhat sedikit. Yang nggak mau ngedenger saya curhat mending langsung mencet tombol back.
Kemarin saya ngebaca ulang fanfic saya yang berjudul 'Aku Nggak Punya Pulsaa!'. Berada di fandom Naruto, yang saya publish tahun 2011. Setelah saya baca, saya sadar kesalahan yang saya lakukan setahun yang lalu: SAYA SALAH TULIS DISCLAIMER. Saya tulis disclaimer Naruto adalah Kazuki Takahashi—yang notabene adalah pengarang Yu-Gi-Oh!. Saya langsung jedotin kepala ke tembok.
Mana udah nggak bisa diganti karena dokumennya udah lama hangus lagi. Fak.
Yang saya lebih heran lagi, KENAPA NGGAK ADA YANG SADAR?! Semua review yang saya terima nggak ada satupun yang menyinggung masalah ini. Saya merasa disini telah terjadi Anomali Kegelapan.
Lalu, masalah fic ini. Jujur, saya merasa agak sulit melanjutkan karena kurang ide. Jadi maafkanlah saja jika fic ini akan menjadi discontinued suatu saat nanti. Yah, saya sendiri juga masih ingin melihat kelanjutan nasip Toushiro. ^^v
Makasih buat review-reviewnya. Silahkan review lagi jika tidak keberatan. ^^v
(Tanpa saya sadari catatan penulis ini udah sepanjang satu halaman microsoft word...)
