Disclaimer
Kuroko No Basket
Fujimaki Tadatoshi
X
DURARARA
Ryohgo Narita
Suzuhito Yasuda
Hiroshi Kamiya (Akashi & Izaya)
VS
Daisuke Ono (Midorima & Shizuo)
Cerita sebelumnya;
Tim Kiseki no sedai berkunjung ke Ikebukuro untuk mengadakan sebuah pertandingan basket. Setelah sampai disana, Akashi justru tersesat dan bertemu dengan Celty dan Shizuo. Shizuo hampir saja menyerang Akashi karena mengiranya sebagai Izaya.
Bukanlah hal mudah untuk menenangkan seorang Shizuo yang sedang mengamuk, terlebih lagi jika ia menggunakan 'item' apapun untuk dijadikan senjatanya, termasuk lengan kosongnya yang sekeras besi. Celty tidak pernah mengira bahwa keputusannya untuk membawa Akashi ke rumahnya adalah suatu kesalahan fatal karena Shizuo mengikuti mereka.
'Shizuo nyaris merusak ruang makan Shinra!'.
Akashi memang bukan Izaya, tapi caranya menghindari serangan Shizuo membuatnya terlihat seperti kloningannya Izaya. Akashi bukanlah Psyche, Hibiya ataupun Roppi, namun ia lebih mirip disebut 'Izaya versi kalem'.
(*Ket: Psyche, Hibiya dan Roppi adalah alter egonya Izaya).
Shizuo melempar benda-benda disekitarnya ke Akashi. Tentu saja dengan 'Emperor eye'nya Akashi, ia mampu mengelak dengan mudah semua serangan Shizuo.
Celty semakin kesal, ia melebarkan 'bayangannya' untuk mengikat gerakan Shizuo agar ia diam. Ketika Shizuo akan melakukan serangan dekat, ia melihat mata merahnya Akashi, barulah saat itu ia menyadari bahwa laki-laki yang sedang dilawannya sekarang bukan Izaya.
"Kau… siapa?" Shizuo menjatuhkan lampu yang ia pegang.
Akashi menghela nafas, "Setelah semua kekacauan yang telah kau buat, kau baru bertanya siapa aku?"
Shizuo sepertinya malu karena sudah salah orang tapi ia mencoba mempertahankan 'poker face'nya.
"Suaramu sangat mirip dengannya." Shizuo meletakan kembali lampu yang sudah rusak di atas meja. "Maaf, sepertinya aku memang sudah salah orang."
Celty menarik kerah belakang Shizuo saat pria berseragam buttler itu mau pergi begitu saja.
"JANGAN KABUR" Celty menulisnya dengan full capslock.
"A…Aku sudah tidak ada urusan dengannya."
"Setelah kau mengira dia adalah Izaya, kau langsung menyerangnya dan membuat kekacauan disini!?" Celty melihat sekeliling ruangan hancur dan ada lubang di tembok, Shinra pasti shock jika ia melihat ruangan ini.
"Izaya?" Akashi teringat sesuatu. "Apa maksudmu 'Izaya Orihara'?"
"Huh?" Celty bingung "Darimana kau tahu soal Izaya?"
Akashi membatu, seharusnya ia diam saja. Akashi pernah mendengar info dari temannya di dunia maya bahwa Izaya Orihara mempunyai segudang informasi mengenai Dollars. Ah… tunggu, kemudian… Shizuo menyerang Akashi karena Akashi memiliki suara seperti Izaya. Sekarang Akashi mengerti sesuatu;
Ia memiliki suara sama persis dengan Izaya.
"Kau.. siapa namamu?" Tanya Shizuo.
"Akashi Seijuro."
"Akashi?" Shizuo memastikan. "Seingatku, beberapa hari lalu aku pernah mendapat telepon salah sambung darimu."
"Kalian bicara apa sih!?" Celty mulai sewot karena diabaikan.
Shizuo lalu duduk santai di kursi dan menghisap sebatang rokok, "Sekarang aku mengerti." Kata Shizuo "Kau dan Izaya punya suara yang sama. Lalu, beberapa hari lalu kau meneleponku. Aku sempat mengiramu Izaya."
"Lalu kau menutup teleponnya." Balas Akashi.
"Ada perlu apa kau menghubungiku?" Shizuo mulai curiga.
"Hanya keisengan beberapa teman di dunia maya." Akashi berbelat-belit. Jelas saja ia tidak mau cerita kalau tujuannya menelepon Shizuo adalah karena ingin tahu informasi tentang Dollars!
