Chaptere 3 : Demi Secondlogy of EXO book, pertemuan baru dengan sosok asing.

.

.

.

Chap sebelumnya:

Author POV's

.

.

"Anak itu memang benar-benar tidak berubah, masih keras kepala." sungut Zico sebal, mengingat sikap Rany yang sedari dulu tak pernah hilang dari diri yeoja manis yang harus ia akui kini ia cintai itu.

"Lebih baik kita ikuti apa perkataan Putri Hyun Soo. Berdoa saja jika hal itu takkan terulang lagi Tuan Zico." kata Amber bijak, yeoja tomboy itu menepuk pundak lebar Zico yang duduk disampingnya.

.

"Memang apa yang terjadi dengannya dulu? Apa itu serius?" tanya Suho penasaran diikuti dengan anggukan dari Kris dan Kai yang juga penasaran. Sungguh, menurut mereka Rany atau Hyun Soo adik kecil mereka itu memiliki banyak misteri yang tak mereka tahu.

"Dulu saat Putri berumur sekitar 8 tahun, ia mulai bisa memakai kekuatannya. Saat itu ia berhasil berpindah jiwa pada makhluk bernama Aragon, naga merah milik kerajaan yang saat itu dalam keadaan wujud manusianya. Aragon itu tipikal makhluk yang keras dan tidak suka diusik, namun Putri memaksa dengan melawan jiwa Aragon, dan terjadilah pertarungan diantara mereka ditubuh Aragon. Kami saat itu bingung mengapa Aragon bertingkah seperti mencekik dirinya sendiri bahkan menampar pipinya sendiri, sampai seluruh tubuh itu penuh luka dan mengeluarkan banyak darah yang tanpa kami ketahui itu berdampak pada jiwa Putri sendiri. Karena saat itu Putri berhasil menguasai tubuh Aragon. Kami sudah berusaha untuk menghentikan kelakuan Aragon yang kami anggap sudah mulai gila itu, namun tak ada yang berhasil malahan kami yang terluka." jelas Amber, menceritakan masa lalu seorang Hyun Soo yang kini memakai nama samaran Rany itu pada ketiga namja didepannya. Kai sedikit mengernyitkan dahinya, jika adiknya sampai bisa seperti itu lalu bagaimana dengan Ayah dan Ibunya?

.

"Tunggu! Lalu kemana Appa dan Eomma saat itu?" tanya Kai, Amber tersenyum sedih sambil mengingat kembali kejadian itu.

"Saat itu, Raja dan Ratu tengah berkunjung ke Wonder Planet bersama dengan Putri Nam Young dan Putri Hye Ri. Saya juga bingung, mengapa Putri Hyun Soo tidak diikut sertakan dalam kunjungan Raja saat itu." jawab Amber apa adanya.

"Entah ini hanya perasaanku saja atau bagaimana, Appa terlihat pilih kasih disini. Ia terlihat lebih perhatian dengan Nam Young dan Hye Ri. Seolah melupakan Hyun Soo." kata Suho sambil memijat keningnya yang mulai terasa berdenyut menandakan namja tampan itu mulai pusing.

"Apa sikap Appa seperti itu Amber?" tanya Kris.

"Ne, saya juga berpikiran seperti itu. Hmm, lebih baik kita cukupkan saja pembicaraan kita Putri pasti sedang melihat apa yang kita lakukan sekarang. Yang bisa saya sarankan untuk kalian bertiga terutama anda Pangeran Kai. Turuti apa yang dikatakan Putri Hyun Soo, saya permisi."

.

Semua namja yang ada disana memandang kepergian Amber dengan penuh tanda tanya, apa ini yang membuat adik kami bersikap seperti ini? pikir mereka.

"Istirahatlah, tengah malam kita berkumpul disini."

"Ne!"


© Title: New family ©

.

Author: Rany Pandaa Bbuing-bbuing

.

Main Cast: All couple EXO (official)

Jung Nam Young

Jung Hye Ri

Jung Hyun Soo

and other cast.

.

Support Cast:

EXO couple and Super Junior couple members

.

Pair:

KrisTao, Sulay, Hunhan, ChanBaek, ChenMin and KaiDO

.

Genre:

Romance, Humor, Angst, Teen

.

Disclaimer:

All chara belongs to themselves and god, kecuali Lay gege XD #dihajarSuhogege.

Tapi ini cerita punya saya, ide pun dari saya juga.

.

Summary:

Tengah malam, Rany ditemani Kai menyelinap kerumah mewah Soo Man dan menjalankan rencana mereka. Berhasilkah 2 bersaudara ini?

"Kau yakin kita akan masuk keruangan ini?" "Tentu saja, kajja kita masuk!"

EXO Couple! Yaoi!

.

Warning: GaJe, OOC (maybe).

.

Nb:

Ide membuat fanfic ini berdasarkan dari ide gilaku dengan eomma dan imoku dikelas, membayangkan jika kami adalah alien sakti (?)

Mebayangkan jika kami mempunyai kekuatan seperti EXO oppadeul XD

Jadi mian kalau jelek :(

(Penambahan cast bisa sewaktu-waktu.)

.

Huang Rany Present ^~^


Perpustakaan pribadi Rany, at midnight

Author POV's

.

.

"Apa kau siap Kim Jongin?" tanya Rany pada Kai yang tengah duduk disofa sambil memainkan jari secara random, Rany yang melihat itu menggelengkan kepalanya maklum. Mungkin ini pertama kalinya dia mendapat misi maling kerumah orang, pikir Rany. Ditepuknya pundak namja tan yang juga adalah kakaknya itu.

