WE ARE BROTHERS
Cast : Cho Kyuhyun, Cho Siwon
Genre : Brothership, Family, Drama, Angst
Warning : Typo(s) dan tidak sesuai EYD.
Disclaimer : All Cast isn't mine but this plot story is mine.
Don't like Don't read, Don't bash!
-Enjoy Reading!-
Sinar matahari mulai bersinar terang. Cahayanya mulai merambat masuk ke dalam kamar yang berisikan oleh dua orang namja. Seorang namja masih setia menutup matanya di atas kasur, sedangnya namja yang lain juga masih tertidur diatas karpet sambil menangkupkan kepalanya di atas kasur.
"hyu … ung …"
Tangan pucat milik namja yang tertidur di atas kasur mulai bergerak gelisah. Siwon, namja lain yang tertidur di atas karpet, langsung terbangun ketika mendengar suara adiknya yang memanggil namanya.
"Ya Kyu? Apakah kau sudah bangun?"
Siwon langsung mengusap lembut pipi dongsaengnya, berusaha membuat adiknya itu untuk bangun setelah beberapa kali bergerak gelisah meski masih menutup mata.
"Kyu? Gwenchana?"
Siwon menjadi khawatir ketika Kyuhyun tidak segera bangun dan menyahut. Namun dalam sekejap kekhawatiran itu lenyap ketika adiknya membuka mata.
"Aku masih mengantuk hyung."
Siwon tersenyum dan kembali mengusap dahi Kyuhyun, menyingkirkan poni yang sudah panjang agar tidak menganggu mata adiknya.
"Baiklah. Tidurlah lagi. Hyung akan membuat surat ijin untukmu."
Siwon hendak beranjak keluar ketika Kyuhyun menarik tangannya sambil berusaha untuk bangun.
"Aku lupa hyung, hari ini aku ada kegiatan praktikum. Aku harus masuk hari ini."
"Tapi Kyu … Apa kau sudah merasa baikan?"
"Gwenchana hyung. Aku baik-baik saja. Aku harus bisa segera menyelesaikan kuliahku disini agar kita bisa menyusul kepindahan eomma-appa ke New York."
Kyuhyun kembali tersenyum ketika mengingat percakapannya dengan eomma di telepon beberapa bulan yang lalu.
"Menyusul kepindahan?"
Siwon mengernyitkan dahi. Ia tak mengerti apa yang dimaksudkan oleh adiknya.
"Ne. Kata eomma kita bisa segera pindah ke New York setelah aku selesai kuliah, hyung."
"JANGAN MENGHARAPKAN HAL YANG TIDAK MUNGKIN, KYU!"
Kyuhyun tersentak mendengar hardikan itu. Senyum di wajahnya langsung menghilang ketika mendengar bentakan Siwon. Dari sebelah mata, Kyuhyun dapat melihat bahwa hyungnya itu sedang mengepalkan tangan kuat-kuat. Terdengar pula napas berat putus-putus dari seorang Cho Siwon.
"Hyung? Me … mengapa?"
Siwon menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Kyuhyun.
"Mianhe Kyu. Hyung tidak sengaja membentakmu. Jeongmal mianhe."
"Jelaskan ada apa sebenarnya, hyung?
"…"
"Apa hyung sedang marah dengan eomma-appa?"
"…"
"hyung?"
"Ani. Gwenchana. Segeralah siap-siap. Sudah pukul setengah tujuh. Hyung juga akan bersiap-siap untuk ke kantor."
Tanpa menjawab dengan jelas pertanyaan Kyuhyun, Siwon pergi keluar meninggalkan Kyuhyun yang masih bertanya-tanya. Salahkah ia? Mengapa hyungnya membentaknya?
.
.
"Hyung akan meminta Kibum ahjussi untuk menjemputmu nanti."
Siwon menepikan mobil Ferrari merahnya di depan kampus Kyuhyun. Beberapa orang yang lewat menatap mereka dengan tatapan iri. Tak seorang pun di kampus ini yang tak mengenal keluarga Cho. Keluarga Cho cukup terkenal di Korea. Tentu saja karena perusahaan Cho termasuk salah satu perusahaan tas terkenal di dunia.
"Tidak usah hyung. Aku bisa pulang sendiri."
Mendengar jawaban singkat dan ketus dari Kyuhyun mau tak mau membuat Siwon merasa sedih. Ia kemudian memandang lekat wajah adiknya.
"Kau masih marah karena tadi hyung membentakmu, eoh?"
