LET'S JUST FALL IN LOVE

Part. 3

Yuka

.

.

.

Lagi-lagi hujan turun saat mereka hampir selesai syuting. Kali ini adegan yang diambil di area gedung kampus. Yuta merasa sangat lega karena mereka tidak akan ricuh memasukkan barang-barang ke gedung jurusan agar tidak basah.

Yuta berdiri di depan kru sambil berkata, "Last, scene 12, take 23." Katanya lalu menyatukan papan kertas hitam putih di depannya dan Taeyong yang berkata action.

Hari ini hari terakhir syuting, sisanya tinggal mengedit. Peran Jaehyun dan Winwin sangat besar dalam mengedit. Mereka punya otak kreatif yang luar biasa. Kadang Yuta iri. Setelah duduk di kursi tepat di sebelah Taeyong, Yuta mengecek ponselnya.

Tidak ada pesan.

Seharusnya Yuta sudah tahu, kan?

Mungkin Johnny sedang bermain basket dengan Ten atau mengerjakan tugas dengan Ten atau juga- ah, sudahlah.

Mendesah kecil dia memasukkan ponselnya ke dalam tas dan fokus melihat akting Jaemin dan Jeno yang minta maaf pada Mark. Yuta tersenyum kecil, hal itu juga pernah terjadi padanya. Saat dia menginjakkan kaki di SMA, saat dia nyaris dibully karena dia orang Jepang, dan Johnny berdiri untuknya.

Ah, kenapa lagi-lagi membahas Johnny?

Adegan diulang hingga beberapa kali dan Taeyong berdiri berkata, "Cut!" lalu dia bertepuk tangan. Semua kru bersorak senang sambil ikut bertepuk tangan. Yuta berdiri tersenyum lebar dan mengikuti Jaehyun, Doyoung, Winwin dan Taeyong untuk menuju ke depan pada kru lain untuk berterima kasih.

Setelah semua kru bubar dan properti sudah kembali seperti semula, Jaehyun mendekati Taeyong dan Yuta, "Ayo kita rayakan." Katanya.

Doyoung dan Winwin mengangguk tapi Yuta dan Taeyong menggeleng bersamaan.

"Kenapa?" tanya Doyoung membuat Taeyong mengernyit kecil, "Bagaimana kalau besok? Sebelum mengedit?" tawarnya membuat Jaehyun mendengus kecil tapi tak urung mengangguk.

"Memangnya kalian ada apa?" tanya Winwin. Yuta menjawab sekenanya, "Aku ada urusan dengan Taeyong."

Lalu ketiganya mengangguk memutuskan untuk melepas Taeyong dan Yuta pada masalahnya sendiri. Selesai beres-beres, Yuta menghampiri Taeyong yang sudah siap. Mereka berjalan ke tepat parkir saat Taeyong berkata, "Di tempatmu atau di tempatku?"

Yuta meringis kecil, "Uh, kau tahu aku tidak bisa memasak jadi peralatan di apartemenku ya... seadanya." Katanya.

Taeyong membuka pintu mobilnya, tersenyum, "Apartemenku kalau begitu." Katanya lalu mereka masuk ke dalam mobil dan melaju meninggalkan gedung kampus.

Jam menunjukkan angka 9 saat Yuta dan Taeyong memasuki kamar apartemen Taeyong yang jauh lebih besar dan lebih rapi dari apartemen Yuta. Yuta mengulum senyumnya merutuki betapa joroknya dia. Lalu dia mengikuti Taeyong yang berjalan ke dapur, dan membuka kulkas.

Yuta meletakkan tasnya di atas meja makan mengikuti Taeyong yang sedang mengeluarkan beberapa tepung dan bahan lain yang Yuta tidak tahu. Dia tersenyum karena Taeyong begitu baik padanya. Yuta tahu dia menyia-nyiakan kesempatan emas untuk bersama Taeyong, tapi perasaan itu tidak bisa dimainkan.

"Baiklah kita akan mulai. Yuta, kau ambil mixer di dekar kompor ya, aku akan menyiapkan bahannya." Kata Taeyong dan Yuta langsung mengangkat tangannya, "Yokai!" serunya dan melaksanakan perintah Taeyong.

Setelah semua bahan masuk ke dalam baskom kecil, Yuta menekan tombol mixer dengan kecepatan medium. Melihat telur-telur menyatu dengan tepung dan pengembang kue dengan takjub. Jangan salahkan dia, dia belum pernah membuat kue sebelumnya.

