Hwayang tampak ramai dengan para siswa yang berkeliaran disekitar koridor siswa. Anak-anak kelas tiga memenuhi papan pengumuman untuk melihat hasil kelulusan mereka karena bagaimanapun, jika mereka meraih sepuluh besar, Hwayang sudah berjanji akan memberi beasiswa ke Universitas yang mereka inginkan.
Motivasi belajar yang mampu membuat anak kelas tiga datang lebih pagi saat ujian.
Di satu sisi, Yoongi menatap puas pada jejeran nama siswa. Ia mundur, lalu matanya melirik sekeliling dan ia terlonjak saat seseorang memeluk lehernya dari belakang.
"Sial kau Min Yoongi!" Orang itu menyekik main-main leher Yoongi.
"Kau juga sama sialnya denganku, Baekhyun. Mana Namjoon gila itu? Dia lebih sial dari kita. Dia meraih peringkat satu."
"Tentu saja, sayang." Yoongi dan Baekhyun menoleh, mendapati Namjoon yang tersenyum sombong dengan tiga amplop di tangan nya. "Omong-omong, aku dapat surat pemberitahuan untuk sepuluh orang sial dan dua diantaranya adalah kalian."
"Kita ke Julliard!" Pekik Baekhyun seraya merampas amplop yang menerterakan namanya.
"Well, aku berencana ke London atau Paris." Sahut Namjoon.
"Yak pengkhianat! Kita sudah janji!" Tunjuk Baekhyun tak terima.
"Aku bercanda, kau ini sensitive sekali. Aww!" Namjoon mengusap lengannya yang ditekuk Baekhyun.
"Ok, hentikan." Sahut Yoongi. "Siapa pasangan kalian?"
"Oh! Prom Night?" Namjoon menggeleng. "Aku mengincar adik kelas tapi dia sudah memiliki pacar, untung aku belum bergerak."
"Aku akan mengajak kalian saja." Celetuk Baekhyun.
"Heol Baek, aku tidak sudi."
"Namjoon gila, kau tidak tau jika pergi dengan sahabat lebih menyenangkan daripada orang yang tak kau kenal?"
"Kau masih memiliki Chanyeol."
"Tidak sudi." Ketusnya. "Lagipula apa kabar Yoongi yang di ajak oleh adik kelas itu?"
"Aku tidak akan datang." Yoongi menggeleng. "Simple kan?"
"Oke baiklah. Kita pergi bertiga kesana." Namjoon membuang nafas pasrah saat Baekhyun berteriak penuh kemenangan.
Yoongi adalah kelemahan Namjoon.
Tapi Yoongi tak pernah menjadikan seseorang sebagai kelemahannya.
.
.
.
.
Aula Sekolah disulap menjadi gedung pesta dalam tiga hari. Makanan ringan, kue-kue dan beberapa dessert terletak di meja khusus yang berdampingan dengan meja khusus minuman. Ruangan yang semula hanya putih hampa itu berubah menjadi biru putih hitam sesuai tema yang di tentukan.
Para siswa yang biasanya terjebak dalam seragam bahkan sudah lumayan sulit dikenali karena gaun, kemeja atau makeup yang mereka pakai khususnya siswa kelas tiga, terlebih mereka diharuskan memakai topeng hingga pesta dansa selesai.
Disatu sudut, Baekhyun tampak serba salah. Dia menatap lurus kedepan, dimana ada seorang pemuda bertopeng biru tengah mengulurkan tangannya sedangkan Namjoon sudah berdeham seperti orang sekarat sedari tadi.
Diam-diam Baekhyun mengutuk Yoongi yang pergi ke kamar mandi.
'Tapi jika dia disini semua juga akan kacau. Astaga!'
"Sudah pergi saja sana, aku muak melihat kalian seperti ini." Namjoon mengibaskan tangan. "Aku bisa berpasangan dengan Yoongi setelah ini."
"Namjoon, kau tau aku tak bi-"
"Perbaiki saja Baek." Namjoon mendorong bahu Baekhyun.
"Hanya sebentar. Ayo."
Namjoon tersenyum.
Sedangkan itu Yoongi yang sudah keluar dari kamar mandi hanya tersenyum miring. Ia melihat interaksi mereka dan ia tak bisa menyalahkan siapapun. Semua kacau karena kesalahpahaman dan emosi, jadi tak ada yang harus ia salahkan disini.
"Sunbae?" Yoongi menoleh. Seorang pemuda bertopeng hitam dengan setelan jas cukup mahal berdiri disampingnya.
"Kenapa?"
"Aku hanya ingin meminta waktu sunbae. Hanya sebentar." Pemuda itu mengulurkan tangannya.
"Temanku sudah menunggu," ujar Yoongi datar.
"Hanya sebentar sunbae. Hanya untuk malam ini."
"Baiklah, tapi tidak di tengah keramaian."
"Kita ke taman." Yoongi mengangguk lalu berlalu tanpa memperdulikan uluran tangan pemuda itu.
Ia tak butuh uluran siapapun.
.
.
.
Keadaan taman yang sepi membuat suasana menjadi sedikit canggung. Mereka berdiri berhadapan dan Yoongi melepas topengnya. Ia sudah cukup kepanasan dengan setelan yang ia kenakan dan topeng ini hanya menghambat pernafasannya.
"Apa maumu, Park Jimin?" Tekannya tajam. "Topeng itu tak bisa menipuku."
