Disc: BoBoiBoy © Animonsta Studios

Warn! Future!All chara. Rivalry. Harem!Yaya. Typo. AT.


[Chapter III –Mengalah itu Dewasa?]


Pemuda penyandang karisma tinggi. Jakun yang tak terlalu mencolok. Kacamata kotak transparan yang kini tengah trendi. Rambut acak seperti memakai gel sebagai penguat helaiannya menjadi terbentuk.

Dialah Fang.

Popularitasnya untuk menarik perhatian mata gadis tidak lagi diragukan, meski tanpa memakai busana bermerek. Kecintaannya (atau mungkin hanya mahir...) dalam bidang pelajaran mematikan—sebut matematika—membuat siapapun melihatnya sebagai pemuda sempurna. Apalagi dia bukan islam. Ah, sudah berapa kali tangannya melayang untuk membelai kepala para gadis?

Mereka semua memandang laki-laki freak donat sedari kecil ini punya pribadi jahil. Senyumnya yang seperti laki-laki nakal. Keningnya yang selalu mengkerut. Astaga, siapa cewek golongan menengah yang tidak terpesona akannya? Cowok badass yang begitu nyata, setelah kategori sepertinya hanya ada dalam dongeng anime.

Ya, kecuali Yaya.

Awalnya Fang juga ragu apakah perempuan masa kecilnya itu tidak punya rasa kepadanya. Hei, setidaknya untuk mendapat perhatian dari pemuda kong hu chu ini dengan sedikit bisa melakukan 'modus' saja pasti terendus. Tapi sampai sekarang, ia tidak mendapat bukti apa-apa kalau Yaya pernah meliriknya sebagai 'pria populer'.

'Dan itu yang membuatku tidak pernah segan untuk membantumu, Yaya.'

Fang berdiri dalam kelas. Memandang Halilintar yang mencoba meminta maaf kepada Yaya. Kedua tangannya mengenggam pangkal sapu.

'Perempuan yang penuh rasa adil. Kau bahkan tidak mau mendengar kata Boboiboy. Padahal bisa saja dia benar. Aku bisa saja memojokkanmu lalu mencuri ciumanmu, Yaya.'

Senyumnya mengembang samar. Tidak ada yang boleh mengetahui tabiat buruknya kepada perempuan muslim itu. Ia tahu kekuatan Boboiboy berbanding jauh dengannya. Fang tidak bisa selamanya menahan amukan pemimpin superhero itu.

Laki-laki adalah juara satunya dalam napsu. Fang bisa saja tidak tahan melihat wajah manis perempuan itu. Lagian, agamanya masih menghalalkan dirinya untuk bisa melakukan hal pelecehan itu. Bisa saja suatu saat Yaya benar-benar menikmatinya—tapi itu hanyalah pikiran sampingan.

Tapi ia tidak mengerti.

Membela Yaya saat perempuan itu sudah berjalan pergi? Menyebut ingin membunuh Halilintar kalau sekali lagi menyakiti perasaan Yaya? Apa itu style dia dalam mencari perhatian gadis?

Rasanya hanya Yaya, yang bisa membuatnya sampai harus mengorbankan tenaga untuk bertarung dengan Halilintar.

=oOo=

Fang bukanlah pemuda yang mementingkan perasaan orang. Baginya, manusia itu brengsek. Mereka mementingkan kepentingannya. Tidak bisa bersikap adil. Dan awal itu bermula saat teman-teman sekelasnya memuji Boboiboy. Padahal yang memuji saja belum melihat tampang pemilik kuasa elemen itu. Bagaimana mereka bisa ikut arus menyukainya, iya tidak?

Sebenarnya, sebelumnya ia juga mendapat momen buruk kepada sesamanya sudah lama dari itu. Tapi yang ia paling ingat, saat momen pedih ia pertama kali belajar di sekolah dasar Pulau Rintis itu. Dimana ia pertama kali merasakan adanya ketidakadilan.

Makanya Fang juga masih heran, kenapa ia harus meladeni pemilik elemen petir ini untuk bertarung. Mana di kantin lagi. Karena alasan memperebutkan Yaya? Yang benar saja?

"Hhh, dasar otak kecil. Pantas saja kau tidak disukai Yaya, Halilintar."

Napas Halilintar tersenal-sengal. Ia menarik-narik tangannya begitu lemah. Sebuah lengah hitam legam menahan pergelangan tangannya yang kini mengenggam sebuah pedang halilintar. Aura listrik mengelilingi Halilintar.