"…"
"Maafkan hyung, Kyu. Sungguh, hyung tidak sengaja membentakmu tadi …"
"…"
"Kyu? Jebal …"
"Iya! Aku marah, hyung! Benar-benar marah! Makanya, beri tahu aku apa sebabnya hyung!"
Kyuhyun mempoutkan mulutnya ketika melihat Siwon menatapnya dengan tatapan memohon. Ia tak pernah sanggup untuk melihat kakaknya merasa bersedih dan bersalah. Setalah beberapa saat, terdengar napas yang dipaksakan untuk keluar.
"Baiklah, Kyu. Hyung akan menceritakannya nanti di apartemen. Sebentar lagi hyung harus menghadiri rapat dewan direksi."
Kyuhyun masih ragu untuk keluar. Ia masih menatap hyungnya dalam diam.
"Waeyo, Kyu? Nanti kau telat."
Seulas senyum terpasang di wajah Kyuhyun saat melihat wajah Siwon. Entah darimana, Ia merasa percaya kepada hyungnya.
"Baiklah hyung. Sampe nanti."
"Ne."
"Saranghae, hyung."
"Nado."
Siwon tersenyum lega tepat setelah pintu mobil tertutup. Ia memerhatikan punggung adiknya yang mulai menjauh memasuki kampusnya.
Haruskah aku memberitahu segalanya kepadamu, Kyu?
.
.
Siwon masuk ke dalam ruang kerjanya setelah selesai menghadiri rapat dewan direksi. Ia melepas jas serta melonggarkan dasinya lalu terduduk di kursi kerjanya. Pandangannya langsung tertuju ke arah dua pigura foto yang berada di pojok meja kerjanya. Yang satu adalah foto anggota keluarganya. Appa, eomma, Kyuhyun, dan dirinya yang sedang berada di pantai. Sedangkan yang satunya lagi adalah fotonya bersama Kyuhyun ketika bermain di Lotte World.
Siwon terus memperhatikan foto itu. Betapa bahagianya mereka dulu. Hidup berdampingan dengan hubungan yang harmonis. Siwon terus menerawang hingga akhirnya pikirannya kembali ke peristiwa dua bulan yang lalu.
.
.
.
Flashback
"Hyung benar-benar tidak ikut?"
"Ne, Kyu. Sebenarnya hyung juga sangat ingin bertemu dengan appa-eomma, tapi klien dari Jepang akan datang berkunjung esok hari."
Kedua namja itu sedang berdiri di depan pintu masuk bandara. Kyuhyun yang telah lima bulan lamanya tidak bertemu dengan kedua orang tuanya, mendapatkan kesempatan untuk pergi ke New York dan berlibur bersama kedua orang tuanya selama liburan semester.
"Hati-Hati, Kyu. Sampaikan salam hyung kepada mereka, ne? Hyung akan menyusul segera setelah semua pekerjaan di sini selesai."
"Ne hyung."
Kyuhyun hanya mengangguk sambil mengeluarkan passport dari dalam tasnya. Begitu ia menyiapkan password dan tiket pesawat, ia kemudian berpamitan kepada hyungnya.
"Jangan kangen aku lo, hyung."
"Hahaha … Hyung pasti akan merindukanmu. Sering-seringlah telepon. Kabari hyung jika nanti sudah sampai di New York."
"Ne, hyung. Jaga kesehatan. Segera menyusul, ne?"
"Ne."
Kyuhyun memeluk sekilas badan Siwon, lalu mulai membalikkan badan menuju ke dalam gate pesawat. Belum beberapa langkah, namun tiba-tiba sebuah tangan menghalangi kepergiannya. Siwon menarik tangan Kyuhyun dan kembali membawa Kyuhyun ke dalam pelukannya.
"Hyung menyayangimu, Kyu …"
"Nado, hyung."
Kyuhyun hanya tersenyum mendapat perlakuan tersebut dari kakaknya. Ia memang sangat mengetahui betapa besar rasa sayang Siwon kepadanya. Begitu pula dirinya kepada Siwon. Setelah puas mencurahkan perasaan sayang masing-masing, akhirnya pelukan itu terlepas.
"Aku berangkat, hyung."
"Hati-hati, Kyu."
Kyuhyun pun melambaikan tangan sembari memberikan password serta tiket pesawat kepada pegawai yang menjaga gate tersebut.
.
.
.
