"Tentu saja! Kau adalah temanku V-mon! Temanku yang berharga! O-oleh karena itu bertahanlah aku akan berusaha menolongmu! Aku akan membawakan obat untukmu-tidak! Aku akan membawamu kerumah sakit! Lalu setelah itu kita bisa bermain lagi! Kita akan terus bermain! Kau dan aku akan menjadi sahabat selamanya!"

.

.

Digimon : Digital Destiny

Disclaimer : Akiyoshi Hongo

By: XVLove

Genre: fantasy, adventure, frienship

Warning: OC, typo, dan kekurangan author lainnya.

.

Chapter 2

A Bird in a Cage

.

New York City, salah satu kota terpadat di dunia dan juga terkenal dengan nama "Kota yang tidak pernah tidur". Julukkan itu memang tidak sembarang diberikan, hal itu bisa dilihat dari pemandangan kota ini yang tidak pernah sepi baik pada saat malam apalagi siang hari. Tidak hanya itu, banyak bangsawan-bangsawan kaya, orang-orang terkenal, dan orang-orang berpengaruh lainnya membangun rumah mereka disini, atau paling tidak menjadikan tempat ini tempat usaha mereka. Mereka berkuasa, walaupun tanpa mereka sadari, mereka hanyalah sebuah budak dari apa yang mereka sebut "dunia".

"Lady Elvin" Ucap seorang wanita muda berambut coklat dipotong bob, iris coklat yang terpasang di matanya terlihat begitu indah. Mungkin orang akan menyangkanya seorang model jika bukan karena seragam coklat putih ala french maid yang dikenakannya.

"Lady Elvin, bangunlah. Ini sudah pagi, Master ingin anda sudah ada di ruang makan saat sarapan sudah siap." Ucapnya lagi kepada gundukan selimut di sebuah tempat tidur megah dengan tiang-tiang yang disetiap ujungnya terikat tirai sutra keemasan.

"Unngghh... Iya Alicia, lima menit lagi." Jawab sebuah kepala yang mencuat dari gundukan itu. Surai kuning keemasan itu terlihat mengkilap meskipun rambut itu belum menyentuh air hari ini.

"Lady Elvin, Master tidak akan senang jika anda tidak ada di ruang makan tepat waktu. Saya mohon Lady, cepatlah bangun dan mandi."

"Baiklah, aku bangun." Sebenarnya melanjutkan tidur lebih menarik untuk Elvin, tapi mendengar nada khawatir maid-nya itu, ia tidak bisa untuk tidak merasa kasihan pada Alicia. Elvin mendudukan dirinya, kelopak matanya terlihat sedikit enggan menampakan permata biru kecil di dalam sana. Iris itu begitu biru seolah-olah memang mata itu terbuat dari kepingan langit itu sendiri. Senyuman yang menghiasi wajahnya terlihat begitu menawan, dan senyuman itu selalu membawa kehangatan dan keceriaan di dalamnya.

"Saya akan menyiapkan air panas untuk anda mandi. Master juga berpesan agar anda menghabiskan susu hangatnya." Ucap Alicia lalu membalikan badannya, hendak pergi dari kamar itu.

"Jangan lupa bilang Alex untuk menyiapkan keperluan sekolahku!" Alicia mengangguk, dan kembali melanjutkan langkahnya.

"Haah, lebih baik aku bersiap-siap." Senyuman dan keceriaan yang semula menguar dari tubuhnya sirna begitu saja. Ia melangkahkan kakinya lesu menuju kamar mandi yang ada di kamar itu.

Ia sangat menyukai kamar ini. Kamar ini sangat nyaman dan begitu mewah, tapi bukan itu yang membuatnya menyukai kamar ini. Kamar ini dihiasi oleh sebuah tempat tidur king-sized yang terbuat dari pahatan kayu akasia, lemari akasia coklat yang terpampang pahatan burung-burung kecil berdiri kokoh di hadapan tempat tidur, dua meja kecil yang juga dipahat dari kayu akasia menghiasi sisi kiri dan kanan kepala tempat tidur, diatas meja sebelah kiri berdiri sebuah lampu dengan motif burung di tudung coklatnya, cahaya matahari menerangi kamar ini melalui jendela besar di dinding kanan tempat tidur, gorden coklat dengan corak emas terikat indah di setiap sisi jendela, meja rias kecil yang juga dipahat dari kayu akasia coklat lengkap dengan cerminnya bersender pada dinding diantara dua pintu.

Coklat dan burung, dua hal yang paling disukai oleh Mama yang telah tiada. Mama sangat menyukai warna coklat; seluruh bajunya, perabotan rumah, sepatu, semuanya berwarna coklat. Bahkan berambut coklat juga salah satu syarat untuk orang yang ingin bekerja sebagai maid di tempat ini. Ia ingat saat Mama menceritakan alasan kenapa rumah ini, baik dinding ataupun lantai, semuanya berwarna putih. Semuanya dicat putih agar seluruh benda berwarna coklat di rumah ini semakin mencolok. Ia ingat senyuman Mama.

Ia juga ingat dengan kicauan-kicauan burung yang selalu terdengar di pagi, siang, bahkan malam hari. Burung-burung itu bukanlah burung peliharaan, melainkan burung-burung liar yang selalu mampir bermain ke taman belakang rumahnya. Mama selalu memberi memberi makan burung-burung itu, dan seolah ingin membayar jasa Mama, burung-burung itu terus bernyanyi. ayahnya juga tidak mengusir burung-burung itu karena Mama terlihat sangat senang ketika burung-burung itu bernyanyi. Ayahnya bahkan selalu tersenyum jika melihat mama begitu gembira saat memberi makan mereka. Ia rindu senyuman Mama.

Elvin menarik nafas panjang, dan menghapus jejak-jejak air mata yang membekas di pipinya. Ia memandang ke arah dirinya yang ada di dalam cermin, dan mengikat rambut panjangnya di puncak belakang kepalanya. Ia sengaja membiarkan sebagian rambut depannya tergerai untuk menutupi telinganya, kedua benda itu tidaklah sebagus milik Mama.

Ia memakai celana jeans dengan gaun pendek berwarna kuning, sebuah hiasan bunga berwarna putih bertengger manis di ujung kerah depan. Setelah menghias wajahnya dengan berbagai macam peralatan kecantikan, Elvin memandang dirinya sejenak. "Semuanya sudah beres." Ia tersenyum sambil menelusuri wajahnya dengan jari-jari lentiknya.

"Andai aku secantik Mama." Senyum yang penuh kebahagiaan itu berubah seketika menjadi senyum yang penuh dengan kemirisan dan kerinduan. "Hah. . . lebih baik aku turun sekarang."

Elvin melangkahkan kakinya menuju ruang makan yang terdapat dilantai satu. Ruangan itu hanyalah diisi oleh sebuah meja akasia panjang dengan kursi-kursi yang juga terbuat dari kayu yang sama, dan jika sudah waktu makan, uap-uap yang berasal dari berbagai jenis hidangan lezat akan berlarian di ruangan itu. Seperti biasa, Elvin langsung duduk di kursi yang ada di ujung meja tersebut, di ujung lain meja itu duduk seorang pria paruh baya. Wajah pria itu tetap terlihat tegas meskipun kerutan-kerutan menggaris di wajahnya, rambut pirang pendeknya terisir rapi kebelakang, bahkan kumis pria itupun tertata begitu rapi, menambah kesan tegas di diri pria itu. Elvin membalikan piring yang sudah tersedia dihadapannya, dan mengoleskan sebuah roti dengan selai yang tersedia di sana. Ia memakan rotinya dalam diam, dan hatinya terus berdoa agar kesunyian ini terus berlanjut.

"Elvin." Suara pria itu dapat didengarnya meskipun jarak mereka bisa terbilang jauh, terima kasih pada kekosongan ruangan ini yang membuat suara mereka bergema.

"Iya?"

"Apa rencanamu hari ini?"

"Aku akan pergi kesekolah seperti biasa, dan setelah itu aku akan latihan bela diri dengan Alex." Mungkin bagi sebagian orang gadis sepertinya tidak pantas untuk berlatih bela diri, tapi ayahnya tidak begitu. Pria itu bahkan sudah memerintahkannya untuk belajar bela diri sejak ia masih kelas 4 sd. Mama sempat memprotes ayahnya karena masalah itu, tapi ayahnya tetap bersikeras. Menurutnya, Elvin harus bisa melindungi dirinya sendiri kalau-kalau hal yang tidak diinginkan terjadi, biar bagaimanapun Elvin itu adalah anak dari salah satu orang terkaya di dunia.

"Batalkan latihanmu. Tidak usah berlatih bela diri lagi."

"Maaf?"

"Kamu tidak perlu berlatih bela diri lagi. Aku ingin kamu datang ke kantor hari ini, jadi kamu bisa mulai belajar cara untuk mengurusi perusahaan. "

"Tapi—"

"Kamu akan mewarisi perusahaan keluarga ini kelak Elvin, dan aku ingin kamu belajar caranya menjadi penerus usaha keluarga ini segera."

"Baiklah, Daddy." Sejujurnya ia masih bingung dengan alasan kenapa ayahnya memerintahnya untuk tidak berlatih bela diri lagi padahal ia sendiri yang memaksanya untuk belajar, tapi ia tau pertanyaannya itu hanya akan berakhir dengan amarah ayahnya.

"Aku pergi kesekolah." Elvin langsung bergegas keluar ketika sarapannya telah habis. Ia tidak ingin memicu api di pagi hari ini.

Sebuah mobil sports coklat telah menunggunya di depan rumah. Seorang pria berambut pirang dengan model ivy league berdiri disamping mobil itu. "Barang-barangku?" Tanya Elvin pada pria itu.

"Di dalam." Ucap pria itu dengan sopan sambil membukakan pintu kursi penumpang mobil itu.

"Aku ingin menyetir."

"Aku tidak bisa membiarkan itu Lady. Master mengancam akan memecatku jika aku membiarkan anda menyetir mobil sendirian lagi."

Elvin memutar matanya sambil mendesah malas. Ia berjalan tanpa memerdulikan pria yang telah membukakan pintu untuknya, dan langsung mengambil duduk di sebelah pengemudi.

"Aku adalah seorang pengemudi. Jika aku tidak mengemudikan mobil, maka apa artinya aku?" Ucap pria itu setelah duduk di kursi pengemudi, dan menyalakan mobil. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya.

"Iya-iya aku tau. Sekarang Alex, maksudku tuan pengemudi, bisakah kau mengantarku ke sekolah?"

Senyum di wajah Alex terbentang semakin lebar, Elvin pun begitu. Ia tidak tau mengapa, tetapi pria di sebelahnya ini selalu bisa membuat hatinya yang bergemuruh tenang kembali. Berkatnya, Elvin dapat dengan cepat melupakan ketegangan bersama ayahnya barusan.

"Alex, rencana kita hari ini dibatalkan. Jemput aku pulang sekolah, Daddy ingin aku pergi ke kantor sepulang sekolah." Ucap Elvin saat mereka sampai di sekolahnya. Ia sempat memberikan senyum kepada Alex sebelum berjalan menuju sekolahnya.

Sejak mobil sports itu masuk keparkiran sekolah yang memang dekat dengan taman utama, seluruh siswa di sana sudah tau kalau pewaris tahta dari pemilik perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan itu akan keluar dari mobil itu. Meskipun sudah tau dan sudah sering melihat Elvin di sekolah ini, mereka tetap tidak mampu untuk tidak memalingkan wajah sejenak hanya untuk melihat gadis itu berjalan menuju gedung sekolah dengan langkah tegak namun anggunnya. Elvin tak mengubris tatapan itu, walaupun ia ingin sekali, seperti ibunya, membalas pandangan mereka dengan senyuman. Hanya saja, setiap kali ia melihat mereka, tubuhnya terasa kaku, nafasnya terasa berat sekali, bahkan hanya untuk sekedar menarik ujung bibirnya saja susah.

Elvin menghentikan langkahnya ketika sebuah getaran muncul dari dalam tas sampingnya. Ia mengambil smartphone berlogo apel dengan bekas gigitan di pinggir, dan membaca sebuah pesan yang tertera di sana.

Elvin tersayang,

Temui aku di taman belakang sekolah siang ini, kau ingat ini hari apa kan? Jangan lupa ya, siang ini

Cintaku untukmu selamanya

Ia tersenyum membaca sms dari Fin, orang yang sudah sebulan menjadi pacarnya, dan berkat pria itu pula sebulan ini terasa begitu indah. Ia rasa ia tidak akan bisa membalas jasa kedua sahabatnya, dan gara-gara itu, ia selalu ingin berterima kasih setiap bertemu mereka sebulan ini. Jika bukan karena mereka tidak pernah berhenti memaksanya untuk pacaran dengan Fin, ia tidak mungkin mengerti rasanya jatuh cinta. Seperti yang Mama bilang, jatuh cinta itu rasanya begitu indah.

"Elvin!" Ia memalingkan wajah kearah datangnya suara, menemukan kedua sahabat yang baru saja ia pikirkan. Dengan senyuman bak sinar mentari di bibirnya, ia menghampiri kedua gadis itu.

"Elvin! Bagaimana kabar tuan putri kita hari ini?" Ucap seorang gadis berkulit coklat, berambut hitam pendek bergelombang, dan sebuah bando merah menghiasi kepalanya. Claudia Blaire, gadis yang tadi memanggil Elvin, langsung merangkul bahunya.

"Itu tidak penting. Elvin, apa kau sudah siap untuk pesta malam ini?" Ucap gadis lainnya. Ia bernama Ery Nyes, kulitnya putih, dan rambutnya hitam, lurus, dan panjang.

