Duduk bersama di depan tekevisi 32 inch bersama dengan banyak snack untuk di konsumsi dan segelas besar coke di masing-masing tangan sudah sangat jarang di lakukan keempat perempuan berusia 27 tahun tersebut. Menjadi sangat langka semenjak keempat perempuan tersebut sudah memasuki dunia kerja bahkan apartemen yang mereka tinggali bersama saja menjadi tempat yang jarang sekali di kunjungi.

Untuk Minseok yang masih bisa membawa perkerjaannya pulang masihlah menjadi tuan penjaga apartemen ini, meskipun acap kali mengajak teman-teman yang lain untuk datang atau mungkin menginap di tempat kekasih musisinya, Jong Dae. Bagi Kyungsoo juga begitu, ia termasuk yang bisa lumayan raji mengontrol keadaan apartemen karena taka da tempat untuknya yang lain selain rumah Busan-rumah orang tuanya terlalu jauh untuk dikunjunginya tapi ketika sudah pada tugasnya yang mengharuskannya keluar kota bahkan keluar negeri, dialah yang menjadi sangat susah ditemui bahkan di hubungi. Bagi Zi Tao, awalnya memang ia yang lebih sering di rumah di banding dengan Minseok sendiri tapi semenjak ia memberanikan diri jatuh ke dunia hiburan, jangankan untuk pulang, waktu istirahat yang ia punya hanyalah dari perjalanan lokasi syuting menuju kantornya. Ia masih rookie dan ia masih punya tanggungjawab lain di perusahaan. Lain lagi bagi Luhan, harusnya ialah yang paling bisa menjaga apartemen yang akhirnya bisa mereka beli di tahun ketujuh persahabatan mereka, mengingat Luhan hanyalah seorang pegawai negeri sipil yang masih menerima gaji dari hasil pajak yang dibayarkan masyarakat namun tetap saja pekerjaan Luhan pada level yang berbeda, menjaga negaranya dari balik benda berbentuk persegi tersebut, kadangkala Luhan bisa berada di depan layar tersebut selama empat hari penuh dan tiga hari sisanya ia akan terkapar begitu saja di kamarnya.

Ya, mereka punya pekerjaan hebat yang dapat merusak tubuh mereka juga dengan cepat. Namun logikanya mereka butuh uang juga untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka, dan selagi hal itu halal dan legal tak ada halangan untuk itu.

"Zi Tao-ah, tukar channelnya, aku sedang tidak berminat dengan berita-berita memusingkan itu,"ujar Kyungsoo yang memangku seplastik besar snack sambil menselonjorkan kakinya di atas sofa nerwarna gading tersebut,

"kenapa harus aku?"protes Zi Tao yang duduk sendiri di sofa berbeda dari Kyungsoo, menghadap pada meja yang juga berhadapan dengan Kyungsoo.

"karena kau yang paling dekat dengan remote, Zi Tao-ah."ujar Luhan yang tengah mencomot cokelat yang meleleh di jarinya.

Zi Tao mendengus.

"lagian apa susahnya mengambil dan menekan tombol di remote itu saja, Ms Wu?"ledek Minseok, yang duduk di depan kaki Kyungsoo, ia baru saja mengulurkan tanganya ke snack di pangkuan Kyungsoo namun Kyungsoo memukul pelan tangan Minseok dan memeluk snack berukuran besar tersebut.

"bukan itu masalahnya, mengambil dan menekan itu gampang tapi permintaan kalian yang menjadi masalahnya. Dan Ms Wu? Oh thank you, you make me realiaze that man still alive."

Ketiga perempuan lainnya hanya bisa menertawakan celotehan Zi Tao.

"hm, Zi Tao, bisa kau tukar ke channel lain, aku bahkan tidak berminat menonton lawakan yang tak masuk akal ini,"titah Kyungsoo lagi.

"do it by yourself, please!"

Zi Tao mengulurkan remote pada Kyungsoo. Kyungsoo menunjukan tangannya dan snack di pangkuannya.

"hey, kau saja yang lakukan, kau tidak lihat aku sibuk dengan ini."

"kami juga sedang sibuk,"ujar Luhan dan Minseok menunjukan tangan mereka yang memegang snack di kedua tangannya masing-masing.

Zi Tao sedikit menyesali datang terlambat dan baru meminum cola-nya saja, alhasil ia harus mengalah diperbudak dengan tidak hormat seperti saat sekarang ini.

