Disclaimer : I own nothing. Super Junior, DBSK, and all chara in this fic belong to their self. Hanya fic ini yang murni punya saya, Jung Hyun Hyo ^^ Don't copy without permission, please!

Main cast : - Choi Siwon

- Kim Kibum

And other supported cast.

Warning : Genderswitch for uke, OOC, OC, AU, abal, typo(s). So, if you DON'T LIKE, DON'T READ! NO BASHING!

.

.

.

Chapter 2

Siwon membanting pintu rumah di belakangnya dan langsung melepas sepatunya asal-asalan. Wajahnya luar biasa pucat. Bulir keringat dingin mengalir deras di dahinya –membuat Jaejoong terheran-heran. Yeoja paruh baya itu terkejut saat mendengar bunyi pintu rumah yang dibanting kencang dan langsung keluar dapur.

"Astaga! Ini sudah malam sekali! Kau darimana saja, Siwon? Kenapa mukamu pucat seperti itu? Kau sakit?" berondong Jaejoong –seperti biasa, kalau ia sedang panik. Siwon hanya menggeleng cepat dan langsung masuk ke kamarnya. "Aku baik-baik saja, jangan khawatir ahjumma."

Jaejoong mengetuk pintu kamar Siwon, namun sunyi. Ia mencoba membuka kenop pintu, namun nihil. "Siwon, apa –"

"Kumohon, ahjumma, aku baik-baik saja, jangan khawatirkan aku. Tidak ada yang aneh.." Terdengar sahutan dari dalam. Jaejoong menyerah, lalu ia pergi dari depan pintu kamar Siwon dan menuju kamarnya.

Mendengar langkah kaki yang menjauh, Siwon mendengus kencang. Ia menyambar handuk dingin yang sebelumnya ia basahi dan mengusap mukanya kasar.

Hapus! Hapus bayangan itu, Siwon!

Oh, astaga. Demi apapun, Siwon baru pertama kali melihat sepasang bola mata kebencian dengan aura kemarahan yang sangat kuat. Masih segar dalam pikirannya, tatapan Kibum yang menyiratkan kemarahan yang luar biasa mengerikan.

Siwon sebenarnya tidak mau mengingat-ingatnya lagi, namun otaknya terus memutar kelebat tadi –seperti film.

(Siwon's flashback on)

Siwon menelan ludah saat wajah Kibum dekat sekali dengannya. Cantik. Kibum sejuta kali lebih cantik dari yeoja manapun yang pernah ia kenal. Kulit putih mulus tanpa noda. Alis tebal dan panjang. Bola mata polos dan bersinar redup. Bulu mata panjang dan lentik. Hidung mancung. Bibir ranum semerah cherry.

Sayang sekali Kibum adalah hantu.

"Kibummie.."

"Hm?"

"Aku tidak tahan lagi. Kumohon, ceritakan semua tentangmu!"

Kibum menyipitkan matanya –tidak suka dengan pertanyaan Siwon yang begitu frontal. Tubuh Siwon menegang sejenak mendapat tatapan seperti itu. Sejujurnya? Siwon takut setengah mati. Kibum saat ini seolah menjelma menjadi sesosok monster yang sangat menyeramkan –siap membunuhnya kapan saja dengan satu jentikan jari.

"Kau benar-benar mau tahu?" tanya Kibum. Nadanya lembut seperti biasa, namun sekujur tubuh Siwon membeku mendengarnya. 'Kibum mengancam,' batin Siwon. Menelan ludah gugup, Siwon mengangguk ragu.

"Kalau begitu –"

Kibum memajukan wajahnya hingga mendekati wajah Siwon. Bibir mereka pasti bersentuhan seandainya Siwon juga memajukan mukanya. Well, yah, andai Kibum manusia, mungkin itu bisa saja terjadi.

" –biarkan aku meminjam tubuhmu."

Kibum tiba-tiba menghilang dari hadapan Siwon –membuat namja itu berkedip bingung.

