Disclaimer : Naruto Milik Masashi Kishimoto


Sakura POV

Aku berlari sekencang-kencangnya menghindari Sasuke yang sekarang benar-benar kubenci, aku telah menyimpan dengan baik bibirku ini hanya untuk Naruto, tapi dengan mudahnya dia merebutnya dariku, didepan Naruto pula.

'Aku kesaaal, kesaaal, kesaaaal!'

BRUK

"Akh…Aduduuuh" rintih suara wanita didepanku, aku tidak jelas melihatnya karena mataku penuh dengan air, ketika aku menghapus semua air mataku, aku melihat ada sosok wanita cantik berambut pirang yang sedang membawa peralatan klub basket.

"Ah, m…maafkan aku..aku…aku…" aku tidak bisa berkata-kata lagi, aku malah melanjutkan tangisanku.

"Heii, ada apa? Kamu kenapa?" Tanya wanita itu dengan lembut.

"Hiks…hiks…." Aku tidak menjawabnya, kemudian wanita itu membawaku ke bangku didekat gedung olah raga, dan menempatkanku duduk disitu.

"Ini, pakailah." Ucap wanita itu sambil meminjamkan sapu tangannya.

"Terima…kasih…" ucapku yang sudah tenang, aku melihat wanita itu dengan jelas sekarang, sepertinya aku pernah melihatnya, ketika aku memutar otakku, aku ingat, dia adalah wanita yang datang sewaktu aku adu mulut dengan Sasuke.

"Sudah merasa baikan?" Tanya wanita itu padaku dengan ramah.

"Ya, terima kasih, akan kucuci sapu tanganmu." Kataku sambil tersenyum lemah.

"Tidak usah sungkan, Sakura." Dia memanggil namaku, tapi bagaimana dia tahu namaku adalah Sakura, kemudian dia melanjutkannya. "Aku tahu kamu, kamu cewek yang satu-satunya berani membentak uchiha kan?" kata dia melanjutkan.

"Ah…ya…" aku menjawab dengan lemas.

"Ada apa? Oh iya perkenalkan, aku Ino, salam kenal yah." Ucap wanita itu tersenyum manis.

"Ya, salam kenal." Aku menjawabnya dan sedikit terdiam, ingin sekali aku mencurahkan isi hatiku pada Ino. Aku memandangnya dan dia memandangku.

"Ino, apa kau pernah merasakan cinta bertepuk sebelah tangan? Maksudku, orang yang kamu suka menyukai orang lain." Kataku yang akhirnya berbicara.

"Pernah." Jawab Ino dengan mata yang tegas. "Tapi aku tidak tahu, dia menyukai orang lain atau tidak, dan aku juga tidak tahu, dia menyukaiku atau tidak, dia teman kecilku."

"Lalu, apa yang kau lakukan?" tanyaku yang bingung.

"Yang bisa kulakukan adalah mendukungnya selalu, apapun keputusannya, asalkan itu membuatnya senang, aku akan mendukungnya." Jawab Ino dengan tegas.

"Walaupun orang itu menyukai wanita lain? Apa kau akan tetap mendukungnya?" tanyaku yang tidak mengerti.

Ino memandangku dengan senyumannya yang bagai malaikat. "Ya, justru lebih menyakitkan bagiku kalau orang yang aku suka itu sedih, aku lebih baik melihat dia bahagia bersama orang lain, itulah kebahagiaanku."

Ketika Ino mengucapkan kalimat itu, aku merasa kagum padanya, dia begitu tegar, sedangkan aku, hanya berpura-pura semangat agar Naruto tidak membenciku, aku saja tidak menjadi diri sendiri dihadapan Naruto.

"Ino, kau hebat sekali." Ucapku sambil tersenyum.

"Tidak, aku hanya melakukan apa yang ingin kulakukan kok." Ucap Ino.

Setelah berbicara dengan Ino, aku merasa baikkan, entah kenapa perasaanku jadi lega.

"Ino terima kasih, aku jadi merasa baikan." Ucapku sambil sedikit membungkuk.

"Sama-sama, kalau ada apa-apa cerita saja padaku, aku dikelas 1-2." Ucap Ino.

