Hai ^^/

Saya memutuskan untuk tetap menulis fic ini karena saya suka menulisnya XD

Well, saya sangat sadar bahwa karakter dalam fic ini ooc sekali.. tapi, mungkin karena mereka masih pada canggung. Kan baru pada ketemu! Saya sebagai penulis yakin sekali kalau sebenaranya taka da yang berubah dari mereka. Seperti Karma yang diketahui masih doyan mainan wasabi XD

Gomennasai sekali untuk yang tidak menghendaki cerita ini.

Ansatsu Kyoushitsu yang keren hanya milik Yusei Matsui. * sangat berharap ada cerita lainnya tentang kelas 3-E T.T

Selamat menikmati ^^

Chapter 3

Ruangan itu sunyi. Ritsu mengedarkan pandangannya kesekitar ruangan yang mampu dijangkaunya. Ritsu bisa melihat sirat keterkejutan dari wajah teman-temannya. Tak ada yang bersuara. Tidak satupun. Ritsu menghela nafas kemudian tersenyum.

" Ne, bagaimana kalau kalian bergantian menceritakan pengalaman kalian selama kita tak bertemu?" Tanya Ritsu. Semua murid menoleh kearah Ritsu. Isogai tersenyum.

" Tidak ada yang menarik, Ritsu. Kelas-kelas kami sepertinya terlalu biasa dibanding dengan kelas 3-E." Jawab Isogai. Yang lain mulai tersenyum dan mengangguk setuju. Ritsu tersenyum. Ia merasa ia harus melanjutkan topic ini. karena topic Nagisa jelas bukan topic yang menyenangkan untuk dibahas.

" Jadi setelah Nagisa keluar dari laboratorium itu dan dibawa oleh Karasuma sensei ke rumah sakit, kemana dia pergi? Bukankah dia berniat mengejutkan kami semua dengan muncul secara tiba-tiba jika ia sudah berhasil keluar dari sana?" Karma nampak belum mau beranjak dari topic itu. Ritsu menghela nafas.

" Kita sudah tidak bertemu 8 tahun bukan? 2 tahun aku dan Nagisa menghabiskan waktu di dalam laboratorium itu. Setelah itu kami berhasil lolos dari sana dan menghabiskan waktu kami dirumah sakit." Jawab Ritsu. Semua mata kembali menatap layar laptop.

" Maksudmu? Kau tidak mungkin tinggal dirumah sakit selama itu kan?" Tanya Sugino. Ritsu mengangguk.

" Kami melakukannya. Karena berkat cairan yang berfungsi menurunkan fungsi otak itu, Nagisa benar-benar harus kehilangan fungsi otaknya selama 4 tahun." Jawab Ritsu. Karma melebarkan matanya.

" Maksudmu dia.. koma?" Tanya Nakamura.

" Um. Dia tidak sadarkan diri selama 4 tahun. Dan karena itu juga pertumbuhan tentakelnya melambat sehingga ia tak mengalami nasib sama dengan koro sensei. Yah, meskipun berakhir dengan berubahnya gender Nagisa, tapi dia tetap berwujud manusia meskipun bertentakel." Para mantan murid 3-E mengernyit. Karma untuk bagian Nagisa sekarang menjadi perempuan dan yang lain – coret Kataoka- untuk bagian Tentakel

" Tunggu.. apa maksudnya dengan tentakel?" tanya Terasaka.

" Dia memiliki tentakel. Kami – aku, Kayano, Kanzaki dan Karma-kun- sudah melihatnya tadi." Jawab Kataoka.

" HEE? SERIUS?" Teriak mereka. Ritsu tertawa.

" Harusnya setelah melihat Koro sensei, Itona-kun, dan Kayano-chan, kalian tak perlu sekaget itu!" Jawab Ritsu.

" Tapi tetap saja Ritsu.. itu mengejutkan!" Hinata memegang pipinya tidak percaya.

