Warning!
YAOI
Wonho X Hyungwon
Hyunwoo X Kihyun
and others
typos/no eyd/bad plot/OOC
romance/angst/tragedy
.
.
Unfair Love
slice 3
.
.
© DhaBum
enjoy
.
Hyunwoo masih tetap berjalan dengan tenang. Disampingnya, Kihyun juga berjalan dengan sedikit mencuri pandang pada Hyunwoo. Teriknya matahari musim panas membuat tubuh Kihyun basah oleh keringat.
"Hyung.. Belikan aku minum.." Rengek Kihyun pada Hyunwoo manja.
"Kenapa tidak kau beli sendiri.." Acuh Hyunwoo.
"Ugh.. Sebenarnya aku melupakan dompetku.." Cengirnya lebar. Membuat Hyunwoo menggelengkan kepalanya.
"Tunggulah di sini.. Apa yang ingin kau minum?" Tanya Hyunwoo.
"Apapun yang kau beli.." Jawab Kihyun sambil mendudukkan diri di atas sebuah bangku halte.
Hyunwoo hanya mengangguk lalu pergi ke sebuah minimarket tak jauh dari sana. Tak lama setelah itu, Hyunwoo keluar sambil membawa dua botol minuman dingin di tangannya. Dengan senyum lebar Kihyun menangkap satu botol minuman yang dilemparkan Hyunwoo padanya.
'Aaa.. Jadi Hyunwoo hyung suka minuman seperti ini..' Batin Kihyun senang sambil mengelus botol minuman isotonik di tangannya.
"Kau mau mengikutiku sampai kapan?" Tanya Hyunwoo sambil mendudukan diri di samping Kihyun.
"Eum.. Sampai kapanpun.. Dan oh Hyung mau pergi ke mana sebenarnya?" Tanya Kihyun penasaran.
"Panti.." Jawabnya singkat sambil menenggak botol minuman di tangannya. "Ayo.." Hyunwoo bangkit lalu segera masuk ke dalam bus yang baru saja datang.
Merasa Kihyun tidak mengikutinya masuk bus, Hyunwoo mengernyit heran.
"Apa yang kau lakukan? Naiklah..."
Sempat ragu, tapi Kihyun segera menguatkan dirinya dan menyusul Hyunwoo yang sudah masuk lebih dulu.
'Tak apa.. Ada Hyunwoo hyung..' Batin Kihyun memantapkan hatinya. Kihyun pun akhirnya memasuki bus umum itu.
Tapi sialnya bus yang mereka tumpangi sedang penuh sesak. Namun dengan lincah Hyunwoo bisa menemukan satu spot yang tidak begitu penuh. Dengan segera dia menarik tubuh kecil Kihyun dan menempatkannya di tempat kosong tadi.
Mendapat perlakuan seperti itu, jantung Kihyun rasanya ingin melompat keluar. Apalagi saat ahjusi supir bus terkadang memijak pedal rem mendadak, membuat tubuh Hyunwoo sendikit terhuyung menubruknya.
"Kau tak apa?" Tanya Hyunwoo sesaat setelah bus di rem mendadak.
"Eh.. Apa? Eh iya.. Aku tak apa.."
"Kau yakin? Sepertinya kau demam.. Wajahmu memerah.."
"Eh.. Ugh.. Hanya saja.. Aku pernah diculik di dalam bus.. Jadi.. Aku.. Sedikit takut.." Jawab Kihyun tidak nyambung. Aduh, bisa gila kalau Hyunwoo semenempel ini dengannya. Tapi Kihyun sama sekali tidak bohong kok, dia benar-benar pernah diculik saat menaiki bus umum. Tapi itu dulu, duluuuu sekali.
Hyunwoo sedikit terkejut dengan jawaban Kihyun. "Hm.. Tak apa... Kau aman sekarang.." Hyunwoo mengacak rambutnya pelan.