"Ng…terima kasih ya."

Normal POV

"Kau memang baik ya." Ucap seorang laki-laki yang dari tadi mendengar pembicaraan mereka.

"Hah? Shikamaru? Kenapa bisa ada disini?" Tanya Ino pada teman kecilnya itu.

"Aku kesini karena menyusulmu, lama sekali kamu mengambil barang-barangnya." Ucap Shikamaru jengkel.

"Maaf, entah kenapa aku merasa tidak bisa membiarkan Sakura sendirian tadi." Ucap Ino.

"Sudahlah, sini barangnya." Kata Shikamaru sambil membawakan barang-barang yang Ino bawa. "Dan satu lagi, aku sedang tidak menyukai wanita lain kok."

Shikamaru berjalan didepan Ino tanpa menoleh, Ino yang mendengar omongan Shikamaru langsung memerah wajahnya dan tersenyum, lalu dia menyusul untuk menyamakan langkahnya dengan Shikamaru.

Sepulang sekolah, Sakura langsung pulang kerumahnya, dia sedang tidak mau bertemu Naruto maupun Hinata, dia berjalan dengan tidak semangat. Begitu tidak semangatnya sampai-sampai dia memasang wajah murung.

"Aku pulaaang~" ucap Sakura dengan lemas.

"Selamat datang, Sakura ibu membuat pudding kesukaanmu." Kata Ibu Sakura didapur.

"Aku sedang tidak ingin makan, bu." Jawab Sakura yang langsung naik keatas.

"Kenapa anak itu?" Tanya ibunya terheran-heran.

"Permisiiii, bibiii, Sakuranya ada?" sapa Naruto yang masuk kerumah Sakura, karena sudah biasa dari kecil, mereka sudah seperti keluarga.

"Ah, Naruto…Sakura ada diatas." Jawab sang Ibu.

Naruto langsung menaiki tangga rumah itu, dan langsung membuka pintu kamar Sakura, langsung saja bantal melayang kewajah Naruto, karena saat itu Sakura sedang ganti baju.

"Ketuk dulu kalau mau masuuuk!" bentak Sakura malu.

Ketika Sakura selesai memakai bajunya, dia mempersilahkan Naruto masuk.

"Sakura, ada apa denganmu hari ini? Tidak seperti biasanya kau begini." Ucap Naruto dengan lembut.

'Kumohon jangan lembut padaku, kalau memang tidak ada perasaan khusus padaku, jangan membuatku berharap.'

"Hinata mencemaskanmu, karena setelah kau kembali, kau sama sekali tidak bicara pada kami, apa terjadi sesuatu antara kamu dan Sasuke?" Tanya Naruto yang duduk disamping Sakura.

Sakura hanya diam menunduk. "Aku khawatir padamu, maafkan aku yah kalau aku membuatmu kesal, bagaimana kalau besok sepulang sekolah kita jalan-jalan?" ajak Naruto menghibur Sakura.

Dan sekali lagi, Sakura memberikan senyumnya pada Naruto, Naruto selalu tahu apa yang membuatnya senang, jalan-jalan bersama Naruto itu sudah cukup membuatnya senang.

"Kau janji!" ucap Sakura dengan wajah cemberut.

"Iya, aku janji, besok kita jalan-jalan, makanya jangan bersedih terus yah." Kata Naruto mengelus kepala Sakura.

Sakura tersenyum manis pada Naruto ketika dia mengelus kepalanya.

'Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, tapi aku akan selalu berusaha agar membuatmu tersenyum seperti ini padaku.' Ucap Naruto dalam hati.

Keesokan harinya, Sakura berjalan kesekolah lebih dulu karena harus piket, dia memasuki kelasnya yang masih kosong, dan mulai bersih-bersih kelas, beberapa menit kemudian, Sasuke muncul bersama pengawal pribadinya.

"Pagi." Ucap Sasuke.

Sakura mencampakkannya, dia tidak memperdulikan kehadiran Sasuke disitu, dia cuek sambil menata kursi-kursi yang ada dikelas. Shino, pengawal pribadinya Sasuke kesal melihat tingkah Sakura yang kurang ajar, lalu dia menarik lengan Sakura.

"Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan? Tuan muda memberikan salam padamu itu sudah suatu kehormatan!" bentak Shino.

"Memangnya aku mau disapa dia?" bentak Sakura kembali.

"Shino! Atas perintah siapa kau menyentuhnya?" kata Sasuke dengan nada dingin.

"M…maafkan aku tuan Sasuke." Ucap Shino.

"Kau kembali saja ketempatmu." Perintah Sasuke.

Shino membungkukkan badannya dan keluar sesuai perintah Sasuke, Sakura memandangnya dengan jengkel.

"Dasar tidak mandiri! Memangnya kamu tidak bisa berangkat sendiri? Sampai-sampai harus ada baby sitter yang menemanimu?" kata Sakura dengan nada keras.

"Dia bukan baby sitter, tapi pengawal pribadiku sekaligus yang mengatur jadwalku." Jawab Sasuke yang berusaha tenang.

Suasana menjadi canggung, Sakura yang sudah selesai membereskan kelasnya kini duduk dikursinya dengan tatapan keluar jendela, sedangkan Sasuke yang duduknya disamping Sakura, dia menempati tempat duduk disamping kanan Sakura.

"Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf atas kejadian kemarin." Ucap Sasuke dengan sungguh-sungguh.

Sakura menoleh kearahnya dan memandang wajah Sasuke yang menunduk.

'Sepertinya dia bersungguh-sungguh minta maaf.'. "Baiklah, aku maafkan, jangan diulangi lagi yah." Ucap Sakura sambil tersenyum.

"Ternyata tidak jelek juga kalau kau tersenyum seperti itu." Kata Sasuke sambil menyenderkan kepalanya di telapak tangannya.

Wajah Sakura memerah seketika karena ucapan Sasuke. "Ah, apa itu cara barumu mengusiliku?" kata Sakura yang grogi.

"Jujur, aku tidak mengerti kenapa kita selalu bertengkar, sejak kau membentakku, aku tidak bisa menghapus bayanganmu di pikiranku, aku piker aku benci padamu, tapi melihatmu menangis kemarin, aku tidak bisa melihat ekspresimu yang seperti itu." Jelas Sasuke.

Sakura hanya terbengong Sasuke mengucapkan kata-kata yang seperti pernyataan cinta itu. "Sasuke…apa kamu demam?" kata Sakura memegang kening Sasuke karena heran Sasuke bisa berkata begitu.

"A…apa-apaan kamu!" kata Sasuke menyingkirkan tangan Skaura karena malu, wajahnya memerah bagaikan kepiting rebus.

"Hahahahhaa, kau malu…ternyata orang sepertimu bisa malu juga yah." Ucap Sakura meledek.

"Diam kau!" Sasuke menutupi mulutnya memakai tangannya karena malu, ketika Sasuke sedang menikmati suasana itu, Naruto datang bersama Hinata.

"Selamat pagiii." Ucap Naruto dengan semangat.

"Pagiii." Jawab Sakura.

"Sakura, kau tidak apa-apa?" Tanya Hinata yang menghampiri Sakura, Sebenarnya dia ingin bertanya kenapa Naruto bisa bareng Hinata, tapi dia tidak mau menanyakannyam karena dia tidak mau tahu.

"Ya, aku tidak apa-apa." Jawab Sakura.

Naruto menyapa Sasuke, dan Sasuke menyapa Naruto kembali, mereka bisa langsung akrab karena Naruto membicarakan tentang basket pada Sasuke.

"Ng…Sakura, aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Ucap Hinata malu-malu.

"apa?"

"aku…akan menyatakan perasaanku pada Naruto saat training camp nanti." Ucap Hinata berbisik pada Sakura.

Sakura terkejut mendengar pengakuan Hinata, lagi-lagi hari ini suasana membuat hatinya mendung, dia bingung, apa dia harus mendukung Hinata, atau dia harus menjauhkan Hinata dari Naruto, disaat seperti ini Sakura teringat omongan Ino yang dia bilang. 'aku lebih baik melihat dia bahagia bersama orang lain, itulah kebahagiaanku.'.

