Disclaimer :
Always, Bleach © Tite Kubo
Please, Tell Me Something! © Riztichimaru
Title: Please, Tell Me Something!
Tolong Review ya!!
Honto ni Arigatou gozaimashita
STOPP!!!
Don't Like Don't Read
Chapter 3: Care About Her
Aku terus berlari mendekati bangku panjang di taman halaman Kuil Shinto itu dan ternyata wanita bersyall pink itu…
"Tidak, tidak ada siapa-siapa di bangku panjang itu, tidak ada wanita bersyall pink itu. Itu berarti wanita bersyall pink itu tidak datang hari ini," gumanku agak keras. Aku masih ngos-ngosan dan mengatur napasku.
'Tidak! Kenapa dia tidak datang?' tanyaku dalam hati.
Aku celangak-celingkukan dan berlarian ke sekeliling taman mencari kalau-kalau wanita itu berada disisi taman yang lain. Tidak, tidak kutemukan siapa-siapa di taman itu kecuali penjaga pintu masuk kuil yang kuketahui bernama Miroku dan kucingnya yang sedang memperhatikan tingkahku. Aku kecewa, tapi mengapa? Bukannya aku tidak peduli dan juga aku tidak ada hubungannya dengan dia.
Mengapa aku mengaharapkan dia datang, apa peduliku padanya. Toh kalau aku bertemu dengannnya, dia akan memukuliku lagi. Sudah dua kali dia memukuliku sekuat tenaganya. Mengapa aku berharap bertemu dengannya, aku ini aneh apa bodoh?
Lalu aku berbalik dari sisi taman itu menuju bangku panjang yang biasa aku duduki. Aku duduk dan huaazzz… aku menarik napas panjang. Apa-apaan aku ini berlarian meninggalkan teman-temanku, mengabaikan panggilan mereka, gelisah seharian dan panik di bus tadi. Melakukan tindakan bodoh hanya untuk bertemu dengan wanita'aneh' itu dan ternyata dia tidak ada di sini. Bodohnya aku.
Hari mulai menjelang senja, aku menjadi tidak bersemangat. Jadi kuputuskan untuk pulang saja ke apartemenku. Aku beranjak dari bangku panjang itu, baru saja berdiri tiba-tiba ponselku berdering. Kulihat nama yang tertera di ponselku -Renji Abarai-. Ah… kenapa Renji menelponku, aku lalu mengangkat telpon dari Renji.
"Moshi-moshi…"
"Gin, kamu dimana? Kami dari tadi mencarimu. Kamu hilang kemana, apa sudah pulang? Kamu baik-baik saja, kan?"tanya Renji diseberang telpon, nada bicaranya sedikit panik dan terdengar khawatir.
"Ah, Ano… aku sudah pulang ke apartemenku, tadi aku ada perlu jadi pulang buru-buru. Gomen, sudah membuat kalian khwatir. Aku baik-baik saja," jawabku berbohong. Aku tidak mau mengakui kalau aku sebenarnya tidak pulang ke apartemenku. Tetapi aku pergi ke taman ini untuk menemui seseorang yang tidak aku kenal.
"Oke, kalau gitu. Ini, Ichigo mau ngomong sama kamu," lanjut Renji.
"Gin, kamu tidak sedang ada masalah kan? O ya, Rukia mengkhawatirkanmu," ujar Ichigo di seberang ponsel, nada bicaranya masih tenang tapi kudengar Rukia berbisik pada Ichigo menanyakan keadaanku.
"Tidak, aku tidak ada masalah. Katakan pada Rukia tidak usah mengkhawatirkannku, aku baik-baik saja."
"Oke, baiklah. Sudah dulu ya, Gin."
Tut.. tut.. tut…
Aku lalu menutup ponselku. Aku baru sadar ternyata teman-temanku juga peduli padaku, mereka mengkhawatirkanku juga. O ya, Rukia juga mengkhawatirkanku padahalkan dia tidak percaya pada senyumanku ini. Ah.. sudahlah yang penting mereka peduli padaku.