"Aku baik-baik saja, Claudia. Ada pesta apa malam ini?"

"Ya tuhan, Elvin! Kamu lupa hari apa ini?"

"Ulang tahun Fin!" Ucap Elvin yang akhirnya mengerti arah pembicaraan ini.

"Gawat! Aku lupa aku ada kelas!"

"Aku juga ada kelas. Bye." Senyuman di wajah Elvin tidak pernah pudar ketika bersama mereka, bahkan ketika punggung Ery menghilang kedalam sekolah, menyusul Claudia yang sudah terlebih dulu pergi. Elvin pun bergegas menuju kelasnya saat ingat kalau sebentar lagi kelasnya akan dimulai.

Sejak awal masuk kesekolah ini, hampir setahun yang lalu, semua orang selalu segan padanya, tidak hanya karena reputasi ayahnya, tapi juga karena ayahnya adalah donatur terbesar sekolah ini. Tapi ada alasan lain kenapa mereka tidak berani mendekati Elvin. Hari itu adalah hari pertama sekolah, seharian itu Elvin terus dikawal oleh lima penjaga suruhan ayahnya. Seharian itu, ia merasa sangat sendiri karena tidak ada yang berani mendekatinya. Tiba-tiba, ketika ia sedang berada di stadium, sebuah bola basket melayang ke kepalanya. Kelima penjaganya langsung menghajar pria yang tidak sengaja melemparnya itu, tidak sampai babak belur karena Elvin mengancam akan menghajar mereka balik jika mereka masih mengeroyok pria itu. Sejak saat itu, tidak ada yang berani berbicara kepadanya meskipun ia sudah tidak dikawal lagi. Berbulan-bulan kemudian, saat ia tengah makan di kantin, Claudia tidak sengaja menumpahkan jus ke kepalanya. Ia ingat saat Claudia, dengan gaya yang heboh, terus mengucapkan maaf sambil membersihkan rambutnya. Ery, yang memang sudah bersahabat dengan Claudia, menawarkan untuk meminjamkan bajunya karena memang baju Elvin juga ikut basah. Elvin sangat bahagia jika mengingat kejadian itu karena mulai dari situ, ia, Ery, dan Claudia menjadi akrab hingga menjadi sahabat seperti sekarang ini. Mama pasti akan senang kalau tau ia memiliki sahabat yang sangat baik seperti mereka.

Setelah kelasnya usai, Elvin langsung berjalan ke tempat ia dan Fin biasa bertemu, melewati jalan utama sekolah yang tidak pernah sepi dari siswa-siswi, melewati pohon-pohon yang berjajar di pinggir jalan setapak taman sekolahnya, hingga kakinya sampai di sebuah bangku taman yang hanya satu di area itu. Ia tidak menemukan Fin di sana; kakinya terlalu lelah untuk menyusul Fin kekelasnya. Ia memutuskan untuk beristirahat di banku itu sambil menunggu kekasihnya. Jarak dari gedung utama sekolahnya ke tempat ini terasa begitu jauh karena desain jalan setapak yang berkelok-kelok. Sebenarnya ia bisa saja memotong jalan dengan melewati bagian dalam taman, tapi ia tidak ingin mengotori pakaiannya hanya untuk melewati semak belukar. Lagi pula, ia ingin bertemu Fin, jadi ia harus tampil sebaik mungkin.

Ia terlalu larut dalam pikirannya sampai tidak menyadari kehadiran seorang pria yang sudah berdiri dibelakangnya sejak tadi. "Hey, sayangku!" Ucap pria itu mengagetkan Elvin.

"Fin. . ." Ucap Elvin risih saat si pria memeluknya.

"Maaf, aku hanya terlalu bahagia bertemu dengan sayangku di hari yang sangat membahagiakan ini!" Ucap Fin, pria itu. Senyuman yang terpasang di wajah tampannya tidak pernah gagal untuk membentuk senyuman di bibir Elvin. Tidak hanya memiliki wajah yang tampan dan senyuman yang indah, rambut hitam pompadour-nya juga tidak pernah gagal untuk memesona Elvin, mata hitam pekat-nya selalu bisa menenggelamkan Elvin jauh kedalam jeratan kata "cinta", bahkan baju-baju yang dikenakannya tidak pernah tidak cocok dengan tubuh itu, dan jangan lupakan kalau mereka juga menyukai warna yang sama, kuning.

"Sayangku, kau tidak lupa kan hari apa ini?"

"Aku tidak lupa, hari ini ulang tahunmu."

"Baguslah kalau kau tidak melupakannya. Oh iya, aku mengadakan pesta di rumahku dua hari lagi. Kau akan datangkan, sayangku?"

"Aku. . . tidak tahu, Daddy mungkin tidak akan mengijinkanku." Elvin memalingkan wajahnya sedih.

Fin tersenyum, dan mengelus kepala Elvin. "Daddy-mu itu memang benar-benar menyebalkan. Ya sudah, tidak apa-apa, tapi jangan lupa untuk memberikanku hadiah ya. Aku masih ada kelas, sampai jumpa." Elvin memandang kepergian Fin sambil tersenyum. Ia merasa beruntung memiliki kekasih seperti dia. Awalnya ia pikir Fin akan kecewa, tapi ternyata ia salah. Mungkin ia memang tidak mendengar secara langsung atau melihat wajah Fin saat itu, tapi dari apa yang dikatakan kekasihnya itu, ia yakin kalau Fin juga mengerti dirinya.

Hubungan seperti ini, Elvin menikmati hubungan seperti ini. Sebuah hubungan dimana mereka ada untuk saling menolong, saling menangkan, saling percaya, saling mengerti, dan tidak menuntut lebih. Ia selalu merasa risih ketika ada orang yang menyentuhnya. Sekedar berpegangan tangan mungkin tidak masalah, tapi terkadang kebanyakan mantan pacarnya selalu meminta lebih dari sekedar berpegangan tangan. Mungkin karena itulah seluruh mantan pacarnya tidak bertahan lama dengannya, biasanya satu bulan, terlebih lagi jika ayahnya sudah campur tangan. Fin adalah satu-satunya pria yang tahan dengannya lebih dari satu bulan, satu bulan satu minggu tepatnya, dan ia juga merasa sangat bersyukur saat mengingat ayahnya sama sekali belum campur tangan dengan hubungannya yang satu ini. Saat ia bersama Fin, Elvin selalu merasa kalau mereka memang ditakdirkan bersama. Fin selalu membantunya jika ia ada masalah, mengerti dirinya dan kehidupannya, selalu menjadi pendengar yang baik ketika ia meluapkan isi hatinya. Mama selalu bilang cinta sejati adalah orang yang selalu mampu membuatnya merasa ia adalah dirinya ketika bersama orang itu, menunjukkan betapa indahnya hidup ini, dan membawakan secercah cahaya ketika ia berada dalam kegelapan. Fin, Elvin yakin pria itu adalah cinta sejatinya.

Ia kembali mendesah saat waktu untuk dirinya pergi ke kantor untuk belajar cara menjadi pewaris yang baik tiba. Sebagai seorang anak yang sebentar lagi akan naik ke kelas dua SMA, hal-hal seperti meneruskan usaha keluarga sangatlah tidak menarik untuknya. Sayangnya, ia tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti segala perintah dan aturan main ayahnya.

"Elvin!" Panggil Claudia; Ery, seperti biasa, berjalan bersamanya. "Jadi tuan putri, apa kau mau ikut ke pestanya Fin?"

"Aku tidak tau, Daddy tidak pernah suka jika aku pergi ke pesta-pesta seperti itu."

"Daripada memikirkan hal itu sekarang, lebih baik kau ikut aku dan Ery ke mall saja. Ada baju yang sedang sale, tapi harga masih terlalu mahal."

"Aku tidak bisa, Hari ini aku harus ke perusahaan." Ia sangat ingin pergi, sangat.

"Oh ayolah Elvin, tidak bisakah kau menolak permintaan orang tua itu!? Kau juga membutuhkan refreshing!" Sejujurnya, ia selalu ingin menolak bahkan memberontak setiap ayahnya memberikan perintah yang tidak mengindahkan dirinya dan terkadang semena-mena, tapi lidahnya selalu terasa kelu. Mama. Ingatan tentang Mama selalu melintas di kepalanya jika ia ingin memberontak. Kenangan itu, kenangan saat Mama mengatakan bahwa ayahnya adalah cinta sejati Mama. Sebuah kata yang sangat sulit ia percaya walaupun faktanya ia percaya seratus persen saat Mamanya mengatakan itu. Saat itu ia melihat ayahnya sebagai seorang pahlawan yang akan selalu ada saat ia membutuhkan bantuan, sebagai seorang kesatria yang selalu menjadi pelindungnya. Sekarang, ia tidak mengerti kenapa Mama bisa mengatakan itu. Ia tidak mengerti bagaimana bisa ayahnya menjadi cinta sejati Mama; ia bahkan tidak percaya kalau ayahnya bisa menjadi "cinta sejati".

"Maaf Claudia, aku tidak bisa. Tapi lain kal-"

"Tidak masalah Elvin. Kami mengerti bebanmu sebagai seorang pewaris tunggal perusahaan keluargamu. Tapi jika kau butuh kami, panggil saja okay. Aku dan Claudia akan selalu ada untukmu. Bye." Ia memandang kepergian teman-temannya itu haru. Ia tidak pernah berhenti bersyukur karena memiliki sahabat seperti Claudia dan Ery. Mereka tidak hanya memerdulikannya, tapi juga mengerti dengan kesusahannya. Andai saja Mama bisa melihat kebaikan kedua temannya ini, Mama pasti ikut bahagia bersamanya.

"Bye." Ucap Elvin pelan, dan melangkahkan kakinya menuju gerbang sekolah.

Di sana, mobil sports hitam dengan Alex didalam sudah menunggunya. Pria itu langsung menampilkan senyumannya saat Elvin memasuki mobil, tapi Elvin tidak mengindahkannya. Alex yang dapat merasakan keberadaan badai yang tengah melanda gadis ini lebih memilih untuk diam, dan langsung mengemudikan mobilnya tanpa bertanya apapun.

Elvin terus memandang kaca mobilnya, bukan karena pemandangan diluar saat itu sangat menarik, tapi karena bagi Elvin, kaca mobil itu seperti sebuah layar yang menayangkan kesenangannya jalan-jalan di mall seandainya ia pergi bersama kedua sahabatnya. Orang-orang selalu memandangnya sebagai tuan putri, dan rasa iri tidak lepas dari pandangan mereka. Mereka hanya tidak tahu kalau kehidupan Elvin yang sebenarnya tidak lebih dari seekor burung yang terjebak di dalam sangkar.

Jika ada Mama saat ini, hidupnya pasti tidak akan terkekang seperti ini. Mama selalu mengerti dirinya, tidak seperti ayahnya yang hanya memikirkan tentang perusahaannya saja. Hanya Mama yang selalu memikirkannya, selalu bersamanya, selalu mengisi waktunya dengan kehangatan dan cinta.

Ia menatap pintu masuk gedung perusahaan ayahnya ini dengan tangan yang terkepal, ia berharap semua ini akan segera berakhir. Ia harus tersenyum karena di saat seperti ini, Mama pasti akan tersenyum. Itulah yang ada dipikirannya saat ia membuka pintu itu dengan sebuah senyuman manis di bibirnya.

Ini memang bukan pertama kalinya ia datang ke kantor perusahaannya untuk belajar, tapi tetap saja hal itu tidak pernah sedikit menguras energi lahir dan batinnya. Sikap baik para pegawai perusahaan itu hanya memperburuk keadaannya saja. Bukannya tidak suka—ia malah senang—hanya saja nafasnya semakin terasa tercekat ketika mengingat mereka bersikap seperti itu karena perintah sang ayah. Pria itu, tidak pernah membiarkan Elvin lepas walaupun hanya sejenak dari jeruji besi yang mengekangnya.

Sama seperti saat ia pergi, saat pulang dari kantor pun posisi kaca mobil sebagai layar angan-angan tidak dapat tergantikan. Ia terus memandang kaca itu sampai sebuah pesan dari Fin muncul di layar ponselnya. Elvin tersenyum saat membaca pesan yang berisi tentang kekhawatiran akan kondisinya, kerinduan untuk bertemu dengannya, dan pengingat agar ia tidak memaksakan dirinya. Elvin semakin yakin kalau pria itu adalah cinta sejatinya. Mobil itu akhirnya sampai di depan kediaman keluarga Heartfie, dan Elvin langsung bergegas masuk setelah sempat tersenyum pada Alex.

Elvin melangkahkan kakinya menaiki tangga, ingin langsung masuk kekamarnya, tapi langkahnya terhenti di tempat persimpangan tangga itu. Dihadapannya, terpampang sebuah foto dengan ukuran yang sangat besar. Di sana, Mama terlihat abadi, dan akan terus hidup selamanya. Di sana, Mama terlihat sangat cantik. Rambut pirangnya disanggul kebelakang, mahkota berbentuk burung menempel di puncak kepalanya, kulitnya putih seputih susu, bahkan kotoran saja malu untuk berpijak di sana, pecahan langit biru yang ada di matanya selalu terlihat cerah seolah ada sebuah matahari pribadi di sana, paras cantik yang selalu dihiasi senyuman itu mempunyai kekuatan ajaib untuk meredakan angin tornado yang melanda di hati Elvin, terlebih lagi terlinganya yang terlihat begitu indah dan anggun. Dengan gaya duduk menyamping dan gaun coklatnya, Mama sangat sempurna di foto itu. Andai Mama masih hidup sampai sekarang.

