Disclaimer : Reborn! bukan punya saya.

Warning : mungkin sedikit OOC. HaruHiba


7 Days : Third Year

By Chariot330


Senin

Hibari sangat mengantuk hari ini, entah kenapa. Begitu juga dengan Hibird. Sejak kemarin, burung kecil berwarna kuning itu jarang sekali mengudara ataupun berkicau. Apa ia sakit? Tidak juga, menurut Hibari. Nafsu makan burung kecil itu tetap saja sama; semangkuk biji-bijian kecil dan susu sapi segar tanpa gula. Aneh kan? Semula Hibird hanyalah seekor burung kuning yang memakan biji-bijian tanpa susu. Namun, karena gadis bodoh itu mengajarinya untuk meminum cairan putih yang benar-benar merogoh saku Hibari, Hibird menjadi terbiasa minum minuman aneh itu.

Hibari kemudian melirik sedikit ke arah burung kecil yang sedang tertidur di bahu kanannya.

"Hei,"

Hibari memanggil burung kecil itu. Burung kecil itu—Hibird, sedikit bergetar dan mengepakkan sayapnya pelan.

"kau tidak berpatroli hari ini?"

Hibird malah mengidahkannya dan kembali diam seakan tertidur. Ah, kenapa burung itu? Membuatnya geram saja. Seandainya gadis bodoh itu ada, mungkin Hibird akan mau untuk berpatroli. Namun tidak, gadis itu sedang kerja part-time hari ini. Jadi, tidak akan ada cake jeruk yang bisa menyuap Hibird agar mau kembali bekerja.

Selasa

Hibird masih saja uring-uringan di pundak Hibari. Kalau saja Hibird bukan burung kesayangannya, tidak mungkin lagi dia akan tetap bersantai di pundaknya, mungkin burung itu sudah berada di surga sekarang.

"Hahi? Maafkan Haru desu. Dia terlalu sibuk bekerja dan tidak memperhatikan Hibird-chan desu."

"Dia laki-laki."

Haru malah mengidahkan ucapan Hibari dan mata hazelnya terfokus pada Hibird yang sedang tertidur di pundak Hibari. Haru kemudian mengeluarkan sebuah kotak kertas berwarna pink dari tas kantong yang di bawanya. Dibukanya kotak itu dan tampaklah sebuah shortcake beraroma jeruk. Dengan sangat berhati-hati, Haru memotong ujung kue itu dengan sendok dan mengarahkan potongan kue itu tepat ke arah Hibird. Burung itu kemudian memberikan respon. Sayap kecilnya mulai terkepak, dan ia mulai bersiul pelan. Paruhnya yang berwarna oranye mulai mematuki potongan kue jeruk yang diberikan Haru, membuat Haru terkekeh pelan.

"Hibird-chan, setelah ini pergilah berpatroli desu."

Burung kecil itu kemudian terbang dari pundak Hibari dan mulai bersiul memanggil nama tuannya dan pergi melalui jendela yang terbuka.

"Dasar herbivore bodoh."

"Hahi? Sudah Haru bilang berapa kali, dia bukan herbivore desu. Dia adalah omnivore."

Hibari yang merasa jengkel kemudian pergi ke luar ruang kerjanya, meninggalkan gadis itu sendiri. Pintu dibantingnya dengan keras, membuat gadis itu sedikit terjingkat dan ber'hahi' sepeti biasa. Untuk menghilangkan rasa jengkel yang entah dari mana datangnya, ia memutuskan untuk berpatroli ke Namimori Chuu, mencari herbivore-herbivore bodoh lainnya meski herbivore-herbivore yang menjadi sasarannya kini sudah berada di SMA yang sama dengannya, tidak salah kan untuk mencari herbivore yang dapat menjadi pelampiasan rasa kesalnya?

Tak lama, mungkin sekitar tiga jam kemudian, Hibari sudah kembali ke ruang kerjanya dan terdiam sejenak saat melihat kotak pink yang berada di atas mejanya, bersama selembar note yang diselipkan. Ia kemudian mengambil note itu dan iris keabuannya mulai bergerak menalar setiap huruf yang dibacanya.

Ini cake strawberry desu. Haru membawa ini dari kerja part-timenya.

Semoga Hibari-san suka, karena Haru sendiri yang membuatnya saat dia bekerja desu.