Aku lalu berjalan menjauhi taman menuju halte bus di dekat kampusku dengan cepat dan sedikit berlari.
***
Aku berjalan santai menuju taman halaman Kuil Shinto itu dan membalas sapaan teman-teman yang berpapasan denganku tentunya dengan senyumku ini. Aku juga berjalan berbarengan dengan mahasiswi-mahasiswi yang satu kampus denganku. Aku mendengar percakapan mahasiswi-mahasiswi itu yang berbisik membicarakanku dengan tingkah berlebihan mereka.
"Jadi itu yang namanya Gin Ichimaru, guanteng banget ya. Kelihatannya dia ramah banget, lihat saja dia selalu terseyum pada siapapun," ucap salah satu mahasiswi bertubuh tinggi berambut panjang bergelombang berwarna ungu.
"Ya, cakep banget. Kayaknya aku jatuh cintrong sama dia. Khu.. khu.. khu…" ucap wanita berambut cepak-acak berwarna kuning sambil tertawa cekikikan.
"Ah, kau ini. Jangan berharap dulu, belum tentu dia suka sama kamu. Aku sih tidak pernah melihat Gin menyukai cewek-cewek di kampus ini."
"Aku juga tidak mendengar kalau dia berpacaran, yang aku tahu dia hanya berteman dengan dua orang cewek. Rukia dan Tatsuki, itupun karena mereka pacar sahabatnya si Gin."
"Ah.. sudahlah, jangan membicarakannya lagi. Ayo, percepat langkah kalian. Nanti kita ketinggalan kereta," ucap salah satu mahasiswi bertubuh tinggi, berambut hijau dan tentunya berdada besar. Kalau tidak salah dia bernama Neliel.
Hufzz… aku menarik napas panjang. Aku tidak menyangka ternyata ada juga yang ngefans padaku, padahal aku ini selalu dikatakan licik dan rubah. Sudahlah ini sudah hari Sabtu lagi, aku malas berfikir apalagi memikirkan hal yang tidak penting seperti itu. Tidak ada gunanya juga, aku tidak peduli dengan mereka yang ngefans denganku. Bukan urusanku.
Aku harus segera sampai di taman itu dan bersantai lalu tertidur pulas. Aku malas bergerak-gerak hari ini. Aku terus berjalan menuju taman itu sambil menunduk, mataku perih melihat terik matahari.
Tidak kusangka aku berjalan begitu cepat sampai-sampai aku tidak sadar sudah berjarak satu meter dari bangku panjang yang biasa aku duduki di taman halaman Kuil Shinto itu. Aku mengangkat wajahku, aku terkejut.
Ternyata wanita bersyall pink itu sedang menangis lagi dan menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Aku heran mengapa dia selalu menangis, tapi aku senang.
'Senang,' ucapku dalam hati.
Apa maksudku dengan senang, bukannya dia sedang menangis. Ah… apa yang aku pikirkan. Lalu aku duduk satu meter disebelahnya, aku tidak mau menyapanya lagi. Aku tidak mau dia memukuliku lagi karena menyapanya.
Aku biarkan saja dia menangis. Aku duduk dan menyandarkan punggungku di sandaran bangku itu, aku mulai mendengarkan MP4-ku dan memejamkan mataku. Tiba-tiba…
"ADUH!!!"seruku, aku terperanjat dan berteriak.
Wanita bersyall pink itu masih terus meronta-ronta, menangis dan memukuliku lagi. Aku benar-benar kaget dan langsung membentaknya dengan keras.
"Hei orang aneh!!! Berhenti memukuliku. Nanti kubalas kau!!" Aku membentaknya dan mendorong tubuhnya sampai ia terjatuh ketanah dengan posisi terduduk hampir saja dia terlentang tapi dengan sigap ditahannya dengan kedua tangannya, sehingga ia hanya terduduk saja.
