Aku memiliki satu hal yang tidak bisa aku buang begitu saja. Sebanyak apapun celaan dan tekanan pun aku tetap pada keteguhan yang kubina.

Akulah yang memiliki hatiku, dan aku pulalah yang memutuskan untuk memberikan itu padanya. Tak apa kan?

Aku bodoh? Iya. Apa salah jika aku sendiri yang membiarkannya? Biarlah aku memilih jalan yang aku inginkan.


Wanita yang Kunikahi, Wanita yang (selalu) Kusakiti (?)

Part III

.

.

.


Seorang pria dengan santai melangkahkan kakinya di kediaman yang sudah seperti rumah kedua baginya. Ia melebarkan senyum tatkala mendapati objek yang dicarinya sedang duduk menyender di sofa.

"Hey Naruto." panggilnya.

Naruto menoleh lalu menyambut rentangan tangan pria yang hendak menyampaikan kerinduan melalui pelukan. Saat jarak keduanya bersisa beberapa puluh centi pemuda bersurai coklat itu berhenti. Tangannya makin menjulur ke depan, seperti mengharapkan pelukan.

Buagh

"Apa-apaan kau! sial!" Naruto mengumpat keras. Ia tidak menyangka itu bukan pelukan seperti yang ia kira. Kiba justru menonjoknya keras.

"Kau benar-benar keterlaluan Naruto. Aku tidak habis pikir dengan isi kepalamu itu. Heh, apa maumu?!"

Emosi Kiba meletup. Ia sangat murka dengan kelakuan temannya yang sudah kelewatan ini. Bagaimana ia tidak sebegini murkanya? Baru seminggu yang lalu ia pergi ke luar kota dan ketika kembali ia harus dikejutkan dengan mendengar berita yang sangat memuakkan. Apa-apaan Naruto itu?

"Ki-ba, dengarkan penjelasanku dulu." Naruto menahan pukulan Kiba selanjutnya. Ia sebelumnya sudah menduga hal ini akan terjadi. Kiba pasti mengetahui apa yang sudah dilakukannya. Memangnya apa yang pria itu tidak tahu darinya? Mungkin hanya segelintir hal saja.

Kiba melempar tubuh Naruto ke sofa. Ia menghela napas kasar lalu duduk pula di sofa.

"Apa yang mau kau jelaskan?" pertanyaan Kiba tentulah serius. Beruntung ia bisa sedikit menahan emosinya dengan bersikap dewasa. Barangkali ia memang harus mendengarkan penjelasan Naruto. Begitulah pikirnya.

Naruto melirik pria yang tampak sedang meredakan emosinya itu. "Sebenarnya aku tidak sengaja melakukannya. Waktu itu.. aku hanya bertandang ke apartemennya usai pulang kerja. Sakura tersenyum manis menyambutku sebagai teman ehm... " Naruto memberi jeda pada penjelasannya.

"Entah apa yang aku pikirkan. Ketika aku dan Sakura mulai terlibat perbincangan ringan aku jadi tidak keruan. Emosiku menyentak karena Sakura hanya membicarakan Sasuke terus-menerus. Aku kalut. Aku hilang kewarasan sampai akhirnya.." ia mengakhiri eksplanasinya karena menganggap Kiba sudah paham dengan apa yang terjadi selanjutnya.

Lantaran tak kunjung mendapat tanggapan dari lawan bicaranya Naruto buru-buru menambahkan. "Tapi sungguh aku tidak sadar dengan yang aku lakukan. Aku hanya.."

Kiba tertawa merendahkan. Menggelengkan kepalanya kemudian ia bertanya ringan, "Apa sekarang kau sudah puas telah menikmati tubuh wanita yang katanya Kau Cintai itu?"

Dengan menyedekapkan tangan Kiba kembali bersuara, "Naruto.. Naruto. Kau adalah pria paling bodoh yang pernah aku temui. Selain menyia-nyiakan istri yang sangat mencintaimu kau juga menyakiti wanita yang kau cintai. Sebenarnya apa yang ada di otakmu itu? Seks? Cinta? APA!"