"ah stop stop itu saja,"

Zi Tao mendengus saja mendengar titahan teman-temannya yang berisik sekali.

Dan mereka sibuk dengan snack di tangan mereka sembari terfokus pada film yang baru saja di mulai tersebut.

෴ධ. . . . BàdbóŸ . . . . ධ෴

"aigooo, film macam apa ini? Jadi, pada akhirnya perempuan itu menyerahkan begitu saja tubuhnya pada laki-laki yang tak mencintainya lalu menyumbangkan hatinya untuk perempuan yang dicintai oleh laki-laki itu. Mengerikan sekali. Laki-laki itu melakukan sex dengan gampangnya dengan perempuan lain dan mereka menyebutnya dengan cinta sejati."komentar Kyungsoo dengan sangat vocal pada film yang sudah hampir habis tersebut.

"bukan masalah sex-nya yang ditonjol disini, chingu-ah. Filmnya menceritakan tentang tulusnya perempuan itu pada laki-laki itu dan perjuangan perempuan itu hingga akhir itulah bentuk rasa cinta sejati,"komentar Luhan yang jujur saja menyukai jalan cerita film tersebut.

"cinta sejati? Jadi yang seperti itu cinta sejati bukannya yang dilakukan perempuan tersebut hanyalah tindakan bodoh yang tak masuk akal. Kenapa dia mau melakukannya dengan gampangnya dengan laki-laki yang tak mencintainya? Dan lagi laki-laki tersebut melakukannya begitu saja dengan bejatnya. Mengerikan sekali, cinta apanya coba, hanya bullshit saja,"lanjut Kyungsoo dengan argumennya.

Sebenarnya Luhan sendiri mengerti bagi Kyungsoo laki-laki dan seputar topic sex yang membawa-bawa nama cinta terdengar sangat bullshit baginya, sehubungan dengan beberapa kejadian di masa lalunya namun tetap saja bagi Luhan tak adil jika Kyungsoo menganggap apa yang di masa lalunya itu sepenuhnya benar. Tak semua laki-laki seperti orang di masa lalu Kyungsoo dan ayolah yang tak Kyungsoo percayai itu adalah laki-laki bukan cinta.

"aigooo, uri Kyungsoo-ah, berhentilah berpikir bahwa semua laki-laki itu sama, itu tak adil. Kau belum bertemu bahkan mencoba mengenal banyak lelaki, kau terlalu sibuk dengan memproteksi dirimu dari hal-hal yang belum tentu seburuk itu, kau juga tak bisa menafikan tentang cinta hanya karena kau tak mempercayai laki-laki begitu saja, yang tak dirimu percayai itu hanyalah laki-laki bukan cinta. Dan percayalah padaku cinta itu ada. Berhentilah bertingkah begitu keras pada dirimu sendiri. Bukalah dirimu perlahan, terimalah beberapa tawaran berteman dari mereka juga. kau tak akan rugi apa-apa juga jika kemudian memutuskan untuk tak melanjutkan komunikasi dengan mereka. Kau perempuan pintar, bukan? Dan aku tahu kau tak akan bertindak bodoh termasuk tentang masalah sex. Hm, sex tidak seburuk itu, girl,"

Kyungsoo tak bisa menunjukan wajah santainya seperti biasanya setelah mendengar semacam khutbah dari Luhan yang jujur saja tiba-tiba membakar amarahnya. Ayolah, Luhan mengenalnya sejak lama bahkan tahu dengan alasan mengapa ia menjadi seperti ini, dan tiba-tiba Luhan seolah tengah menyudutkannya. Ia sudah berulang kali menanamkan bahwa laki-laki dan sex adalah dua hal yang tak terpisahkan dan keduanya bukanlah hal yang buruk sekalipun ingatan di masa lalu tersebut tak kunjung ia lupakan tapi tetap saja saat ada laki-laki berusaha menarik perhatiannya yang ada di pikirannya hanyalah "enyahlah segera, aku benci dengan makhluk munafik seperti kalian". Tidak, untuk urusan penyimpangan, Kyungsoo belum semenyimpang untuk menyukai sesamanya.

"lalu kau pikir bagaimana dengan Hyukjae, Gikwang, Woo Bin dan Mino. Aku sudah mencobanya, Luhan,"

Kyungsoo menyebutkan semua nama laki-laki yang pernah menyatakan diri sebagai kekasih Kyungsoo, mencoba untuk mengerti Kyungsoo sebaik yang mereka bisa namun semua berakhir begitu saja. Kyungsoo memutuskan hubungan dengan laki-laki itu begitu saja.