"KAU INI PSYCHOPATH, YA!!! MAIN PUKUL ORANG SEMBARANG, KAU GILA YA!!!" bentakku lagi dan memakinya dengan kasar. Tidak ada jawaban dia hanya terdiam dan tidak bergerak, dia masih terus menangis terisak-isak.
Aku bingung, mengapa dia tidak balas memukulku lagi atau setidaknya balas memakiku. Dia masih diam dan menundukkan wajahnya lebih dekat ke rerumputan yang ditutupi dedaunan keorangean itu. Aku benar-benar tidak mengerti, aku kesal tapi aku juga kasihan padanya.
Aku lalu memutuskan untuk mendekatinya dan menyuruhnya untuk duduk di bangku itu.
"Maaf nona, aku tidak sengaja mendorong anda. Bangunlah dan duduklah di bangku ini, jangan duduk ditanah seperti itu," ucapku sambil memegang pundaknya. Dia tidak bergeming apa lagi mengucapkan sesuatu.
"Aku minta maaf, nona. Aku benar-benar tidak sengaja." Aku meminta maaf lagi, aku refleks mendorongnya tadi.
Aku mengulurkan tanganku, dia menatapku dalam. Aku bingung mengapa dia menatapku dengan tatapan dalam seperti itu. Dia menyambut uluran tanganku dan segera berdiri lalu duduk lagi di bangku panjang itu. Dia masih sesenggukan, air matanya masih ada dipipinya.
Aku duduk tepat disebelahnya dan menghadap kearahnya, aku memandanginya. Dia menatapku, aku lalu menyeka air mata yang ada di pelupuk mata dan juga pipinya dengan tanganku. Dia tidak bereaksi apapun.
"Nona, maafkan aku. Aku tidak sengaja mendorong anda. Maaf," ucapku setelah menyeka air matanya. Dia menundukkan wajahnya, tidak ada suara apalagi jawaban untukku.
"Nona, kalau anda kesal. Tolong jangan memukuli orang sembarangan. Bisa-bisa anda dipukuli balik oleh orang, anda akan terluka lebih parah lagi. Akan terluka fisik, bukan lagi terluka batin seperti keadaan anda sekarang yang menyebabkan kekesalan anda seperti sekarang ini," lanjutku sambil terus memandangi wajahnya yang tertunduk.
Hening. Tidak ada jawab ataupun reaksi darinya, aku juga tidak ingin dia bereaksi dan memukuliku lagi. Aku biarkan saja dia bersikap aneh begitu.
"Nona, kalau anda ingin menangis, menangis saja. Tapi tolong jangan memukuliku, tubuhku selalu lebam karena anda pukuli. Kalau anda tidak mau menceritakan masalah anda juga tidak apa-apa. Anda boleh menangis di dadaku, aku tidak akan marah,"ucapku pelan padanya.
Dia masih menundukkan wajahnya, aku memendanginya lagi dan memberanikan diri merangkul pundaknya. Tiba-tiba dia mengangkat wajahnya dan menyenderkan tubuhnya ke tubuhku dan menyandarkan kepalanya ke dadaku.
Dia memelukku pinggangku dan memegang tanganku yang satunya lagi dengan lembut. Kulihat matanya terpejam, sesenggukannya masih terdengar pelan dan beberapa saat tidak terdengar lagi. Sepertinya dia tertidur.
Kubiarkan saja dia tertidur, aku juga tidak ingin tertidur. Aku terus memandanginya. Hari ini dia kelihatan cantik sekali, sangat cantik bahkan. Tetapi garis hitam dibawah lingkaran matanya tetap ada walaupun begitu bagiku itu tidak mengurangi kecantikannya.
Aku berpikir, sebenarnya apa yang dialami oleh wanita ini. Mengapa dia terus menangis di tempat seperti ini dan menangis di dada orang yang tidak dikenalnya sedikitpun. Rasanya aku ingin menanyakan masalah ini padanya, tapi aku tahu dia tidak mungkin akan bercerita padaku. Memakiku saja dia tidak melakukannya, apalagi curhat padaku.
