Flash back di awal cerita ini ada hubungannya dengan cerita di awal chapter 2 kemarin—yang menceritakan kota Uzumaki diserang oleh pasukan penyihir. ∞


[Flash Back : Pertemuan Pertama]


Pagi menyingsing suasana di istana itu. Tepat di tamannya, seorang anak laki-laki berambut pirang terlihat duduk tak senang di dekat air mancur berpatung wanita mengangkat guci. Anak laki-laki itu duduk sambil menenggelamkan setengah kakinya ke air dan beberapa kali ia mengusap matanya pada lengan baju. Ia menangis. Ia juga terus memandangi patung wanita guci itu sambil mengepal kuat-kuat. Seakan-akan kalau patung itu telah mengingatkannya pada seseorang yang ingin sekali ia temui sekarang.

"Kaa-san," gumamnya.

Hingga seseorang dari belakang pun menepuk bahunya, Ia mulai berhenti menangis. Ia melihat siapa orang itu. Dan pertama kalinya, ia terpaku. Mata bulan itu, rambut panjang berwarna biru kehitaman itu, begitu ... indah.

"Kau anak yang dibawa Okaa-sama tadi malam, ya?" Gadis kecil itu bertanya.

Dilihat dari tingginya, sepertinya gadis ini seumuran dengannya. Dia tampak berpenampilan khas seorang putri bangsawan. Tidak begitu mengherankan kalau dia memanglah dari keluarga itu.

"Kau juga masih anak-anak." kata anak berambut pirang itu, sekarang ia memandang kedua kakinya yang setengah tenggelam. Ia menunduk.

"Eh, benar juga, sih," Gadis itu tersenyum, "boleh aku duduk di sampingmu?"

Anak laki-laki itu diam. Ia terlihat seperti tak ingin diganggu. Ia masih ingin sendiri. Teringat dengan kejadian semalam, mungkin lebih baik Ia tidak perlu menerima bantuan dari wanita itu. Seharusnya ia sudah mati bersama keluarganya, bersama penduduk kota lainnya.

"Namaku Hyuuga Hinata, panggil saja Hinata. Umurku masih 13 tahun, lho." Gadis itu duduk di sampingnya. Melihat apa yang sedang dia lakukan, mungkin jawaban yang paling tepat adalah melakukan sama persis yang sedang dilakukan oleh si anak laki-laki—menenggelamkan setengah kakinya ke kolam. "Kalau namamu?" ucapnya.

Bengong, begitulah yang tergambar pada wajah anak laki-laki itu ketika mendengar gadis di dekatnya ini mengatakan berapa umurnya. Perasaan sedih yang dari tadi membuatnya tak bernafsu bicara pun seakan hilang begitu saja tertiup angin. Ia terpaku mengetahui umur tuan putri itu. Kalau dilihat-lihat dengan seksama, gadis itu memang tampak seperti lebih dari seorang anak kecil pada umumnya.

"Aku tidak ingin menyebut nama lengkapku, tapi panggil saja aku Naruto. Umurku akan segera 7 tahun setelah seminggu lagi." ucap anak laki-laki itu, ia sekarang sudah berdiri di dekat kolam—tidak lagi menenggelamkan kedua kakinya ataupun duduk di sana. "Hey, bisakah kau berdiri di depanku?" katanya.

Wajah Hinata berubah menjadi heran. Ia mulai menyimpulkan kalau anak laki-laki yang ia tahu hanya bernama Naruto itu adalah orang aneh. Tentu saja, baru beberapa bagian percakapan saja yang ia ucapkan padanya tapi langsung membuat anak itu seakan telah melupakan segala kesedihannya. Membuatku penasaran saja, bisiknya dalam hati. Ia kembali tersenyum, kemudian menuruti apa yang diucapkan anak laki-laki itu—yaitu berdiri di depannya.

"Muka yang manis," Naruto tiba-tiba menatap wajah Hinata dengan sangat dekat—dahi mereka tampak menempel, "bentuk lekuk tubuh ini," tangannya memegang pinggul gadis itu, "bau wangi ini," hidungnya mulai mengendus-endus, "kenyal-kenyal ini," sekarang ia mulai melakukan suatu hal yang tidak senonoh pada gadis itu—yaitu meremas-remas oppainya yang sedang tumbuh, "sudah kuduga, kau memang seorang perempuan."

Dan setelah itu, semuanya pun berakhir dengan wajah Hinata yang sangat merah dan teriakan kerasnya, serta Naruto yang tampak babak belur karena mendapat seribu pukulan dari gadis itu—kepala anak itu penuh benjolan bertingkat 3, dan wajahnya banyak terdapat bekas tinju tangan yang bersinar merah.


[Flash Back End]

We Are Assassins

by. Yuki Ooku

Rate : M (Yang di bawah umur sebaiknya jangan baca, lihat judulnya!)

Naruto x Hinata

Adventure, Romance, Fantasy, Supernatural

Warning (!) Hinata RTN, OOC, AU, miss (typo), dll


Pagi itu mereka berdua berjalan menuju ke suatu tempat di depan sana. Naruto menggendong Hinata—si gadis elf , dan Konohamaru membawa sebuah tas yang di dalamnya berisi pakaian-pakaian mereka berdua. Jalanan yang terjal karena bebatuan atau becek saat melewati rawa-rawa rasanya sudah mereka lalui dengan mudah. Mereka bahkan terus maju ketika beberapa monster raksasa seperti golem tanah berada 5 meter sangat dekat dari mereka. Jika dilihat-lihat dengan seksama mungkin makhluk-makhluk besar itu terlihat seperti tak menyadari kehadiran mereka. Kenapa? Sudah dikatakan sebelumnya kalau hanya orang-orang yang cerdas dan tangguhlah yang bisa mengelilingi hutan penuh monster ini. Ya, benar sekali. Konohamaru menggunakan sedikit sihirnya untuk menyelimuti dirinya sendiri, Naruto maupun Hinata yang masih pingsan itu agar tak terlihat oleh mata sang golem. Jadi tak mengherankan kalau golem-golem itu membiarkan mereka lewat seakan menganggap mereka itu hanya tiga semut yang tidak sengaja melintas.

"Semakin banyak saja kabut yang menyelimuti tempat ini," ujar Konohamaru ketika menyadari dirinya telah tertinggal cukup jauh dari Naruto. "Apalagi jalan yang dipenuhi akar-akar sialan ini. Aku jadi sulit berjalan."

"Cepatlah sedikit, Konohamaru, jika kau tertinggal lebih jauh lagi kita bisa terpisah." Setelah itu, Konohamaru pun bergegas menyusul Naruto. Kalau dipikir-pikir, lebih baik ia menuruti kata anikinya itu daripada harus tersesat nanti. Oh, benar juga. Berbicara tentang tempat, kali ini mereka akan pergi ke sebuah desa yang terkenal karena suasananya yang begitu samar dilihat. Desa yang bisa dibilang sedikit penghuninya meskipun luasnya cukup lebar—hampir menyamai kota Konoha. Desa kabut, begitulah nama yang ada di atas gerbang raksasa bertuliskan 'Selamat Datang' pada bagian pintunya.

"Kita sudah sampai." tegas Naruto, begitu melihat sesuatu yang sangat besar ada di depannya. Tak salah dan tak lain itu adalah gerbang yang dimaksud. Pintu masuk raksasa yang di dalamnya telah menanti sebuah desa. Jika kita melihat apakah ada orang yang menjaga gerbang itu atau apakah gerbang itu dalam kondisi tertutup, mungkin jawabannya singkat, tidak ada dan tidak ada. Kayu besar yang dulu pernah dijadikan pintu dua sisi pun sudah tak terpasang lagi, hanya sebuah gerbang yang terlihat sekilas seperti mulut gua saja. Gelap dan dipenuhi kabut.

