Jika AkaKuro adalah sepasang murid bandel dan guru

Kamar mandi siswa adalah ibarat ruang ekspresi bagi para murid. Tidak akan ada yang melihat siapa yang berekspresi namun setiap orang bisa melihat hasil dari apa yang ia ekspresikan. Menjelek-jelekkan guru misalnya atau curhat. Tembok kamar mandi adalah korbannya.

Atau anak bandel berambut merah ini yang sedang merokok di toilet. Melanggar peraturan sekolah itu boleh, yang penting jangan ketahuan guru. Kalau ketahuan, yah nasibnya saja yang sedang apes.

Akashi sudah tebal kuping dimarahi guru. Ia pernah dimarahi oleh guru karena rambutnya tapi orangtuanya menjelaskan kalau rambut Akashi memang sudah dari lahir seperti itu jadi mau bagaimana lagi.

Selain itu Akashi juga pernah dipanggil ke ruang BK karena berkelahi dengan teman sekelasnya, Aomine. Mereka berkelahi karena perbedaan pendapat. Aomine yang berpendapat kalau dirinya itu tampan, keren, dan pemberani sedangkan Akashi berpendapat kalau Aomine itu jelek, item, bulukan, dakian. Lalu mereka bertengkar.

"Eh pak guru cantik"

Kuroko mendapati muridnya sedang merokok di toilet. Cowok SMA jaman sekarang yang namanya rokok itu sudah biasa. Justru kalau cowok gak ngerokok itu baru luar biasa.

Kuroko menatap Akashi dengan pandangan tajam. Pokoknya seram. Akashi malah tertawa cengengesan karena ditatap oleh gurunya dan kedapatan merokok di toilet sekolah.

"Pak, toilet cewek di sana. Ini toilet cowok. Bapak salah masuk"

Sebenarnya Akashi mengungkapkan kekesalannya kepada gurunya ini. Tapi kata-kata kasar bukanlah sahabat Akashi. Sebelum mendapat hukuman, Akashi mendapatkan hadiah sebuah tangan yang melayang ke telinganya.

Udah mah bandel, kurang ajar lagi ini anak. Tiap guru sebel banget sama Akashi. Bandel tapi pinter banget. Juara satu terus, nilainya sempurna. Jadi perwakilan sekolah tiap ada lomba-lomba. Nyebelin banget.

"KAMU BETAH BANGET YAH DI RUANG BK? BERSIHIN INI TOILET TERUS KE RUANG BK!"

Namanya juga anak bandel, dihukum berkali-kali gak akan kapok karena moto hidup mereka adalah 'peraturan adalah untuk dilanggar' sama seperti author yang memiliki moto hidup demikian :v /tos sama Akashi bandel

"Buat bapak apa sih yang enggak?"

Akashi menghisap rokoknya untuk yang terakhir, membuangnya ke lantai kamar mandi dan menginjaknya. Ia menghembuskan asap rokoknya ke arah Kuroko dan Kuroko terbatuk. Kuroko tidak menyukai asap rokok, karena itu ia tidak menyukai perokok.

CUPP

Kuroko mengecup bibir Akashi sekilas dan berbicara dengan suara rendah di depan telinga Akashi yang membuat Akashi bergidik mendengarnya.

"Jangan merokok lagi"

Oke. Nanti Akashi bakal terus-terusan ngerokok biar sering dicium sama pak guru cantik.

.

.

.

Jika AkaKuro adalah sepasang tukang ojek online dan penumpangnya

"Pesan ojek yah?"

Sekarang makin banyak ojek online yang berkeliaran di setiap penjuru kota. Lalu, semakin banyak pula perusahaan yang menyediakan ojek online. Seperti Rakujek yang Akashi pesan misalnya.

"Iya, ke kantor Rakuzan yah"

Kuroko memberikan helm kepada penumpangnya dan Akashi naik di jok belakang. Si tukang ojek memacu maju motornya.