Taeyong menyiapkan loyang bulat berukuran kecil ke meja saat Yuta berkata, "Terima kasih Taeyong, aku merasa sangat tertolong."

Taeyong tersenyum lebar sambil mematikan mixer untuk menuang adonan ke dalam loyang yang sudah diolesi mentega sebelumnya, "Aku senang membantumu, Yuta. Sungguh." Katanya lalu adonan itu masuk ke dalam loyang.

Yuta tersenyum kecil. Dia tahu Taeyong tidak suka membahas masalah seperti ini, "Apa yang harus aku lakukan lagi?" tanya Yuta dan Taeyong menyuruh Yuta untuk memisahkan kuning telur dan putihannya.

Yuta melakukan hal yang dikatakan Taeyong sebelum bertanya, "Untuk apa ini?"

Taeyong menekan tombol oven dengan suhu tertentu dan berjalan menuju Yuta, "Krim. Aku kehabisan krim kocok dan kemarin aku lupa membelinya bersama barang-barang yang lain."

Yuta memajukan bibirnya dan mengangguk kecil, "Baiklah sekarang kita kocok telur ini dengan gula." Kata Taeyong dan Yuta segera memasukkan beberapa sendok gula ke dalam adukan telur itu.

Selagi mengocok, Yuta melihat Taeyong mengupas jeruk dan memotong strawberry dengan teliti, "Taeyong-ah..." panggil Yuta.

"Hm?" Taeyong bertanya sambil melempar senyum.

"Gomawo..." kata Yuta lagi membuat Taeyong menggeleng sambil tertawa.

Suara oven membuat keduanya mendongak. Dengan cepat Taeyong berjalan dan mengambil sarung tangan tebal untuk mengambil kue di oven. Setelah selesai, dia meletakkan kue polos itu ke atas meja. Yuta menatapnya takjub.

Taeyong mengambil pisau panjang dan memotong kue itu secara horizontal sebelum mengambil krim kocok di tangan Yuta. "Kemarilah..." kata Taeyong dan Yuta menurut. Mereka berdiri berdekatan dan Yuta tidak bisa menahan senyumnya saat Taeyong mengoleskan krim ke dalam kue itu.

Menggigit bibirnya jahil, Yuta mengoleskan krim kocok itu ke hidung Taeyong.

"Yuta, astaga..." kata Taeyong merengut tapi tidak menghapus krim itu. Ia masih fokus memasukkan krim ke dalam kue. Yuta tersenyum, "Aku.. aku! Aku mau membuatnya juga!" kata Yuta dan Taeyong mengiyakan.

Taeyong memanasi coklat untuk disiramkan ke atas kue kecil itu. Yuta berseru kecil, "Hai owari!" katanya dan Taeyong tersenyum sambil membawa coklat yang masih agak panas ke meja. Iseng, Taeyong mengoleskan coklat itu ke pipi Yuta.

"Ya! Taeyong... aish." Kata Yuta lalu memajukan bibirnya dan mengoleskan krim kocoknya ke pipi Taeyong dan dibalas sebaliknya.

Mereka bercanda sambil terus membuat kue. Setelah menuang coklat ke atas kue berkrim itu, Yuta dan Taeyong melempar senyum.

"Apa kau akan memberikannya hari ini?" tanya Taeyong dan Yuta mengangguk.

"Tentu saja, besok ulang tahunnya." Kata Yuta tersenyum menatap kue itu dengan takjub. Yuta meneruskan, "Aku akan kejutkan dia nanti."

Taeyong mengangguk sambil memasukkan krim ke dalam pastik untuk membuat dekorasi. Satu bunga kecil, lalu disusul dua bunga kecil lagi menghiasi pinggiran kue itu. Lalu Taeyong membuat beberapa bulatan di tengah kue dan Yuta meletakkan potongan jeruk, strawberry dan anggur di sana.

Taeyong tersenyum puas, "Baiklah. Selesai." Katanya dan Yuta bersorak, "YATTA!"

Sekali lagi Yuta menatap Taeyong, tersenyum lebar ke arahnya sebelum mengecup pipi Taeyong, "Gomawo."

.

.

.

Ciuman itu berlangsung sedikit lebih lama dari pertama mereka melakukannya. Bibir manis itu masih bergerak menghisap kecil bibir bawah Johnny kemudian dibalas dengan gigitan kecil olehnya. Ia begitu merindukan bibir ini. Johnny mengulum bibir bawah Yuta perlahan lalu kembali menghisapnya pelan.