"Hahh... apa... sih? Kau selalu bilang suka... suka dan suka..."

Satu tangannya yang lepas memotong tangan hitam itu menggunakan pedang halilintar. Kini kedua tangannya telah bebas.

"Apa kelihatan aku ini suka, hng?"

"Apa kelihatan?" Fang berdelik. "Kenapa kau tiba-tiba berubah lalu mau membunuhku, Halilintar?"

"Sekarang aku tanya, apa alasan kau mau menerima seranganku."

"Tentu saja membela diri, bego!"

"Hahh!" kini Halilintar berbalik berdelik. "Kau bisa saja hanya menahan. Tapi apa? Kau ikut-ikutan menyerang." Sial, kau dan aku tahu kita saling menyukai. Jangan blak-blakkan bicaranya, kampret. Batin Halilintar menjerit.

"Menyangkal terus, kalau suka bilang saja!"

Halilintar terdiam. Mulai kesal. Kesal karena perasaannya dibeberkan. Yaya ada disana, dan itu masalah baginya. Kalau dia sampai menjauhinya karena tahu perasaan Halilintar kepadanya bagaimana, dia bersumpah akan menguliti kulit pemuda tionghoa itu dengan bilah pedang halilintar.

"Kau juga suka dia, bego!"

Wajah Fang memerah. Bibir tipisnya gemetar seketika.

"M—mana mungkin, mana mungkin aku..."

Kepalanya ia tolehkan ke samping. Momen kampret atau apa, sepasang matanya langsung berjumpa dengan milik perempuan yang mereka bicarakan. Yaya hanya diam dengan seribu pertanyaan yang terlihat jelas dari wajahnya.

"Khhh," Fang menundukkan kepalanya sejenak, berpikir. Otaknya buntu untuk berpikir apa yang harus ia ucapkan. "Yaya, dia?" kemudian Fang menunjuk tangannya pada Yaya.

Fang tidak bisa mengatakan kalau dia benar-benar menyukai Yaya. Dia bisa memberi banyak alasan mengapa ia ragu. Dari saat Yaya adalah seorang muslim. Dia punya peluang secuil menang dari Halilintar dengan sengketa keyakinan. Kenapa, Yaya yang hanya gadis biasa bisa menarik perhatian pemuda berpopularitas tinggi sepertinya? Martabatnya bisa jatuh jika dia mengambil langkah maju mengakuinya.

Lagian Fang sebenarnya dari awal tahu, kalau ia harus mengalah.

Menurutnya, Boboiboy juga pemuda yang baik. Bayangkan kalau dia mau diterima sebagai geng mereka oleh si ketua. Satu sisi dia adalah orang yang egois dan itu yang membuatnya mau berkeras hati dengan Halilintar. Namun sisi lain lagi, Fang juga tahu Boboiboy lebih baik bersama Yaya karena mereka berdua adalah temannya yang baik.

"Aku 'kan keren, mana mungkin aku jatuh hati dengan perempuan?"

Halilintar membelalakkan matanya. Ia menoleh kepada Yaya.

Yaya juga bereaksi sama dengan Halilintar pada awalnya. Berselang beberapa menit, matanya mulai menyipit. Seakan menahan pelupuk matanya karena perih.

"Yaya!"

Hal yang tidak terduga, Yaya langsung lari dari tempat kejadian segera. Halilintar hanya bisa berseru. Ada ketakutan sendiri dalam dirinya ketika ingin dekat dengan sahabat masa kecilnya itu.

Setiap wanita perlu sendiri jika sedih. Halilintar merasa Yaya sedih. Dia tidak butuh ditemani.

"Fang... kau..."

Halilintar menggertakkan giginya geram. Matanya melotot langsung kepada lawannya setelah membalikkan badan. Segera, lesatan pedang halilintar teracung pada wajah pemuda berambut hitam keunguan itu.

"Ingat ucapanmu saat di kelas kemarin. Kau sudah menyakiti hati Yaya. Kau lebih baik bunuh diri saja!"

"Halilintar, ingat perasaan orang ma."

Tangan Halilintar diturun paksa oleh tangan lain. Halilintar menoleh pemilik tangan—yang bukan lain adalah Ying yang menjadi saksi di sana. Tatapan sahabat Yaya itu juga tidak kalah pilu.

"Kalau orang bilang tidak suka, jangan didesak sampai ancam bunuh nyawa orang ma. Tak baik..."