'kang ojeknya cakep'

"Mas lagi buru-buru gak?"

"Enggak sih, tadi saya pesan ojek soalnya sopir saya sakit perut. Ogah banget saya ke kantor bawa mobil sendiri. Kasian juga kalo maksa dia"

"Oh mas mau ke kantor, kalo gitu motornya saya cepetin aja yah?"

Kuroko menaikan laju kendaraannya. Akashi sedikit terjengkang ke depan dan refleks memeluk pinggang Kuroko.

"Jangan! kayak tadi aja"

"Loh? Nanti mas telat ke kantor gimana?"

"Lagian saya ini yang punya perusahaan. Eh jangan panggil mas dong, saya kan bukan orang jawa. Saya orang Sukabumi. Panggil Aa Juro"

"Err baiklah"

Sebagai tukang ojek, Kuroko sudah bisa di peluk seperti ini. Sama cewek, sama cowok, sama ibu-ibu atau bapak-bapak, dengan gaya memeluk yang berbeda-beda. Kalo cewek yang lagi buru-buru dan penakut, pasti memeluk Kuroko sambil memejamkan matanya karena Kuroko memacu kendaraannya dengan kecepatan yang cepatnya astagfirullah. Rosi aja kalo balapan sama Kuroko pasti kalah.

Akashi gaya meluk Kurokonya beda. Ia peluk Kuroko karena tadi terjengkang, terus sampai sekarang ia tidak melepaskan pelukannya. Kemudian lengan Akashi gak mau diam, gerak-gerak terus kemana-mana.

'perutnya rata. Tipe roti tawar'

Gimana gak tergoda sama Kuroko. mukanya imut, badannya bagus. Kesempatan gitu mumpung lagi dibonceng sama Kuroko, nanti-nanti mah Akashi yang nyetir deh. Ia terbuai sampai tanpa sadar meraba-raba bagian 'bawah' Kuroko. membuat Kuroko oleng ke kiri, kemudian Kuroko meminggirkan motornya di bahu jalan.

"Turun!"

"Belum sampai tujuan kok udah diturunin sih?"

"Ya habisnya megang-megang kemana-mana. Saya bisa laporin nih ke polisi masalah pelecehan seksual"

"Neng minta nomernya dong, pin BB atau WA"

"MALAH MINTA NOMER SAMA PIN BB! TURUN! SAYA INI LAKI-LAKI TULEN, BUKAN PEREMPUAN!"

"Neng kok galak sih sama aa?"

"Pokoknya turun sekarang! Turun! TURUN!"

Akashi tidak menyerah. Ia kemudian mengeluarkan jurus pesona andalannya. Akashi menyisir rambutnya dengan jari ke arah belakang ketika mobil di jalanan melaju ekncang sehingga menimbulkan angin yang berhembus sekejap.

"Neng gak tau siapa saya?"

"A, tadi saya udah bilang saya itu bukan perempu-"

Kuroko kaget melihatnya. Bukan karena terpesona dengan aura Akashi, tapi karena Kuroko baru menyadari kalau yang ia bonceng adalah pemilik perusahaan Rakujek.

"Maaf pak. Ampun pak jangan pecat saya, saya belum bayar kostan dua bulan. Nanti bapak kost saya ngamuk lagi"

"Buat kamu apa sih yang enggak? Ayo neng jalan lagi"

Sepertinya Kuroko harus mengikuti temannya yang suka membawa-bawa lucky item. Siapa tahu saja hari ini adalah hari sialnya. Hari ini memang hari sial Kuroko. Yang sabar aja bonceng Aa Juro sambil di grepe-grepe :v

.

.

.

Jika AkaKuro adalah Dimas Kanjeng dan kliennya

Kuroko datang kepada dimas kanjeng terdekat. Ia membawa uang lima juta rupiah untuk digandakan.

