Ada aroma manis yang menghipnotisnya sampai kedepan pintu ini—sebuah ruangan di toilet yang bertuliskan 'alat penyimpanan barang' di depan pintunya.
Tubuhnya menegang, tangannya terhenti diudara ketika hendak mengetuk pintu itu. Ia menelan salivanya yang terasa mengental dan sulit untuk melewati kerongkongannya, ia tidak yakin untuk mengetuk pintu itu dan bertanya.
Tookk tookk— namun akhirnya ia melakukannya
"A—ada orang disini?"
Tubuhnya mulai bereaksi; mendorongnya untuk membuka pintu itu tanpa permisi saat ia tak mendapat jawaban apapun. Ia menekan gagang pintu itu hingga pintu itu terbuka—
Hidungnya mendengus mengendus aroma pekat, tepat setelah pintu itu terbuka.
"K—kau—"
Pupil matanya melebar sesaat setelah melihat seseorang tengah bersimpuh di lantai tak berdaya. Wajahnya memerah, peluh membanjiri lehernya dan tubuhnya bergetar, mata sayunya berair menatapnya meminta belas kasih.
"Tolong aku" bibir kecilnya bergerak.
Chanyeol mengepalkan tangannya, buku buku jemarinya memutih. Semakin lama ia menatap sosok lemah itu semakin lama gejolak didalam dirinya mendorongnya untuk mendekat. Ia tidak mengerti apa yang tengah mencemari otaknya, namun ia berjalan mendekat, mendekap sosok itu kedalam pelukannya, sosok asing itu membalasnya dengan mencengkeram erat lengannya.
Ia menyadari ia telah melanggar ikrar nya, tetapi sosok ini sedang membutuhkan bantuan. Ia tidak bisa menutup mata akan hal itu bahwa mungkin hanya dirinya satu satunya orang yang bisa menolongnya.
.
.
Chapter 2
.
PLEASE LEAVE UR REVIEW AFTER READ!
.
Bahasa ancur bgt, ditengah tengah otak blank, jd harap maklumi :v
.
Typo is my style..
.
Omegaverse (CXB)
.
.
Chanyeol membelalakan matanya seraya mendongak takut kearah baekhyun. Sesuatu yang dingin menyentuh dahinya, tubuhnya bergetar—ia menggeram, berniat melawan namun ia tak berdaya saat ini. Satu tarikan pelatuk, timah panas akan menembus kepalanya jika ia bertindak gegabah.
Wajah arogan itu menatapnya puas tanpa ekspresi—ia marah, mungkin? Atau tidak.
"Tetap disitu, atau aku akan menghancurkan kepalamu"
Chanyeol mendengus, membuang muka. Ia benar benar tak bisa berbuat apa apa, ia bersimpuh dilantai dengan kedua lututnya yang menyentuh lantai dingin itu. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia bagaikan seekor anjing yang hanya bisa menuruti perintah tuannya.
.
"Hey"
Chanyeol mendongak terpaksa; baekhyun menarik kasar rantai yang terhubung pada kalung di lehernya , sehingga mau tidak mau ia kembali menatap wajah familiar itu. Matanya sayu, ia merasa sangat lelah dan pening, namun ia tidak bisa tertidur dalam situasi seperti ini. Hidungnya mendengus terganggu sesekali, feromon omega yang tercium semakin kuat mungkin ikut berkontribusi.
Stigma yang melekat pada kepalanya tentang baekhyun semakin bertambah kuat. Mungkin baekhyun adalah satu satunya orang yang akan chanyeol benci kelak.
"Caramu menginginkanku sungguh buruk" chanyeol menyeringai.
Baekhyun ikut menyeringai, ia menarik lebih kasar rantai itu sehingga chanyeol terbatuk merasa tercekik.
"Oh begitu yah" balasnya
Dagunya bertumpu pada telapak tangannya, dengan ekspresi tak biasa baekhyun menatapnya tajam, sedetik kemudian ia tersenyum.
.
"Hhaah..ahh~"
Bibir manisnya melengkungkan senyuman penuh kepuasan, tangannya bermain mengacak rambut chanyeol ketika bibir chanyeol bergerak menggoda penisnya yang masih tertutupi celana dalam ketat itu. Kakinya bertumpu manis di bahu tegap sang alpha, membiarkan selangkangannya terbuka lebar.
