Our Family

Chapter 3

Disclaimer : Bleach by Tite Kubo

Our Family by Sora Hinase

Pairing : IchiRuki

Rated : T

Genre : Family, Romance

Warning : OC, OOC, Typo, dsb.

Selamat membaca~ :)

.

.

.

.

.

"...!?"

Oh, shit!

"Tunggu Rukia, aku bisa jelaskan," ujarku sambil membetulkan celana dan berlari mengejar Rukia, jangan sampai dia keluar dapur, Byakuya masih di sini dan aku masih sayang nyawaku jadi tak akan aku biarkan Rukia keluar dari dapur saat masih salah paham.

"Dengarkan aku dulu, Rukia," ujarku saat sudah memegang pergelangan tangan Rukia tepat sebelum Rukia keluar dari dapur -kamar mandi di rumah ini memang berada di sebelah dapur-. Untungnya aku bisa mencegah sebelum Rukia keluar dari dapur. Rukia tampak tak mau melihatku, dia memalingkan wajahnya tetapi aku bisa melihat rona merah di pipinya.

"Aku memenuhi janjiku untuk tak menyentuhmu semalam tapi aku laki-laki dewasa yang normal, Rukia. Berada dalam satu ruangan dengan wanita yang aku cintai dan sudah sah sebagai istriku tapi aku tak bisa menyentuhnya itu adalah siksaan bagiku, tapi aku juga tak ingin memaksamu, aku tak ingin kamu membenciku lagi dan aku juga tak mungkin untuk memuaskannya bersama orang lain karena hanya kamu yang aku inginkan, jadi ini yang aku lakukan," ujarku dengan wajah tak kalah memerah dengan wajah Rukia, aku tak dapat memungkiri jika saat ini aku sedang merasakan perasaan sangat malu yang sulit aku jelaskan dengan kata-kata. Bagaimana aku tak malu jika aku ketahuan oleh Rukia -yang berstatus sebagai istriku- sedang memuaskan diriku sendiri, coba kalian bayangkan?!

Semua bermula dari kami yang tidur sekamar hanya berdua, memang bukan hal baru mengingat dulu kami juga tidur sekamar tapi dulu Rukia tidur di lemari sedangkan semalam kami tidur seranjang dan hanya berdua tanpa Ichiru, jika ada Ichiru perhatianku bisa aku alihkan kepada Ichiru tapi jika hanya berdua bagaimana aku bisa menahan hasratku saat orang yang amat aku cintai berada dalam status yang sah tapi aku telah berjanji tak akan mentenruhnya, jadi apa yang aku lakukan?

Awalnya aku tetap berusaha untuk tidur tapi aku tak bisa, aku tak bisa menahannya lagi tapi aku juga tak bisa melampiaskannya pada Rukia, akhirny aku memutuskan untuk memuaskan diriku sendiri dan ini sungguh memalukan, aku laki-laki yang sudah beristri ketahuan oleh istrinya sendiri sedang melakukan... ya ampun aku tak mau menyebutnya kalian pasti tahu apa yang aku maksud, bukan? Salahku yang lupa menutup pintu kamar mandi, masih untung yang datang bukan Byakuya.

Hening menghampiri kami, aku juga bingung mau berkata apa. Sampai Rukia berkata,"maaf Ichigo tapi aku janji aku akan berusaha untuk menghilangkan rasa takutku sehingga aku bisa menunaikan kewajibanku sebagai seorang istri."

"Aku tak akan memaksamu, Rukia dan aku akan menunggumu selalu hanya kamu," ujarku membawa Rukia dalam pelukanku dan aku tak bisa menahan diri untuk tak tersenyum.

.

.

.

.

.

Rukia POV

"Kaa-chan, mereka mau kemana?" tanya Ichiru sambil menunjuk sekelompok muda-mudi yang melewati depan rumah kami, aku mengikuti arah pandang Ichi. "Mereka mau sekolah, Sayang," ujarku setelah melihat sekelompok anak-anak sekolah yang menggunakan seragam SMA Karakura tempatku dulu sempat bersekolah selama di sini dan tempat Ichigo bersekolah juga.

"Sekolah itu apa, Kaa-san?" tanya Ichiru sambil menatapku dengan binar-binar ingin tahunya itu.

"Sekolah itu tempat kita menuntut ilmu dan di sana kita juga akan bertemu dengan banyak teman," ujarku sambil tetap melanjutkan aktivitas menyapuku. Aku memang sedang menyapu halaman depan sedangkan Ichiru terus mengikutiku, Nii-sama sudah kembali ke SS sedangkan Ichigo hari ini ada praktik di rumah sakit. Aku jadi berfikir bagaimana Ichigo bisa mengurus rumah sedangkan ia mempunyai jadwal yang lumayan padat? Mengingat sebelum kami menikah Ichigo tinggal sendirian. Sebetulnya aku juga tak terlalu pandai mengurus urusan rumah tangga.

"Ilmu itu apa?" Ichi dan sifat ingin tahunya.