"Pakai ini, ini adalah alat komunikasi kita. Jika aku menyuruhmu untuk masuk, itu menandakan aku sudah berhasil merasuk ketubuh Lee Joon. Kau paham?" yeoja manis itu memberikan sebuah headset mungil transparan pada oppanya itu. Namja blonde bergaya rambut spike yang ada disana hanya menatap khawatir pada yeoja manis yang sudah sejak lama memikat hatinya itu. Rany yang menyadari jika ada yang menatapnya menghentikan waktu sedetik dan secepat kilat yeoja itu sudah berada disamping Zico si namja blonde yang menatapnya tadi, sekali jentikan jemarinya waktu kembali berjalan.

.

"Tenang saja, aku hanya meminjam tubuhnya sementara. Setelah semua selesai aku dan Kai gege akan kembali kemari." janjinya pada namja pirang itu, namja itu langsung menoleh kearah Rany yang kini berada disampingnya.

"Berhati-hatilah disana, aku dengar pengawasan dirumah itu cukup ketat. Kamera pengintai ada dimana-mana, dan pasti banyak jebakan dirumah itu. Jadi kumohon berhati-hatilah, dan jika memang kau memerlukan bantuan telepatilah denganku atau Amber. Kami akan langsung datang kesana." Rany menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang dikatakan Zico padanya.

"Kapan kalian akan berangkat kesana?" tanya Suho yang duduk dikursi dibar mini yang ada disana. Membuat keempat makhluk yang ada disana menatap Rany kini.

.

"Sebentar."

.

.

.

.

Rany POV's

.

"Sebentar." kupejamkan kedua mataku memfokuskan fikiranku,

kediaman Soo Man. . .

kediaman Soo Man.

Ah itu dia! Kumainkan kedua tanganku dengan lihai, kupusatkan aliran listrik berada difikiranku. Dan akhirnya seluruh CCTV dirumah itu rusak, yah aku barusan merusak sistemnya tanpa perlu menghancurkannya dengan meledakkannya. Kubuka kedua mataku, kulihat ketiga orang tersisa memandangku aneh.

"Apa yang kau lakukan barusan?" tanya Kris penasaran.

"Merusak sistem seluruh CCTV yang ada dirumah itu."

.

Brush~!

.

Aku menatap ilfeel Suho gege yang barusan menyemburkan air yang ia minum kesembarang arah, untung tidak kena aku.

"Me-merusak sistemnya? Bagaimana bisa?" tanya namja yang panggilannya berarti Guardian Angel itu padaku.

"Ra-ha-sia. Kajja Kai ge, waktu kita tak banyak."

"Baik."

.

Aku pun memposisikan diriku duduk diantara Kris ge dan Amber disofa panjang, kupejam kedua mataku dan kembali memfokuskan fikiranku.

.

Dan kemudian kurasakan jika kini jiwa dan tubuhku telah berpisah. Bisa kulihat kini tubuhku terkulai dengan posisi kepalaku yang bersandar pada pundak Kris ge. Ada tiga orang yang bisa melihat jiwaku disaat berpisah dengan tubuhku, Dongwook bojie, Amber dan Zico. Dalam mode jiwa kutatap Amber yang juga menatapku, kutatap dia seolah menyuruhnya untuk mengatakan pada Kai jika aku akan segera merasuk kedalam tubuh Lee Joon.

"Pangeran Kai, anda bisa pergi sekarang. Putri sedang melakukannya sekarang." kata Amber, kulihat Kai oppa menganggukan kepalanya dan sekarang menghilang. Menandakan jika ia telah berteleportasi ketempat tujuan kami, kediaman Lee Soo Man.


Kediaman Lee Soo Man, kamar Lee Joon

.

Inikah kamar Lee Joon? Sesederhanakah kamarnya ini?

Eum, dimana dia. Akh itu dia, syukurlah dia sudah tertidur.

.

Perlahan kudekati tubuh namja yang terlelap itu. Semakin dekat dan dekat. . . . .

.

Syut

.

Kubuka kedua manik mata ini perlahan, kusentuh kedua pipi yang terasa tirus ini. Kutolehkan kepalaku kesamping kiri dimana ada sebuah cermin berukuran cukup besar yang berada disamping lemari pakaian.

"Aku berhasil, hmm. . . Ternyata tak sesulit yang aku kira." ucapku sambil terkekeh pelan, aku beranjak turun dari ranjang queen size yang kini aku tempati.

.

Kuedarkan pandanganku kesekeliling kamar ini, dikamar ini ada 2 CCTV yang berada dipojokan kamar. 1 diatas pintu kamarnya dan 1 lagi ada diruang belajar Lee Joon.

'Aku sudah berada ditubuh Lee Joon, masuklah kedalam kamar dimana ada balkon dengan tanaman bunga matahari yang berada dibalkon itu. Aku menunggumu, Kim Jongin.' kukirim telepatiku tadi ke earphone yang digunakan Kai gege. Kulangkahkan kedua kaki milik Lee Joon ini kearah balkon kamarnya. Dan disana sudah terlihat tubuh tinggi yang dibalut jaket hitam bermodelkan coat. Dia gegeku Kai.

.

.

"Sudah siap?" tanyaku pelan, tubuh itu berbalik menghadapku. "Tentu." jawabnya singkat, akupun menyeringai lebar.

"Ikut aku sekarang, jangan buat keributan dirumah ini barang sekecil suara apapun."

"Ne."

.

Dengan pelan kami berjalan mengendap-endap keluar dari kamar yang kuindikasi adalah kamar Lee Joon, kami menuju kesuatu ruangan yang sangat kuyakini ruangan itu adalah ruangan kerja Lee Soo Man.

"Kau yakin kita akan masuk keruangan ini?" tanya namja tampan berkulit tan itu padaku ragu, kuputar kedua bola mataku malas. "Tentu saja, kajja kita masuk!"