"Bagaimana?" Elvin memalingkan wajahnya kesamping, seperti dugaannya, ayahnya berdiri disana, ikut menatap foto Mama. Elvin menundukkan kepalanya sejenak, memberi hormat pada pria itu. Sejujurnya ia sedikit kaget menemukan ayahnya ada di rumah. Ayahnya sangat jarang berada di rumah, kalaupun ada di pagi hari, biasanya sore tidak.

"Masih banyak yang belum aku mengerti, tapi aku belajar lebih giat lagi."

"Bukan itu yang aku maksud, bagaimana cara ia mengajar?"

"Baik. Dia langsung to the point, suaranya juga jelas, dan penjelasannya juga rinci."

Ia hanya diam, tetap memandang foto Mama.

Senyuman miris muncul begitu saja di bibir Elvin. Mungkin ini memang salah gadis itu karena terlalu berharap banyak. Ia kembali memandang foto Mama. Jari-jarinya saling taut-menaut, menunjukkan kegelisahan yang melanda hatinya. Ia tau apa jawaban ayahnya, tapi tidak akan adakah sebuah keajaiban yang terjadi? Sekali ini saja, tolong buat ayahnya mengijinkan dirinya sekali ini saja.

"Daddy," Ucap Elvin yang telah memantapkan dirinya, dan memandang pria itu. "Temanku akan mengadakan pesta ulang tahun dua hari lagi, bolehkah aku pergi?"

"Tidak, kau sudah tahu kan apa alasannya?" Elvin sudah tau kalau jawaban ayahnya akan seperti itu, dan sejujurnya ia sudah memersiapkan dirinya untuk mendengar hal itu. Memang masih terasa sakit di hatinya, tapi apa yang keluar dari mulut ayah selanjutnya jauh lebih menyakitkan. "Dan sepertinya kau masih tidak mengindahkan perintahku untuk tidak berteman dengan orang-orang rendahan. Mereka tidak mengerti dengan beban yang kau tanggung dan hanya akan mengganggu jalanmu. Jauhi mereka."

Elvin memalingkan wajahnya, kembali memandang lukisan Mama, tanpa memerdulikan ayahnya yang sudah pergi dari tempat itu. Matanya terasa begitu panas. Ia menyentuh foto Mama, membelainya pelan. Elvin menghapus setitik air mata di sudut matanya, dan dengan sebuah senyuman, ia berjalan ke kamarnya.

Setelah mengganti pakaiannya dengan baju yang lebih santai dan mengenakan sepatu bot, Elvin melangkahkan kakinya menuju taman belakang. Taman dulu di rawat oleh Mama, tapi ukuran taman ini yang lumayan luas tetap membuat jasa dari tukang kebun di perlukan. Elvin terus melangkah melewati hamparan padang bunga mawar di kiri dan kanannya, hingga memasuki sebuah area yang di batasi oleh pagar tanaman yang lumayan tinggi.

Di dalam tempat yang berbentuk persegi besar itu, ada sebuah jalan setapak yang melingkari tempat itu. Di luar lingkaran jalan setapak diisi oleh berbagai macam bunga yang disukai Mama, misalnya bunga anggrek; sementara sisi dalam lingkaran dipenuhi oleh hamparan bunga lili, bunga paling Mama suka. Tempat ini adalah bagian paling ujung dari rumahnya, melewati tempat ini terbentang hutan yang Elvin tidak tau dimana ujungnya. Area ini adalah area milik mama. Seluruh tanaman yang di sini hanya Mama yang mengurusnya, dan Mama juga lebih banyak menghabiskan waktu di tempat ini. Dan dari tempat ini pula lah, kicauan-kicauan merdu burung-burung liar itu berasal.

Elvin mengambil penyiram yang ada disana, dan mulai menyiram seluruh tanaman di taman, dari ujung hingga ke ujung lagi. Namun, tak peduli seberapa sering pun Elvin menyiram dan merawat tanaman-tanaman ini, mereka semua tidak pernah kembali segar. Semenjak Mama pergi, seluruh tanaman ini selalu tertunduk layu, warna-warna cerahnya pun meredup.

"Bahkan tanaman-tanaman inipun membutuhkan Mama."

Setelah selesai, Elvin mendudukan dirinya di bangku taman tempat ia dan Mama biasa bersantai. Di belakang bangku itu ada taman bundar yang di penuhi bunga lili putih. Ia ingat di saat-saat seperti ini, burung-burung liar itu pasti akan berdatangan. Ia dan Mama memberi makan burung-burung itu, dan tak lama setelah itu, mereka akan berkicau. Semenjak Mama pergi, kicauan mereka tidak pernah terdengar lagi. Jangankan suranya, bulunya saja tidak pernah terlihat lagi semenjak saat itu. Semua kenangan tentang Mama terus berputar di dalam kepalanya.

'Tolong.'

Elvin, yang tersadar dari lamunannya, melihat kesekiling, tapi tak menemukan apapun. Mungkinkah ia hanya berhalusinasi? Tapi kenapa suara itu terdengar begitu nyata?

'Tolong aku, aku mohon!'

Suara itu kembali terdengar, kali ini semakin keras. Ia langsung berdiri, melihat kesekelilingnya, dan tetap tidak menemukan seorang pun disana. Suara itu terus terdengan semakin keras sampai akhirnya ucapan tolong itu berubah menjadi tangisan. Tiba-tiba matanya tertuju pada padang bunga lili di sana. Ia berjalan perlahan masuk ke dalam hamparan bunga lili itu, tapi tetap tidak menemukan orang disana. Ia tidak menemukan apapun kecuali sebuah tanaman yang belum pernah dilihatnya.

"Tanaman ini, aku tidak ingat ibu pernah menanam tanaman ini." Gumamnya saat melihat tanaman aneh itu. Tanaman itu hanya berupa tiga lembar daun sri rejeki dengan sebuah tangkai panjang menjuntai di tengahnya, daun-daun itu berwarna pink keungu-unguan dengan tulang daun berwarna kuning.

'Tolong aku... Hiks... Hiks...'

"Mustahil, aku pasti sudah gila." Kata Elvin pada dirinya sendiri saat menyadari kalau suara itu berasal dari tanaman aneh ini. Ia hendak pergi dari tempat itu, tapi suara tangisan itu semakin keras dan semakin pilu. Entah kenapa, hatinya seperti bergetar. Ia seperti merasakan tangisan itu di dalam hatinya. Elvin kembali menatap bunga itu. Ia benar-benar merasa gila saat ini.

"Apakah kau yang sedang padaku?"

'Iya, itu aku. aku mohon tolong aku...'

"Bagaimana caranya?"

'Aku tidak tau. Bagaimana caranya aku keluar dari sini!? Aku tidak ingin terjebak selamanya disini! Aku tidak mau diam disini! Aku mau berlari! Aku mau benyanyi! Huaaaa...!'

Suara tangisan tanaman itu semakin keras. Elvin berusaha sebisanya untuk membuat bunga itu diam, tapi hasilnya tetap nihil. Ia terus berpikir dengan keras, tapi tidak satu pun cara hinggap di kepalanya.

"Aku mohon, tenanglah. Aku akan melakukan apapun, tapi kumohon tenanglah." Ucapnya putus asa

'Benarkah?'

"Ya!"

'Aku sangat bosan. Maukah kau menceritakan bagaimana tempat ini? Siapa kamu?'

"Baiklah. Rumah ini, tempat kau dan aku berada sekarang, berada di negara bagian New York. Tempat ini adalah taman milik Mama. Namaku Elvin Heartfel, anak dari pasangan Romeo Heartfel dan ibuku bernama Liliana Heartfel. Aku kelas sepuluh di Judas Senior Highschool. Aku memiliki dua sahabat, Claudia dan Ery, dan seorang pacar yang sangat mencintaiku, Fin."

Elvin diam sejenak, berusaha kembali memutar memori-memori indah masa kecilnya. "Sejak kecil aku sangat dekat dengan Mama. Ia sangat menyayangiku, dan selalu mencintaiku dengan sepenuh hati; ia adalah wanita yang paling menakjubkan yang pernah. Aku sangat mengaguminya. Daddy, ayahku, ia tidak perduli padaku karena yang ia pedulikan hanyalah perusahaannya. Bahkan sejak kecil Daddy sudah memaksaku untuk memenuhi kualifikasinya sebagai penerus perusahaan yang baik. Untungnya Mama selalu bisa menolongku saat Daddy bersikeras seperti itu." Hatinya selalu berdegub dengan kencang saat mengingat kembali sang Mama.

"Mama sangat menyayangiku. Aku dapat merasakan cintanya setiap saat, entah itu saat ia memelukku hangat, menggendongku yang saat itu memang masih kecil, menciumku pipiku, membelai rambutku, semuanya terasa penuh dengan cinta. Mama sangat suka berkebun, dan Mama selalu menaruh seluruh hatinya saat ia merawat taman ini. Aku ingat saat pertama ibu mengajariku cara menanam aku sangat bahagia! Tapi Mama harus meninggalkan aku lima tahun lalu karena penyakit yang aku tidak tau apa. Semenjak saat itu, semua tanaman di tempat ini terus layu seolah-olah mereka telah kehilangan nyawanya. Semenjak saat itu, seluruh burung yang biasa bermain ke taman ini menghilang meskipun aku telah menyiapkan makanan untuk mereka seolah-olah Mama adalah alasan sebenarnya mereka disini. Semenjak saat itu, hatiku selalu terasa hampa seolah-olah aku telah kehilangan sekeping pecahan hatiku. Semenjak saat itu, Daddy semakin jarang menghabiskan waktu di rumah, dan ia seperti terobsesi dengan perusahaannya. Ia semakin mengekangku. Aku yakin ia pasti sudah memerintahkan seluruh bawahannya untuk bersikap baik padaku."

'Bukankah itu bagus?'

"Memang semua orang akan langsung membantuku, beramah-tamah padaku, dan selalu berinisiatif untuk menolongku jika aku terlihat kesusahan, tapi semua itu justru hanya membuat aku merasa terkekang. Aku juga merasa kalau mereka semua tidak tulus! Semuanya, kecuali Claudia, Ery, dan Fin."

'Ceritakan! Ceritakan tentang mereka!' Elvin merasa sangat senang mendengar antusiasme tanaman itu.

"Semenjak kepergian Mama, Daddy selalu mengekangku. Baik itu dirumah ataupun di sekolah, tidak kurang dari lima orang mengawalku. Semua orang mulai menjauhiku karena takut berurusan dengan mereka. Sampai akhirnya ada seorang anak yang tidak sengaja melemparku dengan bola basket saat aku sedang berjalan di stadium, anak itu dihajar sampai ia harus menghabiskan dua bulan di rumah sakit. Semenjak kejadian itu, aku tidak lagi dikawal mereka. Tapi posisi Daddy sebagai donatur terbesar di sekolah itu memberikannya kekuasaan untuk mengatur bahkan kepala sekolah. Ia meminta kepala sekolah untuk langsung mengeluarkan murid yang berani menggangguku. Karena itulah tidak ada orang yang mau berbicara denganku karena mereka tidak ingin ambil resiko menyinggungku. Sampai suatu saat, waktu itu aku sedang makan dikantin, Claudia dan Ery tidak sengaja menumpahkan jus ke kepalaku. Mereka berdua terus meminta maaf padaku, tapi aku tidak merasakan kalau mereka ketakutan. Justru aku ingin tertawa saat melihat Claudia begitu ekspresif saat meminta maaf. Ery meminjamkan aku bajunya. Mereka bertanya kemana temanku dan kenapa aku sendirian. Aku bilang pada mereka kalau aku tidak memiliki teman. Sejak saat itu mereka bilang jika aku butuh teman panggil saja mereka."

'Lalu bagaimana dengan Fin?'

"Fin, dia adalah orang yang paling mencintaiku setelah Mama."

'Ceritakan! Ceritakan!'

"Hubunganku dengan mantan-mantanku selalu putus setelah 1 bulan atau bahkan kurang. Biasanya kami putus karena mereka tidak suka dengan sikapku yang tidak ingin berhubungan badan terlalu dekat dengan mereka, dan tidak jarang juga aku putus karena Daddy selalu mengancam mereka. Sedangkan Fin, ia tidak peduli dengan semua itu. Ia bisa memaklumi sikapku, dan menurutnya, mantan-mantanku juga harusnya bisa memaklumi. Ditambah lagi ia sangat pengertian, selalu membuatku merasa nyaman, dan selalu membuatku bahagia. Aku sangat mencintainya, dan ia juga sangat mencintaiku. Buktinya kami sudah pacaran lebih dari 1 bulan, tepatnya 1 bulan 1 minggu. Aku berharap Daddy tidak akan pernah mengetahui hubungan kami karena yang ia bisa lakukan hanyalah merusak kebahagiaanku."

'Kenapa? Kenapa Daddy ingin merusak kebahagiaanmu?'

"Daddy itu jahat, dia tidak memerdulikan apapun selain dirinya sendiri. Dengan gampangnya Daddy menyuruh aku untuk meninggalkan teman-temanku tanpa memikirkan perasaanku. Ia bilang teman-temanku tidak pantas berteman denganku dan hanya akan mengganggu jalanku saja."

'Kejam sekali, tapi Elvin, mungkin saja Daddy melakukan semua itu karena ia sangat meyayangimu.'

"Yang ia sayangi hanyalah perusahaan dan dirinya sendiri. Sementara aku hanyalah seekor burung di dalam sangkarnya yang bisa selalu ia paksa untuk mengeluarkan kicauan yang merdu." Matanya terasa sangat panas, bahkan setetes air mata sudah mengalir dari sudut matanya.

'Elvin. . .'

"Lady, Master meminta anda untuk segera makan malam. Master baru saja berangkat ke kantor karena ada urusan mendadak." Elvin dengan cepat mengelap air matanya, dan langsung berbalik menatap Alicia sambil tersenyum.