"Kalau buat Ichi, ilmu itu belajar membaca, menulis, berhitung, menggambar, mewarnai, dan masih banyak lagi," ujarku seraya menghentikan kegiatan menyapuku, semoga saja penjelasanku tentang menuntut ilmu bisa dimengeti oleh Ichi, mengingat Ichi masih 3 tahun jadi penjelasan tentang ilmu tadi benar kan?

"Ichi mau sekolah~" rengek Ichi mulai menarik-narik rok yang aku pakai. Sejujurnya aku tak tahu apakah di sini ada sekolah untuk anak-anak umur 3 tahun atau tidak. Aku bahkan tak tahu apakah di Soul Society ada, aku benar-benar ibu yang buruk, mengingat dulu aku jarang sekali mengajak Ichi berbincang seperti ini.

"Nanti kita bicara dengan Tou-chan, ya?" ucapku sambil membelai rambut Ichi.

.

.

.

.

.

"Jadi Ichi mau sekolah?" tanya Ichigo sambil memangku Ichiru yang menganggung bersemangat sedangkan aku hanya duduk di sebelah Ichigo, senyum tak bisa hilang dari bibirku, aku tak pernah membayangkan jika pada akhirnya aku bisa menikah dengan orang yang aku cintai dan hidup bersama dengan malaikat kecil kami. Apalagi yang lebih membahagiakan dari ini? Ternyata memang benar jika Kami-sama selalu mempunyai rencana yang terbaik bagi kita semua.

"Sebetulnya ada TK Himawari di sana ada kelas mawar, kita bisa mencoba memasukan Ichi ke sana, kelas mawar itu bisa dibilang kelas uji coba sebelum terdaftar sebagai murid di sana. Kita belum tahu apa Ichi serius atau hanya ingin mencoba, kelas mawar kan biayanya harian jadi berangkat atau ngganya itu terserah kita, kalau ichi bener-bener ingin sekolah baru Ichi masukan sekolah sesungguhnya," ujar Ichigo panjang lebar dan aku hanya mengangguk sebagai jawabannya.

"Jadi besok Ichi bisa sekolah?" tanya Ichi memandang aku dan Ichigo bergantian.

"Besok kita beli tas dulu ya, Sayang," ujar Ichigo sambil mencupit pipi Ichi. Memang sejak pindah kemari kami memang sudah belanja keperluan Ichi tapi memang belum membeli tas karena merasa Ichi belum memerlukannya. Kalau sepatu Ichi sudah punya biasa dipakai jika kami berpergian.

.

.

.

.

.

"Ichi mau yang mana?" tanyaku pada Ichi yang berada dalam gendongan Ichigo, sekarang kami sedang berada di Karakura Plaza pada stand tas anak-anak, kata Ichigo biar berganti suasana sekalian belanja tas untuk Ichi karena biasanya kami hanya belanja di mini market dekat rumah dan di sana tentu saja tak ada tas. Selagi hari ini Ichigo libur jadi kami bisa jalan-jalan sepuasnya.

"Ichi mau engri bed (red : angry bird)," ujar Ichi sambil menggapai tas berwarna merah dengan bentuk kepala burung yang tak jauh dari jangkauannya, "beli sepatu juga?" tanya Ichi menghadap Ichigo sementara tangan kanannya menunjuk stand sepatu yang berada di depan stand tas ini sedangkan tangan kirinya sedang memeluk tas pilihannya.

"Tidak, kan Ichi sudah punya banyak sepatu di rumah," kata Ichigo yang dibalas dengan anggukan Ichiru, aku beruntung Ichi termasuk anak yang penurut.

"Sekarang tinggal belanja kebutuhan kita, Ichi boleh beli cemilan yang Ichi suka."

Semoga saja kebahagiaan ini akan terus berlanjut.

.

.

.

.

.

TBC

Akhirnya Sora bisa update lagi~

Makin suka bikin kisah mereka, bagaimana menurut minna-sama? Maaf ya kalo makin ancur :(

Sora sangat berterima kasih atas semua review, fav, follow dan semua yang mau meluangkan waktu membaca fic ini, semoga fic ini bisa menghibur kalian semua dan maafkan segala kekurangan Sora, semisal kaya penggunaan italic pada kata asing, maaf Sora tidak menggunakan itu karena Sora ngetik + publish fic lewat hp jadul yang suka error bahkan buat ngedit itu susahnya minta ampun jadi Sora minta maaf :'( Semoga masih berkenan membacanya.

Maaf juga Sora ga bales review satu2 tapi review kalian itu penyemangat buat Sora .

Ada yang mau main ke rumah Sora? :D

Sora bisa dihubungi di :

FB : Ai Febriati

BBM : 54704311

HP : 085642801591

Maaf karena pendek dan maaf jika mengecewakan :'(

Sora butuh masukan, kritik dan saran... kasih tau kalo ada kesalahan Sora ngga sempet edit

jangan lupa review ya? Review kalian penyemangat Sora :D

Purwokerto, 6 Mei 2015

Salam hangat,

Sora H.