"itu karena kau tak pernah mempercayai mereka sepenuhnya, Kyungsoo-ah. Kau masih saja berpikiran buruk tentang niat mereka memelukmu yang hanya bermaksud membuatmu hangat atau berbagi kesenangan saja tapi pikiranmu sudah melayang pada pikiran lain yang tak menentu apalagi seperti saat Mino menciummu dulu, dia hanya menunjukan rasa kasih sayangnya padamu,"

Suasana pembicaraan mereka menjadi semakin tak baik saja, Minseok dan Zi Tao bertatapan saling memberi kode lewat tatapannya. Mereka sama-sama tak punya ide untuk menginterupsi dua orang yang jika sudah berargumen sulit dihentikan bahkan sekedar disela.

"oh, aku mengerti. So, being slut like you done with Sehun, it can call true love, Ms. Lu. Oh, I see."

Seketika Luhan menegang mendengar kata cemoohan dari bibir Kyungsoo untuknya. Perkataan Kyungsoo sungguh teramat mengena baginya, membuat bibirnya mengatup rapat memutar memorinya tentang yang Kyungsoo katakan tentang dirinya. Kyungsoo sungguh keterlaluan jika mengeluarkan kalimat tersebut sebagai sebuah candaan semata.

Keempat perempuan tersebut terdiam, suasana sungguh tak seperti sebelumnya lagi. Sekarang begitu mencekam saat Kyungsoo dan Luhan pun berhenti untuk membuat kontak mata sembari menahan deru amarah pada diri mereka masing-masing.

"t-ta-tapi kau tahu alasannya, Kyungsoo-ah,"ucap Luhan lagi.

"kau juga tahu alasannya kenapa aku tak bisa."

Kyungsoo bangkit dari tempat duduknya begitu saja, masuk ke kamarnya. Luhan masih menunduk, ia tak bisa membalas apa-apa.

"aku pergi."pamit Kyungsoo.

"hey, aku ikut."

Zi Tao yang memang belum berganti pakaian mengambil coatnya kemudian berlari mengikuti Kyungsoo.

෴ධ. . . . BàdbóŸ . . . . ධ෴

Minseok mengambil posisi duduk di samping Luhan yang masih saja menunduk, ia meremas sudut kaosnya erat-erat. Minseok masih membiarkan saja Luhan yang jelas sedang dalam keadaan tidak baik-baik.

"hey, tenanglah."ujar Minseok.

"Minseok-ah, bagaimana ini? Kyungsoo, Kyungsoo, dia membenciku. Aku bodoh. Aku tak peka. Aku payah. Aku jahat, Minseok ah. Kyungsoo-ah pantas membenciku."

Luhan terisak-isak, dan Minseok menyediakan dirinya untuk menenangkan Luhan.

"tidak, dia tidak membencimu, dia hanya marah,"ujar Minseok menenangkan.

"tapi, dia marah karena dia membenciku. Setelah ini dia tak mau lagi berteman denganku,"

Minseok tak habis pikir dengan jalan pikiran Luhan yang cukup aneh. Bagaimana mungkin Kyungsoo tidak mau lagi berteman dengannya setelah ini. dan lagi harusnya sekarang ia sedang menangis setelah mendengnar kata kasar dari temannya sendiri atau mungkin sekarang malah menangis karena sangat kesal, entahlah dia malah takut dibenci.

"ais, bagaimana mungkin dia melakukan itu? Jika dia melakukan itu masih ada aku. Berhentilah menangis,"

Bukannya berhenti menangis, Luhan malah semakin karena ini pertama kalinya Kyungsoo memberinya tatapan yang tidak pernah sebelumnya ia lakukan pada Luhan. Tatapan yang seolah menyiratkan bahwa ia benar-benar membenci Luhan.

"tapi, aku bersalah padanya. Aku salah,"rengek Luhan lagi.

"ya jika kau salah, maka minta maaflah. Dan dia akan memaafkanmu,"ujar Minseok.

"sungguh?"

Luhan mendongak menatap Minseok seperti anak-anak yang baru saja mendengar akan diberi permen. Minseok menganggukinya.

"baiklah setelah ini, aku akan meminta maaf padanya,"

"ya, lakukanlah."