"Aaaaaah!" Siwon reflek berteriak –terkejut ketika sesosok yeoja dengan wajah menyeramkan, sangat menyeramkan, terpampang persis di depan matanya. Itu Kibum. Namun alih-alih dengan wajah cantik memesona yang biasa dilihat Siwon, mata Kibum seluruhnya berwarna putih. Wajahnya pias dengan retakan di sepanjang pelipis sampai ke pipi cekungnya –ya, pipi Kibum cekung, bukan chubby–, seolah wajah itu adalah keramik yang telah jatuh ke lantai. Bibirnya kering dan pecah-pecah. Mengerikan.

Darah Siwon berdesir kencang. Yang ia tahu, selanjutnya ia jatuh dengan tubuh terlentang di tanah. Seseorang, atau lebih tepatnya sesuatu yang tidak kelihatan mendorong tubuhnya. Detik berikutnya, mata Siwon tertutup paksa. Kedua bola matanya seolah ditindih dengan beban masing-masing 10 ton.

Uh.

Siwon mengerjapkan matanya. Huah, apa yang sebenarnya terjadi? Oke, lebih baik ia cepat-cepat pulang dan menjauhkan diri dari segala keanehan ini. Namun ia terperanjat. Kakinya sudah berdiri lebih dulu sebelum otaknya bahkan sempat memerintah. Kepalanya berputar sejenak untuk meregangkan otot leher yang tegang –seolah seperti orang yang baru saja bangun dari tidur panjangnya. Ia menyunggingkan senyuman sinis.

Siwon bersumpah. Ia hanya bisa menggerakan kedua bola matanya bingung saat tahu bahwa tubuhnya punya nyawa lain.

"Ayo.. Kita.. Pergi.." desis Siwon lirih.

Yang keluar dari bibir itu memang suara Siwon –berat dan lirih khas namja, namun yang didengar oleh Siwon adalah suara dingin dan menyengat khas Kibum.

Oh, tidak!

Kibum sedang memakai tubuh Siwon! Dan Siwon hanya punya kuasa untuk melihat! Tidak ada satu inci pun tubuhnya yang bisa ia kendalikan lewat otak, kecuali bola mata!

Siwon menggeleng panik dalam batinnya saat tangannya memakaikan helm ke dalam kepalanya.

No! Nightmare!

.

.

.

Cukup lama Siwon mengendarai motornya. Tubuh Siwon dengan jiwa Kibum itu melajukan motornya kencang ke sebuah hutan. Otak Siwon berusaha merekam setiap jalan, belokan, dan perempatan yang motornya lewati. Sejauh ini mudah mengingatnya, karena lajunya yang hanya mengikuti jalan utama.

Motor besar tersebut berhenti di depan sebuah rumah tua yang gelap dan mengerikan. Siwon menelan ludah dalam hati saat tubuhnya yang dikontrol oleh Kibum turun dari motor dan berjalan ke pekarangan. Hatinya memberontak kuat-kuat, namun usahanya sia-sia. Apa daya, kalau otaknya sendiri diambil alih oleh Kibum.

Oh tidak. Siwon tahu rumah ini. Sebuah rumah dengan desain yang mirip dengan rumah terkenal Port Gamble, hanya saja lebih suram, gelap, dan berbau darah. Ini rumah yang terpampang di sebuah foto dalam artikel dengan nama Kibum di dalamnya.

Ini rumah pembantaian sebelas tahun lalu.

Sontak, sesuatu mendorong tubuh Siwon kuat-kuat dari belakang. Siwon hanya bisa memejamkan mata dan pasrah terhadap apapun yang menimpanya.

Siwon membuka mata saat merasakan sepasang sesuatu yang dingin menyentuh kedua pipinya. Halus, namun menyengat beku. Matanya membola menemukan Kibum sedang tersenyum sedih dengan mata yang menatap lekat mata Siwon.