"Mbah, sebelumnya saya mau tanya. Sarimin isi dua itu ulah mbah ya?"

Biasanya sarimin itu isinya satu, tapi sekarang berlipat ganda menjadi dua. Wajar saja sih jika orang-orang menyangka penyebabnya adalah dimas kanjeng.

"Bukan. Mungkin itu ulah dimas kanjeng selain saya"

Dimas Kanjeng Akashi kemudian memasukan uang cash sejumlah lima juta rupiah ke dalam kotak hitam. Ia mengucap mantra dan membalik kotak. Tapi ketika membuka kotak, bukan uang 25 juta rupiah yang ada.

"Kok yang keluar malah buku nikah?"

"Pernikahan kita sudah langsung dicatat di KUA. Sekarang kita sudah resmi menikah. Resepsinya mau kapan?"

"Gak lucu mbah. Mana duit saya?"

"Tuh liat udah ada foto kita sama tanda tangan kita. Kita udah sah"

"Eh kalo gak ada saksinya, gak sah"

"Dua orang saksinya ada di belakangku"

Ruangan ini gelap sekali. Hanya ada sebatang lilin yang menerangi. Kenapa juga dimas kanjeng ini sukanya gelap-gelapan.

"Uang 25 juta rupiahmu sudah masuk ke dalam rekeningku untuk pesta pernikahannya. Biar aku yang urus semuanya, kamu tinggal santai saja"

"Ini namanya penipuan"

"Penipuan? Kamu masukin lima juta dan dapat 25 juta plus suami. Kamu untung parah tau"

"Masa saya punya suami mbah-mbah begini? Gak mau ah"

Akashi membuka jubah hitamnya dan menampilkan dirinya yang memakai kemeja merah marun tangan pendek dan celana bahan. Ia menghampiri kliennya dan langsung mencium bibirnya.

"Kita sudah sah kan? Ke rumahku yuk, kita mulai malam pertama kita"

Si klien memberontak karena di gendong ala karung beras oleh dimas kanjeng. Ini bukanlah hal yang ia inginkan.

Nb: duit 25 juta rupiah itu cukup buat pesta pernikahan yang sederhana

.

.

.

Jika AkaKuro adalah sepasang tukang angkot dan kenek

"Sewa baru tiga, bang Sei cari penumpang dong"

"Iya bentar ngabisin gorengan dulu. Satu lagi nih"

Akashi menghabiskan gorengannya yang tinggal satu buah kurang dari 30 detik. Ia kemudian langsung mencari penumpang. Tidak peduli suaranya yang cempreng, ia berteriak untuk mencari penumpang.

"SEIRIN SEIRIN SEIRIN! AYO PAK KE SEIRIN!"

Tidak membutuhkan waktu yang lama karena penumpang langsung berdatangan. Cuma ngetem lima menit di lampu merah, dan angkotnya sudah terisi setengah penuh. Mudah sekali mencari penumpang jika yang jadi kenek adalah Akashi. Andai saja mencari perasaan spesial Kuroko terhadap Akashi semudah ini #eeaaa

Kuroko tidak mau membuat penumpang menunggu terlalu lama. Ia ingin segera memberangkatkan kendaraannya.

"Bang segini aja, biar gak lama ngetemnya. Kasian penumpang nunggu lama"

Akashi membantu Kuroko untuk memajukan kendaraannya. Ia ngetem di dekat lampu merah, jadi mereka harus lebih berhati-hati.

"Awas kanan ada motor. Yo maju. Wooy! Tungguin! Abang belum naek!"

Kuroko langsung memajukan kendaraannya padahal Akashi belulm naik. Akashi langsung berlari untuk mengejarnya.

Suasana sepi karena hari sudah malam dan penumpang juga tidak berisik karena lelah beraktivitas seharian. Kuroko sedikit heran karena Akashi yang biasanya berisik jadi tenang. Ia meminggirkan kendaraannya di bahu jalan dan menengok ke belakang.

