Title : Being Forgotten (Yang Terlupakan)

Author : Chiello

Main Cast : Oh Sehan as HunHan's son

Other Cast : EXO Oh Se Hun as Oh Sehun

EXO Lu Han as Xi Luhan

EXO Kim Jongin as Kim Kai

Kim Keanu (Kim Ken) as KaiLu's Son

Genre : Family, Hurt/Comfort (or maybe angst. Idk)

Length : Molla

Disclaimer : Cerita asli milik saya, jadi jangan coba-coba plagiat yes!. Saya cuma pinjem nama member EXO. Nama cast lain murni karangan saya. Karakter tokoh tidak nyata. Dan inget cerita ini hanya fiktif belaka alias cuma imajinasi. Jika ditemukan kesamaan dengan cerita milik orang lain, saya benar-benar tidak tahu.

Terinspirasi saat saya mendengarkan lagu Noel yang berjudul Being Forgotten yang di cover oleh BTOB. Tapi ingat, ini bukan songfict yaa.

.

.

Happy Reading!

.

.

Being Forgotten

.

.

.

Ia bergerak gelisah. Antara sadar atau tidak, tubuhnya berguncang ke kanan dan ke kiri. Apakah ia sedang bermimpi? Jika ia sedang berada di alam bawah sadar, ini membingungkannya, antara keyakinan dan keraguan, apakah ini sebuah pertanda? Pertanda yang harus segera disadari?. Namun jika ini bukan bunga tidur belaka, mengapa ia seolah bisa mengendalikan tubuhnya? Mengendalikan, sebaik mungkin, agar hanya ia dan malam saja yang tahu.

Dia terbangun dari mimpi yang mampu mengendalikan tubuhnya. Ia mengusak wajahnya pelan. Menghela nafas dan kemudian menghembuskannya kembali. Mengatur setiap udara yang masuk ke paru-parunya dengan pelan. Jantungnya sedikit tidak baik ia rasa.

Setelah nafasnya mulai beraturan, ia memberanikan diri bangkit dari tempat tidurnya. Melirik sekilas, mengulas senyum tipis, sebelum ia menapakkan kakinya di lantai dingin kamarnya. Kedua kakinya membawanya keluar, menuju pada satu tujuan. Dan kini, ia telah sampai, berdiri menghadap wajah teduh di depannya. Ia menatap dalam seluruh tubuh kecil itu. Lalu fokusnya berhenti saat melihat mata yang terpejam itu. Ia sedikit menaruh dirinya dengan perlahan, seolah tak ingin ada decitan yang mungkin bisa menginterupsinya. Satu tangannya ia belai dengan lembut rambut hitam legam di depannya. Matanya berubah menjadi sayu dan sendu, memberikan tatapan tersembunyinya, seiring ia berbisik lirih.

"Apakah aku terlalu menyakitimu? Jika aku membuatmu tak bahagia, maafkan aku. Maaf,"

Lalu ia beranjak dari tempat ia setengah berbaring tadi. Ia berikan seluruh atensinya pada yang terlelap. Perlahan ia mulai meninggalkan. Kembali ke pembaringan awal, berkelana kembali ke bawah sadar, bersamaan dengan detik-detik dimana bintang yang mulai menghilang.

.

.

.

Being Forgotten

.

.

.

Matahari belum tampak sempurna terlihat di ufuk timur tempatnya terbit, sehingga udara pagi masih terlalu dingin di waktu yang menunjukkan pukul 05:30 pagi waktu setempat. Dinginnya udara pagi tak membuat seorang Oh Sehan malas beranjak dari tidurnya. Ia langsung mematikan alarmnya yang berbunyi nyaring. Tak lupa ia matikan juga pendingin ruangan kamarnya. Sehan selalu bangun pagi karena Sehun selalu membiasakannya, kecuali jika di waktu libur, Sehun tak keberatan jika anak kesayangannya itu bangun siang.

Dengan kondisi yang masih setengah mengantuk, Sehan segera bangkit dari tempat tidurnya dan langsung merapikan tempat tidurnya. Lagi-lagi karena Sehun yang mengajarkannya. Ia kucek matanya pelan, dan mulutnya menguap kecil. Membuatnya terlihat imut meski wajahnya masih wajah bantal. Sehan tak langsung pergi ke kamar mandi, terlebih dahulu ia membuka tas ransel bambi miliknya. Mengambil sebuah kertas yang sedikit keras dari sebuah buku kecil.