"Baiklah Alicia, aku akan segera kesana."

'Elvin, kau mau kemana?'

"Aku harus masuk ke rumah sekarang. Jangan khawatir, aku akan ke sini lagi besok. Aku janji."

'Janji.'

"Lady, anda berbicara dengan siapa?"

"Kau tidak mendengarnya?" Alicia menggeleng. Elvin memutuskan untuk tetap diam, dan langsung pergi ke ruang makan.

"Alicia duduklah, disini!" Elvin menarik kursi di sebelahnya. Elvin menceritakan pertemuannya dengan tanaman itu pada Alicia dengan sangat semangat. Memang terdengar gila, tapi ia tidak peduli apakah orang di hadapannya ini percaya ceritanya atau tidak.

Setelah makan Elvin langsung menghempaskan badannya di atas kasur yang rasanya semakin terasa empuk. Kasurnya terasa berkali-kali lipat lebih nyaman dari biasanya, apalagi tubuhnya terasa begitu lelah sejak pulang dari kantor. Meskipun tetap saja tidak ada yang menandingi keterkejutannya bertemu dengan tanaman yang bisa bicara itu. Tapi apa sebenarnya tanaman itu? Berasal dari mana dia? Apakah ia punya nama? Sebetulnya masih banyak pertanyaan yang terngiang di kepalanya, tapi sepertinya kedua kelopak matanya sudah kehilangan seluruh energi mereka. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, ia kembali tertidur dalam senyuman.

.

Mentari pagi hari ini terasa begitu indah untuk Elvin. Tidak hanya ia tidak harus berhadapan dengan ayahnya pagi ini karena dia sudah pergi ke kantor pagi sekali, tapi ia juga diperbolehkan untuk mengendarai mobilnya sendiri hari ini. Alex cuti hari ini karena ibunya sedang sakit. Hari ini benar-benar sangat menyenangkan, bahkan langkahnya saja terasa sangat ringan. Tidak hanya itu, otaknya bahkan dapat memeroses semua pelajaran hari ini dengan sangat lancar.

Mungkin aneh kedengarannya jika ia bahagia hari ini karena ayahnya tidak ada di rumah padahal ayahnya memang jarang ada di rumah. Tapi jika menginat apa yang terjadi kemarin, wajar saja jika Elvin merasa sangat bahagia saat ini. Anehnya, ingatan tentang kejadian kemarin tiba-tiba saja terlelap di dalam otaknya seperti kejadian itu tidak pernah terjadi.

Elvin langsung menepis pikiran buruk yang hampir saja hinggap di kepalanya. Daripada mengharapkan sesuatu yang berlebihan, lebih baik ia menikmati apa yang ada. Ditambah lagi, ia tidak ingin merusak saat bahagia bersama dua sahabatnya ini. Saat ini mereka sedang berada di kantin sekolah.

"Hey, Elvin ayo kita ke Mall! Katanya di sana ada tempat karaoke yang baru buka. Tempat itu langsung jadi hotspot beberapa hari ini! Tapi aku dan Ery tidak bisa kesana karena harga perjamnya mahal sekali."

"Aku tidak tau Claudia. Daddy pasti tidak akan suka jika aku pergi ke tempat seperti itu."

"Hahh.. Elvin kau ini kenapa sih? Bukannya Daddy-mu itu lagi tidak sibuk di kantor? Itu artinya kau bebas dong! Lagipula belum tentu orang tua itu tau kalau kita pergi!"

"Tapi Claudia, ini sudah sore! Bagaimana kalau Daddy pulang dan aku tidak ada dirumah?"

"Elvin! Kita ini teman kan? Masa menolong teman sendiri saja kau tidak mau!" Claudia sedikit meninggikan suaranya.

"Bu-bukan begitu-"

"Tidak apa Elvin, Aku dan Claudia mengerti kok. Kamu adalah pewaris perusahaan terbesar ke-3 di dunia jadi wajar kalau kamu tidak bisa berkorban walau hanya sedikit untuk kami yang hanya rakyat biasa."

Ucapan Ery barusan menohok sampai ke ulu hatinya. Mereka adalah sahabat Elvin yang selalu peduli padanya, selalu ada untuknya setiap saat, tapi untuk mementingkan mereka lebih dari ayahnya saja ia tidak bisa. Mungkin Ery benar, ia harus berkorban untuk mereka paling tidak sekali ini.

"Baiklah, aku rasa tidak akan jadi masalah jika kita pergi karaoke sebentar."

"Bagus! Kalau begitu tunggu apa lagi!" Claudia langsung menarik Elvin ke parkiran. Mereka pergi bersama-sama menggunakan mobil Elvin. Claudia tidak berhenti-henti mengoceh tentang betapa populernya tepat karaoke yang akan mereka kunjungi itu, dan benar saja tempat itu penuh. Harga kamar perjam-nya juga termasuk mahal, tapi itu bukan masalah untuk Elvin. Ia dengan senang hati memesan kamar VIP untuk satu jam. Ini memang bukan pertama kalinya ia yang membayar semua tagihan jika mereka bermain bersama, tapi bukannya merasa jengkel, ia malah senang. Menurutnya, seorang teman sudah sewajarnya membantu temannya yang lagi kesusahan, di tambah lagi ia juga merasa senang karena akhirnya ia dapat bermanfaat untuk temannya.

Claudia tidak mau membuang-buang waktu percuma jadi ia langsung memilih lagu-lagu kesukaannya. Sementara Ery, ia langsung mengambil telepon yang ada di meja untuk memesan makanan: 2 large cup popcorn caramel (untuk dirinya dan Claudia), 1 french fries(untuk Elvin), 3 minuman soda. Tak lama, masuk seseorang yang membawakan pesanan mereka.

"Gawat! Aku lupa bawa dompet." Ucap Ery sambil merogoh-rogoh isi tasnya, tapi ia tidak menemukan dompetnya dimanapun.

"Sial! Uangku juga tidak cukup untuk membayar ini semua." Elvin mengambil dompetnya, dan meletakan benda itu di atas meja.

"Jangan khawatir, biar aku yang bayar."

"Kamu memang sahabat kami yang paling baik Elvin." Elvin kaget saat Ery dan Claudia tiba-tiba memeluknya, tapi kekagetan itu dengan depat terganti dengan senyuman gembira. Ia merasa bahagia bisa menolong kedua temannya ini.

"Karena yang akan membayar semua ini adalah Elvin, bagaimana kalau kau saja yang bernyanyi duluan?"

"Tidak perlu Ery, aku sedang tidak ingin bernyanyi."

"Kau yakin?"

"Iya aku yakin."

"Ya sudah kalau begitu aku saja" Claudia langsung mengambil mike dari atas meja, dan sedetik kemudian, ruangan itu dipenuhi oleh suaranya. Meskipun lagu yang dinyanyikan Claudia bukanlah sebuah lullaby, tapi entah kenapa rasa kantuk menyerangnya.

"Aku sangat mengantuk, aku akan tidur sebentar." Elvin menyenderkan badannya ke sofa.

"Elvin kalau kau tidur, bagaimana jika makanannya habis?" Tanya Ery.

"Kalian pesan saja. Untuk uangnya kalian ambil saja dari dompetku." Ucap Elvin sambil menunjuk dompetnya yang masih berada di atas meja.

"Terima kasih Elvin.

Tak butuh waktu lama untuk Elvin terlelap ke dalam dunia mimpi, ia tidak tau apa yang dilakukannya seharian ini sampai-sampai energinya hilang seperti ini. Selayaknya orang tidur, mimpi-mimpi menghampirinya, tetapi ada satu mimpi yang sampai-sampai membuat dahinya mengernyit dalam tidur. Ia berjalan menyusuri sebuah hutan entah dimana, meskipun begitu ia terus berjalan mengikuti kemana kakinya akan membawanya. Tiba-tiba sebuah burung berbulu biru hinggap di hadapannya, tak selang semenit, burung itu kembali terbang. Elvin mengikuti burung itu, Ia berlari mengejar burung itu entah untuk apa. Burung itu terus terbang hingga akhirnya hinggap di bahu seorang wanita. Elvin tertegun melihat wanita itu. Ia mengenali gaun coklat itu, ia mengenali rambut pirang itu, ia mengenali bahu itu, ia mengenali cara berdiri itu. Wanita itu adalah Mama, ia yakin itu Mama meskipun hanya melihatnya dari belakang. Elvin ingin memanggilnya, tapi suaranya tak mau keluar. Elvin tidak menyerah, Ia ingin berlari menuju wanita itu, tapi kakinya tidak dapat digerakan. Elvin melihat kakinya terikat oleh semacam sulur, perlahan kakinya berubah menjadi batu. Ia terus berusaha untuk menggerakan kakinya dan berusaha untuk berteriak, tapi sekuat apapun ia mencoba, tubuhnya tetap tidak dapat digerakan.

Matanya terbuka, menampakan sisa-sisa kekhawatiran yang dibawa mimpinya barusan. Tubuhnya basah oleh keringat, nafasnya masih menderu kencang. Ia berusaha untuk mengatur nafasnya. Suara bising langsung menyerang telinganya saat seluruh nyawanya telah berkumpul di tubuhnya. Ia melihat kamar yang tadinya rapi kini telah berubah seperti kapal pecah, sampah dan makanan berserakan dilantai. Kedua sahabatnya itu kini tengah bernnyanyi seperti orang yang kesetanan, terutama Claudia. Elvin mengambil hp-nya, dan matanya langsun membulat ketika tahu kalau sekarang sudah jam 11 malam. Gila! Mereka sudah bernyanyi selama lima jam lebih! Ini benar-benar gila!

"Claudia! Ery!" Elvin berusaha memanggil mereka, tapi tidak ada satupun yang mendengar. Sudahlah, itu tidak penting sekarang, ia hanya bisa berharap kalau ayahnya tidak pulang malam ini. Elvin bergegas keluar dengan panik tanpa memerdulikan dua orang yang sedang heboh bernyanyi itu. Giginya gemetar ketakutan, tangannya gelisah tak mau diam, ia bahkan hampir beberapa kali menabrak orang saat menyetir. Untunglah ia dapat sampai ke rumah dengan selamat, dan dengan perlahan ia membuka pintu rumahnya. Ia tidak ingin membangunkan siapapun apalagi ayahnya kalau dia memang sudah pulang. Walaupun pada akhirnya usahanya itu sia-sia karena sang ayah berdiri di depan tangga, menunggunya.

"Suruh mereka semua berhenti mencari, Lady Elvin sudah ada di rumah." Ucap pria itu pada seseorang yang tidak Elvin kenali.

Ayahnya berjalan mendekat; Elvin tidak berani memandang wajah ayahnya saat itu. Elvin memjamkan matanya, dan benar saja, sebuah tamparan mendarat telak di pipinya yang kini terasa sangat panas. Sekarang ia lebih memilih untuk mati saja tadi di jalan.

"Memalukan, sungguh memalukan! Seorang wanita, terlebih lagi seorang anak tunggal dari pemilik salah satu perusahaan terbesar di dunia pulang selarut ini! Bagaimana jika ada orang penting yang melihat!? Kamu akan mencoreng nama baik keluarga kita!" Suara bentakan ayahnya terasa begitu menyakitkan tidak hanya di telinga, tetapi juga di hatinya.

"Maafkan aku Daddy. . ." Setetes air mata mengalir menyusuri pipinya.

"Maaf tidak akan bisa mengulang kembali waktu yang telah berlalu! Apakah kamu mengerti itu!"

"Baiklah Daddy." Ucapnya sambil terisak.

"Kemana saja kamu sampai selarut ini!?"

"Aku diajak sahabatku, pergi ketempat karaoke. Di sana aku ketiduran, saat aku bangun, sudah selarut ini." Elvin tidak mampu mengucapkan kalimat itu dengan lancar; ia berusaha sekuat mungkin untuk menahan isakannya agar tidak pecah menjadi tangisan.

"Bagaimana bisa kamu masih bisa menyebut mereka sahabat, sementara mereka sudah membuatmu terlihat seperti GADIS MURAHAN!" Elvin memalingkan wajahnya, ia tidak bisa menerima cacian dan bentakan ayahnya lebih dari ini. "Masuk ke kamarmu sekarang!"

Elvin memandang punggung ayahnya menghilang ke atas tangga. Hatinya sungguh sakit, rasanya jauh lebih menyakitkan dari saat obat antibiotik disuntikan ke tubuhnya saat ia sakit dulu. Ia tidak menyangka ayahnya akan tega menghina dirinya, darah daging pria itu sendiri.

Ia memandang foto Mama yang memang terlihat dari situ, andai saja Mamanya masih ada saat ini, ia pasti akan menenangkannya dengan sebuah senyuman dan kecupan hangat. Elvin menghapus air matanya. Ia tidak boleh cengeng karena ia yakin Mama juga tidak akan menangis di saat-saat seperti ini.

Ia hendak berjalan menuju kamarnya saat tiba-tiba saja ingatan mengenai tanaman ajaib itu memberontak masuk kedalam kesadarannya. Ia ingat tentang suara itu, ia ingat tentang tanaman itu, dan ia juga ingat tentang janjinya.

Elvin dengan tergesa-gesa namun tetap pelan, menyelinap ke taman. Untunglah saat ini sudah larut malam, jadi para maid sudah pada tidur, tukang kebun sudah kembali kerumahnya masing-masing. Ia hanya perlu menghindar dari satpam-satpam yang selalu berpatroli setiap malam hari. Akhirnya ia sampai di taman itu tanpa ketahuan. Ia tidak harus khawatir kalau-kalau satpam-satpam akan menemukannya karena tidak ada yang boleh masuk ke tempat ini kecuali ia dan ayahnya.