Tidak ada balasan dari Naruto. Ia hanya diam mendengar semua yang dikatakan Kiba. Ia urung meengeluarkan emosi yang juga berkecamuk di dadanya karena ia pikir hal itu mungkin akan memperburuk suasana. Setidaknya Naruto harus sabar dulu mendengar ocehan Kiba untuk sekarang.

"Ckckck. Aku kasih saran sebaiknya kau ceraikan Hinata."

Naruto tertegun. Matanya melotot namun ia juga mendapat pelototan yang lebih tajam dari Kiba.

"Kenapa? Bukankah kau membencinya?" tanya Kiba dengan nada mengejek. Meskipun Naruto adalah sahabatnya, tapi ia tidak akan tanggung-tanggung menyadarkan Naruto dengan cara yang paling keras sekalipun supaya dia sadar.

"Aku..."

"Huh. Selain brengsek kau juga plin-plan ya. Apa sekarang kau mau bilang kalau kau sudah mulai mencintai Hinata?" Kiba masih dengan raut sinis mengatakan tiap argumennya.

"Tutup mulutmu!"

Dadanya sedikit terlonjak, Kiba agak kaget ketika Naruto membentaknya.

"Aku hanya... masih membutuhkannya."

"APA?!" Raut tak percaya menghiasi pria bertato itu. "Gila. Gila." Kata itu terlontar dengan penuh penekanan. Kiba lantas mengatupkan rahangnya yang makin kaku.

"Seharusnya aku tahu. Tidak ada gunanya bicara dengan orang tidak waras sepertimu."

Keduanya saling diam selama beberapa saat.

"Aku benar-benar tidak mengerti cara apa yang bisa menyadarkanmu. Hinata itu anak orang kalau kau ingat. Jika kau memang membencinya buat apa menikah? Pernikahan yang dilandasi kebencian sama sekali tidak benar. Salah besar. Dari awal aku sudah memperingatkanmu. Tapi kau malah semakin menjadi. Bertingkah semaunya, sangat kekanakan. Sampai kapan kau begini terus? Sampai Hinata pergi meninggalkanmu? Atau sampai Tuhan harus mengambil nyawamu?"

Naruto enggan menjawab.

"Di dunia ini tidak ada yang kekal. Tidak banyak manusia yang memiliki ketulusan. Tapi Hinata punya itu. Dia begitu tulus mencintaimu. Kau tidak sadar juga HAH?!" Kiba menghempas punggungnya ke bantalan sofa. Sedikit meredakan napasnya yang tersengal. Peran dirinya sekarang sangat membingungkan. Di satu sisi ia adalah sahabat Naruto yang harus menyadarkannya akan kebejatan yang dia lakukan. Namun di sisi lain ia juga sudah menganggap Hinata seperti adiknya. Ia tidak tega harus menjadi penonton yang pura-pura tidak tahu apa-apa perihal hubungan Naruto dengan Hinata. Perihal penderitaan Hinata.

Naruto beranjak meninggalkan pria yang tengah bergelut dengan pikirannya sendiri. Sesaat ia berkata, "lebih baik kau pulang Kiba. Aku sedang tidak dalam mood yang baik untuk meladenimu."

Kiba menonjok meja kaca di depannya. Pria itu... Kalau saja ia tidak ingat bahwa ia sahabatnya yang tidak seharusnya hanya menyalahkan Naruto ia sudah pasti akan membunuh bajingan itu.

"Tch. Dasar gila!"

.

.

.

.

Hinata tersenyum melihat Sakura. Kondisinya sudah lebih baik. Ia tidak sedepresi waktu itu. Malahan Sakura sedikit banyak sudah bisa diajak berbicara. Terlebih, dia tidak lagi enggan untuk bertemu Sasuke.

Suasana apartemen Sakura kini berbeda dengan biasanya. Tidak hanya Hinata dan Ino yang mengunjungi Sakura . Ada satu lagi wanita yang bersama mereka. Ketiganya sedari tadi saling berbincang mengenai kondisi Sakura. Perbincangan yang cukup tenang sampai hal sensitif kembali membuat salah satu di antara mereka tersentak. Ketakutan.