"Selamat pagi Appa. Selamat pagi Lulu Mama," Sehan mencium bergantian foto Sehun dan Luhan yang dimana tangan Sehun merangkul bahu Luhan erat.

Sebuah foto lama penuh kenangan, dan itu adalah foto favorit Sehan yang kedua setelah foto Luhan. Setiap pagi menjelang dan malam sebelum tidur, Sehan selalu melakukan ritual mencium wajah kedua orangtuanya di foto itu. Ritual yang ia lakukan setiap hari, bahkan di saat ia merindukan Luhan dengan sangat, sejak ia menemukan foto Luhan saat dirinya berusia dua tahun.

Sehan kemudian melangkahkan kakinya ke kamar mandi setelah ia melakukan ritualnya. Lima belas menit kemudian ia keluar dengan berbalut bathrobe berwarna biru muda, sambil mengusak rambutnya yang basah dengan handuk kecil berwarna senada.

Ia lalu beralih pada lemari berwarna cokelat bergambar tokoh Bambi kesukaannya Dibeli khusus oleh Luhan sehari sebelum kedatangan Sehan. Sesaat setelah Sehun pamit kemarin, Luhan langsung membereskan pakaian Sehan dan menatanya dengan rapi di lemari kamar.

.

.

Cklek

.

.

Baru saja Sehan ingin membuka lemarinya, pintu kamarnya dibuka oleh seseorang. Sehan tersenyum melihat siapa yang masuk ke dalam kamarnya.

"Lulu Mama, annyeong. Selamat pagi," ucapnya memberi salam pada Luhan. Sehan berjalan ke arah Luhan yang juga menghampirinya. Ia menyuruh Luhan membungkuk, kedua tangannya menangkup pipi Luhan dan bibir mungilnya mendarat dengan lembut di kedua pipi dan kening ibunya.

"Selamat pagi juga, Sehannie," balas Luhan. Memberikan senyuman menawan pada anaknya meski sempat terkejut dengan perlakuan Sehan barusan. Luhan tak menampik jika perlakuan Sehan membuat hatinya menghangat. Ia menyukainya. Sangat-sangat menyukainya.

Chu~

"Sehan sudah selesai mandi ne? Anak pintar," Luhan tersenyum kembali seraya mengusap pipi gembul Sehan. Sesuatu di dalam hatinya, yang selama ini terasa memberatkan dirinya, hilang begitu saja. Luhan berhasil. Ia berhasil menghilangkannya. Hanya dengan satu, sesuatu hal yang selama ini ia ragukan akan dapat ia lakukan. Namun pada akhirnya toh ia berhasil juga dan ia tak menyesalinya sama sekali. Ciuman sayang untuk Sehan, anaknya, untuk kali pertama.

"Eoh? Lulu Mama mencium Sehan?" tanya Sehan terkejut.

"Waeyo? Sehan tidak senang? Sehan tidak suka kalau Lulu Mama mencium Sehan?" Luhan balik bertanya.

Ada perasaan sedih yang menyelimuti hatinya mendengar pertanyaan Sehan. Batinnya mempertanyakan dalam hati, barangkali sekiranya apa yang ia lakukan adalah sebuah kesalahan.

Apakah aku tak berhak memberikan sebuah ciuman itu? Apakah Sehan tak mengharapkannya?

"A-aniya. Sehan menyukainya kok, Lulu Mama. Sangat menyukainya. Itu tandanya berarti Lulu Mama sayang pada Sehannie?" jawab Sehan polos.

Luhan mengerutkan keningnya. Mencerna kalimat yang baru saja menjadi jawaban Sehan. Apakah selama ini Sehan tak menganggapku menyayanginya?

"Kata Appa jika kita memberikan ciuman pada seseorang itu tandanya kita sayang pada orang itu. Dulu Sehan pernah lihat Lulu Mama dan Kai ahjussi di televisi sedang mencium Ken saat Ken berulang tahun. Kata Appa, Lulu Mama mencium Ken tandanya Lulu Mama sayang pada Ken,"

Jantung Luhan berdebar kencang. Ia tahu Sehan pasti melihatnya saat Ken merayakan ulang tahunnya yang keempat. Saat itu Kai berencana untuk menjual hak siar pada salah satu perusahaan media terbesar di Korea Selatan. Meski Luhan sedikit tak setuju dengan rencana Kai sebenarnya pada saat itu.

