Prefect Diaries

Disclaimer: Amano Akira

Story by: Aoi the Cielo & Dark Which Vampire

Rated: T

WARNING! YAOI, BL(Boys Love), OOC, AU, Typo(s), dll

Page 3: Ghost's Beside You, Herbivore

.

.

.


Warna biru langit kini mulai merona memerah saat mentari secara berlahan mulai memudarkan eksistensinya. Keheningan yang diciptakan dari semburan warna api itu membuat mata terpukau dengan keindahan kala malam meranjak. Kegelapan yang berpadu bersama cahaya menghasilkan suatu warna yang tak terduga.

Senja.

Ya, itulah yang ditangkap mata beriris coklat itu saat ia tengah membersihkan jendela kelasnya. Warna senja yang terlihat dari jendelanya membuat ia menghentikan aktifitasnya—terlalu kagum dengan apa yang ada di depannya.

Keheningan disekitarnya, angin yang sepoy-sepoy plus pemandangan matahari terbenam, sungguh suasana yang membuat Sawada Tsunayoshi berdecak kagum. Baru kali ini. Ya, baru kali ini ia merasa sangat nyaman dan benar-benar menikmati suasana sepi seperti ini, padahal biasanya ia justru membenci suasana sepi. Sangat tidak suka malah bila mengingat suasana sepi selalu diibaratkan dengan kecanggungan atau bahkan ketakutan.

Puk.

Sebuah tangan putih nan dingin mendadak menyentuh bahu Tsuna.

Tubuh Tsuna menegang—kaget dengan sentuhan mendadak itu. Pikiran negatif langsung memenuhi otaknya dalam persekian detik. Wajah Tsuna memucat. Keringat dingin menghiasi pelipisnya. Jantungnya berdetak tidak karuan saat suasana senja nan indah berubah menjadi suasana mencengkam yang membuatnya mati ketakutan dalam sekejab. Apakah… Apakah bila ia menoleh ke belakang, wajah menyeramkan lah yang akan muncul? Tsuna semakin horror saat bayangan wajah penuh darah tanpa bola mata muncul di kepalanya.

"Tsuna-kun?"

Bagaikan sebuah dewi fortuna, suara lembut seorang gadis manis membuat Tsuna bernafas lega. Tanpa ragu ia menoleh ke belakang—menatap gadis teman sekelasnya yang sukses besar menakutinya.

"A, ah… Kyoko-chan," ucap Tsuna canggung. Wajahnya memanas saat menyadari dirinya takut oleh ilusnya sendiri. Untung saja ia tidak berteriak, bila berteriak pasti akan lebih memalukan lagi. Sudah dame, penakut pula. Gadis idola banyak teman-teman lelakinya ini pasti akan berfikir seperti itu—meskipun Tsuna tidak yakin Sasagawa Kyoko memiliki pemikiran negatif seperti itu. Bukankah Kyoko selalu baik dan lembut kepada siapapun?

"Kenapa Tsuna-kun masih di sekolah?" tanya Kyoko bingung. Tidak ada siapapun di kelas ini dan hanya terlihat Tsuna saja sendirian yang piket kelas. Hal ini tentu saja membuat Kyoko heran.

Tsuna tersenyum canggung mendengarnya. "Aku masih harus piket, anak-anak lain semuanya kan anggota OSIS, Kyoko-chan juga anggota OSIS kan? Cuma aku yang bukan, jadi aku sendirian yang piket," jelas Tsuna panjang lebar menjelaskan kronologi kenapa bisa ia sendirian di kelas dan juga piket kelas.

"Gomen… gara-gara kami harus rapat, Tsuna-kun jadi melakukannya sendirian," lirih Kyoko. Ia menunduk saat rasa bersalah mencubit dadanya. Tsuna menelan liur paksa. Sungguh, ia tidak bermaksud membuat gadis manis ini bermuka muram saat menjawab pertanyaan Kyoko.