"Hey, Aniki, apa kau yakin ini tempat yang benar? Terlihat aneh menurutku." kata Konohamaru, ia ragu rupanya.

Sebenarnya ini sudah 1 tahun yang lalu ketika dia dan Naruto berkunjung ke tempat ini, tapi keadaan pintu masuknya sudah bolong. Apakah telah terjadi peperangan besar ketika mereka pergi dari sini ya? Entahlah.

"Ini memang tempatnya, tidak salah lagi. Ayo kita temui pak tua Zabuza, mungkin dia masih menyimpan benda suci itu." Terlihat tenang, Naruto pun berjalan melewati gerbang itu dan kemudian diikuti Konohamaru di belakangnya.

Aku sulit melihat, begitulah yang Konohamaru gumamkan saat menatap sekeliling setelah melewati gerbang tadi. Ia hanya bisa melihat beberapa rumah yang salah satu penghuninya mungkin sedang menyapu halaman rumah atau malah menyiram tanaman, tidak begitu jelas. Sedikitnya ada juga sekitar 5 anak kecil yang berlarian dan satu dari mereka tak sengaja menabrak Naruto. Menyadari kesalahannya, anak itu pun segera meminta maaf dan Naruto hanya membalas dengan senyum.

"Banyak minum susu ya biar besarnya nanti kamu bisa memiliki oppai yang sehat." Si anak kecil hanya berekspresi polos—tidak paham dengan apa yang diucapkan Naruto.

Konohamaru sweatdrop, "Kau tidak perlu mengatakan hal yang mesum pada anak kecil, Aniki, kau akan merusak kepribadian mereka," katanya.

"Bodoh, aku hanya memberitahunya sedikit rahasia saja, apa salahnya coba?" Setelah itu, mereka berdua melanjutkan perjalanan.

Dan tak terasa sudah 5 menit mereka berjalan akhirnya sampai juga di tempat ini—di depan rumah pak tua bernama Zabuza itu.

Naruto menghela nafas, "Dasar tua bangka, masih belum berubah juga rupanya," kesalnya, karena melihat pintu dan jendela rumah itu tertutup rapat. Jika mengingat-ingat ketika Naruto dulu pernah ke sini, rumah pak tua itu juga kondisinya seperti saat ini. Kemungkinan besar dia masih tidur di kasur empuknya. "Tidak ada pilihan lain, kita harus istirahat di penginapan. Mungkin kita akan menginap di sini sampai tengah malam nanti."

"Bagaimana kalau di penginapan itu?" Konohamaru menunjuk sebuah rumah kayu bertingkat 3 di sebelah kanan rumah pak tua Zabuza dengan tulisan 'Sewa Kamar' di atas pintunya.

"Baiklah, ayo kita ke sana!" Tanpa pikir panjang, Naruto pun bergegas masuk ke tempat itu kemudian menyewa satu kamar di sana. Dan ketika ia masuk ke kamar yang telah disewanya, bau wangi dari debu-debu tercium begitu tajam di seluruh ruangan. Apa tempat ini tidak pernah dibersihkan? Meski tidak ada satu pun jaring laba-laba, kamar ini seperti tak terurus saja. Pantas saja biaya sewa kamar tadi sangat murah—10 perak. Kalau di tempat lain mungkin harganya akan sampai 50 perak atau sama dengan 1 emas.

"Haaaah... " Konohamaru meletakkan tas besar yang dibawanya ke meja. "Akhirnya aku bisa istirahat juga, punggungku sudah sangat pegal karena menggendong tas berat seberat itu."

"Aku akan keluar sebentar." Naruto membaringkan Hinata di tempat tidur, "Konohamaru, kau di sini saja, jaga dia."

"Memangnya apa yang akan kau lakukan?"

"Hanya melihat-lihat."


We Are Assassins

Chapter 3 : Desa Kabut

Fanfiction NaruHina Adventure


Pria itu tampak begitu menyedihkan. Pakaiannya begitu lusuh dan terdapat banyak sobekan di bagian perut. Rambut hitam bergelombang yang panjangnya sampai ke leher itu terlihat basah karena lumpur. Keringat tak henti-henti menetes dari pelipisnya. Nafasnya juga terengah-engah. Jika kita melihat sedikit lebih jauh, akan tampak kalau pria itu sedang berada di atas sebuah tempat yang bisa di bilang panggung kecil, dan ada sekitar puluhan orang di sekeliling sedang menatap ke arahnya. Berjongkok, kepalanya menunduk, dan kedua tangannya tampak terikat oleh tali. Pria itu terlihat seperti seorang penjahat yang akan dihukum mati saja.

"Ritual akan segera dilakukan!"

Ada sedikit rasa kasihan yang diperlihatkan orang-orang ketika ucapan itu terdengar cukup bising di telinga. Mereka menatap pria menyedihkan itu sambil sekilas melirik seorang gadis berjubah putih yang sedang membawa pedang di tangan kanannya—dia berada di sisi kanan pria itu. Dilihat dari ukuran fisiknya, mungkin gadis itu masih bisa dibilang anak-anak. Seratus dua puluh lima centimeter mungkin. Di punggungnya terdapat benda yang panjangnya hampir menyamai tubuh gadis kecil itu sendiri. Benda itu terlihat sangat mirip dengan sendok yang biasa kita gunakan untuk makan, tapi berwarna hitam pekat.

"Dengan pengorbananmu yang tanpa paksaan ini, kami sangat berterima kasih." Gadis itu mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, kemudian melanjutkan kata-katanya, "Demi kepentingan orang-orang desa, dengan ini akan kupotong lehermu sebagai persembahan kita—dari suku Fog kepada Dewa Angin. Kita memohon agar dijauhkan dari kemiskinan, kesakitan, dan di dekatkan pada kekayaan, kebahagiaan, keadilan. Karena itulah, semua dosa yang ada dalam jasmani maupun rohanimu akan segera terhapus melalui pedang ini!"

Sementara itu, mari kita layangkan pandangan ke arah tengah kerumunan orang yang masih melihat pelaksanakan ritual ini. Kuning, dan sapphire. Tidak salah lagi, itu Naruto. Ternyata dia juga ikut melihat ritual yang biasa dilakukan ini. Ya, sebenarnya pemandangan ini tidaklah begitu mengejutkan baginya. Satu tahun yang lalu dia pernah berkunjung ke sini, jadi Ia tidak perlu terkejut dengan itu. Apalagi tentang tujuan dilakukannya ritual seperti itu; mempersembahkan kepala seseorang kepada dewa, dengan harapan agar doa mereka cepat terkabul, juga tanda bersyukur; begitulah yang dikatakan kebanyakan orang di sini.

"Dasar orang-orang tidak waras." Naruto mendengus pelan, lalu sambil bersedekap ia pergi meninggalkan kerumunan itu. Dan entah dirinya sadar atau tidak, ditempatnya gadis berjubah yang akan melakukan eksekusi pada pria di dekatnya itu tampak menatap tajam ke arah Naruto. Dia tiba-tiba mengeratkan genggaman pada pedang yang dibawanya, sebelum kemudian dengan cepat ia pun mengayunkan pedangnya.

