disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: Ooc, banyak typo dan kesalahan tak disengaja lainnya.

.

.

.

Hinata berjalan melewati gerbang sekolah. Berjalan menunduk, ametysnya menatap ujung-ujung sepatu. Tangannya mencengkram erat tali tasnya.

Bosan, itulah yang dirasa Hinata, hingga ia terlihat malas berjalan. Suasana KHS sudah begitu ramai. Ini pertama kalinya, Hinata berangkat sekolah lumayan siang. Ini semua karna ia terlambat bangun. Ya, mau bagaimana lagi? Semalam Hinata tak bisa tidur memikirkan kejadian sore itu. Hingga membuatnya susah tidur.

"Hinata-chan."

Hinata menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah sumber suara. Ia menemukan Sakura dan Ino yang baru saja datang, mereka melambaikan tangan. Hinata membalas lambaian mereka.

"Tumben, kau berangkat sesiang ini?" Tanya Sakura.

"Iya, tak biasa." Ino ikut heran.

"Yah, Hari ini aku kesiangan." jawab Hinata singkat. Sakura dan Ino hanya ber'oh'ria.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Semua murid diam mengikuti pelajaran fisika. Mereka semua serius mencatat semua tulisan yang ada di papan tulis. Tidak ada suara berisik sedikitpun. Kenapa bisa seperti itu? Lihat deh, siapa Sensei yang mengawasi. Orochimaru sensei, sedikit saja membuat ulah, di pastikan kalian akan menikmati rasanya tidur di kandang manda, ular peliharaan sensei tersebut.

Hinata termenung menatap buku catatannya. Gerakan menulisnya terhenti. Entah apa yang sedang ia fikirkan. Pandangannya begitu kosong. Tiada binar ceria seperti biasanya.

Hinata merasakan badanya begitu dingin dan sedikit gemetar. Keringat dingin membasahi telapak tangannya, membuat Hinata menjatuhkan Bolpoinnya. Pandangan mengabur.

"Bruuuggg"

"HiNATAAAA"

Hinata masih sempat mendengar suara Tenten yang berteriak memanggilnya. Ia juga merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Perlahan kegelapan menyelimuti pandangan. Ia pun tak sadarkan diri.

.

.

.

Tenten, Sakura dan Ino menikmati bento mereka dengan lesu. Entah sudah berapa banyak helaan napas keluar dari bibir mereka? Semenjak Hinata pingsan dan dipulangkan, mereka merasa ada sesuatu yang hilang.

"Tidak ada Hinata seperti ada yang kurang yah?" ucap Ino lesu meminta persetujuan. "Iya nih, tidak ada yang melerai saat kita berkelahi," kata Sakura, mengaduk-aduk jusnya tanpa minat.

"Sebenarnya ada apa dengan Hinata? Apa kau tahu kenapa, Tenten?" tanya Ino menatap penuh tanya pada Tenten.

"Aku tidak tahu, tiba-tiba saja Hinata pingsan, saat ku pegang, tubuhnya begitu dingin dan sedikit gemetar," jawab Tenten mengingat bagaimana ia menemukan Hinata terjatuh.

"Sepertinya ada yang aneh dengan Hinata," ucap Sakura menatap serius kepada kedua temannya.

"Kau benar, Sakura, tadi pagi ia tidak biasanya berangkat siang," tambah Ino yang juga merasa aneh dengan Hinata. "Bukankah keanehan Hinata sudah sejak sebulan lalu?" sahut Tenten.

"Ah iya ya, Hinata yang sekarang lebih tertutup orangnya, ia mau bercerita soal penggemar rahasia saja, kita merasa senang," sahut Sakura sedikit sedih.

"Yah, Setidaknya, Hinata benar-benar menganggap kita sahabatnya." imbuh Ino.

"Tapi untuk cerita yang lainya, Hinata memilih bungkam, padahal ia bisa cerita ke kita kalau memang ada masalah yang sulit di hadapi sendiri," kata Tenten menerawang.

"Hinata benar-benar sulit di selami, seolah ia memasang kekkai yang begitu kuat." Sakura menghela nafas dalam, ia sungguh merasa buta akan Hinata.