" Lalu? Setelah dia sadar?" Kali ini suara Maehara.

" Dia sadar setelah empat tahun. Tentu saja dia harus direhabilitasi. Kembali belajar berjalan, memulihkan fungsi tubuh lainnya. Dan berkat Koro sensei, dia bisa melewati bagian ' perawatan khusus yang wajib bagi orang bertentakel'. Koro sensei berhasil menghentikan pertumbuhan berlebihan. Ah apapun itu, Koro sensei berhasil menemukan obat agar Nagisa tak merasa kesulitan saat mengendalikannya. Dan tentakel miliknya sudah tak berbahaya bagi kehidupannya."

" demo, kenapa ia tidak mencabut tentakelnya?" Tanya Fuwa. Yang lain mengangguk setuju.

" Karena menurut Nagisa, tentakelnya sangat membantu pekerjaannya."

" Tunggu… bisakah kau mengurutkan ceritanya saja, ritsu?" Pinta Yada.

" Huft.. baiklah setelah dia selesai direhabilitasi selama setengah tahun, berlatih selama setengah tahun kedepannya bersama Koro sensei, Lovro sensei datang dan meminta izin untuk mengajak Nagisa bersamanya." Jawab Ritsu. " dan baru minggu kemarin dia kembali. Itu singkatnya." Imbuh Ritsu.

" Kau bilang tadi tentang pekerjaannya. Apa pekerjaannya sekarang?" Tanya Kimura. Ritsu tersenyum.

" Kau yakin ingin tahu?" Tanya Ritsu. Seluruh anak mengangguk.

" Dia seorang hitman sekarang." Jawab Ritsu. Jawaban yang sudah mereka duga. Dari cara Nagisa bertarung dan juga perkataan pendeta tadi.

" Bagi Nagisa, hanya itu bakatnya yang tersisa. Dan dia bilang dia akan melakukannya." Ujar Ritsu.

" Hitman.. ya?" Gumam Karma. Semua terdiam. Tidak dipungkiri bahwa mereka semua merasa bersalah atas kehidupan Nagisa. Ritsu yang kembali melihat aura mendung menghela Nafasnya kemudian ia menutup matanya.

" Ne, Nagisa-kun!" Suara dari layar laptop membuat para murid menoleh dan melihat video yang ditayangkan dari kenangan Ritsu.

" hm? Ada apa, Ritsu?" Nagisa nampak sibuk menulis.

" Kau bilang kalau kau sudah keluar dari sana kau akan menemui mereka… apa kau lupa?" Nagisa tersenyum.

" Tentu saja tidak. hanya saja…" Nagisa mendongakkan kepalanya.

" Aku takut. Aku takut mereka akan merasa tidak nyaman karena sempat berfikir untuk melupakanku." Jawabnya.

" hmm… souka. Tapi, kau tidak marah pada mereka bukan?" Nagisa tertawa kecil dan mengesampingkan rambut panjangnya.

" tentu saja tidak! aku merindukan mereka seperti kau merindukan mereka, Ritsu. Tapi, ini memang bukan waktu yang tepat. Aku ingin menemui mereka dalam sebuah acara dimana semua akan bahagia. Tidak ada lagi rasa bersalah atau rasa yang membuat kelas 3-E menjadi kenangan buruk. Karena meskipun kelas itu sudah menjadi buruk dimata dunia sekalipun, itu adalah kelas terbaikku. Dan kau juga mereka tentu saja teman terbaikku. Aku ingin mereka benar-benar memaafkan diri mereka sendiri terlebih dahulu. Sehingga saat kita semua berkumpul, aku masih bisa melihat mereka sebagai diri mereka yang kukenal. Bukan diri mereka yang mencoba membunuh diri mereka yang kukenal." Kemudian layar itu menggelap dan Ritsu kembali muncul.