Beberapa detik kemudian Johnny memainkan ujung rambut yang terasa asing di permukaan jarinya. Johnny memberi kecupan terakhir sebelum melepas ciumannya dan membuka mata. Lalu dia menerjab kecil.

Ten menatapnya dengan senyum terpatri di bibirnya. Johnny mengedipkan matanya pelan.

Oh.

Bukan Yuta.

Ten tertawa kecil, "Kau tidak apa-apa?" tanyanya pada Johnny yang langsung mengangguk. Astaga. Apa dia baru saja memikirkan Yuta saat berciuman dengan Ten?

Ten mendudukkan diri di kasur Johnny dengan enteng sambil mengambil gelas minumnya di meja. Johnny masih tenggelam dalam pikirannya.

Ujung bibir Ten naik ke atas, "Kau tahu..." katanya menarik perhatian Johnny.

"Apa?"

Ten memainkan gelas kacanya sambil menatap ke depan, "Kau memikirkan orang lain sekarang." Katanya membuat mata Johnny melebar.

Johnny menggeleng, "Apa yang kau bicarakan?"

Ten menatap Johnny sebentar, "Apa kau benar-benar menyukainya?"

Johnny terdiam dan Ten tersenyum lebar, "Ayolah, Johnny tidak sulit mengakuinya." Katanya lagi lalu menggenggam kedua tangan Johnny. Ten mengamati perubahan wajah lelaki itu.

"Aku tidak mau merusak persahabatan kami, kau tahu. Saat semua berubah menjadi cinta, semua akan berbeda." Kata Johnny dan Ten bergumam.

"Hmm... aku rasa jatuh cinta bukan hal yang buruk. Kalau kau nyaman dengannya, tidak masalah, kan?" kata Ten dan Johnny tidak menjawab.

Iya dia tahu. Dia tahu dia nyaman dengan Yuta. Dia tahu dia terlalu menyayanginya. Dia tahu dia khawatir setengah mati jika Yuta tidak mengabarinya satu kali pun. Dia tahu dia menyukai Yuta.

"Kau memikirkan Yuta saat menciumku, kau memikirkan Yuta saat bicara denganku, tapi kau tidak mau mengakui itu. Aku rasa itu berlebihan." Kata Ten memandang langit-langit apartemen Johnny yang putih bersih.

Johnny mengedipkan matanya, ia membuka mulut untuk meminta maaf tapi Ten memotongnya, "Jangan minta maaf. Aku juga.. aku rasa aku belum pernah jatuh cinta dengan tulus. Kita dekat, tapi aku tidak merasakan apapun, apalagi kau menyukai orang lain kan?" Katanya.

Johnny mengernyit kecil, "Semakin aku berusaha menjauhinya semakin aku menginginkan Yuta dekat denganku." Gumamnya dan Ten tertawa.

"Itu namanya jatuh cinta, bodoh." Katanya lalu memukul kepala Johnny pelan. Johnny merengut mengelus kepalanya sendiri.

"Katanya kau belum pernah jatuh cinta." Sindir Johnny membuat Ten tertawa.

Ten tiba-tiba tersenyum jahil, "Akui saja John, kau menyukai Yuta. Kau jatuh cinta pada Yuta." Katanya dan Johnny menggeleng kecil.

"Bukti?" tantang Johnny dan Ten menggeram, menangkup pipi Johnny dan menciumnya tepat dibibir.

Johnny hanyut dalam ciuman itu, menahan tengkuk Ten dan memikirkan orang lain.

.

.

.

"Apa kau yakin dia masih bangun?" tanya Taeyong dari dalam mobil.

Yuta mengangguk. Sekarang dia berdiri tepat di depan apartemen Johnny. Hujan turun dengan sangat deras membuat Yuta harus segera masuk ke dalam. Jadi dia melambai ke arah Taeyong sambil berlarian kecil ke dalam.

Yuta menghembuskan nafas kecil, lega karena dia sudah berada di dalam. Yuta membuka bungkusan kecil di tangannya dan tersenyum puas karena kue itu tidak rusak. Dengan hati-hati Yuta berjalan menuju lift dan masuk ke dalam setelah pintu terbuka.