"Sudahlah! bagaimana kalau pulang sekolah kita jenguk Hinata?" ajak Ino menengahi kesedihan sahabatnya.

"Yups, aku setuju," sambut Sakura girang , sedangkan Tenten hanya mengangguk menyetujui.

.

.

.

Hinata menatap horor lembaran kertas di tangannya. Bibir pucatnya sedikit benar-benar tidak yakin dengan apa yang ia lihat, jika saja dokter Tsunade tidak berada tepat di hadapannya.

Rambut indigonya bergerak ke kanan-kiri mengikuti gelengan kepalanya. Bibir Hinata bergetar. Ingin mengatakan sesuatu tetapi entah kenapa bibirnya terkunci rapat, membuatnya bungkam seribu bahasa. Manik pearl'nya mendongak memandang dokter paruh baya di hadapannya. Berharap ini adalah sebuah mimpi dan tidak benar. Namun ekspresi Tsunade yang nampak prihatin, menggugurkan harapannya. Hinata menunduk dalam demi menyembunyikan bulir air mata yang siap jatuh.

"Hinata?" panggilan itu tak jua membuat Hinata mendongak ataupun menoleh. Tetap pada posisinya.

"Kau baik-baik saja?"

Baik-baik saja? Apa dokter ini bercanda? Setelah melihat hasil tes ini, apa ia bisa baik-baik saja?

"Hiks hiks" isakan yang berusaha Hinata tahan, akhirnya keluar. Hinata mencoba menggigit bibir bawahnya, membungkam isakan lemah yang menyiksanya.

Tsunade memandang prihatin gadis belia yang menjadi pasiennya. Ia juga merasa bersalah harus menyampaikan hasil tes gadis itu. Tapi ini adalah tugasnya, menyampaikan apapun sekalipun itu hal terburuk. Tsunade menghela nafas panjang, memijat pangkal hidungnya lalu ia beranjak dari kursi yang ia singgahi. Melangkah pelan mendekati Hinata.

"Hinata?" panggilnya dengan lirih, tangannya membelai lembut surai indigo milik Hinata.

"Kau bisa menceritakan semuanya padaku," Hinata mendongak memandang raut ketulusan Tsunade, sebuah rasa sesak membuncah dalam hatinya. Bukan, bukan sesak menyakitkan tetapi sesak menyenangkan

Brugh

Hinata memeluk Tsunade dengan erat, menumpahkan isak tangisnya dalam pelukan Tsunade. Sang dokter hanya tersenyum tipis dan mengelus punggung Hinata penuh sayang.

.

.

.

"Percayalah, teme. Hinata pasti akan baik-baik saja," ucap Naruto mendekati Sasuke yang masih merenung memandangi sekolah dari atap sekolah yang telah sepi karena jam pulang sekolah sudah berlalu sejam yang lalu. Naruto menepuk sahabatnya itu dan berhasil membuat Sasuke menolehkan onix'nya padanya. "Keadaan tidak akan membaik dengan kau begini," ucapnya lagi pada Sasuke yang tengah dilanda ke'galau'an.

"Benar, Sasuke," Shikamaru yang tadinya duduk bersandar mulai bangkit berdiri dan menghampiri tempat Sasuke.

"Seharusnya kau menengoknya bukan? Dari pada kau khawatir tanpa memastikan keadaannya," lanjut Shikamaru.

Gaara yang tengah berdiri dengan bersidekap hanya diam tapi menyimak dan menatap Sasuke seolah membenarkan semua ucapan Naruto dan Shikamaru. Naruto, Gaara dan Shikamaru telah tahu sejak lama hati dari pangeran es berambut emo itu telah terpaut pada seorang siswi berambut indigo yang pendiam dan misterius aka Hinata. Bahkan mereka tidak habis pikir dengan tingkah konyol sahabatnya yang satu ini. Menjadi stalker, penguntit, pengagum rahasia dan pengirim puisi. Norak sekali' batin mereka bertiga.

