Gelap.
Naruto hampir tak mampu melihat sekitar, hanya ada cahaya kuning beradu dengan pendar ungu samar entah dari mana sebagai penerangan. Kenapa ia disini?
Telingannya samar-samar menangkap suara seseorang yang berbicara, begitu jauh hingga ia tak mampu menangkap apa yang orang itu bicarakan. Naruto sedikit bersyukur karena setidaknya dengan suara itu ia merasa bahwa ada seseorang disini dan ia tak sendirian.
Iris sapphire itu memandang sekitar mencari tahu tempat apa ini, hingga perlahan matanya terbelalak, sadar bahwa ia berdiri di dalam dirinya sendiri. Ruang temaram, yang bahkan nyaris gelap gulita dengan genangan air disekitarnya.
Tempat dimana seharusnya Kyuubi bersemayam.
"Kurama.." Panggil Naruto. Ia mencoba mencari dimana Kurama berada, tapi sejauh mata memandang Naruto tak mendapati apapun, selain pendar dari cahaya disekitarnya.
"Naruto," Samar-samar ia mendengar namanya.
Ini bukan suara milik Kurama "Siapa?"
"Naruto..." Suara itu kembali terdengar.
Rasanya familiar
.
.
...
Tapi suara itu semakin lama semakin terkikis, meninggalkannya. Dan hal terakhir yang Naruto lihat adalah pendar ungu yang semakin lama ikut menjauh, seolah siap meninggalkanya. Naruto ingin mengejar, namun kakinya sama sekali tak mampu ia gerakkan. Tubuhnya seolah bukan dalam kuasanya.
'Jangan pergi' Naruto tak mengerti pada siapa ia tujukan kalimat tersebut, tapi ia berharap ada yang mau menolongnya. Yang Naruto bisa lakukan hanya meringkuk dibalik kegelapan yang menyelimuti.
.
.
...
Dan tak peduli berapa lamapun waktu ini mengalir
Ditiap pejaman mata. Ditiap dirinya lelah dan mencoba lari
Satu bayangan akan terus mengejarnya.
Tak peduli sejauhmana Sasuke berusaha untuk lari
Tapi akan selalu ada jeritan yang paling ia benci
Jeritan penuh kesakitan yang membelah malam, dan menembuas seluruh alam bawah sadarnya
Dan akan terus terulang
.
.
Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto
NATE ALERTS!
Abal, BL [Boys Love], menye-menye bikin mual, failed genres, violence, bad behaviour, all the amateur warnings applied. Please note it! This is modified-canon of SASUNARU!
Maaf untuk update-an yang lama, WB dan semester kemarin mcmbunuhku. Chapter ini teruntuk semuanya yang telah menunggu. Chapter terakhir. Dan akan lebih baik jika kalian membaca dari awal untuk lebih dapat feelnya. Next chap! Epilogue
.
Akan selalu ada waktunya, ketika kau merapuhkanku dalam diam
[Nate Xavela]
...
..
Entah itu karena kegelapan yang terus menyelimuti, atau dirinya yang terbawa hening hingga terlelap -terkadang waktu mempermainkaan, hingga ia tak mengerti apakah ia memang sadar atau tidak. Tapi Naruto merasakan kesadaran membawanya kembali membuka mata.
Kepalanya pusing, dengan semua cahaya putih yang seolah menemhus rentina. Naruto berkedip pelan beberapa kali, menyesuaikan diri.
Bertanya pada dirinya sendiri tentang apa yang terjadi. Dan Naruto hanya bisa terdiam menatapi langit-langit ketika ingatannya kembali berputar. Darah, perang,
"Sasuke.." Panggilnya lirih.
Matanya menjelajah sekitar berharap menemukan sosok raven itu. Tak ada siapapun, ruangan bercat putih itu hening. Berbagai pertanya bergelayut, sementara ia tak mengerti apapun.
Yang Naruto ingat hanya pertarungan Sasuke dengan Madara. Setelah itu semuanya buyar. Naruto menarik napasnya panjang-panjang, menengkan dirinya sendiri diantara berbagai macam spekulasi.
Suara pintu terbuka bahkan tak terdengar ketika batinnya berkecamuk.
"Oh, astaga! Kau bangun!" Samar-samar Naruto mendengar suara pekikan. Ia menegakkan tubuhnya, mendapati seseorang yang kemudian berlari kearahnya dengan wajah yang sulit ia artikan. Memeluk tubuhnya erat.
"Kiba?"
