Disclaimer : Shingeki no Kyojin © Hajime Isayama

Warning : PWP, Lime, Lemon, Underage Sex, Pedophilia, writting errors. Kalimatnya vulgar nan frontal, seriusan.


3 | Discipline

"Selamat datang, Armin."

Armin heran.

Sangat.

Sejak melihat Hanji menjemputnya di depan gerbang sekolah dan menurunkannya di rumah Erwin tetapi tetap membawa Eren pulang, kemudian Armin masuk ke rumah Erwin yang gerbangnya tak terkunci dan tidak ada tanda-tanda Sebastian –pelayan Erwin yang tengah ambil cuti karena sang Istri hendak melahirkan– di sana, hingga kini seorang yang sangat dikenalnya tengah duduk di meja makan dengan segelas susu cokelat di tangan. Buku tebal dengan gambar lukisan kubis pada halaman sebelah kiri terbuka di atas meja. Gadis itu menoleh dan melihatnya.

"Mikasa? Bagaimana kau–"

"Hanji-san menyuruhku menunggu di sini. Maaf aku mempersilakan diriku masuk."

"Hah? Oh. Eh, iya." Armin menarik kursi di hadapan Mikasa dan duduk di atasnya. Diperhatikannya gadis itu dengan seksama.

Apa yang dia lakukan di sini?

Sesaat kemudian –seolah belum cukup shock yang diderita si pirang– muncul sesosok pria berbadan kekar dengan rambut basah, tubuh berbalut mantel mandi terbuka di bagian dada, handuk melingkar di leher.

Armin membuka mulutnya lebar-lebar.

"Ah, Mikasa. Kau masih di sini? Kukira Hanji sudah menjemputmu."

Mikasa menoleh ke arah lelaki itu, meletakkan bukunya, melihat jam di pergelangan tangan kiri. "Sebentar lagi seharusnya sampai." Dan seolah membenarkan ucapan gadis bersurai hitam tersebut, terdengar suara raungan klakson mobil, hasil modifikasi sang seniman otomotif berkacamata tebal. "Nah, itu dia."

"MIKASA SAYANG CEPAT KELUAR KITA PULANG~ MIKASA~"

Menghela napas panjang, Mikasa memasukkan bukunya ke dalam tas pundak. Diambilnya gelas plastik berisi susu coklat miliknya kemudian bergerak keluar bangku. "Kalau begitu aku pulang dulu, Mr. Smith, Armin."

"Hati-hati di jalan. Dan sampaikan salamku pada Hanji."

Cklek, pintu ditutup.

Dan di sana, tepat di balik meja, seorang pemuda pirang bermata biru masih ternganga tanpa suara seperti ada hantu menarik jiwanya keluar lewat mulut. Erwin Smith, pria karismatik bertubuh atletis yang rambut basahnya jatuh ke depan mata menyambangi Armin.

"Armin? Hei, Armin?" Melambai-lambaikan telapak tangan di depan wajah pemuda tersebut, Armin masih mematung. Akhirnya, Erwin mendekatkan wajah mereka, hidung saling bersentuhan, biru bertemu biru. Sekali lagi menyeletuk dengan suara keras. "Armin."

"Eh? Ha, ee–HEEEEEEEH?!"

"Armin, kau tidak apa-apa?"

Pipi putih bersemu merah muda kurang dari dua detik setelah tersadar. Armin sudah terjungkal ke belakang kalau saja tidak ada tangan yang menahan kursinya tetap di tempat. Wajah di depannya kembali terlihat begitu dekat. Rambut pirang keemasan, alis tebal, biner biru beberapa gradasi lebih tua dari miliknya sendiri, wajah dengan garis-garis tulang tegas, bibir tipis berkilat basah–

Tidak, tidak, tidak. Tunggu. Hahaha, jangan bercanda Armin Arlert. Ayolah. Sudah berapa hari kau terus berpikiran kotor begini? Tenangkan dirimu, hei!

"Armin?"

"Eh, iya. Maaf. Aku hanya–" Terdiam sejenak. "Tunggu. Kapan Anda pulang?"

"Belum lama. Dua jam yang lalu, mungkin?" Erwin mengambil kotak berisi kakao di rak dan dua cangkir keramik. Menyeduh dengan air panas di dispenser dan menambahkan gula, kemudian beranjak untuk menempatkan dirinya ke samping Armin. Satu cangkir diletakkan di depan yang lebih muda. "Bagaimana sekolahmu?"