P.S. Hibari-san omnivore juga kan?

Hibari kemudian menyunggingkan bibirnya sambil kembali meletakkan note itu ke atas meja kerjanya.

"Dasar herbivore…mungkin, omnivore?"

Rabu

"Hahi? Apa yang terjadi pada rambutmu, Hibird-chan?"

Burung kecil itu terlihat sangat lemas dan mata hitamnya sedikit mengeluarkan air. Terlihat rambut kepala burung kecil itu sedikit…emm…mengikuti gaya Kusakabe? Dan Haru bisa memastikan burung itu sedikit tidak suka dengan gaya yang diberikan tuannya, itulah sebabnya burung kecil itu sekarang berada di rumah Haru.

Haru kemudian memberikan biji-bijian di atas mangkuk untuk tamu kecilnya itu. Haru tertawa kecil saat melihat rambut burung kecil itu. Karena merasa sedikit geli, Haru sedikit mengelus rambut Hibird yang bergaya seperti Elvis.

"Mungkin Haru harus menambahkan aksesoris kecil pada Hibird-chan ya?"

Tangan mungil Haru kemudian mengambil kotak berwarna merah yang dihiasi pita putih pada tutupnya. Ia tersenyum kecil sambil membuka kotak itu dan mengambil pita berwarna pink yang terkubur dalam pernak-pernik kesayangannya. Pita kecil berwarna pink itu kemudian diikatkan pada rambut Hibird yang bergaya ala Kusakabe sehingga membentuk cepol kecil pada ujung rambut burung kuning itu.

"Kanbeki desu!" (Sempurna!)

Burung kuning itu mengepakkan sayapnya pertanda setuju dan hinggap di atas kepala Haru.

"Hibird suki, Hibird suki." (Hibird suka, Hibird suka)

Kamis

Haru kini berada di ruang kerja Hibari dengan wajah yang mulai memucat. Ia sedikit gemetar melihat pandangan Hibari yang menatapnya tajam seakan berkata 'kami korosu' dan akan memangsanya saat ia lengah.

"Apa maksudnya ini?"

Mata keabuan Hibari melirik sedikit pada burung kuning yang dari tadi menyanyikan lagu Namimori dengan senangnya.

"Hahi? Apanya yang apa, Hibari-san?"

"Pita bodoh di rambut keren itu."

Haru terjingkat sedikit dan kemudian memandang Hibird yang masih mengenakan pita pink pemberiannya. Bukankah Hibird menjadi sangat lucu? Cepol di ujung rambutnya dengan pita pink benar-benar sangat lucu, bukan? Hibird saja, mungkin sepaham dengan pemikiran Haru.

Namun tidak dengan Tuannya.

"Itu bukan pita bodoh, Hibari-san. Pita itu sangat manis buat Hibird-chan desu."

"Lepaskan saat ini juga, atau…kami korosu."

"Hahi?"

Jumat

Tidak ada yang terjadi di hari ini. Haru harus lembur karena manager toko kue di mana ia bekerja sedang sakit. Alhasil, ia tidak bisa "menemani" Hibird hari ini. Haru benar-benar kecewa tidak bisa bersama Hibird, atau mungkin ia merasa kecewa karena tidak bisa bertemu tuannya. Hah, jangan bodoh Haru, untuk apa ia merasa kecewa karena tidak bisa menemani Hibari. Menggelikan. Ia kemudian menyibukkan dirinya sendiri sambil menata beberapa shortcake yang tidak terjual hari ini ke dalam lemari kaca sambil berdendang kecil.

Duk, duk.

"Hahi? Suara apa itu?" ia sedikit menjerit kecil saat mendengar suara benturan kecil. Dilihatnya jarum jam pada jam tua besar itu sudah menunjukkan pukul 22.00. Ia sedikit gemetar, kenapa sampai semalam ini sang manager belum juga pulang? Berulang kali ia berusaha menenangkan dirinya namun tetap saja getir-getir rasa takut itu masil meringkuh hatinya yang rapuh. Suara benda yang berbenturan itu masih saja tidak berhenti, membuat jantungnya berdegup keras.

Brak.