~0o0~

Tampak tenang, Naruto terus saja berjalan. Tidak menengok maupun melirik ke mana-mana, hanya itu yang dilakukannya. Tentu saja, memangnya apa yang ingin dilihat. Kabut dan hanya kabutlah yang terlihat di sekitar. Suara orang lain? Tidak terdengar apapun. Baru saja kita lihat ada ritual di desa ini, dan semua penduduk desa pergi ke sana untuk melihat.

Teringat seorang gadis kecil berjubah putih tadi, sepertinya dia adalah orang sewaan yang diminta kepala desa sebagai eksekutor. Entah kebetulan atau tidak, orang yang disewa itu sebenarnya salah satu dari anggota Cross Hunters. Naruto tahu itu. Dilihat dari jubah putih yang gadis itu pakai sudah jelas kalau dia memang dari organisasi itu.

Menentukan apakah seseorang itu adalah salah satu dari anggota Cross Hunters atau bukan sebenarnya mudah. Setiap anggota Cross Hunters selalu memakai jubah putih yang pada punggung jubah tersebut terdapat gambar cakar elang berwarna hitam; gambar itu sendiri memiliki arti yaitu pemburu pantang menyerah yang diibaratkan seekor elang ketika melihat mangsanya tidak akan pernah menyerah meski secepat apapun mangsanya berlari atau sehebat apapun menghindar pasti akan tertangkap juga. Dan semua itu bukanlah omong kosong belaka. Ingat ketika Naruto dan Konohamaru menyangka kalau Hinata yang waktu itu adalah anggota dari Cross Hunters. Ekspresi Naruto begitu cemas, gelisah, dan entah mau apa lagi ia ingin segera menghabisinya karena kalau tidak cepat pasti akan berakibat buruk.

Naruto takut. Itu benar. Ia benar-benar merasa takut. Memang tidaklah salah julukan 'Pembunuh Terkejam' sudah ia miliki, tapi meski begitu rasa takut itu masih saja membuatnya tidak tenang. Ketakutan itu selalu muncul ketika dirinya berhadapan dengan orang dari organisasi Cross Hunters. Ia begitu trauma—tidak ingin mengingatnya lagi, kejadian di mana ia harus menerima kenyataan yang sangat buruk pada kedua kalinya.

INI berbicara tentang masa lalu Naruto. Setelah meninggalkan Konoha, Naruto memutuskan untuk menjadi murid dari seorang pria berkacamata yang waktu itu tinggal di antara perbatasan negara api dan angin. Ia berlatih terus-menerus, siang malam. Ia juga jarang beristirahat. Menjadi seorang ahli pedang, itulah mimpinya.

Hingga saat itu pun tiba, Naruto harus melawan gurunya sendiri. Kabuto-sensei, begitulah ia memanggilnya. Kanan lalu kiri kemudian kanan lagi, pria itu terus menghujani Naruto dengan tinjunya yang dilapisi cakar—3 pisau yang terselip pada jari-jari tangan. Tersayat berkali-kali, seluruh tubuh Naruto terkena sempretan cakar itu—baik wajah, dada, tangan, maupun kaki. Dan pada akhirnya, sebuah tusukkan di bagian perut pun harus Naruto terima.

Tersenyum, lalu tertawa dengan suara yang terdengar sangat puas. Tertawa cekikikan, seperti baru saja melihat sesuatu yang sangat lucu saja. Semua itu Kabuto lakukan tanpa peduli kalau Naruto adalah muridnya.

"Kau harus lebih kuat, jadilah sangat kuat, aku ingin kau jadi kuat, fufufu. Muridku, ini masih belum seberapa. Cross Hunters, aku salah satu anggota dari organisasi itu. Kikiki, aku hanyalah anggota biasa, bukan bagian pasukan elit, jadi ini bukan apa-apa. Jadilah lebih kuat. Meskipun kau bukan penyihir, gunakan bakat dan tekadmu untuk menjadi yang terkuat. Sampai jumpa, semoga kita bertemu lagi suatu hari nanti, kwokwokwo... "

Tatapan kosong, hanya itu yang bisa kita bayangkan untuk menggambarkan respon dari Naruto. Terbaring di tumbukkan salju sambil memegangi bagian perutnya yang telah tertusuk. Benar-benar, matanya terlihat seperti tidak mau menerima kenyataan saja—mendelik tanpa sekedip pun yang terhitung. Perkataan terakhir dari Kabuto itu membuatnya mulai berpikir. Ketika seseorang telah memilih, maka saat itulah dirinya harus siap dengan resiko apapun. Orang-orang di sekitarnya, kenapa selalu pergi? Tertipu oleh pria yang mengaku dirinya adalah seorang guru terhebat di dunia, hingga pada akhirnya si murid malah menjadi benda pelampiasan. Apa benar begitu? Sadarlah Naruto. Itu benar kenyataan, bukanlah mimpi. Pria yang selama ini kau panggil "sensei" telah MENGHIANATIMU.

"Haaah..." Naruto menghela nafas. Mengingat masa lalu memang selalu membuat penyesalan saja, ini merepotkan, gumamnya dalam hati.

Naruto masih berjalan. Sebenarnya keadaan sekitar yang tak terlihat apapun kecuali kabut putih tidak benar-benar mencuri perhatiannya, tapi ada sesuatu lain yang membuat dirinya merasa tidak setenang tadi. Rasanya seperti ada seseorang yang sedang memata-matainya di suatu tempat—di mana seseorang itu tengah bersiap dengan senjatanya.

Naruto melirik ke kiri—tak terlihat ada hawa kehidupan dan yang pasti tak ada seorang pun di sana. Sekarang ia melirik ke kanan—juga sama, tak ada apapun. Di mana orang itu? Seperti apakah wujudnya? Apa tujuannya? Naruto terus bertanya-tanya.

Waktu tiba-tiba seakan dipaksa berjalan dengan sangat lambat. Dimulai dari angka 0.0, 0.1, 0.2 dan seterusnya. Jika kita bayangkan, satu langkah yang sedang Naruto lakukan tampak seperti sedang berjalan di dasar laut saja. Sangat pelan. Bahkan suara yang seharusnya berbunyi "aku pergi" menjadi "aaaaaaakuuuuuuu peeeeeergiiiiiiiii". Kalau ini ada di dalam film, mungkin akan terdengar efek sound yang semakin lama terdengar keras—seperti volumenya dinaikan sedikit demi sedikit. Dan saat itulah kedua mata Naruto benar benar terbelalak. Ia mulai sadar. Ia pun mengadah, kemudian melihat. Sebuah pedang bersama orang yang membawanya tampak berada di atas sana—di atas Naruto.

Pedang itu terlihat berbeda dari pedang yang pernah kita lihat biasanya. Panjangnya hampir 3 meter, lebar 20 centimeter, dan tebal 5 centimeter. Bisa dibilang kalau benda itu adalah pedang yang besar dan tentunya berat. Lalu, tentang keterkejutan Naruto tadi, dapat kita simpulkan kalau dirinya sedang berada di posisi yang sangat gawat. Naruto di bawah, pedang di tengah, dan pemilik pedang tersebut ada di atas. Mereka seperti membentuk garis vertikal saja.

Sekarang coba kita lihat ke arah sang pemilik pedang besar itu. Dia memiliki tatapan yang tajam, memakai masker yang terlihat seperti terbuat dari perban, ikat kepala yang Ia pakai seakan-akan tengah menari-nari di udara saja. Naruto melihat semua itu, dan akhirnya ia pun mulai menyimpulkan; ia kenal dengan orang ini. Ia benar-benar mengenalnya—sang pemilik pedang besar itu. Tapi karena menyadari situainya yang sedang gawat, mungkin lebih baik ia bergegas melakukan sesuatu terlebih dulu sebelum pedang itu menusuk dan membelahnya menjadi dua potong daging.