"Uungghh—"
Dadanya membusung kemudian ia tertawa.
"Cukup—"
Chanyeol menatapnya penuh tanya, matanya mendelik kedua kaki baekhyun yang kembali bersatu— menutup pemandangan indah dibaliknya. Ia kemudian beranjak, bergema dengan suara ketukan sepatu.
Ia menyimpan benda metal berbahaya yang sedari tadi setia berada ditangannya di atas nakas lalu mengambil sebuah benda panjang dari dalam lacinya. Baekhyun menatapnya, tanpa kata memerintahkannya untuk berjengket dan duduk di tepi ranjang. Ia berdiri dengan angkuhnya di hadapan chanyeol, menepuk nepuk leather whip di telapak tangannya —tersenyum amat sangat puas, seakan ia telah mengenggam apa yang telah ia perjuangkan susah payah.
"Sepertinya sesuatu sedang menganggumu" baekhyun mendelik kearah selangkangan chanyeol.
Ia duduk diantara kedua paha chanyeol, sesuatu sudah mulai keras di balik celananya, baekhyun sadar. Ia tidak mau buru-buru, ia perlu permainan, sedikit penyiksaan akan menyenangkan. Chanyeol membalasnya dengan senyum picik.
Baekhyun menarik dagu chanyeol, membiarkan lidahnya perlahan menjilati belahan bibirnya. Sesuatu dalam hatinya meletup, mendorongnya untuk membuka mulutnya, membiarkan lidah hangat itu menjamah rongga mulutnya. Hingga pertarungan atas dominasi antar benda tak bertulang itu tak bisa terelakan.
Sementara chanyeol terbuai dalam ciuman panas itu, satu tangan baekhyun bergerak nakal membuka resleting celana chanyeol. Meraba tonjolan keras itu dengan telapak tangannya, merasa bagian privatnya disentuh chanyeol menarik bibirnya menjauh dan melengguh kecil.
Chanyeol menatapnya tak suka, seolah ia ingin berkata; jangan main main.
Baekhyun terkikik geli, hatinya merasa puas, merasa sangat senang melihat wajah tersiksa itu.
.
.
Menyenangkan rasanya bisa melihat seseorang yang kau cintai kini tampak tak berdaya di hadapanmu sama sekali—itulah yang baekhyun pikirkan saat ini. Perasaan dalam dirinya bergejolak menginginkannya lagi dan lagi; melihat chanyeol kewalahan dengan sesuatu yang sudah ia tahan sejak lama.
Wajah pria itu memerah, bukan karena marah, melainkan dirinya terus menahan hasratnya sejak tadi. Kedua tangannya terikat keatas dengan metal handcuffs yang tersambung dengan tiang tempat tidur. Baekhyun duduk di antara kedua pahanya, ia bahkan sudah tak mampu untuk melayani setiap kata kata yang dilontarkan baekhyun padanya.
Jadi chanyeol hanya diam, pasrah, membiarkan dirinya dilecehkan begitu saja.
Kejantanannya terlepas dari sangkarnya, sudah tegak sempurna. Ujung whip yang pipih itu menyentuh mulai dari pipinya, leher, dada, abdomennya sampai ke kepala penisnya yang basah—chanyeol mendesis.
Mendengar itu baekhyun merasakan euphoria luar biasa yang tiada henti menggelitik hatinya. Seorang alpha kini ada dibawah kendalinya, itu tentu menjadi kebangaannya tersendiri.
"Kau hebat" ucap baekhyun seraya menatap chanyeol merendah
Ujung whip itu terus bergerak dari kepala menuju batang, desahan kecil chanyeol lolos kala itu, Baekhyun menyeringai seraya menarik narik rantai di tangannya.
"Aku akan membunuhmu setelah ini" geram chanyeol murka.
"Setelah aku yakin ini selesai" baekhyun membalasnya dengan tawa geli.
Dirasa sudah terlalu lama mempermainkan chanyeol, baekhyun meraih penis tegak itu dengan tangannya—dibalas lengguhan oleh sang pemilik. Ia menekan ujung penis basah itu dengan ibu jarinya lalu menekannya lembut. Ia mendelik sebentar kearah chanyeol yang kini tengah mati matian mengatur nafasnya, matanya terpejam erat, urat urat disekitar lehernya bermunculan.