"Anak aneh." Shizuo tidak banyak komentar.
Bicara soal 'suara mirip', Shizuo juga punya suara sama persis seperti Midorima, tapi Akashi berfikir lebih baik merahasiakan hal ini agar masalah tidak silih berdatangan.
Akashi segera mencharge ponselnya dan menelepon Satsuki agar bertemu dengannya di pusat taman kota, Akashi tidak hafal jalan jika harus minta bertemu di stasiun.
"Teman-temanku sudah menunggu." Akashi bersiap-siap.
"Apa temanmu datang menjemputmu?" Tanya Celty.
"Tidak, kami bertemu di taman kota. Aku tahu tempat itu."
"Antar dia." Celty melirik Shizuo.
"Kenapa harus aku?"
"Antar dia! Memangnya kau sama sekali tidak merasa bersalah setelah membuat kekacauan ini?"
"Tsk…" Shizuo mengalah, lagipula ia sadar kalau ia memang salah karena sudah seenaknya menyerang Akashi.
"Kau tidak perlu mengantarku." Kata Akashi.
"Ini Ikebukuro." Kata Celty "Bisa saja hal-hal tak terduga terjadi padamu."
Omongan Celty ada benarnya. Akhirnya, Shizuo pun pergi mengantar Akashi untuk bertemu teman-temannya.
Sementara itu 'Rombongan kiseki no sedai'
Satsuki Momoi si manajer dengan 'jadwal padat' meminta Midorima dan Kuroko untuk pergi menemui Akashi karena ia harus segera mencari tempat penginapan. Murasaki, Aomine dan Kise juga harus mengurus beberapa perlengkapan walau pertandingannya masih beberapa hari lagi.
Ini adalah pertama kalinya Midorima maupun Kuroko menginjakan kaki di Ikebukuro. Mata Midorima tidak bisa lepas saat melihat sebuah patung kodok besar yang dipajang di toko, patung itu pasti bisa menjadi 'Big Lucky Item'!.
Selain itu… ada cukup banyak orang-orang yang mengeluarkan aura 'apa kau lihat-lihat? Mau ribut?' Sebisa mungkin, Midorima tidak ingin terlibat dengan keributan apapun disini.
Shizuo melihat gerombolan laki-laki mengenakan slayer kuning, kumpulan anak-anak itu memenuhi setiap sudut tempat di Ikebukuro.
"The Yellow Scarves huh?" Midorima berbisik pelan.
"Ada apa Midorima kun?"
"Tidak."
Ikebukuro memang kota yang sangat menarik, penuh kesibukan tapi juga cukup membahayakan.
Di tengah perjalanan mereka, tiba-tiba ada seorang laki-laki gendut memakai slayer biru di leher, ia memberikan secarik kertas pada Midorima.
Midorima tidak kenal siapa anak itu, apa juga maksud dari kertas kecil yang diberikan padanya?
Di kertas itu ada tulisan 'I Got You!'
"Apa maksudnya ini?!" Midorima menarik kaos anak itu tinggi-tinggi. Seketika anak itu langsung ketakukan setelah mendengar suara Midorima.
"Ka…ka…kau… SHIZUO!"
Teriakannya begitu kencang sampai-sampai membuat perhatian semua orang yang disana teralihkan pada Midorima.
Kuroko bisa mendengar saat orang-orang mulai mengatakan sesuatu seperti;
'Shizuo! Ada Shizuo! Laki-laki berambut hijau itu! Tidak salah lagi dia pasti Shizuo, suaranya persis!'
Sial! Midorima melihat sekelilingnya yang sudah ramai, ia dan Kuroko dikepung.
"Apa mau kalian!? Aku sama sekali tidak kenal dengan orang yang kalian maksud!" bentak Midorima. Setelah mendengar suara Midorima yang lantang, orang-orang justru semakin yakin bahwa itu adalah suara Shizuo dan sekarang mereka bermaksud mengadakan 'Perang'.
Midorima tidak yakin bisa mengalahkan puluhan orang sekaligus, hal seperti ini sangat berbeda dengan melakukan 3 point dalam basket! Tapi… bukan berarti Midorima adalah orang yang lemah!
"Kuroko, fokus saja untuk kabur dari kejaran mereka!"
"Baiklah."
Kejar-kejaran kembali dimulai. Gerombolan genk itu cukup mengerikan karena mereka membawa senjata tajam dan senjata tumpul seperti kayu dan tongkat baseball.