Menghindar atau menangkis, dua pilihan yang harus Naruto lakukan. Suasana semakin genting—mata pedang itu sudah berada satu inci dari dahinya. Ia harus segera melakukan sesuatu dengan cepat, secepat mungkin atau berakhirlah sudah hidupnya. Naruto tampak kebingungan. Ia berkeringat. Ia menggertakan giginya. Bagaimana ini? Bagaimana ini? Sial! Sial! Sial! Sial! Ia terus mengumpat dalam hati. Naruto tahu dirinya harus tenang. Ia hanya perlu mengeluarkannya sedikit saja tanpa diketahui oleh pria ini. Benar, ia hanya perlu memilih melakukan apa; menghindar atau menangkis. Tapi kalau dipikir secara akal sehat dua hal itu tidaklah mungkin berhasil—selamat dari senjata yang bagian tajamnya sudah berada satu inci dari tubuh, jangan bercanda, apa mungkin?

Naruto tiba-tiba tersenyum. Entah mau bagaimana lagi menceritakannya, suara ledakan—seperti benda menghantam tanah pun terdengar cukup keras. Jika kita bayangkan, di tempat Naruto sudah tampak di selimuti oleh kumpulan debu yang tebal. Baik Naruto ataupun pria itu belumlah terlihat siapa yang terluka.

Tidak lama kemudian, debu perlahan menghilang seakan dimakan oleh kabut di sekitar. Sekarang bisa kita lihat bagaimana keadaan di tempat itu. Pedang besar yang tadinya menjadi perhatian kita tampak tertancap di tanah dengan sebuah kawah yang ditimbulkannya. Kawah tersebut seperti kawah yang diakibatkan meteor saja—namun lebih kecil. Memiliki diameter 6 meter dan dalamnya 1 meter. Melihatnya saja, pasti sudah membuat kita menyimpulkan sesuatu; Naruto selamat. Itu benar, dia memang selamat. Entah dengan menghindar atau melakukan sesuatu yang di luar akal, masih belum kita ketahui dengan jelas.

Sekarang coba kita layangkan pandangan ke arah lain di dekat tempat itu—sang pemilik pedang besar itu tepatnya. Ia masih ada di sana—di tempat Naruto tadi. Ia berkali-kali tengok kanan-kiri tapi tidak juga menemukan sesuatu yang dicarinya—si Naruto. Ia kemudian berusaha mencabut pedangnya namun tampak kesulitan—mungkin ia terlalu berlebihan mengayunkannya tadi.

"Sial! Pedangku terjepit!"

Pria itu mendesah pelan sebelum kemudian sebuah tatapan tajam pun dapat kita lihat dari matanya yang sipit. Ia terlihat sedang menikmati sesuatu. Lebih tepatnya, menikmati suasana yang saat ini telah membuatnya tidak bisa bergerak bebas lagi. Suasana yang memaksanya untuk tidak melakukan gerakan tiba-tiba.

"Yo... sudah satu tahun berlalu, kan, Pak Tua... Zabuza?"

Ya, benar. Itu adalah Naruto. Dia berada di atas pria itu sekarang. Jika kita bayangkan, tangan kirinya terlihat menepak pada bahu pria itu dan tangan kanannya menggenggam pedang, sementara bagian tubuhnya yang lain tampak berada di atas—ia seperti sedang berdiri dengan satu tangan saja dan si pria sebagai pijakan. Benar-benar sebuah keseimbangan yang menakjubkan jika kita membayangkannya dengan jelas.

"Bisakah kau singkirkan Excalibur milikmu dari leherku? Aku bukanlah seekor ayam yang setiap saat bisa kau sembelih, tahu."

menikmati suasana yang saat ini telah membuatnya tidak bisa bergerak bebas lagi. Suasana yang memaksanya untuk tidak melakukan gerakan tiba-tiba. Itu benar. Yang sejak tadi membuat pria berpedang besar—yang ternyata si pak tua Zabuza merasakan semua suasana itu adalah Naruto sendiri. Dan tak begitu asing jika sudah memegang pedang, pemuda itu pasti akan mengancam leher seseorang.

"Langsung ke intinya saja, aku ingin mengambil benda yang pernah kutitipkan padamu."

"Hey, hey, apa itu tidak terlalu singkat? Lagipula benda itu masih dalam perawatanku, jadi tidak semudah yang kau bayangkan mengambilnya. Mungkin lain hal kalau kau membawakan oleh-oleh atau sesuatu untuk kita barter, bagaimana?" Tatapan pak tua itu masih tajam.

"Tenang, aku sudah menyiapkan semuanya. Salah satu buku dari perpustakaan Javanesch, kau pasti tertarik."

~0o0~

Konohamaru tampak menatap keluar jendela. Ia sebenarnya bukanlah orang yang serba ingin tahu, meski sudah pernah ke desa ini sekali tapi pertanyaan itu masih saja membuatnya sedikit tidak nyaman; apa orang-orang di sini tidak terserang asma karena terlalu banyak menghirup kabut? Sebuah pertanyaan yang bisa dibilang sepele namun takkan pernah tahu apa jawabannya.

"Kuharap ... setelah ini aku bisa melakukannya." Ia bergumam.

[Rumah hancur, darah, mati, kedua orang tua, menangis, balas dendam!]

Konohamaru tiba-tiba memegangi kepalanya. Ia tidak begitu mengerti kenapa kepalanya mendadak terasa sakit. Hatinya juga. Ia merasakan sesuatu semacam kebencian membuat hatinya diselimuti kegelapan. Ia seperti telah mengingat kembali ingatan buruknya di masa lalu. Ingatan ketika dirinya harus melihat keluarganya terbunuh.

[Di rumah, darah terciprat ke dinding, mayat kedua orang tuanya digantung di kamarnya, Ia histeris, Ia berjanji akan balas dendam pada pembunuh itu, Ia berjanji!]

"..."

Konohamaru berusaha mengatur nafasnya. Ia tidak ingin menjadi gila untuk sekarang. Aku harus tenang, ia berusaha rileks. Ia berkali-kali mengusap dadanya.

"Ano... "

Saat ini bukan saatnya memikirkan itu. Dirinya harus lebih kuat agar ketika bertarung dengan pembunuh keluarganya nanti dapat ia menangkan—sekaligus membunuhnya.

"Apa kau bisa mendengarku? Ano..."

Benar, Konohamaru harus lebih kuat. Pertahanannya sudah cukup bagus, tapi dalam hal serangan ia begitu lemah. Latihan setiap pagi masih belum cukup untuknya, jadi—

"Ano... "

"Diam! Jangan menggangguku, Berisik! Aku lagi sibuk!"

—jadi latihan harus ia tambah setiap sore atau malam. Kemudian ketika serangannya sudah cukup baik, mungkin ia perlu meningkatkan konsumsi mana supaya dapat mengeluarkan sihirnya dalam jumlah banyak—meskipun itu bisa diatasi dengan mengambil sihir dari tumbuh-tumbuhan atau para hewan liar di sekitar.

—Konohamaru terdiam sejenak.

Ia tidak salah dengar tadi ada seseorang bicara. Apa itu hanya perasaannya saja?

"M-Maaf, aku hanya ingin tahu di mana ini? Apa kau bisa memberitahuku?"