'Lalu, bagaimana dengan kebahagiaanku? Aku mengejar Naruto sampai sini, apa harus kulepaskan tanpa berbuat apa-apa?'

"Tolong Bantu aku ya, Sakura." Ucap Hinata sambil tersenyum malu.

Sakura hanya terdiam, saat itu guru memasuki kelas, dan pelajaran dimulai, tapi Sakura sama sekali tidak menyimak pelajaran itu, yang dia lakukan hanyalah memandangi meja yang diatasnya ada beberapa buku, Sasuke melihat Sakura yang sedang melamun, lalu melempar secarcik kertas pada Sakura. Sakura yang menerimanya, membuka kertas yang telah dilipat itu.

'wajahmu benar-benar seperti kera kalau termenung ;p'

Sakura merasa sedikit jengkel, tapi kali ini dia tidak marah pada Sasuke, dia merasa lega Sasuke menyadarkannya agar tidak termenung terus. Sakura membalas pesan itu dan melempar ke meja Sasuke.

'lebih mirip kera kamu saat melakukan dunk di ring basket.'

Sasuke membuka pesan itu dan sedikit tertawa, Sakura yang melihat Sasuke tertawa sedikit ikut-ikutan tertawa kecil. Naruto memperhatikan mereka dari belakang dengan wajah cemas.

'Sejak kapan mereka jadi akrab?' piker Naruto.

Pelajaranpun selesai, kemudian, Shikamaru berdiri dan memberi pengumuman pada semua anggota tim basket yang baru masuk.

"Perhatian, bagi yang baru masuk tim basket, kita disuruh membeli peralatan basket yang baru seperti bola dan ring, ada yang bersedia membelinya? Aku tidak bisa karena harus menghadiri acara penerimaan osis baru." Ucap Shikamaru mengumumkan.

"Ng, biar aku saja, aku dan Naruto akan membelinya, mau kan, Naruto?" kata Hinata tiba-tiba mengangkat tangannya.

"Ha? Iya, baiklah." Jawab Naruto.

"Naruto…kau kan janji padaku hari ini…" kata Sakura yang kalimatnya terpotong.

"Bagaimana kalau besok saja, Sakura…maaf, tapi besok pasti jadi. Ya ya yaaa." Ucap Naruto memotong Sakura.

"Tapi…kamu kan sudah janji padaku.." kata Sakura sedih.

"Sakura." Panggil Hinata membisik pada Sakura. "Ini kesempatanku mendekati Naruto, aku mohoon izinkan Naruto yaaah." Kata Hinata berbisik pada Sakura.

Sakura memandang Hinata dengan tatapan bingung, kali ini dia benar-benar bingung tak tertahankan.

"Baiklah, kami juga ikut, lebih bagus kalau berempat kan." Kata Sasuke tiba-tiba sambil memegang pundak Sakura.

"Baiklah, bagaimana kalau kita berangkat sekarang?" kata Naruto.

"Ayooo." Jawab Hinata, mereka berdua jalan didepan duluan, Hinata menengok kebelakang arah Sakura dan menimpulkan bibirnya mengucapkan. 'terima kasih'.

"Sasuke, kenapa kau lakukan ini?" kata Sakura sedih.

"Lebih baik kan, Dari pada kamu berdiam diri dirumah, sedangkan mereka asik berbelanja diluar, lebih baik kita ikut." Ucap Sasuke sambil mendorong tubuh Sakura untuk jalan.

Mereka berempat berjalan ketoko-toko alat olah raga, Hinata dengan asiknya berbicara dengan Naruto, seolah memonopoli Naruto sendirian, sedangkan Sakura hanya bisa melihat pemandangan itu dari jarak 2 meter, sedikit0sedikit melirik kearah Naruto yang sedang menjelaskan tentang basket pada Hinata. Sasuke sekali-kali mengusili Sakura kalau Sakura memasang wajah sedih.

Setelah selesai berbelanja keperluan olah raga, mereka pulang menuju sekolahan, Naruto dan Hinata berjalan didepan dengan wajah yang begitu gembira, Naruto terus-terusan membicarakan basket pada Hinata, sedangkan Sasuke dan Sakura berada dibelakang mereka dengan jarak sekitar 3 meter, Sakura kembali merenung sambil membawa belanjaannya.