"B-baik. Tidak ada yang…berbeda."

Pemuda itu melihat ke samping di mana sang pemilik rumah duduk di sampingnya dengan tangan kanan memegang cangkir dan tangan kiri menyangga kepala. Helai-helai rambutnya yang jatuh ke depan wajah menutupi sedikit daerah matanya. Kedua biner kebiruan menatapnya dengan lembut.

Sejak kapan caretaker-nya kelihatan setampan itu?

"T-tapi tadi itu, aku kira kenapa aku dipulangkan duluan, ternyata kalian sudah pulang. Ahaha, aku sempat khawatir mau dibawa ke mana si Eren." Berusaha mengalihkan pembicaraan, Armin kembali mengusap-usap pinggiran cangkir keramik yang hangat.

"Sepertinya Hanji memang diminta untuk membawa Eren ke rumah Levi. Aku tadinya ingin menjemputmu sendiri tapi karena Hanji mengatakan dia sudah menjemputmu, aku memutuskan untuk mandi." Dan seolah membuktikan kalimatnya, air menetes dari ujung-ujung surai keemasan, mengaliri leher, dada, dan menghilang di balik mantel berwarna biru.

Armin meneguk ludahnya, sekali lagi mengalihkan pandangan guna menghilangkan pikiran-pikiran yang seminggu ini bermunculan.

Ya, seminggu. Berawal dari hari di mana Eren yang spektakuler mengajaknya melakukan ini dan itu. Jika saja hari itu dia tidak setuju dengan ide gila itu…

"Armin, wajahmu merah. Apa kau sakit? –Oh, tubuhmu lebih hangat dari biasanya. Demam?" Kalau bisa, Armin yakin wajahnya sudah beberapa gradasi lebih tua ketika tangan besar Erwin menyentuh dahinya. "Tapi sungguh, wajahmu benar-benar merah sekalipun tidak kelihatan pucat. Kenapa?"

Tangan itu mulai menyentuh pipinya, memegangi dagu, memalingkan wajah Armin ke kanan dan ke kiri. Kemudian turun, menyentuh lehernya.

Dan Armin segera berdiri begitu tangan lain bertumpu di pahanya.

"Mungkin kepanasan. Aku–aku akan mandi–"

"Tunggu." Armin berhenti. Tidak berani berbalik badan. "Aku ingin bicara sebentar."

"Y-ya?"

"Soal Eren."

Untuk kesekian kalinya, Armin Arlert merasa jantungnya hampir terbang dari balik dagingnya. Armin tidak bodoh, dan dia tahu apa yang akan dibicarakan caretaker-nya. Benar memang Armin sudah bersiap-siap untuk hari ini tiba. Dia tahu, sekalipun ia sangat merindukan pria ini, jika ia benar-benar sudah pulang, tidak mungkin tindakannya kemarin itu luput dari pembicaraan.

Mau tak mau, Armin duduk kembali. Tidak ada yang tangan yang menariknya, tetapi Armin tidak cukup gila untuk melawan Erwin Smith ketika ia tahu benar siapa yang salah. Armin hanya bisa diam, menunduk, tangan dikepalkan di atas pangkuan. Bergerak gelisah.

"Jadi," Erwin memulai. "Bisa kau jelaskan padaku apa yang kau lakukan kemarin dengan kawanmu itu, Armin sayang?"

Armin Arlert merasakan dorongan untuk pingsan di tempat.

O

O

O

Intuisi Armin Arlert boleh dibilang setajam harimau. Ya, benar. Begitu tajam hingga ia dapat mengerti kalau-kalau akan ada semacam nasib buruk yang menimpanya. Karena itu, jika ia tidak mengikuti nalurinya sama sekali dan hanya bergantung pada logika sesaat, dan ternyata intuisinya benar, Armin akan menyesal setengah mati.

Termasuk tadi.

"A-ahh..."

Demi segala yang bergerak, kenapa dia tidak benar-benar pingsan saja tadi?