Dengan gerakan tangan kubuka pintu itu tanpa menimbulkan suara ribut, pertama-tama akulah yang masuk terlebih dahulu memastikan jika ruangan itu kosong melompong memastikan jika Soo Man atau penjaga-penjaga yang dia sewa tidak berada didalam sana. Kuberi kode Kai gege dengan gerakan tangan. Ia mengangguk dan kamipun masuk kedalam. Kufokuskan pikiranku dan setika waktu berhenti, aku sudah mengontrol waktu yang berhenti agar hanya aku dan Kai gege sajalah yang bergerak.

"Kau cari dirak sebelah kiri itu dan aku dirak ini. Temukan apapun yang memang dibutuhkan."

"Arraso."

.

.

.

.


2 jam kemudian. . .

.

.

.

.

Kuambil satu persatu buku-buku tebal yang tersusun rapi dirak-rak menjulang yang berada dibelakang meja kerja Soo Man, jika buku itu tidak ada manfaatnya dalam misiku akan kukembalikan ketempat semula. Sampai-sampai aku menemukan buku dengan beberapa lambang aneh, seperti buku pertama yang kumiliki. Namun yang kedua ini agak aneh, beberapa kali kucoba untuk membukanya tapi tidak bisa. "Aish, kenapa tidak bisa dibuka?" gerutuku sendiri sambil berusaha untuk membuka buku itu, tiba-tiba seberkas cahaya muncul dari 4 line yang kebetulan adalah kekuatanku. Time Control, Telepathy, Forst, Ligthning.

"Hari semakin pagi, dan kita sama sekali- eh? Buku apa yang kau pegang?" tanya Kai ge yang tiba-tiba berada dibelakangku. Kutengokkan kepalaku kearah jam dinding kuno yang menggantung didekat pintu masuk ruangan ini, pukul 02:00 KST cukup lama juga kami menggeledah tempat ini. "Aku rasa buku ini yang kita cari, lebih baik kita segera kembali. Bawa buku ini, jangan lakukan hal apapun pada buku ini sebelum aku sadar." kataku sambil menyerahkan buku ini pada namja tampan itu, ia nampak menganggukkan kepalanya.

"Kajja, aku akan membantumu untuk kembali kekamar Lee Joon." ajaknya sambil tersenyum manis padaku, akupun ikut tersenyum entah karena apa.

"Gomawo Kai ge, tapi itu akan membuang waktu. Lebih baik sekarang gege kembali." tolakku halus, ia hendak protes. "Tidak usah khawatir, tidak kurang dari 5 menit aku sudah akan kembali. Percayalah padaku." ucapku lagi sambil menatap dalam manik mata coklat gelap milik Kai ge. "Baiklah, aku percaya padamu. Berhati-hatilah." dan akhirnya ia pu menurutiku dan kembali ketempat kami tinggal sekarang dengan membawa buku yang menurutku adalah buku kedua yang kami cari.

.

Kini aku memejamkan kedua manik mataku dan memusatkan pikiranku, dan melihat keadaan diluar ruangan ini. Sepi dan masih seperti tadi, lebih baik aku segera memisahkan jiwaku dengan tubuh Lee Joon.


Kamar Lee Joon

.

Setelah berhasil memisahkan jiwaku dan tubuh namja ini, dan kini aku tengah berusaha mencuci otaknya agar ia tak mengingat apapun semua kejadian disaat aku menyatu dengannya.

'Kau dimana? Cepatlah ini hampir pagi.' sebuah pesan telepati kuterima, tanpa membutuhkan waktu lama proses pencucian otak Lee Joon selesai. Kutatap jendela kamar Lee Joon menatap kearah ufuk timur dimana berkas-berkas cahaya sang surya nampak mulai menggoreskan tinta keemasannya pada langit pagi.

Dan dengan kekuatan Teleportasiku yang tak diketahui oleh saudara-saudaraku, aku kembali ketempat kami tinggal.


Kukedipkan beberapa kali kedua manik mataku, membiasakan cahaya lampu yang mulai berebut masuk kedalam retina mataku. Kutegakkan tubuhku yang terasa kaku, memijat pelan keningku yang terasa berdenyut. Kenapa setiap kali aku kembali ketubuhku kenapa kepala ini selalu pusing sih. Merepotkan saja.

.

"Dimana Kai gege?" tanyaku, kurasakan sebuah jemari lentik mengusap rambutku pelan. Kutenggokkan kepalaku kearah kananku dimana Amber nampak mengusap surai-surai keemasanku dengan sayang. Sesekali mengusap peluh yang menghiasi wajahku.

"Dia kembali kekamarnya, ia bilang ia mengantuk. Tapi sebelum kembali kekamar ia memberikan buku ini padaku. Bisa kau jelaskan apa maksud dari buku ini?" tanya Suho ge sambil memperlihatkan buku kuno yang kutemukan tadi. Kuambil buku itu dari tangan Suho ge, kutatap buku kuno ini dengan pandangan aneh. Entah mengapa aku merasa buku ini tersegelkan akan suatu sandi atau semacam elemen.

"Aku bingung bagaimana menjelaskannya, lebih baik kalian istirahat atau lebih baik kalian persiapkan keperluan untuk sekolah hari ini." ucapku. "Sementara ini buku ini aku yang bawa. Jangan beritahukan dulu pada yang lain, aku belum bisa memastikan apakah buku ini yang kita cari itu." sambungku lagi.

"Baiklah, aku juga akan bersiap. Lagi pula masih banyak waktu. Kau juga istirahatlah sebentar Hyunsoo-ah." Kris ge menepuk pundakku pelan, yah sebenarnya sih aku agak lelah. Butuh energi yang cukup banyak untuk melakukan pemisahan jiwa dan juga penyatuan jiwa. Apalagi tadi aku juga melakukan cuci otak pada Lee Joon. Aku ingin mengistirahatkan tubuhku sekaligus memulihkan energiku yang cukup banyak terkuras. Namun aku tidak bisa, 3 jam lagi kami semua harus berangkat sekolah. Bagaimana pun juga jarak rumah ini dengan sekolah cukup memakan banyak waktu. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai. Itu pun jika tidak ada hambatan.