Demi Tuhan, Kibum cantik sekali. Bibirnya merah ranum, membuat Siwon ingin melumatnya seketika itu juga.

Tapi Siwon harus menelan kekecewaannya saat Kibum tiba-tiba menghilang dari hadapannya. Ia menghela nafas dan terlonjak menemukan pintu rumah Kibum yang terbuka lebar.

HEI, YANG BENAR SAJA?

Kemana tali-tali police line kuning yang tadi terbentang di depan pintu rumah Kibum? Kenapa bisa permukaan pintu itu halus dan bersih –tidak seperti pintu yang sudah ditinggalkan belasan tahun?

Dan kenapa..

Astaga, kenapa bisa Kibum berdiri di ambang pintu itu dengan anggunnya? Dengan lirikan mata, Kibum kemudian menyuruh Siwon untuk mengikutinya masuk ke dalam rumahnya. Dan seolah terkena pengaruh sihir atau hipnotis, Siwon menurut. Ia melangkahkan kaki panjangnya masuk ke dalam rumah megah itu.

Pintu di belakangnya terbanting ketika Siwon menjejakkan kakinya di lantai kayu tersebut. Anehnya, Siwon tidak peduli, seolah-olah itu adalah hal biasa. Namja tinggi itu terbius oleh kemegahan rumah Kibum.

Bau darah dan amis entah dari mana yang tadi Siwon cium berganti dengan wangi parfum elegan yang enak dicium. Lampu-lampu yang tadinya berkarat dan dijadikan rumah oleh para laba-laba sekarang berpendar terang. Warnanya kuning dan bersih, membuat kesan mewah semakin menempel pada tiap perabot di rumah itu. Di hadapan Siwon ada lorong yang tidak begitu panjang, dengan diakhiri pada anak tangga kayu di ujung sana.

Penggabungan unsur Jepang dan Amerika membuat rumah ini unik.

"Siwon?" tanya Kibum seraya memunculkan kepalanya dari salah satu ruang tanpa pintu. Siwon terkejut dan cepat-cepat menghampiri Kibum.

Ya Tuhan.

Ruangan yang dilihat Siwon benar-benar ruangan paling megah yang pernah Siwon lihat dalam satu rumah. Perabot emas dan perak bertebaran dimana-mana. Di salah satu sisi dinding terdapat perapian mewah yang tidak menyala. Empat sofa empuk berhadap-hadapan terletak di tengah ruangan, mengelilingi sebuah meja berpelitur cantik. Ada sebuah piring penuh dengan cookies dan juga seperangkat alat minum diatasnya.

Kibum duduk di salah satu sofa single. Kakinya disilangkan anggun, dan ia sedang menuang teh ke dalam satu cangkir. Kelihatan sekali ia yeoja terpandang. Derajatnya tinggi.

"Duduklah. Kau mau teh?" tanya Kibum seraya melirik Siwon.

Siwon mengerjap. Ia duduk di sofa berhadapan dengan Kibum dan menggeleng pelan. Otaknya masih sulit memproses ini semua. Aneh. Aneh. Sangat aneh.

Ini mimpi bukan sih?

Baru saja Siwon akan menampar pipinya untuk meyakinkan diri sendiri, Kibum sudah menyahut terlebih dahulu. "Aku rindu keluargaku. Biasanya aku akan bersantai dengan umma dan appa-ku kalau weekend. Kami akan mengobrol banyak di ruangan ini."

Siwon mengangguk-angguk –lebih karena tidak tahu apa yang harus diucapkan. Kibum pun tidak berkata satu huruf pun setelah itu.

Membuat keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu.

Siwon melirik gelisah pada sebuah gorden yang melambai karena jendela yang tidak ditutup. Firasatnya tidak enak. Sungguh.

Cukup lama mereka saling diam, hingga Kibum meletakkan cangkir tehnya dengan sopan dan penuh tata karma di atas meja. Kelihatan tahu etika.