Jimin tersenyum lalu melepaskan topengnya perlahan. Ia membuang topengnya asal dan menatap Yoongi tepat dimata, seolah-olah meminta penjelasan yang tak pernah ia dapat.
Ia tidak berharap waktu akan berhenti, tapi ia berharap sosok didepannya bisa berhenti bersikap batu.
"Hanya berbicara, sunbae."
"Intinya."
"Tidak ada inti khusus karena aku tau kau tak suka mendengarnya kan?" Jimin melangkah mendekat tapi Yoongi tak beranjak sedikitpun, ia masih bersedekap dada sembari menatap Jimin datar. "Kau terlihat sangat berbeda malam ini."
"Jangan basa-basi."
"Aku mencintaimu." Jawab Jimin cepat namun tenang. Matanya tak berkedip sama sekali, mencoba mengimbangi raut wajah Yoongi.
Tak ada perubahan.
"Lalu?"
"Hanya ingin kau tau lagi, tapi bukan dari orang lain." Jemari Jimin terulur, membelai pelan pipi dingin Yoongi. "Setelah ini semua berubah. Aku tak tau kau akan berada dimana dan kau tetap takkan perduli aku akan berakhir dimana. Aku takkan bisa memprediksi waktu, kapan kita bisa bertemu lagi dan berbicara karena saat bertemu biasapun kau takkan pernah mau melihatku. Butuh waktu lima tahun bagiku untuk bicara padamu dan aku tak tau berapa banyak waktu yang kubutuhkan agar bisa membuatmu sadar akan keberadaanku, hyung."
Angin berhembus cukup kencang,membuat surai mereka tersapu lembut namun tak ada pergerakan begitu berarti.
Tapi Jimin kembali berani untuk melangkah mendekat, berhenti tepat di depan Yoongi yang masih sama.
Akan selalu diam.
"Kau bahkan tak merespon karena kau tak ingin."
"Aku hanya berfikir berapa tingkat kebodohanmu." Sela Yoongi dingin. "Kau tau aku takkan pernah menoleh, tapi kau selalu berharap. Bodoh."
"Ibuku bilang, Tuhan tak selalu mengabulkan do'a kita dalam satu waktu. Semua butuh proses sebagaimana alam memproses isinya. Aku pernah berdoa mati-matian agar aku diperbolehkan masuk ke sekolah ini dan lihat? Aku disini."
"Dan kau berharap dari manusia, bukan Tuhan."
"Dan kau makhluk ciptaan Tuhan yang Tuhan atur. Aku hanya bisa berdoa dan berusaha hyung." Jemari Jimin berpindah ke dagu Yoongi.
"Carilah orang lain, Park." Yoongi menghela nafas. "Aku takkan bisa membuka apa yang sudah ku kunci. Tidak untukmu atau orang lain sekalipun."
"Dan aku tak bisa mengganti keputusanku hyung, tidak sekalipun kau yang meminta."
"Serius, kau masih bisa mencari orang lain! " Bentak Yoongi kesal. "Kau masih terlalu muda, idiot!"
"Bagaimana jika tujuh tahun lagi perasaan ini masih sama?"
"Jangan keras kepala Park! Apa kata keluargamu jika tau kau menyimpang huh? Jangan memikirkan dirimu sendiri!" Yoongi menyentak tangan Jimin.
"Tapi di umur itu aku berhak memutuskan hidupku. Jika bukan aku, siapa yang bisa memikirkan diriku hyung?" Tanya Jimin lirih.
"Kembalilah ke dalam, kita tak harus membicarakan ini."
"Kenapa?"
"Karena jelas takkan ada hasil apa-apa!"
Yoongi menatap Jimin tajam. Ia hanya tak habis fikir dengan jalan fikiran sosok didepannya ini.
Tak mengertikah ia jika bukan hanya satu hati yang patah saat ini?
Bukan hanya ia yang tersiksa.
"Aku akan berhenti saat kau mengundangku di pernikahanmu. Di saat itu aku benar-benar akan menghilang, hyung." Tegas Jimin.
"Itu takkan terjadi, brengsek! Kau fikir aku percaya dengan perasaan macam itu? Untuk apa pernikahan? Berhentilah mengatakan omong kosong dan enyahlah dari sini."
Dan Yoongi pergi begitu saja.
Tanpa menoleh untuk memastikan apakah mata Jimin menjadi basah atau tidak.
'Sampai kapan, hyung?'
.
.
.
Yoongi menerima uluran Namjoon dengan senyuman kecil. Namjoon sering menggodanya dan ia akan membalas perlakuan iseng Namjoon sekali-kali. Lagipula, kapan lagi ia memiliki mood seperti ini?
Mood palsu yang ingin memanipulasi semuanya.
"Kau darimana?" Tanya Namjoon pelan. Suaranya yang berat selalu membuat Yoongi geli sendiri.
"Mencari udara. Baekhyun mana?"
"Aku tidak tau."
"Aku tidak bisa berlama-lama, aku ada janji dengan Taehyung."
"Semalam ini?" Kening Namjoon berkerut.
"Ya ,"
"Kalian akan pergi ke suatu tempat?" Yoongi mengangguk. "Kemana?"
"Tempat Yifan."
"Yoongi?" Namjoon tampak terkejut tapi Yoongi hanya tersenyum kecil.
"Aku merindukannya Namjoon,"
'Ya, kau selalu merindukannya, Min Yoongi.'
Kkeut!