"Eum.. " Kihyun hanya bisa menunduk dalam. Hyunwoo tidak pernah bersikap semanis ini padanya. "Hyung.. Sebenarnya kita mau ke mana?"
"Panti.." Jawab Hyunwoo singkat.
Saat Kihyun ingin melontarkan pertanyaan lagi, tiba-tiba saja Hyunwoo menariknya dan mengajaknya turun dari bus itu. Tanpa protes, Kihyun hanya pasrah mengikuti Hyunwoo. Matanya hanya bisa memperhatikan tangan Hyunwoo yang sedang menggenggam pergelangan tangannya lembut
"Appa!" Kihyun mencari-cari sumber suara. Tepatnya di halte tempat dia turun, seorang anak kecil lucu sedang berlari ke arahnya.
"Appaaaaaa!" Dengan semangat, bocah tadi masuk ke dalam gendongan Hyunwoo. Membuat genggaman tangan Hyunwoo di tangannya terlepas begitu saja "Appaaaaa~" dan sekarang, bocah itu sedang bergelayut manja di leher Hyunwoo.
'A-appa.. Appa?' Batin Kihyun kaget. Tanpa ia sadari, dia mulai berjalan mundur perlahan dan tau-tau dia sudah berlari. Entah kemana.
"Hh hhh.." Kihyun mendudukkan tubuhnya lelahnya di sebuah bangku. "Di mana ini?" Lirihnya.
Sudah hampir gelap, tapi Kihyun tidak tau ia ada di mana sekarang. Tidak banyak orang yang lewat di sini, sekalipun ada orang yang lewat Kihyun tidak akan berani bertanya pada mereka.
Dari kecil Kihyun memang tidak terbiasa dengan orang asing, ah atau takut lebih tepatnya. Dulu sekali, saat dia masih kecil Kihyun sangat sering menjadi korban penculikan. Hanya karena dia adalah putra tunggal dari sebuah keluarga pengusaha yang sukses, tidak hanya sih sepertinya. Dan hal itulah yang membuat Kihyun enggan untuk berhubungan dengan orang asing.
"Wonho hyung.." Isaknya. Tubuhnya yang tadi bercucuran keringat, sekarang mulai menggigil kedinginan. Apalagi saat dia sadar jika ponselnya tidak ada. "Bagaimana ini? Shin ahjussi.." Air mata makin deras membasahi wajahnya.
Wonho menendang sebuah tong kosong dengan amarahnya yang memuncak.
"Kau bagaimana bisa Kihyun menghilang?!"
"Ma-maafkan kami tuan.. Tuan Kihyun tiba-tiba saja berlari.. Sehingga hilang dari pengawasan kami.." Jawab seorang pemuda berjas hitam taku-takut.
Wonho mengurut pelipisnya lelah. Otaknya sedang dipenuhi berbagai macam kemungkinan mengenai kondisi Kihyun saat ini.
"Kalian harus mencari Kihyun sampai dapat.. Jika dia terluka.. Kalian akan mendapatkan akibatnya nanti.." Perintah Wonho sambil meninggalkan beberapa pemuda berjas hitam dibelakangnya.
Dengan amarah yang memenuhi fikirannya, Wonho menngemidikan sedan hitamnya semakin cepat dan semakin cepat lagi. Mengabaikan beberapa pengguna jalan yang melayangkan protes dan umpatannya karena hampir celaka akibat ulah Wonho tadi.
Hyungwon bergerak gelisah di depan pintu utama rumah besar itu. Dia sempat mencuri dengar percakapan Wonho dengan seseorang di telfonnya tadi, jadi dia tau kalau Kihyun menghilang.
"Kihyun-ah.. Semoga kau baik-baik saja.." Hyungwon sangat berharap agar Kihyun tidak terluka, Kihyun adalah orang yang baik.
Ponsel Kihyun yang dibawanya kembali bergetar, menandakan ada panggilan masuk. Setelah mengabaikan beberapa panggilan sebelumnya karena takut dianggap lancang, Hyungwon memutuskan untuk mengangkat panggilan dari nomer yang dari tadi menghubunginya. Nama Son Hyunwoo tertera di sana.