Sejenak baekhyun membuang egonya, dengan cepat dilahapnya penis tegak itu kedalam mulutnya. Lidahnya dengan cekatan menyambut ujung penis itu, menjilatinya layaknya seperti permen lolipop.
"Eukkhh—" chanyeol mendongak, menutup matanya erat, nafasnya bergemuruh.
Baekhyun buruk dalam hal ini, ia harus diajari lain kali.
Baekhyun menyadari chanyeol tak meresponnya lebih selain desus san lembut yang keluar dari mulutnya, ia tidak terlalu handal melakukan hal ini. Ini adalah pertama kalinya, maka baekhyun terus mencoba mencari cara agar sang pemilik bisa meresponnya lebih.
Lidahnya kembali menjilati batang penis itu, sesekali naik ke ujungnya lalu menggerakan lidahnya memutari daerah itu. Salivanya berlomba keluar melubrikasi benda itu, kemudian mengulumnya lagi. Menyentuh setiap inci menggunakan lidahnya.
"Akhh!" chanyeol memekik, baekhyun belajar sagat baik.
Ia mulai merasa terbiasa dengan cara baekhyun memanjakan penisnya, sedikit menyakitkan ketika gigi giginya menggesek kasar permukaannya namun nikmat.
"Haa~" baekhyun segera menarik kepalanya, meninggalkan benang saliva yang terhubung dari bibir ke kepala penis merah itu.
Sepenuhnya ia mendapat erangan penuh kekecewaan dari chanyeol.
Sedikit lagi, dan chanyeol bisa mencapai klimaksnya. Tetapi sebelum itu terjadi baekhyun memutuskan menyudahi aksi blow jobnya. Sadar chanyeol merasa gusar atas aksinya, baekhyun merangkak naik ketubuh chanyeol.
"Ah aku yakin kau kecewa" ucapnya membelai wajah chanyeol yang sudah berkeringat.
Chanyeol menggeram, giginya bergemeretak, matanya memicing tajam kepada sosok dihadapannya.
"Sedikit penyiksaan akan lebih menyenangkan, kan?"
"Kurang ajar" balas chanyeol pelan.
Baekhyun membalasnya dengan senyuman manis, kedua tangannya bertumpu pada dada bidang chanyeol, pinggulnya ia angkat sedikit keatas. Mempertemukan miliknya yang masih tersembunyi di balik pakaiannya dengan milik chanyeol yang kini sudah memerah.
"Eeumhh—aakhh"
Keduanya mendesah sesaat kedua benda itu bertemu saling menggesek satu sama lain. Baekhyun tahu ini bodoh, dirinya mungkin akan semakin tidak terkendali, tetapi ia tetap melakukannya. Gesekan yang semakin intens, baekhyun melengguh nikmat atas perbuatannya sendiri.
"Eukkhh anhh ahh~" ia mulai tidak bisa mengendalikan diri.
Ia memeluk leher chanyeol erat, ia masih senantiasa membiarkan itu saling menggoda satu sama lain. Chanyeol menghela nafasnya, hidungnya mengendus leher baekhyun, menciumi feromon khas milik baekhyun. Sesekali lidahnya terulur menjilati daerah leher baekhyun yang tidak tertutupi kain.
Feromon nya adalah yang terbaik
"Aahh haa ha... Chanhyeol~"
Baekhyun menatapnya, matanya sayu, tidak seperti sebelumnya. Ia menjulurkan lidahnya, mengisyaratkan bahwa ia menginginkam sentuhan lainnya, dengan segera ia menyambut lidah itu dengan bibirnya, mengulumnya hingga berakhir pada ciuman panas yang basah.
.
"U—ummhh ahh—!"
Baekhyun mendongak keatas, tubuhnya bergetar merasakan sensasi jemarinya sendiri yang mengaduk lubang analnya. Kedua kakinya ia buka lebar lebar, memberikan akses tontonan yang lebih leluasa pada chanyeol.
"Nnhh hhaa haa..." irisnya kembali menatap chanyeol.
Bibir merahnya mengulas satu seringai ketika melihat ekspresi chanyeol yang tidak karuan; antara membenci tapi juga menikmati. Benar, chanyeol terlau munafik.
Selesai bermain dengan vibrator kecilnya baekhyun membuat tontonan yang baru, yaitu seperti apa yang tengah ia lakukan saat ini; menyentuh dirinya sendiri, meski rasanya tidak puas dan aneh tapi baekhyun berakting seakan ia menikmatinya. Semua itu lakukan hanya untuk memancing nafsu dalam diri chanyeol.