Minseok heran sendiri padahal Luhan tahu bahwa Kyungsoo tak akan marah lama pada mereka tapi tetap saja bertingkah konyol seperti sekarang ini. entahlah mode crybaby-nya mungkin sedang aktif.

"gumawo, Minseok-ah."

Luhan yang masih sesugukan memeluk erat tubuh Minseok tiba-tiba.

"arggh.. aduh.."erang Minseok tiba-tiba.

Ia memegang bagian lengannya.

"ada apa denganmu?"

Tanpa menunggu jawaban dari Minseok, Luhan langsung menarik turun piyama bagian lengan Minseok. Luhan menemukan memar kebiru-biruan seolah Minseok baru saja dipukul oleh sesuatu. Sebagai seseorang yang pernah menginvestigasi Luhan cukup tahu kemungkinan bagaimana bekas itu ada.

"Jong Dae oppa yang melakukannya?"

Minseok enggan menjawabnya, ia menarik lagi piyamanya yang ditarik seenaknya oleh Luhan. Luhan malah membalik-balikkan tubuh Minseok bermaksud mencari kemungkinan tempat memar lain berada.

"hey, berhentilah,"

"aku akan mengadukan ini pada Kyungsoo,"ancam Luhan.

"Ya! Jangan lakukan itu."

"tapi, Jong Dae oppa sudah keterlaluan bagaimana bisa ia melakukan ini padamu. Dia harus diberi pelajaran,"

"aiss, itu bukan masalah-"

"-bukan masalah bagaimana, kau memar-memar dan aku tahu itu sakit. Aku akan mengadukannya pada Kyungsoo,"

"aigoo, bagaimana bisa kau mengadu huh? Sekarang saja kalian sedang bertengkar,"

Luhan tiba-tiba ingat kembali alasan mengapa ia tersedu-sedu tadi.

"saat baikan, aku akan mengadukannya dan membuat laki-laki bernama Jong Dae itu menyesal,"ancam Luhan.

"hey, jangan berbuat aneh-aneh. Aku baik-baik saja"

෴ධ. . . . BàdbóŸ . . . . ධ෴

Kyungsoo yang masih penuh dengan amarah keluar begitu saja dari apartemennya. Ia berjalan begitu saja tanpa tujuan yang ia pikirkan hanyalah menjauh dan menenangkan dirinya.

"hey, ayo ikut denganku!"ajak Zi Tao yang baru saja mengagetkannya dengan mengklakson tiba-tiba di belakangnya.

Kyungsoo langsung masuk ke mobil Zi Tao tanpa bertanya terlebih dahulu mereka akan kemana.

"kau ini benar-benarlah, kenapa tiba-tiba marah seperti ini hm?"Tanya Zi Tao.

"aku tidak kenapa-napa, Luhan saja yang aneh tiba-tiba menjadi menyebalkan dan sok tahu seperti itu, serasa dia yang paling benar dan tahu segalanya saja,"jawab Kyungsoo masih dengan emosi.

"lalu? Apa yang di katakannya salah?"

"lalu? Apa aku yang salah hm?"

"aiss, bukan itu maksudku. Apa Luhan berkata seperti tadi dengan maksud jahat padamu hm? Dia hanya perhatian dengan cara berbeda padamu. Dia orang yang peduli pada kebahagiaanmu,"

Kyungsoo terdiam, berpikir sejenak tentang yang dikatakan oleh Zi Tao.

"kau masih marah padanya? Hey, kau tahu bagaimana dia,"tegur Zi Tao.

"hm, aku tidak marah."jawab Kyungsoo.

"aigooo, anak baik. Sebentar lagi kita sampai,"

Kyungsoo menepis tangan Zi Tao yang berusaha mengelus rambutnya. Zi Tao hanya tertawa menerima penolakan tersebut.

"ya! Kau mengajakku ke klub?"

Zi Tao mengangukinya dengan santai, membuat Kyungsoo mendengus tapi tetap saja turun dari mobil Zi Tao.

෴ධ. . . . BàdbóŸ . . . . ධ෴

Klub? Tentu bukan tempat asing lagi bagi keempat perempuan tersebut sejak hari 'coming age' mereka, kadang kala mereka pergi bersama sesekali, kadang mengacau disana diam-diam dan banyak lagi. Namun sejak memasuki dunia kerja tak ada lagi keisengan seperti dulu, mereka ke klub pun masih tentang urusan bisnis. Jadi, bersenang-senang di klub bukan hal yang biasa dilakukan. Menikmati minuman bersama dentuman music yang kuat tidak terlalu akrab bagi mereka berempat. Jika memang ingin minum, mereka lebih menikmati meminumnya di tepi jalan bersama dengan chicken sebagai dishnya atau mungkin memang mengkonsumsi soju bersama dengan ddukbeokki.