Jantungnya serasa ingin melompat keluar mendengar bunyi keras yang terdengar seperti sesuatu yang jatuh dari ketinggian. Tangan mungilnya kini semakin gemetar dan mata hazelnya melirik sekitar untuk mencari sesuatu yang sekiranya bisa ia gunakan sebagai alat untuk melindungi diri. Namun, belum sempat ia mendapatkan benda untuk melindungi dirinya sendiri, lampu toko kue itu tiba-tiba padam. Oh tidak. Haruskah ia lari? Kalau ia lari dan terjadi sesuatu pada toko kue ini, ia tidak akan bisa mendapatkan penghasilan untuk menghidupi dirinya sendiri.

Tiba-tiba siluet dalam kegelapan muncul mengagetkan dirinya. Siluet itu seperti tubuh laki-laki, ia yakin. Ia kemudian berjalan mundur menjauhi siluet yang semakin mendekatinya.

"Dare desu ka?(Siapa itu?)" teriaknya dengan suara yang bergetar. Oh, dia berharap pria itu tidak akan berbuat macam-macam pada dirinya.

"Haru-chan, tenang ini aku."

Suara itu terdengar sangat familiar baginya. Dalam sekejap rasa takutnya menghilang begitu saja saat mendengar suara itu.

"Maneejaa-san?(Manager-san?)"

Pria itu terkekeh kecil, "Tentu saja ini aku, Haru-chan."

Pria itu kemudian melingkarkan lengannya pada tubuh Haru dan mulai menarik resleting pakaian maid yang digunakan Haru. Haru terkesiap, saat merasakan resleting pakaiannya mulai terbuka dan bau alkohol yang sangat menyengat dari napas managernya.

"Maneejaa-san, hentikan!"

Haru berusaha melawan namun apa daya, tubuhnya terlampau kecil dibanding managernya sendiri. Ia tidak bisa melawan rengkuhan yang sangat menjijikkan dari managernya.

"Maneejaa-san, hentikan! Haru bukan gadis yang seperti itu! Hentikan!"

Namun pria itu tetap saja melakukan aksinya, menciumi leher Haru dan menjilatnya. Haru sangat takut, benar-benar ketakutan. Ia berharap Hibari ada di hadapannya dan menyelamatkannya sekarang. Namun pada kenyataannya, tidak ada Hibari saat ini, yang ada hanyalah dirinya sendiri dan pria mabuk yang dikenal sebagai managernya itu.

Haru masih berusaha melawan perilaku liar pria itu dan menggigit keras daun telinga sang manager hingga darah mengalir dan manager mabuk itu berteriak keras menjauhi Haru, melepaskan kedua tangannya yang merengkuh tubuh Haru.

Napasnya kini naik turun. Rasa takut benar-benar melingkupinya. Ia harus mencari jalan keluar dari tempat ini. Matanya bergerak liar menerawang kegelapan, mencari jalan tikus yang bisa digunakannya untuk lari. Didapatinya sebuah kursi besi yang berada di samping jendela kaca tanpa trails yang tidak jauh darinya. Dengan segera, ia berlari ke arah kursi itu dan mengangkat kursi besi itu dengan tenaga yang ada dan kemudian kursi besi itu dihantamkannya ke jendela kaca itu agar pecah.

Prang.

Jendela itu berhasil dipecahkan namun lubang yang terbentuk terlalu kecil untuk dilewati manusia seukurannya. Ia kemudian mengayunkan kursi itu agar menghantam kaca kembali namun belum sempat kursi itu menghantam kaca, kedua tangan managernya berhasil memerangkapnya kembali.

"Haru-chan...haaahh…jangan takut…aku akan membuatmu senang!"

Rasa panik kembali menghantuinya. Ia berteriak keras meminta tolong, ia berteriak berulang kali memanggil namanya dengan suara yang benar-benar dilingkupi rasa takut, suara yang bila di dengar akan membuat siapa saja merasa iba.

"HIBARI-SAAAN!"

Haru kemudian memutar tubuhnya agar pria itu menghantam kaca dan mendorong tubuh pria itu ke belakang dengan tenaganya yang tersisa untuk memecah kaca itu dengan sempurna, agar ia bisa keluar dari tempat menyeramkan ini.

Saat kaca-kaca itu pecah, ia merasakan serpihan-serpihan kaca itu menancap pada kulitnya dan menggores wajah perawannya. Sakit. Rasanya benar-benar sakit.

