Previous

"mau sampai kapan kau merahasiakan ini dari Baekhyun ?"tanya Kai serius.

Sementara Chanyeol tetap fokus bermain gitar di atas ranjangnya.

"aku tidak tahu, tapi cepat atau lambat pasti Baekhyun akan mengetahuinya."jawab Chanyeol.

"dia akan sakit hati yeol, seharusnya kau tidak mempermainkannya seperti ini. Dia terlalu lugu untuk di sakiti sedalam ini, apa kau tidak bisa melihat seberapa besar cinta Baekhyun padamu ?" Chanyeol meletakkan gitarnya di bawah ranjang dan menghela nafas.

"ini sudah terlanjur Kai, aku juga tidak bisa jika dengan tiba tiba memintanya untuk menjauh dariku."gusar Chanyeol.

"bagaimanapun juga, aku sangat yakin jika Baekhyun akan sakit hati dan merasa terbodohi setelah ini. Aku hanya bisa berdoa saja agar Baekhyun tetap menjadi anak lugu yang tidak tau apa apa setelah mengetahui semua ini."

"hmm... semoga saja." Desis Chanyeol sambil menatap layar ponselnya yang menyala dengan nama Baekhyun yang sedang menelfonnya.

.

.

.

.

.

.

LOVE ME RIGHT

.

.

.

Main cast: Sehun, Luhan, Kai, Kyungsoo, Chanyeol, Baekhyun and other

Main pair: HunHan KaiSoo ChanBaek

Genre: Romance School life

Rate : T-M

Length: Chapter

YAOI. MRPEG. Typo

.

.

.

.

Brakk...

Chanyeol dan Kai mengalihkan pandangannya pada pintu yang terbuka dengan keras, memperlihatkan sosok Baekhyun yang mengerucutkan bibirnya sambil menghampiri Chanyeol.

"Mengapa kau tidak menjawab telfonku?" tanya Baekhyun kesal.

Layaknya orang bodoh,Chanyeol mengecek ponselnya kembali.

"hhh...kau menelfon ? Aku sedang berlatih gitar, aku berniat membuatkanmu lagu."jawab Chanyeol ,Kai hanya menatap Chanyeol bingung.

"benarkah?wahh...apa aku boleh mendengarnya sekarang?" tanya Baekhyun antusias, ia bahkan lupa dengan tujuannya.

"tentu!Kemarilah..." Chanyeol menepuk ranjangnya,minta Baekhyun duduk di sampingnya.

Dengan senang hati Baekhyun duduk di sampingnya, dan Chanyeol mulai berfikir lagu apa yang akan ia mainkan. Setelah menemukan lagu yang pas pun Chanyeol segera memetik senar gitarnya, dan mulai bernyanyi dengan suara bash nya. Kai hanya diam memperhatikan, sementara Baekhyun serius dengan makna lirik demi lirik yang Chanyeol nyanyikan.

Setelah selesai, Baekhyun bertepuk tangan dengan riang. Ia tersenyum lebar pada Chanyeol dan mengacungkan 2 ibu jarinya, Chanyeol pun ikut tersenyum dan mengusap rambut halus Baekhyun.

"lagu tadi judulnya apa ?"tanya Baekhyun.

" all of me, ada apa ?"

" aku suka lagu itu... boleh aku mendengarnya lagi lain kali?" tanya Baekhyun penuh harap, Chanyeol segera meletakkan gitarnya dan memeluk Baekhyun yang kini sudah bersandar nyaman di pelukannya.

"tentu saja, dan mengapa kau menelfonku ? apa ada hal penting?"tanya Chanyeol.

"tidak, hanya saja aku ingin menelfonmu, agar terlihat seperti pasangan pasangan pada umumnya."jawab Baekhyun semakin memeluk Chanyeol erat sementara Chanyeol mengecupi kepala Baekhyun.

"kalian manis sekali..."puji Kai dan menatap Chanyeol, Chanyeol hanya tersenyum tipis.

"tentu saja! Aku harap Kyungsoo segera menerimamu..."sahut Baekhyun semangat, Kai tersenyum kecil lalu menghampiri Baekhyun dan mengacak rambutnya.

"kau sangat lugu Baek, aku harap hidupmu akan lebih baik kedepannya."ucap Kai lalu keluar dari kamarnya.

"apa maksudnya ? tentu saja aku akan baik, karena ada Chanyeol disini..."gerutu Baekhyun sambil menatap Chanyeol bingung, kini mereka kembali duduk berhadapan di atas ranjang milik Chanyeol.

"apa kau sangat mencintaiku Baek ?" tanya Chanyeol.

"tentu saja ! mengapa kau bertanya seperti itu ?"jawab Baekhyun mantap, Chanyeol hanya mnggeleng kecil dan menatap Baekhyun dalam.

"bagaimana jika tiba tiba kita harus berpisah ?" tanya Chanyeol lagi.

"mungkin aku akan mati."jawab Baekhyun dengan sedikit berfikir.

"berlebihan sekali.."gumam Chanyeol.

"apa ? kau baru saja mengataiku berlebihan?"tanya Baekhyun dengan raut wajah tak suka.

"benar."jawab Chanyeol

"lalu mengapa jika aku berlebihan ?"tanya Baekhyun lagi semakin mendesak Chanyeol.

"aku tidak suka."sahut Chanyeol cepat.

"lalu apa kau akan meninggalkanku hanya karena aku berlebihan?" sungut Baekhyun semakin kesal, Chanyeol tersenyum tipis, Baekhyun sangat mudah masuk dalam rencanannya.

"tentu saja, karena aku benci hal hal yang berlebihan."jawab Chanyeol santai, sementara Baekhyun menganga tak percaya.

"apa kau tidak sedang berbohong?"tanya Baekhyun.

"apa wajahku terlihat seperti orang yang sedang berbohong ?"tanya Chanyeol balik.

"CHANYEOL! AKU TIDAK BERCANDA!" teriak Baekhyun kesal.

"apa kau pikir aku sedang bercanda ? jadi kau tau maksudku kan? Tinggalkan aku."jawab Chanyeol tenang.

Membuat wajah Baekhyun memerah dan matanya berkaca kaca, tak lama Baekhyun memukuli dada Chanyeol keras sambil meraung, ia tak tau mengapa Chanyeol tiba tiba seperti ini.

"bukankah sudah ku bilang jika aku akan mati jika kita berpisah? Apa kau memang berniat untuk melihatku mati disini? DI DEPANMU?" Chanyeol hanya diam menatap Baekhyun yang meraung raung dengan tangan yang tak berhenti memukulinya, ekspresinya tak bisa terbaca. Yang terlihat hanya sebuah rahasia yang ia tutup rapat rapat, hanya Kai yang bisa melihatnya.