"Hhaa...kenapa hhaa ahh..chanyeol?"
Chanyeol membuang mukanya, mukanya sudah sangat merah sekali. Penisnya sudah kembali tegang sejak baekhyun mulai menyentuh dirinya sendiri dengan sengaja di hadapannya. Terlalu panas, ia tak menyangka baekhyun akan melakukannya.
"Uughh aakhhh!" desahannya semakin menjadi kala satu tangannya yang lain menyentuh nipplenya di balik kemeja putih itu.
Chanyeol lagi lagi mendengus; ia bisa melakukan lebih baik dari itu.
"Eungghh mhhh mhh...haa..nnhh.."
Chanyeol kembali berfokus pada jemari baekhyun yang semakin kencang bergerak di lubang analnya, mendengar desahan baekhyun ia yakin baekhyun sudah menemukan titik terdalamnya. Di tatapnya wajah baekhyun, dadanya membusung, mulutnya terbuka, rambut silvernya sudah tidak tertata lagi seperti sebelumnya, sangat seksi. Tanpa sadar chanyeol menjilati bibirnya.
Ia ingin merasakan lagi kehangatan tubuh itu.
"Hhnnhh! Aahhh!—"
Baekhyun berhasil menggapai klimaksnya, ia tersenyum puas. Perlahan lahan ia merangkak lagi ketubuh chanyeol, sambil menjilati lehernya baekhyun berbisik—
"Bagaimana hm?"
.
.
"Hey chanyeol.."
Chanyeol sekali lagi menatap nyalang mata indah itu, baekhyun tersenyum maniak. Matanya sayu cukup untuk menyampaikan sebuah determinasi dalam dirinya.
Baekhyun mengangkat pinggulnya sedikit keatas, satu tanganya mengenggam batang milik chanyeol, memposisikan agar benda berurat itu tepat masuk pada sasarannya. Kemudian dengan hati hati ia mendorongnya masuk kedalam lubang analnya.
"Hnn!"
Baekhyun refleks menyeringai saat indera pendengarannya menangkap suara desahan yang tertahan, ia tersenyum menatap wajah frustrasi orang di bawahnya. Ia kembali mendorong benda itu masuk lebih dalam, tubuhnya bisa memproduksi cairan yang bisa membantunya memberi pelumas agar benda tegak itu bisa masuk dengan mudah, beruntunglah ia dilahirkan sebagai omega yang punya banyak kelebihan ditubuhnya.
"Eeuukhh—" keduanya mengerang bersamaan ketika benda itu bersarang sepenuhnya dalam lubang milik baekhyun.
Baekhyun mengambil nafas panjang, ditatapnya chanyeol yang juga melakukan hal sama. Kembali ia menunjukan wajah angkuhnya sambil menjilati bibirnya, jemarinya bergerak membuka satu per satu kancing kemeja yang dipakainya.
"Ssuuhh.. tahan sebentar" ucap baekhyun, menyentuh belah bibir chanyeol dengan jari telunjuknya.
Mengisyaratkan pada chanyeol untuk diam. Chanyeol bergeming meskipun ia sudah tidak sabar untuk mengoyak habis tubuh di hadapannya.
Perlahan lahan baekhyun menggerakan pinggulnya turun naik.
"Heeutthh aammhh~" baekhyun mendesah kecil, namun masih bisa tertangkap jelas oleh telinga rekannya.
Baekhyun mendelik pada chanyeol, ia sedikit membungkukkan tubuhnya. Membusungkan dadanya pada wajah chanyeol yang tidak karuan.
"Kauhh.. Bisa kan?" tanya baekhyun lalu mendesis.
Chanyeol yang memahami maksud baekhyun tak menjawab dengan kata namun dengan aksi. Ia menjulurkan lidahnya ke salah satu nipple baekhyun yang mengeras, ia bergerak memutarinya memberikan gigitan gigitan kecil disana yang kemudian di respon oleh erangan oleh baekhyun.
"Hhaa~ aakhhh sshhh!"
Baekhyun mendesah keras, pinggulnya bergerak semakin cepat setelah ia menemukan titik di dalam tubuh nya.
"Aakkhh—" chanyeol mengerang frustrasi, jujur saja gerakan baekhyun terlalu lamban.