Aku terus mendengarkan MP4-ku sampai baterainya habis, lalu memandangi sekeliling taman dan lazuardi biru berawan tipis itu hingga waktu menunjukkan pukul 2.30 p.m.
Wanita bersyall pink ini masih tertidur di dadaku dan mendekapku erat, sesekali dia mencengkaram t-shirtku dengan kuat. Apa yang dimimpikannya aku tidak tahu, kelihatannya dia sedang bermimpi buruk.
Sekarang pukul 2.45 p.m. Dia terbangun dan mengusap matanya, lalu menguap. Setelah itu dia memandangiku, dia sama sekali tidak pernah tersenyum apa lagi mengucapkan sesuatu padaku. Aku pun memandanginya. Aku menberanikan diri menanyakan apa yang aku pikirkan tadi.
"Nona, boleh aku bertanya sesuatu?" tanyaku padanya. Dia masih memandangiku.
"Bukannya aku ingin ikut campur dengan masalah anda. Sebenarnya anda punya masalah apa sampai-sampai selalu menangis dan memukuliku? Apa begitu berat masalah anda?"
Hening, tidak ada jawaban. Aku memberanikan diri bertanya lagi walaupun aku tahu dia tidak akan menjawabnya lagi.
"Baiklah kalau anda tidak mau bercerita padaku, kalau anda merasa begitu sulit anda bisa bercerita padaku kapan saja. Aku tidak akan menceritakannya pada siapapun, aku akan merahasiakan cerita anda," ucapku menawarkan bantuan padanya. Lagi-lagi tidak ada jawaban.
'Jangan-jangan dia bisu,'pikirku.
Tidak, tidak mungkin dia bisu. Dia kelihatannya mengerti sekali apa yang aku katakan padanya. Aku bisa melihat dari ekspresi wajahnya.
"Baiklah kalau anda tidak ingin berceita padaku, tapi minimal beritahu aku siapa nama anda. Aku tidak tahu harus memanggil apa pada anda, tidak mungkin aku hanya memanggilmu dengan kata 'HEI' terus." Dia diam saja. Ah, mungkin benar dia bisu pikirku menolak bantinku yang tetap mengatakan bahwa dia tidak bisu.
Dia mengalihkan pandangan dariku, mengambil tasnya dan berdiri. Kemudian berjalan menjauhiku. Aku heran, lalu aku mengatakan sesuatu secara tidak sadar.
"Nona, apa kau akan datang lagi Sabtu besok? Aku akan menunggumu disini."
Wanita bersyall pink itu, menoleh kearahku. Tidak terseyum tetapi menatap lekat mataku. Kemudian berbalik dan berjalan cepat menjauhiku yang masih heran dengan ucapanku sendiri.
'Apa yang aku ucapkan padanya, kenapa mengatakan kata-kata seperti itu," ucapku dalam hati. Entahlah… aku juga bingung dengan sikapku dan ucapanku. Aku lalu memutuskan untuk pulang juga sebab sudah pukul 3.00 p.m.
***
Musim gugur tinggal dua minggu lagi, hari ini Sabtu lagi. Aku bergegas sekuat tenaga berlari menuju taman halaman Kuil Shinto itu untuk menemui seseorang, seseorang yang selalu aku temui di hari Sabtu selama musim gugur ini. Entah sudah berapa kali Sabtu aku bertemu dengannya selama musim gugur ini, tidak terhitung lagi.
Setiap kali aku bertemu dia di bangku panjang di taman halaman Kuil Shinto itu, aku selalu melihatnya menangis terisak-isak. Melihatku datang dia lalu memelukku erat, dia tidak lagi memukuliku dan meronta-ronta. Seharian biasanya dia memelukku, memandangiku dan tertidur memelukku. Aku jadi terbiasa dengan sikap wanita itu, walaupun dia tidak berbicara sedikitpun padaku.
