Hunkai / Kaihun / Kaise / Sekai
Friendship / Bromance / Crime / Hurt
Rated T+
Warning! Typo bertebaran! Jadi mohon maaf buat ketidaknyamanannya. Kadang karena kesalahan pengetik tapi kadang karena autocorrect computer yang emang rada kayak yang punya :p
Selamat membaca!
.
.
Jongin menaruh kardus di tangannya di atas meja makan dan kemudian berlalu dengan lesu menuju ke arah kulkas tinggi yang berada di sudut dapur. Ia terkesiap ketika melihat isi dalam kulkas yang terlihat penuh dengan makanan dan minuman yang tertata dengan rapi.
Ia memandang ke arah Sehun yang sedang menyicil mengangkuti barang-barangnya dari mobl sejak pagi dengan tatapan penuh tanya. Mulutnya yang terkatup hampir saja terbuka untuk menyidir sahabatnya itu tapi diurungkannya.
Ia tidak mau diusir oleh Sehun sekarang. Dia sudah berjanji tadi bahwa dia tidak akan berkomentar apapun soal hal ini. jongin memendarkan pandangannya dan baru tersadar bagaimana bangunan itu terlihat baru saja direnovasi secara besar-besara. Paparan bau cat baru juga masih menusuk hidungnya.
Ia yakin Sehun memang sudah merencanakan semua ini dengan sangat lama. Pilihannya tentang pindah ke rumah yang sangat jauh dari hiruk pikuk pun sepertinya bukan hal mendadak. Jongin yakin laki-laki itu sudah menyurvei banyak tempat sebelumnya.
Ia sebenarnya ingin bertanya tapi sebuah suara menyerukan di tengah dapur yang sunyi itu dari arah kantong celananya, "hey, cepat angkat teleponmu, Bodoh! Apa kau tuli! Angkat cepat!" suara Sehun meraung-raung dan membuat Sehun yang asli menatap heran ke arah Jongin.
Jongin tersenyum kaku, "ayah menelepon!" katanya.
Hey, bukan itu yang ingin ditanyakan Sehun sekarang! Karena yang sekarang membuat Sehun mengerut dengan kesal adalah kenapa suaranya bisa menjadi deringan ponsel milik Jongin!
-xoxo-
3
.
Jongin menatap Sehun yang terlihat fokus mengemudi di sampingnya dalam diam. Ini sudah sore saat mereka meninggalkan rumah itu dan Sehun tidak bisa membiarkan Jongin mengendarai mobil sendirian. Mereka sama-sama belum cukup umur untuk mengendarai mobil tapi terkadang keadaan mendesak mereka untuk tetap menggunakan mobil secara pribadi.
Itu hanya alasan.
Tanpa banyak bicara Sehun mengatakan akan mengantarnya pulang. Meski dia bebas tugas karena libur. Entah mengapa Sehun sejak tadi ingin sekali menegaskan dan mengungkapkan pada siapapun bahwa dia sedang bebas tugas sekarang selama seminggu. jika dia memiliki media sosial mungkin ia akan membuatnya menjadi status.
Jongin memainkan tangannya tak tenang mengetuk-ketukannya pada pinggiran kaca mobil sambil menatap ke luar jendela. Ia merasa bosan dengan keadaannya sekarang. Sebenarnya banyak hal yang ingin ia tanyakan pada Sehun sekarang tapi ia mengurungkannya.
Jika saja pikiran itu tidak mengganggunya mungkin saja sekarang mobil itu akan ramai dengan perdebatan tak penting mereka. Dan Oh Sehun bukanlah orang yang terlalu bodoh untuk tahu apa yang sedang mengganggu pikiran sahabatnya itu. Ia yakin bahwa Jongin pasti sudah melihat luka Xiumin tadi.
Ia hanya heran, orang secerewet Kim Jongin tidak menanyakannya bahkan sampai detik ini, itu sebuah keanehan yang luar biasa bagi seorang Oh Sehun. Ini bukan hal yang harus disembunyikannya pada Jongin. Xiumin bahkan mungkin tidak akan keberatan jika dia meminta ijin untuk mengungkapkan apa yang mereka alami tapi ia juga tidak tahu harus darimana ia harus menceritakan semuanya.