"Ayo, aku ingin mengajakmu ke kamarku."

. . .

Siwon terperangah melihat mewahnya kamar Kibum. Sebuah kasur empuk dengan empat tiang terletak di sudut kamar. Mewah, seperti kasur kerajaan. Kibum benar-benar anak orang kaya rupanya.

Belasan, atau bahkan puluhan pigura terhampar di dinding dan meja kamar Kibum. Siwon melirik satu pigura berbentuk love. Ada foto Kibum dengan seorang namja yang lumayan tampan didalamnya. Kibum sedang berangkulan mesra dengan laki-laki itu, dan ia tersenyum lebar.

Siwon merasa hatinya ditikam pelan. Entah kenapa, ia tidak suka melihat foto itu. Kenapa Kibum tidak bisa tersenyum begitu manis padanya?

"Kibummie, ini –"

Siwon memutar kepalanya dan terperanjat menemukan ruangan gelap. Aneh. Tadi kan Kibum menyalakan lampu? Ngomong-ngomong Kibum, kemana –

Ya ampun, Kibum menghilang. Uh, kemana dia?

Perlahan dengan langkah berjingkat, Siwon keluar dari kamar Kibum, dan rumah yang gelap dan suram menyambutnya. Bau amis itu kembali menyeruak. Siwon bisa merasakan keringat dinginnya mulai menetes saat angin malam menyapa kulitnya dari jendela-jendela yang kelihatannya tidak bisa ditutup. Keadaan remang-remang dan abu-abu.

Hei, kenapa Siwon jadi pengecut seperti ini sih?

Astaga, apa itu? Kenapa Siwon melihat siluet sesosok tinggi di ujung lorong? Ya Tuhan, orang itu membawa pisau! Siwon bisa melihatnya karena ujung besi benda runcing tersebut berkilau diterpa sinar bulan. Namja dengan tinggi badan 180 cm itu lantas gemetar. Ia menelan ludah takut saat orang itu mulai berjalan ke arahnya.

Mau apa dia?

DEG!

Tring.

"AAAAAAAAAAAAAAHHH!"

Siwon berteriak. Orang di ujung sana menjatuhkan sesuatu di tangannya. Suara pisau jatuh dan dentingannya yang tajam benar-benar meninju rasa takut Siwon. Kaki panjangnya berlari panik menuruni tangga. Jantungnya serasa mau meledak. Darahnya berdesir kencang.

Tanpa aba-aba, ia keluar dari rumah Kibum, menerjang menembus police line hingga tali kuning itu putus, membanting pintunya dan langsung meloncat ke atas motor.

Ia menghidupkan motornya dan menjauh dari tempat itu dengan kecepatan 100 km/jam. Benar-benar melaju kencang. Dan ia tidak mempedulikan keadaan helmnya yang bahkan belum terkancing sempurna.

(Siwon's flashback off)

Siwon membanting tubuhnya di atas tempat tidur –yang langsung memantulkan tubuhnya kembali karena efek per di bawahnya. Sekujur tubuhnya lelah sekali.

Siwon membalikkan tubuhnya. Ia tidur menghadap ke kanan, dimana angin dingin AC ruangan itu menerpa wajahnya. Siwon membiarkannya. Mencoba membuat matanya berat dan lelah. Yang ia mau sekarang ini adalah langsung tidur dan melupakan segala yang sudah menimpanya dua hari belakangan ini.

Melupakan saat-saat Kibum membuatnya pingsan.

Melupakan sepotong kenangan Kibum yang yeoja itu hadirkan saat ia di perpustakaan.

Melupakan saat Kibum membunuh seseorang, persis dihadapannya tanpa menyentuh orang itu sama sekali.

Melupakan saat Kibum meminjam tubuhnya.

Melupakan saat-saat ia pergi ke rumah Kibum.

Melupakan kelebat bayangan orang yang membawa pisau.

Dan melupakan Kibum..

"Whoaaa –mpph!"