Aku mungkin berpikiran kalau sebenarnya dia sangat senang padaku dan tidak memandang buruk padaku. Dia tidak curiga padaku, tidak curiga kalau mungkin aku ini pemuda jahat yang akan melakukan hal-hal buruk padanya, dia tidak takut dan merasa asing padaku. Itu bisa dilihat dari sikapnya yang selalu memelukku dan tidak marah kalau aku balas memelukknya selama duduk di bangku panjang itu.
Selama setiap Sabtu di musim gugur ini, kejadian ini berlangsung terus dan tanpa kami sadari musim gugur tinggal dua pekan lagi. Hari ini Sabtu kedua diakhir musim gugur, Sabtu depan adalah hari terakhir musim gugur.
Satu lagi alasan kenapa aku suka musim gugur, aku suka musim gugur karena aku bisa bertemu dan bersama dengan wanita bersyall pink itu seharian di hari Sabtu selama musim gugur ini.
Aku sangat senang, benarkah aku akan selamanya merasa senang seperti ini? Aku belum tahu. Sudahlah aku harus cepat bertemu dengannya siapa tahu dia sudah lama menungguku.
Tidak peduli
Seberapa sulitnya dia bagimu
Seberapa buruknya dia dimatamu
Seberapa buruk dia memandangmu
Kau akan senang melihatnya
Meskipun dia tidak pernah tersenyum padamu
Meskipun tidak ada kata manis yang kau dengar darinya
Kau akan menunggunya
Menunggunya tersenyum dan menyapamu
Kau akan menunggunya memakimu
Menunggunya mencintaimu
Karena jauh di dalam hatimu
Kau selalu menyayanginya
Kau selalu mencintainya
Walaupun kata tidak pernah tersampaikan padamu
Walaupun senyumnya tidak pernah terkembang untukmu
Kau akan tetap menunggunya
Menunggunya dan terus menungunya
Karena kau selalu mencintainya tanpa batasan waktu
Akhirnya aku sampai juga ke bangku panjang itu, aku melihatnya menatapku. Kali ini aku tidak melihatnya menangis lagi. Aku juga tidak melihat lagi ada garis hitam dibawah garis matanya. Hari ini dia benar-benar sempurna -cantik sekali-, cantik sekali karena dia memandangku dengan lembut.
Aku mendekatinya dan menyapanya seperti biasa. Dia terus menatapku, terkadang aku merasa kalau ada semburat merah di wajahku ketika dia menatapku dengan lembut.
"Halo Nona… apa kau senang hari ini, kau tidak menangis lagi," sapaku lembut padanya.
Seperti biasa dia hanya diam dan menatapku lembut. Aku baru saja akan duduk tiba-tiba dia memelukku yang masih berdiri, tidak biasanya dia memelukku seperti ini. Biasanya dia memelukku ketika dia duduk tertidur dibangku.
Aku sedikit heran, dia memelukku terlalu kencang. Aku bisa merasakan dadanya menyentuh dadaku. Ah… apa lagi pikiran kotor yang bersarang di otakku ini. Aku berusaha tenang dan perlahan aku merasakan ada air mata yang membasahi kemejaku.
"Dia menangis lagi," pikirku.
Mengapa dia menangis setelah memelukku. Bukannya aku tidak berbuat kesalahan padanya, dia juga tadi tidak menangis. Entahlah… dia masih memelukku dengan erat, rasanya sulit untukku bernafas tapi aku berusaha tetap tenang. Aku tidak ingin dia marah padaku.
Kubiarkan saja dia memelukku, lalu kuputuskan untuk memelukkanya juga. Lama kami saling berpelukan di dekat bangku panjang itu, sampai-sampai orang yang akan dan dari Kuil Shinto yang lewat di jalan itu melihat kami dengan tatapan heran.
Dua orang gadis yang baru keluar dari Kuil itu berhenti sejenak dan memandangi kami dengan heran serta berbisik-bisik. Tetapi aku dapat dengan jelas mendengar apa yang mereka bicarakan.
"So sweet, kapan ya pacarku memeluku lembut seperti itu," ucap gadis kecil bertubuh pendek yang terlihat manis dengan ikat rambut membentuk sanggul berwarna putih dibelakang kepalanya ke temannya yang juga berhenti dan memandangi kami juga.