"Baekhyun hentikan! Jangan seperti anak kecil, aku hanya meminta kita mengakhiri hubungan kita bukan berarti kita tidak bisa bertemu lagi, bahkan kita masih satu sekolah."ucap Chanyeol menangkap kedua tangan kecil Baekhyun yang terus mencoba untuk memukulinya.

"lalu aku akan menderita karena melihatmu dimiliki orang lain ? begitu maksudmu ? apa salah ku Chanyeol...hiks...katakan padaku..hiks...aku akan memperbaikinya...hiks... asal kau tidak akan pergi meninggalkanku...hiks katakan yeol...hiks..kumohon..."Chanyeol merasa sakit ketika melihat wajah Baekhyun yang di basahi air mata, badan yang melemas bahkan tangan yang ia genggam juga ikut melemas, apalagi mendengar suara Baekhyun yang bergetar karena menahan isakannya lebih tepatnya memohon padanya.

Ia bawa tubuh kecil itu dalam pelukannya, ia kecupi puncak kepala dan mengusap punggung bergetarnya. Baekhyun tidak melakukan apa apa selain menangis dalam pelukannya.

"maafkan aku... aku mencintaimu"ucap Chanyeol yang kini mengecup pipi basah Baekhyun berkali kali, sesekali tangannya mengusap keringat yang kini bercampur air mata Baekhyun.

"maafkan aku Baekhyun kumohon, aku hanya ingin memastikan jika kau memang benar benar masih mencintaiku seperti dulu...maaf jika aku keterlaluan..."ucap Chanyeol membuat Baekhyun mendongak untuk menatapnya. Bibirnya sedikit terbuka karena masih terisak dan bulir bulir air mata juga masih ada yang mengalir lewat sudut matanya.

"kenapa kau kejam sekali padaku?"tanya Baekhyun menatap Chanyeol dalam, Chanyeol pun segera mengecup kedua mata basahnya.

"maafkan aku, kau bisa saja menghukumku setelah ini. Kau harus percaya padaku, jika aku akan selalu mencintaimu. Apa kau tau arti lagu yang tadi kunyanyikan untuk mu?" tanya Chanyeol dengan suara yang di buat tenang, Baekhyun pun mengangguk setelah mengingat lagu apa yang Chanyeol nyanyikan tadi.

"kua sudah tau bukan? Maka dari itu jangan ragukan perasaanku, cukup yakin jika aku mencintaimu sama seperti arti lagu yang ku nyanyikan tadi, apa kau mengerti?"

"aku tau, dan Chanyeol... aku mohon jangan lakukan hal seperti tadi, aku hampir saja benar benar mati karena kesulitan bernafas..." adu Baekhyun dengan wajah memelas, Chanyeol tersnyum tipis lalu membawa Baekhyun tidur dalam pelukannya, ia menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka berdua.

"aku minta maaf soal tadi, ayo tidur! Besok kita harus bangun pagi, sekali lagi maafkan aku."ucap Chanyeol, Baekhyun hanya menganggukkan kepalanya dan segera menyembunyikan kepalanya di dada bidang Chanyeol.

Maaf jika suatu saat nanti kita harus benar benar berpisah, aku tidak bisa berjanji untuk bisa mempertahankan hubungan ini, maafkan aku Byun Baekhyun.

.

.

Pagi harinya Luhan sudah berkumpul bersama Baekhyun, Kyungsoo, Kai, Chanyeol dan teman teman lainnya setelah kelas kosong. Mereka saling berkenalan dan bercanda bersama sama.

"namanya Shannon dari inggris"tunjuk Kai pada perempuan bertubuh kecil yang sangat menggemaskan.

"hallo."ucap Shannon, Luhan hanya mengangguk dan tersenyum tipis.

"mereka dari Korea, Dong Goo, Jenny, Sang man" tunjuk Kai pada 3 temannya

"dan dia nadet dari Thailand"lanjut Kai pada pemuda manis di depannya

"hallo" sapa nadet, Luhan mengangguk dan tersenyum tipis lagi.

"kita sudah berkenalan, jadi kita harus menjadi teman yang baik!" ucap Kai semangat, yang lain hanya tertawa mendengar suara Kai yang tidak bisa di bilang pelan, mereka pun saling berbagi pengalaman yang mereka miliki.

.

.

Luhan kembali ke kamarnya dan menemukan Sehun yang sedang memainkan ponselnya di atas ranjang.

"kau tidak bosan berdiam diri dalam kamar kecil ini?" tanya Luhan dan melepas sepatunya lalu menaiki ranjangnya sendiri, ia tidur dengan posisi menghadap sehun.

"apa urusanmu?" tanya Sehun acuh.

"tidak ada, ku dengar kemarin kau mencium Kyungsoo di ruang makan."

"apa pedulimu?"

"siapa yang peduli padamu?"

"lalu menagapa kau terus menanyaiku?"Sehun meletakkan ponselnya dan duduk menghadap Luhan.

"aku hanya penasaran, apa benar kau mencium Kyungsoo. Jika benar, ternyata kau benar benar brengsek!"

"brengsek atau tidak itu terserahku, dan kau mempercayai itu semua?"

"tentu saja! Baekhyun yang bilang."

"bagaimana jika yang mencium Kyungsoo itu Baekhyun lalu dia bercerita jika aku yang mencium Kyungsoo?"

"tidak mungkin! Baekhyun tidak akan melakukan itu karena dia sudah memiliki kekasih!" sungut Luhan lalu segera duduk menghadap Sehun.

"lalu apa mungkin jika aku akan mencium Kyungsoo ? bahkan aku belum bertemu dengannya."desak Sehun, Luhan dengan reflek mengerucutkan bibirnya kesal.

"baiklah...baiklah... rumormu itu hanya sekedar rumor bukan kenyataan." Sehun tersenyum mengejek.

"jangan mudah percaya apapun jika kau belum melihat dengan mata kepalamu sendiri, terkadang apa yang di bicarakan orang tidaklah benar. Hah... aku tidak menyangka jika kau benar benar kekanakan...ckckck."decak Sehun dan menggelengkan kepala untuk mengejek Luhan.

"siapa yang kau sebut kekanakan brengsek! Anak kecil tidak akan bisa mengumpat sepertiku!"sungut Luhan.

"keponakanku sering ku ajari mengumpat sebelumnya."sahut Sehun, Luhan mengambil bantalnya dan ia lemparkan tepat mengenai kepala Sehun.

"dasar kau manusia brengsek! Aku tidak kekanakkan ! bukankah kau juga melihat bagaimana hebatnya saat aku memenangkan medali emasku? Kau pasti juga melihat lawanku bukan ?"teriak Luhan.

