Wah….saya kembaliiii….
Ehem.. langsung saja deh…
Review sudah saya balas kan? Hehe
Maaf ya kalau ceritanya agak aneh.
Oke…mulai…
The Missing Lamb
Chapter 3
Bloody Old Man
Disclaimer : Inagaki Riichiro and Murata Yuusuke
"…..Pembunuh..pembunuh..pergi kau dasar pembunuh!"
Maria berteriak dengan ketakutan, dia mengatakan bahwa pria tua yang kehilangan domba itu adalah seorang pembunuh. Takami sangat bingung, "Maria, dia ini hanyalah seorang lelaki tua yang kehilangan dombanya, kenapa tiba-tiba kau memanggilnya pembunuh?"
"Bukan. Dia adalah orang yang membunuh ayah, ibu, dan kakakku!"
"Ehm…maafkan dia pak, aku akan membawanya pulang."
"Takami! Kau harus percaya padaku!"
"Sudahlah Maria, kita harus pulang. Kita main game saja di rumah."
(***)
"Kikikik! Dasar anak lugu!"
(***)
-Di Rumah Takami-
"Woohoo! Aku menang lagi! YEAH!"
Takami sangat senang bisa melihat Maria yang kembali ceria. 'Syukurlah dia bisa ceria lagi.'
"Takami, kau kenapa? Takami!"
"Eh, iya. Ayo kita main lagi."
"Baiklah, kita main lagi."
"Hei Maria.."
"Ya?..Hffft..."
Tanpa basa-basi Takami memeluk Maria dengan cukup erat.
"Hfft..."
"Tenang saja Maria, aku akan selalu melindungimu, jangan takut lagi melihat orang itu ataupun kalung itu."
"Hfft...Taakhamf...akf...nafasf..."
"Oh, maaf."
"Fyuh, terimakasih Takami, hehe. Ayo main lagi."
(***)
-Malam hari ketika Maria tertidur-
"Ukh! Ayah...ibu..kakak...", Maria mengigau dengan nada ketakutan.
"Maria! Maria! Bangun!", Takami membangunkan Maria.
Setelah Maria terbangun dia malah komat-kamit, "Ayah, ibu, kakak...ayah, ibu, kakak..."
"Ada apa Maria?"
Tanpa berkata apa-apa Maria langsung berlari dengan baju tidur dan tanpa alas kaki menuju ke rumahnya. Takami terus mengejar Maria sampai ke rumahnya. Setelah sampai di rumahnya, Maria langsung menuju ke ruang makan yang ada di rumahnya. Takami langsung teringat cerita Maria kepadanya. Dan ternyata benar, ayah, ibu dan kakak Maria sudah tergeletak dan bersimbah darah.
Saat Takami masuk, Takami melihat Maria mematung. Air mata sudah mengalir di pipi Maria.
"TIDAAAKKKK!", Maria berteriak dengan sangat keras.
Takami berniat menghajar sang pembunuh. Tapi, sayangnya Takami ikut mematung karena melihat bahwa pembunuh itu adalah lelaki tua pemilik domba. Lelaki tua itu tertawa dengan penuh nista, lalu dengan cepat berlari menuju Maria dan dnegan cepat memotong lengan kiri Maria yang masih menangis. Lelaki tua itu menggunakan pisau untuk memotong lengan kiri Maria.
(***)
Maria's POV
Tak kusangka, kakek jahanam itu memotong lengan kiriku. Aku berteriak kesakitan lalu kepalaku pusing, kulihat sekilas Takami menghajar kakek itu.
Lalu aku pingsan...
Setelah aku sadar, aku sudah berada di rumah sakit. Lengan kiriku kini sudah hilang. Kupegang perban yang membalut bekas lengan kiriku yag terputus.
CEKKLEK!
Suara pintu terbuka. Kulirikan mataku ke arah pintu yang terbuka itu. Ternyata Takami datang menjengukku, dan dia juga membawakankku bunga.