Tidak perlu banyak waktu hingga dia sampai di lantai tujuan. Dengan pelan Yuta berjalan menuju kamar Johnny sambil melirik jam di tangannya. Jam 11.40 malam.

Masih belum saatnya, tapi tidak apa-apa kan?

Yuta mengulum senyum lalu berhenti di depan pintu Johnny. Ketuk, tidak? Ketuk, tidak? Yuta mengerutkan kening dan memutuskan untuk memutar knob pintu yang ternyata tidak terkunci itu.

Lalu dia terpaku.

Mata Yuta melebar seiring dengan nafasnya yang perlahan memendek. Johnny duduk di ranjangnya, berciuman dengan Ten yang duduk dipangkuannya. Yuta mengatur nafasnya saat Johnny melepas ciumannya, membuka mata dan menatap Yuta di ambang pintu. Beberapa detik kemudian Yuta tersadar dan bergumam, "S-Sumimasen..."

Lalu dengan cepat, Yuta berbalik. Dia berlari kecil ke arah lift sambil mengatur nafasnya. Sampai di dalam, Yuta tidak tahu kenapa air mata tiba-tiba mengembang di matanya. Yuta menghapusnya cepat. Astaga, ada apa dengan hatinya?

Sampai di bawah Yuta langsung berlari keluar apartemen dengan bulir air mata yang jatuh tiba-tiba. Yuta ingin memukul kepalanya sendiri karena menjadi lelaki yang cengeng. Hujan di luar masih deras tapi Yuta masih tetap memilih untuk berlari ke luar. Kue buatannya dia simpan di balik jaketnya. Bagaimana pun, dia tidak bisa meyia-nyiakan kebaikan Taeyong.

Dia berlari ke arah halte bus dan saat hendak menyebrang jalan tiba-tiba hujan berhenti.

Tidak, hujan tidak berhenti.

Yuta menoleh melihat Johnny berdiri di belakangnya. Wajah tampannya terlihat sangat khawatir. Payung biru besar di tangannya. Yuta masih bisa merasakan air matanya berjatuhan, dia menghadap Johnny sambil bergumam, "Maaf, Johnny... aku tidak tahu kalau kau sedang bersama Ten tadi."

Johnny melepas payungnya dan meraup tubuh kecil Yuta dalam pelukannya. Yuta melebarkan matanya, terlalu terkejut untuk merespon pelukan Johnny. Hujan deras mengguyur mereka berdua membuat Yuta kembali mengingat saat mereka berpelukan di lapangan waktu itu.

Seperti de javu rasanya.

Johnny mengusap punggung Yuta pelan seraya berbisik, "Ayo masuk..."

Yuta membalas pelukan Johnny, "Maaf, Johnny."

.

.

.

Johnny menatap lelaki yang menunduk di pangkuannya. Jemari Johnny yang panjang sibuk mengeringkan rambut Yuta dengan handuk. Johnny menatap Yuta yang sedari tadi masih menunduk dan itu membuat Johnny gemas.

Dengan pelan Johnny menangkup pipi Yuta dan bertemu tatap dengan matanya. Lelaki yang lebih muda beberapa bulan darinya itu merengut kecil, menatap Johnny dengan kedua mata sembabnya. Pipi Yuta memerah lucu membuat Johnny menggigit bibirnya gemas.

"Aku minta maaf, Johnny... aku tidak bermaksud mengganggumu tadi." Gumam Yuta lagi entah untuk ke berapa kalinya.

Johnny tersenyum kecil, "Ssst... aku sedang mengeringkan rambutmu." Kata Johnny pelan dan Yuta merengut.

Johnny menatap mata Yuta seraya menyingkirkan handuk putih dari rambutnya. Dia merengkuh pinggang ramping Yuta. Jemari Johnny menyentuh permukaan kaos abu-abu besarnya, membelai pelan punggung Yuta.

Johnny menatap kedua mata Yuta lalu turun ke bibir merahnya yang basah. Dikecupnya sepasang bibir menggoda itu sekali. Yuta tidak menolak, jadi Johnny melakukannya lagi, lagi dan lagi. Belaian lembut Johnny beralih dari punggung Yuta, menurun hingga pinggulnya.

Saat Johnny menjauhkan wajahnya, Yuta menatapnya dengan ragu, jadi dia berkata, "Tidak perlu penjelasan sekarang." Katanya menyatukan kening mereka. Johnny memejamkan matanya, mengecup kembali bibir Yuta.