"Iya.. ya, Hinamori. Kapan ya, Hitsugaya memelukmu dengan hangat seperti itu… bukannya dia tampak sangat dingin padamu selama ini," balas gadis berok mini dengan obi lebar dibawah dadanya, ada kalung berwarna merah yang ketat melekat dilehernya, rambutnya dikepang dengan kedua poni panjang disisi kanan dan kiri wajahnya, wajahnya tenang seperti tanpa emosi sedikitpun.
"Ya… kapan ya, Shiro-chan bisa selembut itu padaku. Tapi aku tahu dia juga sangat menyayangiku walaupun dia tidak menunjukkannya dengan jelas. Kalau kamu Nemu, si botak Ikakku itu apa dia bisa romantis padamu?" tanya gadis itu ke temannya yang ternyata bernama Nemu.
Eh… kalau tidak salah, Nemu itu anaknya Mayuri-sensei dosenku. Aku pernah bertemu sekali dengannya waktu aku mengantarkan proposal ke rumah Mayuri-sensei, aku baru ingat hal itu.
"Wah, aku sih selalu romantis sama Ikkaku. O ya, tolong jangan panggil dia Botak ya, nanti dia bisa ngamuk. Sudahlah ayo kita pulang!" ajak nemu pada temannya. Aku hanya menatap kedua gadis itu yang masih terus tersenyum kearahku karena aku tersenyum pada mereka berdua.
Aku masih memeluk dan dipeluk oleh wanita ini, hampir setengah jam lebih dia memelukku erat. Dia melepaskan pelukkannya dan menarik tangannku untuk mengajakku duduk di sebelahnya.
Aku menurutinya saja dan duduk disampingnya, kurangkul bahunya dan kusandarkan kepalanya di dadaku. Kubelai lembut rambut orangenya, kukecup dahinya dan kubiarkan saja dia memelukku pinggangku.
Dia diam saja sambil terus memegangi kemejaku, lalu tidak terdengar lagi sesengukannya. Sepertinya dia tertidur, akupun tertidur sambil merangkulnya.
Hampir dua jam lebih mungkin kami tertidur, lalu aku terbangun karena ada yang mengguncang bahuku. Aku melihat yang mengguncang bahuku adalah wanita bersyall pink itu, dia melepaskan pelukannya. Aku melepaskan rangkulannku padanya.
Aku melihat dia mentapku tanjam dan sedikit ada air mata yang akan jatuh dimatanya. Aku heran lagi mengapa dia hari ini dia sering menangis tiba-tiba seperti ini padahal biasanya dia hanya menangis sebelum aku datang dan berhenti ketika aku menyeka air matanya.
'Mengapa dia hari ini begitu sedih?' tanyaku dalam hati sambil memperhatikan wajahnya.
Dia berdiri mengambil tasnya dan berlari menjauhiku dengan isakan tangis yang semakin keras. Aku terkejut dan langsung mengejarnya. Aku terus mengejarnya yang berlari kencang menuju jalan raya, aku memangil-manggilnya dengan keras.
"Nona, Nona, Nona!!"
"Nona, tolong berhenti! Tunggu sebentar, jangan berlari terus!" teriakku padanya sambil terus berlari mengejarnya.
"ADA APA DENGANMU? TOLONG BERHENTI BERLARI!!!" pintaku sambil berteriak kencang.
Dia berhenti, aku mengejarnya dan mendekatinya. Dia masih memunggungiku dan tidak berbalik menolehku dia bahkan menundukkan wajahnya dengan isakan tangis yang ditahan. Aku mendekatinya dan memutar tubuhnya kearahku, aku terkejut untuk yang kesekian kalinya.
Bibirnya sedikit berdarah, air matanya menggenangi matanya dan menyebar dipipinya. Aku panik, ada apa dengannya.