Di dalam sebuah rumah besar yang layaknya istana di Kota New York, yang berisikan puluhan pelayan pribadi, ada sebuah keluarga sedang bersantai di sofa sambil menonton acara TV di ruang keluarga. Mereka saling melepas rindu setelah lama tidak berkumpul.
"Eomma, Appa, salam dari Siwon hyung. Ia ada pertemuan dengan klien besok sehingga tidak bisa pergi kesini."
Kyuhyun baru dapat menyampaikan salam dari hyungnya setelah perjalanan seharian yang menguras tenaga.
"Ne. Eomma sangat merindukan Siwonnie, Kyu."
"Nado. Appa pun juga merindukannya. Semoga besok ia bisa segera menyusul kesini. Jarang-jarang kami berdua memiliki waktu senggang seperti ini."
Kyuhyun hanya tersenyum sambil kembali menonton acara TV, meskipun tidak benar-benar menontonnya. Pikirannya melayang ke hyungnya. Belum ada sehari dan ia sudah merasa rindu. Sebenarnya ia merasa kecewa karena Siwon tidak dapat pergi bersamanya pada hari ini. Namun apa boleh buat, pekerjaanlah yang selalu menjadi alasannya. Meski begitu Kyuhyun percaya bahwa Siwon akan segera menyusul. Hyungnya ini tak pernah mengingkari janji kepadanya.
Melihat putra bungsunya yang termenung, eomma segera menggeser tubuhnya dan menarik Kyuhyun ke dalam dekapannya.
"Eomma?"
Kyuhyun yang kaget karena gerakan tiba-tiba itu hanya mampu membenamkan mukanya di balik tubuh wanita yang telah melahirkannya tersebut. Ia menghirup aroma tubuh eommanya. Menikmati ketenangan yang tersalur dari dekapan seorang ibu.
"Eomma menyayangimu, Kyu."
"Ne eomma. Nado."
Kyuhyun tersenyum senang sambil membalas dekapan eommanya.
"Hei, appa juga menyayangimu Kyu."
Tuan Cho ikut menggeser tubuhnya untuk mendekati anak dan istrinya. Ia tersenyum sambil memeluk erat mereka berdua.
"Nado, Appa."
Kyuhyun hanya mampu terharu dan tersenyum senang ketika ia merasakan dekapan hangat dari kedua orang tuanya.
.
.
.
"Wah, lihat appa! Pantainya sudah mulai kelihatan!"
Hari ini keluarga Cho pergi berlibur ke pantai Gulf South. Cukup jauh jarak antara rumah dengan pantai tersebut. Kira-kira sekitar tiga jam jika ditempuh dengan mobil. Setelah cukup lama menempuh perjalanan menuju pantai, akhirnya mereka sudah hampir tiba.
Kyuhyun berdiri dan berteriak kegirangan ketika ia mulai mampu melihat pantai Gulf South. Ia melongokkan kepalanya dari atas atap mobil yang dapat terbuka sambil tersenyum lebar. Ia ingat beberapa tahun silam, dirinya, Siwon, dan kedua orang tuanya bermain ke pantai ini. Saat-saat yang begitu menyenangkan.
"Ne. Appa sudah bisa mencium bau ombaknya!"
Sahut sang Appa yang juga tampak senang meski masih menikmati pemandangan sembari duduk di kursi penumpang, di sebelah supir. Sang Eommajuga tersenyum senang melihat keakraban ini. Kesibukan yang mendera selalu saja memisahkan keluarganya baik secara tempat maupun waktu. Namun ia masih bersyukur, meski Siwon tak bisa ikut, namun Kyuhyun tetap ceria seperti biasanya. Kedua anaknya itu benar-benar memiliki hubungan batin dan persaudaraan yang kuat. Kyuhyun kecil akan menangis jika sang hyung tak segera pulang ke rumah setelah bersekolah.
Kyuhyun baru saja akan kembali duduk ketika supir pribadinya berteriak ketakutan.
"REMNYA BLONG TUAAAAN!"
Seisi mobil berteriak ketakutan. Jalanan menuju pantai ini memang berkelok-kelok dan berada di atas tebing curam. Kyuhyun yang masih shock hanya mampu terdiam. Ia tak sempat mengenakan seat beltnya kembali. Tubuhnya sudah gemetar dan bermandinkan keringat dingin. Jantungnya berdegup tak karuan saat dirasa gerakan mobil yang semakin tak terkendali.
Eomma yang berada disebelahnya langsung menarik tubuh Kyuhyun ke dalam dekapannya, berusaha melindungi seluruh tubuh Kyuhyun dalam pelukannya sambil terus menggumamkan doa.