Elvin menghampiri bunga itu, dan berjongkong. "Hi, aku datang." Ucapnya dengan suara yang masih sedikit agak serak karena habis menangis.

'Elvin! Kau kemana saja? Kenapa lama sekali?'

"Maaf, aku banyak urusan saat ini." Elvin mengelus pipinya yang masih terasa hangat. Ia tidak peduli apakah tanaman itu dapat melihatnya atau tidak. "Maukah kamu mendengar ceritaku."

'Tentu saja! Aku sudah tidak sabar!'

"Tadi pagi, aku merasa sangat bahagia. Daddy harus pergi pagi-pagi sekali untuk urusan kantor, dan yang paling membahagiakan adalah aku boleh mengendarai mobilku sendiri-"

'Mobil itu apa? Apa bisa dimakan?'

"Er. . . Mobil itu adalah sejenis alat trasnportasi."

'Oh. . .'

"Aku lanjut lagi. Jadi hari ini aku pergi kesekolah dengan mengendarai mobilku sendiri. Siang tadi, Ery dan Claudia mengajakku ke tempat Karaoke, itu tempat untuk bernyanyi. Aku sudah berusaha untuk menolak ajakan mereka, aku tidak boleh pulang telat, tapi mereka sangat ingin pergi ke karaoke. Mereka tidak bisa pergi tanpa aku karena mereka tidak punya uang. Tempat itu memang sangat mahal sekali. Karena mereka adalah sahabatku, makanya aku ingin menolong mereka. Maksudku, sahabat harusnya mau berkorban untuk sahabatnya yang lain kan? Jadi akhirnya aku setuju untuk ke tempat karaoke. Masalahnya saat sampai di tempat karaoke, aku ketiduran. Saat aku bangun sudah semalam ini. Daddy sangat marah padaku dan tidak mau mendengarkan penjelasanku. Ia menamparku dan bahkan memanggilku wanita murahan padahal aku ini darah dagingnya. Kenapa!? Aku tau aku salah! Tapi kenapa ia harus sekasar itu padaku!?"

'Aku mengerti perasaanmu Elvin, Daddy memang terlalu berlebihan. Tapi! tapi menurutku, Daddy bersikap seperti itu karena dia sangat sayang dan peduli padamu! Dia takut kalau ada sesuatu yang buruk terjadi padamu. Di tambah lagi, kenapa Claudia dan Ery tidak membangunkanmu padahal mereka tau kau tidak boleh pulang telat? Mereka itu sahabatmu kan?'

"Mungkin saja mereka tidak membangunkan aku karena mereka lupa, a-atau karena mereka terlalu asik bernyanyi. Aku juga salah karena memasang alarm.." Ya, Elvin percaya mereka pasti tidak sengaja. Meskipun ia yakin kalau ia percaya pada mereka, suaranya tetap bergetar gugup entah kenapa. Satu hal yang ia tau pasti, ucapan tanaman itu tentang ayahnya yang memerdulikannya itu sangatlah sulit untuk dipercaya.

'Elvin, apa kamu tidak apa-apa?'

"Eh? Aku tidak apa-apa, kenapa?"

'Entahlah tapi suaramu terdengar ketakutan dan kecewa.'

"Mungkin itu hanya perasaanmu saja."

'. . . Sepertinya.'

Keheningan menerpa mereka selama beberapa detik. Seulas senyuman tiba-tiba terpahat di bibir Elvin. "Terima kasih."

'Untuk apa?'

"Terima kasih karena, entah bagaimana, setelah berbicara denganmu, hatiku terasa ringan. Sangat ringan, aku seperti sedang berbicara dengan. . ." Mama. Rasa ini, entah kenapa rasanya begitu sama.

'Dengan siapa?'

"Tidak jadi, lupakan saja."

'Curang! Aku ingin tahu!'

"Sudahlah. Hei! Aku lupa belum menyiram kalian hari ini!? tunggu aku akan menyiram kalian semua." Entah kenapa ia merasa seperti seseorang yang punya kemampuan untuk berbicara dengan tanaman sekarang, padahal hanya tanaman itu yang berbicara padanya.

Elvin mengambil penyiram lalu menyiram seluruh tanaman yang ada disana. Ia sedikit merasa bersalah karena sudah melupakan tanaman-tanaman ini. Sejujurnya ia sedikit kesal karena selama ini perintah ayahnya untuk ia tidak pulang malam bermanfaat untuk tanaman-tanaman ini. Sekarang ia malah merasa kalau ayahnya selama ini memikirkan mereka.

Setelah selesai menyiram, Elvin mendudukan dirinya di kursi sambil terus berbicara dengan tanaman itu. Elvin tidak bohong saat ia mengatakan ia merasa lega ketika berbicara dengan tanaman itu. Mereka terus bercerita, senyuman tak pernah lepas dari wajah Elvin saat ia bercerita. Banyak sekali hal yang mereka ceritakan, mulai dari hal-hal umum seperti tempat-tempat indah di New York, apa itu mall, hingga hal-hal pribadi Elvin seperti pengalamannya waktu kecil, makanan kesukaannya, warna kesukaannya, dan masih banyak lagi. Elvin tidak pernah merasa bosan saat berbicara dengan palmon. Mereka terus bercerita sampai tidak sadar Elvin tertidur.

"Lady! Bangun Lady!. Hey kalian Lady ada disini!" Padahal ia sudah terbiasa mendengarkan teriakan Alicia saat membangunkan dirinya setiap pagi, tapi kenapa rasanya pagi ini ada yang berbeda?

"Lima menit lagi Alicia." Ucap Elvin yang masih sangat mengantuk.

"Lady! Cepat bangun, Master sedang mencari anda!" Elvin tersentak mendengar ucapan Alicia. Seketika seluruh nyawanya terkumpul, dan memori-memori semalam kembali berdatangan. Alicia dengan sigap membantu Elvin berdiri sambil merapikan pakaian gadis itu. Tak lama setelah itu seorang petugas keamanan datang, dan mereka berdua mengawal Elvin ke tempat sang penguasa rumah ini.

Mereka berdua membawa Elvin ke depan tangga, di sana ayahnya sudah menunggu. Dengan masih mengenakan baju tidur, wajahnya pucat, rambutnya masih berantakan, ayahnya terlihat begitu berantakan, di sebelah pria itu, Elvin dapat melihat Alex sedang berusaha menenangkannya.

Elvin dapat melihat ekpresi kaget Ayahnya saat melihat Elvin. Elvin memejamkan matanya saat sang ayah berjalan dengan cepat kearahnya. Ia takut. Ia takut dengan tamparan ayah, ia takut dengan cacian ayah, ia takut-

Elvin membuka matanya, ia kaget saat ayahnya tanpa di sangka-sangka malah memeluk dirinya. Hangat. Ia merasa sangat hangat saat ini. Kehangatan yang berbeda dari yang ia rasakan saat bersama Claudia, atau Ery, atau bahkan Fin. Elvin ingat rasa hangat ini. Kehangatan ini, rasanya seperti bersama Mama.

Elvin tak bisa berlama-lama menikmati kehangatan itu karena ayahnya langsung melepaskan pelukan itu. Elvin dapat kembali merasakan "kedinginan" sang ayah yang selama ini dirasakannya. "Darimana saja kamu?" Suara ayahnya bergetar, Elvin dapat mendengarnya dengan jelas.

"Semalam aku teringat kalau aku belum menyiram tanaman di taman Mama, makanya aku kesana untuk menyiram tanaman. Aku tidak sengaja ketiduran di sana. Maafkan aku."

"Jangan membuat ulah lagi. Kamu membuat semua orang khawatir di pagi hari! Sekarang pergi ke ruang makan, sarapanmu sudah siap."

Elvin menganggukan kepalanya, dan langsung melangkah ke ruang makan. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, sarapan hari ini terasa lebih khidmat. Biasanya Elvin selalu merasakan aura intimidasi sang ayah setiap mereka makan bersama, entah kenapa pagi ini aura itu tidak ada. Kenapa? Kenapa ia malah merasa terganggu?

"Mulai hari ini Alex akan selalu mengantarmu kemanapun, dan kamu harus memberitahu nya kalau kamu mau pergi ke tempat-tempat selain rumah, sekolah, atau kantor. Dia akan terus menemanimu. Ini semua untuk mencegah agar kamu tidak berbuat ulah lagi."

"Baiklah Daddy." Setelah kejadian kemarin, ia sudah tidak memiliki kesempatan untuk membantah perintah ayahnya lagi.

"Kita akan pergi ke pesta antar mitra kerja Daddy nanti malam. Hari ini kamu bebas untuk pergi kemana saja untuk merawat tubuh, ke salon, spa, atau membeli perlengkapan make up. Yang jelas kamu harus tampil cantik malam ini, tapi jangan sampai telat ke pesta."

"Baiklah Daddy." Ia memang sangat ingin pergi ke pesta ulang tahun Fin, tapi bukan berarti dia ingin pergi ke pesta-pesta politik seperti itu. Pesta untuk mengeratkan hubungan atas nama uang dan jabatan, saling menebar senyum-senyum penuh kemunafikan. Pesta ini menunjukkan denga jelas seberapa terjeratnya manusia-manusia sekarang ini oleh benda sakral bernama uang. Elvin sama sekali tidak tertarik untuk menghadiri pesta seperti itu, tapi ia tidak punya pilihan lain.

"Sekarang bersiaplah untuk ke sekolah, kamu ada mata pelajaran pagi kan hari ini?"

Elvin menganggukkan kepalanya. Awalnya ia sedikit kaget saat tahu ternyata ayahnya hafal dengan jadwal pelajarannya, tapi setelah ia tela'ah lagi, mengetahui jadwalnya pasti akan lebih memermudah ayah untuk mengatur jadwalnya.

Mereka kembali melanjutkan makan dalam ke khidmatannya masing-masing. Pikiran Elvin melayang entah kemana, ia kembali enggan berdiam diri di ruangan itu. Ia kembali teringat akan beberapa menit yang lalu saat ia, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, menikmati sarapan bersama ayahnya. Pikiran itu terus memutar mundur memorinya hingga ia teringat saat ia kembali merasakan kehangatan Mama melalui ayahnya. Ia kembali ingat dengan tanaman itu, ia masih tidak percaya kalau semua yang ia alami bersama tanaman itu adalah nyata, dan bukan khayalan. Pikirannya terus mundur hingga sampai ke saat ayah menamparnya, pipinya masih terasa panas sampai sekarang. Matanya membulat saat pikiran itu berhenti pada sebuah titik. Claudia dan Ery, ayahnya pasti tidak akan membiarkan kejadian semalam begitu saja. Ia harus melakukan sesuatu, nasib kedua sahabatnya itu sekarang sedang terancam oleh ayahnya sendiri. Elvin meletakan kedua tangannya di atas meja, rotinya sudah habis ia makan, ia menatap ayahnya yang kini tengah membaca koran. Dengan menarik nafas dalam, ia mengumpulkan seluruh keberaniannya.

"Daddy aku mohon jangan mengeluarkan Claudia dan Ery dari sekolah."

"Apa maksudmu?" Daddy melipat koran yang baru saja di bacanya dan meletakan benda itu di atas meja.

"Daddy! Biar bagaimanapun juga mereka adalah sahabatku!"

"Setelah apa yang mereka perbuat padamu kamu masih memanggil mereka sahabat!? Elvin!"

"Aku tau! Tapi masalah kemarin itu bukan salah mereka! Aku yang memaksa mereka untuk menemaniku ke karaoke Daddy! Aku juga yang salah karena sampai ketiduran! Aku janji hal ini tidak akan terulang lagi! Karena itu aku mohon Daddy!" Elvin tau ia telah berbohong pada ayahnnya, tapi Claudia dan Ery itu adalah sahabatnya! Sudah sewajarnya ia maju untuk melindungi mereka

Ayahnya diam sejenak, Elvin berusaha sekuat mungkin untuk tidak goyah saat sang ayah memandangnya tajam. "Baiklah, tapi pastikan hal seperti kemarin tidak akan terulang lagi."

Elvin mengerjapkan matanya berkali-kali, ia tidak percaya hal ini akan terjadi. Ia pikir ayahnya akan marah dan mencacinya lagi, tanpa di sangka malah hal ini yang terjadi. Elvin tidak dapat menahan senyuman yang mekar di bibirnya, dan ia memang tidak ingin menahannya.

"Terima kasih Daddy!" Ia menundukkan kepalanya sejenak dan dengan riang melenggang pergi dari ruangan itu. Langkahnya terasa begitu ringan bahkan pergi kesekolahpun tidak masalah untuknya.

Mungkin tanaman itu benar. Mungkin memang ayah selama ini peduli padanya.

Setelah selesai membersihkan diri, Elvin, mengenakan baju lengan panjang, celana warna hitam, dan ikat rambut hitam, langsung berjalan ke depan rumah. Seperti biasa, Alex sudah menunggunya di sana. Tanpa ba-bi-bu lagi, Elvin langsung masuk ke dalam mobil.

"Sepertinya tuan putri kita sangat senang hari ini." Elvin hanya tersenyum menanggapi ucapan Alex barusan.

"Alex, kau tidak lupa kan?"

Alex mengacungkan jempolnya. "Semuanya beres." Elvin tertawa, begitu pula dengan Alex. "Jadi, bisa kita pergi sekarang?"

Elvin menganggukan kepalanya, dan Alex langsung memacu mobil itu. Tidak butuh waktu lama bagi mobil itu untuk sampai di sekolahnya. Sesaat sebelum keluar dari mobil, Elvin mengadahkan tangannya ke Alex lalu Alex meletakkan sebuah kotak putih yang diikat dengan pita berwarna merah di atas tangan itu.