" Itu percakapan antara diriku dan Nagisa setelah ia mendapatkan latihannya dengan Lovro sensei. Jadi… kalian semua, aku harap kalian bisa memaafkan diri kalian sendiri. Karena Nagisa juga berharap demikian. Nagisa dan aku baik-baik saja. Kami bersyukur bisa bertemu dengan kalian lagi. Karena itulah, aku mohon.. bersikaplah sebagaimana kalian bersikap saat kita masih bersama-sama dulu. " Pinta Ritsu. Semua tertegun. Benarkah selama ini mereka berusaha membuang kenangan kelas 3-E? mereka tau, mereka sudah bersalah.

" Nanda sore? Sekarangpun kita juga bersama, Ritsu! Tidak ada yang berubah.. kalau kau mau bukti, coba kau hacker laptop Okajima! Kau pasti akan menemukan apa yang seharusnya dimiliki Okajima." Ucap Maehara. Semua tersenyum.

" Sou! Kau pasti masih mesum, iya kan?" tuding Hinata. Mereka mulai ramai dan bercanda seperti yang biasa mereka lakukan di kelas 3-E dulu. Karma tersenyum melihat tingkah teman-temannya. Kemudian ia bangkit.

" Oh, Karma-kun.. kau mau kemana?" Tanya Sugino.

" Aku akan menjaga Nagisa. Biar kusuruh Kanzaki dan Kayano turun untuk makan malam. Kalau Nagisa sudah sadar akan kubawa dia kemari." Jawab Karma. Sugino tersenyum dan mengangguk. Karma berjalan kearah Lift. Memasukinya dan menutup pintu lift. Setelah beberapa saat, Karma sampai dikamar Nagisa. Ia mengetuk pintu dan membukanya tanpa menunggu respon.

" dia masih tidur?" Tanya Karma pelan. Kayano mengangguk. Karma menatap si surai biru yang terpejam itu.

" Kalian turun dan makanlah dulu. Biar aku yang menjaganya." Ujar Karma. Kayano dan Kanzaki mengangguk dan bergegas meninggalkan kamar. Setelah mereka berdua meninggalkan kamar, karma duduk disebelah Kasur Nagisa. Nagisa nampak tenang dalam tidurnya. Jika melihat wajah Nagisa yang setenang itu, tak akan ada yang menyangka bahwa ia adalah seorang hitman. Pikirannya melayang mengingat cerita Ritsu.

" Gunakan aku.. tapi jangan sentuh Karma-kun, atau teman-temanku bahkan dengan satu jari sekalipun." Suara Nagisa dalam video Ritsu tadi sangat menganggu Karma. Kenapa Nagisa bisa menjadi sangat bodoh seperti itu? Kenapa dia membiarkan shiro menjadikan dirinya bahan percobaan? Kenapa ia tidak menukarnya saja dengan Karma. Oh, Karma sungguh tidak akan keberatan jika itu berarti dia bisa menyelamatkan sahabatnya itu. Tapi Karma tau bahwa Nagisa tak akan pernah membiarkan hal seperti itu terjadi. Sebagai pemuda berjiwa lembut dan selalu melupakan kepentingan dirinya sendiri, Nagisa tak akan membiarkan teman-temannya tersakiti.

" Berhenti membuat kami cemas, bodoh." Karma menekan pipi Nagisa dengan telunjuknya. Merasakan sesuatu dipipinya, Nagisa reflek membuka mata. Jujur saja, itu sedikit membuat Karma kaget.

" Nagisa, reflekmu benar-benar sangat bagus sekarang.." Ujar Karma dengan senyumannya. Nagisa mengerjapkan matanya beberapa kali.

" Ah maaf.. apa aku mengagetkanmu, Karma-kun?" Nagisa mendudukkan dirinya. Karma menggelengkan kepalanya.

" iie. Apa kau sudah baik-baik saja sekarang?" Tanya Karma. Nagisa mengangguk. Kemudian ia melirik jam dipergelangan tangannya yang mungil.