"Hmm, sepertinya kalian tidak hanya melakukannya sekali itu saja. Bukankah kalian tidur satu atap selama seminggu?" Tangan kanan Erwin membuka kancing kemeja seragam Armin satu per satu dengan terampil. Tangan kirinya menahan kedua pergelangan tangan yang lebih muda terpaku di atas meja. Satu, dua, tiga, mata kebiruan menatap lapar kulit putih porselen di balik kain pucat. Empat, lima enam, menyibakkan kain yang menutupi perut datar. Sepasang biner safir meneliti dari atas ke bawah. Kembali ke atas. Tangan kanan bergerak naik, mengusap leher, meraba-raba tiap bagian yang tersentuh ujung jemari. "Aku yakin Eren menyentuhmu di sini–" mengelus puting "–di sini–" turun mengusap perut "–dan di sini," berhenti tepat di bagian bawah ikat pinggang.

Armin melenguh kecil begitu jemari Erwin memijat miliknya dari balik celana hitam. Pria di atasnya itu tersenyum, senyum gentleman yang biasa dipasang di depan client. Senyum pasaran yang tidak terlalu disukai Armin tetapi tetap memikat hatinya. Armin menangkap tatapan teduh Erwin yang melihat ke bawah, memperhatikan bagaimana gumpalan daging di ujung jemarinya berkedut dan mengeras perlahan seiring dengan pijatan yang diberikan. Celana Armin menyempit, menonjol di bagian bawah. Erwin mendekatkan wajahnya.

"Hmm...Armin kecilku sudah besar sekarang." Erwin mengusapkan pipinya di bagian depan celana Armin. Yang lebih muda mengerang terkejut. "Sayang sudah ada yang menyentuhmu di sini."

"Mmh!"

Erwin mencium depan celana Armin. Menjilat kecil dan pelan. Memasukkan tonjolan tersebut di dalam mulutnya dan meniupkan napas panas. Pinggul Armin melengkung ke depan menanggapi rangsangan. Kemudian mengambil dasi yang ada di samping pemuda itu, mengikat pergelangan tangan Armin. Dengan dua tangan, Erwin melepaskan ikat pinggang Armin dan menarik celananya dengan cepat. Dilepasnya juga sepatu hitam pemuda tersebut sebelum melemparkan celana Armin ke sembarang tempat.

Di atas meja, Armin hanya bisa menahan agar ia tidak meronta terlalu keras dan menendang Erwin secara spontan. Bohong jika Armin bilang dia tidak menginginkan ini –oh, otak dan tubuhnya sudah berkoordinasi dengan baik selama berhari-hari hanya membayangkan bagaimana rasanya bercinta dengan caretaker-nya– tetapi ini terlalu mendadak bagi Armin. Sekalipun begitu, hanya dengan sedikit sentuhan saja, penisnya sudah ereksi. Wajahnya terasa panas. Ia yakin pipinya sudah semerah kepiting rebus sekarang ini. Hanya ada rasa malu dan ingin sembunyi yang ada di benak Armin. Tidak ada pikiran untuk menolak Erwin sama sekali.

Begitu pria itu mengangkat wajah dan menatapnya, Armin hanya ingin lebih.

"Erwin...Sir."

"Hmm? Kenapa, Armin?" Erwin memasang seringai lebar. Diperhatikannya wajah itu. Kilat napsu yang berkelut di dalam bulir-bulir biru muda separuh terbuka. Napasnya berat, dan Erwin belum melakukan apa-apa.

"Kumohon…"

"Kumohon?"

"Sen–" Menelan ludah, "–sentuh aku."

Oh, Armin sayang. Erwin akan melakukannya dengan senang hati, sungguh. Dia akan lakukan semalam suntuk dengan berbagai posisi sampai penisnya lemas dan tidak bisa bergerak dan kau mendapat garansi untuk tidak dapat berjalan di kemudian hari. Siapa yang tidak senang jika kekasihnya yang manis memohon dengan wajah merah membara dan suara mendayu?

Yang membuat Erwin tidak senang saat itu hanya satu hal, ekspresi Armin tidak menunjukkan sedikitpun penyesalan ataupun ketakutan.

Dan Erwin ingin melihatnya.