"Abang keneknya mana?"

Kuroko menunggu Akashi untuk mengejar mobilnya. Tak lama, Akashi datang sambil berlari dan terengah-engah kecapean karena mengejar mobil.

"Abang bilang maju tapi gak berarti ninggalin abang juga kali. Dede gimana sih!?"

"Ya maaf bang, kirain abang udah naek. Sekarang udah naek kan? Maju lagi yak?"

"Iya"

Seluruh penumpang tertawa melihatnya. Walau ada beberapa yang senyum-senyum gak jelas, mungkin dia fujoshi.

Wahai bagi seluruh sopir dan kenek angkot. Jadilah tampan seperti Akashi dan Kuroko supaya penumpangnya betah naik kendaraan umum /gagitu

SKIP TIME

.

"Angkotnya udah kosong, padahal baru nyampe Touou nih. Bang Sei, gantian dong aku capek"

Kuroko meminggirkan angkotnya dan bertukar posisi dengan Akashi. Karena sudah kosong, Kuroko duduk di kursi depan menemani Akashi di samping kursi kemudi.

Ponsel Akashi berbunyi. Mumpung belum memajukan kendaraannya, Akashi mengangkat sendiri ponselnya yang berdering.

"Belum lewat Kirisaki, masih di Touou kok. Oh baiklah, makasih infonya Bang Sat"

Akashi mematikan ponselnya dan memajukan kendaraannya. Ia memutar balik kendaraannya.

"Loh kok muter balik? Rumah aku kan di Seirin, gimana aku mau pulang dong kalau muter balik? Trus yang tadi nelepon siapa?"

"Kasamatsu. Dia bilang daerah Kirisaki macet parah karena ada tabrakan dua tronton dan sudah sampai Kaijo macetnya. Dede mau pulang kan? Nanti pagi abang anterin kok, tapi nginep dulu di rumah abang. Memangnya kamu mau kalau kita nerobos dan sampai di tujuan subuh?"

Benar juga sih apa yang dibilang Akashi. ini daerah industri, lalu lintasnya padat dan kalau macet karena kecelakaan akan menghabiskan waktu yang sangat lama. Seorang sopir angkot dengan penghasilan yang tidak seberapa, tidak berani mengambil resiko. Lebih baik mereka istirahat di rumah daripada menghadapi macet yang seperti itu. Tidak akan memenuhi uang setoran mereka, rugi waktu, dan juga lelah.

"Sekalian malem mingguan. Abang nagih jatah yang tiga hari yang lalu, minggu lalu, dua minggu yang lalu, dan hari ini"

Kuroko memalingkan wajahnya ke arah lain. Akashi peka untuk mengerti kode tersebut.

"Yah ditolak lagi. Ya udah kalo gitu di sini aja yah de?"

Akashi meminggirkan angkotnya. Jalanannya sepi karena sudah malam dan lagi kendaraan terpendat arus di daerah Kirisaki, jadi jalanan selain di daerah itu sepi sekali.

"Eh bang gak gitu bang. Jangan tarik-tarik celana aku, abang! Iya iya aku nginep di rumah abang terus kasih jatah, mau ampe siang juga diladenin. Jangan pegang itu!"

"Disini aja yah? Nanti kalau di rumah udah turun moodnya"

Untuk seluruh sopir angkot, jangan meninggalkan kenek atau kekasihmu. Apalagi kalau keneknya kekasihmu sendiri. Jadinya si keneknya ngamuk minta jatah di tengah jalan kayak gini.

.

.

.

Jika AkaKuro adalah sepasang anak kost dan bapak kost

"Maaf pak, aku telat bayarnya. Soalnya Ayah baru transfer uang bulanan"

Akashi menerima uang sewa kost dari Kuroko. biasanya sih kalau telat bayar lewat dari tiga hari akan dikenakan denda. Tapi karena ini adalah Kuroko, anak kost yang paling dia cintai, jadi dia mendapat perlakuan khusus.