"medali emas? Mana ? bisa kau buktikan?"tantang Sehun membuat Luhan diam.

"medaliku hilang"jawab Luhan dingin, moodnya tiba tiba hancur mengingat medali emasnya yang sangat berharga.

"benarkah? Bukankah Taecyeon yang mengambilnya? Karena menurutku Taecyeon yang pantas mendapatkannya."sindir Sehun.

"diam kau brengsek! KELUARGAMU YANG MENGAMBILNYA DARI KU! SEHARUSNYA KAU MALU BERTEMU DENGAN KU, ORANG TERHORMAT SEPERTI AYAHMU MENGHANCURKAN IMPIAN SESEORANG HANYA KARENA INGIN MELINDUNGI PUTRANYA YANG SANGAT BRENGSEK! TIDAK SEPANTASNYA IBUMU MENGHINAKU SEPERTI KEMARIN DI RUANG KEPALA SEKOLAH ! APA ITU YANG DI SEBUT DENGAN KEHORMATAN? BUKANKAH KELUARGAMU SANGAT PENGECUT?" Teriak Luhan dengan menunjuk Sehun, Sehun mengernyitkan dahinya. Bukan keluarganya yang mengambil medali milik Luhan, bahkan Luhan sendiri yang menjatuhkannya tanpa sengaja saat bertengkar dengan Sehun. Dan lagi, Sehun sangat tidak terima jika ayahnya di sebut pengecut seperti kata Luhan, sebenci apapun ia pada ayahnya dia tidak bisa benar benar membencinya.

"jaga mulut kurang ajarmu LUHAN! Kau tidak tau keadaan yang sebenarnya jadi jangan membicarakan tentang keluargaku. Apa hidupmu sudah merasa paling baik setelah mengambil orang tua Baekhyun ? kau pikir aku tidak tau? Pikirkan perasaan Baekhyun saat ayah dan ibunya bersikap sangat baik padamu, sedangkan kau hanya orang asing di antara mereka. Mungkin saja Baekhyun tersenyum di luar, tapi siapa tau di dalam ia menangis akibat perbuatanmu? Seharusnya disini yang harus malu adalah kau, seharusnya kau pergi saja dari negara ini. Kita lihat saja sampai kapan Baekhyun menerimamu sebagai saudara, aku pikir tak akan lama lagi kau akan di buang oleh keluarganya. Sebelum itu terjadi, kau harus pergi dari sini agar kau tidak malu saat yang lain mengetahui identitasmu. Kau bahkan tidak pernah melihat wajah kedua orang tuamu, menyedihkan sekali." Sahut Sehun menatap Luhan remeh, wajah Luhan memerah ia mengepalkan tangannya erat dengan mata berkaca yang berusaha menatap Sehun tajam.

"dan ambil bantal kotormu, terlalu menjijikkan jika harus berlama lama di atas ranjangku." Sehun melemparkan bantal Luhan tepat di perut Luhan, membuat Luhan sedikit terhuyung ke belakang, lalu segera keluar dari kamar.

"dasar brengsek..."desis Luhan dengan suara bergetar, tubuhnya terduduk dengan lemas di atas ranjang sambil mengusap kasar air matanya.

"jangan dengarkan pria brengsek itu Luhan.. Baekhyun tidak mungkin seperti itu, aku yakin!"gumam Luhan mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

.

.

"Kyungsoo...bisa kau jelaskan tentang ucapan Baekhyun tadi?" tanya Kai, ia membawa Kyungsoo ke lapangan golf dengan alasan ingin adu main golf dengan Kyungsoo.

"yang mana?" tanya Kyungsoo yang sedang fokus mengarahkan bola putih yang berada di bawahnya agar berpindah tepat di lubang finish yang terletak di antara rerumputan.

"apa benar jika Sehun menciummu kemarin?" tanya Kai lagi yang kini sepenuhnya menatap Kyungsoo yang mencoba bola lainnya.

"ohh... itu memang benar."jawab Kyungsoo.

"dia menciummu di sebelah mana ? bukan bibirmu kan ? katakan Kyungsoo.."desak Kai merasa tidak terima.

"ya! Mengapa kau belum melempar bolamu ? kau bilang kau ingin melawanku? Kapan kau akan melempar jika kau terus menanyaiku hal yang tidak penting? Aku berhenti kalau begitu." kesal Kyungsoo.

Kai hanya menatap punggung kecil Kyungsoo yang kini semakin jauh, ia tersenyum pahit setelahnya.

"benar, itu memang bukan hal yang penting. Kau bodoh sekali Kai..." gumam Kai.

"mau ku ucapkan beribu ribu kali pun kau tidak akan pernah mengerti Kyungsoo, kau tidak akan pernah mengerti seberapa besar rasa cinta yang dengan tulus ku berikan seluruhnya padamu."

"Kai...!"panggil Chanyeol yang baru saja keluar dari sekolah, Kai pun menoleh dan memberikan cengiran bodohnya pada Chanyeol.

"Hai Park!"sahut Kai.

"berhenti tersenyum bodoh seperti itu Kai, aku tau kau sedang patah hati."ucap Chanyeol memberikan Kai sekaleng cola dingin, Kai tersenyum tipis lalu meminum colanya.

"lalu bagaimana dengan Baekhyun?"tanya Kai menatap hamparan luar lapangan golf di depannya.

"aku sudah mencobanya semalam, dan apa kau tau ? aku gagal karena melihatnya meraung di depanku."ucap Chanyeol.

"mengapa cinta begitu sulit yeol ? kau ingin berpisah sedangkan aku ingin memulai."gumam Kai.

"itu bukan sepenuhnya alasan Kai!"

"ahh... aku ingat, itu karena keadaanmu hehehe...maaf" cengir Kai, mereka pun tertawa.

.

.

Satu minggu pun terlewati, awalnya Luhan merasa baik baik saja dengan Baekhyun tapi hari ini, seperti saat ini. Saat Heechul berkunjung bersama dokter Zang untuk melepas gips Luhan.

"eomma...!" teriak Luhan dan Baekhyun bersama dengan mata berbinar, Heechul pun tersenyum. Luhan segera berlari untuk memeluk Heechul sedangkan Baekhyun mendorong Chanyeol agar segera bersembunyi di dalam kamar. Saat kembali, Baekhyun merasa sedikit iri melihat ibunya memeluk Luhan erat sambil mengecupi kepalanya dengan sayang, sedangkan ia hanya bisa berdiri di depannya.