" Astaga! Harusnya kau membangunkanku tadi! Aku sudah berjanji untuk menceritakan padamu setelah istirahat selama 30 menit. Tapi ini sudah lewat dari satu jam!" Nagisa panic. Karma tertawa melihat kepanikan Nagisa.

" Tenanglah, Nagisa! Kau hanya melakukan apa yang harus kau lakukan! Dan bicara tentang itu, Ritsu sudah mewakilimu tadi. Kuharap kau tidak marah padanya." Jawaban Karma sontak membuat Nagisa terdiam. Ia menatap Karma dengan alis terangkat.

" Ritsu?" Karma mengangguk. Nagisa terdiam kemudian tersenyum.

" Jadi kalau boleh kutebak, pasti semua ikut mendengarkan." Ucap Nagisa. Karma kembali mengangguk.

" Yah.. bagaimanapun, kau membuat kami khawatir selama 8 tahun. Jadi anggap saja cerita hidupmu sebagai bayaran untuk itu." Jawab Karma. Nagisa tertawa kecil.

" hahaha… kurasa aku tidak bisa protes. Dan itu berarti kalian sudah tau apa profesiku sekarang kan?" Tanya Nagisa.

" Hmm… Hitman ya? Aku ingat kau pernah ingin menjadi hitman saat smp dulu. Jadi kurasa itu tidak mengejutkan." Jawab Karma.

" Hei, darimana kau tau, Karma-kun? Seingatku aku tidak mengatakan pada siapapun dikelas tentang cita-citaku." Nagisa terkejut.

" Gurita itu. Dia menceritakan padaku tentang keinginanmu." Jawab Karma.

" Kenapa dia menceritakannya padamu? Atau Sensei menceritakannya pada semua anak?" Tanya Nagisa. Karma menggeleng.

" Tidak.. kurasa hanya aku. Karena aku bertanya tentang apa yang kau tulis di lembar masa depanmu itu." Jawab Karma.

" sepertinya kau penasaran dengan profesi pilihanku." Ujar Nagisa sambil lalu. Karma tersenyum.

" sebenarnya aku penasaran apakah kau mengumpulkan kertas itu tanpa menghapus tulisan Nakamura didalamnya atau tidak. kupikir kau akan setuju dengan pekerjaan yang dituliskan Nakamura. Itu… maid dan perawat, bukan?" Karma mencoba mengingat.

" TENTU SAJA AKU TIDAK SETUJU!" Ucap Nagisa kesal. Karma kembali tertawa sedangkan Nagisa merengut.

" Masih saja seperti itu. Dia tidak benar-benar berubah!" Rutuk Nagisa. Kemudian keduanya terdiam.

" Karma-kun.. apa ada kabar tentang Okuda-san?" Tanya Nagisa. Karma terdiam. Pertanyaan Nagisa mengejutkannya. Bagaimana bisa ia lupa dengan gadis yang hampir dinikahinya itu? Karma menggeleng pelan. Kemudian ia merasakan tangan Nagisa mendarat di tangan Karma.

" Dia baik-baik saja. Pasti." Ucap Nagisa. Mencoba memberikan semangat pada Karma. Karma menghela nafas dan tersenyum.

" Ya. Aku tau." Jawabnya.

" Yappari.. kurasa aku harus membantu Koro sensei sekarang." Ujar Nagisa. Ia hendak menyingkap selimutnya saat tangan Karma menahannya.

" Berhenti disana, Nagisa-chan~. Masih banyak yang ingin kutahu darimu." Nagisa menatap Karma.

" Bukankah Ritsu sudah menceritakan semuanya? Dan aku yakin dia menceritakan dengan cara mengupload memorinya menjadi sebuah video bukan? Apa lagi yang ingin kau tau?" Tanya Nagisa.