Haru memang ceroboh desu, padahal dia masih belum menikah, tapi tubuhnya sudah tidak akan sesempurna dulu desu…

Setelah itu, ia tidak merasakan apapun selain benturan keras punggungnya pada aspal dan seringai wajah managernya yang masih bisa bangkit.

Gelap. Gelap.

Dingin.

Setelah itu ia tidak merasakan dan melihat apapun lagi kecuali suara managernya yang berteriak kesakitan dan kata yang paling disukainya, "kami korosu"

**7 Days**

Dulu, Haru sempat bermimpi ingin menjadi seorang puteri…

Lalu Haru akan bertemu sang pangeran berkuda putih dan hidup bahagia selamanya…

Namun kini, hidup Haru sudah berubah…

Tidak akan ada lagi…pangeran yang mau bersama seorang puteri dengan banyak goresan di wajahnya seperti Haru…

Ditambah lagi…Haru hanya anak yatim piatu…

"Ojou-sama?(Nona?)"

Hahaha…Haru pasti bermimpi…mana mungkin ada yang mau memanggil Haru, ojou-sama…

Ini pasti mimpi…

"Ojou-sama, anda sudah sadar?"

Eh?

Haru kemudian membuka matanya perlahan dan mendapati sosok seorang wanita berusia sekitar 30 tahun yang memandangnya dengan wajah lega. Rambut wanita itu disangul dan kerutan-kerutan wajahnya sudah mulai terlihat. Haru merasakan kepalanya sangat sakit saat merasakan silaunya sinar mentari yang menusuk matanya. Ia kemudian melihat sekeliling. Di mana dia? Apa dia sedang di penginapan? Tempat ini terasa sangat asing baginya, sebuah kamar yang didesign dengan aksen jepang yang sangat kental. Tatami, futon,shoji, kaligrafi dan vas bunga yang berada di pojok ruangan. Hah, sebenarnya di mana dia sekarang?

"Ojou-sama, apa anda sudah sadar? Kalau iya, tolong katakan sesuatu."

Haru mengembalikan pandangannya pada wanita asing itu. Ia menangguk kecil dan wanita itu tersenyum lega.

"Di mana aku?"

Belum sempat wanita itu membuka mulut, burung kuning kecil yang sangat dikenalnya terbang mengelilingi ruangan. Haru merasa sangat terkejut melihat burung kecil itu ada di sampingnya. Ia berusaha lagi mengingat kejadian yang menimpanya waktu lalu, dan membuat rasa takut kembali melingkupinya. Tubuhnya gemetar.

"Ojou-sama…ojou-sama…!"

"Miwako!"

Suara itu membuat Haru semakin terkejut. Matanya langsung bergerak ke sumber datangnya suara yang sangat menghangatkan jiwanya itu. Dan hazelnya membelalak tidak percaya. Dikuncinya padangan itu lekat-lekat dan air mata mulai menggantung di pelupuk matanya. Dilihatnya wanita yang bernama Miwako itu berjalan mendekati orang yang sangat dinantikannya.

"Obocchama!"

Air mata Haru sudah tidak bisa dibendung lagi, mengalir sangat deras dengan isakan-isakan yang semakin lama semakin menjadi. Dengan kekuatan yang seadanya, ia bangkit meski harus melawan rasa sakit yang merajamnya. Yang ia inginkan hanyalah rasa aman dari ketakutannya itu. Ia kemudian berlari dan melemparkan tubuhnya pada pria itu, memeluknya seakan ia akan menghilang dari pandangannya esok hari, menangis sejadi-jadinya pada dada bidang pria itu. Haru ingin pria itu tahu betapa takutnya ia.

"Hibari-saaan…!"

Dan betapa Haru sangat menantikannya saat itu.

"Dasar herbivore malas. Sadarlah, ini sudah Minggu."


Chariot330 : Gaje…Maafkan kegaje-an cerita ini. Maaf karena saya kelamaan update cerita ini! MAAF! Oya, sekedar info tambahan aja, bagi orang jepang (yang saya tau) kalau wanita yang belum menikah itu harus dijaga banget, jangan sampe ada luka/goresan yang berbekas pada wanita itu karena akan dianggap oleh keluarga sang pria seperti barang "cacat". Makanya Haru ngerasa desperate banget kalo di tubuhnya banyak luka gores karena pecahan kaca itu. Tidak ada lagi yang bisa membuat saya bahagia selain REVIEW dan SUPPORT anda semua! ONEGAI!