Zi Tao menjadi cukup terasa asing bagi Kyungsoo, saat mengajaknya ke klub tiba-tiba bahkan sebenarnya Kyungsoo bisa menilai dengan mini black dress yang di gunakan oleh Zi Tao tapi tetap saja Zi Tao bukan tipikal perempuan pemabuk atau perempuan yang hobi bersenang-senang di klub ketika ada party di perusahaan saja terkadang ia masih malas mengunjunginya. Namun, rasa penasaran Kyungsoo terjawab.

"perkenalkan, ini Tae Hyung, Kyungsoo ah."

Zi Tao membawa seorang laki-laki berambut coklat berbelah tengah klasik kehadapan Kyungsoo, cukup Kyungsoo simpulkan bahwa kemungkinan yang dibawa Zi Tao adalah seseorang yang mengerti mode atau dari kalangan stylish bisa dilihat dari merk pakaian dan cara ia memadupadankan. Kyungsoo memberi nilai 75 dengan sukarela pada laki-laki tersebut untuk cara berpakaiannya.

Tiba-tiba saja setelah Kyungsoo mengulurkan tangannya membalas uluran Taehyung dan menyebutkan namanya. Zi Tao menarik paksa kepala Tae Hyung membawa laki-laki tersebut pada ciuman yang cukup tergesa-gesa namun entahlah bagi Kyungsoo mengerikan. Kyungsoo mengalihkan pandangannya dari aksi ciuman yang tiba-tiba dan menjijikan tersebut barulah Kyungsoo tahu penyebabnya. Diseberang sana ada Yi Fan dengan setidaknya empat orang bitch di sekitarnya menatap tajam pada Zi Tao, mengabaikan bitchs disekelilingnya yang mulai menempel dan terus menggodanya.

Kyungsoo hanya bisa menggeleng, tak mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh Zi Tao. Apa sekarang ia sedang mencoba menambahkan kayu bakar kering pada api yang menyala agar menyala besar dan tak kunjung padam? Apa Zi Tao tidak takut pada Yi Fan? Zi Tao bertingkah terlalu berani atau entahlah mereka sedang berperang satu sama lain.

Zi Tao pergi ke lautan manusia yang tengah menikmati alunan dentuman music yang dibuat oleh sang DJ malam ini. Kyungsoo hanya duduk menghadap arah bartender, memikirkan minuman jenis apa yang akan dikonsumsinya, ada banyak pilihan disana beer, cocktail, vodka, champagne, dan wine dengan berbagai jenis. Kyungsoo akhirnya memutuskan untuk memesan cocktail saja, bibirnya masih merindukan manis dari buah namun menginginkan rasa memabukan yang adiktif.

෴ධ. . . . BàdbóŸ . . . . ධ෴

"Ya! Sehun ah, berhentilah mabuk-mabukan seperti ini."ujar seorang laki-laki memakai baju kaos hitam ketat di tubuhnya pada Sehun yang masih dengan wajah tenangnya namun berkali-kali meneguk minuman dari sebuah gelas kecil.

"aku belum mabuk, Jong In ah. Aku baik-baik saja,"ucap Sehun dengan nada sangat datar.

"apanya yang tidak mabuk? Kau sudah banyak sekali minum. Aiss bagaimana bisa seorang perempuan membuat Oh Sehun menjadi seperti ini, dia sudah meninggal, Hun,"

"hanya seorang perempuan katamu? Oh, sudah urusi saja urusanmu sendiri. Aku ingatkan saja padamu untuk tak menyakiti orang lain. Dan aku buktikan padamu. Aku tidak mabuk sama sekali. Aku masih bisa memainkan lagu disana,"ujar Sehun yang langsung bangkit menuju tempat DJ meski dengan langkah sedikit sempoyongan.

"Ya! Kau meninggalkanku?"