"Terima kasih, Alex." Elvin langsung bergegas pergi ke taman. Ia sudah janji untuk bertemu dengan Fin di tempat itu sebelumnya. Ia sudah sangat tidak sabar ingin memberikan kado ini padanya, sampai-sampai ia lebih memilih untuk melewati jalan pintas melalui pepohonan. Ia sangat penasaran dengan ekspresi Fin saat menerima smartphone ini. Kekasihnya itu pasti mengerti kenapa ia tidak bisa datang ke pestanya malam ini, makanya ia sudah menyiapkan kado ini sebagai hadiah pengertiannya.

"Dia tidak akan datang!" Elvin menghentikan langkahnya. Elvin mengenali suara itu, suara milik Fin. Ia bahkan dapat melihat punggung Fin dan seorang pria lain di kursi taman itu.

"Kenapa kau begitu yakin?" Tanya pria yang Elvin tidak kenali.

"Karena dia adalah seorang putri yang tidak mau menghadiri pesta murahan orang-orang seperti kita. Bahkan baginya, tubuhnya itu sangat suci sampai-sampai tidak mau disentuh oleh orang seperti kita. Dan jangan tertipu sama akting sedihnya, dia sangat suka mendramatisir sesuatu. Dia itu seorang drama queen kelas kakap." Elvin membulatkan matanya. Ia tidak menyangka Fin bisa berbicara seperti itu tentangnya. Hatinya sakit sekali, selama ini orang yang sangat ia cintai, ia elu-elukan, ternyata orang itu malah menjelek-jelekan dirinya di depan orang lain. Elvin benar-benar merasa terkhianati, hatinya seolah-olah ditusuk oleh sebilah belati. Bahkan kotak yang awalnya sempurna, kini sudah tak berbentuk lagi.

" Kenapa kamu masih bertahan dengannya? Ahh aku tau pasti karena hartanya."

"Tentu saja! Aku yakin sebentar lagi, sambil berakting sedih, ia akan membawakanku hadiah karena dia tidak bisa datang ke pestaku malam ini. Padahal siapa juga yang ingin dia datang. Aku bisa berkencan dengan Nancy sepuasku. Dia tidak akan pernah tau kalau selama ini aku berpacaran dengan Nancy karena dia itu gadis bodoh."

Elvin rasanya ingin muntah mendengar tawa mereka. Ia benar-benar muak dengan orang yang ia anggap kekasih dengan sepenuh hatinya itu. Teganya ia merendahkan dirinya seperti itu padahal ia adalah orang yang selalu Elvin agung-agungkan keberadaannya. Elvin tidak tahan lagi. Ia langsung melangkahkan kakinya, dan berdiri di depan pria itu.

Fin sangat kaget karena melihat Elvin, terlebih lagi karena Elvin tidak datang melewati jalan, melainkan hutan di belakang mereka.

"Kita Putus!"

"Kenapa sayang!? Kamu kenapa tiba-tiba minta putus?"

"Aku dengar, Fin! Aku dengar semuanya! Kamu brengsek!"

Elvin kaget ketika melihat sebuah seringaian muncul di wajah Fin. Pria itu tiba-tiba mendorongnya. "Hey wanita murahan! Seharusnya kamu berterima kasih karena aku kamu tidak kesepian lagi! Iyakan! Kamu pikir ada apa orang yang mau sama kamu!? Dengar ya, telinga aku aja sampe sakit mendengar ocehanmu tiap hari. Bisanya cuma ngeluh, sok mendramatisir keadaan. Dasar murahan." Fin mengacungkan jari tengahnya tepat di wajah Elvin.

Elvin langsung pergi dari tempat itu, matanya terasa sangat panas. Ia benar-benar merasa malu, terlebih lagi orang yang memermalukan dirinya adalah orang yang baru beberapa menit yang lalu ia merasa orang itu sangat berharga. Hatinya sakit sekali. Ia ingin sekali mematahkan jari itu dan menghajar wajah itu, tapi ia tidak bisa. Tidak peduli seberapa sakitnya pria itu telah menyakitinya, ia tetap tidak bisa menyakiti Fin. Elvin berlari sepanjang koridor, tidak peduli dengan orang-orang yang ditabraknya atau dengan pandangan orang-orang padanya, yang ia pedulikan sekarang hanyal Claudia dan Ery. Elvin akhirnya menemukan mereka sedang duduk di salah balkon sekolah. Elvin langsung meluapkan seluruh tangisannya di dalam pelukan Ery. Sambil terisak, ia menceritakan pada mereka apa yang terjadi.

"Sudahlah jangan menangis, kita laporkan saja dia ke pihak sekolah! aku jamin dia akan dikeluarkan!"

"Kamu juga jangan heboh Claudia. Elvin, jika kamu tidak bisa melaporkan dia, biar aku dan Claudia saja yang melaporkannya." Elvin menggelengkan kepalanya.

"Tidak usah, aku tidak ingin memerbesar masalah. Aku tidak tau apa yang akan Daddy lakukan jika dia tahu masalah ini. Lagipula, sudah aku sangat bahagia bisa memiliki kalian disisiku. Itu saja sudah cukup." Elvin benar-benar tulus mengatakan itu dari hatinya. Ia benar-benar sangat bahagia bisa bersahabat dengan mereka berdua.

"Ya sudah kalau begitu. Elvin, aku dan Claudia ke toilet dulu." Elvin hanya menjawab dengan senyuman, suaranya masih terlalu bergetar. Ia takut ia akan menangis lagi jika ia berbicara. Elvin duduk sendirian di tempat itu, ia memandang ke arah langit. Angin bertiup sepoi-sepoi, membawa kenangan masa lalu Elvin. Ia tersenyum saat ia teringat akan Mama. Mama selalu bilang hidup ini berat, tapi ia tidak boleh kalah. Ia harus terus bangkit, dan menunjukkan pada hidup bahwa dia akan kalah. Elvin menepuk pipinya semangat.

Elvin berdiri, hendak menyusul dua sahabatnya ke toilet. Ia ingin menunjukkan pada mereka kalau ia sudah tidak apa-apa, mereka pasti sangat mengkhawatirkannya. Elvin melangkah dengan semangat bersama dengan senyuman bak sinar mentari. "Dia tau tidak sih air matanya itu menjijikan." Elvin menghentikan langkahnya tepat di balik pintu menuju toilet.

"Untung saja dia memelukmu bukan aku." Elvin merapatkan telinganya ke pintu toilet. Ia dapat mendengar dengan jelas suara tawa Claudia.

"Bajuku sampai basah seperti ini! menjijikan. Akan aku buat si Princess itu membelikan aku make up paling mahal! Sekalian sama baju bagus untuk mengganti baju ini. Aku ragu aku mau menggunakan baju ini lagi." Ery. Elvin menggenggam ujung bajunya kuat-kuat, berusaha sekuat mungkin tidak memikirkan siapa "Princess" yang dimaksud gadis itu. Niatnya untuk menemui mereka hilang sudah, tergantikan oleh rasa kekhawatiran dan berharap.

"Ide bagus! Aku yakin gadis bodoh itu akan menuruti kita!."

"Dia itu memang gadis bodoh! Sudah dipermalukan seperti itu masih saja sok-sok jadi gadis suci yang mau memaafkan semua orang." Elvin berusaha menolaknya, hatinya berusaha sekuat tenaga untuk menolak kata-kata kebenaran yang diteriakan otaknya. Mereka berdua itu sahabatnya, mereka tidak mungkin bersikap seperti itu padanya. Tapi kenapa, saat Elvin memikirkan fakta itu, air matanya malah mengalir.

"Si Fin juga bodoh! Kapan lagi dia bisa punya peliharaan seperti itu!? Punya segalanya dan gampang dimanfaatkan. Yah walaupun terkadang sifatnya yang suka mendramatisir keadaan itu memang mengganggu sih." Hatinya sakit. Meskipun ia yakin kedua sahabatnya itu tidak mungkin menjelekan dirinya, tapi kenapa hatinya tetap sakit?

"Elvin-Elvin, dasar drama queen. Aku yakin seandainya ada pria lain menggodanya besok, dia pasti akan langsung menerimanya seperti wanita murahan! Hahaha."

Elvin muak! Ia sudah muak dengan semua ini! Dengan kebohongan mereka, dengan tawa mereka, dengan semua ucapan mereka yang merendahkan dirinya, Ia sudah muak! Orang-orang yang paling dicintainya justru duri didalam dagingnya. Ia sudah dua kali dikhianati di hari yang sama, dan di hari itu pula ia tau kalau dirinya telah dikhianati jauh dari sebelum hari ini. Hatinya tidak hanya terasa seperti ditusuk oleh sebilah belati, tapi juga diiris-iris lalu dicincang, dan dagingnya dibakar hingga tak tersisa. Ia ingin berteriak, tapi suaranya tercekat di dalam tenggorokannya. Elvin berlari pergi dari tempat itu, tak ingin hatinya lebih sakit dari apa yang sedang ia rasakan. Ia tidak peduli dengan orang-orang yang ditabraknya, yang ia pikirkan hanyalah pergi dari tempat ini sekarang. Ia terus berlari hingga tanpa sadar dirinya kini sudah berada di dalam mobil.

Alex, yang memang selalu menunggu Elvin dari awal gadis itu meninggalkan mobil ini hingga saat ia masuk, jelas saja kaget ketika melihat keadaan sang Lady begitu menyedihkan. Elvin langsung memeluknya, menangis di pundaknya. Alex hanya diam, membalas pelukan gadis itu. ia menggerakkan tangannya untuk mengusap punggung Elvin.

Elvin menangis semakin keras. Ia tidak peduli posisi Alex sebagai sopirnya, ia hanya ingin menangisi kebodohan dan kenaifannya saat ini. Hatinya benar-benar sakit, tak peduli seberapa kalipun ia mengucapkan itu di dalam hatinya, rasa sakitnya hanya semakin bertambah. Ia benar-benar merasa bodoh! Ia sangat mengelu-elukan mereka, tentang betapa beruntung ia bisa bertemu dengan mereka. Belati-belati yang menusuk hatinya terus bertambah semakin ia mengingat betapa berharganya tiga orang itu di dalam hidupnya. Sesakit inikah rasanya cinta? Sangat sakit, tidak indah dan menakjubkan seperti yang dikatakan Mama. Mama! Mama! Mama! Panggilnya dari hati bertubi-tubi. Andai Mama masih ada di sampingnya, wanita itu pasti tau cara mengobati hatinya yang dilukai ini.

Ya! Hatinya telah dilukai oleh orang-orang biadab yang mengatas namakan cinta itu!

Mereka itu benar-benar manusia yang tidak punya hati, karena itulah ia tidak boleh begini. Ia tidak boleh kalah dengan mereka yang hanya memanfaatkannya, dengan mereka yang hanya bisa mengganggu jalannya. Elvin melepaskan pelukannya pada Alex dan mengelap air matanya. Daddy benar, Elvin tidak seharusnya berteman dengan mereka semenjak insiden malam karaoke itu. Mungkin memang benar apa yang diucapkan oleh tanaman itu, Daddy memang sayang dan selalu memikirkan Elvin. Mata dan hatinya selama ini terlalu buta untuk melihat itu karena itulah ia tidak boleh mengecewakan Daddy lagi. Ia akan tampil dengan penampilan yang terbaik di pesta itu untuk ayahnya.

"Alex, aku tidak akan masuk kelas hari ini. Aku ingin bersiap-siap untuk pesta malam ini." Alex memandang Elvin tidak percaya.

"My Lady?" Elvin bisa mengerti kenapa Alex bisa tak mampu berkata-kata seperti itu. Memang di pesta-pesta sebelumnya, Elvin selalu mengeluh pada Alex tentang betapa tidak sukanya ia dengan pesta-pesta itu.

"Aku tau aku tidak suka dengan pesta-pesta seperti itu, tapi ini untuk Daddy." Elvin terkekeh ketika melihat ekspresi Alex yang terlihat semakin tidak memercayainya. "Kenapa? Aku tidak boleh melakukan sesuatu untuk Daddy."

"T-tidak, maksudku boleh! Tentu saja boleh!" Kekehan Elvin berubah menjadi tawaan ketika melihat ke-"plin-plan"-an sopirnya itu. "Jadi, my Lady, anda mau pergi kemana?"

Elvin menampilkan senyumannya. "Kita akan mengelilingi kota New York hari ini."

Gadis itu benar-benar serius dengan apa yang dikatakannya. Seharian itu mereka menghabiskan waktu untuk mengelilingi kota New York Mereka menyusuri beberapa mall, mulai dari Time Warmer Center, The Outlet Collection Jersey Garden, hingga Grand Central Terminal, untuk mencari baju dan beberapa peralatan make up. Setelah makan di Grand Centra Terminal, mereka menghabiskan beristirahat dengan melakukan perawatan di Bliss Spa. Hair Mates, salah satu salon terbaik yang merupakan cabang dari Tokyo, menjadi tempat untuk Elvin merawat sekaligus merapikan potongan rambutnya.

Tubuhnya memang terasa begitu pegal-pegal setelah seharian mengelilingi kota New York, tapi ketika mengingat ia melakukan semua ini sebagai permintaan maaf pada Daddy, ia bahagia. Elvin membanting badannya ke kasur, menikmati kelembutan benda itu di seluruh tubuhnya.

"Lady, seluruh barang belanjaan anda sudah aku letakan di depan lemari."

"Um. Aku ingin tidur sebentar. Tadi kata Alicia, Daddy memanggilmu."