"Jangankan telat bayar. Kamu gak bayar juga gak apa-apa kok"

Gak boleh begitu. Gitu-gitu juga Akashi itu usaha, gak baik. Nanti kalau lama-kelamaan Akashi bisa bangkrut. Diberi diskon saja sudah lebih dari cukup.

"Asal kamu mau tinggal bareng sama aku"

Akashi mengucapkannya di depan telinga Kuroko dan membuatnya bergidik mendengarnya.

"Ntar malam minggu, mau di kamarmu atau di rumahku saja?"

Mentang-mentang malam minggu itu penghuni kost pada pulang ke rumahnya masing-masing dan menyisakan beberapa penghuni saja yang tetap tinggal, mereka memanfaatkannya untuk yang tidak-tidak. Sebenarnya boleh-boleh saja sih, toh ini tempat kost punya Akashi. Mau diapain aja terserah Akashi.

"Jangan lagi deh pak, nanti saya gak bisa jalan. Hari Sabtu nanti saya mau pulang aja"

"Kalau begitu sekarang saja"

"Eh pak bukan begitu juga"

"Jangan panggil bapak. Aku ini bukan bapakmu"

"Yah tapi bapak kost saya"

"Pokoknya sekarang! Gak mau tahu! Kalau gak mau, saya naikin biaya kost sampai empat kali lipat buat kamu"

"Iya deh pak ampun"

Setelah beberapa adegan pemaksaan dan bujuk rayu si bapak kost, mereka masuk ke dalam rumah Akashi. Kemudian yang terdengar setelah itu adalah kata-kata ambigu dan suara desahan.

.

.

Jika AkaKuro adalah tukang sayur dan pembelinya

Sudah jam delapan pagi dan dagangan Akashi masih belum banyak terjual. Waktunya untuk berjualan tinggal satu jam lagi. Akashi yang menggelar dagangannya di atas mobil pick up kemudian berdiri di atas mobilnya dan berteriak.

"BELI SAYUR! GRATIS SUAMI!"

krik krik ...

Percuma. Tidak ada yang menghampiri lapaknya. Ini sudah siang dan yang ke pasar sudah sedikit. Salahnya sendiri datang kurang pagi.

"Bang sayurnya dong"

"Oh iya silahkan neng"

...

'ALAMAK! SEKALINYA YANG DATENG KENAPA CEWEK CAKEP JELMAAN BIDADARI TURUN KE GEROBAK ABANG SAYUR. YALORD TERIMA KASIH ATAS HARI INI'

"Wortelnya sekilo berapa?"

"Buat neng berapa aja deh. Gratis juga gak apa-apa"

"Eh bang gak boleh gitu, abang 'kan lagi usaha. Pamali. Yang bener ini harganya berapa?"

Akashi melancarkan sejuta modus untuk mendekati si neng cantik yang rambutnya biru muda dan mukanya cakep kayak orang Jepang.

"Tujuh ribu sekilo"

"Yah udah deh bang, beli empat kilo"

Akashi kembali bersikap normal dan profesional sebagai tukang sayur. Ia menimbang wortel dan memasukannya ke plastik. Kemudian si pembeli memberi uang tiga puluh ribu rupiah dan Akashi memberikan kantong plastik yang berisi empat kilogram wortel.

"Ambil aja kembaliannya bang, makasih ya"

"Neng tunggu dulu. Emangnya neng gak mau ambil hadiahnya?"

"Bang jangan panggil neng. Saya itu laki-laki. Emang ada hadiahnya bang?"

'BODO AMAT DIA LAKI-LAKI. DEMI DIA GUE BELOK GAPAPA DEH'

"Tadi 'kan abang bilang, kalo beli sayur disini dapet gratis suami"

krik krik ...

"Hah?"