"Nona, kau kenapa? Kenapa bibirmu berdarah? Apa aku berbuat salah padamu? Kenapa berlari meninggalkan aku?" Mulutku nyerocos bertanya padanya yang tentunya tidak akan pernah menjawab pertanyaanku walaupun segudang pertanyaan kulemparkan padanya.
"………….."
"Yah… percuma saja aku bertanya padamu, kau juga tidak akan menjawabnya. Terserah kau saja, aku tidak akan peduli padamu,"ujarku sambil berjalan menjauhinya, tetapi belum jauh aku berjalan dia menarik tanganku dan memeluk erat tubuhku.
Aku terperangah melihat perlakuannya, aku balas memeluknya juga. Hening, hampir lima belas menit dia memelukku. Lalu dia melepaskan pelukannya, akupun sama. Tiba-tiba dia mendekatkan wajahnya ke wajahku, aku merasa ada semburat merah diwajahku dan juga wajahnya. Kupejamkan mataku, aku malu melihat wajahnya.
Aku merasa ada sentuhan lembut bibir dipipi kananku. Aku membuka lebar mataku yang tidak pernah terbuka lebar selama ini padanya, dia menatap mataku. Ternyata dia mengecup pipiku, wajahku kontan memerah. Aku kikuk, tetapi dia justru pergi menjauhiku dengan cepat tetapi sebelum itu dia menoleh padaku, aku terseyum tulus padanya. Lalu dia pergi berlari menjauhiku lagi dan dia tidak terlihat lagi ditikungan jalan menuju jalan raya itu.
Aku terdiam sesaat lalu melangkah menuju kursi tadi. Aku duduk lagi dan merenungkan kejadian barusan. Tidak kusangka dia akan mencium pipiku. Aku juga heran mengapa aku membuka lebar mataku dan tersenyum tulus padanya, ada apa ini? Hatiku justru merasa gelisah.
***
Sabtu terakhir di musim gugur-----------
Hari ini aku bergegas ke taman itu, aku ingin bahkan sangat ingin bertemu dengan wanita bersyall pink itu. Langkahku kupercepat dan berlarian kencang sampai-sampai aku menabrak dosenku Komamura Sajin yang berpapasan denganku di gerbang kampus.
"Maaf sensei, aku tidak sengaja, gomanasai sensei," ucapaku setelah bangkit dari jatuh akibat menabrak tubuh besar dan tinggi miliknya itu. Aku melihat dia tetap tenang walaupun terasa aura marahnya semakin membesar seperti serigala yang siap menerkam mangsanya.
"Kau ini kenapa, berjalan tanpa mata ya? Lain kali pakai matamu kalau berjalan, jangan suka menabrak orang sembarangan" geramnya padaku.
Aku lalu meminta maaf lagi dan langsung pamit padanya lalu berlari lagi dengan kencang melesat ditengah kerumunan mahasiswa yang sedang menonton pentas band yang sedang berlangsung, kulihat Ichigo dan Renji sedang bernyanyi bersama teman-teman bandnya -Rukia, Tatsuki, Hanataro, Hitsugaya, Ikkaku-.
Aku berlari terus dan sampai juga akhirnya di bangku panjang ditaman halaman Kuil Shinto itu, tapi orang yang ingin aku temui tidak ada. Aku lalu duduk, aku menunggunya.
'Mungkin dia terlambat. Aku tunggu saja dulu,'pikirku.
Aku terus menunggunya, tidak datang-datang juga wanita bersyall pink itu.
'Kemana dia? Ini hari terakhir musim gugur, apa dia tidak akan mengabiskan musim gugur ini bersamaku? Apa dia sakit jadi tidak datang? Tapi tidak mungkin selama ini dia selalu datang,' tanyaku dalam hati dan terasa aku mulai khawatir dan juga gelisah.
Aku terus menunggunya, aku bahkan tidak tertidur sama sekali walaupun kantuk menyerangku mati-matian, aku tidak ingin ketika dia datang aku sedang tertidur. Kalau dia datang aku sedang tertidur mungkin dia akan pergi, itulah alasan mengapa aku tidak tidur.