"Eummhh? Kenapahh hhaa...chanyeolhh huu—aakh!"
"Kau bisa melakukan lebih baik dari ini?" tanya chanyeol.
Gerakan pinggul baekhyun terhenti hanya untuk menunjukan seringai khasnya. Ia kemudian membenahi posisinya, satu tangannya bertumpu di dada bidang chanyeol, kemudian tanpa aba aba ia kembali bergerak, mendorong penis itu kedalam tubuhnya lebih dalam.
"Uukhh euutthh ahh!"
"Hhaa—mmhh..."
"Aahh ahhh.. Chanyeollhh chanyeollhh!"
Baekhyun membuka matanya yang terpejam, dengan sengaja memasukkan kedua jarinya kedalam mulutnya, menjilatinya sampai basah hingga tak sadar salivanya menetes ke dagunya. Ia menggerling menggoda insan di bawahnya tanpa henti. Chanyeol menatapnya intens, enggan berkedip, enggan menyia nyiakan sedikitpun adegan erotis di hadapannya.
Katakan saja ia gila sekarang, satu perasaan yang sebelumnya chanyeol sanggah keras keras kini muncul hanya karena aksi gila orang yang kini telah ia setubuhi.
"Hhmmphh! Aahh! Heeuuthh..hhaa..ahh!"
"Hheuumhh!"
" —uukhh hha haa~"
Mata baekhyun bergerak keatas, mulutnya terbuka lebar, tangannya yang semula berada di dalam mulutnya kini berpindah mengocok cepat penisnya sendiri. Sedangkan itu chanyeol mengigit bibirnya, penisnya terasa di jepit keras, pertanda bahwa omega itu sebentar lagi akan mencapai klimaksnya—dan tanpa menunggu lama baekhyun menjerit puas.
"Aaakhhh! Hhmmph..haa~"
Ia tampak lelah tetapi sorot matanya masih menantang pada chanyeol. Menyadari bahwa ini adalah kesempatan yang bagus untuk bernegosiasi chanyeol mulai membuka mulutnya.
"Lepaskan aku maka aku bisa memberimu lebih"
Baekhyun menarik satu alisnya keatas, "aku yakin kau akan membunuhku" matanya mendelik ke arah pistol hitam yang tergeletak di nakas.
"Kau bisa membunuhku lebih dulu jika aku melakukan perlawanan padamu, deal?"
Baekhyun menatapnya skeptis, namun akhirnya ia tersenyum tipis.
"Deal"
.
.
Tangan baekhyun bergetar, suaranya menggeram, ia menatap tajam pada chanyeol. Tubuhnya terasa lemas sekali, ia sedang dalam masa heatnya, ia juga tidak punya banyak kekuatan untuk melawan.
Sial!
Ia tidak menyangka chanyeol seperti seekor rubah licik. Ia bisa membalikkan keadaan dengan cepat, bodoh! Kenapa ia bisa dengan mudah menyetujui negosiasi tadi!?
"Hey, tatap aku"
"Eukh!" baekhyun mendongak ketika rantai yang tersambung pada lehernya ditarik tarik oleh chanyeol.
"Kau menginginkanku kan?"
Baekhyun menyeringai membalas senyuman chanyeol, ia tidak boleh tampak lemah.
Ia menjilat bibirnya sekilas sambil merangkak mendekati chanyeol, "kau tahu itu kan?"
Chanyeol mendengus, ia kemudian menarik dagu baekhyun membawa wajahnya mendekat.
"Kalau begitu—" ia mengusap pipi baekhyun lembut.
"Dapatkan apa yang kau inginkan!" lalu dengan kasar ia mendorong kepala baekhyun ke selangkangannya.
Chanyeol menarik lehernya kasar, memaksa baekhyun untuk membuka mulutnya, dan tanpa perasaan ia mendorong penisnya masuk kedalam mulut baekhyun.
"Well...kau hampir mendapatkannya"
Chanyeol tertawa, ia bisa mendengarkan tawa penuh kepuasaan. Air matanya mengalir saat chanyeol mulai menarik kasar rambutnya lalu menggerakan kepalanya maju mundur.
"Aahh~ yeah~ kau akan mendapatkannya baekhyun"
"Uunghh!"
Baekhyun meronta ketika chanyeol memaksanya untuk melakukan deep throat.