"urusi saja urusanmu sendiri, Kkamjong-ah"

෴ධ. . . . BàdbóŸ . . . . ධ෴

Jangan menyangka bahwa Kyungsoo akan luput dari perhatian laki-laki dan dapat duduk tenang menikmati cocktailnya, itu tidak terjadi padanya. Berkali-kali laki-laki datang menggodanya namun ia hanya mengacuh begitu saja. Kyungsoo yang sungguh mempesona, hanya dengan ripped jeans dan baju kaos putih ketatnya yang menunjukan bagaimana bra berwarna hitamnya meyangga dengan pas payudaranya sudah membuat laki-laki tertarik padanya. Kyungsoo sudah mulai merasa mabuk, bukan karena segelas cocktail bersensasi asam rendah alcohol yang dipesannya melainkan karena minuman yang dipesan begitu saja oleh laki-laki yang ingin menggodanya, mulai dari beer, wine, cocktail hinga champagne. Kyungsoo menolak keberadaan mereka disekeliling Kyungsoo tentu saja tapi tidak menolak minuman yang mereka beli begitu saja.

Jong In hanya bisa mendengus melihat seberapa kacau Sehun sekarang. Namun, berhenti khawatir karena Sehun sepertinya sedang asik menjadi DJ disana, meski Nampak sekali ia masih sedikit sempoyongan. Jong In hanya tak mengerti alasan Sehun menjadi sekacau itu. Jong In menuju meja bartender, dari kejauhan punggung menggoda yang dimiliki oleh seorang perempuan dengan kaos berwarna putih menarik perhatiannya. Ia melihat ada beebrapa laki-laki mendekat namun perempuan itu menolak begitu dengan rambut hitam lurus sepunggung yang sungguh mengusik rasa penasaran Jong In. entahlah karena itu begitu menggoda atau karena begitu familiar.

Jong In mendekati perempuan itu dengan bersemangat, sesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya karena biasanya setiap di klub perempuan-perempuanlah yang lebih dahulu menggodanya. Namun, untuk kali ini Jong In ingin melakukan yang berbeda.

"apa kau sedang sendirian, Agassi?"sapa Jong In.

Kyungsoo tak tertarik sama sekali untuk menjawab pertanyaan Jong In, malah ia meremehkan pertanyaan retoris yang ditanyakan Jong In padanya. Pertanyaan yang dengan melihat saja Jong In sudah dapat menyimpulkannya. Yang menarik adalah aroma parfum Jong In yang berkesan bagi Kyungsoo sejak Jong In berjarak 10 langkah lagi dari dirinya namun enggan untuk menoleh kebelakang. Parfum keluaran Noir pada akhir musim dingin tahun ini, parfum yang masuk 7 teratas aroma yang disukai oleh Kyungsoo. Kyungsoo cukup menikmati aroma tersebut disekelilingnya, tak menginginkan aroma nyaman itu menghilang. Bau dari alcohol sungguh tidak mengenakan di tambah dengan aroma keringat, muntah, sex yang membuat jijik.

Jong In mulai mengluarkan pesonanya, ia mendudukan dirinya di bangku sebelah Kyungsoo. Meletakan tanganya sebelah diatas meja bartender lalu menjadikan satu tangan tersebut tempat kepalanya bersender demi menatap kearah Kyungsoo. Jong In memperhatikan dari samping Kyungsoo yang mencoba mengabaikan yang dilakukan Jong In padanya. Kyungsoo baru saja mendapat perlakuan yang berbeda, ia biasanya hanya akan dirayu dengan kata-kata, sentuhan yang menjijikan, bahkan uang namun yang dilakukan Jong In berbeda, ia seolah memuja Kyungsoo, membuat pipi Kyungsoo memerah. Ia tanpa sadar juga mencuri pandang lewat sudut matanya pada Jong In yang masih memperhatikannya dengan tersenyum itu, Kyungsoo tak ingin melihatnya alhasil pandangannya menangkap seberapa mempesona otot tangan Jong In yang mencuat dari kaos press-body yang digunakan Jong In. Kyungsoo menduga bahwa Jong In memadupadankan outfitnya dengan sebuah coat berwarna coklat atau abu-abu, jika tebakan Kyungsoo benar maka ia tak segan memberi nilai 89 untuk Jong In. hm, Kyungsoo jadi bermurah hati memberi nilai cukup tinggi pada orang asing.

"hey, kau ingin aku pesankan sesuatu?"

Kyungsoo reflek menatap pada Jong In dikarenakan oleh tangan Jong In yang dengan gampangnya memegang bahu Kyungsoo. Kyungsoo langsung menjauhkan tangan Jong In dari bahunya dan memberi tatapan sengit pada Jong In. Jong In tersenyum santai, ia begitu menikmati interaksinya bersama Kyungsoo yang di anggapnya menarik dan menyenangkan.