Saat mereka mengutarakan dengan maksud meledek, responya bukanlah marah dengan mencaci maki atau menghajar mereka. Tapi Sasuke akan ke pojok ruangan, berjongkok dan mencoret-coret lantai dengan telunjuknya. Tingkah Sasuke benar-benar membuat melongo mereka. Pasalnya Sasuke itu adalah pria yang paling dingin di antara mereka, bahkan Gaara pun kalah. Tapi lihatlah tingkah Sasuke yang sedang jatuh cinta? Benar-benar mengerikan. Apa pesona Hinata begitu hebatnya? Mereka kenal Hinata sebagai teman sekelas yang pendiam dan ramah. Itu saja yang mereka ketahui. Gadis itu jarang menampilkan ekspresi ataupun emosionalnya.

Naruto menggulirkan shappire'nya ke arah halaman belakang yang sejurus dengan atap gedung ini. Ia menghela nafas panjang. Jika boleh jujur, sesungguhnya ia juga tertarik pada Hinata. Ia hanya berpura-pura menyukai Sakura demi menjaga perasaan Sasuke. Bisa saja ia merebut Hinata yang waktu itu sepertinya memberi lampu hijau padanya. Tetapi bila dipikir ulang, ia merasa seperti pengkhianat yang tega menyakiti sahabatnya sendiri. Untuk itu ia mundur teratur dan mempersilahkan Sasuke untuk maju. Biarlah ia mengalah. Ini pertama kalinya ia melihat Sasuke jatuh cinta. Tepatnya saat ia menyaksikan sendiri bagaimana Sasuke memberikan buku perpustakan yang memang hanya 1 untuk Hinata. Perlu diketahui bahwa Sasuke tidak suka mengalah, tapi untuk pertama kalinya ia mengalah dan memberikan dengan suka rela pada Hinata. Dari situlah ia menarik kesimpulan bahwa sahabat sejak kecilnya ini memiliki ketertarikan dengan gadis yang sama ia sukai. Ia sebenarnya juga khawatir dengan kondisi Hinata. Apalagi melihat gadis itu pingsan di kelas tadi. Saat ia ingin menolong, rupanya kalah cepat dengan Sasuke yang kemudian menggendong Hinata menuju UKS diikuti Tenten yang notabene'nya sahabat sebangku Hinata.

"Kalian benar. Aku harus menjenguknya," lirih Sasuke masih dengan raut kusut frustasinya. Naruto terkekeh dan memukul pelan bahu Sasuke. "Nah gitu dong, ini baru Teme yang ku kenal," ucapnya.

"Tapi bukankah kau nanti malam ada janji dengan Karin?" tanya Gaara yang baru membuka suara. Satu lagi fakta. Meskipun Sasuke menyukai Hinata, orang tua Sasuke telah menjodohkan dirinya dengan heires berambut merah. Sasuke mendengus kecil, "Aku akan membatalkannya!" jawabnya.

"Ayahmu pasti akan memaksamu untuk tetap bersama Karin," ujar Naruto yang tahu bagaimana watak Fugaku yang keras itu. "Ini akan sangat merepotkan," kali ini Shikamaru ikut menyela.

"Tapi tenang, kami akan membantumu," ucapan Shikamaru disetujui Naruto dan Gaara yang menganggukan kepala.

"Terima kasih, semua,".

.

.

.

"Apa!" Suara Karin memekik keras dan melotot tajam pada pemuda pantat ayam di depannya. Alisnya bertaut demi memastikan kebenaran yang baru saja ia dengar. Ia menggeleng tak percaya dan berdecak sebal, lalu ia melipat tangannya dan memicing ke arah Sasuke.

"Jadi kau memintaku untuk mengajak kencan dirimu, padahal kau hanya ingin bertemu Hinata? Kheh!" dengus Karin meremehkan. Menggeleng tak habis pikir dengan otak jenius Sasuke yang selalu dipuji semua guru

"Hanya kali ini," suara Sasuke begitu lirih, jauh dari nada angkuh yang selalu ia kumandangkan.

"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya ada di otakmu itu, Sasuke!" Karin menunjuk dengan kurang ajarnya tepat di dahi si bungsu Uchiha.