Siwon kembali berteriak untuk yang kesekian kalinya hari itu saat Kibum muncul di hadapannya. Yeoja itu tiba-tiba saja berbaring disampingnya dan menatap kelereng mata coklatnya lekat-lekat. Muncul tiba-tiba seperti asap.

Dan Kibum menyetop teriakan Siwon dengan mencium bibirnya. Ya, Kibum melumat bibir Siwon selama sedetik. Nyata. Bibir dingin Kibum beradu dengan bibir hangat Siwon. Kontan, sang namja melotot.

"Sh*t up, you might had awakened up all people around.." ("Diamlah, kau bisa saja membangunkan semua orang..") sahut Kibum tenang.

Siwon menelan ludah gugup. Tubuhnya seperti kayu sekarang. Siapa tahu tubuhnya bisa patah kalau Kibum melakukan kontak dengannya lagi. Berusaha tenang, Siwon mengatur nafasnya. Ia tidak ingin kelihatan takut di depan Kibum –meskipun sebenarnya itu yang terjadi. Matanya menelusuri wajah Kibum yang cantik.

Oh well, yeoja itu tidak semengerikan tadi, saat meminjam tubuhnya. Bibirnya merah merona –walau agak pucat. Pipinya tetap chubby. Hidungnya masih mancung. Dan matanya masih coklat, namun..

Gulp.

Siwon menelan ludah lagi diam-diam. Mata coklat Kibum menatapnya penuh dendam. Sarat akan kemarahan yang kental. Astaga, astaga, astaga.

"Kenapa tadi kau lari begitu saja, hmm, Siwon?" tanya Kibum lembut. Tangan kanannya yang putih dan halus membelai pelan pipi kiri Siwon. Namja itu bisa merasakan jemari Kibum yang lentik dan hangat menyentuh permukaan pipinya.

Oh Tuhan. Kibum sedang menjadi manusia. Seluruh bulu kuduk di sekujur tubuh Siwon praktis berdiri.

"M-maafkan aku, tapi aku tidak sanggup berada lebih lama disana. A-auranya mengerikan.." gugup Siwon jujur. Kibum tersenyum sedih mendengarnya. Yah, memang hanya senyum itu yang bisa ia hadirkan.

"Yah, tidak apa-apa. Aku hanya masih ingin bercerita lebih banyak padamu, tapi kau tiba-tiba saja pergi.." sahut Kibum lirih. Ekspresinya melunak. Tatapannya seolah menyiratkan bahwa ia meminta maaf pada Siwon –membuat namja itu merasa rileks.

Tapi.. cukup!

"Kibummie, aku ingin tahu, kenapa sebenarnya kau melakukan ini? Sebenarnya kau ingin minta tolong apa kepadaku?" tanya Siwon penasaran. Ia mengatakan itu dengan tegas dan lantang –serius. Meskipun tidak bisa ia pungkiri, kalimat itu ia utarakan setelah mati-matian mengais dan memupuk keberanian.

Kibum menyunggingkan senyum sedih dan menggenggam tangan Siwon, membuat detak jantung Siwon serasa berhenti untuk dua detik. Tangan Kibum kecil, halus dan rapuh. Membuat Siwon ingin merengkuh yeoja itu ke dalam pelukannya.

"Ini sudah berlalu selama 11 tahun. Namun untukku seolah baru kemarin terjadi. Sungguh mengerikan."

Tanpa sadar, Siwon menyamankan posisi tubuhnya saat Kibum mulai bercerita. Seraya menggenggam tangan yeoja itu erat, Siwon terus menatap lekat bola mata Kibum. Sungguh, posisi mereka sudah seperti sepasang suami istri yang sedang saling bercerita.

"Aku gadis pindahan dari Seoul, Korea. Dari semenjak berumur 5 tahun, aku sudah tinggal disini –mengikuti appa yang pindah karena dinas."