Konohamaru menengok, kemudian melihat seseorang yang tampaknya baru bangun dari tidur. Matanya pun terbelalak. Gadis itu, Hinata sudah bangun rupanya. Sekarang dia sedang duduk menatap heran ke arah Konohamaru.

"K-Kau sudah bangun, ya?" Konohamaru berkeringat dingin—ia khawatir dengan perkataan kasarnya tadi bisa membuat gadis itu melarikan diri.

"Di mana Naruto-kun? Kukira dia ada di sini tadi," gadis itu mengamati seluruh ruangan.

Hey, hey, apa Konohamaru tidak salah dengar? Gadis itu mengatakan nama depan dari seorang pembunuh yang selama ini memakai nama 'Uzumaki' saja—sekaligus orang yang selalu dipanggilnya 'Aniki'. Bukankah hanya orang-orang tertentu yang tahu itu. Siapa sebenarnya gadis ini? Apakah dia pernah akrab dengan Naruto? Tapi mengingat ketika Naruto melihatnya saat di hutan, itu terlihat jelas kalau anikinya itu sama sekali tak mengenal gadis ini. Apa maksudnya?

"Hey, Nee-san, apa kau tidak salah mengatakan itu?" Konohamaru memastikan.

Hinata tampak memiringkan kepalanya, "Apa dia belum memberitahumu?"

"Maksudmu aniki? Memberitahu apa?" Konohamaru semakin bingung.

"Aku dan dia adalah teman masa kecil."

"H-Ha-Ha? Yang benar?"

Hinata mengangguk. Sementara Konohamaru, dilihat dari wajahnya mungkin Ia masih belum percaya dengan ucapan gadis itu. Tentu saja, coba kita ingat sekali lagi kejadian sebelumnya; mulai dari adu pedang dengan pangeran Elf hingga Hinata pingsan, semua itu sudah sangat jelas kalau Naruto memang tidak mengenalnya sama sekali. Apa yang terjadi?

"Tapi aku melihatnya dengan jelas, kau terkena serangan Excalibur, seharusnya tubuhmu sudah menjadi abu. Bagaimana bisa?"

"Konohamaru-kun, kau ini aneh, ya? Kau tadi terlihat terkejut ketika mendengar bahwa aku dan Naruto-kun adalah teman semasa kecil, namun tiba-tiba saja kau bertanya yang tidak ada hubungannya. Apa maksudmu?"

"Sudah jawab saja!" Konohamaru terlihat tegang. Ini sebenarnya sudah membuatnya bertanya-tanya sejak awal. Ia memang terkejut mengetahui kalau gadis ini dan anikinya sudah kenal lama, apalagi mengetahui namanya, tapi itu hanya sebentar. Tidak ada waktu untuk memikirkan hal itu. Sebenarnya ada sesuatu lain yang berhasil membuatnya ingin tahu, kenapa dan bagaimana? Dua kata yang harus Konohamaru dapatkan jawabannya.

"Baiklah kalau kau memaksa," Hinata bersedekap, "ketika kalian sampai di Konoha, Naruto-kun mengunjungiku saat malam. Aku bilang padanya 'Aku ikut bersamamu', lalu dia memintaku untuk melarikan diri dari istana besoknya. Kemudian—"

"Langsung ke intinya saja."

"Ah, Konohamaru-kun ini, dari awal cerita kan lebih baik. Kalau tidak sabaran, nanti tidak kukasih cium, lho—"

"Banyak cing-cong, cepat katakan!"

"I-Iya iya, tidak perlu membentak lagi," Hinata terdiam sejenak, "Sebenarnya... serangan yang Naruto-kun lakukan waktu itu hanya tipuan saja."

"Apa maksudmu?"

"Kau pikir, tidak akan ada orang yang selamat setelah terkena serangan andalan dari pedang Excalibur, bukan? Itu memang benar. Bahkan aku sendiri bisa mati karena serangan itu." Hinata tersenyum, "Serangan yang kulakukan tanpa kalian ketahui. Sinar terang ketika Naruto-kun mengayunkan pedangnya waktu itu adalah bagian dari sihirku. Atau... dia membuat wajah menakutkan hingga membuatku pingsan—meskipun aku sempat tidak menyangka kalau aku akan benar-benar pingsan. Dari awal semua ini adalah rencanaku, tahu."

Konohamaru terdiam. Padahal aku sudah sangat berharap tadi, bisiknya dalam hati. Ia pun menghela nafas dan kembali tenang. "Jadi, selama ini kalian hanya akting di depanku?" ucapnya.

"Tentu saja, dia tidak mungkin melukai gadis cantik sepertiku, tahu."

"Percaya diri banget," Konohamaru sweatdrop.

"Ah, aku baru ingat," Hinata tiba-tiba mendekati Konohamaru. Ia sebentar menatapnya dengan serius, sebelum kemudian dengan erat ia peluk Konohamaru. Begitu eratnya pelukan itu hingga membuat Konohamaru sendiri merasa mual.

Ia mencoba untuk mendorong tubuh Hinata beberapa kali namun selalu gagal. Kekuatan gadis ini benar-benar luar biasa, batinnya di sela-sela penderitaan.

Menyadari Konohamaru terlihat tidak kuat dengan apa yang sedang dilakukannya, Hinata pun melepaskan pelukannya. Wajahnya yang polos menatap heran kearah Konohamaru—yang saat ini sedang terkapar di lantai. "Huh, padahal kalau Naruto-kun yang kupeluk mungkin dia akan tampak senang. Ternyata itu tidak berlaku padamu, ya? Sayang sekali," ucapnya.

"'Sayang sekali' dengkulmu! Aku hampir mati, tahu! Kalau kau lebih suka memeluknya, kenapa malah aku yang jadi korban. Lagipula dia senang, mungkin karena dalam posisi seperti tadi bisa bebas mencium oppaimu," protes Konohamaru.

"Heee?! Aku bahkan tidak menyadarinya." Hinata terkejut.

Konohamaru sweatdrop, "Baru sadar rupanya."

Bisa dibilang kalau ini adalah pertama kalinya ia bertemu dengan gadis yang aneh—meskipun gadis di depannya ini bukanlah gadis manusia. Dia terlalu polos dan mudah percaya dengan perkataan orang lain—buktinya tadi. Entah apa yang dipikirkan anikinya itu membawa gadis bangsawan ini, Konohamaru hanya bisa menghela nafas.

"... !+*#%zrrrt*—*!"

Hening. Perasaan apa ini? Konohamaru tampak terdiam. Seperti sengatan listrik saja, perasaan aneh tiba-tiba ia rasakan. Terasa sangat kuat dan menakutkan. Perasaan ini berasal dari luar, tebak Konohamaru dalam hati.

"Hoy, Nee-san," Yang dipanggil nengok, "bisakah kau tetap di sini? Aku akan pergi sebentar," wajah Konohamaru terlihat serius.

"Eh, pergi ke mana?"

"Ke suatu tempat. Mungkin... toilet."

~0o0~

Dimensi Koui, dunia ghaib terbatas yang dibuat secara sengaja oleh seorang penyihir. Luasnya pun hanya 3 sampai 5 kilometer. Keadaan di dunia itu sebenarnya didasarkan oleh kemauan si penyihir sendiri—si pembuatnya; suasana di hutan, tengah laut, atau seperti tempat lainnya. Kebanyakan, seorang penyihir membuat dunia ini untuk kepentingan pribadi—bertarung satu lawan satu atau lebih. Yah, tujuannya mungkin demi meminimalis korban—sekalipun itu seekor semut.