Respon Halilintar hanyalah menghela napasnya meski lama. "Meski si brengsek yang dimaksud adalah sahabat kita, sendiri... begitu?"

'Apa yang aku katakan...'

"Temui saja Yaya. Kita lihat dia oke atau tidak. Ya?"

'Masa' Yaya berharap kalau aku jujur mengutarakan perasaanku?'

"Kau benar, Ying," cahaya merah muncul dari diri Boboiboy sekejap. Setelah cahaya itu pudar, pemuda itu kembali dengan style biasanya yang hanya menggunakan jaket jingga polos dan topi terbalik senada. "Kita temui dia... kau bawakan makanan untuknya?"

"Pasti."

Dua orang itu meninggalkan kantin. Meninggalkan Fang yang masih berdiri mematung.

Wajah Fang pucat. Iris abu-abu miliknya bergerak tiada henti. Fang benar-benar takut.

'Aku seakan dalam posisi yang salah...'

'Terserah, kalian anggap aku pria brengsek atau apa. Persetan mengurus pendapat norak kalian.'

'Lagian... aku hanya mengalah...'

"Nak, kau mau pesan apa?"

"... tidak jadi, makcik. Maaf atas kekacauan kami tadi."

Fang membalikkan badannya lalu pergi entah kemana. Sementara itu, penjaga kantin menatap pemuda tionghoa itu lama.

'Lagian... yang memang pantas bersanding bersama Yaya, adalah pemuda muslim yang baik. Bukan aku yang bisa saja merengut kesuciannya kapan saja kalau ada bersamanya.'

=oOo=

Yaya menurut Fang sendiri adalah gadis yang spesial. Disaat teman-temannya menuduh dia bocah jelek saat kenapa ada dia dalam memori Ochobot, hanya dia sendiri yang membelanya. Mengusir praduga jelek akan perangainya yang digambarkan tidak baik oleh Boboiboy.

Namun Yaya memang punya kekurangan sebagai gadis galakan. Prinsipnya tampak tegas. Namun disatu sisi, Fang mengungguli kekurangan Yaya. Karena keras hatinya lah, Yaya patut disanding sebagai istri seorang laki-laki taat agama. Laki-laki yang bisa peka merasakan perasaan gadis.

Yaya harus bersama orang yang baik. Dan itulah yang membuat Fang kadang segan ingin merebut cintanya.

Kata orang, mengalah adalah jalan menuju kedewasaan. Dia selalu menganut keyakinan itu, namun hanya berlaku untuk beberapa orang karena satu sisi dia juga benci manusia. Meski dia kadang bersikap kekanakan juga, tapi itu hanyalah tindakan yang diambilnya seandainya dia memprediksi adanya resiko dari mengalah.

Seperti apa yang dia pikirkan sejak dulu. Yaya lebih baik bersama Boboiboy.

Boboiboy itu kuat. Dia jarang mementingkan perasaannya, tidak seperti Fang yang kebalikannya sampai mengajak Boboiboy berduel diwaktu masa kecil. Yaya lebih pantas bersamanya.

Mengalah.

Mengalah. Fang harus mengalah.

"Boboiboy, kau repot tidak hari ini?"

Fang ada disana. Memapahkan pipinya dari samping jendela. Matanya tidak benar-benar menoleh sumber suara tersebut, hanya saja ekor matanya yang melirik. Nada suara pemiliknya lah yang membuatnya begitu penasaran.

"Tidak... paling hanya membantu Ochobot jaga kedai."

"Hoo... rajinnya..."

"Memang kenapa?"

"Eh..." tingkah Yaya sedikit gelagapan. Kelihatan dia sedang malu. "Itu... mau bantuin aku ngurus perpustakaan sepulang sekolah?" mungkin lebih tepatnya dia segan.

Boboiboy tampak berpikir. "Kalau sebentar, bisa. Ochobot bisa ngomel kalau aku lama-lama."

"Kau nanti bisa berpecah juga, 'kan? Disana aku butuh banget tenaga banyakmu!"

"Wah iya juga. Nanti kerjaanmu gampang kalau banyak tenaga ya..."

"Hum! Nanti kalau sudah selesai aku bakal kunjung ke tempatmu deh. Kita berduaan disana, ya?"

Fang merasakan, bahwa Yaya mencoba membuatnya menarik perkataan di kantin itu dengan membuatnya cemburu.

'Dasar perempuan. Kalian semua licik.'

Padahal saat itu juga, Fang mendapat amanat untuk turut membersihkan perpustakaan.