"Kami-sama... Kapan kau bangun? Kau butuh sesuatu? Atau ada yang sakit?" Kiba tak menyangka Naruto akhirnya bangun. Matanya menelusuri seluruh tubuh Naruto, mencari kemungkinan jika Naruto terbangun karena sesuatu yang menyakitkan atau ada yang perlu dibenahi.
"Tidak aku tak apa." Ujar Naruto. Tapi Kiba masih bertanya mengenai keadaannya terus menerus tak terlalu mendengarkan jawaban dari Naruto. Naruto terkekeh pelan,
"Kenapa kau tertawa?"
"Tingkahmu seperti melihat aku bisa mati kapan saja." Balas Natuto, masih terkekeh lemah.
Kiba diam, mengamati Naruto. "Memang" Ujarnya pelan.
"Kenapa?" Tanya Naruto ulang, sedikit kurang paham ditambah dengan ekspresi dan nada bicara Kiba yang pelan, sulit dipahami Naruto.
Tapi Kiba menggeleng, senyumnya terkembang hingga deretan gigi runcing itu terlihat jelas berjejer. "Aku senang kau sadar. Akan ku panggilkan yang lain."
Sebelum Kiba berjalan menjauh, Naruto memegang tangan Kiba mencegak pemuda itu untuk pergi. Ada banya pertanyaan yang ia ingin tanyakan. Naruto terdiam sebentar, ia menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Masih jelas dibenaknya mengenai ingatan terakhir sebelum ia tak sadarkan diri. "Perangnya?" Tanya Naruto lirih.
"Tak apa semua baik-baik saja, Naruto. Semua sudah selesai"
Jawab Kiba cepat. Satuhal yang ingin Kiba tetapkan, ia tak ingin Naruto mengingat apapun tentang peperangan itu. Tidak jika itu mengingatkannya pula akan Naruto yang jatuh dan bahkan nyaris mati. Biar ini tersimpan dan tak menyakiti siapapun.
.
.
"NARUTOOO!"
Teriakan itu menggema tak seberapa lama setelah kesadaran Naruto pulih. Ia baru saja hemdak untuk kembali berbaring untuk memejamkan matanya kembali ketika suara keras itu terdengar, berikutnya diiringi oleh derap langkah yang ikut menggema.
Belum lagi di kajauhan Naruto juga melihat sekelebat bahkan banyak kelebat bayangangan bergerak kearahnya.
Apa ia sekarang harus lari?
.
.
Tak butuh waktu lama kamar rawat milik keturunan Uzumaki itu ramai nyaris penuh.
Sakura bersama beberapa tim medis termasuk Hinata dan Ino, belum lagi ada Kiba, Sai, Shikamaru bahkan Iruka sensei dan Kakashi sensei berkerubung datang dari berbagai tempat.
"Eh?" Mlongo, Naruto hanya diam memperhatikan kerumunan tersebut.
Mereka menunggu tim medis memeriksa keadaan sang jinchuriki tersebut dengan teliti.
"Masih belum stabil, tapi sudah lebih baik dari sebelum-sebelumnya." Ujar Sakura, ia menatap Naruto dalam, "Senang kau sudah bangun, Naruto"
Semua orang dalam ruamgan tersebut mengangguk dan tersenyum. Naruto ikut tersenyum sembari menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
"Memang seberapa lama aku tak sadar?"
"Dua setengah bulan,"
Iris sapphire itu membulat tak percaya. Tapi melihat ekspresi Shikamaru saat menjawab tersebut Naruto hanya bisa meringis.
"Kenapa bisa lama sekali?!" Pekiknya dengan suara pelan.
Kepalan tangan Sakura menyentak si pirang. "Kau bahkan tak menunjukkan tanda akan bangun, bodoh"
Kalimat itu boleh kasar, tapi makna lain berbeda terpancar dari iris mata Sakura, karena ia sebenarnya merasa bersyukur akhirnya teman seperjuangannya ini bisa kembali beserta senyuman di wajahnya seperti dulu. Bukan lagi seorang yang menutup mata dengan jeritan kesakitan atau apapun. Dan itu melegakan.
"Maaf.. Maaf"
Teman-temannya baik-baik saja. Bahkan terlihat tak kekurangan satu apapun. Naruto tersenyum "Sudah selesai ya?"
Ada hening yang cukup panjang disana.
"Tenang saja semuanya baik-baik saja. Perbaikan desa juga berjalan lancar, semua akan kembali seperti semula. Jangan terlalu banyak berpikir" Kiba berkata kembali, enggan menjawab hal yang sama. Tapi juga enggan membiarkan hal tersebut menggantung begitu saja. Rasanya ia ingin mengeram saja.