"Sini, biar aku yang membawanya." Kata Sasuke menyambar belanjaan Sakura.

"Tidak apa-apa, aku saja." Kata Sakura dengan nada datar.

"Sudah sini, jangan membantah!" kata Sasuke yang memaksa.

Keadaan jadi canggung, ketika Naruto dan Hinata sudah melewati rel kereta api, Sasuke memanggil Naruto.

"Narutoo!" panggil Sasuke yang melempar belanjaannya pada Naruto.

"Huaaaa…Sasuke kau gila yaah." Kata Naruto yang menangkapnya.

"Titip ya, kami pergi dulu." Ucap Sasuke menarik tangan Sakura berlari.

"Ah…Sasukeee…" teriak Sakura. Naruto sangat terkejut Sakura berlari bersama Sasuke, dia merasa tidak terima kalau Sakura dekat dengan Sasuke, Naruto bersiap untuk mengejarnya, tapi langkahnya terhalang karena kereta api telah lewat dihadapannya.

"Siaal!" gerutu Naruto.

Hinata yang melihat ekspresi Naruto begitu khawatir terhadap Sakura mulai merasa cemas. "Naruto, ayo kita kembali."

"Ah…iya…" jawab Naruto dengan mata masih memandangi kearah dimana Sasuke membawa Sakura.

"Sasuke lepaaaaaas!" rintih Sakura.

"Iya iya aku lepas." Kata Sasuke melepaskan tangan Sakura.

"Kenapa kau melakukan ini! Gila!" bentak Sakura.

"Aku menyelamatkanmu! Tapi kau mengataiku gila?" bentak Sasuke kembali.

"Kau bukan menyelamatkanku! Aku tidak mau Naruto dan Hinata berduaan, tapi kau malah memberi mereka kesempatan!" teriak Sakura.

"Ah. Akhirnya keluar juga isi hatimu." Kata Sasuke.

"A…Apa…"

"Selama ini kau hanya terdiam saat Hinata memintamu untuk mendukungnya dengan Naruto, tapi sebenarnya kau tidak ingin mereka bersama kan? Munafik sekali kamu." Ucap Sasuke.

"K…Kau…kau tahu apa tentang diriku! Jangan berbicara seenaknya!" bentak Sakura.

"Kau ini didepanku selalu marah-marah dan memasang tampang sedih, tapi didepan Naruto selalu memasang wajah yang ceria seakan tidak ada masalah, aku merasa kasihan padamu karena tidak menjadi dirimu yang sebenarnya." Kata Sasuke dengan nada pelan.

"Aku tidak mau diceramahi olehmu!" kata Sakura memalingkan wajahnya.

"Kalau kau memang benar-benar menyukainya, kenapa tidak kau katakan saja?" Tanya Sasuke dengan nada yang dipaksakan.

"Tidak, aku tidak mau, nanti persahabatan kami hancur." Jawab Sakura yang nadanya mereda.

"Heh, bodoh sekali…lalu apa kau akan mendukung Hinata?" Tanya Sasuke.

Sakura menundukkan kepalanya, lalu dia menghela nafas dan menjawab pertanyaan Sasuke. "Kalau memang dia menyukai Hinata, aku akan mendukungnya."

'Dia bodoh atau apa? Mendukung percintaan orang yang dicintainya?'

"Hei, berhubung kita sudah terpisah, kita main yuk." Ajak Sakura menggandeng tangan Sasuke.

Sasuke POV

Entah mengapa perasaanku bercampur aduk, aku tidak suka melihatnya bersedih, tapi aku juga tidak rela melihatnya bahagia bersama Naruto, aku masih belum mengerti perasaan apa ini, yang jelas ketika Sakura menggandeng tanganku dengan tangannya yang mungil dan lembut itu, aku merasa jantungku akan melompat keluar karena bahagia.


heiii, gimana lebarannyaaa? pasti repot banget yaaah...

maaf yah chapter ini pendek...^^

terima kasih review-reviewnya...

chapter 4 menyusuuuulll...