Meskipun ia tau Elvin tidak dapat melihatnya, Alex tetap menganggukan kepalanya, dan melangkah pergi dari kamar itu. Elvin ingin sekali bercerita pada tanaman itu mengenai kejadian hari ini dan semua yang telah terjadi, tetapi tubuhnya sama sekali tidak ingin berkompromi dengan dirinya. Ia sangat mengantuk. Akhirnya Elvin memutuskan untuk tidur dan ia akan bercerita pada si tanaman setelah ia pulang dari pesta.

.

Elvin melihat pantulan dirinya di cermin, ia yakin Daddy tidak akan kecewa dengannya. Jari-jarinya berjalan menyusuri permukaan kulit pipinya yang kini terlihat merah merona dengan blush on setelah terlebih dahulu di lapisi dengan berbagai macam bedak dan foundation. Rambutnya diikat ponytail, dengan rambut depan yang dibiarkan menutupi telinganya seperti biasa, dengan ikatan yang berhiaskan bunga lili putih. Di kedua telinganya telah menggantung anting-anting dengan garnet kecil, dan di lehernya telah terikat benda yang sangat ia sukai dan sayangi. Sebuah kalung emas dengan bandul mawar kecil yang terbuat dari tembaga; hadiah yang diberikan Mama ketika ulang tahunnya yang ke sepuluh. Jari manis kirinya dilingkari oleh cincin emas dengan batu garnet, sementara pergelangan tangan kirinya, seolah tidak mau kalah, dihiasi oleh gelang emas, yang meskipun kecil, terlihat begitu elegan.

Elvin berputar, mencoba menunjukan keindahan gaun one-piece kuning keemasan selutut yang digunakannya. Stocking putih membalut kulit kakinya hingga ke paha, dan sepasang pantofel berwarna cream cerah. Elvin tidak tahu apakah orang-orang akan menukai penampilannya saat ini karena sejujurnya, ia tidak bisa berdandan dan tidak seperti ibunya yang selalu terlihat cantik dengan seluruh pakaian yang ia kenakan. Setidaknya ia telah melakukan yang terbaik.

Seluruh pandangan para maid yang sedang membereskan berbagai macam hal langsung tertuju takjub ketika Elvin melangkahkan kakinya menuruni tangga.

Aneh, itulah yang elvin rasakan pertama kali ketika melihat seluruh maidnya. Kinerja mereka begitu. . . tidak rapi, tidak seperti yang Mama selama ini latih. Elvin berjalan kearah Alicia yang berdiri di hadapan tangga, Elvin dapat melihat air mukanya yang begitu gelisah., , , ,

"Alicia, dimana Daddy?"

"S-saya tidak tahu Lady."

"Kemana Daddy? Pestanya akan dimulai sebentar lagi." Alicia hanya diam dengan kepala yang tertunduk, hal itu justru membuat Elvin memandang gadis itu curiga.

"Alicia, katakan padaku, ada apa."

"T-tidak ada apa- apa Lady."

"Alicia!" Elvin sedikit tidak enak saat melihat Alicia tersentak dengan nada tegasnya barusan, tapi ia tetap tidak bisa menahan rasa gelisah yang entah sejak kapan dan bagaimana bisa muncul di dalam dirinya.

"Maaf. . . Maafkan saya Lady, saya. . . saya. . ."

"Ada Apa!?"

"T-Tadi Master memanggilku. Ia bertanya apakah saya mengetahui kenapa anda bisa tertidur diluar. Maafkan saya Lady, anda tahu saya tidak pernah bisa berbohong dihadapan Master,saya tidak punya pilihan selain memberitahukan Master tentang tanaman itu, dan sekarang. . . Master sedang-"

"Sedang apa!?" Teriak Elvin.

"Aku sudah membuang bunga itu." Elvin berbalik, dan menemukan ayahnya kini tengah menatapnya tajam. Jantungnya terasa diremas ketika matanya mendapati sepatu sang ayah kotor oleh tanah.

"Daddy. . . Kenapa? Kenapa!?"

"Kita tidak bisa membiarkan kejadian ini terulang lagi, aku tidak mau sampai ada berita tentang seorang gadis dari keluarga Heartfel, salah satu keluarga paling kaya, ternyata mengidap penyakit jiwa. Ini yang terbaik untukmu." Ucap sang ayah sambil menutup matanya. Elvin memalingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan, ia tidak sanggup menerima alasan sang ayah. Matanya meneterkan air mata yang berangsur-angsur semakin banyak, melunturkan make up yang menghias di wajah cantik gadis itu.

"Untuk aku Daddy? Untuk aku? Untuk aku atau untuk anda!? Kenapa Dad? Kenapa!? Kenapa harus disaat aku mulai merasa kalau anda adalah seorang ayah yang menyayangi aku, seseorang yang mencintaiku seperti Mama. Untuk pertama kalinya aku berpikir kalau anda selama ini selalu melindungi aku. Tapi aku salah! Anda hanya mementingkan diri anda sendiri. Anda tidak lebih baik dari orang-orang yang aku sebut sahabat, tapi menusuk aku dari belakang, anda lebih jahat dari mereka. Untuk pertama kalinya Mama salah! Anda bukanlah orang yang akan selalu mencintai aku seperti yang Mama bilang! Anda adalah seorang monster yang hanya memikirkan diri anda sendiri!" Elvin muak! Dan ia semakin muak ketika orang yang ia panggil Daddy itu hanya memejamkan mata, menerima semua bentakan dan teriakannya tanpa terlihat peduli sedikit pun. Elvin berlari menuju halaman belakang hingga sampai taman sang Mama.

Air mata mengalir mengalir semakin deras di pipinya. Hatinya begitu sakit ketika melihat tanah tempat si tanaman berdiam telah digali hingga merusak tanaman lili disekitarnya, dan hatinya semakin sakit lagi ketika melihat Alex berdiri di samping tempat itu dengan tangan yang berlumuran tanah.

"Alex."

"Lady-" Lirihnya. Sang sopir hanya menatap Elvin, seolah-olah berharap gadis itu mengerti keadaannya. Sayangnya, sang Lady sudah terlalu tersakiti hari ini untuk bisa mengerti keadaan pria itu.

Elvin menghampiri Alex, dan langsung menghadiahi wajah pria itu dengan satu pukulan. Elvin menarik kerah baju Alex hingga wajahnya mereka berdekatan. "Katakan dimana kalian membuang tanamanku!" Bentaknya tepat di wajah Alex. Tak ada jawaban. Elvin membuang mukanya malas, ia benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan hidupnya saat ini. tidak ada satu orang pun di hidupnya yang bisa ia percaya, ia semakin yakin tidak ada lagi orang yang benar-benar mencintainya di muka bumi ini. Elvin ingin pergi! Pergi jauh dari tempat ini!

Elvin hendak menghajar kembali wajah Alex saat sebuah suara tertangkap oleh telinganya.

'Ikutlah denganku.'

Elvin melepaskan pegangangannya pada kerah Alex, dan melihat kesekeliling.

'Ikutlah denganku.'

Suara itu berasal dari gerbang yang menghubungkan taman ini dengan hutan. Elvin yakin mereka pasti membuang tanamannya ke sana! Tanpa membuang-buang waktu lagi, Elvin langsung berlari melewati gerbang itu, masuk kedalam hutan.

"Lady!" Alex berlari mengejar Elvin, tapi tubuhnya seperti menabrak sebuah dinding transparan ketika hendak melewati gerbang itu. Tidak menyerah, Alex terus menerus mencoba untuk menembus dinding itu, tapi sepertinya tidak ada harapan baginya untuk bisa mengejar Elvin masuk kedalam hutan.

.

"Tanaman!"

Teriak Elvin sambil terus berlari menyusuri hutan itu tanpa arah dan tujuan. "Tanaman!" Teriaknya lagi, namun tak ada jawaban.

Elvin berhenti sejenak, mengambil nafas kelelahan, sambil melihat kesekilingnya. Ia tidak pernah berlari sejauh ini ke dalam hutan sebelumnya, bahkan memasuki hutan inipun belum pernah. Hutan ini semakin gelap. Ia ingat sekarang memang sudah malam, tapi kegelapan di hutan ini terasa begitu berbeda sampai-sampai kulitnya merinding. Untunglah bintang dan bulan bersinar sangat terang saat ini, jadi ia bisa melihat dengan baik.

Elvin menajamkan telinganya ketika ia mendengar suara seperti sebuah ranting yang patah. Elvin melihat ke belakangnya, dan nafasnya langsung tercekat ketika melihat tiga serigala memandangnya lapar. Ketiga serigala itu begitu aneh, mereka berwarna merah dengan ukuran mulut yang terlalu panjang untuk ukuran serigala. Dan yang paling aneh, keempat kaki mereka seperti diikat oleh kain dengan duri-duri besi menghiasi permukaan kain itu.

Kedua serigala itu berjalan perlahan mendekatinya. Elvin hendak berjalan mundur, akan tetapi kakinya terlalu gemetaran, dan malah membuat ia jatuh terduduk. Salah satu serigala itu tiba-tiba melompat kearahnya. Elvin melihat sebuah batang kayu yang tidak terlalu besar tergeletak disampignya, dan dengan sigap, ia langsung mengayunkan kayu itu ke serigala. Serigala itu terpental. Elvin tidak membuang kesempatan itu, dan lansgung berlari dari sana dengan sekuat tenaga. Ia terus berlari, untunglah kekuatan fisiknya kuat karena ia rajin melatih ketahanan tubuhnya.

'Ikutlah denganku.'

Elvin kembali mendengar suara itu, tapi kenapa suara tanaman itu sedikit berbeda? Sejujurnya pikiran mengenai suara tanaman itu mengganggunya, tetapi mengingat ada serigala aneh yang mengejarnya dibelakang dan ia juga tidak mungkin kembali, Elvin pun memutuskan untuk berlari mengikuti suara itu. Elvin masuk semakin dalam ke dalam hutan, menerobos semak-semak dan tanah yang semakin gembur, hingga akhirnya ia sampai di hadapan sebuah dinding yang terbuat dari akar gantung.

'Ikutlah denganku.'

Elvin menggunakan kayu tadi untuk menerobos dinding akar itu. Tempat itu begitu gelap, hanya sedikit cahaya yang menerangi mereka melalui celah-celah di akar gantung. Elvin melihat kesekelilingnya, ruangan ini begitu gelap. Samar-samar ia dapat melihat dinding akar gantung tadi berasal dari ranting pohon besar yang menaunginya. membentengi pohon besar ini. Sebuah bunga besar menempel di batang pohon itu menarik perhatiannya. Kelopak bunga itu berwarna biru keunguan dengan corak putih, dan bagian tengah bunga itu terlihat seperti bunga matahari hanya saja berwarna kuning.

"Kau yang barusan memanggilku?" Ia tau ia pernah merasa gila karena berbicara dengan tanaman ungu itu, tapi tetap saja hal itu tidak mengurangi rasa gilanya saat ia berbicara dengan bunga ini.

'Ha. . . Suaramu bahkan sama indahnya dengan suaranya! Aku suka dengan suaramu ikutlah denganku!'

"K-kemana?"

'Ke hutan memori! Tempat di mana waktu tidak pernah bergerak! Di sana kau bisa bernyanyi selamanya! Semua digimon akan mencintai dan mengagumi suaramu! Mereka pasti senang sekali bisa mendengarmu bernyanyi! Dan cinta mereka padamu akan abadi selamanya!' Ucapan bunga itu terdengar begitu antusias dan begitu manis.

"T-tapi kau bukan tanaman itu! Kau bukan tanaman yang aku cari!?"

'Tanaman? Tanaman apa? Sudahlah aku lebih baik dari seluruh tanaman yang ada di dunia ini! Ayo ikut aku, kita pergi dari sini! bukankah itu yang kau inginkan?'

Bagian bawah bunga itu terbelah, membentuk sesuatu seperti mulut. "Masuklah kedalam dan aku akan membawamu ke sana." Suara si bunga menggema di seluruh tempat itu.

Mimpikah ia? Apakah ini mimpi? Tapi suara bunga itu dapat ia dengar di telinganya, sebuah suara yang nyata, bergetar di udara dan tidak hanya bergetar di kepalanya. Ucapan bunga itu, sebuah tempat dimana semua orang akan mencintainya, mendengar tempat seperti itu ada saja ia seperti ingin menangis. Sambil berjalan perlahan, Elvin memajukan tangannya seperti ingin meraih impian dan mimpi, impian dan mimpi yang selama ini menghantui tidurnya. Yang ia inginkan hanyalah tempat dimana semua orang mencintainya, menyayanginya, dan ia berjanji akan membalas seluruh cinta mereka semua dengan cinta yang tak kalah besar. Tempat dimana ia dan orang-orang bisa saling mencintai, tempat dimana ia bisa merasakan rasanya menjadi Mama. Benarkah ia bisa pergi? Elvin semakin dekat dengan bunga itu.

"BLAST COFFIN"

Dinding akar gantung tadi meledak dan sebuah lubang muncul dari balik asap ledakan tadi. Dua ekor serigala yang tadi menyerang Elvin masuk ke tempat itu.

"Jangan coba-coba mengganggu urusanku!" Sulur-sulur muncul dari bawah bunga itu, dan dari ujungnya mekar sebuah bunga berwarna merah keunguan. Bagian tengah itu membentuk mulut dengan gigi-gigi yang panjang dan tajam. Bunga-bunga itu langsung melesat ke arah dua serigala itu, namun dapat di hindari dengan mudah oleh mereka. Dengan cepat kedua serigala itu menembakan sebuah bola api berwarna hitam dari mulut mereka, meledakan beberapa bunga. Sangat disayangkan untuk mereka berdua, bunga-bunga yang telah mereka hancurkan kembali beregenarasi, dan memekarkan kembali bunga bergigi tajam yang lansung menyerang mereka. Lagi dan lagi, mereka berdua dapat dengan mudah menghindari serangan bunga bunga itu. Akan tetapi, tidak peduli seberapa gesitnya mereka, jumlah bunga-bunga itu terlalu banyak untuk mereka tandingi. Salah satu dari serigala itu tergigit oleh salah satu bunga, dan langsung di gigit lagi oleh bunga-bunga lainnya. Serigala yang lain, awalnya hendak menolong serigala yang tergigit, lengah, dan akhirnya tergigit juga oleh bunga-bunga itu.