"Da, Daijobu Kyoko-chan, aku tidak keberatan sama sekali, lagi pula kalian memang sibuk kan menjelang liburan musim panas ini?" ucap Tsuna panik. Ia menelan liur paksa saat melihat wajah Kyoko tidak berubah—tetap murung. "E, Etto… Kau tidak perlu—"

"Biar aku bantu Tsuna-kun membereskan kelas ya?" sela Kyoko tiba-tiba. Ia menatap penuh harap ke arah Tsuna.

"Tidak boleh," tolak Tsuna langsung. "Hari ini sudah menjelang malam, bahaya anak perempuan pulang malam," jelas Tsuna sebelum perubahan ekspresi Kyoko mencubit batinnya lagi.

"Demo…"

"Lagi pula aku sudah hampir selesai kok!" ucap Tsuna yakin. Ia tersenyum menatap Kyoko yang kini menatap kelasnya. Ya, kelas memang sudah rapi dan sepertinya Tsuna memang hampir menyelesaikan semua pekerjaannya. "Jadi, tugas Kyoko-chan sekarang adalah pulang. Nanti Oniisan Kyoko-chan mencari bagai mana?"

"Uh… " Kyoko tidak bisa menolak saat nama Oniisannya disebut. "Baiklah… tetapi Tsuna-kun hati-hati ya?" lirihnya seraya menatap cemas ke arah pemuda manis itu. Alis Tsuna terangkat—bingung. "Aku dengar, bila di sore hari sendirian di kelas, biasanya akan ada hantu, terlebih di lorong kelas 2 kita."

"Eh?"

"Hantunya sering muncul di jam-jam seperti ini untuk mengganggu siswa-siswi yang masih di sekolah… Aku tidak tahu ini benar atau tidak, tetapi sebaiknya Tsuna-kun juga cepat lah pulang. Kudengar korban terakhir hampir melompat dari atap gedung karena dirasuki," cerita Kyoko—benar-benar tidak memperhatikan perubahan ekspresi Tsuna yang mendadak pucat pasi. "Ne, kalau begitu aku pulang dulu ya Tsuna-kun, Jaa…"

Dan dengan perginya Kyoko—yang dengan seenaknya buru-buru pergi tanpa perduli apakah Tsuna membalas sahutannya atau tidak—sukses membuat Tsuna membeku. Syock berat dengan kisah terkhir yang diberikan Kyoko. Oh Kyoko-chan… wajahmu manis, tetapi kenapa ceritamu tidak sesuai dengan sikon seperti ini!?

Tsuna menatap sekeliling kelasnya yang sepi dan tidak ada siapapun. Ia merinding saat suasana sepi membuat jantungnya kembali memburu dan darahnya berdesir mengerikan. Se, sekarang ia harus bagaimana? Sungguh, Tsuna benar-benar ingin menangis dibuatnya gara-gara ucapan perempuan itu. Ia justru jadi takut untuk melanjutkan membersihkan jendela.

"Kyoko-chan!" panggil Tsuna saat gadis itu sejak tadi memang telah menghilang di balik pintu kelasnya. Dengan buru-buru Tsuna meraih tasnya yang berada di meja. Ia tidak perduli lagi apakah jendelanya bersih atau tidak, toh yang penting lantai dan meja telah ia bersihkan. "Tunggu aku, Kyoko—"

Grak!

"Hhiiiieeeee!?" teriakan itu sukses meluncur mulus dari mulut Tsuna saat tiba-tiba pintu kelasnya tertutup dengan sendirinya hingga membuat jantungnya mencelos. Tsuna mengerjab kaget menatap ke arah pintu yang sukses besar membuatnya sport jantungan. Apa Kyoko yang melakukannya? Ah, ya, pastilah Kyoko yang melakukannya, mana mungkin hantu kan? Hantu itu tidak ada. Ya, Tsuna yakin itu.

Tsuna menelan liur paksa saat perasaan takut justru membuat kedua kakinya terasa lemas. Ayolah Tsuna! Ayolah Tsuna! Kau bukanlah penakut! Akhirnya dengan membulatkan mental dan jiwanya—dan setelah berperang batin selama beberapa detik—kaki itu kembali melangkah mendekati pintu dengan agak gemetar.

Tap... Tap... Tap...