Luhan tak ingin menyela. Ia biarkan Sehan untuk melanjutkan penjelasannya. Lelah dengan posisinya yang berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Sehan, Luhan kemudian mengganti posisinya. Ia menegakan badan sebentar, sebelum membungkukan badannya. Mengambil Sehan dan membawanya dalam gendongan Luhan untuk kemudian duduk di tepi kasur.

"Lulu Mama belum pernah mencium Sehan. Jadi Sehan pikir Lulu Mama tidak sayang pada Sehan. T-tapi … hiks … Lulu Mama … hiks …. Kamsahamnida. Sehan bahagia karena Lulu Mama akhirnya mencium Sehan. Sehan bahagia karena ternyata Lulu Mama sayang pada Sehan. Hiks … Lulu Mama … Jeongmal kamsahamnida … hiks," isak Sehan.

Begitukah yang selama ini ia rasakan? Seumur hidupnya, ia hanya menunggu apakah aku menyayanginya atau tidak. Selama inikah ia menunggu? Menunggu tanda kasih sayang dariku. Tuhan, kumohon maafkan aku.

Luhan tak tahu bagaimana ia harus mendeskripsikan perasaannya. Hatinya terasa berdenyut perih. Seperti ada ribuan duri kecil yang datang menghujam hatinya secara bersamaan. Hebatnya duri itu tidak lepas begitu saja, malah semakin menusuknya dalam. Rasa sakit itu kemudian ditransfer ke dalam tenggorokannya. Luhan tercekat, merasa sulit bahkan hanya untuk menelan air ludahnya. Matanya mulai berkabut. Membentuk sungai kecil yang siap jatuh hanya dengan satu kedipan.

"Lulu Mama sayang pada Sehan. Sayang sekali pada Sehannie. Sehannie anak Lulu Mama yang pintar. Jagoan Lulu Mama dan Appa yang kuat. Maafkan Lulu Mama, hmm? Maaf," Luhan mendekap Sehan erat. Menciumi pucuk kepala anaknya berkali-kali. Tak peduli dengan air matanya yang sudah jatuh membasahi rambut Sehan. Penjelasan Sehan membuatnya tercengang. Tak menyangka jika pikiran seperti itu telah tertanam di otak dan benak Sehan sejak ia kecil.

Luhan bisa mendengar suara hati Sehan. Luhan dapat merasakan apa yang dirasakan Sehan. Sakitnya tak dapat ia gambarkan. Membuat rasa bersalah dan penyesalannya semakin besar hingga ia tak mampu mengendalikannya.

"Sayang … Lulu Mama sayang pada Sehannie … Saranghae … Jeongmal saranghae," Luhan semakin mendekap Sehan erat. Membisikan kata-kata sayang pada Sehan, kata-kata yang selama ini hanya bisa ia pendam. Luhan mengerjapkan matanya, berupaya sekuat hatinya mengendalikan air mata yang siap jatuh, meski pada akhirnya tetap sia-sia.

Hampir sepuluh menit lamanya Luhan dan Sehan bertahan dengan posisi itu. Luhan kemudian mengendurkan dekapannya. Ia tatap wajah Sehan yang dipenuhi bekas-bekas air mata. Beruntung anak itu tidak tertidur karena efek menangis. Luhan menghapus kedua pipi Sehan dengan ibu jarinya, dan tersenyum saat melihat Sehan yang sudah tidak lagi terisak.

"Uljima ne? Sehan harus segera berangkat ke sekolah kan? Kajja, Lulu Mama bantu Sehan memakai seragam sekolah Sehan," ucap Luhan seraya menurunkan Sehan dari pangkuannya.

Sehan hanya terdiam menatap jari-jari Luhan yang mulai mengancingkan satu per satu kancing seragamnya. Begitu juga saat Luhan menyisir rambutnya dan menaburkan sedikit bedak di wajahnya secara merata.

"Sehan kenapa diam saja hmm?" tanya Luhan lembut.

Tak ada tanggapan yang keluar dari mulut kecil Sehan. Hanya sebuah gelengan yang diberikan yang membuat Luhan langsung mengerti. Luhan lalu mengambil tas sekolah Sehan. Setelah memeriksa buku-buku pelajaran dan alat tulis Sehan, ia lalu menyampirkan tas itu di dua bahu anaknya.