"Ahh—bukankah ini yang kau inginkan hhngg!"
Baekhyun menangis, bukan ini, ini terlalu kasar. Tubuhnya mungkin tidak mampu bertahan lebih lama jika caranya seperti ini.
Ploop—
"Uhukk! Uhukk!—"
"Kau menangis huh?"
Baekhyun mendelik, menyeka air matanya cepat.
"Kau ingin membunuhku?"
"Kau akan mati dalam kenikmatan byun baekhyun"
Srrett—
"Ah!"
Dengan cekatan chanyeol mendorong tubuh baekhyun dan menindihnya, mengunci pergerakan kedua tangan baekhyun. Baekhyun termangu sesaat, mata chanyeol berkilat, menyiratkan amarah yang terbentang di dalam dirinya. Amarah dan nafsu yang beraduk jadi satu membuat akal sehatnya menguap begitu saja.
Ada rasa takut dihatinya, tapi ia tidak boleh gentar menghadapi chanyeol meskipun keadaannya sedang terjepit saat ini.
"Chan—uuaakkhh! Akhh!"
Baekhyun menjerit sejadinya bersamaan dengan penis chanyeol yang membobol analnya begitu saja
"Ssuuhh, jangan berisik, aku sedang berusaha membuahimu"
Kepala baekhyun menggeleng, ia masih waras.
"Eeuumhh...nnahh ahh..j—janganh hhaa janganhh janganhh!"
Chanyeol bergeming, kepalanya menunduk menciumi kedua mata baekhyun yang berarir, perlahan lahan bergerak hingga berhenti di ceruk leher baekhyun, menciumnya dan mengendusnya. Menikmati feromon yang di produksi tubuh hangat baekhyun.
"Hhaa hhaa eeuuthh...aannghh~"
Kedua kakinya bergerak gelisah ketika chanyeol mulai menggerakan pinggulnya dengan irama cepat, ia ingin melawan, ia tidak bisa membiarkan chanyeol keluar di dalam tubuhnya untuk yang kedua kalinya. Ia belum siap—
"Hhaa~ baekhyunhh baekhyunhh ukhh"
"Mmnnghh— aahh...haah...lebih cepathh aahh...lagihh nghh—"
Tubuh baekhyun menggelinjang atas kenikmatan yang tiada tara, mengkontaminasi otak warasnya yang semula bekerja. Kedua tangannya yang kini terlepas bebas mengalung di leher chanyeol. Menarik kepala lelaki itu menenggelamkannya di antara bahu dan lehernya.
"Aahh..akuhh—hhumm..akuhh mencintaimuhh chanyeolhh.. Miliki akuhh.. kkhh—!"
"Tsk!"
Graap!
"Eekh!"
Baekhyun membuka matanya lebar lebar, rasa perih menyerbu bagian tengkuknya. Ia bisa merasakan gigi gigi chanyeol menancap di atas kulitnya—chanyeol menandainya. Selang tak lama kemudian lidah chanyeol menjilati area itu, membasahinya, mengecap cairan kental berbau anyir disekitar sana.
"Uunggh! Aanhh aah~"
Kedua manik mata itu saling beradu pandang sesaat sebelum chanyeol mengalihkan pandangannya.
"Eukhh ahh.. Katakan kauhh ingin lebih.."
"Lagiihh uuhh—sshhaa ahh akkuhh inginhh hhuu—lebihh cepath"
"Hheeh...rasakan peniskuhh.."
"Hhaa! Nyyaahh ahh! Ukhh... Oohh ahh ahh "
Chanyeol menggerakan pinggulnya, menginvasi liang itu semakin kasar dan cepat. Baekhyun memeluk tubuhnya erat ketika dirasa ia hampir mencapai puncaknya.
.
"Jadi...sekarang, siapa yang menginginkan siapa?" baekhyun tesenyum picik, menatap harass ke arah lawan bicaranya.
Chanyeol terdengar menghela nafas kasar, alisnya bertautan menandakan bahwa ia tidak menyukai gaya bicara itu. Ia menekan pergelangan tangan baekhyun diatas cermin di belakang tubuh sang omega, baekhyun mendesis kecil.
"Berbalik" ucap chanyeol dingin, baekhyun mengernyit tetapi sebelum ia berkata lagi chanyeol sudah menarik tubuhnya, memutar tubuhnya hingga kini tubuhnya berhadapan dengan cermin di lemari besar itu.