" Dia memang melakukannya. Tapi dia tak pernah memiliki video tentang apa yang sebenarnya terjadi saat shiro melakukan percobaannya. Kami hanya mendengarkan suara teriakanmu jika sudah sampai dibagian itu." Karma menatap manik biru itu.

" Oh, itu…"

" Ya, itu." Jawab Karma. Nagisa menghela nafas.

" Pemeriksaan dan penelitian tentakel itu.. dilakukan dengan menyuntikkan banyak cairan kedalam tubuhku. Shiro ingin menciptakan mesin pembunuh yang tidak berperasaan seperti Itona, dan berwujud manusia. Tidak seperti Koro sensei. Karena itulah dia menculikku sepulang sekolah 8 tahun yang lalu." Karma mengernyit.

" Aku tidak ingat kita bertemu shiro!" Gumam Karma. Nagisa tersenyum. Ia mengerti maksud ucapan Karma. Mereka memang terbiasa berjalan pulang bertiga. Dirinya, Karma dan sugino. Tapi Nagisa ingat hari itu Nagisa pulang terlambat karena ia masih mengerjakan tugas dari Koro sensei. Dan Karma hari itu harus pulang lebih awal karena orang tuanya baru saja datang. Dan Sugino memutuskan pulang lebih dulu – setelah dipaksa oleh Nagisa- karena Kanzaki hendak meminta bantuannya.

" Kita tidak pulang bersama hari itu. Kau harus pulang lebih cepat karena ibumu menelponmu dan mengatakan bahwa mereka sudah ada dirumahmu." Jawab Nagisa.

" sugino-kun?"

" Sugino-kun.. aku memaksanya untuk pulang bersama Kanzaki karena Kanzaki bilang ia ingin meminta bantuan Sugino-kun." Jawab Nagisa lagi. Karma menghela nafas. Wajah datarnya menyembunyikan mendung. Terimakasih karena kemampuan Nagisa yang dapat merasakan vibrasi jantung seseorang.

" Itu sudah berlalu. Jadi tidak perlu dipikirkan." Nagisa bersender pada tembok sehingga kini ia duduk berhadapan dengan Karma.

" Kau mau aku melanjutkan ceritaku atau kau ingin kita menyudahi percakapan ini?" Tanya Nagisa. Entah kenapa ia menawarkan pilihan macam itu, tapi Nagisa merasa ia harus menanyakannya.

" Lanjutkan." Ucap Karma.

" Jadi, aku bisa menerima 5 sampai 8 suntikan perharinya. Dan tidak ada perubahan berarti selain tengkukku yang mulai mengeluarkan serabut-serabut halus berwarna biru. Sampai akhirnya di hari terakhir, mereka berhasil membentuk tentakel." Nagisa mengeluarkan tentakelnya. " Mirip dengan milik Kayano-chan." Ujarnya sambil tersenyum. Karma mengulurkan tangannya untuk meraih tentakel itu.

" Dan setelah melatih tentakel untuk pertama kalinya, aku benar-benar kelelahan. Setelah itu, aku tidak ingat lagi apa yang terjadi. Menurut Ritsu, Shiro menyuntikkan beberapa cairan yang biasanya tidak disuntikkan padaku. Dan… aku terbangun 4 tahun kemudian di kasur rumah sakit. Aku terbangun dan menyadari bahwa aku tidak sendirian disana. Aku ingat Bitch sensei menyambutku dengan pelukan, omelan dan tangisan. Setelah itu aku harus menjalani rehabilitasi selama enam bulan. Diwaktu yang bersamaan, Koro sensei juga melatihku untuk menggunakan tentakelku. Dan juga sensei rutin melakukan perawatan agar tentakelku bisa bekerja dengan baik dan mulai menghilangkan ketergantuangan tentakel dengan obat. Sehingga aku bisa menggunakannya tanpa resiko apapun."