"Baekhyunnie...kemarilah!" ajak Heechul, Luhan yang menyadarinya segera menatap Baekhyun dan ia terkejut melihat ekspresi Baekhyun. Tak lama Baekhyun kembali tersenyum dan menghampiri keduanya.

"aku merindukan eomma..."ucap Baekhyun memeluk ibunya.

"aku juga merindukan kalian berdua, dan Baekhyun dimana kamarmu? Biarkan dokter Zang memeriksa Luhan di kamarmu."

"ahh...ayo ikut aku! Ayo Luhan!" ajak Baekhyun semangat, sementara Luhan merasa tak enak.

Setelah dokter Zang melepas gips di bahu Luhan, dokter Zang kembali memeriksa kondisi Luhan.

"coba gerakkan bahumu.."ucap dokter Zang, Luhan pun menggerakkan bahunya.

"apa masih sakit?"tanya dokter Zang, Luhan mengangguk kecil.

"sedikit"jawabnya.

"untuk tendon, ada pengobatan untuk itu."ucap dokter, Luhan Baekhyun dan Heechul serius mendengarkannya.

"jadi, aku akan memberi tembakan untuk itu." Kemudian dokter Zang menyuntikkan sesuatu di bahu Luhan.

"ini akan sedikit sakit."ucap dokter Zang, Luhan meringis saat merasa jarum suntik menembus kulitnya.

"apa itu sakit?" tanya Baekhyun khawatir.

"sedikit."jawab Luhan

"dia bisa berenang lagi 2-3 hari lagi kan?" tanya Heechul.

"ya..beristirahat selama 2-3 hari, lalu kau bisa melakukan sedikit latihan kau akan mendapatkan lagi kekuatan ototmu, ijin saja pada Hnaggeng, dia tidak akan keberatan. Lagi pula ini untuk anaknya kan?"ucap dokter Zang.

"tentu saja, aku yang akan bilang padanya nanti."sahut Heechul.

"terimakasih dokter..."ucap Luhan.

"ya... Luhan, terus semangat! Dan jaga kesehatan. Kalau begitu saya akan pergi sekarang."ucap dokter Zang dan merapikan barang barang nya.

"apa perlu ku antar?"tanya Heechul.

"tidak perlu."jawab dokter Zang lalu segera pamit pulang.

"bagaimana Luhan ? apa kau puas sekarang?" tanya Baekhyun dengan senyum manis.

"ya...itu melegakan."jawab Luhan.

"Luhan! Ada apa dengan wajahmu? Kau tampak tidak semangat..."tanya Baekhyun lagi, kini raut wajahnya berubah menjadi sangat Khawatir.

"Baekhyun ah..."panggil Luhan pelan.

"ya, ada apa Luhan?"tanya Baekhyun sedikit bingung.

"jujur saja, aku tidak apa apa. Apa sebenarnya kau membenciku?" tanya Luhan, membuat Baekhyun dan Heechul sedikit terkejut.

"apa yang membuatmu berpikir seperti itu ? bukankah kita sudah bersama sama dalam seminggu ini? Dan kita baik baik saja bukan? Sungguh aku tidak membencimu, sedikitpun tidak."jawab Baekhyun.

"ada beberapa alasan, hingga kau bisa membenciku. Pertama orang tua mu menjadi sangat peduli padaku bahkan menganggapku sebagai anaknya, mungkin kau sedikit kesal. Aku sempat melihat raut wajahmu yang berubah saat tadi aku memeluk Heechul eomma, kau terlihat sedikit iri. Aku tau sulit bagi orang untuk merelakan kasih sayang orang tuanya pada orang asing yang baru di kenal, aku juga tau bagaimana..."

"Luhan !"potong Baekhyun, Luhan pun menatapnya.

"jujur aku memang merasa sedikit iri padamu, karena ini adalah pertama kalinya aku melihat ibuku menyayangi seseorang selain aku. Tapi itu hanya sebentar, kemudian aku sadar bahwa kau pasti lebih membutuhkan kasih sayang eomma karena mungkin kau tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua. Aku baik baik saja, karena dari kecil aku sudah merasakan kasih sayangnya, jadi kupikir untuk saat ini biarlah kau merasakannya juga agar adil."jelas Baekhyun, Luhan tersenyum tipis.

"Luhan, jangan berpikir seperti itu. Aku akan memperlakukan kalian berdua dengan baik, jadi jangan pernah berpikir Baekhyun akan marah padamu, Baekhyun bukan anak seperti itu. Dan Baekhyun, eomma tetap akan menyayangimu. Aku akan memperlakukan kalian sama, tidak berlebih satu ataupun berkurang satu. Jika Luhan bahagia maka Baekhyun juga harus merasakannya begitu pula sebaliknya, apa kalian mengerti?" ucap Heechul.

"iya, kami mengerti eomma."jawab keduanya lalu memeluk Heechul. Heechul mengecup puncak kepala kedua anaknya dengan sayang.

"maafkan aku karena telah berpikir seperti itu, aku hanya merasa sedikit tidak enak karena tiba tiba masuk dalam keluarga kalian."gumam Luhan.

"kami mengerti Lu, jadi hentikan pikiran pikiran seperti itu."jawab Heechul lembut mengusap rambutnya.

"Baekhyun, dimana kekasihmu? Eomma ingin melihatnya."ucap Heechul tiba tiba.

"tidak mau! Kekasihku sangat tampan eomma..."rajuk Baekhyun membuat Heechul terkekeh.

"lihatlah Luhan! Betapa pelitnya anak ini.."adu Heechul, Luhanpun ikut tersenyum.

"kekasih Baekhyun memang sangat tampan eomma"ucap Luhan.

"Luhan! Apa kau sekarang menyukai kekasihku?"tanya Baekhyun, Luhan pun sedikit terkejut.

"aku tau jika kekasihku sangat tampan, tapi maaf untuk dia aku tidak bisa membaginya, tidak bisa!"lanjut Baekhyun dengan bibir mengerucut kesal, Luhan pun tertawa.

"ayolah Baekhyun, sekalipun aku berkata jika appa sangat tampan apa itu berarti aku menyukainya ?"pancing Luhan.

"tentu saja, kau pasti menyukainya sebagai appa...hehehe"jawab Baekhyun lalu tertawa.

"baiklah, eomma akan menemui appa untuk meminta ijin tentang Luhan, setelah itu eomma akan langsung pulang."ucap Heechul, keduanya pun hanya mengangguk.

.

.

Mereka semua berkumpul di restoran dekat lapangan golf, kecuali Sehun dan Chanyeol. Sepertinya Sehun adalah anak antisosial dia tidak pernah dekat dengan siapapun kecuali Kyungsoo, dengan Luhanpun seperti musuh. Jika Chanyeol, dia sedang di panggil kepala sekolah. Mereka memesan berbagai macam makanan disana, sesekali bergurau seperti sekarang ini.