Chanyeol menatapnya dari cermin, ia tersenyun nakal sebelum akhirnya bibirnya bergerak mengecup bahu dan lehernya.
"Kau menyukai ini?" tanya baekhyun seraya menatap pantulan dirinya dalam cermin.
Penampilannya sangat berantakan, rambutnya sudah tidak lagi tertata rapih, kemeja putihnya tampak lusuh dan kusut, stocking hitamnya sudah kotor oleh cairan sperma. Iris coklat gelap miliknya mendelik kearah kakinya yang kembali terbalut stiletto merah itu.
Sexy—
"Dasar jalang" cibir chanyeol lalu menarik pinggul baekhyun dan menekan punggungnya memerintahkannya untuk sedikit membungkuk.
"A—ammhh!—"
Baekhyun tertawa kecil ketika merasakan jemari chanyeol kembali bermain di dalam lubang analnya, refleks pinggulnya ia goyangkan sedikit seraya mendesah kecil.
"Lagihh... humm? Kauhh hha—belum puas shh?"
Pria alpha itu tak menjawab, ia lebih fokus pada permainan jarinya. Mendorongnya kuat, menggerakan kukunya didalam sana hingga baekhyun membalasnya dengan erangan kecil.
"Oouhh—ggaahh...anghh..chanyeol cukuphh"
Chanyeol tersenyum miring, lidahnya kembali menjilati cuping baekhyun sambil berbisik, "memohonlah untukku"
"Hhmhh...chanyeolhh akuh—hhaa akuh mohonhh..akuhh ingin penismuhh.."
"Apa? Aku tidak dengar, omega"
Satu tangan baekhyun bergerak ke belakang, menggeranyam ke perut chanyeol lalu turun semakin ke bawah.
"Masukan—masukan hmh..penishh besarmu akh!" desahnya sambil mengocok penis besar milik chanyeol.
Ia tersenyum puas mendengar kalimat itu, lantas ia mencabut jemarinya dari lubang anal baekhyun, mengocok sebentar penisnya lalu mendorongnya perlahan memasuki pintu masuk anal baekhyun yang memerah.
"Hhaaa~!"
Jleb!
"Aahh..aku mulai"
Baekhyun mengangguk, ia bersiap, membuka kakinya lebih lebar. Kedua tangannya bertumpu pada permukaan cermin itu, bersiap untuk menghadapi hentakan luar biasa dari arah belakangnya.
"Hhngg! Sshh..hha..a—aahh!"
Pinggul chanyeol mulai bergerak maju mundur, semakin lama ritmenya mulai bertambah cepat dan semakin cepat lagi. Hingga baekhyun menggeliat saat merasakan aneh di sekitar perutnya, ia membuka matanya lebar, mencoba menangkap siluet sosok chanyeol dari pantulan cermin.
"Aahh! J—janganhh eummhh..terlaluhh..hhaa! Dalamhh!"
"Kenapa hm?" goda chanyeol.
Baekhyun menggeleng gelengkan kepalanya, jemarinya mengepal keras, kedua kakinya juga gemetaran hebat.
"A—anehh..huunghh!... Akuhh—kkhh..heuuthh—"
Plak!
"Aakhh!"
Tamparan telak ia terima di bagian pantatnya lalu chanyeol meremasnya gemas.
"Kauhh.. Berkata tidak tapi tubuhmu berkata iya, hmph! Munafik"
"Hhaammh!"
Baekhyun menjerit, chanyeol menarik kedua tangannya ke belakang hingga mau tak mau kini tubuh baekhyun berdiri tegak sedangkan chanyeol masih tetap menggenjot lubangnya.
"Lihat tubuhmu sekarang, kau jelas menyukainya ketika aku memasukimu lebih dalam"
Mata sayunya terbuka sedikit, mengintip sedikit siluet tubuhnya di dalam cermin. Lidahnya terulur keluar meneteskan salivanya ke lantai, wajahnya merah padam, dan ia juga dapat melihat dengan jelas penisnya yang mengacung sempurna keatas.
"Hheummphh! Hhu—ukkh ahhh..chanyeolhh ah ah"
"Katakan kau menyukainya baek"
"Ummh...akuhh—akkuhh sukahh ahh..yahh lagihh ahh..lebih dalamhh oohh ohh!"