Kyungsoo memberengut tak suka, saat tangan Jong In begitu kurang ajar menyentuh pundaknya namun tanpa sengaja ia juga penasaran dengan wajah Jong In karena dalam pikirannya mengatakan tampan meski ia tak yakin sepenuhnya dikarenakan matanya yang mulai berkunang-kunang dan kelap kelip lampu klub yang membuat wajah Jong In tak begitu terlihat oleh Kyungsoo.

"tidak perlu. Aku tidak butuh."

Jong In bangkit dari tempat duduknya, menjauh dari Kyungsoo. Cukup membuat Kyungsoo heran dan mungkin kecewa. Ia tak menduga bahwa Jong In akan semudah itu menyerah padahal ia menyangka akan ada hal menarik lagi yang terjadi. Tak jadi masalah, bagi Kyungsoo sebenarnya tapi menjadi masalah saat aroma yang ia senangi menjauh berganti lagi aroma kuat alcohol yang menyesakan.

"silahkan diminum,"

Kyungsoo dibuat kaget saat sebuah tangan menarik gelas kecil dari tangannya dan menuangkan sebuah cairan berwarna bening ke dalam gelasnya dan menyodorkannya pada Kyungsoo.

"minumlah,"

Kyungsoo masih diliputi tanda Tanya tentang apa yang sedang dilakukan pemuda yang ia duga baru saja meninggalkannya tadi. Kyungsoo masih diam saja tak berinisiatif untuk menanyakan apa-apa pada pemuda yang mengembangkan senyum padanya.

"hey, apa kau mencurigaiku? Aku brsungguh-sungguh tak ada hal aneh dalam minuman itu, aku serius. Jika kau tak percaya mari kita minum bersama,"

Jong In menuangkan air dari botol yang sama pada gelasnya. Ia menyenggolkan pinggiran gelasnya pada gelas Kyungsoo yang masih terletak di atas meja, menggumamkan kata 'cheers' lalu membawanya ke mulutnya dan menelan sampai habis air yang ada di dalam gelas tersebut kemudian tak lupa tersenyum pada Kyungsoo menandakan bahwa taka da yang aneh dalam minuman tersebut. Kyungsoo yang penasaran dengan apa yang ada di gelas tersebut mengikuti apa yang dilakukan Jong In.

"air mineral?"

Jong In tersenyum mendengar, kalimat Tanya yang keluar dari mulut Kyungsoo, tentu saja lidah Kyungsoo tak salah karena memang identitas dari air yang diberi Jong In adalah air mineral. Jong In mengangguk untuk pertanyaan Kyungsoo. Kyungsoo masih memandang dengan wajah penuh Tanya atas tingkah menarik Jong In.

"kau sebaiknya tidak mabuk, jika kau bersama temanmu maka setidaknya kau harus sadar untuk menjaga mereka, jika kau sendirian sungguh aku khawatir akan banyak bajingan disini yang akan memanfaatkan kesempatan untuk mendekati perempuan secantik dirimu, Agassi. Jadi kau tak aman jika kau mabuk,"jelas Jong In.

"kau sedang mengajariku atau merayuku?"Tanya Kyungsoo dengan nada sakartis.

Jujur saja, tak seperti dugaan Kyungsoo, ia mengira pemuda beraroma menyenangkan disampingnya ini akan menawarkan sesuatu minuman baru atau minuman mahal namun ternyata hanya sebotol minuman mineral yang dingin. Kyungsoo hanya tak bisa menghilangkan sakartismenya terhadap laki-laki.

"tidak, kedua-duanya. Aku hanya ingin membuatmu terkesan, itu saja,"jawab Jong In.

Kyungsoo terdiam, tak bisa menahan bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. ia menatap dari samping wajah Jong In yang tengah menengak segelas lagi air bening yang bukan air mineral melainkan wine. Terkesan? Jong In ingin membuat Kyungsoo terkesan. Okay, meski dengan berat hati. Satu garis sudah terisi di belakang kalimat tersebut, ya Kyungsoo cukup terkesan.

"jadi, siapa namamu?"

Tbc.

Maaf, lama update dan belum sempat balas reviewnya.

Smoga chapter kali ini banyak disukai dan di berikan review

Saranghae..