Seorang gadis tampak berdiri dengan diam. Tudung dari jubah putih yang sejak tadi dipakainya perlahan ia buka, sehingga memperlihatkan bagaimana rupa dirinya. Memiliki rambut hitam panjang. Ternyata dia masih anak-anak. Juga terlihat, kedua tangannya memegang sebuah senjata yang terbilang tidak biasa. Senjata sepanjang satu meter, berwarna hitam dan berbentuk seperti sendok makan. Memang aneh, tapi begitulah kenyataannya.

"Bosan bosan bosan bosan bosan bosan... "

Gadis itu berkomat-kamit sambil menundukkan kepalanya. Ia seperti sedang menunggu seseorang. Ia tampak tidak peduli dengan apapun selain itu. Bahkan, sesuatu yang seharusnya membuat perhatiannya teralih, tak ia pedulikan. Topeng, boneka, sepatu, sandal, baju, celana dalam, pot, pintu, kursi, rambut palsu, dan lain sebagainya; semua benda itu terlihat melayang-layang di sekitarnya seakan tak terpengaruh oleh gravitasi. Ya, benar. Sebenarnya gadis ini berada di dunianya sendiri—dunia buatan, Koui versinya. Semua terlihat putih, baik langit ataupun lantainya, hanya ada benda-benda peralatan rumah yang tampak melayang berputar pelan di udara.

Seberkas cahaya hijau mendadak muncul sekitar 5 meter dari tempatnya berdiri. Gadis itu terdiam sejenak. Ia kemudian tersenyum... seperti iblis. Suara percikan listrik pun tiba-tiba terdengar dari senjatanya yang terlihat entah sejak kapan sudah diselimuti oleh cahaya putih yang menyambar-nyambar. Ia lalu membentangkan senjatanya itu ke belakang seakan mau menebas sesuatu saja.

Dan ketika seberkas cahaya hijau tadi membentuk seperti bayangan seseorang, dengan sekuat tenaga ia gerakan kakinya mendekati cahaya itu sambil mengayunkan senjatanya. Tetapi ketika bayangan itu menampakkan jelas wajah seseorang yang sebenarnya, gadis itu cepat-cepat menghentikan tindakannya. Apa yang terjadi? ucapnya dalam hati.

"Yo... jadi kau orang yang mengundangku ke tempat ini?" Seseorang itu menghela nafas, "Ternyata kau masih bocah, perempuan lagi. Hebat juga kau... bisa menggunakan sihir sebanyak ini."

Gadis itu menurunkan senjatanya, lalu menatap datar ke orang itu, "Namaku Haku, komandan dari pasukan F Cross Hunters. Aku diberi perintah untuk membawa kepala pembunuh berpedang Excalibur itu. Lalu... siapa kau?" katanya.

Orang itu tersenyum, "Konohamaru-nii, panggil aku seperti itu," ucapnya dengan wajah sombong.

"Padahal yang kupanggil adalah pembunuh bernama Uzumaki, tapi kenapa malah kau yang muncul?"

Konohamaru terdiam sejenak, "Kau ini bodoh, ya?" ia lalu menggeleng beberapa kali sambil berkecap lidah, "Sepertinya kau memang gadis kecil yang masih perlu bimbingan orang dewasa sepertiku."

"Maaf, aku tidak punya urusan dengan orang sipil sepertimu... onii-chan. Aku akan pergi saja."

Gadis itu berbalik bermaksud meninggalkan Konohamaru. Tapi tidak lama, ia kembali menatap pemuda itu dengan wajahnya yang lebih tajam dari sebelumnya. "Aku tidak ingin melukai orang yang tidak ada hubungannya. Bisakah kau hilangkan sihirmu?" ucapnya.

"Orang yang tidak ada hubungannya, katamu?" Konohamaru tertawa sebentar, "Hey, Gadis kecil, sepertinya kau sangat kekurangan informasi~tidak! kau memang sangat kekurangan informasi. Apa kau tahu sedang berhadapan dengan siapa?"

Haku, gadis itu menatap sekelilingnya. Jika kita bayangkan, bukan peralatan-peralatan rumah lagi yang terlihat melayang di sekitar, namun sesuatu yang lain. Berukuran 5 cm x 2 cm, berwarna putih, dan bergambar bintang 6 titik. Sebuah kertas mantra~tidak! bukan sebuah, tapi beribu-ribu kertas mantra. Semua peralatan rumah yang melayang-layang tadi tampak tergantikan oleh kertas mantra yang berjumlah sangat banyak. Gadis itu berkeringat dingin.

"Akan kuberitahu, ya," Konohamaru menyelipkan satu kertas mantra juga di tangan kanannya, "orang yang kau incar sebenarnya tidak bisa berada di sini. Dia hanya manusia biasa yang ahli pedang, bukan penyihir. Jadi, percuma saja kau menggunakan mana hanya untuk membuat dunia ini."

Gadis itu mengeratkan pegangannya pada senjata berbentuk sendok yang ia bawa, "Kau bukan orang sipil biasa. Siapa kau?" tanyanya.

"Hey, padahal kau sudah mengatakannya tadi." Konohamaru tersenyum licik, "Aku hanya orang yang tidak ada hubungannya, kan?"

"Kau mengambil alih dunia yang kubuat. Sepertinya kau bukan penyihir sembarangan. Apa tujuanmu?" Senjata Haku kembali diselimuti listrik.

"Gadis kecil, bukankah kau yang bilang ingin membawa kepala pembunuh itu. Jika kau benar-benar ingin membawanya... kalahkan aku dulu." Tubuh Konohamaru berangsur-angsur menjadi kertas-kertas mantra yang ikut melayang di udara.

Haku mengamati sekeliling dengan gelisah. Di mana dia? Di mana dia? dalam hati ia begitu cemas. Sambil menebas kanan-kiri dengan senjatanya itu, setetes keringat pun keluar dari pelipisnya.

"Padahal kau ini seorang komandan, kenapa kau tampak sangat tidak tenang hanya karena situasi ini, komandan macam apa kau?" Suara Konohamaru terdengar menggema, tapi wujudnya masih belum terlihat.

Haku menghela nafas panjang berusaha menenangkan dirinya. Sambil mengacungkan senjatanya ke atas, kedua matanya tampak ia tutup perlahan. Mulutnya juga mulai mengucapkan mantra dengan tempo yang sangat cepat. Dan saat itulah, seluruh tubuhnya mendadak diselimuti oleh aliran listrik berwarna merah. Tidak lama kemudian, listrik itu pun merambat ke mana-mana hingga memenuhi lantai yang putih. Satu per satu kertas mantra di udara meledak karena terkena aliran listrik itu.

"Kurasa aku sedikit meremehkanmu, Gadis kecil. Kau memang seorang komandan. Tapi... pada akhirnya di sini kau hanyalah seorang anak kecil yang masih perlu bimbingan." Kata-kata Konohamaru yang terakhir tidak terdengar menggema seperti sebelumnya.

Tersentak karena merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya, Haku segera membuka mata. Listriknya, kertas-kertas mantra itu... di mana? Ia terbelalak. Ia kemudian mengamati sekeliling dan menemukan Konohamaru sedang berdiri di belakangnya. Sejak kapan dia ada di sana? Di mana listrikku? gadis itu kebingungan.

"Yo... sedang buru-buru? Apa ada yang ingin kau sampaikan sebelum pingsan, Gadis kecil?" Konohamaru bersedekap.