"Baekhyun, kau tidak pernah melakukan hubungan seks dengan Chanyeol ?" tanya Kai, membuat semuanya terkejut. Astaga topik macam apa ini?

"Kai! Mulutmu itu!" bentak Baekhyun dan Kyungsoo

"kenapa? Kalian kan sepasang kekasih, dan hubungan kalian sudah terbilang cukup lama. Aku yakin Chanyeol akan segera meninggalkanmu dia pasti bosan memiliki kekasih sepertimu, kau tau? Setiap malam Chanyeol selalu mengeluh padaku jika dia sangat ingin menuntaskan hasrat bercintanya karena dia sangat kesal memiliki pasangan yang polos sepertimu. Aku ingin menyarankannya untuk pergi ke club malam agar ia bisa melakukannya bersama wanita jalang disana, tapi karena aku ingat jika dia masih memiliki kekasih yang lugu aku tidak jadi menyarankan."ucap Kai lagi dengan santai.

"mati kau jika menyarankannya seperti itu!"desis Baekhyun dan menatap Kai tajam.

"Baekhyun, aku sarankan padamu. Jangan menjadi anak yang terlalu lugu, Chanyeol mungkin baik di depanmu tapi sebenarnya dia adalah seorang maniak, dia bisa saja berbuat nekat untuk membuka seluruh pakaianmu!"lanjut Kai.

"Ya...! apa apaan mulut kotormu itu Kim Kai! Jangan menghina Chanyeolku! Dia bukan orang seperti itu!" teriak Baekhyun kesal.

"sekali lagi kau bebicara kotor seperti itu, ku habisi mulutmu!" desis Kyungsoo.

"benarkah? Kemari cium bibirku Kyungie..."ucap Kai merubah ekspresinya menjadi senang.

"kau ini!"marah Kyungsoo sambil mengangkat pisau daging ke arah mulut Kai.

"sudahlah.. jangan dengarkan si hitam itu. Dan Baekhyun jangan dengarkan semua ucapan Kai, dia gila."desis Kyungsoo.

"Baekhyun aku bersungguh sungguh"sambung Kai tidak ingin kalah.

"hah...aku kehilangan mood makanku, aku terus menerus berpikir jika aku akan telanjang di depan Chanyeol...itu memalukan!" Baekhyun menggelengkan kepalanya imut.

"astaga Baek, jangan pikirkan itu. Chanyeol tidak akan suka jika kau bertelanjang di depannya."ucap Luhan, ia berpikir Chanyeol akan menganggap Baekhyun gila karena bertelanjang di depannya.

"itu bagus Baek, aku yakin Chanyeol akan sangat menyukainya. Luhan itu sama sepertimu, dia lugu dan tidak mengerti apa apa tentang pacaran."sahut Kai memanasi.

"KAI!"bentak Kyungsoo.

"Kyung, kau memarahiku terus dari tadi... apa kau mulai peduli padaku? Atau jangan jangan kau mulai menyukaiku ya?"tanya Kai dengan mata berbinar.

"aku tidak peduli padamu, lakukan saja apa mau mu! Dasar hitam mesum!"bentak Kyungsoo lalu segera pergi.

"ahh... aku salah bicara lagi."runtuk Kai.

"mulut dan otakmu memang sangat bodoh Kai." Decak Jenny yang kembali memakan buah yang telah di kupas Kyungsoo tadi.

"ya! Kim Kai, Nadet! Apa kalian lupa jika sekarang kalian ada kelas seni bela diri A ?" teriak Kyungsoo dari luar lapangan golf.

"OH MY GOD!"teriak Nadet terkejut.

"astaga! Kita hampir terlambat!"sambung Kai.

"Seni bela diri A?"gumam Luhan tak mengerti.

"ya, seni bela diri A adalah seni bela diri tingkat atas. Itu adalah tempatku dan Nadet karena kita adalah pemain MMA"jelas Kai lalu segera meminum capucino nya.

"ayo Kai!"teriak Nadet, Kai pun berlari menyusulnya.

"MMA ? wahh..."kagum Luhan.

"Kai dan Nadet memang mengikuti kelas itu, kelasnya tidak seramai kelas seni bela diri lainnya, karena banyak yang masih tidak percaya diri dan belum siap menanggung resiko patah tulang saat pertandingan."jelas Baekhyun.

"wahh... apa mereka sudah pernah mengikuti pertandingan?"tanya Luhan lagi masih penasaran.

"ya, sudah 2 kali."

"masih 2 kali?" tanya Luhan tak yakin.

"hey... itu hebat karena mereka menang meskipun Kai dan Nadet mendapat beberapa cidera, lagi pula mereka berdua masih baru 1 tahun mengikuti kelas itu."jelas Baekhyun.

"mengagumkan sekali, karena itu badan Kai terasa sangat padat"

"karena dia selalu melakukan gym untuk memperkuat ototnya." Sahut Baekhyun, Luhan pun mengangguk paham.

"lalu kau sendiri masuk kelas apa?"tanya Luhan lagi.

"tentu saja vocal karena aku sangat suka bernyanyi, tapi aku juga mengikuti kelas sini bela diri C yaitu hapkido, aku juga mengambil beberapa kelas lainnya hehehe..."jawab Baekhyun, Luhan pun tersenyum.

.

.

"bagaimana Chanyeol?"tanya kepala sekolah.

"entahlah kepala sekolah, aku tidak memikirkannya."jawab Chanyeol datar.

"kau harus memikirkannya Park Chanyeol! Hubungan kalian sangat bertentangan !"

"aku tau Tuan Tan Hangeng yang terhormat, bukankah dia adalah anak tirimu ? jadi biarkan aku memikirkannya lagi. Ada beberapa alasan untuk tetap mempertahankannya sebelum akhirnya melepasnya!" ucap Chanyeol sedikit marah.

"aku harap kau memilih yang benar, aku harap kau mengerti atas ucapanku Park..."

"aku keluar..." ucap Chanyeol sebelum memberi hormat dan keluar.

Ia segera naik ke kamarnya untuk menenangkan diri, tapi ia di kejutkan oleh Baekhyun yang sudah duduk di atas ranjangnya.

"Chanyeol mengapa lama sekali ? memangnya appa ku bicara apa padamu ?" tanya Baekhyun, Chanyeol hanya memperhatikan Baekhyun sebentar.

"tidak ada, hanya membahas beberapa kelas yang ku ikuti saja."jawab Chanyeol akhirnya.