=oOo=

"Kerjakan tugas kimia kalian di rumah, ya?"

Perempuan berpostur tinggi dengan rambut yang digulung kecil melangkahkan kakinya keluar dari kelas Fang dan kawan-kawan. Kacamata kotak dengan rompi hitam membuat kesan perempuan tersebut bukan mirip sebagai guru, namun... seperti kepala sekolah. Kesan itu yang didapat anak-anak juga saat pertama kali beliau masuk kelas.

"Bu guru Finanda, jadi mengurus perpustakaan?"

Wanita itu terhenti. Langsung ia menolehkan kepalanya menengok Yaya. "Oh kau Yaya? Boleh. Boleh. Ayo bareng ibu."

"Aku bawa Boboiboy juga untuk membantu."

Boboiboy menyusul dimana Yaya berdiri. Tampak senyuman ia perlihatkan kepada guru bidang mapel itu.

"Hmm. Dasar anak zaman sekarang suka pamer pacar."

"N—nggak! Kami gak pacaran!" bantah Boboiboy. "Kami islam mana boleh pacaran!"

"Ibu canda kok. Yuk kita pergi."

Bu Finanda berjalan duluan. Seakan mengarahkan kedua muridnya yang berasal dari kelas 1 SMU itu menuju dimana perpustakaan berada. Yaya dan Boboiboy mengekor, tahu harus menggiring laluan guru mapel mereka kemana.

"Boboiboy itu yang katanya sering berubah menjadi tiga dan menyelamatkan alien yang datang, betul?"

"Itu hanya kerjaan saat masih SD. Saat SMP sampai sekarang, jarang lagi ada musuh kesini," jawab Boboiboy. irisnya mengarah menatap Yaya di sebelah.

"Lagian harusnya dengan ini kau bersyukur, kalau mereka ada kau bakal susah mengerjakan tugas-tugas sekolah. SD saja kau stress karena banyak kerjaan," timpal Yaya.

"Benar apa kata Yaya. Boboiboy, sebenarnya ibu sering dengar kau selalu menggunakan kemampuanmu dan terakhir kali tertangkap di kantin. Apa ibu benar?"

"Enghhh.."

"... itu resiko dari jam Boboiboy, bu," sahut Yaya mantap. "Halilintar memang posesif—"

"Cemburu? Berarti kalian pacaran?"

Yaya merutuki bibirnya yang kelewat jujur.

"Ibu bercanda," helaan napas kecil adalah reaksi Yaya pertama.

Langkah mereka terhenti sesudah memasuki sebuah ruangan lebar. Dari dalam tersusun berbagai buku-buku tebal pada lemari awal. Rak-rak ditata dan tersusun berbilik sebagai wadah-wadah majalah atau buku-buku tipis. Sebuah jam tua besar diletakkan bagian tengah paling belakang. Meja-meja dan kursi-kursi diletakkan menemani jam besar itu.

"Kalian tahu? Jam tua dan segala lemari ini ada sejak ibu masih SMP disini," Finanda memegangi kedua pundak anak muridnya. "Mereka awet, ya?"

"Aku juga pernah dengar dari guru bahasa Melayu sewaktu pertama masuk SMP disini," ucap Yaya.

Bu Finanda menganggukkan kepala. "Dan disini ada juga rumor, kalau jam lima sore berduaan bersama itu berarti jodohmu."

Segera Boboiboy menoleh, "Hah?! Itu benar?!"

"Hanya rumor, Boboiboy... tau aja anak-anak dulu suka baca komik jepang."

"Siapa yang tahu? Ini masih jam empat. Siapa tahu kalian berdua bisa jodoh?"

Yaya dan Boboiboy serempak menundukkan kepalanya.

"J—jangan ah, aku masih memikirkan masa depanku," Yaya reflek menutup mulutnya. "Ayo Boboiboy, kita cepat-cepat menyusun buku-buku!"

Kedua muslim itu berjalan mendekati kardus-kardus besar yang diletakkan beigtu saja pada sudut lemari. Finanda juga turut membantu. Mengangkat beberapa buku begitu telaten.

Dan pada sudut lemari perpustakaan lain, ada seseorang yang menyerempet hingga tubuhnya tidak tampak oleh ketiga orang disana. Sepertinya kalau ia bisa masuk tanpa ketahuan, sudah pasti dia paling dahulu masuk. Suara napasnya dapat ia dengar sedikit. Kacamata yang terpapah pada batang hidungnya melorot kecil, dan cepat-cepat pemuda itu memperbaiki posisinya.