"Hinata, kau pasti tahu kan siapa pelakunya?" tuduh wanita berambut merah.

Suhu tubuh Hinata menurun. Mendadak telapak tangannya berkeringat dingin. Kenapa pertanyaan seperti itu kembali terlontar? Padahal Hinata sudah lega karena seminggu setelah kejadian itu Sasuke sudah tidak mempermasalahkannya.

Hinata bimbang. Ia tidak ingin menjadi pembohong. Tapi ia juga tidak ingin mengkhianati suaminya dengan memberitahukan hal itu kepada orang-orang. Meskipun itu orang terdekatnya.

"Hinata, apa benar kau mengetahuinya?" Ino mencoba memastikan dugaan wanita di sampingnya.

"Aku tidak-"

"-Naruto."

Pupil Hinata melebar. Jantungnya berdegup kencang.

Respon dari kedua wanita lainnya pun tak jauh beda. Raut keterkejutan tampak pada wajah mereka.

"Apa maksudmu Sakura?" Karin bertanya tegas. Sedang Ino hanya mampu menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Aliran air mata serentak menyusup sela-sela jemarinya.

"Naruto yang melakukan itu." Sorot mata Sakura datar nan dingin. Ekspresinya tak terbaca. Namun kebencian dan penyesalan yang amat sangat tersirat dalam nada bicaranya.

Karin termangu. Kepalanya bergerak memandang antara Hinata dan Sakura bergantian.

"Aku tidak menyangka kau tega membohongiku Hinata." Ino berkata lirih di sela tangisannya.

Karin menghela napas, ia tak tahu harus berbuat apa. Atmosfer yang semula tenang seketika berubah drastis. Ia dihadapkan dengan masalah yang cukup pelik.

Bibir Hinata bergetar. Akhirnya ialah yang salah. Dan memang dirinya yang pantas disalahkan.

"Ma-maafkan a-ku."

Karin merangkul Ino untuk menenangkan wanita itu. Tak dipungkiri ia juga sangat terpukul mendengar pernyataan Sakura. Sebenarnya ia ingin menangis. Hanya saja ia merasa tak pantas karena dari dulu ialah sosok kakak bagi ketiga wanita di sini. Jika ia menangis, siapa yang akan menjadi sandaran mereka?

"Ma-af. Aku sama sekali tidak berniat membohongi kalian. Aku hanya takut Naruto-kun akan dibenci orang. Aku tidak mau. Ino, Karin-nee.. maafkan aku.." bulir-bulir bening sudah terkumpul di pelupuk matanya. Hinata meremas jari-jemarinya. Pada akhirnya ia selalu saja masih bisa menangis. Padahal waktu itu ia kira telaga matanya sudah kering.

Lagi-lagi Hinata harus menelan mentah-mentah kenyataan tentang dirinya, tentang air matanya. Kenyataannya ia tak lebih dari wanita lemah. Selalu seperti itu.

Greb

Hinata terkesiap tatkala ia merasakan sesuatu menyentuh tubuhnya.

"Hinata.. Kenapa kau selalu menyimpan lukamu sendiri? Kenapa kau justru mengkhawatirkan Naruto ketimbang rasa sakitmu Hinata? Kenapa kau malah menyalahkan dirimu sendiri hiks.."

"Sa-kura..."

"Kau tahu Hinata. Setelah tahu bahwa pria brengsek itu adalah Naruto. Hatiku rasanya tergoncang. Naluriku sebagai perempuan seketika bertindak. Kenapa kau tidak menceritakannya dari awal? Di sini kaulah yang paling terluka Hinata..." Ino berbicara masih dengan luncuran air mata.

"Kau membuatku seolah menjadi wanita terkeji di dunia Hinata. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang..." Tangis Sakura menggelak. Ia benar-benar merasa jijik dengan dirinya sekarang.

Hinata menarik kedua belah bibirnya ke dalam. Netranya berkerling tak tentu arah. Ia melakukan ini semata-mata untuk menahan tangisannya agar tidak pecah.