"kemarilah! Aku merindukanmu Chanyeol."ucap Baekhyun manja, Chanyeol pun duduk disampingnya, membuat Baekhyun langsung saja memeluk lengannya.

"bahkan kita sudah bertemu tadi pagi."ucap Chanyeol datar, tapi Baekhyun tidak menyadarinya.

"tetap saja aku merindukanmu... apa kau tidak merindukanku?"tanya Baekhyun balik.

"hmm... aku juga."jawabnya.

"sudah kuduga, kau pasti akan merindukanku juga hehe..."

"Baek, aku sangat lelah. Bolehkah aku tidur?"

"hah? Tentu saja, tidurlah..."ucap Baekhyun riang.

"kau tidak keluar?"

"untuk apa ?"tanya Baekhyun bingung.

"aku akan beristirahat, jadi ku mohon mengertilah"jawab Chanyeol.

"ahhh... baiklah! Selamat tidur Yeollie..."ucap Baekhyun lalu mengecup kedua pipi Chanyeol sebelum keluar dari kamar milik kekasihnya itu, Chanyeol pun segera berbaring.

Baekhyun menutup pintu kamar Chanyeol dengan pelan dan sedikit melihat Chanyeol yang mulai memejamkan matanya.

"kenapa sakit sekali..."gumam Baekhyun memegangi dadanya, wajahnya pun memerah.

"aku menyadari perubahan nada bicaramu Yeol, apa benar kata Kai jika Kau akan meninggalkanku karena sudah bosan padaku? Mengapa secepat ini Yeol ?"gumam Baekhyun lagi, air matanya tiba tiba turun dan ia terkejut.

"astaga... mengapa aku menangis ? Byun Baekhyun, Chanyeol hanya kelelahan! Jangan berpikir yang tidak tidak atau Chanyeol akan marah padamu! Mungkin Chanyeol baru saja di marahi kepala sekolah!" ucap Baekhyun segera menghapus air matanya lalu tersenyum.

"selamat beristirahat Chanyeollie..."ucap Baekhyun lalu segera turun ke kamarnya.

.

.

Luhan berjalan ke arah kamarnya, ia membuka pintu itu pelan takut jika Sehun masih tertidur seperti kemarin. Tapi kali ini berbeda lagi, ia melihat ayah Sehun bersama laki laki lain yang lebih pendek berkunjung.

"Apa kau betah tidur di kamar kecil ini? Apa tidak terlalu kecil untuk 2 orang?Kris, kau bilang Sehun mendapat kamar sepesial?" tanya laki laki yang lebih pendek.

"eomma tenang saja, kamar ini sangat nyaman. Aku baik baik saja disini."jawab Sehun dengan senyum manis. Tunggu! Senyum manis? Luhan tidak salah lihat kan? Dan apa tadi? Eomma?

"ayahmu benar, sekolah ini sangatlah bagus, bahkan fasilitasnya sangat lengkap. Kau masuk kelas apa saja Sehun ah?" Tanya Suho-laki laki yang Sehun panggil dengan sebutan eomma-.

"untuk sementara aku masih mengambil kelas basket dan golf saja karena aku belum melihat ruang kelas lainnya." Ucap Sehun.

"pilihlah kelas yang menurutmu baik untuk masa depan, aku tidak akan memaksamu mengikuti kelas apa saja"sahut Kris, Sehun menoleh sebentar.

"aneh sekali..."decih Sehun. Kris menghela nafas pelan lalu memeluk Sehun dan menepuk bahunya berulang kali.

"Aku hanya ingin menebus kesalahanku."Ucap Kris membuat Sehun sedikit tertegun, lalu tak lama Sehun melihat Luhan yang berdiri di depan pintu kamar mereka.

"Sudah berapa lama kau berada di situ?"tanya Sehun membuat Kris mengernyit lalu melepas pelukannya.

"apa maksudmu?"Tanya Kris, Sehun tidak menjawab. Ia hanya menatap datar ke arah pintu, Kris dan Suho pun mengikuti arah pandang Sehun.

Luhan berdiri dengan canggung dan malu, ia menatap Kris, Sehun dan Suho bergantian.

"dia siapa? Teman sekamarmu?"tanya Suho sedikit khawatir.

"Hmm..."Gumam Sehun.

"Ahhh...maafkan aku Sehun, aku berkunjung di saat yang tidak tepat. Dan berhenti memanggilku eomma, itu memalukan!" ucap Suho cepat,membuat Luhan bingung.

"Masuklah jika kau ingin masuk!"desis Sehun menatap tajam Luhan, sedangkan Kris dari tadi tidak melepas pandangannya dari Luhan.

Luhan pun masuk dengan pelan karena merasa canggung, ia memberi hormat pada Kris dan Suho sebelum melewatinya.

"Apa bahumu baik baik saja?"Tanya Kris memegang lengan Luhan, Luhan pun segera menoleh karena terkejut.

"Eh?" responnya lambat.

"apa bahumu baik baik saja?"tanya Kris lagi, membuat Sehun dan Suho ikut bingung.

"Kris,kau mengenalnya?"tanya Suho, Kris hanya mengangguk.

"t..tentu saja..."gugup Luhan, Kris mencoba membuka kancing kemeja yang Luhan pakai dengan wajah tenang membuat Suho, Sehun dan Luhan pun terkejut.

"t..tuan, apa yang anda lakukan!"tanya Luhan sedikit berteriak karena terkejut, ia juga segera menghindar dari Kris tapi Kris tetap memegang lengannya dan mencoba untuk membuka kancing kemeja Luhan.

"K..Kris..."bisik Suho tertahan.

"apa yang sedang kau lakukan?" tanya Sehun mencoba menjauhkan Kris dari Luhan, tapi Kris malah menampiknya.

Sret...

Kris menarik kemeja Luhan hingga memperlihatkan kulit putih dan mulus seperti bayi milik Luhan, dan jangan lupakan aroma soft dari tubuh Luhan yang ikut menguar.

"t..tuan / appa.../ Kris...!" panggil ketiganya dengan nada suara yang berbeda.

"a..astaga!"gugup Kris semakin membuat Suho Sehun dan Luhan bingung, Luhan berusaha menutupi tubuh bagian depannya karena ia berdiri tepat di depan Sehun, sedangkan Kris di belakangnya.

"dari mana datangnya luka ini Luhan?" tanya Kris membalik tubuh Luhan agar menatapnya, Suho dan Sehun pun bisa melihat dengan jelas kedua bahu Luhan yang memar berwarna merah kebiru biruan.

"Luhan! Kau tidak mendengarku ? datang dari mana luka di bahumu?" tanya Kris sedikit berteriak, membuat Luhan gelagapan.