"Well, aku bisa dibilang yeoja paling bahagia di dunia. Di umurku yang ke -16, aku adalah seorang yang pintar, menguasai 5 bahasa sekaligus, lalu –"

"Wow, empat bahasa? Apa saja?" potong Siwon takjub.

Kibum menyipitkan matanya, membuat Siwon terlonjak. Bukan, itu bukan tatapan marah. Mata Kibum menyipit dan membentuk senyuman, padahal wajahnya sedih –itu yang membuat Siwon terkejut.

"Aku menguasai bahasa Inggris, Korea, Prancis, Jepang, dan Amerika Kuno. Yah, aku memang senang belajar. Aku juga cantik –kata teman-temanku, sih, tapi aku mengakuinya juga. Banyak namja di sekolah yang menyukai dan menyatakan cinta padaku. Semua orang mengenal dan sayang padaku. Orangtuaku sempurna. Ibuku cantik dan pintar, sementara ayahku tampan dan jenius. Aku dikelilingi orang-orang hebat. Yang sempurna, yang pintar, yang baik, yang cantik, yang tampan, yang jago olahraga, dan lain-lain. Aku punya belasan orang yang kuanggap sebagai sahabat baik."

Siwon mengerjap. Kata 'sempurna' sepertinya tidak cocok disematkan di sini. Seharusnya ada kata yang lebih cocok, entah apa. Sesuatu di atas sempurna.

"Well, itu semua berakhir ketika aku menemui seorang namja saat umurku 22 tahun. Namja itu tampan, tinggi, dan berkharisma. Atlit dan dewa basket. Seorang kapten tim basket terkenal di UChicago saat itu."

Oh iya. Berarti Kibum pernah kuliah di tempat yang sama dengan Siwon?

Seolah mengerti isi hati Siwon, Kibum mengangguk halus. "Ya, aku pernah kuliah disitu. Hidupku benar-benar sangat indah, apalagi aku menjadi kekasih orang yang menjadi cinta pertamaku."

Mata Siwon melebar. Entah kenapa, ia tidak begitu suka saat Kibum mengatakan bahwa namja atlit basket tadi adalah kekasih sekaligus cinta pertamanya. Seolah ada kuku yang tidak kelihatan sedang menggaruk hatinya. Ngilu.

"Sampai suatu hari ia mengajakku pergi ke rumahnya. Ia bilang, ia punya sesuatu yang menarik di sana. Aku menurut. Dan ternyata, sesampainya aku dirumahnya pada jam 12 malam, aku.."

Kibum terlihat sedang menarik nafas –ah, tapi Siwon mungkin hanya sedang berkhayal.

"Aku.. Aku diperkosa olehnya. Keperawananku direnggut paksa. Ketika aku mengancam akan melaporkannya pada polisi, ia malah membunuhku."

Mata Siwon membola. Ia bergidik ngeri mendengar Kibum menceritakan hidupnya dengan begitu mudahnya. Begitu ringan. Seolah ia hanya sedang memberitahu sebuah dongeng kecil tragis –dimana sang putri di tokoh utama mati karena cintanya kepada sang pangeran. Namun begitu, Siwon bisa merasakan tangan Kibum yang ia genggam mengerat. Untuk yang satu ini, Siwon yakin ia tidak berhalusinasi.

Namun, jujur saja, Siwon rasanya ingin mengamuk membayangkan Kibum diperkosa. Sungguh menyakitkan.

"Yah, begitulah. Ketika aku keluar dari tubuhku, laki-laki itu langsung membopong badanku dan mengikatnya erat dalam sebuah kantong besar. Lalu ia melajukan mobilnya ke suatu tempat yang gelap dan suram dengan badanku yang terbungkus di jok belakang. Aku tidak tahu tempat apa itu –yang aku tahu, laki-laki itu mengubur tubuhku dan membakar tanahnya."

Siwon terpana karena takjub. Air wajah Kibum tidak berubah sedikit pun saat bercerita. Otak Siwon membeku dibuatnya.