"Aku tidak bisa gege, masih banyak hal yang harus kukerjakan. Tapi, akan kucoba saranmu, aku kekamarku dulu." pamitku, tanpa menunggu jawaban mereka aku segera pergi dari perpustakaan mini itu dan beranjak kekamarku sendiri.

.

.

.

.

Author POV's

.

Cklek. . .

.

"Apa kau yakin dia baik-baik saja Amber-ssi?" tanya Kris tanpa mengalihkan pandangannya pada pintu ruangan yang kini tengah ia singgahi dengan Suho, Amber dan Zico. Amber hanya tersenyum kecil, entah apa maksud dari yeoja tomboy itu.

"Saya tidak tahu Pangeran Kris, tapi setidaknya coba percaya bahwa Putri Hyunsoo baik-baik saja. Itu menurut saya Pangeran." jawab Amber, yeoja itu mengalihkan pandangannya pada jam dinding yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Pukul 03:00 AM KST. Sudah seharusnya jam segini orang-orang masih bergelung dibawah selimut hangat, termasuk juga 2 orang namja tampan didepannya ini. "Sebaiknya Pangeran Kris dan Pangeran Suho kembali tidur saja, saya yakin anda berdua pasti lelah." sarannya.

"Lalu kau sendiri? Dan Zico hyung?" tanya Suho pada Amber dan Zico. "Kamii masih harus mengurus Putri Hyunsoo, saya permisi. Ayo Tuan Zico." pamit yeoja tomboy itu pada Kris dan Suho dan menggeret Zico yang nampak ogah-ogahan, kedua namja itu menganggukkan kepala mereka sebagai jawaban. Lalu keduanya pun ikut beranjak keluar dari ruangan penuh buku itu menuju kekamar mereka masing-masing.


Ruang makan

.

"Kemana Hyunnie? Ini sudah hampir 06:30 AM, apa dia tidak sarapan?" tanya Tao bingung begitu kedua manik mata pandanya tidak melihat sosok adik kecilnya.

"Oh, Hyun Soo? Aku tadi melihatnya sudah pergi bersama dengan Amber nuna dan Zico hyung sekitar pukul 05:00 AM KST." jawab Baekhyun sambil menyendokkan sesendok nasi goreng kemulutnya. Namyoung mengerutkan dahinya bingung, tumben sekali adiknya itu pergi sepagi itu. Karena biasanya adik kecilnya itu akan keluar dari kamar tepat pukul 06:00 AM. Tiba-tiba yeoja berkacamata dan jangan lupakan kunciran rambutnya menolehkan kepalanya kearah Kai yang tengah rakus memakan atau menggigiti ayam goreng kesukaannya.

"Kai oppa?" panggil Namyoung berharap Kai menolehkan kepalanya kearah namja tampan berkulit cukup gelap dibanding saudara-saudaranya yang lain.

"Ne? Ada apa Young?" tanya Kai sambil mengunyah makanannya, beberapa remahan dari kulit ayam goreng pun ada yang berceceran disekitar area bibir Kai membuat Namyoung yang melihatnya menatap aneh pada namja tampan itu. Bagaimana bisa seorang Seme bertingkah seperti anak kecil? Bahkan kini Kyungsoo tengah mengelap serpihan itu.

"Bukankah semalam kalian menyusup kerumahnya Soo Man itu? Apa yang kalian dapat?" Nam Young menatap penasaran pada Kai, namja tampan itu pun membenahi posisi duduknya. Dan mulai menjawab pertanyaan Nam Young, nampak semuanya yang ada disana ikut serius.

"Kami berdua menemukan sebuah buku, yah bisa dibilang Hyun Soo lah yang menemukannya. Aku sempat melihat sekilas buku itu, buku yang terlihat sangat kuno dan ada beberapa simbol sama seperti simbol kekuatan kita dan aku juga sempat melihat ada cahaya yang muncul saat jari-jari Hyun Soo tak sengaja mengusap simbol elemen milik Xiumin hyung, Luhan hyung, Chen hyung dan Tao hyung." jelas Kai.

.

Seorang namja tampan berumur mendekati 14 cucunya itu, menepuk pelan pundak Suho. "Sekarang sudah 06:30, apa kalian masih mau disini?" tanya namja tersebut.

Suho pun menolehkan kepalanya diikuti saudara-saudaranya yang lain, menatap kaget pada Dongwook yang tersenyum berwibawa pada mereka. "Kami menunggu Hyun Soo, Amber nuna dan Zico hyung, Abojie." jawabnya.

"Lebih baik kalian segera berangkat, tak perlu menunggu mereka. Aku yakin mereka sudah berangkat terlebih dahulu." kata Dongwook masih dengan senyuman wibawanya yang begitu berkharisma.

"Tapi-"

"Apa yang dikatakan Dongwook abojie benar Suho-ah. Hyunsoo, Amber dan Zico memang sudah berangkat, bahkan kini ketiganya sudah berada disekolah." sebelum Suho sempat mengeluarkan suaranya untuk ngotot menolak apa yang baru saja dikatakan Dongwook, Luhan menyelanya setelah namja manis itu mendapat pesan melalui telepati dari Hyunsoo yang ternyata memang telah berada disekolah. Tentunya bersama dengan Amber dan Zico disana.

"Hah~ Baiklah kami berangkat dulu Abojie." pamit Kris, namja tampan itu bangkit dari kursinya dengan tangan kirinya yang menggenggam tangan kanan Tao lembut. Semua yang ada disana pun mengikuti apa yang dilakukan oleh Kris. Lalu semuanya pun membungkukkan badan mereka sebagai tanda mereka pamit. Dan mereka pun berangkat kesekolah dengan mobil-mobil yang sudah terparkir dihalaman rumah yang kini mereka tinggali.