Tsuna bersumpah suara langkah kakinya yang menggema justru membuat suasana semakin menyeramkan. Setiap langkah seolah merupakan langkah menuju kematian—membuatnya harus menahan pekikan ngeri bila membayangkan ada sosok yang berdiri di belakangnya. Saat akhirnya sampai di depan pintu—yang terasa bagai seabad—Tsuna langsung menggeser pintu kelasnya yang tadi tertutup.

Grak!

"Kyoko-chan, ini sama sekali tidak luc—"

Tidak ada siapapun.

Tsuna terdiam. Ia bungkam seketika. Pemuda ini yakin Sasagawa Kyoko baru saja keluar dari kelasnya, lalu ke mana gadis itu? Tetapi yang lebih penting adalah… Siapa yang jelas-jelas menutup pintu kelasnya tadi? Wajah Tsuna mendadak memucat.

"Kyo, Kyoko-chan?" panggil Tsuna lirih. Suaranya terdengar gemetar karena ketakutan. Pasti Kyoko sedang mempermainkannya kan? Pastilah gadis manis itu tengah bersembunyi. Ya, Kyoko-chan pasti sedang mencoba membuatnya takut kan?

Whhhuuuuussss~

Tsuna merinding saat hembusan angin dari arah belakang menerpa tengkuknya. Ia bergidik dan menoleh ke belakang. Ah, jendela kelasnya lupa ditutup. Terlihat horden kelas menari-nari dengan gaya menakutkan berkat sang angin. Benar-benar mirip. Sangat mirip yang ada di film-film horror yang pernah ia coba tonton bersama Yamamoto dan Gokudera.

Glek.

Tsuna menelan liur paksa. Kemana suasana menyenangkan tadi? Saat ia asik menatap langit yang berubah merah? Tsuna menggigit bibir bawahnya. Ia kembali menoleh ke depan.

DEG!

Sebuah wajah tepat ada di hadapannya—hanya beberapa cm dari wajahnya. Tsuna membeku. Jantungnya mendadak berhenti berdetak.

Fuuh~

Sebuah tiupan dari wajah pucat itu sukses menerpa wajah Tsuna—menyadarkannya dari kesyockan yang menerpa dirinya. Membuatnya iris coklatnya yang membulat itu mendadak terasa gelap.

Bruk!

Dan tubuh mungil itu sukses jatuh ke atas lantai—pingsan dengan wajah yang memucat sempurna tanpa adanya teriakan khas dirinya yang biasa keluar dari belahan bibir itu.

.

.

.

"Tsuna-kun!?" teriak gadis manis itu seraya keluar dari kelas sebelah tempatnya bersembunyi. Suara benda terjatuh itu sukses membuat jantungnya tidak tenang, terlebih ia sangat tahu siapa yang ada di kelas itu. Sasagawa Kyoko mematung di tempat saat mendapati sosok jangkung yang mengenakan kemeja putih lengan pendek membopong tubuh mungil yang sangat ia kenali. "Hibari-san, Tsuna-kun kenapa?" tanyanya bersalah.

Kyoko menggigit bibir bawahnya saat melihat teman sekelasnya dalam keadaan tidak sadarkan diri. Salahnya. Ini benar-benar salahnya. Seharusnya ia tidak menuruti perintah sang prefect yang menyuruhnya untuk berbohong tentang kisah hantu… Kyoko sangat tahu bahwa teman sekelasnya itu takut hantu.

"Tenanglah Sasagawa-san," ucap Kusakabe yang tahu-tahu saja sudah berada di belakang Kyoko. Ia tersenyum ramah menatap gadis itu. "Sawada-san hanya pingsan. Nah, sebaiknya Sasagawa-san pulang saja dulu sekarang, biar Sawada-san kami yang urus," sarannya.

Kyoko menatap kearah Kusakabe lalu menatap sang prefect yang masih dengan setia berdiri di dekat pintu. Ia menunduk takut saat sepasang iris metal itu menatapnya tajam. Seolah berkata akan mengkamikorosunya meskipun ia adalah seorang perempuan. Kyoko menelan liur paksa. Sepertinya ia memang lah harus segera pulang.