Midorima heran, kenapa ia harus jadi korban hanya karena suaranya mirip Shizuo!?
Kemudian, Kuroko dijuluki 6th Phantom bukan tanpa alasan, ia dengan mudahnya melewati setiap musuh. Intinya; para musuh tidak menyadari keberadaan Kuroko dan hanya fokus mengejar Midorima!
"Bertengkar itu tidak baik." Kata seorang laki-laki bertubuh besar yang tiba-tiba saja muncul dari arah belokan, ia mengangkat dua orang sekaligus hanya dengan satu tangan.
"Si…SIMON!" laki-laki dengan kayu ditangannya itu terlihat gemetaran dan ketakutan.
Simon hanya tersenyum kemudian melempar kedua anak itu, ia melemparnya dengan tenaga ekstra, membuat semua orang ketakutan dan akhirnya memilih untuk mundur.
Midorima awalnya juga kaget melihat Simon tapi pertama-tama hal yang harus ia lakukan adalah;
"Terima kasih." Kata Midorima. Lagi-lagi 'tatapan heran' ditunjukan pada Midorima setiap kali ia bicara.
"Oh pantas saja mereka mengejarmu, suaramu sangat persis seperti Shizuo." Simon tertawa kecil. Ia lalu menebarkan pandangannya ke sekeliling "Hal ini tidak mungkin terjadi secara kebetulan. 'dia' pasti sudah merencakan semua ini. "
"Dia?' Tanya Kuroko "Siapa maksudmu?"
Simon tidak menjawabnya, ia justru menawarkan Midorima dan Kuroko untuk makan di restoran sushinya. Sebenarnya sih Midorima ingin mencoba makanan di Ikebukuro tapi prioritas utama tetap 'bertemu dengan Akashi'!
Jarak dari rumah Shinra ke taman kota tidaklah begitu jauh, Celty tidak bisa mengantar karena ia mendapat telepon dari Izaya untuk mengantarkan pesanan.
Sepanjang perjalanan, Akashi maupun Shizuo tidak bicara sepatah katapun. Bagi Shizuo, mengobrol dengan Akashi itu ibarat mengobrol dengan Izaya, sungguh menggelikan!
Di taman yang sudah dijanjikan, Midorima dan Kuroko belum datang, di taman itu justru dipenuhi beberapa mahluk misterius dan mencurigakan yang masing-masing dari mereka memegang senjata.
"Tetap di belakang." Shizuo melirik Akashi, situasi seperti ini hanya bisa diungkapkan dengan satu kalimat; 'mereka bermaksud menyerang Shizuo'.
Kenapa… kenapa mereka bisa tahu bahwa Shizuo akan ke taman kota?
"Izaya kan?" Shizuo kembali mengambil sebatang rokok dari sakunya, ia benar-benar pecandu rokok kelas berat. "Izaya yang memberitahu kalian bahwa aku akan kesini kan?"
Salah seorang dari mereka langsung melempar batu ke arah Shizuo tapi Shizuo berhasil menghindarinya dan ia berlari menghampiri orang yang tadi melempar batu, tanpa segan Shizuo mengahajar wajah orang itu sampai babak belur.
"Izaya sialan! Cepat keluar kau!"
Berteriak sekeras apapun percuma, kumpulan musuh menyerang Shizuo sekaligus. Dalam kurun waktu singkat, taman kota berubah menjadi medan pertempuran. Akashi diam di tempat, ia tidak tahu harus apa karena ia tidak begitu pandai bela diri. Disaat Shizuo sibuk saling hajar dan Akashi sendiri, saat itulah Izaya muncul di belakang Akashi.
"Akhirnya kita bertemu." Kata Izaya.
Akashi terbelalak mendengar suara dibelakangnya, suara itu 100% mirip dengan suaranya. Ia berbalik dan melihat sosok 'Izaya' sedang berdiri santai.
"Izaya…?"
Seperti biasa, Izaya menunjukan senyum liciknya. "Pria buas itu bisa menghabisi mereka semua. Sebaiknya kau ikut aku."
"Kenapa juga aku harus mengikutimu?"
"Kau tidak penasaran dengan apa yang sudah terjadi?"
"Semua ini…" Akashi menatap tajam Izaya "Kau yang sudah mengatur semua ini kan?"