Ia bukan sengaja diam karena ia bukan tipe orang yang bisa memulai percakapan atau sekedar bercerita. Ia butuh orang lain untuk memancingnya lebih dulu untuk mengungkapkan pemikirannya.
"Dimana kita harus pergi?" suara Sehun memecah keheningan yang tercipta sejak dua jam yang lalu, "ke rumah utama atau ke-."
"Ke rumah utama! Tenang saja ini hanya pertemuan keluarga!" potong Jongin dengan suara lemas. Ia menguap beberapa kali. Hingga sebuah gerakan mengagetkannya karena tiba-tiba saja sandaran duduknya tertarik ke belakang. Jongin melirik tajam ke arah Sehun.
Sehun terkekeh dan terlihat fokus kembali menatap ke arah jalanan di depan yang telah menggelap, "tidurlah! Masih butuh satu jam lebih kita sampai!"
Jongin mencibir, "oh baiklah! Sekarang kau terdengar seperti seorang ibu bagiku!" tawa Sehun terdengar. Jongin terlihat membenarkan sandaran punggungnya dan kepalanya agar terasa nyaman. Ia menarik boneka beruang milik Xiumin yang terlihat tertinggal di jok belakang mobil, memeluknya dengan erat sebagai ganti guling.
Tetap saja, bagaimanapun Sehunlah yang paling mengerti bagaimana dirinya. Jongin tersenyum dalam diam setelah ia memutuskan menutup matanya untuk tidur sebentar meninggalkan Sehun yang terlihat serius pada jalanan yang ia lalui.
Jongin menghela napas ketika wajah malaikat ayahnya menyambut kedatangannya di depan rumah. Ini bukan hal yang aneh karena setiap sehabis ia pergi tugas ayahnya selalu berdiri di teras rumahnya seperti itu.
"Aku sudah besar ayah, bahkan sebentar lagi aku akan lulus sekolah!" rajuk Jongin ketika ayahnya merangkulkan tangannya pada pundak Jongin guna menuntunnya masuk ke dalam rumah.
Ia melirik ke arah Sehun dan menyuruhnya dengan isyarat mata untuk ikut masuk dan segera disetujui dengan anggukan oleh Sehun.
"Ayah sudah menyiapkan makanan kesukaanmu!"
Jongin menatap menyelidik, "apa ayah memesannya ke tempat yang benar? Aku tidak suka ayam goreng yang ayah pesan terakhir kali!" rengekan Jongin terdengar kembali.
Sehun memutar bola matanya malas. Jongin selalu menjadi sosok yang manja jika di depan ayahnya. Sifat Jongin benar-benar seperti bunglon bagi Sehun. Sehun mendekat, "aku yang memesankannya tadi saat kau tidur! Jadi tenang saja! Paman Joonmyeon tidak akan salah pesan kali ini!" celetuk Sehun dan melangkah menuju meja makan lebih dulu.
Ia menempatkan dirinya pada tempat biasanya dan mengambil makanannya lebih dulu. Jongin mengerutkan bibirnya, "kau jangan harap mengambil bagianku, Oh Sehun!" tapi terlambat. Sehun dengan sengaja sudah menggigit sedikit semua paha ayam yang disukai Jongin, menyisakan sayap ayam yang tak dijamah sama sekali bahkan tak ada bekas gigitan Sehun. Membuat seorang Kim Jongin memaki Sehun dengan semena-mena.
-xoxo-
Joonmyeon menatap anaknya yang masih bercanda dengan Sehun memperebutkan tulang terbanyak yang sudah mereka habiskan dan sekali lagi, hari ini pun Jongin harus kalah dari Oh Sehun. Sehun tertawa puas dan Jongin terlihat kesal.
Joonmyeon memanggil kedua orang itu untuk masuk ke ruangannya dengan nada sarat akan sebuah keseriusan dan itu membuat mereka tiba-tiba bungkam. Mereka berdua menelan ludah mereka. Sehun meminum colanya hingga habis saat memutuskan mengikuti Tuan Kim dari belakang.