"Sudah selesai! Anak Lulu Mama tampan sekali," ujar Luhan gemas sambil mengusap pipi gembul Sehan.

"Kamsahamnida, Lulu Mama," balas Sehan.

"Sama-sama, sayang,"

Luhan lalu mengenggam tangan kecil Sehan dan berjalan bersama menuju ruang makan. Sesampainya, ia membantu Sehan naik ke kursi yang berhadapan dengannya.

"Sehan tunggu disini dulu ne? Lulu Mama ingin mengecek Ken dan Kai ahjussi. Nanti setelah itu kita makan bersama, arraseo?"

"Ne, arraseo, Lulu Mama,"

Seraya menunggu keluarga Kim Kai turun dari atas, Sehan memutuskan untuk mengecek kembali pekerjaan rumahnya. Ia ambil buku matematikanya dan membuka pekerjaan rumahnya yang sudah ia kerjakan dua hari lalu. Mata rusanya mencermati angka tiap angka dengan seksama. Dan seulas senyum ia tampilkan, mengingat pujian yang diberikan Lulu Mama tercintanya saat mengecek pekerjaan rumahnya semalam.

Ini sudah benar semua, Sehannie. Sehannie pintar. Lulu Mama bangga pada Sehan. Tapi Sehan jangan terlalu senang ne? Sehan harus rajin belajar terus supaya jadi anak yang cerdas dan kalau Sehan sudah jadi anak cerdas, Sehan tidak boleh sombong.

Begitulah pujian dan sedikit wejangan dari Luhan setelah ia juga menyempatkan dirinya melihat nilai-nilai hasi belajar Sehan selama ini. Ada rasa bangga yang luar biasa dalam diri Luhan. Ia bersyukur, Sehan tumbuh jadi anak yang cerdas, secerdas kedua orangtuanya, terutama Sehun.

Sehan memasukkan buku tulisnya, tepat saat matanya menangkap Kai dan Luhan yang tengah menggendong Ken turun dari tangga lalu duduk di kursi ruang makan.

"Selamat pagi Kai ahjussi. Selamat pagi, Ken," salam Sehan ramah. Dan seperti biasa, Ken hanya menatap tidak suka dan mencebikkan bibirnya. Sementara Kai hanya memberikan senyum tipis sebagai balasannya. Membuat Sehan hanya tersenyum maklum.

"Kajja kita makan," Luhan membuka suara, memerintahkan suami dan anak-anaknya untuk segera sarapan. Tentunya setelah ia mengambilkan satu per satu nasi goreng ke masing-masing piring dirinya dan tiga orang lagi disana.

Sarapan pagi berlangsung dengan khidmat. Dan sudah menjadi pemandangan yang harus dibiasakan Sehan saat melihat Luhan menyuapi Ken terlebih dahulu baru kemudian ia menyantap sarapannya. Hanya saja ada yang berbeda dan tidak Sehan sadari. Seseorang yang duduk disampingnya sedari tadi terus menatapnya. Lama dan menyimpan arti tersendiri di dalam bola matanya.

"Lulu Mama, Kai ahjussi … eung … nanti Sehan ke sekolah … eung …" Sehan berucap terbata. Ia hanya bisa menunduk, takut kalau Kai akan membentaknya lagi seperti semalam.

Luhan menatap khawatir. Ia mengerti arah pembicaraan Sehan. Namun ia juga takut jika Kai menolaknya keras. Sekilas Sehan melirik Kai yang menatapnya tajam.

"G-gwenchana … Se-sehan … akan naik bus saja. Mianhamnida jika Sehan tidak sopan," Sehan menyela sebelum Kai ataupun Luhan menjawabnya.

Sehan langsung membereskan peralatan makannya. Ia segera menyampirkan tasnya dan berjalan sambil menunduk arah Kai dengan sesekali menatap Luhan.

"T-terimakasih untuk sarapannya. Eung … Se-sehan pamit pergi ke sekolah dulu, K-kai ahjussi, Lulu Mama, Ken-ah. A-annyeong,"

Sehan membungkukan badan dan segera berbalik menuju pintu. Air matanya siap jatuh. Bahunya sudah bergetar dan terdengar isak kecil darinya. Sehan melangkahkan kakinya dengan cepat dan tangannya cepat-cepat menghapus airmatanya.

.

.

.

"Oh Sehan!"

.

.

.