.

Setelah memastikan semua cucunya itu berangkat Dongwook nampak duduk termenung diruang makan mewah itu, entah apa yang dipikirkan namja tampan itu. "Apa benar Minnie yang membuat Hyunnie terluka waktu itu? Tapi sepertinya itu mustahil, bukankah Minnie sangat menyayangi Hyunnie?"

"Maafkan aku Sichi~" Dongwook terkaget, bukan karena ada suara tiba-tiba dibelakangnya yah walau itu juga yang menyebabkan ia kaget. Tapi panggilan itu, Sichi. Hanya seorang Jung Changmin yang boleh memanggilnya dengan nama panggilan itu. Apa suara itu. . .

.

Grep

.

"Yah ini aku Sichi, ini aku~" sebuah pelukan hangat kini terasa dilehernya, harum tubuh seseorang yang begitu ia rindukan, dengan cepat namja tampan itu membalikkan tubuhnya. Menatap dalam manik mata namja manis dengan tinggi yang hampir sepadan dengannya, membuat si namja manis itu menundukkan kepalanya terlihat pula semburat pink menghiasi pipinya yang nampak chubby itu. Dongwook berdiri, membuat lengan yang memeluk lehernya kini terlepas. Namja tampan itu mendekatkan wajah tampan nan maskulinnya ke wajah namja manis yang kini tengah merona hebat itu.

.

Chu~

.

Sepasang benda kenyal itu nampak saling menempel, yah hanya menempel. Keduanya memejamkan kedua kelopak mata mereka, seakan meresapi kelembutan bibir satu sama lain. Namun perlahan, keduanya nampak saling melumat bibir dengan lembut, menyalurkan rasa rindu yang selama in membuncah dada keduanya. Namja manis itu mengistirahatkan kedua lengannya dileher jenjang Dongwook, sedikit memajukan tubuhnya yang kini direngkuh posesif oleh Dongwook membuat keduanya terlihat intim kini. Sedangkan Dongwook, namja tampan itu menaruhkan kedua lengannya tepat dipinggang ramping namja manis itu. Seolah, jika itu tak ia lakukan namja manis itu akan pergi lagi darinya. Hell no! Ia takkan membiarkannya, takkan membiarkan itu terjadi. Ciuman melepas rindu itu terpisah kala namja manis itu memberontak dalam pelukannya. Seakan memberi isyarat pada Dongwook untuk menghentikan ciuman itu atau ia akan mati kehabisan nafas. Dengan tak rela namja tampan itu pun melepaskan tautan bibirnya dengan bibir sang namja manis dihadapannya. Nampak si namja manis itu berusaha meraup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-parunya yang tadi sempat terasa kosong.

.

"Minnie~" jemari-jemarinya yang kekar nampak mengusap saliva yang menempel dipipi chubby namja manis dihadapannya.

"Sichi~" kedua manik mata itu menatapnya dalam penuh rasa kerinduan, dengan sekali terjang. Sebuah pelukan mendarat, hh biarkan keduanya melepas rindu oke? :)


At Seoul Internasional High School

I-A

.

"Hh~" yeoja manis dengan name tag Rany Wu itu nampak menghela nafas frustasi, sesekali jari-jarinya mengacak frustasi surai pirang pendeknya yang awalnya sudah berantakan menjadi semakin berantakan. Beruntung kelas masih cukup sepi yah karena memang masih terlalu pagi anak-anak sekolah sudah berada disekolah yang masih sepi ini. Kecuali anak itu kerajinan.

"Rany, berhentilah mengacak rambutmu seperti itu. Kau seperti orang gila asal kau tau." tukas Zico asal, namja tampan itu duduk dengan posisi terbalik hanya saja kursinya masih tetap pada tempatnya (hanya tubuhnya yang menghadap kebelakang kearah Rany). Menatap heran pada yeoja manis dihadapannya itu. "Apa yang sebenarnya kau pikirkan?" tanya namja tampan itu.

"Hh~ Aku merasakan ada hal yang aneh sewaktu aku dan Kai ge menyusup kerumah itu." jawab yeoja itu ambigu, membuat Zico mengerutkan dahinya bingung. "Maksudmu?" Zico mengambil posisi nyaman untuk menyimak penjelasan (atau jika yeoja didepan ini mau menjelaskan hal aneh menurut yeoja itu padanya)

"Sewaktu aku dan Kai ge berpencar untuk mencari buku ini, aku menghentikan waktu agar hanya aku dan Kai ge yang bisa bergerak tepat tengah malam itu. Tapi setelah aku mendapatkan buku ini, jam diruangan itu menunjukkan pukul 2:00 AM. Bukankah itu aneh? Aku masih ingat betul kalau aku memasuki ruangan itu tepat tengah malam." jelas Rany, dan kembali jemari-jemari itu mengusak kasar surai pirangnya.

"Apa mungkin kau dengan tidak sadar kembali menjalankan waktu?" Zico beranggapan lain yang membuat yeoja manis itu mendelikkan kedua manik matanya yang cukup bulat itu kearah Zico.

"Tapi aku ingat banget Zico ngondek! Aku sudah benar-benar menguncinya kedalam mode stop for time." ngotot Rany yang tak mau dianggap ceroboh oleh Zico.

"Jadi, apa Putri berpikiran jika ada seseorang yang membuka mode dari stop for time menjadi play for time?" suara bass Amber terdengar menyahuti, terbukti dengan sosok yeoja tampan dengan tubuh yang tinggi dengan seragam namjanya memasuki kelas itu sambil membawa beberapa kantong plastik. Sepertinya ia baru saja kembali dari minimarket sekolah dan kantin.

"Aku kurang yakin, tapi bisa juga." ucap Rany sambil mengelus dagunya, nampak memikirkan perkataan Amber barusan. Bahkan ia sampai tak sadar jika bodyguard pribadinya itu telah duduk disampingnya.

