Kami berbeda.

Tentu saja, kami berdua sangat tahu akan hal itu. Orang luar tidak perlu memberi tahu kami.

Bagaikan langit dan bumi, perbedaan di antara kami terlampau bertolak belakang.

Biarkan kami yang mengatasinya. Ini hidup kami, tidak perlu campur tangan orang lain. Hanya aku dan dia yang memiliki perbedaan ini lah yang bisa.

Karena kami memiliki satu hal berharga yang akan menutup semua perbedaan itu.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Air Mata Bebek & Kira Desuke

.

Sasuke POV version

.

.

.

R O M A N C E

.

.

.

Mistake

.

.

.

Aku bersumpah aku bukan lagi Uchiha Sasuke yang dulu.

Kau tahu? Sekarang, aku tidak bisa mengontrol emosiku dengan baik. Konsentrasiku jadi gampang buyar. Wajahku sering memanas dan memerah tanpa sebab. Aku tahu orang-orang di sekitarku dan—mungkin—gadis itu tidak menyadarinya, tapi bagiku ini sama saja dengan membuat stress. Dan sekeras mungkin aku berusaha mencari alasan kenapa aku menjadi seperti ini.

Walau sebenarnya... mungkin aku tahu siapa penyebab utamanya.

Aku menghela napas untuk yang ke sekian kalinya. Buku tebal yang biasanya bisa kubaca sampai setengah halaman selama di sekolah, sekarang menyelesaikan satu halaman saja sudah melewati dua jam. Tidak hanya itu, aku baru sadar bahwa sedari tadi aku membaca satu baris kalimat yang sama dan tidak maju-maju ke baris yang selanjutnya. Menghela napas sekali lagi, akhirnya aku memilih untuk menutup buku tersebut.

Setelah menaruh buku itu ke dalam tas di sampingku, aku menopang daguku di atas meja. Tadinya aku melihat keluar dari samping jendela seperti yang biasa kulakukan, namun tak lama kemudian pandanganku pun tetap teralihkan juga. Lebih tepatnya setelah mendengar suara yang mengganggu pendengaranku akhir-akhir ini. Kulirik sedikit gadis yang tengah dikerumuni teman-temannya itu seperti biasa.

Dia tertawa lepas mendengar lelucon salah satu temannya. Tak lama kemudian dia memukul-mukul punggung temannya itu, diikuti dengan teman-temannya yang lain. Mereka terlihat begitu... senang. Jujur saja, aku tidak mengerti bagaimana rasanya berkumpul lalu tertawa bersama teman-teman seperti itu. Karena meskipun perempuan-perempuan aneh yang selalu mengerubungiku mencoba mengajakku tertawa dengan gurauan mereka, aku tidak pernah mengganggap mereka ada. Sepertinya sifat anti-social memang tidak bisa hilang dari diriku.

Ekspresiku masih tetap dingin seperti biasa, tapi harus kuakui aku cukup antusias melihat Haruno Sakura yang memang mempunyai banyak teman itu berkumpul bersama yang lain. Kedua mataku benar-benar tidak bisa lepas dari wajahnya. Seolah jika aku mengedipkan mata meskipun kurang dari sedetik, dia akan hilang dari pandanganku. Aku ingin mencoba berpaling, tapi sepertinya tubuhku sudah tidak bisa kuatur semudah dulu lagi.

Dan saat itulah, pandangan kami bertemu.

Aku tersentak begitu pula dia. Kedua mata kami saling membulat, lalu tak lama kemudian kami saling membuang muka. Untunglah tidak ada yang menyadari gelagat anehku, namun Sakura... teman-temannya langsung menanyainya ada apa. Dia terlihat bingung menjawab bagaimana tapi akhirnya dia menjawab tidak ada apa-apa dengan senyum kaku. Dasar bodoh. Sakura memang tidak pernah bisa menyembunyikan emosinya.

Saat ini, aku sendiri sedang merasa tegang. Bayangan kaca jendela di sampingku membuatku bisa melihat ada semburat merah yang sangat tipis di pipiku. Keringat dingin mengalir di pelipisku. Benar-benar aneh dan gila. Aku tidak pernah menyangka dalam hidupku, aku juga akan mengalami perasaan ini. Sepertinya aku tidak bisa lagi mengejek Itachi yang terlalu menyayangi kekasihnya. Karena aku juga—

—tunggu, apa tadi... yang kurasakan?