"Halo-"
"Yaa Yoo Kihyun.. Di mana kau? Kenapa mengabaikan panggilanku?"
"Maaf.. Tapi Kihyun meninggalkan ponselnya.." Kata Hyungwon.
"Apa?! Di mana dia sekarang? Apa dia sudah pulang?"
"Maaf.. Tapi Kihyun belum pulang.. Apa mungkin, sebelumnya kau bersama Kihyun?" Tanya Hyungwon.
'tut' tanpa menjawab pertanyaannya, orang itu memustuskan sambungan telpon.
Tepat setelah sambungan telpon itu terputus, sebuah mobil hitam memasuki pekarangan dan berhenti tepat di depan pintu, membuat Hyungwon bertanya-tanya karena sepertinya itu bukan mobil Wonho. Seorang lelaki paruh baya keluar dari dalam mobil itu. Hyungwon membungkuk sopan saat lelaki tadi lewat di depannya.
"Siapa?" Tanya lelaki tua tadi.
"Chae Hyungwon imnida.."
Tanpa respon apapun, lelaki tadi melewati Hyungwon begitu saja.
"Chae Hyungwon" lirihnya sendu.
..."Maaf.. Tapi Kihyun belum pulang.. Apa mungkin, sebelumnya kau bersama Kihyun?" Kata suara asing di seberang telpon. Tanpa merasa perlu menjawabnya, Hyunwoo langsung memutuskan sambungan.
"Anak manja itu.." Desah Hyunwoo. Meski begitu Hyunwoo tetap memutuskan untuk mencari Kihyun. Apalagi saat dia tau Kihyun meninggalkan ponselnya. "Dasar ceroboh.."
Sudah berjam-jam Hyunwoo berkeliling mencari Kihyun. Dia yakin kalau Kihyun tidak akan pergi jauh, apalagi setelah mengetahui kalau Kihyun tidak bisa naik bus sendirian. Dan oh semoga Kihyun cukup pintar untuk pulang menggunakan taxi dan meminta siapapun yang ada di rumahnya untuk membayarkan ongkosnya, tapi Hyunwoo ragu untu kemungkinan ini. Dan lagi dia tidak bisa menghubungi Wonho karena dia melupakan ponselnya. Jadi kemungkinan terbesar adalah dia masih beraada di sekitar tempat ini, tapi di mana?
Hyunwoo melepas kemeja yang dipakainya saat dia keringat membanjiri tubuhnya. Saat melirik jam tangannya, Hyunwoo mengumpat saat angka sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Eomma... Appaa.." Kihyun memeluk kedua kakinya. Dingin sekali, sudah berapa jam dia di sini? Kihyun tidak tau. Dia tidak hobi menggunakan jam tangan, jadi dia tidak tau jam berapa sekarang. Dia juga tidak pernah membawa dompetnya, karena Wonho yang selalu mengeluarkan uang saat mereka pergi.
Yang pasti, Kihyun yakin sekarang sudah sangat malam. Jam sepuluh? Jam sebelas?
"Wonho hyung.." Isaknya. "Apa aku akan mati seperti ini?" Monolognya. "Siapapun tolong aku.."
..."Di mana kau Yoo Kihyun?" Monolog Hyunwoo dengan nafas terengah. Tanpa sengaja matanya menemukan satu sosok yang mirip dengan Kihyun sedang meringkuk di atas sebuah kursi kayu usang di depan sebuah bangunan tua.
"Yoo Kihyun!" Tanpa pikir panjang, Hyunwoo berlari menghampiri sosok tadi. Dan benar saja, dia adalah si manja Yoo Kihyun.
Mendengar seseorang memanggil namanya, Kihyun mengangkat kepalanya yang tertunduk.