" Kemudian atas saran Bitch sensei, aku memilih untuk ikut menjalankan misi bersama Lovro sensei sampai sekitar satu minggu yang lalu aku baru kembali. Ah sebelum itu, aku pergi menemui ibuku. Beliau nampak bahagia aku hidup dan yang penting, aku menjadi seorang gadis sekarang." Nagisa tertawa kecil.

" Apa ibumu menerima keadaanmu dengan baik? Maksudku… kau tau kan.." Tanya Karma. Nagisa tersenyum dan mengangguk.

" Um. Daijobu. Aku sudah meminta izin untuk tinggal bersama Karasuma sensei. Dan okaasan mengijinkanku." Jawab Nagisa. Karma tersenyum kemudian menghela nafas lega.

" Setidaknya kau tidak apa-apa sekarang." Ucap Karma " Dan berjanjilah untuk tidak melakukan hal bodoh lagi" Tuding Karma. Nagisa tertawa.

" Aku tidak bisa berjanji, Karma-kun.. menjadi seorang hitman itu identic dengan hal-hal bodoh. Seperti memasuki gua penuh serigala kelaparan misalnya." Jawab Nagisa enteng. Karma menaikkan alisnya.

" Tunggu.. kau belajar tentang assassin tidak dari Bitch sensei bukan?" Tanya Karma.

" Hm? Aku belajar banyak darinya." Jawab Nagisa tanpa beban. Karma mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya tersenyum menggoda.

" Hee~ apa itu artinya kau sudah sama bitchnya dengan dia?" Karma mendekatkan dirinya pada Nagisa. Nagisa tercengang sebelum akhirnya memukul Karma dengan tentakelnya. Karma terdorong dan mendarat di lantai. Ia mengusap kepalanya.

" Kau curang, Nagisa~" Ujar Karma. Nagisa hanya menatap Karma datar.

" Aku tidak percaya bahwa kau akan menikah hari ini. dan sekarang kau disini berusaha menggoda wanita lain." Nagisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Karma tertawa kemudian bangkit.

" Baiklah.. kalau begitu, kita akan kembali seperti dulu?" Karma mengulurkan tangannya. Nagisa menatap uluran tangan Karma beberapa saat. Kemudian ia menggenggamnya dan tersenyum.

" Um.. Tadaima, Karma-kun." Ujar Nagisa.

" Okaeri, Nagisa-chan!" Jawab Karma. Mereka tertawa kecil.

" Apa kau sudah merasa enakan? Teman-teman menunggumu dibawah. Mereka sekarang tengah mengobrol dengan Ritsu." Tawar Karma. Nagisa mengangguk kemudian ia menyingkap selimutnya dan menyadari bahwa bajunya terkoyak dibagian perut. Ia segera menutupnya.

" Karma-kun, sepertinya aku harus ganti baju dulu. Bisa kau keluar sebentar?" Pinta Nagisa.

" Hee~ kenapa? Bukankah kita sudah pernah berganti baju bersama-sama dulu saat pelajaran P.E?" Tanya Karma.

" JANGAN SAMAKAN SEKARANG DAN DULU!" Ujar Nagisa sambil membawa Karma keluar dengan tentakelnya. Kemudian pintu kamar itu tertutup diiringi suara tawa Karma yang terpingkal.

TTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT

Karma dan Nagisa baru saja tiba dilantai bawah saat Koro sensei, Karasuma sensei dan Bitch Sensei memasuki ruangan.

" Ah, Sensei senang melihat kalian berkumpul seperti dulu." Koro sensei mengusap matanya dengan saputangan.

" Ya..ya… lupakan dia.. ne, Karasuma sensei bagaimana?" Tanya Maehara. Koro sensei terpuruk dipojok ruangan.

" Kami sudah menemukan Okuda. Dia baik-baik saja.. saat ini dia tengah menenangkan dirinya bersama orang tuanya." Jawab Karasuma.

" Syukurlah.. yang penting dia tidak apa-apa." Gumam Kurahashi.