"Itu tidak baik, Armin." Erwin mengangkat sedikit kaki Armin, melebarkannya dan berdiri di antaranya. Dari bawah Armin bisa melihat senyum pria itu menghilang, digantikan dengan segaris lurus dan tatapan tajam. Armin mulai merasa ada yang tidak beres. Dan ya, memang benar. Nada suara yang menjadi lebih rendah sudah cukup membuat Armin bergidik ngeri. "Kau tidak merasa bersalah sedikitpun? Aku sudah menahan selama beberapa tahun hanya untuk menunggumu tumbuh dewasa dan siap dijamah kemudian kau dan Eren melakukannya sejauh itu. Sedangkan aku bahkan belum menyentuhmu sedikitpun, Armin. Apa kau kira aku akan memanjakanmu begitu saja?"

"Bukan maksudku…aku…maafkan aku, Sir."

Erwin menggesekkan hidungnya di leher kekasihnya, memberi kecupan-kecupan ringan. Perlahan, ia menelusuri garis tulang rahang hingga mencapai cupingnya. Menggigit daun telinga Armin, ia berbisik, "Aku akan membuatmu ingat siapa tuanmu."

O o o

"Ahh, Erwin, maafkan aku– hentikan–"

"Merengeklah sesukamu, Armin. Aku tidak peduli."

"Nnh, tapi aku– NGH!"

Armin terbaring diatas meja dengan pipi menempel di atas permukaan kayu. Pantat bulat terangkat ke atas dengan kaki terbuka. Tangannya diikat ke belakang dengan dasi, berputar ke depan, dasi itu mengikat bagian pangkal kejantanannya yang menegang dan berujung merah. Di belakangnya, Erwin yang sama telanjangnya sehabis mandi masih mengenakan mantel mandinya yang kini tak terikat. Ia berdiri sambil meremas pantat Armin di kedua tangan. Ibu jari berputar di sekeliling lubang analnya sebelum kemudian satu jari telunjuk menelusup ke dalam dan bergerak seperti pengait. Keluar masuk, menekuk dan kembali lurus. Jari lain masuk ke dalam, Armin mengerang keras, air merembes keluar dari ujung pelupuk mata. Armin tidak pernah melakukan hal semacam ini dengan orang lain sebelumnya. Onani dengan Eren pun hanya main-main dan ia tidak merasakan kesakitan sama sekali. Tetapi saat ini, dengan kekasihnya pun ia merasa sangat sakit hampir di seluruh tubuhnya yang gemetaran.

Ada rasa takut dalam benak Armin ketika udara panas napas kekasihnya menyentuh bagian belakang lehernya. Gelenyar tak wajar antara panik dan terangsang saat suara bass menggema di dalam gendang telinganya. Membisikkan berbagai kata yang isinya menyalahkan Armin karena membiarkan Eren menyentuhnya, mengikuti rencana Eren dan membuat Erwin gagal menjadi yang pertama menjamah tubuhnya.

"Dan kau membiarkan Eren memberi kissmark di sana-sini. Melihatnya masih begitu jelas, sepertinya kau melakukannya lagi setelah yang itu, hmm, Armin?" Erwin meliukkan jemarinnya, membuat gerakan menggunting hingga lubang itu sedikit longgar, kemudian memasukkan satu jari lagi. Dikeluar-masukkannya dengan perlahan-lahan, ujung jari sedikit ditekuk, membuat kuku-kuku Erwin menggores bagian dalam dinding ketat Armin dan memaksa anak itu berteriak sakit. "Beruntung Eren cukup pintar untuk tidak menyentuh tempat ini." Dikatakan dengan nada suara manis seperti pemuda kasmaran membacakan puisi cinta.

Armin bergidik ngeri.

"Sir Erwin, aku– aku sungguh menyesal. Kumohon hentikan…"

Hentikan ini dan bercintalah denganku.

"Aku heran kenapa sedari awal kau sudah terasa begitu lembut. Sepertinya kau melakukannya sendiri. Apa aku salah?" Mengeluarkan jari-jarinya dari dalam lubang kekasihnya, Erwin menarik bagian atas tubuh Armin, memaksanya berlutut. Armin memekik kecil, terkejut, sedikit nyeri di pergelangan tangannya. "Sepertinya kau masih harus didisiplinkan."

Armin membuka mulutnya, melihat ke belakang dengan mata setengah terbuka dan berkata "Tidak…" dengan suara bergetar. "Kumohon, Erwin. Biarkan aku menjelaskannya."