"Padahal aku juga menyuruh Fang membantu. Dia pulang duluan, ya?"

"Eh, dia juga?" tanya Yaya kaget. Bu Finanda mengangguk.

"Dia tadi kesini saat mau jam pelajaran masuk. Ibu suruh dia kesini sepulang sekolah."

'Aku disini, bu...'

Fang membalasnya hanya dalam hati.

"Lalu susunan buku ensiklopedia Boboiboy saja yang angkat, ya?"

"Tentu, Yaya! Boboiboy kuasa tiga!"

Boboiboy membelah dirinya menjadi tiga. Kotak besar berisi ensiklopedia diangkat Gempa. Halilintar dan Taufan menggiringnya dari belakang. Yaya mengambil isi kotak lain yang tersisa.

"Majalah, ya? Ini bagian pojok."

Yaya hanya merespon mengiyakan dalam hati atas ucapan bu Finanda. Ia mengangkat isi-isi buku dari sana lalu berjalan menuju tempat yang dimaksud guru kimia itu.

Disana Fang berusaha mungkin menepi. Gawat 'kan kalau sampai ketahuan mereka berdua. Dia habis membuat kesan buruk kepada Yaya. Mau ditaruh kemana mukanya kalau bertemu dengan Yaya?

Namun sialnya, Fang memojokkan diri pada lemari yang akan didatangi Yaya. Bagaimanapun dia sembunyi, dia pasti akan terlihat oleh Yaya saat dia berbalik.

Suara derap langkah Yaya menggema di telinganya. Suaranya pun senyap seiring sosok perempuan itu tampak dari netranya. Fang merasa udara mati.

Dan ini yang membuatnya berkeringat dingin.

Yaya yang selesai menaruh buku-buku pun berbalik. Matanya langsung menangkap sosok Fang yang kini berdiri lemas.

'Yaya, maafkan aku.'

Kedua tangannya segera meregap wajah Yaya. Telapak tangannya menutup bibir perempuan itu segera. Ia menyeret tubuh Yaya ikut bersembunyi sepertinya.

"Stt!" bisik Fang. "Kalau kau memberontak, aku takkan segan-segan melakukan hal buruk padamu."

Fang mengancam. Yaya yang masih panik itupun memilih menuruti apa kehendaknya. Bersyukur tempat dimana mereka berada begitu jauh dari Boboiboy dan bu Finanda berada. Mungkin sekitar dua meter.

Yaya memegang tangan Fang yang menutupi bibirnya. Gemetar ketakutan dirasakan Fang dari tangan Yaya. Fang menurunkan tangannya pelan.

"Maafkan aku, Yaya... aku menyakiti perasaanmu saat di kantin itu..."

Fang melirihkan suaranya. Tangannya merengkuh memeluk pinggang Yaya.

"Maaf... aku tidak tahu kalau kau ambil hati saat itu..."

"Fang..," Yaya juga berbisik. "Aku tidak marah, sungguh... Aku memang terlalu berharap apa yang Boboiboy katakan itu benar. Maaf aku terlalu percaya diri..."

"..."

Fang menghela napasnya. "Sudah, kita jangan lagi mengungkit itu. Lebih baik kita kembali berbaikan, ya?"

"Yaya? Sudah selesai menaruh buku-bukunya?"

Fang melepaskan pelukannya dari Yaya. Memberi kesempatan agar yang bersangkutan pergi.

"Jangan bilang aku ada disini," bisik Fang. Sebelum Yaya akhirnya benar-benar pergi.

Di samping itu juga, Fang tersenyum lega. Respon Yaya ternyata plus sama seperti yang ia kenal dari masa anak-anak.

Namun di satu sisi, kenapa Fang menahan napsunya untuk mencuri ciuman perempuan idamannya itu. Mengalah. Sekali. Lagi.

To be Continued

A/N: Yang teks Ying chapter 2 itu hanya selipan kenapa Gopal gakada. Soal cover ff ini, yang cewek tengah itu Yaya. Roknya bukan abu-abu tapi biru. Cuma saat digelapin entah warnanya jadi gitu, haha. Dan soal rekues yaoi, maaf... di ff ini saya fokuskan 'straight'. Saya bukan berarti anti yaoi, aku nerima segala pairing mau yaoi atau gak. Cuma, ya ada klasifikasinya aja satu ff kategorinya straight, sedang lain yaoi.

Thanks for review. Saran dan kritik sangat diterima!