"Esoknya, aku 'pulang' ke rumah, untuk memberitahu orangtuaku. Dan aku benar-benar tidak percaya pada mataku sendiri saat melihat orangtuaku sudah tewas. Appa meninggal dengan mata terbuka dan ekspresi kesakitan, sementara umma meninggal karena luka tusuk di dada."

"Sekejap aku mengedip, jasad orangtuaku hilang. Ceceran darah tiba-tiba sudah tidak ada –berganti dengan debu tebal yang menutupi lantai. Rumahku menjadi sangat tua dan tidak terurus. Aku lalu berlari keluar dan benar-benar tidak menyangka. Halaman rumahku sudah berubah drastis. Dari yang awalnya berjejer pohon maple cantik, berubah menjadi pohon menyeramkan. Aku tidak mengenali lagi pohon apa itu, yang jelas, akar tuanya merembet ke rumahku dan membelit tiangnya. Di depan rumah, tertumpuk segunung daun-daun berwarna kuning lebar. Rumah-rumah tetanggaku juga sudah terlihat tidak ditempati lagi. Gelap dan suram."

Astaga. Yang satu itu lumayan menyeramkan.

"Aku mengalami perjalanan waktu yang aneh dan menyeramkan. Tiba-tiba saja 11 tahun sudah berlalu. Namun begitu, aku mulai menyadari, bahwa sebagai roh yang tidak bisa 'pergi', aku punya banyak keistimewaan. Aku berjalan ke kampusku untuk meminta tolong seraya melatih kemampuan itu. Laki-laki mantan kekasihku tentu saja sudah tidak ada. Jadi aku berjalan-jalan di sekeliling kampus. Dan kau, Choi Siwon, kau menarik minatku saat sedang berjalan bersama Donghae. Jadi, aku mengikutimu dan membaca pikiranmu."

DEG!

"Entahlah. Sebenarnya aku bisa saja meminta tolong pada orang lain, namun mereka terlihat tidak bisa diandalkan. Jadi aku memilihmu."

Kalau boleh jujur, dada Siwon dilingkupi perasaan hangat saat Kibum mengatakan itu. Seolah, ia bisa dipercaya. Dan Kibum memilihnya karena ia.. Istimewa, mungkin?

"Jadi.. Aku ingin meminta tolong.. Aku ingin kau membantuku mencari jasad kedua orangtuaku. Aku yakin, mereka juga 'terjebak', sama sepertiku. Dan aku ingin juga menemui laki-laki yang sudah membunuhku untuk mengatakan sesuatu, sebelum aku 'pergi' bersama orangtuaku."

Tanpa benar-benar berpikir apa yang sedang diucapkan dan dilakukannya, dengan amarah yang meluap entah karena apa, Siwon mengelus pipi Kibum, menatap mata hantu itu lekat-lekat dan berkata. "Siapa nama namja bejat itu?"

"Namanya.."

.

.

.

TBC

Review Reply :

PrincesOnew1412 : Suka? Syukurlaaah ~ ^^ Gomawo! Mind to review again? ^^

Cloud'yeppa : Daebak! ^^ Gomawo! Mind to review again? ^^

Choikyuhae : Hahaha, itu semua satu persatu-satu akan terjawab ya ^^ Gomawo! Mind to review again? ^^

Lee HyoJoon : Tenang saeng, semua ff itu on-progress kok ^^ Mianhae Saengie, tapi ff ini akan banyak membutuhkan OC, karena pada dasarnya Hyo gak mungkin pake cast SM banyak-banyak, sementara settingnya sendiri di Amerika DX Gomawo! Mind to review again? ^^

Ticia : Hehehe ^^ Gomawo! Mind to review again? ^^

Jeng Kyura : Oh ya? Terima kasiiiiiiih ~ ^^ Tentu boleh, dengan senang hati ^^ Walau sebenarnya Hyo milih chingu review walau ketinggalan, karena dengan itu Hyo tahu ada yang baca fanfic Hyo ^^ Twitter? Wah, mianhae, Hyo gak punya ;w; Gomawo! Mind to review again? ^^