"Astaga! Putri, surai rambut anda!" pekik Amber kaget, pasalnya surai pirang Rany perlahan berubah menjadi hitam kelam. Menandakan jika energi didalam tubuh Rany mulai menipis. Tak lama kemudian wajah manis itu mulai berkeringat dingin dan nafasnya nampak sedikit tersengal. Ini benar-benar saat yang tidak tepat!

"Ya! Amber berikan dia air minum cepat!" Zico nampak kalang kabut dengan cepat ia segera beranjak dari posisi duduknya dan menghampiri Rany. Dan dengan gerakan cepat pula Amber mengobrak-abrik plastik yang barusan ia bawa. Setelah berhasil mendapatkan sebotol air minum dan memasukkan sedotan kedalamnya agar Rany mudah meminumnya, Amber memberikan botol itu pada Zico yang kini tengah menahan tubuh Rany agar yeoja manis itu tidak ambruk. Dengan pelan Zico mendekatkan ujung sedotan itu kearah bibir mungil Rany, Rany yang masih setengah sadar mengerti akan maksud Zico , meraup ujung sedotan itu kedalam mulutnya dan perlahan mulai meminum air yang ada didalam botol itu.

.

Amber juga mengambil sebuah roti yang mungkin cukup membuat Putri terkecil EXO Planet itu tidak lemas seperti tadi, setidaknya bisa menggantikan energi Rany yang habis. "Putri, makanlah ini." ucap Amber seraya menyuapi sobekan roti kemulut Rany, Rany yang masih lemas pun hanya bisa menerima suapan itu. "Amber-ah, ambilkan jaketku surai rambutnya belum kembali seperti semula." titah Zico yang kini menggantikan tugas Amber, yeoja tampan itu dengan cepat mengambil jaket hoddie milik Zico yang berada didalam tas namja tampan itu dimana tas itu berada tepat dibelakang tubuhnya. Setelah memakaikan jaket itu ketubuh Rany dan memakaikan tudung hoddie untuk menutupi surai Rany yang masih berwarna hitam.

.

"Hei, apa yang- Astaga! Ada apa dengan Rany?!" keduanya terkejut akibat pekikan nyaring dari arah pintu, keduanya mengalihkan atau hanya Amberlah yang mengalihkan pandangannya. Kini didepan kelas I-A itu, Kris dan Tao berdiri menjulang disana memandang kaget kearah sang adik yang berada didekapan Zico yang masih menerima suapan dari namja pirang platina itu. Tak perlu menunggu waktu lama keduanya menghampiri Zico, Rany dan Amber. "Apa yang terjadi padanya? Semalam ia tak seperti ini." tanya Kris, namja itu kini mengambil alih Rany dari Zico, memangku sang adik yang terbalut oleh jaket hoddie. Kris bisa merasakan jika tubuh adiknya itu gemetar hebat. Tao yang berada disampingnya berusaha melepaskan hoddie yang menutupi surai rambut Rany, untuk mengusap peluh adik terakhirnya itu. "Jangan dilepas!"

.

Namun terlambat untuk Zico berucap, tudung hoddie itu terlepas dan nampaklah wajah Rany yang semakin memucat , keringat membanjiri wajahnya dan surai rambutnya yang berwarna hitam legam hampir menyamai milik Tao. "Kemana blonde hairnya? Kenapa sekarang menjadi hitam seperti ini?" tanya Kris lagi. Zico dan Amber saling bertatapan, bingung siapa yang harus menjelaskannya. "Apa energinya habis~?" tanya Tao kali ini, namja manis itu mengusap peluh yang berada diwajah dan leher Rany. 'Ini keringat dingin.' batin Tao.

"Yah sepertinya memang seperti itu, biasanya dengan minum air dan makan roti saja energinya sudah bisa kembali seperti semula. Tapi Putri malah semakin parah, apa kita harus membawanya pulang?" saran Amber, ia takut jika sampai nanti ini kondisi Putri EXO planet itu akan seperti ini terus. "Lebih baik kita bawa dia pulang saja, mungkin Yang Mulia Dongwook bisa membuat keadaan Rany jauh lebih baik." kali ini Zico bersuara.

"Zico, bisa kau izinkan aku, Rany dan Amber? Aku dan Amber yang akan mengurusnya setelah ini." pinta Kris, Tao yang mendengarnya merengut sebal. "Kenapa Tao tidak diizinkan juga gege?" tanya Tao sambil mengerucutkan kittie lipsnya, protes dengan keputusan Kris barusan.

"Baby Panda~ Kau harus sekolah baby~" kata Kris memberi pengertian pada baby pandanya itu, Tao menggembungkan pipinya kesal. Tidak puas dengan jawaban gege sekaligus namjachingunya itu.

"Kalau gege tidak masuk, Tao juga gak masuk." rajuk Tao, terkesan sekali jika namja manis itu menginginkan apa yang ia mau harus dituruti. Kris menghela nafas pasrah, susah membujuk baby pandanya itu. Dengan terpaksa iapun mengiyakan kemauan Tao. Tao yang tau jika keinginannya terpenuhi tersenyum manis. Namja manis itu membenarkan tudung hoddie yang dikenakan Rany sehingga surai hitam kelam Rany tertutupi kembali. Zico yang mendapat sinyal dari Kris menganggukkan kepalanya. Kris bangkit dari posisinya dengan Rany yang berada digendongannya, koala hug. Tao membawakan tas adik manisnya itu dan juga miliknya sendiri, sedangkan Amber ia membawa keperluannya dan tak lupa buku kuno itu ia bawa. "Buku ini akan saya bawa, mohon bantuannya Tuan Zico."

.

Zico menganggukkan kepalanya, "Arra,kita harus pergi ketempat Guru Piket setelah itu kalian bisa membawanya pulang secepat yang kita bisa. Aku akan memberitahu yang lain setelah ini."