Erwin melingkarkan tangannya ke depan, disentuhnya putting Armin dengan gerakan melingkar, kemudian mencubitnya. Memberikan perhatian yang sama pada puting satunya. Vivir Erwin pun bergerak mengecup tengkuk yang lebih muda, menciumi hingga ke pundak, memberikan tanda-tanda kepemilikan bercorak ungu kemerahan. "Apa yang akan kau jelaskan, Armin?"

Di sela-sela erangannya, Armin berbisik, masih dengan suaranya yang bergetar bercampur napsu dan panik. "Aku hanya ingin kau cepat pulang, S-sir. Dan– a-ahh– dan aku tidak bisa berhenti memikirkan Sir Erwin."

Oh.

"Aku minta maaf kalau membuatmu marah. Tapi sungguh aku hanya– mmph–!"

Kalimatnya terputus begitu saja. Erwin memutar tubuh pemuda itu, melumat bibirnya, memasukkan lidahnya sembari tangannya melepaskan yang mengikat tangan dan pangkal penis Armin. Ia memeluk kekasihnya yang lebih mungil tersebut, tidak melepaskan ciumannya hingga kurang lebih dua menit. Begitu ciuman mereka terlepas, Erwin menyentuh pipi Armin, ibu jari menyeka air mata yang mengalir. Dikecupnya kelopak mata Armin yang masih sedikit terisak dengan sayang. Ia berkata lembut, "Aku tidak suka, Armin. Jangan biarkan orang lain menyentuhmu."

"M-maafkan aku." Erwin tersenyum simpul. Ia mendudukkan diri di atas kursi dan menarik tubuh Armin di atas pangkuannya. Dengan posisi seperti itu dan tubuh telanjang bulat, Armin bisa merasakan milik Erwin yang juga terangsang tanpa harus melihat. Terasa panas di kulit perutnya. Pria itu terus melihat lurus ke matanya, tidak berkedip. "Er– Erwin?"

"Sssh," adalah jawaban Erwin sebelum perlahan mendekatkan wajahnya, Erwin kembali melumat bibir Armin dengan ganas. Memasukkan lidahnya, mengabsen gigi-gigi yang berjajar, menarik kepala Armin mendekat dan mencumbunya semakin dalam. Ia mengangkat tangan Armin yang semula bertumpu di dadanya, mengalungkannya ke lehernya. Armin yang paham dengan apa yang diinginkan Erwin segera mengeratkan pelukannya di leher Erwin. Lidah ikut bergerak dalam dansa erotis penuh dengan suara kecipak saliva. Tangan Erwin kembali menjelajah. Bergerak dari punggung Armin ke depan dada, memilin puting yang mengeras. Tangan lain turun ke bawah. Meremas pantat bulat, memasukkan jari ke dalam, bergerak perlahan.

"Mmh…" Armin mengerang pelan. Suara teredam oleh lidah yang bergerak liar di dalam mulutnya. Pinggulnya sedikit bergoyang, menyesuaikan dengan pergerakan jari Erwin demi kenyamanannya sendiri. Dengan mata tertutup, Armin bisa merasakan tubuhnya semakin sensitif terhadap sentuhan yang ia terima. Begitu jelas, Armin seperti bisa melihat bagaimana jemari tangan besar Erwin menyusup masuk dan keluar perlahan, perlahan, kemudian semakin cepat ditambah dengan hentakan keras. Satu persatu jari lain dimasukkan, gerakan menggunting melebarkan dinding ketat yang panas membakar. Armin berteriak keras sesaat kemudian.

Apa itu tadi?

Ia tidak pernah merasakan ini, seperti sesuatu di dalam tubuhnya diaktifkan dan gelenyar kenikmatan merambat dari ujung kaki ke ujung kepala. Baru pertama Armin mengalaminya.

Dan sensasinya luar biasa.

"Di sini?" Erwin melepas ciuman mereka menjilat leher jenjang Armin, membubuhkan bercak merah keunguan menutupi putih porselen. Sementara jarinya terus bergerak. Keluar masuk dan diarahkan untuk menyentuh daerah yang membuat kekasihnya berteriak erotis dan terengah-engah.

Armin menggeliat resah dan mendesah tertahan di tiap sentuhannya. Dahi menempel pada pundak yang lebih tua. "Erwin..."

"Armin, kalau kau mendesahkan namaku seperti itu, kau akan kumakan selama dua jam penuh."