Kuroko menampilkan ekspresi kebingungan yang sukar untuk dideskripsikan.

"Tadi saya udah bilang bang, saya itu laki-laki. Pokoknya saya gak mau ambil hadiahnya. Udah ah, kelinci saya nungguin di rumah belum di kasih makanan"

"Oh neng lagi buru-buru. Ya udah naik mobil abang aja, abang anterin deh"

"Gak usah bang, saya naik ojek aja"

"Ih nanti neng kalo diculik sama tukang ojeknya gimana hayo? Nanti gak bisa ngasih makan kelincinya loh. Naik mobil abang aja"

"Abang maksa banget sih, lagian rumah saya deket kok. Gak perlu pake mobil segala"

"Ya udah kalo neng maksa pengen naek ojek. Tapi abang anterin sampe pangkalan ojek yah?"

"Terserah abang aja deh lah asal jangan panggil neng lagi"

Akashi membangunkan asistennya, Hayama. Ia sedang tidur di kursi kemudi dan menyuruhnya untuk bergantian menjaga dagangannya.

Abang Juro sama Neng Cuya pergi ke pangkalan ojek terdekat. Sesampainya disana, Kuroko memesan ojek.

"Bang! Ojek!"

Semua tukang ojek melihat Akashi yang melotot ke arah mereka. Tidak perlu bicara, semua sudah mengerti maksud tatapan Akashi yang berarti 'ini jatah gue. Jangan diambil!'

"Nanti yah neng, capek nih. Sama pacarnya aja tuh. Di kasih deh motornya, gak usah bayar"

Si tukang ojek yang paling terlihat buluk tapi banyak gaya karena rambutnya diwarnain warna biru gelap, mengatakan hal yang demikian. Ia kemudian memberikan motornya kepada Akashi.

"Yuk, katanya buru-buru"

"Ya udah deh. Cepetan yah bang"

"Sini belanjaannya"

Dengan terpaksa, ia akhirnya pulang ke rumah dengan si tukang sayur penuh akal bulus ini. Ia memberikan belanjaannya kepada Akashi agar di taruh di depan.

"Kamu rumahnya dimana?"

"Di kampung Teiko, RT 11"

"Oh disitu, abang di RT 10. Itu loh yang di sebrang indoapril. Kalo rumah neng di sebelah mananya?"

'sumpah gue gananya rumah lu' batin si pembeli sayur.

"Itu yang deket warung bang Kise"

"Oh disitu, tau-tau"

Akashi menstarter motor bebek punya Aomine. Kuroko naik ke jok belakang.

"Eh abang mau ngebut, neng pegangan yah"

"Iya bang. Jangan panggil neng, panggil nama aja deh"

"Ya kan abang gak tahu namanya jadi menggilnya neng. Emang namanya siapa?"

"Kuroko Tetsuya"

"Oh panggil Cuya aja yah?"

'Panggilan aneh. Terserah lah daripada di panggil apa asal jangan neng'

Kuroko langsung memegang pegangan besi yang ada di belakangnya. Akashi menangis dalam hati karena modusnya gagal terus.

Akashi ngebut ke rumah Kuroko dan sesampainya di gerbang rumah Kuroko, ia memberikan belanjaan Kuroko dan berkata

"Cuya serius gak mau ambil hadiahnya?"

"Gak bang, makasih. Saya masih normal"

Kuroko hendak pergi ke halaman belakang namun baru saja ia di depan pagar, ayahnya yang super galak dan killer keluar.

Akashi hanya senyum basa-basi dengan 'calon mertua' tapi ia memerhatikan sepertinya ia mengenal pria dengan kumis tebal tersebut.

"Tetsuya! Siapa itu?"

"Itu tukang ojek. Ayah gak usah khawatir"

Permasalahan selesai. Itu hanya tukang ojek dadakan dan Ayah Kuroko tidak perlu khawatir.

...

"NIJIMURA!/AKASHI!"