"Ahaha… tebakanmu membuatku tersanjung. Meskipun kau tidak tersesat, aku sudah mempunyai rencana agar kau terpisah dengan rombonganmu, kau bertemu Shizuo, teman-temanmu diserang genk asing dan yah…" Izaya melirik Shizuo yang sedang mati-matian menghabisi musuh. "Aku jugalah yang memanggil mereka semua kesini. Akulah yang mengatur semua hal ini."
Akashi mulai geram, sejak awal Izaya sudah merencakan semua ini.
"Apa tujuanmu!?" bentak Akashi.
"Tidak ada alasan spesial, aku hanya sedang bosan."
"Kau bohong!"
Izaya melihat mata merah Akashi selama beberapa detik, ia kemudian tersenyum.
"Kalau kau bertanya kenapa aku melakukan semua ini, alasannya adalah karena aku menyukai manusia."
Sungguh alasan yang tidak logis…
Izaya sudah merencakan semua keributan sejak awal
Izaya menyuruh Celty agar Celty tidak menemani Shizuo dan Akashi ke taman kota
Izaya menyuruh laki-laki gendut untuk menabrak Midorima agar Midorima jadi pusat perhatian
"Kau sakit." Akashi menatap sinis Izaya.
"Thanks."
"Itu bukanlah pujian."
"Bagaimana?" Izaya mengulurkan lengannya "Kalau kau ikut denganku, aku akan memberitahumu beberapa hal yang hanya diketahui olehku. Jika tidak, aku tidak bisa menjamin keselamatan temanmu yang senang mengoleksi lucky item dan hmm… siapa namanya? Oh.. dan Kuroko, benar kan? Sekarang mereka sedang menuju kesini."
Baru kali ini Akashi bertemu dengan orang yang sangat licik dan pintar bermain strategi. Ia tidak mau Midorima maupun Kuroko celaka karenanya, Akashi terpaksa mengikuti Izaya.
Setelah Shizuo menaklukan semua musuhnya, ia baru sadar bahwa Akashi sudah tidak ada disana.
"IZAYA SIALAN!"
Shizuo segera pergi dari taman dan mencari Akashi. Sungguh timming yang tidak tepat karena Shizuo pergi disaat Midorima dan Kuroko datang.
"Tidak ada Akashi." Kata Kuroko, ia hanya melihat tumpukan orang-orang yang sedang terluka.
"Pasti telah terjadi sesuatu disini." Midorima mengambil kesimpulan dari keadaan yang ia lihat sekarang. Ia mencoba menelepon Akashi tapi tidak ada jawaban.
Akashi terus bertanya-tanya, apa sebenarnya tujuan Izaya membawanya? Rencana yang ia lakukan dalam rangka 'menculik' Akashi benar-benar sangat sempurna. Seandainya sejak awal Izaya meminta Akashi untuk ikut dengannya, Akashi pasti menolak karena ia tidak punya alasan untuk mengiyakan keinginan Izaya. Tapi sekarang Akashi tidak bisa menolak karena Izaya bisa saja memanggil beberapa kenalannnya untuk menyerang Midorima dan Kuroko yang masih ada di tengah keramaian Ikebukuro.
Izaya punya rencana sendiri untuk membuat Ikebukuro kembali dilanda keramaian.
To be continued.
Yatta! Akhirnya kelar juga chap3. Karena Izaya itu tipikal orang yang licik maka settingnya pun harus dibuat rumit supaya menguntungkan Izaya. Awalnya mungkin terkesan kebetulan ya? Tapi semuanya sudah direncakan koq hehee…
Oh… saya juga mau mengadakan vote.
"Bagaimana jika Alter Ego'nya Izaya dikeluarkan?" apa kalian setuju?
Untuk yang sudah mengerti maksud dari 'alter ego', silakan keluarkan pendapat kalian.
Bagi yang belum mengerti, saya jelaskan sedikit ya :3
Izaya Alter Ego itu Kepribadian lain dari Izaya.
Psyche: Namanya Psyche. Dia ini Izaya versi 'childish, kekanakan, ceria, Pysche melambangkan sifat Izaya yang cinta kebebasan.
Roppi; Izaya versi galau, agak masochist yang sering tersiksa batinnya.
Hibiya; Izaya versi arrogant, ibarat bos yang ingin mengontrol semuanya.
Sakuraya; Izaya versi ramahnya, kurang lebih begitu. Versi sakuraya ini hanya muncul pada orang-orang tertentu.
Masih ada beberapa tapi yang 4 inilah alter ego paling populer.
Diantara 4 ini kira-kira alter ego mana yang akan dimunculkan untuk next chapter?
RnR'nya ya! See u next chapter!
"I Love Human"