Beberapa kali mobil mampu lolos dari mobil yang melaju dari arah berlawanan. Namun saat belokan curam berikutnya, ada sebuah truk container yang sedang melaju. Besarnya mobil container itu membuat sebagian besar jalan terambil. Supir keluarga Cho kaget dan panik. Ia berusaha menghindar, namun mobil keluarga Cho yang sangat dekat dengan sisi curam tebing tak mampu lagi mengerem ketika sebuah truk besar dibelakang truk container tadi melaju dengan kecepatan kencang ke arahnya.
BRUAK
"Aarrrrghhh!"
"Kyuhyunnieee!"
Teriakan memilukan terdengar. Kyuhyun memeluk eommanya dengan erat saat dirasa mobil mulai jatuh dan berputar, menghantam batuan-batuan terjal. Beberapa barang dan tas sudah terlempar keluar. Atap mobil yang masih terbuka membuat Kyuhyun merasakan gesekan kasar dari batu-batuan terjal tersebut. Kyuhyun langsung kehilangan kesadaran saat sesuatu menghantam kepalanya dengan sangat keras.
.
.
Perasaan Siwon sudah tidak enak sejak pagi ini. Meski sedang berada di tengah-tengah meeting dengan klien dari Jepang pada saat ini, Siwon tidak dapat berkonsentrasi. Entah mengapa sejak tadi pikirannya melayang ke adiknya yang sedang berada di New York.
Tiba-tiba handphonenya berbunyi. Ia langsung merogoh saku celanannya. Alisnya bertaut saat menyadari siapa yang menelepon.
New York's home is calling
Siwon mengucapkan permintaan maaf dan ijin keluar untuk menerima telepon. Klien dari Jepang itu hanya tersenyum maklum.
Sesampainya di luar, Siwon segera menekan tombol penerimaan telepon.
"Ne, yabosseo? Ada apa Hangeng ahjussi?"
Hangeng ahjussi adalah kepala pelayan di rumah New York. Hangeng telah mengasuh kedua anak keluarga Cho sejak masih kecil di Seoul, sebelum kedua orang tuanya pindah ke New York.
Raut wajah Siwon menegang saat mengetahui ke arah mana percakapan telepon ini. Ia berteriak frustasi saat mengetahui seluruh keluarganya baru saja mengalami kecelakaan.
"BAGAIMANA KEADAAN MEREKA?!"
Siwon yang sudah kalap, tak memerdulikan tatapan karyawan yang melihatnya berteriak ke arah telephon. Yang ia perdulikan hanyalah bagaimana kondisi keluarganya. Beberapa saat kemudian Siwon jatuh ke lantai sambil menunduk dan menggenggam erat handphonenya. Ia meraung dan menangis dengan keras. Para karyawan yang lewat langsung mendekatinya, berusaha memberi bantuan kepada boss mereka.
"Appa … Eomma …"
"Hiks … Hiks … Kyuhyunnie …"
Para karyawan tersebut langsung memandang Siwon dengan rasa iba. Tak pernah mereka melihat kondisi Siwon seperti ini. Berbagai masalah yang menghantam perusahaan selalu mampu diselesaikannya, meski sesusah apapun. Tak pernah mereka melihat Siwon yang se-frustasi ini. Mereka yakin, hanya orang yang sangat disayanginyalah yang mampu membuat Siwon seperti ini.
Flashback End
.
.
.
Kyuhyun memandang ke arah seorang siswa baru yang baru saja masuk ke dalam kelasnya. Seorang namja, tubuhnya sangat tinggi, dan wajahnya sangat tampan. Teman-teman perempuan Kyuhyun telah berteriak kegirangan ketika sang siswa baru tersebut mulai menampilkan senyumnya, memulai acara perkenalan diri.
"Annyeong haseyo. Shim Changmin imnida."
TBC
.
.
.
Halo readers ~
Author update kilat nih
Lagi semangat nulis sih gara-gara ide sedang mengalir lancar.
.
.
Gimana untuk chapter ini?
Udah kejawab teka-teki dan pertanyaannya?
Berikan saran dan komentar ya.
.
.
Author mau minta pendapat,
Menurut reader gimana peran Changmin di fanfic ini?
Antagoniskah? Protagoniskah?
Berikan pendapat kalian ya biar author semakin lancar nulisnya biar bisa cepet update. Hehe ..
.
.
Saraghaeyo readers ~
Kamsahamnida! :D