Akashi dan Nijimura saling menunjuk satu sama lain.

"Heh lu ngapain muncul lagi disini!? Tema Nijimura udah selesai, balik sanah ke chapter dua! Segala pake kumis segala. Emangnya lu pak raden?"

"Enak aja lu! Suka-suka gue mau muncul kapan. Heh jangan salah, ini kumis keramat yang bikin istri gue Riko jadi jatuh cinta sama gue sampe sekarang!"

"Udah sana lu pergi. Gue gak mau punya bapak mertua kayak lu!"

"Heh siapa juga yang mau nikahin elu sama anak gue!? Anak gue itu normal. Udah gue jodohin sama anaknya pak lurah yang cakep, bohay, oppainya gede, rambutnya panjang. Lu pergi aja sana jualan sayur di pasar!"

"Masa lu tega jodohin Cuya sama Momoi? Heh gue kasih tau, anak lu bakalan mati kalo kawin sama dia! Masakannya mematikan, pelukannya mematikan"

"Suka-suka gue mau jodohin anak gue sama siapa!"

"Makanya elu jangan jadi bapaknya Cuya!"

Kuroko mengabaikan dua orang yang sedang bertengkar mengenai dirinya. Ia asik memberi makan kelinci-kelincinya.

"Makan yang banyak yah kelinci-kelinciku"

Kemudian anjing kecilnya menghampiri Kuroko dan menggonggong kepadanya.

"Guk!"

"Nigou, kamu mau lapar juga yah? Tunggu aku mau ambil makananmu di dapur"

...

"hah? Gue gak nyangka bakal ada yang mau nikah sama elu. Elu itu ditakdirkan jadi jones selamanya! Lihat aja mulut lu yang monyong begitu!"

"daripada elu yang ditakdirkan jadi boncel selamanya! Inget yah, restu ada di tangan gue!"

"Gak usah bawa-bawa nama pak camat! Pak Restu gak ada hubungannya sama ini semua!"

Oke abaikan Akashi dan Nijimura yang entah bertengkar sampai kapan. Kita selesaikan sampai disini cerita di chapter kali ini.

TBC

.

.

.

Bercanda :p

Masih ada kok satu cerita lagi

Scroll aja xD

.

.

.

.

.

.

.

Jika AkaKuro adalah tukang tahu bulet dan pembelinya

"Tahu bulet di goreng dadakan. Lima ratusan. Anget-anget. Gurih-gurih enyoy"

Kuroko berada di atas mobil bak sambil menggoreng tahu bulat. Yang berteriak, tidak ada sih. Itu suara Aomine yang sudah di rekam sebelumnya dan di hubungkan ke music player yang ada di mobilnya. Aomine sendiri sedang mengemudikan mobil dengan kecepatan rendah.

"bang, tahu bang!"

Akashi si pecinta tahu tentunya tidak akan melewatkan saat dimana mobil tukang tahu bulat melintas di depan rumahnya. Aomine menghentikan mobilnya dan ke bak untuk membantu Kuroko membuat tahu bulat.

"Berapa?"

"Semuanya! Sama kompor, mobilnya, dan abang yang lagi goreng"

Aomine sudah hapal dengan tipe pembeli seperti ini. Rasanya ia ingin menyalahkan Kuroko karena berwajah imut. Oleh karena itu, Aomine sering menampilkan kesangarannya ketika menemukan pembeli bertipe demikian.

"Mas jangan bercanda. Mau beli berapaan?"

'Yah gagal modus sama abang tahu bulatnya. Sopirnya pake ganggu segala lagi'

"Dua puluh ribu. Dua bungkus yah"

Kuroko mengangkat tahu bulat yang baru saja matang dan mentiriskannya. Ia mengambil tusuk bambu dan menusukkannya ke tahu bulat agar mudah memasukkannya ke wadah.