"Maaf mengganggu liburmu, Sehun!" ungkap Joonmyeon dan menatap pemuda tinggi dengan tatapan lembut. Sehun hanya mampu tersenyum dan mengatakan bahwa itu bukan hal yang besar karena baginya rumah ini sudah menjadi rumahnya juga. Joonmyeon terlihat senang mendengar hal itu.
Jongin menatap ayahnya dengan hati-hati, "ayah bukan memanggil kami hanya untuk ini bukan?" tanya Jongin karena seingatnya ia menyelesaikan tugasnya tentang sengketa tanah dengan baik. Meski lagi-lagi harus dengan jalur kekerasana karena mereka tidak mau diajak berunding.
Joonmyeon mengubah tatapannya yang lembut menjadi serius dan tajam, "Jongin, bisakah kau pergi? Aku ingin mengobrol dengan Sehun sebentar!" Jongin menggigit ujung bibirnya. Ia takut ayahnya akan melakukan sesuatu hal pada Sehun karena sebelumnya ayahnya tak pernah setuju ia berhubungan dengan Sehun.
"Tenang saja! ayah tidak akan mengancamnya atau mengusirnya! Ayah sudah terlanjur menyayanginya juga!" ungkap Joonmyeon dan mau tidak mau Jongin akhirnya melangkah pergi dengan lesu keluar dari ruang kerja ayahnya.
Joonmyeon menghela napas ketika mereka hanya tinggal berdua. Wajahnya yang terlihat bak malaikat kini berubah seketika. Sehun menelan ludahnya sekarang ia paham darimana sifat Jongin yang sering berubah-ubah itu.
"Sepertinya anda akan membahas masalah yang cukup serius, Ayah!" Joonmyeon tersenyum. Kenyataan bahwa Sehun adalah anaknya yang lain adalah sebuah rahasia yang bahkan Jongin tidak tahu.
"Kau memang mirip dengan ibumu, Sehun! Aku hanya sedang merindukan wajahnya!" kata Joonmyeon.
Sebenarnya mereka juga baru mengetahui kenyataan itu tak lama setelah Jongin berteman dengan Sehun. Saat mendengar nama Oh Sehun terlontar dari mulut Jongin untuk pertama kalinya tiga tahun lalu, Joonmyeon tidak menduga siapa Sehun. Tapi ketika untuk pertama kalinya ia melihat Sehun besitan bahwa Sehun mungkin anak yang selama ini ia kira telah mati membuatnya mau tidak mau mencari latar belakang kehidupan Sehun.
"Kurasa ini bukan hanya menyangkut hal itu hingga anda menghubungi saya!" kata Sehun formal kembali dan membuat Joonmyeon terkekeh.
"Dan dia juga selalu tidak mudah dibohongi sepertimu!" ungkapnya senang tapi beberapa detik kemudian wajah dingin Joonmyeon terlihat kembali, "Sehun, apa yang akan kau lakukan jika aku sudah menemukan ayah Xiumin?"
Sehun mendelik tak percaya. Ia menatap ayahnya dengan tatapan yang meminta kejelasan tapi ayahnya malah tersenyum dengan dingin, "jawabanmu memutuskan apakah aku akan memberitahu keberadaannya padamu atau tidak!"
"Apa kau yakin-."
Joomyeon mengangguk mantap dan memndang ke arah Sehun dengan serius, "tapi untuk meraihnya sekarang kau akan sulit!" Sehun tertunduk.
"Jika kau membunuhnya aku tidak akan bisa membantumu!" ungkap Joonmyeon dingin. Ia mengepalkan tangannya kesal. Ia tahu itu tapi tetap saja. Joonmyeon menghela napas, "dan aku juga tidak mau kau melibatkan Jongin!" katanya.
Sehun mengangkat kepalanya, "aku tid-."
"Meski kau tidak meminta, anak itu akan mengikutimu kemanapun kau pergi!" sela Joonmyeon.
Sehun memalingkan wajahnya. Ia cukup tahu Jongin berharga di keluarga Kim karena dia adalah satu-satunya penerus kedudukan mereka nantinya. Dan Sehun bukanlah orang yang cukup berharga disini. Dia tetaplah anak jalanan yang hidup hanya menumpang.