"BLAST COFFIN"

Bunga-bunga yang menggigit dua serigala itu meledak saat dua buah bola api hitam mengenai mereka. Dua serigala lainnya muncul dari balik lubang tadi, dan secara bersama, mereka menyerang bunga-bunga itu. Elvin terduduk dengan kaki yang gemetaran, memandang pertunjukan monster-monster dihadapannya ini. Ia dapat melihat bunga besar itu kewalahan menghadapi serigala-serigala itu.

Matanya membulat ketakutan saat melihat seekor serigala lainnya keluar dari lubang, dan berjalan kearahnya perlahan. Elvin, meskipun tubuhnya sudah terasa sangat lemas karena syok, memaksakan dirinya untuk berdiri. Si serigala terus maju perlahan sambil menggeram, tetesan liur yang mengalir dari mulut makhluk itu jatuh ketanah terlihat begitu menakutkan bagi Elvin. Ia berjalan mundur, berusaha menghindari serigala yang terus berjalan maju mendekatinya. Ia terus berusaha menghindari serigala itu sampai pada akhirnya ia menyerah, dan tanpa sadar berhenti di depan lubang tempat ia masuk. Ia sudah pasrah. Ia benar-benar sudah menyerah. Ia tidak mengerti ada apa sebenarnya dengan hidupnya. Tidak cukup ia dikhianati orang-orang yang dicintainya, sekarang ia harus memertaruhkan nyawa pada serigala jadi-jadian dihapadannya saat ini. Ia sudah lelah. Matanya terpejam saat serigala merah itu melompat kearahnya.

"POISON IVY"

"Eh?" Elvin dapat merasakan sesuatu seperti memilit seluruh tubuhnya. Dengan mata yang ia pejamkan dengan kuat, ia berteriak kencang saat tubuhnya ditarik ke belakang dengan sangat cepat, kakinya bahkan tidak berpijak di tanah. Tiba-tiba kecepatan tarikan itu menurun mengakibatkan tubuhnya terbanting-banting lalu terseret. Elvin terseret cukup lama hingga perlahan-lahan tubuhnya berhenti bergerak, meninggalkan rasa sakit yang teramat sangat di tubuhnya. Belum pernah seumur hidupnya Elvin merasakan rasa sakit seperti itu. Ia bahkan kaget saat dirinya masih hidup setelah terseret sebrutal itu.

Elvin mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk membuk matanya. Rasa sakit langsung menyerang kembali tubuhnya saat ia bergerak, tapi ia tetap memaksakan dirinya untuk duduk. Elvin melihat kesekelilingnya. Sepertinya ia teseret cukup jauh, mungkin masuk lebih jauh kedalam hutan. Ia melihak kesekeliling, dan tidak menemukan apapu selain pepohonan dan semak-semak yang memerangkap dirinya. Tiba-tiba matanya langsung menangkap sesosok benda yang tadi ia cari sampai ia harus masuk kedalam hutan ini.

"Tanaman!" Ia langsung berlari kearah tanaman itu; rasa sakit yang tadi ia rasakan hilang entah kemana.

"Tanaman, kau tidak apa-apa kan?" Diam.

"Hey, jawab aku!?" Tanaman itu tetap diam.

"Tanaman kecil! Aku mohon jawab aku! Aku mohon! Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang! Aku membutuhkanmu! Aku ingin bercerita padamu! Aku bahkan tidak tahu siapa namamu!" Teriaknya dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya, bahkan make up yang tadi dikenakannya pun kini sudah tak tampak lagi. Ia tidak tahu mengapa tanaman itu begitu berharga untuknya, padahal mereka baru dua hari bertemu. Memang mereka baru dua hari bertemu, tapi waktu yang mereka habiskan selama dua hari itu, setiap detiknya terasa begitu indah. Mungkin hanya bercerita, mungkin mereka hanya bercakap-cakap, tapi semua itu, semua itu terasa berharga. Ia mungkin terkadang berselisih paham dengan tanaman ini, ia mungkin terkadang tidak setuju dengan tanaman ini, tapi tanaman ini tetap mendengarkannya, mencoba mengerti dirinya, mencoba menenangkannya. Semua itu terasa sangat indah. Jika ada satu hal yang bisa membuatnya bertahan di dunia ini, itu adalah tanaman ini. Kenapa? Ia pun tidak tahu. Mama, inikah cinta? Apakah ia juga harus kehilangan satu-satunya cinta yang tersisa di hatinya juga malam ini?

'Vin! Elvin! Elvin! Kau bisa mendengarku?'

"Tanaman! Iya! Aku mendengarmu!" Elvin hampir berteriak senang saat tanaman itu akhirnya bersuara.

'Elvin, perkenalkan aku Palmon.'

"Senang bertemu denganmu Palmon." Elvin mengelap air matanya. "Palmon, ayo kita kembali ketaman!"

'Elvin, aku tidak bisa'

"Kenapa?! Aku mohon ikutlah denganku pulang. Aku janji aku tidak akan membiarkan Daddy membuangmu lagi! Karena itulah, karena itulah. . ." Elvin kembali terisak. Ia tau permohonannya sangat egois, tapi apa yang bisa ia lakukan. Ia tidak ingin hidup di dunia yang kejam ini sendirian.

'Elvin, aku mohon jangan menangis. Aku sangat ingin menemanimu! Aku ingin bisa menemanimu selamanya! Tapi, tapi waktuku sudah habis Elvin.' Elvin menangis semakin kencang.

'Elvin. . .'

Palmon hanya diam, mendengarkan tangisan pilu Elvin. Ia terus mendengarkan dengan setia tangisan gadis itu. Cukup lama, hingga akhirnya tangisan itu mereda, dan hanya tersisa isakan-isakan kecil.

'Elvin, bolehkah aku bertanya sesuatu.?'

"Apa itu?" Elvin memeluk lututnya.

'Apakah kamu bahagia bertemu denganku?'

"Tentu saja! Tentu saja aku bahagia! Aku tau kita baru bertemu beberapa hari yang lalu, tapi beberapa hari itu, aku sangat mensyukuri waktu-waktu yang kita habiskan bersama. Palmon, sejujurnya aku sudah tidak tahu lagi apa itu cinta, semua yang Mama ucapkan tentang cinta terasa begitu buram. Tapi Palmon, seandainya cinta adalah apa yang aku rasakan padamu saat ini, aku, aku bahagia bisa jatuh cinta padamu! Kau adalah temanku yang sangat berharga."

'Teman? Elvin, aku juga! Aku juga merasa sangat bahagia bisa bertemu denganmu! Aku senang bisa berbicara denganmu, dan aku ingin terus berbicara denganmu! Aku juga merasa sangat bahagia setiap kita bercerita! Aku juga merasa sangat-sangat bahagia! Aku rasa aku juga jatuh cinta padamu Elvin! Andai saja, andai saja aku bisa, aku ingin tetap tinggal di tempat ini, dan terus menjagamu! Tapi aku harus segera pergi, janjiku telah terbayar. Selamat tinggal Elvin.'

"Bawa aku!" Entah muncul dari mana keberanian itu, tapi jika itu bisa membuatnya bersama Palmon, apapun akan ia lakukan!

'Apa?'

"Bawa aku bersamamu Palmon! Bawa aku!"

'Elvin, apa kamu yakin?'Elvin menganggukkan kepalanya.

Tiba-tiba saja tanaman itu bersinar terang. Perlahan, sinar itu meredup, dan menampakan sesosok makhluk yang Elvin belum pernah lihat seumur hidupnya, atau mungkin ia pernah? Tanaman yang selama ini Elvin kenal bertengger dengan manis di kepala makhluk itu, seluruh tubuhnya berwarna hijau muda, kepalanya bulat, mata besar hitam pekatnya berbentuk lancip seperti kuaci, tanpa iris atapun pupil, tangannya terlihat seperti daun, hanya saja kuku-kuku tajam mencuat dari ujung-ujung daun itu, dua kakinya terlihat seperti akar pohon, dan yang paling mengherankan Elvin adalah tubuh makhluk itu yang sedikit transparan.

Kalau saja ia belum melihat pertempuran antara serigala-serigala merah dengan bunga besar barusan, ia pasti sudah gemetar ketakukan saat ini. Elvin mencoba untuk menyentuh Palmon, tapi tangannya menembus tubuh makhluk itu.

"Elvin, apa kamu benar-benar yakin ingin ikut denganku?"

"iya!" Jawabnya Elvin mantap.

"Baiklah!" Palmon berkonsentrasi, berusaha untuk mengumpulkan seluruh kekuatannya yang tersisa. Ia mengulurkan salah satu tangannya, dan tangan itu menjadi nyata, tidak transparan lagi. Petir-petir saling mengaum di atas langit, seolah-olah ingin mengiringi kepergian Elvin.

"Elvin, peganglah aku jika kamu ingin pergi dari sini"

Elvin memejamkan matanya, sambil mengangkat tangannya perlahan. Rentetan memori-memori dan wajah-wajah melintas di kepalanya.

Ia melihat wajah Fin, orang yang sangat ia cintai, bahkan ia mencintai pria itu lebih dari ia mencintai dirinya sendiri. Ia sangat percaya pada pria itu, tapi Fin tidak hanya berselingkuh dan memanfaatkan dirinya, ia bahkan tidak pernah menganggapnya lebih dari seorang wanita murahan.

Ery dan Claudia, dua orang yang paling ia sayangi setelah Fin, mereka juga tidak lebih baik dari pria itu. Ia menganggap mereka teman sejatinya, tapi kedua orang itu tidak pernah menganggapnya teman bahkan sedetikpun.

Alicia, orang yang sangat ia percayai di rumah. Ia tahu memang Alicia tidak pernah bisa berbohong, tapi tetap saja rasa terkhianati tidak menghilang dari hatinya. Tidak bisakah dia berbohong sekali saja untuknya?

Alex, adik Mama, orang yang aku tahu selalu berusaha untuk menggantikan posisi Mama di hatinya. Ia hampir berpikir mungkin Alex bisa melengkapi sedikit posisi Mama, mengerti dan menyayangi dirinya, tapi ia salah. Pria itu malah menorehkan luka yang sangat dalam di hatinya.

Daddy, ia tidak pernah percaya kalau pria itu peduli padanya. Baginya, pria itu hanya terobsesi pada diri dan harta yang dia miliki saja. Dia tidak pernah memerdulikan orang lain, termasuk Elvin, darah dan dagingnya sendiri. Ia menyesal pernah percaya kalau pria itu memikirkannya. Karena kepercayaannya itu, luka di dalam hatinya semakin terasa membakar tubuh dan matanya. Andai saja Mama tahu, ia telah salah menyangka pria itu sebagai cinta sejatinya.

"Aku ingin pergi." Air matanya yang tadi sempat mengalir kini berhenti. Ia memegang tangan Palmon dengan mantap. Sinar memancar dari tangan Palmon lalu tangan itu berubah menjadi sebuah benda kecil dengan layar ditengahnya. Dari layar itu memancar sinar yang sangat terang, menjulang tinggi hingga ke langit.

.

TBC

.

"Hikari."

"Takeru."

"Plotmon."

"Patamon."

Next Chapter: A Beacon in The Darkness

[Author Note]:

Hello! Ketemu lagi bareng V! Maaf ya V sudah menghilang dari dunia ff Digimon selama 2 tahun. V bener-bener minta maaf banget! Sebelumnya V juga ingin minta maaf dulu jika ada typo di chapter ini dan chapter sebelumnya! V juga mau curhat dikit nih tentang hidupnya V.

V emang pindah ke fandom lain sejak update chapter 2 di ff ini, soalnya V menemukan semangat lain di fandom itu, dan di fandom itu V ngelatih keterampilan(elah bahasanya) menulisnya V. Dan setelah bertapa dua tahun di fandom itu dan belajar cara nulis di dunia nyata, V yakin kemampuan nulis V udah meningkat :3 dan berhubung beberapa hari yang lalu V jadi semangat banget ngeliat Digimon Tri yang keren banget (banyak unsur sastra yang dimasukin dan dikembangin disana, dan itu ngebuat V bener-bener kagum ama Digimon Tri) V jadi keinget kali V pernah bikin ff Digimon(maafkan reader-reader lamaku :') ) Nah akhirnya V mampir lagi deh ke sini, dan pas baca ulang, V langsung nutup browsernya dan istighfar berkali-kali. V tau sih ini emang tulisan pertama V, tapi V ga nyangka sampa seperti ini. Makanya sekarang V sedang berusaha untuk nge rewrite(tulis ulang) sekaligus ngelanjut ff ini. Demi harga diri V dan kenyamanan kalian juga .

Oh iya! V juga mau ngucapin terima kasih banget banget banget buat Kaito! Soalnya ga cuma menimbulkan semangat buat V ngelanjut ff ini, tapi juga udah bikin V terharu banget soalnya udah nungguin ff ini sampe dua tahun lho :') Makasih banget :') Kamu orangnya romantis banget btw #ditendang.

Sekian dulu deh kata-kata comeback-nya V di fandom ini! Tungguin terus ya!

V juga mau minta maaf kalo V updatenya lama ya. Tapi V mohon jangan bosen buat nungguin ff V ya XD