"Aaa! Jangan ditusuk! Nanti tahunya kempes kalo udah nyampe rumah"

Ini pembeli banyak maunya yah? Tapi demi pelanggan apa sih yang enggak. Pelanggan kan raja.

"Sudah terlanjur bagaimana?"

"Tetsu, aku mau beli rokok dulu di warung sebrang sana. Sebentar kok, gak lama"

Akashi bersorak di dalam hati. Ia cuma berdua dengan koki tahu bulat ini.

"Aku mau yang tahunya masih perawan, belum ditusuk"

"Maaf. Tapi baru satu buah yang ditusuk. Anggap saja sebagai bonusmu"

"Yang udah ditusuk mau dimakan sekarang aja deh. Nanti kalo udah nyampe rumah malah kempes"

Akashi langsung memakan tahu bulat yang disodorkan Kuroko. Ciiieeee~ jones yang pengen disuapin tahu bulet dan akhirnya berhasil :v

Kuroko memasukkan tahu bulat ke kantungnya dengan capitan karena Akashi tidak mau tahu bulatnya ditusuk.

"Mau ditambahin pake rasa apa?"

"Pake rasamu padaku aja"

"Gak punya mas. Adanya rasa asin, keju, pedas, dan barbeque"

Gagal modus. Rasanya Akashi ingin menangis seperti salah satu tokoh meme, forever alone.

"Ya udah. Rasa asin aja pakai sedikit rasa pedas"

Kuroko dengan cepat memasukkan bumbu dan mengaduknya rata.

"Mas, ini tahu buletnya. Dua bungkus"

"Nih bang uangnya"

Akashi melihat isi bungkusannya. Tahu bulat kesukaannya. Aura binar-binar keluar dari tubuhnya. Ia berterima kashi kepada seluruh jajaran pabrik produsen tahu bulat, tukang tahu bulat yang mendistribusikannya, dan koki yang memasak tahu bulatnya hingga sampai di tangannya ini. Baiklah itu berlebihan.

"Kalo tusuk tukang tahu buletnya boleh gak?"

Akashi mulai modus lagi sama abang tahu bulatnya semoga modusnya kali ini tidak gagal.

"Gak boleh bang. Penusukan itu masuk tindakan kriminal loh. Itu masuk ke perbuatan tidak menyenangkan dan kekerasan menggunakan senjata tajam"

'bukan tusuk yang kayak gitu neng. Tapi tusuk-tusuk yang itu. Au ah'

Akashi guling-guling di tempat karena modusnya gagal terus. Ia melihat si tukang tahu bulat yang sedang menggoreng tahu bulatnya dengan wajah datar. Mukanya datar terus, penggorengan tukang tahu bulat aja gak datar kayak begitu.

Akashi tidak akan menyerah. Ia akan terus mengejar cintanya. Sama seperti ketika ia mengejar mobil tukang tahu bulat yang sudah lewat di depan rumahnya tapi ia belum beli tahunya.

TBC

Beneran :v

AN: YALORD INI GUE BIKIN APAAN? Kok absurd sih kayak muka author? /hoy

Oke chapter depan (mungkin) bakal lebih cepet update karena chapter depan cuma cerita-cerita yang terbuang. Cerita yang author buat tapi karena gak bisa masuk ke chapter manapun, author bakal masukin ke chapter depan. Yah walau masih perlu diperbaiki sih, author gak janji yah *peace emoticon

Ini cuma sampai chapter lima karena author banyak utang FF lain dan author juga punya kehidupan nyata. Yah walaupun kehidupan author emang gak jauh dari yang namanya nulis.

Makasih yang udah review, follow, atau favorite. Maaf banget author gabisa bales satu-satu karena waktu. Ini update juga nyolong waktu pas lagi nunggu matkul di kampus :v /dont try this on your campus

Kepo sama real life author? Fb: Tori Zhytriyan

Last word, review, follow, favorite please :3

V

V

V