Dan kelima remaja itupun segera menuju meja piket dimana tempat itu berada tak cukup jauh dari kelas I-A itu.


Jung Mansion

.

"Kami pulang!" Dongwook dan Changmin, dikagetkan dengan empat sosok yang berlari memasuki rumah. Kedua namja itu menatap heran pada keempat remaja itu. Terlebih dengan satu sosok yang berada digendongan Kris.

"Kalian pulang cepat? Lalu siapa yang kau gendong Kris?" tanya Dongwook.

"Maafkan jika saya yang menjawab Pangeran Kris. Yang Mulia Dongwook, yang berada digendongan Pangeran Kris adalah Yang Mulia Putri Hyunsoo, kini kondisi Putri melemah lagi. Energinya mulai menipis, cara itu sudah dilakukan tapi tidak membuahkan hasil sama sekali." jelas Amber setelah ia menyela Kris.

"Aku bisa membantu Sichi, bawa dia kekamarmu ne?" sosok namja manis lain yang sedaritadi berdiri diam disamping Dongwook membuka suara tenornya, membuat Kris, Tao dan Amber mengalihkan pandangan mereka ke arah namja manis itu. "A-anda?"

"Nona Liu bisa kau carikan aku kepingan biji teratai beku milik Hyunsoo yang ia simpan dikamarnya?" Changmin tersenyum manis kearah yeoja tampan yang masih ternganga dihadapannya. "Boleh Tao saja yang ambil?" tanya Tao dengan nada imutnya, Changmin pun menganggukkan kepalanya tanda setuju.

.

.

.

(Skip Time)

Dongwook Room's

.

"Kita hanya perlu menunggu selama beberapa jam lagi, tindakan ini hanya untuk antisipasi kedua. Jika memang tidak bisa, kita memang benar-benar harus membawanya ketempat itu." jelas Changmin, namja manis itu kini mengelus surai hitam kelam milik cucu terakhirnya. Kris dan Tao yang mendengarkan penjelasan Changmin sang nenek , mengernyitkan dahi mereka bingung. "Maksud Monnie apa sih? Tempat itu?" tanya Tao dengan nada polosnya, membuat Dongwook dan Changmin tertawa kecil. 'Aigoo, cucu kita ini sangatlah polos', pikir keduanya.

"Tempat dimana cahaya bulan bisa terlihat terang karena tempat itu disinari penuh oleh cahaya bulan, dengan begitu penyerapan energinya akan bagus." jelas Changmin sembari tersenyum manis.

"Lalu tempatnya dimana? Apa jauh dari sini?" tanya Kris. Ia, Tao dan Amber kini duduk diatas karpet bulu yang berada dilantai kamar Dongwook.

"Tempatnya lumayan jauh sebenarnya, tapi akan terasa cepat jika menggunakan kekuatan lari vampire. Karena memang vampire memiliki kemampuan lari yang sangat cepat walau itu tidak secepat cahaya, setidaknya tidak memakan waktu lama. Ada apa memang?" Dongwook menatap heran kearah Kris, sesekali jemari kekarnya mengusap peluh didahi Hyunsoo yang kini terbaring tak sadarkan diri diatas ranjang miliknya. "Berarti hanya Bojie dan Zico yang akan membawa Hyunsoo ketempat itu? Tidak, hanya ingin tahu saja." jawab Kris singkat.

"Tentu tidak, akan ada Amber yang ikut bersama kami."

.

"Ah ne, ngomong-ngomong kalian bertiga tidak kembali kesekolah? Inikan masih jam sekolah." Changmin masih mengelus surai hitam Hyunsoo dengan sayang, terlihat sekali aura keibuan di diri namja manis itu. "Ne monnie~ Soalnya tadikan Tao, Kris ge dan Amber nuna mengantar Hyunnie pulang. Kami sudah minta ijin juga kok~" jelas Tao sambil memainkan jari-jari Kris yang gini menggenggam lembut jemarinya. "Oh begitu." sahut Changmin paham.

"Apa Hyunsoo tidak akan sadar sebelum energinya terisi? Kalau menurutku seharusnya ia sudah sadar daritadi, yah walau dalam keadaan lemas. Apa memang seperti itu Abojie? Monnie?" tanya Kris lagi.

"Kalau dilihat dari kondisinya ini, kemungkinan ia sadar kecil. Kalau Abojie perkirakan tenaga yang kini tersisa didalam tubuhnya hanyalah 15%, karena bagi seorang vampire tenaga 60% itu adalah tenaga terendah seorang vampire seperti Abojie ini untuk bisa tetap sadar. Lagipula, malam masih lama. Lebih baik kalian istirahat, terutama kau Nona Liu. Aku tahu selama aku tak ada kaulah yang selalu menemani dan menjaganya. Kuharap kau menyanggupi permintaanku ini." pinta Dongwook sambil tersenyum, namja tampan itu sudah tahu semua tentang cucu-cucunya ini selama ia pergi atau bisa dibilang menghilang.

"Dengan senang hati, saya akan lakukan untuk anda Yang Mulia." dengan patuh Amber mematuhi permintaan Dongwook seraya menundukkan kepalanya, bagi Dongwook, Amber adalah salah satu orang kepercayaannya dan tentulah ia yang memilih yeoja tampan itu sendiri untuk menjadi pengawal pribadi sang cucu terakhirnya itu.

"Kalau begitu saya permisi Yang Mulia Dongwook, Yang Mulia Changmin." Amber bangkit dari posisi duduknya, membungkuk terlebih dahulu dan kemudian berpamitan pergi pada kedua namja penguasa EXO Planet itu. Setelah melihat anggukan dari Dongwook dan senyuman manis dari Changmin yang menandakan ia diperbolehkan untuk meninggalkan kamar itu, Amber pun berbalik dan keluar dari kamar tersebut. Mengistirahatkan tubuhnya sementara ini.