Lega, atau apa, entahlah. Hinata tidak tahu apa yang tengah dirasakannya. Syukur memang karena mereka tidak membencinya. Justru mereka menangis karenanya. Tapi ia tak merasakan apa-apa, hatinya seolah kosong. Hanya air matanyalah yang mampu merealisasikan sedikit kelegaan.

"Hinata... Aku tidak menyangka dia setegar itu." batin Karin ikut berbicara. Setetes air matanya terjatuh begitu saja tanpa bisa ia hindari.

.

.

.

.

.

Hinata berlari tergesa. Ia sudah berjanji akan menemui seseorang. Ia sedikit mengembuskan napas ketika sudah memasuki tempat perjanjiannya. Lavendernya mengedar hingga menemukan sosok itu.

"Ma-af sudah menunggu lama." katanya ketika sampai di hadapan orang itu.

Hinata duduk di salah satu kursi setelah mendapat isyarat dari pria yang sudah menunggunya.

"Langsung saja ke inti. Aku ingin kau cerai dari Naruto."

Hinata terbelalak tak percaya. "Apa maksudmu Sasuke-kun?"

Sasuke mendengus. "Sudah jelas kan? Aku ingin kalian bercerai."

"Ta-tapi.. Kenapa?"

Oniks Sasuke menelisik lavender di hadapannya. Lavender yang indah, tapi sayang sekali lavender indah itu sering mengalirkan tangisan duka.

"Harusnya kau lebih tahu dariku. Ini yang terbaik untukmu Hinata. Kau layak mendapatkan kebahagiaan. Pria brengsek itu.." Sasuke membuang muka saat menyebut objek pembicaraannya.

".. lupakan dia dan berbahagialah dengan pria yang benar-benar mencintaimu." setelahnya Sasuke melenggang pergi.

Hinata masih tercengang dengan perkataan Sasuke barusan saja. Logikanya enggan bekerja. Kenapa? Kenapa tiba-tiba Sasuke berbicara begitu? Kenapa dia harus repot-repot menemuinya hanya untuk mengatakan hal itu? Apa dia ingin balas dendam pada Naruto karena telah menyakiti wanitanya? Kenapa? Kenapa tiba-tiba Sasuke peduli padanya?Ada apa sebenarnya?

Kenapa semuanya menjadi serba sulit untuk dicerna?

.

.

.

.

.

Suara jarum jam mengisi kesunyian malam. Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Hinata masih terjaga dari tidurnya. Begitu juga sosok di sampingnya. Namun keduanya saling menghadapkan punggungnya masing-masing.

Hinata gusar, perkataan Sasuke tadi sore sangat mengganggu pikirannya. Ia tidak mengerti kenapa Sasuke bisa berkata seperti itu. Yang tahu tentang kabahagiannya hanya ia seorang. Bagaimana Sasuke bisa menyimpulkan hal tentangnya? Kesannya seakan-akan cintanya memang tidak pantas untuk dipertahankan. Kenapa? Hinata merasa punya hak atas cintanya.

Tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu tentangnya. Cintanya hanya milik dia seorang. Ia merasa berhak kendati sampai melupakan logika dalam mencinta.

.

Kelopak matanya terpejam, tapi pikirannya melayang. Sesi pendakwaan yang dilakukan Kiba begitu menancap tepat di hatinya. Ia tersinggung dengan perkataan Kiba yang terlalu frontal tetapi sialnya tepat sasaran. Dan itu serasa menohok jantungnya. Tak terelakkan Naruto sadar akan sesuatu. Ia merasakan yang namanya penyesalan. Iya, sedikit rasa itu hadir di hatinya. Menyesali apa? Menyakiti Hinata? atau Sakura? Entahlah. Naruto tidak paham.

Pria itu berada dalam kebimbangan. Seharusnya lebih mudah dari mudah untuk menceraikan Hinata. Tapi ia tidak ingin melakukannya. Entah atas dasar apa. Bukan cinta. Otaknya terus menggertak bahwa bukan cinta yang membuatnya sulit menceraikan Hinata. Ia hanya masih membutuhkan dia. Iya. Itulah alasan sesungguhnya.

"Naruto-kun.. Jika aku memintamu untuk menceraikan aku, apa kau mau?"