"Kau memanfaatkan posisiku demi melancarkan keinginanmu!" tambahnya dengan mendesis kesal. Sasuke, si objek menyebalkan hanya menggulirkan matanya ke arah pandang lain agar tidak bersibobrok dengan ruby yang tengah marah ini

"Harusnya kau lebih berani mengungkapkan keinginanmu dan menolak perjodohan ini, bodoh!" ujar Karin. Ia mengusap wajahnya kasar dan berbalik badan. Berjalan menjauhi pemuda yang akan menjadi tunangannya. Ia benar-benar tidak mengerti Sasuke. Ia baru mengenalnya saat acara Hanabi tahun lalu yang diadakan di sekolah. Saat itu Sasuke dan bandnya tampil menjadi pengisi acara dengan menyanyikan sebuah lagu. Sebenarnya ia bukanlah tipe yang suka menghabiskan waktu untuk seperti ini. Ia lebih suka mengambil kerja lemburan atau sekedar memanjakan diri di apartementnya. Thanks banget buat bos'nya yang sangat peduli dengan 'masa remaja'nya dan berhasil menyeretku untuk tidak lembur. Dan thanks banget buat Fu, si gadis enerjik yang mengusul ide gila tentang kostum serta jemputannya. Yah, itu sukses membuat Karin keluar dan berkumpul dengan teman sebayanya merayakan Hanabi. Dan berakhir bertemu dengan Sasuke. Oh jangan lupakan bibi Mikoto yang tiba-tiba mengenalku dan bersikap bahwa aku anaknya yang telah lama hilang.

Karin mengerjapkan matanya, mengakhiri kenangan yang entah mimpi indah ataupun mimpi buruk. Jika boleh jujur, ini adalah mimpi buruk. Seenak jidatnya Fugaku tiba-tiba datang ke apartement meminta dirinya untuk menjadi menantunya. Dan dengan bodohnya ia terpancing hingga manggut-manggut layaknya orang bego ketika melihat bibi Mikoto menangis dihadapannya. Seharusnya tolakan lebih baik dari pada terjebak dengan perasaan seperti ini. Ia tidak mencintai Sasuke.

Sekali lagi ia tegaskan bahwa dia tidak mencintai Sasuke. Pandangan siswa yang menatap dirinya seolah memuja Sasuke adalah skenarionya. Demi apa? ia melakukan demi Sasuke. Pemuda itu yang meminta agar para fansgirls keganjenan itu menjauh. Tapi oh god, mestinya ada cara lain kan? Belum apa-apa pemuda itu sudah menuntutnya seperti itu. Oke, itu tak masalah selama masih bisa. Bukankah itu juga bisa menyenangkan hati orang tua Sasuke? Ta-tapi sekarang, oh ya ampun. Entah Karin harus berkata apa. Sasuke memintanya untuk menemani menemui perempuan yang dicintainya. Ia tidak cemburu. Hanya saja, ia tidak mau menjadi tameng alasan Sasuke. Dan ia tidak mau terus membohongi Fugaku lebih banyak lagi. Bagaimana kalau beliau tahu anaknya ingin mengencani gadis lain?

Karin mengetuk telunjuknya di dagu lancip miripnya. Rubynya terpejam dan sesekali alisnya berkerut kemudian memudar kembali.

"Ku mohon tuan putri Karin-"

"Stop!" bentak Karin yang mendadak berbalik dan melangkah ke arah Sasuke. Ia paling benci dengan panggilan itu. "Jadi?" ucap Sasuke tersenyum riang. Karin menghela nafas terpaksa.

"Aku tidak tahu pemuda berharga diri tinggi sepertimu mau memohon demi seorang perempuan. Baiklah, aku akan bantu," ucap Karin pasrah, mengakhiri perdebatan tidak berguna.

"Yay, trima kasih, Karin," sorak riang Sasuke seperti seorang autis. Reflek ia ingin memeluk Karin karena saking bahagianya namun Karin melotot tajam dan meringis geli menyaksikan tingkah Sasuke yang di luar logika. Hah, mungkin benar kata orang, bahwa cinta mampu membuat seseorang seperti bukan dirinya.

.

.

.

to be continued

.

. hehehe, sekali-kali jangan bikin Karin antagonis ah. soalnya aku suka banget ama Karin. hehe.