"Menjauhimu malah membuatku semakin menginginkanmu..." bisiknya lalu kembali dikecupnya bibir itu.

Yuta masih diam, jadi Johnny melanjutkan ciumannya. Tangan besarnya meraba paha Yuta yang tak tertutup apapun, menyentuh permukaan kulit halus Yuta dengan jemarinya. Yuta memegang lengan besar Johnny, membalas ciuman mesra yang dia berikan.

Bibir mereka bergerak satu sama lain. Saat itu Johnny benar-benar merasakan setiap ruang kosong yang dia tinggalkan menjadi lengkap. Yuta menghapus segala keraguannya, segala ketakutannya dengan pelan, lembut dan hati-hati.

Johnny meraba punggung Yuta dari balik kaosnya mengundang desahan pelan dari bibir itu. Johnny melepas ciumannya lalu mengecupi leher Yuta. Tangan lembut Yuta menahan kepala Johnny saat dia mendongak, membuat Johnny bebas menjelajahi leher jenjangnya dengan leluasa.

Pelukan di pinggang Yuta mengerat seiring dengan kecupan Johnny yang beralih dari satu tempat ke tempat lain. Perlahan tapi pasti, Johnny menjatuhkan diri ke atas kasur empuknya dengan Yuta berada di atasnya. Yuta duduk tepat di selangkangannya.

"Johnny..." kata Yuta pelan sebelum menatap Johnny dari atas. Melihat senyum Johnny mengembang perlahan, Yuta tertawa kecil lalu menunduk dan mencium Johnny tepat di bibir.

Johnny menjalarkan jemari panjangnya di permukaan kulit punggung Yuta, meraba lapisan lembut itu dengan pelan dan penuh kasih. Dia memiringkan kepalanya, menahan tengkuk Yuta sembari meremas kecil rambut belakangnya saat Yuta hendak melepas ciumannya.

Perlahan, Johnny bangun dari posisinya. Tangan kirinya menahan punggung Yuta sementara tangan kanannya menopang tubuhnya. Lalu dalam sekejab, posisi mereka tertukar. Johnny mencium lalu menggigit kecil bibir Yuta dari atas, membuat Yuta yang terbaring di atas kasurnya mendesah kecil.

Permukaan kulih leher Yuta begitu halus dan lembut, Johnny mengecupinya sedikit demi sedikit, tangannya menahan pinggul Yuta yang sedikit meronta. Setiap suara yang Yuta hasilkan membuat Johnny semakin gencar merasakan setiap inci tubuh sahabatnya itu.

Lalu dorongan kecil dia rasakan di dadanya. Johnny menatap Yuta heran. Semua terjawab saat Yuta terkesiap.

"Ah!" Yuta cepat bangun dari tubuh Johnny. Johnny turut bangun dan melihat Yuta berlarian kecil ke dapur.

Yuta membuka bungkusan di meja makan lalu membawa kue coklat kecil buatannya –dan Taeyong, juga meletakan dua buah lilin berwarna-warni di atasnya. Yuta menyalakan lilin itu, lalu berjalan perlahan ke tempat tidur.

"Happy birthday... to you..." Yuta bernyanyi kecil lalu menatap Johnny yang melihatnya dari atas ranjang. Lelaki itu tersenyum lebar dan menggeser tubuhnya agar Yuta bisa ikut duduk di kasur.

Yuta mendudukkan diri masih bernyanyi, "Happy birthday, to you~" lalu dia tersenyum sambil memamerkan kue hasil jeri payahnya, "Happy birthday Johnny Seo..."

Johnny mengusap rambut Yuta sayang, lalu Yuta kembali bernyanyi kecil, "Happy birthday to you..."

Johnny menepuk tangannya, senyum lebar terukir di bibirnya. Dia nyaris tidak bisa berkata-kata. Yuta tersenyum kecil, "Make a wish!" suruhnya.

Johnny tersenyum menangkupkan kedua tangannya lalu setelah beberapa detik, Johnny meniup lilin-lilin lucu itu dan Yuta langsung bertepuk tangan. Lidah Johnny rasanya kelu, pipinya mendadak memanas dan perutnya dipenuhi kupu-kupu. Ten benar.

Dia jatuh cinta.

Lalu Yuta meraih tangan Johnny, menggenggamnya erat untuk memotong kue kecil itu. Johnny tertawa keras membuat Yuta ikut tertawa. Lalu sepotong kue tersodor di depannya. Yuta tersenyum bangga.