Armin meneguk ludahnya. Ia bukan tidak mengerti yang namanya seks apalagi setelah hari itu dia sudah mencari-cari. Selain itu Eren juga bercerita kalau "Terlalu banyak melakukan hubungan ranjang bisa membuat penerima tidak dapat bergerak ataupun berdiri. Lebih-lebih berjalan." Dan mengingat ini pengalaman pertamanya, Armin tidak yakin dia bisa bertahan. Ia memutuskan untuk menggigit bibir bawahnya.

Erwin tersenyum puas.

"Jadi Armin, honey." Erwin mengeluarkan jarinya dan menyentuh penis Armin yang mengeluarkan precum. Ia memijatnya perlahan-lahan dengan gerakan menggoda. Memainkan ujungnya yang memerah dengan ibu jari, mengocoknya ke atas dan ke bawah hingga tangannya basah dan kemudian Erwin meniti tubuh Armin dari perut ke dada, menyentuh puting yang mengeras. "Aku akan memaafkanmu. Isn't it obvious? You're my lover after all." Jemari turun ke bawah lagi, mengusap perut. Menggelitik pusar, "Tapi kau sudah melakukan kesalahan fatal. Bagaimana bisa aku memaafkanmu begitu saja?" Semakin turun ke bawah, Erwin meremas batang kejantanan Armin bersamaan dengan miliknya. Armin mengerang keras. Sedikit air mata membendung di sekitar matanya. Kenikmatan yang dirasakannya terlalu tidak tertahankan.

"S-Sir Erwin– kumohon aku– Mmmhhh!"

"Tentu saja tidak bisa begitu, kan Armin? Kau harus menebusnya." Tangan Erwin berhenti bergerak. Ia mengelus paha Armin dan perlahan menyentuh kulit pantatnya. Meremas bokong Armin dengan tekanan sedang. Tersenyum mencurigakan. "Ride me."

Kalau saja bisa, kedua pipi kenyal Armin akan menjadi lebih merah lagi.

Ia memandangi Erwin, wajahnya, senyumnya, matanya, tatapannya. Ada tersirat keseriusan di balik ekspresi menggoda yang dipasang lelaki itu. Armin menatapnya lama, dan kemudian barulah ia bergerak.

Armin bertumpu pada kedua ujung kakinya. Tangan kirinya berpegang pada bahu pria yang lebih tua, tangan kanan mengarahkan milik Erwin ke lubangnya –panas. Armin menarik napas dalam-dalam, sekali. Dua kali. Ia menurunkan tubuhnya.

"H-haahhh, ahhh…" Tubuh pemuda itu gemetaran, kakinya terasa lemas dan ia merasa sesak, penuh. Belum semua. Baru bagian ujungnya saja dan Armin sudah ingin pingsan. Erwin lalu menggenggam pinggangnya, memaksanya turun perlahan-lahan. Ia masih memasang seringai nakal. Dan Armin tidak bisa menghentikan degupan jantungnya yang semakin berlomba ia bisa mendengarnya jelas di telinga. Desahannya kian menjadi begitu Erwin menurunkannya hingga Armin menyentuh pangkal kejantanan Erwin. Lelaki itu menghela napas lega, hidung mengusap bagian di antara leher dan pundak Armin.

"Hmm…Kau panas dan ketat Armin. Begitu ketat dan menarikku semakin masuk ke dalam." Erwin mengerang kasar. "Yeah, so tight and hot."

Bukan hanya bagian bawahnya yang panas, telinga Armin pun menjadi panas mendengar desahan seksi Erwin di telinganya yang biasa didengarnya dalam mimpi. Oh, ini sungguh mimpi jadi kenyataan dan Armin merasa sangat bersemangat saat ini. Pemuda itu mencoba mengatur napasnya dan merilekskan dirinya sebentar. Tidak lama, Armin bergerak. Naik, turun, naik, turun, terus seperti itu.

"Mmh… Ahh, aanghh… Erwin…Sir Erwin…"

"Lebih cepat sedikit, honey."

"T-tidak bisa…mhh –lebih dari ini.,,"

Pria itu tertawa kecil. Ia memeluk kekasihnya yang mungil, berdiri dan membaringkan Armin di atas meja makan. Dinaikkannya kaki Armin di atas pundaknya dan tangan Erwin bertumpu di samping kepala Armin.