Haku tiba-tiba tidak bisa menggerakkan tangan dan kakinya. Ia baru sadar kalau tubuhnya sudah terbungkus oleh banyak kertas mantra. Benda itu menempel seakan tidak mau lepas. Seluruh tubuh Haku terbungkus seperti mumi kecuali bagian kepalanya. Ia beberapa kali berusaha melepaskan diri dengan menggeliat, namun selalu gagal. "Sialan kau!" Ia pun hanya mengumpat ke arah Konohamaru.

"Kau ini, seorang gadis kecil tidak boleh berkata kasar begitu, tahu? Jangan diulangi, okay?"

Setelah itu, seluruh tubuh Haku benar-benar terbungkus oleh kertas-kertas mantra. Tatapan Konohamaru mendadak kembali seperti semula—terlihat bosan. Cukup menyenangkan, gumamnya dalam hati. Ia kemudian menjentikkan jarinya, dan saat itulah dapat kita lihat kalau Konohamaru sudah tidak ada di tempat—dia menghilang seakan terhisap oleh sesuatu semacam lubang hitam yang berukuran titik.

~0o0~

Hinata mengamati seisi ruangan sambil tiduran. Ia tidak begitu mengerti dengan sikap Konohamaru yang sedikit aneh tadi. Apalagi cara bicaranya yang berubah tak kenal tingkat. Padahal maksudnya itu, tapi dia membuat pertanyaan yang lebih dari itu. Naruto-kun, kenapa kau mengizinkan anak itu ikut denganmu, sih? Hinata mendesah dalam hati. Ia sebenarnya merasa agak tidak nyaman dengan Konohamaru. Dilihat dari tatapannya, ia seperti bermaksud membunuh meskipun cara bersikapnya tidak menampakkan begitu. Hinata sempat membaca pikirannya tadi. 'Aku akan menjadi lebih kuat, lalu akan kubunuh kau ketika kesempatan tiba!" kata hati yang Hinata ingat dari pemuda itu. Untuk siapa coba Konohamaru mengecamkan kata-kata itu dalam hati? Hinata khawatir.

Pintu tiba-tiba terbuka, pandangan Hinata teralih. Ia sempat mengira orang asing yang masuk, tapi ketika ia bisa melihatnya dengan jelas, sebuah senyum pun tampak di wajahnya. Berambut kuning dan kedua mata sapphire, ciri khas yang sudah sangat familiar di mata gadis itu.

"Naruto-kun?"

Pemuda itu menatap Hinata dengan wajah bertanya-tanya. Ia lagi-lagi melakukan kebiasaannya itu—mendekatkan wajahnya sangat dekat jika sedang berbicara dengan seorang gadis.

"Siapa kau?" ucapnya.

Bersamaan dengan itu, seseorang juga masuk dari pintu yang sama. Itu Konohamaru. Ia terlihat heran ketika menyadari sesuatu yang tidak biasa sedang terjadi di depannya. Anikinya dan gadis elf itu tengah bertatapan dengan sangat serius sampai-sampai tidak melirik sedikit pun ke arahnya. Apa yang mereka lakukan? Sebuah pertanyaan melayang di kepalanya. Wajah mereka terlalu dekat, jangan-jangan mereka akan... berciuman! Sial, apa yang harus kulakukan? Ini buruk! Konohamaru tampak gelisah.

Tak lama kemudian, Naruto menjauh dari Hinata lalu mojok di sudut ruangan sambil garuk-garuk kepala. Ia menatap dinding. Ia pun mengangguk. Setelah itu, ia kembali menatap Hinata. Wajahnya yang serius tiba-tiba menjadi sumringah. Ia melompat dan berteriak "Hina-nee!" kemudian mendarat di pelukan gadis elf itu.

"Aku merindukan oppaimu," lanjutnya sambil menenggelamkan wajahnya pada dada Hinata.

Sementara Hinata sendiri, ia tertawa, "Naruto-kun ini, bikin khawatir saja," katanya.

Konohamaru menghela nafas. Ia pikir ini akan menjadi adegan untuk umur 18 keatas. Sungguh ia akan pergi jika itu terjadi. Ah, iya, Konohamaru baru ingat.

"Aniki, kau harus menjelaskan semuanya!" Suara Konohamaru terdengar tinggi.

"Jangan sekarang, ah, apa kau tidak lihat aku sedang melakukan hal yang penting,"

"Hal yang penting, dengkulmu! Kau hanya bermain-main dengan dada gadis itu, kaupikir itu penting?" Konohamaru sweatdrop.

"Tenanglah Konohamaru-kun, kau juga boleh ikut, kok," Hinata menawarkan.

"Kau ingin membunuhku lagi, ha?"

"Sudahlah, Konohamaru, kau tidak perlu emosional begitu. Santailah sedikit." Naruto masih berada di pelukan Hinata.

"Kau mengabaikanku, bagaimana bisa aku tidak emosional?!" Konohamaru terengah-engah.

Hinata mendekatinya, lalu dengan pelan ia memeluknya. Kali ini tidak seperti sebelumnya, Hinata memeluk Konohamaru dengan hati-hati sambil mengusap-usap kepala pemuda itu. "Cup... cup... cup," ucapnya. Ia memperlakukan Konohamaru seperti seorang ibu sedang memeluk anaknya saja. Konohamaru sampai terdiam menyadarinya.

"Aaah, mengganggu saja." Naruto mendesah di tempat, "Hina-nee, kau seharusnya tidak memeluknya selembut itu."

"Naruto-kun, sudah kubilang jangan panggil aku 'Hina-nee', Hinata saja. Hanya Sacchi yang boleh memanggilku seperti itu, tahu. Selanjutnya panggil aku 'Hinata', ok?"

"Sacchi? Siapa?" Konohamaru baru mendengarnya.

"Selalu saja dia, bahkan wanita tua itu juga." Naruto mendesah lagi.

"Sacchi, nama panggilan yang kubuat untuk Onii-san Naruto-kun," jawab Hinata.

"Onii-san? K-Kau mempunyainya? Kenapa aku tidak tahu?" Konohamaru terkejut.

"Yah, kupikir itu bukan sesuatu yang perlu kau tahu, jadi aku diam saja," kata Naruto cuek.

"T-Tunggu—hooiiy... kenapa malah menjadi pembicaraan yang lain? Sekarang jelaskan dulu kenapa kalian membodohiku selama ini?" Konohamaru kembali naik darah.

"Hmm... jika kau seingin tahu itu kupikir tidak masalah, sih. Jadi, harus dari mana aku bercerita?" Naruto bersedekap.

Konohamaru menampar dahinya. Ia terdiam sejenak, "Dari ketika kau menggunakan teknik pedang Excalibur," ucapnya.

"Oh, itu, awalnya kukira Hinata benar-benar orang dari Cross Hunters."

Konohamaru maupun Hinata terkejut.

"N-Naruto-kun, apa itu benar? Kau sungguh mengira aku yang cantik ini dari organisasi itu?" Hinata tampak khawatir.

Konohamaru sweatdrop, "—yang cantik ini? Percaya diri banget."

"Habisnya kau menggunakan jubah putih, sih—itukan ciri khas mereka. Jadi bisa dibilang kalau ketakutanku, ketidaktenanganku, dan kegelisahanku waktu itu benar-benar nyata. Aku melawanmu dengan serius."

"Ya ampun, aku mungkin bisa mati waktu itu." Hinata begidik ngeri. Tentu saja, kekuatan Excalibur bukanlah main-main. Pedang suci itu, bukan pedang seperti pedang suci lainnya. Kekuatannya benar-benar tidak bisa dianggap enteng. Kekuatan pedang itu luar biasa. Bahkan bisa membunuh orang-orang dari bangsa dewa sekalipun.