"Kalau begitu aku pulang dulu, mata ashita Kusakabe-san, Hibari-san," ucap Kyoko seraya membungkuk ke arah Kusakabe dan Hibari lalu menatap Tsuna sekilas sebelum akhrinya berbalik dan melangkah pergi. Kusakabe menghela nafas lelah saat menatap gadis manis itu menghilang dibalik lorong.

Ia lah yang bertugas menutup pintu kelas Tsuna secara mendadak dan bersembunyi dengan segera setelah menutupnya. Dan soal kemunculan Hibari yang tiba-tiba berada di depan Tsuna, itu juga tanpa diperkirakan Kyoko dan juga Kusakabe.

Kedua makhluk berbeda gender itu sama-sama syock berat saat mendengar suara benda jatuh yang begitu besar—suara bedam tubuh Tsuna yang ketakutan sampai pingsan.

"Apakah kita akan mengantarnya pulang, Kyo-san?" tanya Kusakabe saat mengikuti langkah Hibari yang begitu tenang membopong Tsuna. Pertanyaan itu sukses membuat Hibari menyeringai. Ia menunduk dan mencium pipi tembam sosok yang ia gendong dengan seenaknya. Dan seandainya si pemilik tubuh yang ia gedong sadarkan diri, dapat Hibari bayangkan wajah itu akan memerah—blushing tingkat parah begitu merasakan tindakannya.

"Hn," jawabnya tidak jelas. Ah, mood Hibari di sore ini benar-benar baik sekarang. Suasan sunyi, matahari tenggelam, dan makhluk mungil ini sekarang berada digendongannya. Sempurna. Terlebih ia berhasil membuat Tsuna ketakutan—sukses besar melakukan rencana kejinya. Seringai Hibari semakin merekah.

Nah, kira-kira apa lagi yang sebaiknya ia lakukan untuk Herbivorenya ini ya?

"Khu... Khu... Khu..."

Dan Kusakabe bersumpah, ketimbang suasana romantis bak romance picisan, keberadaan Hibari bersama dengan Tsuna yang berada di gendongannya lebih terlihat seperti adegan horror-dengan dilatar belakangi cahaya kemerahan yang menghiasi keduanya. Bulu kuduk sang tangan kanan meremang saat mendengar tawa mengerikan itu dan ia, untuk kesekian kalinya, merasa kasihan dengan nasib pemuda bermarga Sawada yang menjadi objek keusilah ketuanya. Poor Tsuna...

.

.

.

Page 3: End


a/n:

hhooolllaaaaaaaa~ we are here! kembali lgi dengan saya n dark whice vampire! _ #digamvar

ok, ni cerita rencananya mo di buat Tsuchan berakhir di dalam ruang komite dan di anu ma Hibari, tetapi berhub saya masih kecil(?) kn gk baik tuk kesehatan jantung #eh?

wktunya bls riview~

Panda Dayo: Waaaahhhh... saya jdi tersanjung Arigatou na Panda Dayo! X3

Ahahaha... Gomen ne, fic ini gk ad mafia"an, n lgi hati goku dah direbut sama Bang Yama #janganmaksanak mungkin di chapt lain bisa ditunjukin interaksi mereka yak, mungkin yak #digamvar

okay, ni dah di update!

dwinur. halifah. 9: Hihihi... harus semangat dia gadepin seme jahil ky Hibari XD

um! ni dah update! :3

Natsu Yuuki: aaaaah~ mrk emk unyu" gmn gitu~

um! arigatou! ni dah update! X3

Fineapple: Ahahaha... ni dah update!

Mizuki Ryuka: klo hukumannya gitu, yg ad ntar Hibari gk bisa modus dong D: #nak

un! arigatou!

Chiharu Nao TomatoOrange: Ariagatou! tenang, ad kelanjutannya kok! X3

Saory Athena Namikaze: Ahai~ kita ketemu lgi Sao XD

um! Hibari emk sealu menebar modus(?) wkwkwkw... yosh! arigatou na!

Thanks to: Fineapple, Natsu Yuuki, Panda Dayo, Zara Zahra, Kikuuuu, Xxferessa-TanXx krna dah memfav dan memfollow fic ini :3

okey, give me review please~