Tapi tiba tiba Luhan mengingat sesuatu, orang di depannya adalah musuhnya dan ia baru saja menemukan satu fakta tersembunyi bahwa ibu Sehun sama seperti ibu Baekhyun meskipun ia belum terlalu yakin. Luhan menepis tangan Kris yang masih memegang lengannya, matanya berkaca kaca dan wajahnya memerah.

"anda masih bertanya ?"tanya Luhan balik dengan nada bergetar. Kris mengernyitkan dahinya bingung dan Suho semakin curiga, apa yang terjadi antara Kris dan Luhan.

"apa maksudmu Luhan?"tanya Kris

"bukankah anda yang mengirimkan orang orang itu untuk membuatku seperti ini?"respon Luhan dengan pertanyaan yang membuat Kris bingung.

"orang orang apa maksudmu?"

"mereka bilang, mereka harus membuatku cidera dan mereka menyebut nama nyonya Wu. Bukankah berarti itu istri anda tuan Wu yang terhormat?" jelas Luhan.

Kris menggeram sambil menatap Luhan tajam, membuat Luhan sedikit takut.

"apa kau sudah pergi ke rumah sakit? Berapa biaya pengobatan cideramu? Aku akan menebusnya atas nama istriku?" ucap Kris.

"tidak perlu tuan Wu, aku masih bisa mengobati cideraku tanpa bantuan anda."jawab Luhan tegas.

Entah mengapa kepala Sehun menjadi memanas melihat memar di bahu Luhan, ia ingin sekali datang di hadapan Jessica dan memakinya atas perbuatan tidak pantas yang ia lakukan, jika publik tahu, maka nama baik keluarga Wu akan hancur.

"L...Luhan...sudah berapa lama kejadian itu?"tanya Suho, Luhan langsung menatapnya nyalang.

"siapa kau ? apa kau simpanan tuan Wu?" tanya Luhan pada Suho yang kini tercekat atas ucapan yang Luhan lontarkan untuknya.

"LUHAN!" teriak Sehun marah, ia mencengkram rahang Luhan dengan kencang membuat Luhan mendesis sakit.

"Ss...Sehun...a..apa yang kau lakukan?"teriak Suho terkejut, Kris pun berusaha melepaskan cengkraman Sehun, tapi Sehun menepisnya.

"kalian berdua pergi ! sebelum aku meremukkan rahangnya!" peringat Sehun membuat Kris dan Suho gelagapan.

"Sehun ! lepaskan Luhan atau kau akan mendapat hukuman ?" ucap Kris.

"ku nanti hukumanmu Tuan Wu jadi anda bisa keluar sekarang !1"

"SEHUN!"bentak Kris.

"KALIAN TIDAK KELUAR?" bentak Sehun balik, ia memperkuat cengkramannya hingga Luhan memekik kesakitan.

Suho menatap Sehun tak percaya, dengan mata berkaca kaca ia segera menarik Kris keluar dan menutup pintu.

Sehun menatap Luhan tajam, sementara Luhan meronta minta di lepaskan.

"bisa kau ulangi kalimatmu Luhan ? kau pikir siapa yang sedang kau hina hah ?" bentak Sehun dengan tatapan marah, Luhan memukuli tangan Sehun yang mencengkram rahangnya agar Sehun mau melepasnya, tapi yang ada hanya Sehun yang semakin mempererat cengkramannya. Luhan merasa nyeri pada bagian wajahnya, dan merasa dingin di bagian tubuhnya.

"s..sehunhh..."desis Luhan dengan wajah memerah.

"mau meminta maaf atas kelakuanmu? Perlukah kucari makam kedua orang tuamu lalu ku hina di depanmu?" bentak Sehun, air mata lolos dari mata Luhan karena sakit pada bagian rahangnya dan sakit pada hatinya ketika Sehun menyebut makam orang tuanya, bahkan ia belum tau apa orang tuanya masih hidup atau sudah mati.

Dengan kekuatan yang masih ia miliki, Luhan menendang tulang kering Sehun dengan keras hingga Sehun reflek melepas cengkramannya karena kakinya terasa sangat sakit.

Luhan segera mengusap rahangnya yang memerah dan tersa nyeri, tapi itu tidak berlangsung lama karena Sehun mencengkram lengannya agar Luhan semakin dekat dengannya,. Luhan terus saja meronta dan mengumpat pada Sehun, kakinya juga tidak tinggal diam, ia menendang Sehun secara acak hingga Sehun kehilangan keseimbangannya dan jatuh di atas ranjangnya dengan Luhan yang berada di atasnya.

Waktu seperti behenti sejenak, membiarkan kedua bibir mereka menyatu. Sehun dapat mencium aroma soft yang entah mengapa membuatnya merasa nyaman dan Sehun juga bisa merasakan kulit halus Luhan karena tangan kirinya berada di punggung Luhan. Luhan pun menjadi gugup, ia tidak berani membuka matanya karena takut jika ia sedang mengalami hal yang buruk. Ia bisa merasakan bibirnya menembel dengan benda kenyal lainnya dan ia juga mencium aroma maskulin di depannya.

Brak...!

"APA YANG KALIAN BERDUA LAKUKAN?"

Seketika waktu pun berjalan kembali, dan dengan reflek Sehun mendorong tubuh Luhan kasar hingga Luhan membentur meja belajarnya.

"akkh..."rintih Luhan memegangi punggungnya, Sehun segera duduk menatap Luhan dan pengurus asrama bergantian.

"kalian berdua ikut aku!"perintah pengurus asrama itu tegas.

Sehun pun segera berdiri, dan Luhan meraih kemejanya yang tergeletak di bawah ranjang Sehun.

"sekarang! Tidak perlu bersusah payah untuk memakai kemejamu Luhan!" bentak pengurus asrama.

Luhan dan Sehun pun segera keluar dan mengikuti pengurus asrama itu dalam diam.

Cklek...

Semua guru yang tengah membicarakan hal penting bersama kepala sekolah kini menatap pintu yang di buka oleh pengurus asrama.

"ada apa?"tanya Hangeng sambil meminum kopinya tenang.

"maafkan saya kerena mengganggu, tapi saya menemukan kedua orang ini melakukan hal yang tidak tidak di kamar mereka."lapor pengurus asrama itu membuat kepala sekolah dan guru guru disitu terkejut melihat pakaian Sehun yang terlihat kusut dan Luhan yang tidak memakai atasan.

"benarkah ?" tanya Hangeng sambil menatap lurus ke arah Sehun dan Luhan.

"saya mencoba mengecek kamar anak anak, untuk memastikan mereka semua sudah membersihkan ruangannya, tapi saya terkejut melihat mereka berdua berciuman dengan posisi saling tindih dan Luhan sudah melepas pakaian bagian atasnya." jelas pengurus asrama, Hangeng menghela nafas kasar.