"Hyunwoo hyung.." Seraknya. Ingin sekali rasanya Kihyun berlari menghampiri Hyunwoo dan memeluknya erat. Menyampaikan padanya betapa takut dia di tempat asing seperti ini. Tapi bayangan anak kecil yang memanggil Hyunwoo apa membuat dia mengurungkan niatnya kuat-kuat.
"Yah.. Kau bodoh?! Apa yang kau lakukan di sini? Dan bagaimana bisa kau meninggalkan ponselmu? Dan oh Tuhan,, kenapa kau tidak meminta bantuan orang yang lewat.. Yoo Kihyun?!" Kata Hyunwoo dengan emosi.
Kihyun yang seumur hidupnya sangat jarang dibentak itu merasakan nyeri di sudut hatinya mendengar perkataan Hyunwoo. Tidak taukah Hyunwoo kalau gara-gara dia Kihyun seperti ini? Mati-matian Kihyun menahan air matanya sambil menatap nyalang pada Hyunwoo.
Mengabaikan tatapan Kihyun padanya, Hyunwoo segera menghubungi Wonho dan memberitahukan keberadaan mereka. Setelah memutuskan sambungannya, Hyunwoo melihat Kihyun yang sedang kedinginan. Tanpa berkata apa-apa, dia menyampirkan kemeja yang tadi dia pakai pada tubuh Kihyun yang hanya menggunakan kaos lengan pendek saja.
"Lain kali.. Bawalah jaket saat kau pergi.. Meski di musim panas sekalipun.." Lirihnya.
"Hm.." Jawabnya ogah-ogahan sambil membuang wajahnya dari Hyunwoo. Perlahan Kihyun mengeratkan kemeja Hyunwoo yang ada di badannya, menghirup dalam bau yang seakan memeluk tubuhnya. 'bau ini..' Batin Kihyun sambil memejamkan matanya.
Hyungwon masih mondar-mandir cemas di depan pintu. Menatap gelisah jam dinding besar di ruang utama yang terlihat jelas dari tempatnya berdiri. Sudah jam sebelas malam, kemana sebenarnya Kihyun? Semoga dia baik-baik saja.
Hyungwon sedikit berjingkat saat melihat sebuah mobil hitam yang sangat dia kenali. Itu mobil Wonho. Dan setelah mobil itu berhenti sempurna tepat di hadapannya, dia buru-buru menghampiri Wonho.
"Bagaimana? Apa yang terjadi dengan Kihyun? Dia baik-baik saja kan?" Hyungwon langsung saja memberondong Wonho dengan berbagai pertanyaan.
"Hm.." Dengan satu gumaman saja Wonho menjawab semua pertanyaan Hyungwon. Lalu segera beralih membuka pintu penumpang dibelakangnya untuk segera membawa Kihyun yang entah pingsan atau sadar itu ke dalam gendongannya.
"Bisa kau bawa kemeja itu?" Pinta Wonho.
"Hm.. Tentu.." Setelah memungut kemeja yang jatuh tadi, Hyungwon segera mengikuti Wonho yang sedang menggendong Kihyun ke dalam rumahnya.
"Apa yang terjadi padanya?" Tanya Hyungwon begitu Wonho keluar dari kamar Kihyun.
"Dia mengejar cintanya.." Jawab Wonho.
"O-ohh.."
"Apa yang kau lakukan di sana? Sudah malam, tidak ingin tidur?" Tanya Wonho.
"Hm.. Ah.. Ayahmu tadi bilang ingin bertemu denganmu kalau kau sudah pulang.."
"Begitu? Terimakasih.." Kata Wonho ramah sambil mengacak pelan rambut Hyungwon. "Tidurlah,, kau tidak perlu khawatir lagi soal Kihyun, dia hanya kelelahan saja.." Setelah berkata seperti itu, Wonho berlalu meninggalkan Hyungwon.
"Apa ini?" Hyungwon memegang dadanya yang berdebar aneh...