Shippo Baby YunJae : Hebat? Ah, chingu berlebihan ^^ FF yang lain juga? ^^' Gomawo! Mind to review again? ^^

RistaMbum : Daebak? Omooo, terimakasih ^3^ Gomawo! Mind to review again? ^^

dhia salsabilla : Oke ^^ Gomawo! Mind to review again? ^^

Ichigobumchan : Ini udah lanjut yaaaa ~ ^^ Gomawo! Mind to review again? ^^

Seo Shin Young : Ne, Fred dan Alex itu OC ^^ Gomawo! Mind to review again? ^^

chagyumin : Hahaha, betul ^^ Gomawo! Mind to review again? ^^

Sibumxoxo : Serem? Muehehehe ^^ Gomawo! Mind to review again? ^^

ChoiNia17407 : ^^ Ini udah lanjut ~ Gomawo! Mind to review again? ^^

EvilKyung : Tahan nafas? Eh, jangan, nanti kamu mati *plak! Gomawo! Mind to review again? ^^

wonniebummie : Nde, hahahaha ^^ Gomawo! Mind to review again? ^^

Princess kyumin : Okeee, ini sudah lanjutt ~ ^^ Gomawo! Mind to review again? ^^

SiwonKibummie : O-nya gede amat chingu *plak! Gomawo! Mind to review again? ^^

yolyol : Wah, pertanyaan chingu spoiler semua ^^'a Gomawo! Mind to review again? ^^

nina : Hahaha ^^ Gomawo! Mind to review again? ^^

melly : Oke ^^b Gomawo! Mind to review again? ^^

maya sakura : Ini udah lanjut ya ^^ Gomawo! Mind to review again? ^^

iruma-chan : Oh ya? ^^ Gomawo! Mind to review again? ^^

Viivii-ken : Welcome back, Vii-ssi ^^ Makhluk gaib beneran? XD Gomawo! Mind to review again? ^^

Bluesky : Oke, Hyo gak lupa kok, sama FF yang lebih dulu sukses (?) Semoga ini gak lama ya ^^' Gomawo! Mind to review again? ^^

rikha-chan : Hehehe ^^ Gomawo! Mind to review again? ^^

bumhanyuk : Hahaha, oke oke ^^ Gomawo! Mind to review again? ^^

desysaranghaesuju : Spoiler! Mianhae ya, tapi nanti kejawab kok Gomawo! Mind to review again? ^^

Lin Narumi Rutherford : Kurang lebih begitu ^^ Gomawo! Mind to review again? ^^

fardil : Hahaha ^^ Gomawo! Mind to review again? ^^

Yechan3424 : Annyeong ^^ Ini udah lanjut ya ^^ Gomawo! Mind to review again? ^^

Zae-Hime : Oke, ini udah update ya ^^ Gomawo! Mind to review again? ^^

Muftia imnida : Hahaha, oke, ini udah lanjut ^^ Gomawo! Mind to review again? ^^

sitimuayanah : Oh ya? Terimakasih ^^ Gomawo! Mind to review again? ^^

VanillaLatte98 : Oh ya? Kekeke ~ Terimakasih ^^ Gomawo! Mind to review again? ^^

Love Sibumppa : Oke ^^ Gomawo! Mind to review again? ^^

Kim kihae : Oke, ini udah update ya ^^ Gomawo! Mind to review again? ^^

A/N : Namanya..

Namanya..

Namanya..?

Siapa hayoooooooooo, kekeke ~ #plak!

Annyeong readerdeul ^^v

Hyo kembaliii, mianhae baru bisa bales review sekarang ^^'

Oke, silakan di review untuk menebak siapa nama yang akan disebutkan Kibum. Hyo gak akan kasih clue ya ^^v

*Hyo*