Disclaimer: I own nothing here. All of them, belong to JK Rowling, Warner Bros company. I just own the plot.
They Should Have Known
Harry Potter © JK Rowling
.
.
.
Seharian itu Emma terlihat sangat tegang. Hermione dan Harry tampak cemas. Dan Ron yang baru mengetahui cerita lengkapnya saat makan malam, langsung tampak kesal setengah mati. Akhirnya, karena capek akan reaksi dari ketiga temannya, Emma memutuskan keluar dari ruang rekreasi. Emma mengecek arlojinya, dan melihat bahwa arloji itu menunjukkan jam sembilan malam.
"Mari kita berjalan-jalan," gumam Emma. Dia berjalan ke arah utara kastil, bertemu beberapa hantu, dan tahu-tahu sekarang dia sudah sampai di lorong. "Lorong. Kenapa aku bisa ada di lorong, sih."
Suara langkah yang cepat menyentakkan Emma. Dia otomatis memutar balik, dan tongkatnya sudah siap di tangan. Kejadian di Departemen Misteri tahun lalu membuat Emma selalu waspada. "Siapa itu? Lumos," Emma bertanya, dan menyalakan cahaya dari ujung tongkatnya. Cahaya di ujung tongkatnya mengenai seseorang. Emma terperanjat. "Kau. Sedang apa kau di sini?"
Orang itu menyeringai, tapi terlihat sekali wajahnya diliputi ketakutan. "Kau sendiri sedang apa di sini? Jalan-jalan malam, eh?" orang itu bertanya menantang.
"Kau belum menjawabku. Sedang apa kau di sini, malam-malam begini? Jawab aku, Malfoy," kata Emma sengit. Malfoy semakin pucat. Emma berjalan mendekati Malfoy, tongkatnya di arahkan ke dinding di belakang pemuda itu. Seketika wajah Emma menyiratkan pemahaman. "Kau ke sana, lagi. Pernahkah kau menyerah?"
"Aku sudah berhasil. Untuk apa aku menyerah?" jawab Malfoy penuh kemenangan. Emma terlihat sangat kaget, tubuhnya membeku.
"Ka-kau berhasil? Kau tidak akan melakukan hal itu, kan? Kumohon, Malfoy," sekarang Emma terlihat memohon.
"Tidak. Aku akan memasukkan mereka ke kastil. Jangan halangi aku," kata Malfoy tegas. Emma bisa mendengar ada nada keputusasaan dalam kalimat tadi.
"Aku lakukan apapun. Asalkan kau tidak masukkan para Pelahap Maut itu ke sekolah," kata Emma pasrah. Dia sudah tak tahu mau melakukan apalagi. Kini giliran Malfoy yang terperanjat.
"Kau serius? Apapun?" tanya Malfoy memastikan. Sedetik, dan wajahnya berubah licik. Gadis di depannya bergidik sedikit.
"A-apapun. Yang penting tak ada satu pun Pelahap Maut masuk ke sini," ucap Emma yakin. Pikirannya sudah dipenuhi hal-hal menakutkan jika Pelahap Maut berhasil masuk ke kastil. Terlebih jika yang masuk adalah Bellatrix Lestrange. Dia khawatir akan kesalamatan warga sekolah. Terutama Harry. Seluruh pikirannya terpusat pada Harry.
"Oke. Aku mau kau, menjauh dari si Potter," Malfoy menyeringai. Emma tersentak. Walau dia tahu pasti itu yang Malfoy minta, tetap saja, dia terkejut.
"Ugh. Baiklah. Aku akan menjauhi Harry," Emma menghela nafas. Tak percaya akan apa yang baru ia katakan. Dengan kalimat tadi, dia pun berjalan meninggalkan Malfoy sendiri.
XxoooxX
"Pagi semua," sapa Harry. Semua yang ada di meja Gryffindor menyapanya kembali. Semua kecuali, Emma. Masih terpeta jelas di ingatan gadis itu tentang insiden semalam, dan kalimat sialan yang ia ucapkan.
"Kau tidak makan, Emma?" tanya Harry ramah. Emma tidak menjawab. Tahu benar gadis itu bahwa Malfoy sedang memperhatikannya dari meja Slytherin.
"Aku baik-baik saja. Tolong jangan tanya apa-apa lagi," jawab Emma dingin. Seolah tersihir, seluruh murid Gryffindor menoleh ke arah Emma dengan kernyitan di dahi. Malfoy tersenyum licik dari meja Slytherin. Emma mengutuk pemuda Slytherin itu keras-keras dalam hati.
"Kau tidak sakit kan, Em?" tanya Ron sedikit bercanda. Emma melunak, bahkan tersenyum. Perjanjian terkutuk itu hanya melibatkan Harry.
"Oh, aku sakit. Sakit keras malah," jawab Emma bergurau. Harry merasa sedikit aneh.
"Mau main Quidditch? Aku penasaran dengan kehebatanmu," tawar Harry nyengir. Emma kembali datar.
"Tidak. Aku sibuk," katanya singkat. Hatinya sakit. Terlebih lagi saat melihat Harry menyadari keanehan gadis itu.