Tanpa repot mengetuk pintu terlebih dahulu, Wonho langsung saja memasuki ruang kerja ayahnya. Di dalam, Wonho melihat sang ayah sedang menyesap segelas wine sambil menikmati pemandangan kota Seoul dari jendela kaca ruang kerjanya.
"Ada apa?"
"Tentang Chae Hyungwon.. Apakah kau masih melakukannya?"
Wonho sudah tau sebenarnya jika ayahnya akan membahas masalah ini. "Aku tidak pernah menyerah pada hal yang kuinginkan.. Kau tau itu kan? Abeoji?" Setelah berkata seperti itu, Wonho langsung pergi meninggalkan ruang kerja ayahnya, tanpa merasa perlu mendengarkan apa yang akan dikatakan ayahnya.
"Maafkan aku.. Ini semua salahku.." Bisik tuan Shin sambil menenggak habis wine dalam gelasnya.
Sedangkan Wonho yang masih sempat mendengar perkataan ayahnya, hanya bisa menunduk. Merenungi setiap perbuatannya yang tidak bisa dianggap benar itu.
"Sebenarnya apa yang aku inginkan? Apa yang harus kulakukan?" Wonho berjalan dengan lesu. Dan tanpa sadar, dia sudah ada di depan kamar Hyungwon.
Dengan sedikit celah saja, Wonho bisa melihat jika Hyungwon sedang tertidur di atas ranjangnya yang nyaman. Pelan-pelaN Wonho melangkah mendekati ranjang Hyungwon. Menikmati wajah indah yang terpejam itu dari dekat seperti ini, membuat sesuatu dalam dirinya berdesir hangat.
Rasa ini, getaran ini, Wonho tau kalau dari awal pertemuan mereka, jauh bertahun-tahun yang lalu, dia sudah jatuh ke dalam pesona tanpa dasar pemuda kurus itu.
Flashback
Hyungwon kecil yang sedang memainkan pasir di tangannya bahkan tidak sadar saat sebuah bola sepak melambung tinggi menuju ke arahnya.
"Yaaa! Awassss!"
Seolah diputar slow motion, Hyungwon hanya bisa diam menunggu detik-detik bola sepak besar itu sampai menghantam tubuhnya yang kurus sejak kecil.
'Duk'
"Huwaaaaaaaaa! Appa!"
"Huwaaaaaa! Eomma!"
"Yaaa Shin Wonho/Lee Hyungwon!"
Wonho tersenyum simpul mengingat moment memalukan di masa mudanya itu.
"Sangat menyenangkan kalau kau mengingat semua itu.. Lee Hyungwon.." Lirih Wonho sambil membenarkan selimut yang dipakai pemuda itu. "Tapi,,, diriku yang lain berharap kau tidak akan pernah mengingatnya.." Lanjutnya. Tanpa sadar jarak wajah mereka tinggal beberapa senti saja.
"Kau tidak akan tau seberapa kuat dirimu. Sampai suatu saat, menjadi kuat adalah pilihan satu-satunya" -lagi, suara itu terngiang di kepalanya, membuat Wonho menyerah lalu segera memberikan jarak antara wajahnya dan wajah Hyungwon.
"Jangan mengingatnya, jangan pernah.. Tetaplah seperti ini.." Bisik Wonho, lalu memberikan kecupan lembut di pucuk kepala Hyungwon. "Jangan pernah.." Bisiknya sebelum benar-benar pergi dari kamar pemuda kurus itu.
Setelah Wonho tidak lagi di kamarnya, Hyungwon mulai membuka matanya dan mengerjapkkannya lucu.
"Apa itu tadi?" Tanyanya entah pada siapa sambil memegang satu titik di kepalanya yang masih terasa hangat.
Wonho bangun dari tidurnya, dan seperti biasa dia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Tak lama kemudian, Kihyun keluar dari kamar mandinya.
Namun tidak seperti biasanya, Kihyun keluar dengan wajah yang murung. Bukan wajah yang mengerucut lucu yang biasanya akan membuat Wonho menggodanya habis-habisan.
"Ada apa denganmu?"