Malam itu ramai, semua berkumpul memberikan apapun untuk sang jinchuriki tersebut. mereka menceritakan semua kejadian yang terlewatkan oleh Naruto. Tentang perang yang sudah selesai, tentang desa, dan seluruh perbaikan yang sedang dilaksanakan.
Tapi satu yang tak pernah tersebut, tak ada nama Sasuke disana.
Dan Naruto hanya mencoba diam, tak bertanya. Karena sejujurnya ia takut dengan jawaban apa yang akan ia dapatkan. Menyadari bahwa sosok itu tak ada disini, memiliki banyak artian. Satu yang Naruto tau, Sasuke pergi baik dalam artian ia meninggalkan desa seperti dulu atau meninggalkannya untuk selamanya dalam artian yang sebenarnya.
Memikirkannya saja membuat perutnya terasa bergejolak, panas. Naruto masih diam berusaha untuk memikirkan hal lain. Memikirkan teman-teman lainnya.
Naruto berbaring memperhatikan teman-temannya, tertawa sebagai respon jika ia mendengarkan sekalipun semua suara hanya seperti desau angin yang lewat. Sakura yang sibuk memeriksa ini itu sambil sesekali bersuara, Sai dan Shikamaru yang seperti sedang mendiskusikan sesuatu, atau Kiba yang tetap asik bercerita. Tapi selalu saja ada sesuatu yang membuatnya kembali merasakan gelisah hingga rasanya melilit.
"Naruto."
Iris sapphire nya terbelalak mendengarkan suara dalam yang ia kenali memanggilnya itu.
"Jangan terlalu banyak berfikir" Suara itu berkata.
Suara itu lebih dalam dari yang Naruto ingat, berbicara layaknya ia ada di depan Naruto tapi hanya bisa ia rasakan.
Naruto nyaris melupakan seluruh keadaan dan hanya terpusat pada suatu hal, hingga yang paling dekatpun tak ia rasakan. Bahkan seolah tak pernah ada, dan rasanya seperti dipertemukan dengan kawan lama yang telah ia lupakan.
"Kurama.." lirihnya. Rasanya sudah lama. Kenapa bisa ia lupa dengan Kurama! Dan bagaimana bisa Kurama masih disana dan berbicara dengan nada malas seperti biasanya!?
Kurama disana, di dalam dirinya, dalam keadaan baik-baik saja.
"Ya. Tak usah berfikir apapun. Semua akan baik-baik saja untukmu."
Naruto merunduk mendengarkan, "Ya,"
"Dia masih akan kembali."
Naruto mengernyit. "Siapa?"
Naruto menunggu namun Kurama tak menjawabnya. Mencoba bertanya sekali lagi dan tetap tak ada jawaban.
Siapa yang kembali?
Dan Naruto masih disana diam mempertanyakan siapa yang dibicarakan oleh Kurama. Tak menyadari sedikitpun keadaan sekitarnya.
"Naruto-kun.."
Naruto menoleh ketika sebuah jemari menyentuhnya, "Eh.. Iya, Hinata-chan?"
Mendapati gadis disebelahnya yang menatap dalam diakhiri dengan senyuman manisnya. Hinata menyodorkan irisan apel yang telah bersih dari kulitnya. "Ini.."
Naruto mengangguk, dan mengambil satu apel itu. Mencerna manis apel dimulutnya.
Tapi kata-kata Kurama kembali terngiang. Memangnya siapa yang akan kembali?
Kurama berkata bahwa ia tak seharusnya banyak berfikir saat ini, tapi justru kata-kata dari bijuu itu yang membuatnya berfikir keras. Bagaimana jika hal buruk akan terjadi? Madara belum mati kah?
"Apa yang kau pikirkan, Naruto-kun?" Tanya Hinata lirih, "Sedari tadi Naruto kun melamun."
"Eh? Sepertinya aku masih trans setelah lama pingsan Hinata"
Suara dengusan napas keras terdengar, "Apanya yang pingsan. Kau koma bodoh."
"Sudahlah, Sakura. Yang penting sekarang ia sudah bangun" Ujar Sai sembari memberikan senyumannya.
Naruto tertawa melihat Sakura yang masih belum ada bosan-bosannya untuk mendelik, menggerutu bahkan auranya seperti ketika gadis itu ingin menghantam Naruto kala itu juga.
"Nee, Sakura-chan. Jangan marah-maarh terus. Aku kan sudah sehat, tebbayou!"
.
.
.