"Aku membuatnya sendiri." Katanya tersenyum lebar, begitu bangga akan pekerjaannya. Tapi pipinya yang memerah berkata lain. Lelaki ini pasti sangat malu.

Johnny tersenyum menggigit kue di depannya lalu membuat pose solah berpikir keras. Yuta menatapnya, bibirnya bergerak tidak nyaman.

"Ini… aku tidak percaya kau membuatnya." Perkataan itu sukses membuat Johnny mendapat satu pukulan keras di lengannya.

Johnny mengaduh tapi tawanya menggema, "Menyebalkan sekali. Aku membuatnya dengan Taeyong tahu!"

Mendengar nama Taeyong, Johnny mengerutkan alisnya mendadak tidak suka. Masa bodoh, dia memang cemburu. Lalu Yuta tersenyum jahil, dia mencolek hidung Johnny dengan krim kocok yang tadi dia buat.

"Cemburu ya?"

Johnny menggeleng, "Overconfident." Lalu menggigit kue itu lagi membuat Yuta tertawa dan ikut memakan potongan yang lain. Mereka terlibat dalam keheningan nyaman sesekali bercanda tentang kuliah maupun kesibukan mereka masing-masing.

"Bagaimana dengan Ten?" tanya Yuta. Ada coklat di sudut bibirnya dan Johnny mendekatkan wajahnya untuk mengecup bibir itu sejenak sebelum menjawab pertanyaan Yuta.

"Kami berusaha dekat, tapi tidak berhasil. Tenang saja, dia bahkan menyuruhku untuk mengatakan ini padamu." Johnny terdiam beberapa detik dan membuat Yuta penasaran setengah mati.

Lalu Johnny menyeletuk, "Yuta, aku rasa, aku… menyukaimu."

Mata coklat besar Yuta melebar sempurna. Pipinya memanas hingga ke telinga. Mulutnya sedikit menganga dan Johnny bersumpah ini adalah pemandangan paling menggemaskan sepanjang hidupnya.

Yuta mendadak menunduk, memainkan jarinya, "Um.." katanya lalu mengangguk. Johnny mengusap rambut Yuta sayang. Dalam hatinya dia tahu lebih dari yang sekedar keluar dari bibir manis Yuta.

"Aku juga."

Hati Johnny terasa sangat ringan sekarang. Melegakan sekali. Setelah lama menolak perasaannya sendiri, dia akhirnya menerimanya. Mereka harus berusaha sekarang. Mereka harus berusaha mengendalikan perasaan mereka, mempertahankan hubungan tanpa menghancurkan persahabatan mereka sendiri.

Menjadi kekasih sahabatmu, dan menjadi sahabat kekasihmu, bukankah hal itu cukup wajar?

Lalu tanpa hitungan detik, Johnny menyatukan bibir mereka kembali. Yuta terkikik geli sembari menahan pipi Johnny yang terus menciuminya. Mereka kembali terbaring di atas kasur.

Johnny berbisik kecil setelah mengecup leher Yuta, "Ayo lakukan."

Hal itu membuat pipi Yuta memanas hingga keesokan harinya.

.

.

.

TAMAT

.

.

.

A/N:

HALO teman-teman HEHEHE, apa kabar?

Iya FF ini udah kelar XD segini aja dulu ya? Otakku udah buntu sekali dan akhir-akhir ini mendadak WB ku kambuh lagi. Bagaimana ini? ;-; Geurigo, ini lebih pendek dari yang aku bayangin, kwkwkw. Btw aku uda bilang ini oneshot kan yah? XD AHAHA. Maaf maaf next time maybe aku bikin yang lebih panjang.

Anyway, than God FF ini udah selesai jadi aku mau fokus sama tugasku dulu /DIGAMPAR/ /DIRAJAM/ :'''3

Oiya dan aku mempertahankan rating T untuk FF ini hahaha, meskipun godaan bikin rated M merajalela tapi aku bertahan BAH! XD /nggak penting!/ dan terima kasih buat temen-temen yang udah review dari chapter satu, yang udah favorit, yang udah follow dan yang baru buka kkk~ maaf nggak bisa bales satu per satu but I WILL next time! kkk~ thank you so much much mucccchhh for loving this fic, semoga puas dan bermanfaat dalam segi apapun. Paling nggak buat hiburan kkk~ udah deh, SEE YA IN MY OTHER FFS! XOXO

-Yuka