.

Cklek. . .

.

Blam.

.

"Loh? Kalian tidak mau istirahat juga? Monnie yakin kalian pasti juga capek kan? Sudah istirahatlah." kata Changmin, setelah sebelumnya dikagetkan akan Kris dan Tao yang belum beranjak dari posisinya. Menyuruh keduanya untuk istirahat.

"Baiklah, Bojie Monnie. Aku dan Tao kekamar kami dulu. Annyeong." dan tanpa diduga Kris berdiri sambil menggendong Tao yang telah bergelayut dipunggungnya. Dongwook dan Changmin yang melihat itu tersenyum, mungkin keduanya tahu jika cucu mereka ini memiliki hubungan yang lebih dari sekedar kakak-adik itu. Kris menundukkan kepalanya sebagai salam untuk kakek neneknya, sedangkan Tao yang berada digendongan Kris memberikan senyuman lucunya pada kakek neneknya itu.


Kantin Seoul Internasional High School, jam istirahat

.

"Kemana Kris hyung, Tao, Amber dan Rany? Kok mereka tidak ada? Atau mereka belum datang?" bingung Chanyeol begitu kedua manik mata bulatnya itu tidak melihat keempat sosok yang ia kenal. Zico yang baru saja datang bersama Lee Joon langsung menghampiri ke-12 makhluk EXO planet yang tengah duduk rapi dikursi kantin.

"Mereka tadi kembali kerumah, ada masalah yah masalah." Zico menjawab dengan nada sesantai mungkin, takut jika dia kelepasan bicara anak-anak lain bisa tahu siapa Rany atau mungkin mereka ini. Mereka kan sedang ditempat umum.

"Kau yakin Zico-ssi?" tanya Luhan, namja manis itu sedikit curiga dengan Zico. Namja manis itu sedikit ragu akan jawaban Zico barusan, dan sepertinya namja tampan berdarah vampire itu lupa jika Luhan sama saja dengan Rany; sama-sama bisa membaca pikiran orang.

"Kau berbohong Zico-ssi, sudah katakanlah yang sejujurnya." Luhan menatapnya dengan tatapan memerintah, dan akhirnya Zico pun bercerita.

.

"Energi dalam tubuhnya habis, Kris dan Tao membawanya pulang bersama Amber tadi sebelum bel masuk berbunyi. Aku bingung, karena tidak seperti biasanya yeoja galak itu kehabisan energi." kata Zico sembari mengusap dagunya. Tiba-tiba, Kai menjetikkan jemarinya. "Apa mungkin ini semua ada hubungannya dengan kejadian semalam? Aku juga bingung sebenarnya terutama saat kami berada di-"

.

Bletak

.

"Ya! Oh Sehun! Kenapa kau memukulku?!" marah Kai yang mengetahui jika pelaku pengeplak kepalanya adalah Sehun, si cadel-panggil Kai untuk namja tampan yang kini merubah surainya menjadi lolipop hair.

"Kau ini sadar tempat tidak sih?! Ini bukan dirumah Kkamjong item!" Sehun balas mengejek Kai dengan panggilan Kkamjong, sudah berarti hitam ditambahlah item oleh si Sehun. Lengkap sudah.

"Hei, sudahlah. Kita disini itu bukan untuk menonton kegiatan idiot kalian. Lebih baik kita lanjutkan ini dirumah saja. Oh ne Lee Joon-ssi maaf jika kau malah melihat adegan idiot kedua orang ini, mereka memang sering kumat seperti ini." Zico hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak menyangka jika makhluk-makhluk EXO Planet ini memang agak gila. Walaupun lebih gila si putri kecil galak EXO Planet itu.

"Ah, gwenchana Chanyeol-ssi. Tidak masalah~" Lee Joon memberikan senyuman manisnya tanda ia tidak mempermasalahkan dengan apa yang baru saja terjadi dihadapannya. "Joon-ah~! Nanti aku sebangku denganmu ne? Kau tau sendiri kan." Zico memandang Lee Joon dengan tatapan memohon, dengan balasan anggukan dari namja berkaca mata tersebut.

.

Bom Shakalaka~! Hei! Bom Shakalaka~!

.

"Jja, bel udah bunyi. Kami berdua pamit dulu ne? Ppai~" dengan cepat Zico menarik lengan Lee Joon dan membuat namja tampan itu berdiri, tak membuang waktu lama (dan dengan kekuatan godzillanya) Zico segera menarik Lee Joon agar mengikutinya. Menuju kelas mereka. Sedangkan 14 orang yang masih tertinggal dikantin, saling berpandangan. "Sepertinya ada yang disembunyikan Zico/oppa/hyung/orang aneh itu."

.

.

.

.

.

.

Kelas IIA

.

"Apa yang sebenarnya mereka sembunyikan dari kami? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Namyoung pada dirinya sendiri, kini ia sudah duduk dibangkunya, menunggu songsaenim masuk kekelas. Jujur yeoja itu bingung, dengan apa yang terjadi sekarang dan adiknya, Hyunsoo. Baiklah, ia mengakui bahwa ia tidak terlalu tahu bagaimana kepribadian Hyunsoo yang sebenarnya seperti apa. Adiknya itu terlalu menutup diri, ia tak pernah mau berbagi pada siapapun. Yah, pengecualian untuk kakek, nenek dan Amber.

Tunggu. . .

.

Ya! Ia bisa bertanya pada sang kakek! Bukankah kakeknya itu sangatlah dekat dengan adiknya!?

Bagus, ia akan bertanya pada sang kakek.

.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continue

.

Akhirnya update juga fanfic ini :D

Hehehe mian updatenya lama sekali~! terlalu sibuk direal saya L

sekali lagi maaf ya?

Review juseyo!^^