Kali ini aku tidak bisa lagi menahan gejolak yang menggila di dadaku. Aku menggertakkan gigiku kesal sementara tanganku yang di atas meja memegang dahiku yang terasa nyeri. Aku memejamkan mata mencoba mendalami apakah yang kurasakan ini memang benar adanya. Kutarik napas sedalam yang aku bisa lalu mengeluarkannya. Walaupun di saat setegang ini, aku harus tetap bisa mengendalikan emosiku dengan baik dan menjaga ekspresi di wajahku.

"Hei, ke kantin yuk!" ajakan seseorang disambut baik oleh kumpulan yang berjarak beberapa meter di sampingku. Masih menyangga kepalaku, aku melirik dari ujung mataku saat satu persatu dari kumpulan tadi mulai keluar dari kelas hingga tersisa satu orang.

Sakura menghentikan langkahnya saat akan keluar dari pintu kelas kami. Akhirnya aku melepaskan tangan yang menyangga kepalaku dan kucoba menoleh padanya. Gadis yang memiliki rambut berwarna soft pink tersebut membalikkan tubuhnya hingga kami kembali bertatapan. Namun tidak seperti di awal, kali ini dia tersenyum lembut padaku.

"Mau... pulang bersama lagi?" tanyanya dari kejauhan dan sedikit berteriak—mengingat tak ada siapapun sekarang di kelas. Semburat merah benar-benar memenuhi pipinya yang putih. Melihat itu, aku mendengus menahan tawa.

Dia sempat menatapku jengkel dan menggembungkan pipinya tapi itu tak lama. Lebih tepatnya setelah aku menyunggingkan senyum tipis dan mengangguk, "Iya." Jawabku singkat—seperti biasa. Kulihat tubuhnya menegang, tapi senyum lepas tak bisa hilang dari wajahnya.

Gadis itu tertawa kecil membuatku menatapnya bingung. Setelah selesai tertawa, aku bisa melihat semburat merahnya yang semakin jelas. Dia mengangkat tangannya dan melambai padaku. Kubalas gerakannya itu dengan anggukan dan senyum tipis yang anehnya belum hilang dari wajahku. Kemudian dia berlari cepat keluar kelas. Sepertinya menyusul teman-temannya ke kantin.

Aku kembali menatap keluar dari kaca jendela dan berpikir. Saat ini, memang belum ada yang tahu tentang hubunganku dan gadis tersebut. Bukannya aku ingin mereka tahu, tapi aku penasaran dengan reaksi mereka setelah mengetahui hubungan ini. Dan aku yakin semua tidak akan berjalan dengan mudah.

Kalau itu terjadi... apa yang akan kulakukan?

Mengingat bagaimana aku menjadikannya kekasih tanpa alasan yang jelas...

#

.

.

.

#

Akhirnya bel pelajaran terakhir dibunyikan. Semua anak di kelasku bersorak gembira—mengabaikan guru di depan kelas mereka yang terlihat mendengus kesal. Saat guru itu keluar dari kelas dan mengucapkan salam, anak-anak langsung berdiri dan membereskan tasnya masing-masing, sementara aku masih duduk di tempatku dengan tenang. Sampai suara seseorang menggebrak meja membuat kegiatan dalam kelas ini terhenti.

Aku menoleh dan mengernyitkan alisku melihat meja yang digebrak itu ternyata meja Sakura. Lalu anak-anak perempuan yang menggebrak meja itu bukan dari kelas kami. Mereka...

"Jadi kau, yang bernama Haruno Sakura?" tanya salah satu dari lima perempuan aneh tersebut. Sakura membalas tatapan sangar mereka dengan tatapan bingung lalu mengangguk pelan.

Dari bisikan-bisikan yang berada di sekitarku, aku bisa mengetahui mereka adalah perempuan-perempuan kaya dan terkenal di SMA Konoha ini—well, bisa dibilang mungkin hanya aku yang tidak mengetahui mereka tapi aku tetap tidak peduli. Kenal atau tidak, mereka tidak akan memberi perubahan dalam hidupku.

Gadis berambut soft pink tersebut menutup resleting tasnya saat seseorang dari mereka kembali bertanya, "Kemarin... kami melihatmu bersama Sasuke-kun sepulang sekolah," Sakura menghentikan gerakannya. Wajahnya terlihat tegang, begitu pula aku, "apa hubunganmu dengannya?" tanya mereka lagi.