Naruto terlonjak. Gara-gara mengingat perkataan Kiba ia sampai berhalusinasi mendengar suara Hinata yang menanyakan tentang perceraian. Mungkin ia memang sudah tidak waras.

"Naruto-kun?"

Terkesiap ketika merasakan sentuhan di punggungnya. Naruto menoleh. Hinata tengah menatapnya serius. Wajahnya tampak biasa, tapi sorot matanya.. entahlah. Ia tidak peduli.

"Apa?"

"Dengan menceraikan aku, apa kau akan bahagia?" ulang Hinata. Kegelapan yang menyelimuti ruangan itu sedikit menyamarkan sorot matanya yang memancarkan luka.

Naruto terpaku sesaat. Arah pandangnya ia pindahkan pada langit-langit kamar. Tetapi tatapan matanya hanyalah kosong.

"Jika itu maumu." suara Naruto kali ini terdengar serak dan agak berat.

Ia menutup kelopak matanya. Barangkali Naruto perlu istirahat agar pikiran dan perasaannya kembali normal.

Hinata tercenung. Bibirnya terkatup. Sudah jelas semuanya. Sangat jelas. Dari awal memang tidak ada yang harus dipertahankan. Naruto akan dengan senang hati menceraikannya. Ia tidak ingin hal itu terjadi. Ia mencintai Naruto. Sungguh ia tidak ingin membiarkan ikatan yang dari awal tidak kencang ini terlepas. Meski Naruto dengan gigih mencoba melepaskannya. Hinata tidak ingin mengakhiri perjuangannya selama ini. Ia ingin terus bertahan. Ia tidak ingin menyerah. Tapi apa yang harus ia pertahankan jikalau sesuatu yang ia pertahankan sudah tidak ada artinya? Pernikahan ini tidak bermakna. Pernikahan salah yang menjerumuskan kedua manusia ke dalam jurang kehinaan. Jika tidak ada rasa saling cinta, untuk apa menikah?

Harusnya Hinata ingat hal itu. Kenapa ia terlalu egois dengan hanya mementingkan perasaannya? Ia tak lain adalah wanita egois yang sampai hati tidak memikirkan penderitaannya sendiri karena cinta.

Apa memang sekaranglah saatnya ia menyerah? Apa benar yang dikatakan Sasuke padanya bahwa ia pantas mendapatkan kebahagiaan? Tapi Hinata bahagia. Ia bahagia dengan cinta sepihaknya. Lalu arti bahagia semacam apa yang Sasuke maksudkan padanya?

.

.

.

.


Reply

Guests : *eh? sampai ngira begitu? gak kok. Sy menyukai semua chara. Bukan haters siapapun. Soal kenapa Hinata dpt peran begitu, ehmmm Cuma buat kebutuhan cerita aja sih, spt yg sy bilang di awal. Totally, sy jg suka Naruhina. Jgn salah sangka lah, lovers tdk selamanya bikin cerita yg buat chara kesukaannya bhgia terus. Iya kan? Furthermore, saya ingin mengekspresikan kesukaan sy sama NH dg fic semacam ini XD

hn.. emang maksa kok. Banget mlah.

*okay, Naru di sini emng jahat kan? haha

hwa... jangan bahas hamilnya dulu dong. Sy blm kepikiran itu. Lagipula usia pernikahan mereka jg blm dktegorikan lama kok. Yah, tunggu wktunya aja lah ^^ dan ehm.. endingnya blm tau juga

lihat saja nanti ya?

*ini udah ada new part-nya. XD

Yosh, saran diterima.

XX : Sadis ya? menurut sy Naruto yg sadis sangat kerennn loh

Yoko : Naru mah emang gak waras. #disinimaksudnya

Durara : msh lama mungkin. Ada new part-nya.

Oh ya? thanks.

Ayzhar : eh?... promo? haha... Bujuk Hinatanya saja lah biar dia mau sm abang kamu itu ^^

endingnya liat saja nanti, ok?

soal itu.. arghh... jgn bahas kehamilan dlu dong, ada bagiannya sendiri ntar ya.. *~

Okay..Thank you all.

*Aimore*