"Aku akan bergerak cepat. Keluarkan suaramu." Dan dengan itu pria jangkung tersebut mulai memaju mundurkan pinggulnya, masuk keluar dengan tempo cepat dan hentakan keras. Beberapa kali, Erwin mencarinya, mencari titik kenikmatan Armin yang letaknya jauh di dalam. Dan ketika ia menemukannya, mengirimkan gelenyar nikmat ke seluruh saraf pemuda di bawahnya, Armin refleks berteriak kencang. Punggungnya terangkat melengkung membentuk busur. Erwin tersenyum puas penuh kemenangan.

"E-Erwin…Erwin…Di sana –Ahh! Oh, mein Gott, Erwin."

"Yeah. Call me your God or whatever, honey. I'll give you such pleasure you will remember how I feel."

Pria itu bergerak semakin cepat. Hentakkannya pun terasa makin keras menumbuk sweetspot Armin lagi, lagi, dan lagi. Memaksa suara tenornya untuk keluar dan memenuhi ruangan luas yang hanya ada mereka saja. Precum mengalir keluar dari milik Armin –pertanda ia sudah mendekati klimaksnya. Erwin pun sama saja, ia merasa tidak bisa menahan dirinya lebih lama. Di genggamnya kejantanan Armin dengan satu tangannya, pinggul masih bergerak tanpa jeda. Ia meremas milik Armin seirama dengan tempo hentakannya. Yang lebih muda mengalungkan tangannya ke leher Erwin, memeluknya erat dan mengerang tepat di samping telinganya. Tidak butuh waktu lama, Armin menjeritkan nama Erwin ketika mencapai klimaks. Dua kali hentakan, Erwin mengikuti dan mengeluarkan cairan spermanya ke dalam tubuh kekasihnya.

Armin terkulai lemas di atas meja. Napasnya berat. Yang lebih tua hanya bisa memasok oksigen sebanyak-banyaknya dan menatap kekasihnya setelah ia mengeluarkan dirinya. Dipandanginya pemuda Jerman tersebut dengan sayang. Tangannya mengusap surai-surai keemasan, menyingkirkannya dari kening dan pipi Armin yang berpeluh keringat.

"Armin…" Erwin merendahkan tubuhnya, mengecup kening Armin lembut. "You're mine."

Armin tersenyum senang. Ia memeluk Erwin, bergelantungan seperti anak kera dan mencium bibir kekasihnya tersebut sejenak. "Aku mengantuk."

Menghela napas, Erwin menggendong tubuh Armin masih dalam posisi yang sama. Tangan Erwin di pantat dan punggung Armin. Ia membawa pemuda tersebut ke kamar terdekat di lantai satu dan membaringkan pemuda berwajah manis itu di atas ranjang empuk dengan seprai segar beraroma peppermint.

Erwin menyusul berbaring di samping Armin dan memeluk anak itu. Armin menatapnya, kemudian memeluknya balik dan berbisik. "Ich liebe dich, Erwin."

Mendengarnya, Erwin hanya memeluk kekasihnya makin erat, ia mengelus rambut Armin. "Yes, I love you too."

Haha.

Levi.

Bersiaplah.

Besok saat masuk kerja lagi, Erwin akan menceritakan pengalaman ranjang pertamanya bersama Armin yang tidak kalah dengan pemerkosaan sepihak Levi dan Eren di malam pertama mereka. Dan itu adalah yang membuat Erwin tidak bisa berhenti menyunggingkan senyum hingga kantuk menjemput.

~The End~


Okay.

Oooooooooookay

Okay.

I'M SO DONE WITH THIS CHAPTER I'M SORRY.

Gue kehilangan feel mesum gue jadi gue minta maaf gue gatau. Ini bikin gue frustrasi juga gue ga puas sama chapter ini entah kenapa pokoknya gue minta maaf dan Aphin, ini chapter terakhir jadi gue ga ada utang lagi sama elo ya beb. Makasih.

Dan buat readers dan segalanya yang review atopun silent reader ato anon ato siapa yang mau mampir.

Makasih banyak.

Gue bener-bener makasih sama kalian gue kaget sama review countnya ahaha suer gue masih terpana.

Dan,

Akhir kata,

Ini dari gue, kenistaan super nista kucing Crescent Crystal.

Hope to see you again!