Tanpa sadar, aku mengepal tanganku di bawah meja. Anak-anak di kelas ini langsung menatapku dan Sakura secara bergantian. Dari semua cara yang ada untuk memberi tahu hal ini pada semuanya, kenapa harus melewati cara seperti ini? Aku menggertakkan gigiku dari balik bibir. Sakura terlihat menunduk, tapi aku tahu kedua bola matanya melirik takut padaku.

Aku memejamkan mata, mencoba menahan diri untuk tidak meledak di sini. Dengan sikap seperti biasa, aku mengambil tas dan berdiri dari kursiku. Suara kursi yang digeser bergema di dalam ruangan kelas ini, membuat semua perhatian tertuju padaku. Namun sekali lagi, aku tidak peduli. Suasana yang sepi ini membuat suara langkah kakiku terdengar mengeras saat aku menuju pintu kelas. Mata-mata sialan itu sama sekali tidak teralihkan dari tubuhku yang sedang berjalan, membuatku semakin kesal saja.

Langkahku terhenti saat salah satu dari para perempuan gila itu menarik lenganku. Enggan untuk menoleh, aku hanya melirik dari ujung mataku, "Bagaimana kalau kau juga memberi jawaban yang jelas pada kami, Sasuke-kun?" tatapan sinisku seketika membuat gadis itu tersentak dan langsung melepaskan lenganku dengan tangan bergetar. Seandainya laki-laki diperbolehkan memukul perempuan, mungkin sudah sedari tadi aku membuat perempuan ini kehilangan senyum menjijikkan miliknya itu.

Sakura terus menatapku dari kejauhan. Aku tahu dari tatapannya, dia juga mengharapkan jawaban yang jelas dariku. Tapi aku... entahlah, aku juga bingung dengan diriku sendiri. Aku memejamkan mata dan kembali menghadap depan, "Menurut kalian sendiri bagaimana?" pertanyaan yang keluar dari mulutku membuat murid-murid yang lain saling berbisik, "Apa aku terlihat... menjalin hubungan yang spesial dengannya? Apa kami memang cocok untuk itu? Kalian sendiri tahu, sifatku dan Haruno-san bertolak belakang."

Kata-kata itu keluar sendiri tanpa bisa kucegah. Saat ini aku sendiri tidak tahu bagaimana ekspresi yang dipasang Sakura mengingat posisiku yang membelakanginya. Tak lama kemudian, aku bisa merasakan telingaku memanas mendengar komentar-komentar setelah ucapanku.

"Sasuke-kun benar... mana mungkin dia berpacaran dengan Sakura."

"Iya juga, Sasukeitu pendiam dan sepertinya tidak suka keramaian. Sedangkan Sakura justru tidak tahan dengan semua itu, dia kan cerewet."

"Bisa-bisa Sasuke meledak jika mendengar Sakura terus-terusan berbicara di sampingnya."

"Kau benar juga! Kasihan juga Sakura kalau dia pacaran dengan Sasuke, semua kata-katanya tidak akan ditanggapi!"

"Sasuke sih tidak pernah peduli pada siapapun, lebih baik Sakura-chan sama aku saja! Aku jauh lebih pengertian daripada laki-laki seperti dia hahaha."

Dalam diam, aku kembali melangkah keluar dari kelas yang menyesakkan itu. Ekspresi yang kupasang memang memang terlihat biasa saja, tapi mereka tidak tahu bagaimana ekspresiku dari dalam. Aku mencengkram erat lengan tas yang kupautkan di bahuku.

Aku menuruni tangga sekolah, hingga akhirnya aku berhenti di pertengahan tangga tersebut. Kusandarkan diriku pada tembok di sampingku. Kupejamkan mata lalu tanganku bergerak untuk menutup kedua mataku. Kesal. Rasanya kesal sekali. Beda dari sebelumnya kali ini dadaku terasa sesak dan aku tidak mengerti kenapa. Perlahan tapi pasti tubuhku bergerak turun hingga aku duduk menyandar pada tembok. Kuhelakan napas keras-keras sebelum akhirnya aku menggumam.

"...Bodoh."

.

.

.

To be Continued

.

.

.

Terima kasih pada semua readers yang telah mereview fic kami :)