"Tenang, aku sadar itu kau ketika aku mengayunkan pedang. Buktinya sekarang Hina-nee masih hidup."

"Ya ampun, Naruto-kun ini," Hinata mendesah pelan.

"Jadi, apa yang ingin kau tahu lagi, Konohamaru?" tanya Naruto.

Konohamaru terdiam sejenak, "Tidak. Itu sudah menjawab semua keingintahuanku."

"Kalau begitu baguslah, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kubicarakan. Ini tentang harus ke mana kita akan pergi nanti malam." Naruto tiba-tiba melemparkan dua tongkat berukuran 30 cm ke arah Hinata, "Hina-nee, itu senjata suci, gunakanlah kalau kau harus menggunakannya."

"Heee? Apa benar ini senjata suci? Ini terlihat seperti tongkat biasa."

"Di dekat desa ini ada sebuah bukit, kita akan ke sana nanti. Ada sesuatu yang sudah menunggu kita."

"Hey, Aniki, memangnya ke mana kita akan pergi?"

Naruto terdiam sejenak. Ia menatap Konohamaru dengan tajam. "Ke tempat manusia terkuat di dunia."

Konohamaru terpaku. Manusia terkuat di dunia. Ia pernah mendengar rumor dari orang yang memiliki julukan itu. Menyelamatkan ibukota dari hantaman sebuah meteor yang sangat besar—bahkan melebihi luas ibukota, mengalahkan seorang kaisar yang pernah menjadi manusia terkuat di dunia sebelumnya, menghancurkan avatar terkuat yang dimiliki salah satu penyihir bangsawan—klan Tsuchimikado, dan lain yang jika diceritakan satu per satu benar-benar tidak mungkin terjadi. Orang itu seperti selebritis saja di dunia ini.

"Iyaaaah, ke tempat Sacchi. Kudengar dia sudah mempunyai istri dan anak. Aku tidak sabar mau melihatnya." Hinata terlihat girang.

Konohamaru terdiam. H-Hoiy, apa ia tidak salah dengar? S-Sacchi? Bukankah nama itu yang dikatakan Hinata sebelumnya. Sacchi, nama panggilan yang kubuat untuk Onii-san Naruto-kun, suara itu terdengar berkali-kali seakan menggema di pikiran Konohamaru. Ia berkeringat dingin. Ia pun menatap Naruto, namun yang ditatap hanya cuek.

"Apa kau sebegitu terkejut menyadarinya, Konohamaru-kun?" tanya Hinata.

Konohamaru masih terdiam. Dalam hati, ia juga masih belum percaya. Manusia paling kuat adalah julukan yang dimiliki... kakak Naruto. Apa itu benar?

"Konohamaru, dia itu bukan orang semenakjubkan yang kaupikirkan. Dia hanya orang yang semaunya sendiri." Entah sejak kapan, Naruto sudah ada di belakang Hinata.

Yah, kalau dipikir-pikir untuk apa mereka melakukan tipuan lagi? Mereka mengatakan yang sebenarnya. Manusia terkuat di dunia mungkin memang adalah kakak Naruto. Jika membayangkan bagaimana penampilannya, dibandindingkan dengan Naruto bisa saja orang itu lebih baik. Naruto tinggi. Ia juga tampan. Mungkin kakaknya terlihat lebih dewasa. Juga tinggi, lebih tampan, punya tubuh yang bagus, dan cara bicaranya lebih berkharisma. Tidak hentai seperti Naruto.

"Hey, Nee-san, memangnya sejak kapan kau mengenal aniki dan orang yang kau panggil 'Sacchi' itu?" tanya Konohamaru.

"Sejak kapan, yaaaaa?" Hinata terdiam sejenak, "Maaf, aku lupa," ucapnya sambil menjulurkan lidah.

"L-Lupa?" Konohamaru sweatdrop.

"Hoiy, Konohamaru, kau ini dari tadi berisik saja. Diamlah sebentar."

Mata Konohamaru mendadak melotot. Sekarang pandangannya tertuju pada satu arah. Naruto. Apa yang sedang dilakukannya? Bukan, maksudnya kenapa anikinya itu melakukannya? Di saat seperti ini. Di posisi seperti itu lagi. H-Hoiy, Naruto benar-benar sedang melakukannya.

"N-Naruto-kunh, aku memang pernah membolehkanmu memegang oppaihku—kyaaah... tapih kau tidak boleh melakukanh yang seperti inih—nyiaaah... janganh... lakukan lagih—iyaaah... "

"H-Hoiy, Aniki, k-kau... sudah keterlaluan." Konohamaru memegangi hidungnya—berusaha menahan darahnya agar tidak keluar karena apa yang sedang dilihatnya.

"Lihat, pemandangan yang sangat bagus, kan, Konohamaru?"

Naruto semakin menggila. Ia tidak hanya memeluk Hinata. Ia juga semakin asyik meremas-remas oppai gadis itu dari belakang. Matanya menyala merah, senyuman Naruto seperti iblis; ia seakan sedang menikmatinya.

Kedua pipi Hinata memerah, mulutnya membentuk seperti huruf o, suara 'Kyaaah' atau 'Nyiaah' tak henti-hentinya keluar dari mulut gadis itu. Sebuah pertanyaan; apa Hinata juga menikmatinya?

Tak lama kemudian, Hinata tiba-tiba memegang tangan Naruto dengan erat, kemudian dengan sekuat tenaga ia banting tubuh Naruto ke kanan kiri. Lalu ia lempar tubuh pemuda pirang itu ke atas. Selanjutnya ia bentangkan kedua tangannya ke belakang. Setelah itu, ia pukul sekuat mungkin tepat ke seluruh bagian tubuh Naruto; wajah, perut, tangan, dan kaki. Jika kita bayangkan, sekarang tangan Hinata mendadak seakan menjadi banyak, Naruto terus memuntahkan darah karena pukulan yang diterimanya.

Sementara itu, Konohamaru benar-benar shock melihat apa yang sedang terjadi. Matanya terbelalak, mulutnya ternganga. Aura hitam menyelimuti Hinata. Dia seperti iblis, ucap Konohamaru dalam hati. Ia sampai merinding melihatnya. Gadis elf itu sangat menakutkan. Nanti, sebaiknya ia tidak membentak Hinata seperti sebelumnya. Ia bisa mati dihajar oleh kemarahannya.

Dan beginilah akhir chapter kali ini. Dalam perjalanan selanjutnya, mereka memutuskan pergi ke desa kakak Naruto berada.

Assassins, sebenarnya sebuah nama organisasi. Naruto adalah salah satu anggotanya. Tujuan dia harus pergi ke tempat sang kakak adalah keputusan dari ketua organisasi Assassins yang akan menunjukkan anggota baru dari organisasi tersebut. Kalau tidak salah anggota baru itu seorang laki-laki bersenjatakan pedang yang ditemani bersama seorang peri. Tidak hanya Naruto saja yang diundang, semua anggota diminta untuk berkumpul ke tempat tersebut. Jika berbicara kenapa di tempat kakak Naruto bukan di tempat lain, alasannya adalah karena hanya tempat itu yang paling aman di pulau ini.


Chapter 3 Finish


Wanita tua : Panggilan Naruto untuk ibu Hinata—ratu elf.

Avatar : Roh raksasa yang biasanya menjadi partner bertarung bersama penyihir.

Hentai : Mesum (sama dengan Ecci tapi lebih ekstrim Hentai)