Yang tak pernah mereka tahu bahwa ada seseorang lain disana, napasnya sedikit terengah seolah ia berlari dari belahan bumi yang berbeda. Ia berdiri tak jauh dari pintu masuk, iris itu terus menatap pada satu titik, tepat dimana seorang pemuda Yang duduk diatas sebuah ranjang putih dan dikelilingi oleh banyak orang. Seorang pemuda pirang yang bahkan mendengar tawanya saja membuatnya perih.
Karena sejujurnya ia rindu.
"Naruto." Ujarnya pelan, jua terhalang oleh pintu yang membatasi.
Gumaman mustahil yang tak mungkin dapat di dengar oleh sang pemilik nama. Bahkan ia tak berharap gumaman itu terdengar selain desau telinganya sendiri.
Tapi lain hal nya dengan Naruto, ditengah-tengah gurau canda semua orang orang. Iris sapphire nya terbelalak ketika menangkap sekelebat bayangan itu, seolah terpanggil. Refleks mulutnya berteriak keras memanggil "SASUKEE!"
Semua orang menoleh kearah pandang Naruto. Beberapa pasang mata ikut terbelalak, sementara yang lain menunjukan pandangan yang berbeda-beda.
Sasuke yang dipanggil tak bergerak seinchipun dari tempatnya berdiri. Hanya onyx yang tak pernah melepas kan pandangannya dari sang sapphire.
"Astaga kau benar-benar, Sasuke!" Naruto tersenyum lebar, rasanya ia begitu senang ketika ia bisa melihat pemuda itu. Begitu senang ketika ia tahu bahwa sahabatnya baik-baik saja.
Tanpa berpikir panjang lagi Naruto bangkit dari ranjangnya. Hendak berlari dan menyeret Sasuke untuk mendekat. Lupa jika ia baru koma selama dua bulan, yang artinya kakinya pun juga lupa bagaimana untuk berpijak melangkah.
"Ehh?!" Naruto oleng, karena rasanya kaki nya seperti jelly. Tak bisa berdiri kokoh, dan ketika ia akan jatuh sebuah tangan menahannya.
Mendongak Naruto mendapati Sasuke disana memeganginya agar tak jatuh. Sementara semua orang disana masih terdiam memandangi sang Uchiha yang menghilang untuk waktu yang cukup lama itu. Naruto tak melewatkan kesempatan dan memeluk sahabatnya itu. "Dari mana saja kau?!"
Tak ada jawaban, pelukan Naruto makin mengerat, tak membiarakan pemuda itu hilang kembali. Sementara satu persatu dari mereka mulai dari Sakura, Hinata dan yang lainnya, meninggalkan kedua pemuda tersebut. Memberikan waktu untuk Uchiha Sasuke, karena setidaknya mereka tahu bahwa bukan sebuah kebetulan pemuda itu ada disini. Karena mereka lebih dari tahu bahwa Sasuke datang untuk dan karena Naruto.
Bisikan lirih terdengar di telinga sang Uchiha, "Kurama berkata akan ada yang kembali, dan aku tak perlu khawatir."
"..."
"Dan aku senang ketika itu dirimu, Sasuke!" Naruto berkata, sembari mulai melepas pelukannya. Memberi jarak untuk bisa menatap sahabatnya tersebut.
Mendapati iris onyx tajam yang terus menatapnya, Naruto tersenyum, betapa rindunya ia bisa melihat Sasuke di sini, di Konoha. Kenapa rasanya sudah lama sekali. Onyx itu mengamati semua yang ada pada diri Naruto.
Iris sapphire terang itu balas menatapnya. Iris mata yang pernah tertutup untuk beberapa waktu yang bahkan seolah menuntut balas untuk tak mau menampakkan diri. Iris mata yang pernah tertutup, dan menitikkan air mata kesakitan. Tapi kali ini Sasuke bisa melihat bias sapphire tersebut.
Untuk beberapa waktu lalu bibir itu dingin, pucat. Tak ada kata terucap dari bibir itu kecuali jeritan kesakitan yang menyayat. Tapi kini Sasuke bisa mendengar namanya kembali terucap dari bibir itu.
"Kau tak mau berbicara, Tame?" Balik memandang sang Uchiha, "Jangan hanya menatapi ku, aku memang tampan, tebbayou. Aku tau kok.."
Sasuke tak membantah, ia sedikit tersenyum. Namun dimata Naruto entah mengapa ia melihat setitik kesedihan, Naruto mengalihkan pandangannya. Kamar itu terlalu sepi, dan ketika iris sapphire itu menjelajah, hanya ada dirinya dan Sasuke. Teman-temannya sepertinya sudah keluar sedari tadi dan ia baru sadar. "Kapan mereka keluarnya ya?"