Kaki Sehan sudah berada di pintu rumah ketika ia menyadari jika ada seseorang yang memanggilnya. Sehan berbalik dan mendapati seseorang itu sudah bergerak maju ke arahnya. Langkah kakinya kian terasa di telinga Sehan, pertanda jika seseorang itu semakin dekat. Dan Sehan hanya menunduk takut, mengamati lantai yang seakan lebih indah untuk ditatap ketimbang orang yang memanggilnya itu.

"K-kai ahjussi,"

Ya! Kai yang memanggil Sehan. Tercermin suara tegas yang memanggil Sehan tadi. Kai berjongkok. Mata elangnya menatapi rinci Sehan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bahkan Sehan bisa merasakan deru nafas Kai menerpa wajahnya.

"Cepatlah menghabiskan sarapanmu, Lu," ucap Kai tanpa mengalihkan perhatiannya dari Sehan yang tetap menunduk. Sementara Luhan hanya bisa terdiam dan segera menghabiskan sarapannya sesuai perintah suaminya itu.

.

.

.

.

"Sehan tidak akan naik bus pagi ini. Karena ….. Lulu Mama akan mengantar-jemput Sehan hari ini,"

Sehan menatap Kai ragu. Membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang dikatakan Kai baru saja. Kai lalu berjongkok menyamakan tingginya dengan Sehan. Seulas senyum terpatri di wajah tampannya.

"K-kai a-ahjussi,"

"Uljima ne?" Kai hanya mengucap satu pesan. Mengusap pipi Sehan yang berurai airmata.

.

.

Grepp!

.

.

"Kamsahamnida, Kai ahjussi. Jeongmal kamsahamnida … hiks," Sehan langsung menerjang Kai begitu saja. Melingkarkan tangannya di leher Kai. Memeluk Kai dengan sayang, seperti ia memeluk Sehun dan Luhan.

"Sama-sama, Sehannie," Kai tersenyum tulus. Tangannya melingkari punggung Sehan, membalas pelukan Sehan.

.

.

.

.

Being Forgotten

.

.

.

.

Sehan berjalan menuju kelasnya dengan perasaan bahagia. Tidak henti-hentinya ia menebar senyum pada teman-temannya. Tangan kecilnya terus mengenggam erat tangan Luhan, seolah tak ingin cepat berpisah dari ibunya. Dan Luhan juga membalasnya tak kalah erat.

"Lulu Mama ke sekolah Ken dulu ne? Sehan belajar yang rajin dan turuti apa yang dikatakan seonsangnim. Dan jangan keluar sekolah sebelum Lulu Mama datang menjemput Sehan. Arraseo?"

"Ne, arraseo Lulu Mama,"

"Kajja, Sehan segera masuk. Sebentar lagi jam belajar segera dimulai," Luhan tersenyum dan mengusak pelan rambut Sehan. Ia lalu mencium kedua pipi dan kening serta bibir Sehan. Setelah memastikan Sehan duduk di kursinya, Luhan kemudian berbalik meninggalkan sekolah Sehan menuju sekolah Ken.

Luhan berjalan dengan perasaan haru. Matanya mulai berkabut. Entah mengapa pagi ini ia terus saja menangis. Menangis bahagia lebih tepatnya. Ia bahagia. Lega karena akhirnya memenuhi keinginan Sehan yang selama ini selalu ia tolak. Hatinya bergejolak, ingin rasanya ia tumpahkan, namun tak tahu harus pada siapa.

Entah sebab apa ia menghentikan langkahnya, lalu kemudian berbalik, menatap dari jauh kelas Sehan. Dari jendela yang ia lihat dari kejauhan, ia bisa melihat samar-samar Sehan yang mengacungkan tangannya dan memberanikan diri mengerjakan soal matematika di depan kelas. Luhan menatap pemandangan itu, ingin tahu bagaimana anaknya selama ini di sekolah.

Kembali Luhan menangis. Menangis haru, merasa bangga saat seonsangnim memberikan Sehan bintang emas dan seluruh teman-temannya bertepuk tangan karena Sehan mampu menjawab soal yang diberikan.

"Sayang … Sehannie sayang …," gumam Luhan. Bibirnya melengkung ke bawah dengan indahnya. Mengabaikan air mata yang kian deras dan mulai membasahi sweater yang ia pakai. Selanjutnya Luhan melangkah dengan ringan meninggalkan sekolah Sehan, meski hatinya sedikit berat dan ingin tetap tinggal.