Aku menunggunya terus sampai senja sudah gelap, kulirik jam tanganku. Pukul 5.50 p.m. Tidak, tidak mungkin dia tidak datang. Mengapa dia tidak datang? Aku kecewa dia tidak datang hari ini, padahal aku ingin bertemu dengannya bahkan sangat ingin bertemu dengannya. Tapi mengapa aku sangat ingin bertemu dengannya, apa ini yang namanya 'rasa peduli' seperti yang sering dikatakan orang-orang dan tidak ingin aku lakukan pada siapapun.
'Apa ini yang dinamakan peduli? Apa seperti ini rasanya peduli? Tapi kenapa aku peduli padanya?' tanyaku dalam hari, dadaku terasa sesak tapi tidak tahu penyebabnya.
Aku beranjak pulang dengan langkah gontai menuju halte bus di dekat kampusku, aku tidak bersemangat sama sekali, aku kecewa. Kecewa karena tidak bertemu dengannya.
"Sudahlah, apa-apaan aku ini. Mengapa aku kecewa, bukannya aku bisa bertemu denganya besok Sabtu ditaman itu lagi," gumanku.
Aku terus berjalan disisi jalan, jalan yang dipenuhi dedaunan orange kecoklatan dan udara mulai mendingin sebab musim gugur akan segera berakhir dan Sabtu depan akan mulai memasuki musim dingin yang sangat dingin dengan salju yang bisa ditemukan dimana-mana dan bunga sakura akan bermekaran beberapa hari di musim itu.
'Semuanya mungkin akan seindah blossom sakura nantinya, untuk apa aku gelisah seperti ini,' ucapku dalam hati menenangkan perasaan gelisahku.
End of flash back
Aku ingin sekali mengejarnya, tapi kemana? Aku bahkan tidak pernah tahu namanya, tidak pernah mendengar suaranya. Siapa dia? Aku tidak tahu tapi kenapa aku peduli, peduli pada seseorang yang tidak pernah kuketahui asal usulnya.
Hari ini Sabtu pertama di musim gugur untuk kelima kali musim gugurnya aku masih menunggunya disini, disini di bangku panjang di taman halamam Kuil Shinto ini. Tetapi apa yang selama ini aku tunggu tidak pernah datang ketaman ini, sejak terakhir musim gugur lima tahun yang lalu aku tidak pernah bertemu dengannya lagi dengan wanita bersyall pink itu.
Selama Sabtu di musim gugur aku selalu menunggunya, kalau-kalau dia akan datang dan duduk dibangku ini lagi. Tetapi tidak, dia tidak pernah datang di saat aku merasa peduli padanya. Peduli pada wanita'aneh' yang kutemui di taman ini di setiap Sabtu di musim gugur lima tahun yang lalu.
Hari ini, hari terakhir aku di Kota Karakura ini, besok aku akan berangkat ke Kota Hueco Mundo meninggalkan semua yang ada di Karakura, di taman ini, dibangku ini. Pergi meninggalkan semua yang pernah kulalui disini, di tempat ini dan di kota ini, disini aku selalu menunggunya. Besok aku akan melupakan semuanya, semuanya termasuk kenangan dan penantian panjangku pada wanita bersyall pink itu.
Selesai sudah penantianku disini, aku akan pergi besok. Selamat tinggal taman halaman Kuil Shinto, selamat tinggal Nona bersyall pink.
Aku beranjak dari bangku panjang ini dan berjalan perlahan menuju halte bus di dekat kampus almamaterku. Setelah berjalan cukup jauh dari taman itu. Aku berhenti sejenak dan menoleh ke bangku panjang yang selama ini aku duduki bersama wanita bersyall pink itu.
Ternyata di bangku itu aku melihat seseorang. Kemudian aku memutar langkah kakiku menuju bangku panjang itu setengah berlari dan akhirnya dengan sangat jelas aku dapat melihat…
…To be Continued…
Arigatou Yang sudah RnR...
Review lagi yak? Domo...