" Jadi, dimana dia sekarang?" Tanya Karma. Karasuma menatap mantan muridnya itu.

" Maafkan aku.. tapi Okuda memohon agar kami tidak memberitahukan lokasinya kepada kalian. Termasuk kau, Karma-kun." Jawabnya. Semua melirik Karma. Sedangkan Karma sendiri hanya berdiri diam. Sampai akhirnya ia merasakan tepukan dipundaknya. Ia menoleh dan menemukan gadis biru itu tersenyum.

" Yang penting dia baik-baik saja, Karma-kun.. dia pasti bukannya tak ingin bertemu denganmu." Hiburnya. Karma tersenyum.

" Baiklah, lupakan segala kesuraman ini. sebaiknya kita tidak membuang waktu.. bagaimana kalau kita rayakan keselamatan kita dan kedua mempelai dari Asano?" Maehara mengacungkan kaleng-kaleng bir.

" Nurufufufufu~ kalian sudah bisa merayakan dengan bir sekarang.. kalau begitu, sensei akan.. NYUNYA!" Koro sensei menghindari sebuah pisau anti sensei yang terlempar kearahnya. Ia menoleh horror kearah lemparan.

" Karma-kun! Jangan bermain pisau disaat kita akan merayakan sesuatu!" Teriak Koro sensei. Kemudian ia mulai melakukan hal yang biasa ia lakukan.. menuliskan peraturan-peraturan saat menginap bersama.

" Ugh… dia mulai lagi. Hanya karena ia yang memesankan hotel ini untuk kita semua." Gumam Hinata.

" Tapi… aku merindukan suasana ini.. kau tau?" Jawab Maehara. Hinata menoleh kemudian ia mengangguk setuju.

" Tapi aku terkejut kau masih menyimpan pisau anti sensei." Nakamura menoleh kearah Karma. Karma hanya tersenyum santai.

" Aku mempersiapkan segala kemungkinan. Jadi saat kalian menelantarkan benda-benda itu, aku memungutinya. Kalau kalian mau, aku masih menyimpan banyak dikamarku." Karma mulai memunculkan tanduknya. Yang lain hanya menatap sweatdrop.

" Tidak.. mungkin karena sudah tak ada hadiah, kurasa tidak akan semenarik dulu untuk memburunya." Jawab Nakamura.

" Hmm? aku tidak bilang ini untuk hadiah. Tapi selama kita tak akan bisa membunuhnya kalau tidak kita tusuk jantungnya, kurasa bermain dengan tentakel lainnya akan sangat menyenangkan." Ucap Karma. Yang lain mulai merinding. Itu menunjukkan selama tidak akan membunuh, Karma akan dengan santai menyiksa siapapun bukan? Disampingnya, Nagisa tertawa sumbang. Sepertinya ia harus menjauhkan tentakelnya dari Karma mulai sekarang.

TTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT

Pagi itu para mantan murid kelas 3-E tengah menikmati sarapan bersama. Setelah malam sebelumnya mereka gagal melaksanakan acara minum-minum seperti yang sudah direncanakan, mereka memutuskan untuk pergi tidur ( Tentu saja setelah Karasuma sensei meneriaki mereka untuk istirahat).

Karma menatap sarapannya malas. Disebelahnya, Nagisa duduk sambil menyesap tehnya. Tentu saja, jika ia menjadi Karma mungkin ia akan mengalami hal yang sama. Setelah pernikahannya dirusak, sang calon istri tak ingin menemuinya, ia juga masih harus awas terhadap dirinya sendiri karena menjadi target dari seorang Asano Gakushuu.

" Karma-kun, jangan menusuk-nusuk udangmu seperti itu!" protes Nagisa.

" Ha? Oh, gomen..gomen… hahaha apa tentakelmu alergi terhadap serpihan udang?" Tanya Karma.