Chanyeol tertawa puas, digerakannya pinnggulnya lebih cepat lagi sampai baekhyun tak kuasa menahan desahannya.
"Hhuuhh baekhyunhh—"
"Aanghh unnhh~ sshh..ouhh lagiihh..terushh ahh"
Chnyeol membuka matanya, ide jahil terlintas dibenaknya. Sontak ia melepaskan tangan baekhyun, dicabutnya penis itu dari lubang anal baekhyun. Baekhyun yang lemas refleks ambruk ke lantai, ia berbalik menatap tak suka pada chanyeol.
"Apa yang kau lakukan!"
Matanya berkilat marah tetapi sedetik kemudian kilatan matanya mereda setelah melihat chanyeol mengocok penisnya sendiri didepan wajahnya.
"Buka mulutmu"
Pria manis itu memberikan seringainya sebelum menurut, bersiap di bawah selangkangan chanyeol. Kepalanya mendongak, mulutnya terbuka dengan lidah yang terulur keluar. Tangan kanannya juga bergerak mengocok penisnya sendiri.
Ada rasa senang dihatinya yang tak terkira ketika menatap ekspresi horny baekhyun, ia sudah benar benar gila karenya.
Dua kocokan terakhir lalu—
Croott
Baekhyun mendesah, wajahnya penuh dengan sperma. Sontak lidahnya menjilat cairan sperma di ujung bibirnya lalu menatap chanyeol dengan senyuman penuh arti sembari merapalkan namanya disela desahan lembut.
Malam itu chanyeol merasa bahwa dirinya benar benar tidak berdaya melawan birahinya.
.
.
.
Matanya mengerjap terganggu oleh sinar matahari yang menyusup masuk dibalik tirai besar itu. Ia terbangun dipagi hari dengan perasaan tak menentu, tangannya meraih ruang kosong disampingnya—dingin.
Ia mengusap matanya yang berair, merasakan rasa sakit yang berasal dari lubang lain di dalam hatinya. Ia terisak, memeluk tubuhnya erat, tidak—harusnya ia tidak membiarkan alpha itu pergi. Ia tahu chanyeol tidak akan menepati janjinya karena dirinya tidak di inginkan oleh pria itu.
Baekhyun berjengket, langkahnya terasa hampa, kakinya terasa melayang. Samar samar ia masih bisa mencium feromon khas milik chanyeol menempel pekat di tubuhnya, bercampur dengan miliknya—ah, kepalanya terasa berputar putar.
Ia menyeka air matanya dengan lengan kemejanya, maniknya mendelik, seraya tangannya menggapai perlahan benda metal di atas nakas.
Ia genggam senjata api itu dalam dekapannya, melangkah perlahan dan pasti ke depan cermin. Kepalanya mendongak, menatap refleksi dirinya yang begitu berantakan. Ia tersenyum dengan air mata yang berlinang dari pelupuknya kala melihat tanda yang ditinggalkan di sekitar lehernya; sangat jelas, terisak, sakit. Ia menelan salivanya, mengigit bibirnya keras, perlahan lahan ia mengarahkan moncong pistol itu ke kepalanya dengan tangan yang bergetar hebat.
Tanpa ragu, telunjuknya bersiap menarik pelatuknya.
Sekali lagi ia menatap tubuhnya, menatapnya dengan tatapan jijik, air matanya mengalir deras dari pelupuk indahnya, hingga akhirnya—
Doorr!
.
.
.
.
It's cringe... I know.. I'm sorry.. I've did my best for this :')
Gua tau kalian merasa gk puas, ini kepanjangan dan monoton.. I'm soo sowrryy :'( but i hope u like this one guys, dan semoga ini cukup untuk memenuhi asupan ff chanbaek kalian..
Akar permasalahan chanbaek akan di ceritakan di chap dpn ya, gua kasih sedikit clue di awal biar kalian gk kurang kerung gitu pas baca :( and also, ini kayaknya bakal ada sequelnya. soo gua harap kalian gk kapok untuk menunggu 'sebentar' lagi ya ya ya?
Sekali lagi ku ingin menyampaikan beribu kata maaf, ku sudah berusaha bikin ini jd cerita yg menarik tp nyatanya gua gk jago :') tp shh..ah sudahlah! Hmm last word? See u at the next chapter my beloved readers :*
Baiibaii~
