A/N: Anggap saja ini update, entah kenapa fanfik yang udah di mark complete malah diperpanjang kayak gini, pastinya ini akibat author kurang bertanggung jawab dan masih berjiwa bocah.Gaperlu banyak cingcong, welcome to my wildest fantasy! HEAVY SEXUAL TENSION. MATURE READERS ADVISED!You'd been warned.

Pemilik tangan berjari panjang dan lentik itu tidak lagi heran apabila seseorang tiba-tiba memuji. Dianugerahi dengan berbagai kelebihan yang membedakan namun unggul dari kebanyakan orang, Tsukishima Kei patut berbangga akan hal tersebut. Walau yang dihadapinya kini adalah lebih dari pujian, menempatkannya pada posisi canggung yang juga mendebarkan.

Pagi ini Kei pergi berkunjung ke tempat Wakatoshi. Sekitar 6 bulan usia hubungan mereka, Wakatoshi sebagai bagian dari timnas memilih melanjutkan sekolah di ibukota. Meski demikian ia tidak tinggal di asrama atlet. Ibunya memaksa agar Wakatoshi menempati salah satu rumah properti keluarga agak jauh dari pusat kota.

Wakatoshi mengajaknya jalan-jalan begitu ia sampai di stasiun. Karena jarak stasiun dan rumahnya yang tidak terlalu jauh ia berjalan kaki menjemput Kei. Hal itu sudah biasa, dan Kei juga tidak keberatan sama sekali. Sambil berjalan dan terkadang menggunakan angkutan umum untuk berkeliling mengunjungi beberapa tempat favorit Wakatoshi, Kei menghargainya dan ia pun ikut menikmati.

Sore itu temperatur turun agak mengkhawatirkan, dan hujan musim gugur menjawab kekhawatiran mereka. Beruntungnya rumah Wakatoshi sudah cukup dekat. Di jalanan yang basah, tangan kokoh yang merangkul leher Kei dengan hati-hati mendorongnya untuk berjalan cepat, hampir berlari.

Tak lama hingga mereka sampai, keaadaan rumah Wakatoshi seperti setiap kali Kei pergi berkunjung--rapi dan bersih. Biasanya ada paman Wakatoshi yang juga tinggal di rumah tingkat dua itu, melihat bahwa pria apruh baya itu tidak datang menyapanya seperti biasa Kei sempat heran.

"Ugawara-san mengambil cuti dan pergi berlibur ke Okinawa sejak dua hari yang lalu," ucap Wakatoshi mengagetkan Kei, mulutnya dekat ke telinga Kei dengan tangan ia taruh di bahunya dari belakang, menggoda. Bahasa tubuh yang meneriakkan intimidasi itu membuat Kei merasa lemah. Perasaanya dibuat kacau dengan munculnya antisipasi, penyesalan dan kegirangan?

Menggelengkan kepalanya, Kei berjalan masuk menjauhi Wakatoshi, masih membelakanginya karena ia tidak mau melihat mata yang lebih tua.

"Aku pinjam kamar mandi," kata Kei bergegas keluar dari suasana canggung yang sayangnya hanya ia yang merasakan. Di sisi lain, Ushijima Wakatoshi tidak dapat menyembunyikan kekaguman dan kepuasan yang ia rasakan. Wajah yang hampir setiap saat terlihat datar itu gagal menahan seringai yang apabila Kei melihatnya, ia pasti akan dibuat lemas.

Sekembalinya Kei dari kamar mandi, segar dan terbebas dari set pakaian basahnya. Mengenakan kaos lengan panjang dan celana panjang, dengan handuk di bahunya ia mencari kekasihnya ke ruang tengah. Di sana ia melihat Wakatoshi sedang menonton televisi. Ekspresinya yang datar selalu menyulitkan Kei untuk membaca isi kepalanya, membuat konflik pecah di dalam diri Kei begitu ia mengingat kejadian tadi. Namun setelah meyakinkan dirinya, Kei memberanikan diri untuk mulai berjalan mendekat.

Melihat sosok Kei yang seperti berjalan malu-malu mendekatinya, Wakatoshi memberi perintah, "Kemarilah, kubantu mengeringkan rambutmu."

Kei ragu, dan penasaran, "Kau sendiri? Sudah mandi?"

"Kupakai kamar mandi atas."

"Hmm..." Kei duduk dilantai, memberikan akses untuk Wakatoshi mengeringkan rambutnya.

Selesai dengan rambut Kei, tarikan kuat Wakatoshi membawa si kacamata naik ke sisi sofa di sebelahnya. Sebelum Kei berhasil menyuarakan protesnya, Wakatoshi duluan menyumpal mulutnya dengan ciuman, tidak berhenti sampai disana, Wakatoshi memperdalam ciumannya dibantu dengan tangan kiri yang menekan leher dan kepala bagian belakang Kei sementara tangan kanannya menahan pinggang yang lebih muda.

Mencoba membalas ciuman itu, Kei terperangah merasakan sang kekasih menggigit bibir bagian bawahnya untuk membuka jalan lidahnya dalam mendominasi isi mulut si blonde. Kei dibuat sesak dan pusing akan kegiatan intim yang berkepanjangan itu.

Melepaskan mangsanya sementara, yang mata penuh gairah milik Ushijima Wakatoshi pertama kali tangkap adalah semu indah yang menghiasi bagian wajah, telinga dan leher Kei. Matanya terlihat sama lapar, tatapan kosong yang menginginkan lebih dan bibir yang memancarkan kilau unik karena basah sebagai hasil dari perbuatan Wakatoshi.

Seringai itu kembali muncul, dan Kei yakin bahwa ia akan ambruk jika bukan lengan yang lebih tua menahan kepala dan pinggangnya. Ia masih lemas dan terengah kehabisan nafas, kehilangan kontrol tubuhnya yang menjadi pengalaman langka dan aneh bagi Kei.

Wakatoshi tidak berniat menunggu jantung Kei tenang, setelah menyandarkan Tsukishima muda pada sandaran sofa, tangannya meraih tangan kanan Kei dan mengangkatnya selevel kepala. Menirukan gestur menggandeng, menahannya agar terbuka, Wakatoshi membawa tangan Kei dekat ke wajahnya, mencium punggung tangannya, naik ke ibu jari, jari telunjuk, jari tengah, jari manis dan kelingkingnya.

Kei menyaksikan Wakatoshi mencium jari-jari tangannya seperti mengagungkannya. Diiringi detak jantung yang makin cepat dan hembusan nafas yang makin berat, hal itu diperparah dengan visual Wakatoshi yang menatapnya bagaikan elang yang hendak memangsa burung kecil bodoh yang melanggar teritorinya.

"Tanganmu masih sakit?"

Kei menggeleng lemah, menurut. Melepas tangan Kei perlahan, tangan lain sang mantan kapten Shiratorizawa ditaruhnya di sebelah kiri Kei, tepat di sebelah bahu kirinya mengurung sang blocker Karasuno.

"U-Ushijima-san..."

Wajahnya sangat dekat, hingga bau mint segar dari mulut sang ace dapat tercium. Kei menatapnya lama dengan ekspresi menyerah, sementara Wakatoshi menatap langsung ke mata Kei dalam sampai meraih jiwanya.

Wakatoshi mendekatkan bibirnya ke telinga kiri Kei, berbisik;

"Lanjutkan?"

BYE ALL, SEE YA NEXT YEAR LOL