"Dan aku juga tidak mau kehilanganmu, Sehun!" ungkap Joonmyeon terdengar tulus menyadarkan Sehun dari kekacauan pikirannya, "jadi aku memintamu untuk memikirkan masak-masak apa yang akan kau lakukan! Aku sudah janji padamu untuk mencarikan orang tersebut tapi aku juga butuh jawabanmu sebagai imbalanku!"
Mata Sehun membulat. Ia tidak tahu akan mendengar hal itu dari Joonmyeon. Joonmyeon merubah wajah dinginnya menjadi wajah lembutnya kembali, "darahku tetap mengalir padamu! Aku percaya padamu kau bisa menjaga dirimu karena itu aku selalu percaya kau akan menjaga adikmu, Jongin, dengan baik! Mungkin ini takdir saat kau bertemu dengannya saat kecil meski itu menjadi awal kematian ibu kalian!"
Joonmyeon menghela napas, "kurasa kau sudah melupakan kejadian tujuh tahun yang lalu itu!" Sehun diam. Ia memang tidak mengingat apapun. Dia hanya ingat dia sudah terbangun di sebuat ruangan kecil bersama Bibi Hao dan Xiumin kecil yang digendong oleh wanita paruh baya itu dengan dangat protektif.
"Kau bisa kembali ke rumahmu besok. Ajaklah Jongin! dia sepertinya juga butuh istirahat! Ayah akan mengosongkan jadwal kalian seminggu ke depan! Ada Jongdae yang selalu memantau keadaan! Ayah berterima kasih padamu!"
Sehun mengangguk kecil lalu memilih pergi tanpa mengatakan apapun. Joonmyeon membuang napasnya. Ia menautkan kedua tangannya. Tatapannya berubah penuh amarah. Giginya bergemeretak. Sebenarnya ia ingin berlari sekarang membunuh semua orang yang bersangkutan dengan kejadian masa lalunya dan membuatnya harus kehilangan orang-orang yang ia cintai.
Jongin menunggunya di ruang tengah dengan gelisah. Wajahnya terlihat penasaran ketika melihat laki-laki pucat itu keluar dari ruang kerja ayahnya dengan lesu. Ia melompati sofa dan berlari secepat kilat menuju Sehun.
"Apa yang terjadi?"
Sehun menghela napas, "aku harus mengajakmu berlibur!"
Mata Jongin membulat lebar dan berbinar, "benarkah?"
Sehun mengayunkan tangannya ke arah dahi Jongin dan membuat kepala Jongin mengayun ke belakang, "jangan senang dulu! Kau harus ikut membantuku disana! Jika kau malas sedikit saja aku tidak akan segan-segan mengusirmu keluar!"
Jongin cemberut. Sehun memang paling bisa membuat moodnya berubah dalam sekejap saja, "lalu bagaimana patrol kita?"
"Jongdae yang akan menanganinya!"
Mata Jongin berbinar kembali. Kali ini ia akan benar-benar merasakan liburan. Terkadang liburan bagi mereka adalah melakukan patrol pada klub malam, jalanan gang atau tempat-tempat gelap lainnya yang menjadi sarang penjahat.
Jongin bersorak dan itu membuat Sehun mengulumkan senyumnya dengan wajah yang terlihat kecut. Ia tahu tak selamanya ia bisa menyembunyikan semua hal pada Jongin tapi untuk sementara ia memang harus melakukannya. Bahkan tanpa Joonmyeon mintapun ia juga tak ingin kehilangan Jongin.
Ia terlanjur menyayangi Jongin dan merasa nyaman dengan keadaannya sekarang.
-xoxo-
A/N :
Makin kesini makin rumit dan saya lieur. Wkwkwk. Seminggu udah berlalu. Akhirnya bebas juga dari soal-soal. Tingal nunggu hasilnya T.T
Buat yang udah review, Kim Hyomi / ohkim9488 / ulfah-cuittybeams / silent rider / coffe latte / nisrinahunkai99 / robiatunohsehoon952 / guest / cute /fishyhaerin / blissfulxo / nadia
Maaf jika chapter ini belum menjawab rasa penasaran kalian. :o
Thanks for support this FF by favourite and follow.
Sebisa mungkin aku akan update secepatnya. Doakan saja! hahahaha.