" Hentikan omonganmu dan lekas makan -_-!" Nagisa mendorong piring milik Karma. Karma memasukkan sepotong udang kedalam mulutnya dan mulai mengunyahnya. Kemudian matanya menatap Nagisa yang sebenarnya juga tidak bernafsu untuk memakan sarapannya. Karma bisa tau dari sikap Nagisa yang menatap makanan didepannya dengan malas.

" Kau juga harus menghabiskan makananmu, Nagisa~. Jangan berfikir untuk menyisakannya." Ucap Karma. Merekapun melewatkan sisa waktu sarapan dalam diam.

" Nagisa, kalau kau sudah selesai sarapan, bisakah kita bicara sebentar?" Bitch sensei menepuk pundak Nagisa. Nagisa mengangguk.

" Apa yang mau dibicarakan? Kau bisa membicarakannya disini bukan?" Tanya Karma. Bitch sensei tersenyum penuh arti dan menepuk pundak Karma sambil tersenyum nakal.

" Ra-ha-si-a.. hahaha… anak kecil sepertimu tidak boleh tau!" Ejek Bitch sensei.

" Kalau masalah kecil, Aku lebih kecil darinya, Bitch sensei!" Pikir Nagisa.

" Lagipula, ini urusan wanita.. kau harus ingat nak," Bitch sensei meletakkan telunjuknya didepan bibir kemudian ia mengedipkan sebelah matanya. " a secret makes a woman woman ." Lanjutnya. Kemudian ia menepuk kepala Karma dan segera berlalu dari hadapan mereka. Karma menatap datar sambil mengusap-usap kepalanya seperti sedang membersihkan sesuatu.

" Jadi, rahasia wanita apa saja yang sudah kau ketahui, Nagisa?" Tanya Karma. Nagisa menoleh.

" Eh? Entahlah.. tidak ada yang penting." Jawab Nagisa.

" Jadi sebagai wanita, apa kau juga punya rahasia yang tidak aku ketahui?" Tanya Karma lagi.

" Hmm… kurasa rahasia terbesarku adalah tentakel. Jadi jangan khawatir, Karma-kun. Kau sudah tau semuanya." Jawab Nagisa sambil tersenyum. Kemudian Nagisa meletakkan garpunya.

" Nah Karma-kun, aku akan bicara sebentar dengan Bitch sensei. Kau bisa menunggu dengan yang lainnya bukan?" Tanya Nagisa. Karma tersenyum dan mengangguk.

" tidak masalah." Jawabnya santai. Nagisapun beranjak dan berjalan menuju meja Bitch sensei. Kemudian Karma melihat Bitch sensei, Karasuma sensei dan Koro sensei beranjak dari mejanya dan berjalan dengan Nagisa di belakang mereka. Karma mengeluarkan handphonennya.

" Hei, Ritsu. Bisa membantuku?"

TTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT

- TBC

Rencananya amaya mau post 2 chapter. Tapi kayanya satu dulu deh XD

Amaya sedang baper karena abis baca manga Ansatsu. Hiks… thanks for Yusei Matsui sensei.

Semoga ada yang berkenan membuat movie ansatsu ( bukan real action) XD

Marikka Kenullia: Nurufufufufu~ iya saya juga mencari fem nagisa XD karena saya mengharapkan itu. Arigatou sudah mampir :3

Guest-san: Mikukuro ya? Salam kenal ^^/

Iya kasihan ritsu… dia ditaksir ama virus XD yup, Arigatou sudah mampir ^^

Takamiya Haruki-san: hohohoho Nagisa perlu dilindungi dari perburuan liar memang*plak.

Wkwkwk… saya tak paham vvibu itu apa. Tapi, ya. Saya terima sarannya. Terimakasih banyak reviewnya.. semoga bisa mampir lag XD

I Love you all… thanks sudah baca mampir, review pm follow fav( emang ada?)

Semoga bisa menghibur semuanya ^^