"Selamat Pagi Maria."
"Pagi."
"Kau sudah merasa baikan?"
"Ya, sedikit."
"..."
"..."
"Hei Takami."
"Ya?"
"Dengan hilangnya lenganku, apakah kau masih mau menjadi...err...sahabatku?"
"Maaf...aku tidak bisa."
"Hah?..."
"Hahahha! Tentu saja aku masih mau menjadi sahabatmu bodoh! Kau tidak perlu bertanya begitu!"
"Haha..."
Untung dia hanya bercanda, aku takut sekali. Aku sudah kehilangan ayah, ibu dan kakakku. Aku tidak mau kehilangan Takami.
"Hei Maria! Kenapa diam saja?"
"Hah? Ah, tidak. Aku hanya..."
Aku menangis. Takami terdiam sebentar lalu dia memelukku.
"Sudahlah Maria, jangan menangis lagi. Setelah kau sembuh total, nanti kuajak minum-minum."
"Bir?"
"Bukan, Susu."
"Ah! Kau ini!"
"Hahahhah!"
"Hahahahah!"
Aku sangat senang bisa memiliki sahabat seperti Takami. Kalau tidak ada dia mungkin sekarang aku sudah tidak ada.
(***)
Takami's POV
Maria kini kehilangan satu lengannya. Tapi, aku senang kalau dia bisa tertawa. Setelah puas tertawa bersama Maria aku pergi bertanya kepada dokter yang menangani Maria, kapan dia boleh pulang. Aku sampai di ruangan dokter yang merawat Maria.
Dokter itu bernama Bryan.
"Permisi dok. Kapan ya pasien yang bernama Maria bisa kembali pulang?"
Bukannya menjawab dokter Bryan malah balik bertanya.
"Ah! Kau saudaranya ya?"
"Bukan, aku temannya."
"Hmm. Ya sudahlah. Yang penting kau dekat dengan Maria."
"Memangnya kenapa dok?"
"Fuuh...kau pasti juga sudah tahu kalau ayah, ibu dan kakak Maria sudah tewas terbunuh. Ditambah satu lengannya hilang. Menurut pemeriksaan yang kulakukan, dia mengalami syok yang sangat berat. Dan...Kini jantungnya lemah. Usahakan jangan sampai Maria bertemu dengan hal yang membuatnya takut. Kau juga jangan pernah mengungkit-ungkit soal kematian keluarganya. Buatlah dia selalu merasa bahagia."
"Jantungnya lemah ya...Baiklah Dok, aku akan berusaha."
"Baik! Aku percaya padamu."
(***)
Ini buruk sekali. Jantung Maria kini lemah, ditambah satu lengannya yang hilang .
Fuuh...
Jadi, sekarang akulah orang tua Maria.
(***)
Author's POV
Setelah Maria diperbolehkan pulang dari rumah sakit, Tkami langsung mengajak Maria jalan-jalan.
"Maria, ayo kita jalan-jalan!"
"Aku tidak mau!"
"Kenapa?"
"Pasti aku akan dihina-hina karena lenganku."
"Sudahlah, aku akan terus melindungi dan membelamu."
"Aku tidak yakin."
"Yakin sajalah! Ayo!"
"Fuuh...baiklah."
-Di Perjalanan-
"Hei Takami, kau mau mengajakku kemana?"
"Hmm...kau mau nonton?"
"Tentu saja...UKH!"
HYUNGGGG...
"Maria! Maria! Ma-ria!"
BRUKKK...
Bersambung...
Haduh...sedikit sekali ya?
Saya lagi tidak ada ide sih. Maaf sekali ya! Episode selanjutnya *halah* saya akan bikin lebih banyak.
Oh iya, doakan saya ya biar gak kena penyakit apa-apa di pemeriksaan.
Terimakasih banyak!
Review? ^^b