"bisa kalian tinggalkan kami bertiga?" tanya Hangeng, lebih tepatnya perintah. Semuanya pun keluar ruangan kecuali Sehun dan Luhan.

"Luhan...! inikah balasan rasa terimakasihmu pada keluargaku ? aku baru saja mengumumkan pada guru guru jika kau adalah anakku, tapi apa yang kau perbuat sekarang ? kau sengaja mempermalukanku Luhan?" tanya Hangeng menatap Luhan yang menunduk.

"m..maaf..kan aku..appa..i..ini..tidak seperti yang appa bayangkan"ucap Luhan terbata.

"apa kau pikir kau masih pantas memanggilku dengan sebutan seperti itu ? lihat dirimu, kau bahkan dengan tidak tahu malu masuk keruanganku tanpa memakai pakaian! Apa kau pikir pengurus asrama yang sudah kami percaya selama bertahun tahun kini berbohong padaku ?"bentak Hangeng menggebrak mejanya.

Air mata kembali lolos dari mata Luhan, entah berapa kali ia harus mengeluarkan air matanya hari ini. Ia merasa hina, ia sudah tidak pantas lagi memanggil Hangeng sebagai ayahnya, memanggil Heechul sebagai ibunya dan menganggap Baekhyun sebagai saudaranya. Benar apa yang di katakan Sehun, ia hanya beban bagi keluarga Baekhyun dan ia tidak akan bisa bertahan lama tinggal bersama mereka.

"kepala sekolah, ini tidak seperti yang pengurus asrama dan anda pikirkan, kami tidak melakukan apa apa, kami hanya..."
"Oh Sehun! Orang tuamu adalah orang yang sangat terhormat, dan aku menghormati Presdir Wu dengan meletakkanmu di kamar yang istimewah dalam asrama ini, tapi kau mengecawakan. Bukan hanya mengecewakanku, jika ayahmu tau dia juga akan kecewa padamu... apa tujuanmu bersekolah disini? Ingin mempermalukan ayah dan ibumu yang terhormat itu?"potong kepala Sekolah cepat.

Sehun pun menutup bibirnya rapat rapat. Ini buka salah pengurus asrama, pengurus asrama hanya menyampaikan apa yang ia lihat, dan itu tidak bohong meskipun mereka berciuman dengan tidak sengaja.

"kalian harus menjalani hukuman, ikut aku!" perintah Hangeng tegas, Sehun dan Luhan pun mengikuti langakahnya dari belakang.

Di sepanjang perjalan mengikuti kepala sekolah semua murid yang berada di asrama atau sekedar latihan di lapangan menatap Sehun dan Luhan aneh.

"Baekhyun! Bukankah itu Luhan...dan apakah itu Sehun?" tanya Dong Goo

Baekhyun dan Kyungsoo pun menoleh.

"benar, tapi mengapa mereka bersama kepala sekolah? Dan mengapa Luhan tidak memakai pakaian atas nya?"Bingung Baekhyun.

"Hei... ku dengar Sehun dan Luhan mendapatkan hukuman!" ucap Jenny menggebu gebu dengan Shannon di sampingnya yang juga terengah.

"Hukuman?"tanya Baekhyun memastikan.

"Benar, menurut rumor mereka ketahuan melakukan hal yang tidak tidak di kamar mereka dan pengurus asrama memergoki mereka."jelas Shannon.

"Tidak mungkin! Luhan bukan orang seperti itu!"Bantah Baekhyun tidak terima.

"Apa Sehun seberubah itu tinggal di Canada?" gumam Kyungsoo

"Baek, lihatlah! Bahkan punggung Luhan sampai memar.."ucap Jenny meyakinkan.

"MEMAR ITU KARENA CIDERANYA!" teriak Baekhyun lalu segera pergi mengikuti kepala sekolah yang sudah keluar dari area sekolah, yang lainnya pun mengikuti.

Kini Luhan dan Sehun berdiri di lapangan golf dengan kepala sekolah yang terus menatap mereka tajam. Luhan berusaha menutupi bagian dadanya dan juga menghangatkan tubuhnya dari udara dingin yang menusuk karena kini sudah sore menjelang malam.

Baekhyun berlari mendekati ayahnya.

"Appa...apa yang sedang terjadi?"Tanya Baekhyun, tapi Hangeng tidak mempedulikannya.

"Kalian bisa melihat hutan di depan sana?"Tanya Hangeng menunjuk Hutan yang menyatu dengan ujung lapangan golf, Sehun dan Luhan mengangguk.

"Pergi dan temukan air suci di dalam sana, basuh tubuh kalian dengan air itu lalu bawa air itu kepadaku! Jika di antara kalian ada yang berhasil, aku tidak akan melaporkan kepada wali kalian dan tidak mengeluarkan kalian dari sekolah ini atas pencemaran nama baik sekolah. Apa kalian mengerti?"

Sehun dan Luhan hanya diam, memikirkan apa yang akan mereka lakukan di hutan itu.

"Di dalam hutan itu hanya ada 1 aliran air dan itu adalah air suci yang harus kalian bawa. Cepat berangkat sebelum matahari terbenam sepenuhnya."Ucap Hanggeng.

"Bolehkah saya mengambil baju terlebih dahulu kepala sekolah?"tanya Luhan tak berani menatap Hangeng secara langsung.

"berangkatlah dengan keadaan kalian yang seperti itu!"Ucap Hanggeng.

"Appa...! Apa yang appa lakukan? Bukankah hutan itu berbahaya?dan juga Luhan harus memakai pakaiannya!"Rengek Baekhyun.

"Sehun!Luhan! Kalian menunggu apa?"Tanya Hangeng, merekapun mengangguk lalu segera berjalan menjauh.

"Appa...!"Teriak Baekhyun.

"Kau bahkan membela orang asing itu dari pada aku?"Tanya Hangeng membuat Baekhyun terdiam, Hanggeng pun segera masuk.

Semua murid dan guru yang ada di luar sana merasa iba dengan Sehun dan Luhan, mereka takut jika keduanya tidak bisa kembali.

TBC.

Maaf updatenya lambat dan ceritanya mulai ngawur :3 tapi aku berusaha untuk buat ff ini lebih menarik di setiap chapternya, entah itu gagal atau berhasil.

Buat semuanya terimakasih udah review, ngefav dan juga ngefollow ff ini, aku bener bener ngucapin terimakasih banyak buat kalian.

Dan temukan jawaban jawaban yang ngebuat kalian penasaran di Chapter depan.

Thanks a lot guys...

See you next chapter ^_^