Lalu setelah sekian kali berbicara, akhirnya Naruto mendengar suara Sasuke. "Sudah sedari tadi." Jawab pemuda itu.
Natuto tersenyum lebar mendengarnya. Kepalanya manggut-manggut sebagai jawaban. "Aku sama sekali tak sadar."
Lalu Naruto berbalik, hendak mendudukkan diri. Karena entah mengapa rasanya ia masih lelah. Tapi belum sampai satu langkah, Naruto merasakan tubuh nya dibawa dalam sebuah dekapan.
"..."
"..."
Naruto disana hanya bisa berkedip, ketika pelukan itu kian mengerat. Ia merasakan napas hangat ditengkuknya.
"Jangan berpalng, dan jangan pernah pergi."
Naruto kembali berkedip.
"A-aku masih disini, Sasuke." Balas Naruto, ia hendak kembali membuka mulutnya tapi terdiam ketika bahunya basah, meski hanya setetes. Naruto menarik diri, tapi gagal karena dekapan Sasuke tak membiarkan pemuda pirang itu untuk lepas.
"Sasuke?" Apa ia menangis?Kenapa?
Hening itu beberapa saat. Hingga Tak berapa lama kemudian, Sasuke memberika jarak diantara keduannya, tanpa benar-benar melepas pelukkannya.
Dan Naruto tak bisa lagi untuk hanya diam dan berkedip, ketika bibir tipis itu menempel pada bibirnya. Mengecup dengan perlahan.
Pekikannya tertahan oleh bibir Sasuke. Naruto dapat melihat jelas Sasuke dihadapnnya menutup mata.
"Tadaima.." gumam Sasuke pelan tanpa melepaskan kecupannya.
Kecupan berubah menjadi lumatan, sekalipun hanya sepihak. Dan Naruto merasakan ini semua basah, bukan karena dilakukan karena nafsu, tapi karena ia bisa melihat ketika setitik air mata itu mulai mengalir dari pelupuk sang Uchiha.
Perlahan Naruto menangkupkan jemarinya pada wajah Sasuke. Menghapus air mata tersebut, dan membawa Saasuke makin mendekat. Membalas semua kecupan rasanya benar dan pas,
"Aku merindukanmu." Ujar Sasuke, diantara kedua bibir yang masih menempel tersebut.
"Nee.."
Dekapan Sasuke makin erat. Jikalau mungkin ia bahkan tak ingin melepaskan.
Biarkan semua ini menghanyutkannya.
.
.
.
Jika kau tahu..
Kala itu hanya hening malam, dengan seorang pamuda beriris raven yang diam dalam dunianya sendiri.
"Uzumaki Naruto" Ujarnya mengusap pelan kening pemuda disebalahnya, "Tadaima.."
Ia mengeratkan dekapannya, mengubur wajahnya diantara perpotongan leher pemuda yang lebih kecil disampingnya.
Alam bawah sadarnya mencoba menerobos pada pemuda dalam dekapannya. Tapi hening, ia tak menemukan apapu selain kegelapan. Yang ia lakukan hanya memanggil nama pemuda itu berharap ia akan mendapat sahutan. "Naruto.."
Tapi tetap hening.
Harusnya tak ada yang salah,
dan harusnya kau tak terlihat lemah dengan hanya terbalut kain putih sambil memejamkan mata erat
Tapi sebuah kata keseharusan terkadang semu
Hei Uzumaki Naruto...
Aku selalu berkata bahwa aku membencimu, bahwa aku ingin kau enyah dan tak mencampuri urusanku
Akan kuberitahu kau sesuatu yang lebih menarik, bahwasanya aku memang membencimu.
Membenci dirimu yang bodoh
Aku membencimu yang tak pernah mau lepas di tiap ku memejamkan mata.
Bayangan itu selalu muncul, bayangan ketika kau jatuh dihadapanku
Jeritan kesakitanmu tak pernah lepas
.
Naruto
Aku membencimu karena Aku takut untuk kehilanganmu
Bahkan untuk menyetuhmu pun aku takut
Untuk itu aku pergi sementara
Tapi aku meninggalkan sebagian diriku padamu,
Chakraku pun ada padamu
Aku tak akan melepasmu
.
Ketika saatnya nanti kau terbangun, aku akan ada disana
Mengikutimu kemanapun kau berada, membawamu
Biarkan ini jadi ambisi terakhirku. Untuk selalu kembali padamu, Naruto.
.
.
.
THE END
Sejauh apapun melangkah, selalu kembalilah. Karena tak ada yang lebih membahagiakan dari pada pulang ketempat dimana seharusnya kau berada. Iya kan?
.
.
Epilogue?