"Hhhh.." Sejenak Kihyun menimang-nimang. Haruskah dia bercerita pada Wonho? Dan setelah berfikir seperti itu, keputusannya adalah harus.
"Apa kau yakin kalau itu anaknya?" Tanya Wonho begitu Kihyun sudah menyelesaikan ceritanya dengan wajah yang menyedihkan.
"Menurutmu? Bocah itu memanggilnya Appa.."
"Ya sudah.. Cari saja yang lainnya.."
"Tidak semudah itu, aku rasa itu harus Hyunwoo. Setelah kupikirkan matang-matang tak apa meski aku menjadi istri keduanya.. Hiks" wajah Kihyun yang memerah menahan tangis sungguh menggemaskan. Ingin sekali Wonho mengejeknya, namun tangisan kencangnya membuat Wonho mengurungkan niatnya.
"Ya! Kau sudah gila?! Bagaimana bisa berkata seperti itu?!" Wonho mulai luluh melihat nafas Kihyun yang mulai tersendat karena tangisannga.
"Hiks.. Mau bagaimaa lagi.. Aku mencintai Hyunwoo hyung.. Hiks.. Aku rasa aku bisa gila kalau tidak menikah dengannya hyung.." Jelas Kihyun dengan nafas makin tersendat.
"Ssstt.. Kan masih ada aku.." Wonho mulai menepuk pelan punggung Kihyun, membuatnya lebih tenang.
"Hanya Hyunwoo yang aku cintai hyunngggg.."
"Tunggu dulu.. Kau baru saja menolakku? Aku? Shin Wonho? Kau menolak aku yang seorang Shin Wonho dan lebih memilih Son Hyunwoo?" Ucap Wonho dramatis sambil mencengkeram kedua bahu Kihyun. Membuat Kihyun yang masih sesenggukan mulai bisa tertawa renyah.
"Ugh.. Kau menjijikkan.. Lepas.. Dan asal kau tau.. Son Hyunwoo itu lebih dan lebih darimu pokonya... Lebih tinggi,, lebih pintar,, lebih jantan,, lebih tampan-" Jawab Kihyun sambil mengusap air matanya.
"Lebih tampan? Bukankah itu keterlaluan?" Wonho melotot seolah-olah marah. Membuat tawa Kihyun semakin lebar.
"Dan dia pekerja keras,, jadi dia pasti bisa mengurus perusahaan appa yang sudah terlantar itu, membangkitkannya dari keterpurukan dan wushhhh.. Dia bisa menghidupiku dengan layak.." Cerita Kihyun dengan semangat. "Jadi aku tidak perlu sekolah bisnis dan repot mengurusi perusahaan. Aku bisa menjadi ibu rumah tangga dan menunggunya pulang kerja,, lalu menghidangkan masakan rumah yang enak di atas meja.. Dan kami akan bahagia selamanya.." Pekik Kihyun girang. Membuat Wonho tersenyum lebar. "Jadi aku tidak perlu merepotkanmu dan Shin ahjussi lagi.." Tambahnya. Membuat senyum merekah di wajah Wonho perlahan menghilang.
.
.
to be Continue
16-08-16
Mind to review?
Hallohhhhh 😍
Makasiiiiii buaaangeeet yang uda mau repot-repot ngereview *deepbow
Tau ngga sih.. Baca review itu ibarat nemu wifi gratisan saat kuota seret -apalah- bikin semangat nulis -loh kok bisa(?)-
Hahaaa tapi banyak yang bingung yaa .-. Yang nulis aja sebenernya bingung *jder
Banyak yang nanya apa hubungan Kihyun sama Wonho. Dan nah,, setelah baca chapt ini tau ngga apa hubungan mereka? Ayo tebak ayooo *plak
Hehe.. Untuk chapt ini gimana? Kurang greget? Kurang hot? Atau malah terlalu membingungkan?
Huehehehe
Last,, keep review ya sayang-sayang kuuuhhhh ;P