.

.

.

Sehun menyudahi aktivitas 'mari kita melihat peristiwa yang sangat langka untuk disaksikan'. Peristiwa yang membuat tubuhnya ingin keluar dari balik pohon tempatnya sedari tadi bersembunyi. Ingin rasanya ia merengkuh sosok mungil nun jauh disana. Sehun menarik bibirnya melengkung ke bawah saat mendengar gumaman sosok mungil itu. Matanya ikut berair, seperti ia adalah kutub selatan, dan mata sosok mungil itu adalah kutub utara. Ibarat medan magnet yang saling tarik menarik. Menariknya untuk melakukan dan merasakan hal yang sama.

"Sayang …. Sehannie sayang …. Appa dan Lulu Mama disini, sayang. Untuk Sehan tersayang, malaikat kecil Appa dan Lulu Mama,"

.

.

.

.

Being Forgotten

.

.

.

.

Pria berkulit tan nan eksotis itu berulangkali mengusap kasar wajahnya. Posisinya kerap kali berganti, mulai dari berdiri, menyandar di kursinya, hingga menumpukan keningnya di kepalan tangan yang ia lipat. Tak terhitung sudah berapa kali ia mendengus dan menghela nafas. Tak ia pedulikan beberapa lembar kertas di atas mejanya, yang menunggu goresan tanda tangannya. Katakanlah, ia sedang gelisah.

Kim Jong In. Siapa yang tidak kenal dengan seorang Kim Jong In? Jika kau bertanya pada seantero Seoul tentang siapa itu Kim Jongin, maka mustahil kau mendapat jawaban 'tidak kenal'. Malah yang akan kau dapatkan adalah 'Oh Kim Jongin? CEO muda itu?' atau 'Kim Jongin pengusaha muda itu? Yang wajahnya seperti anggota boyband EXO?' atau mungkin 'Kim Jongin bahkan lebih tampan dari artis didikannya'. Dan segudang pujian-pujian lagi yang akan kau dapatkan jika bertanya tentang sosoknya.

Kim Jong In atau jika kau sudah akrab dengannya, maka panggil saja dia Kai atau Kkamjong. Seorang CEO muda, pemilik agensi terbesar di Korea Selatan, K-Entertainment. Ayah satu anak dan suami dari pria blasteran Cina-Korea, Xi Luhan. Publik menilai kehidupan seorang Kai sudah sempurna. Wajah tampan, kaya raya, dan memiliki anak yang lucu serta istri yang err cantik. Apalagi yang menjadi nilai minus? Bukankah itu semua sudah hal yang patut disyukuri? Tapi itu hanyalah di depan layar. Tak ada yang tahu jika …. Ah sudahlah, kau pasti akan tahu suatu saat nanti.

Itu saja sekilas tentang Kai. Kini kita beralih dengan kondisi Kai saat ini. Gurat kerisauan tercetak jelas di wajahnya, terbuktu dengan kerutan kening yang menempel di dahinya. Sesuatu yang membuatnya kalut seperti ini.

"Ia kembali, Tuan. Baru saja tiba sepuluh menit lalu di Incheon Airport,"

"Apa maksudnya, Lee ahjussi?"

"Dia kembali ke Korea Selatan. Dia …-"

"Jangan pernah menyebut namanya lagi, Lee ahjussi. Bukankah aku sudah memperingatkanmu?"

"Jeosonghamnida, Tuan,"

"Gwenchana, Lee ahjussi. Tapi bolehkan aku meminta tolong padamu?"

"…."

"Tolong kau ikuti dan awasi dia selama disini, Lee ahjussi. Beri aku kabar apapun secepatnya,"

Sesuatu atau lebih tepatnya berita yang ia terima dari Lee ahjussi, pengasuhnya sejak kecil sekaligus orang kepercayaan Kai selama ia hidup. Dua puluh menit lalu, Lee ahjussi seakan seperti menimpa Kai dengan batu besar. Mengambil seluruh fokusnya dari pekerjaan-pekerjaan yang menumpuk.

"Apa yang harus kulakukan Tuhan? Aku belum siap untuk menghadapinya," gumam Kai lirih.

.

.

.

.

Being Forgotten

.

.

.

.

Luhan tengah mengendarai mobil sedan silver miliknya. Matanya tetap berkonsentrasi pada jalanan di depannya, meski sesekali ia melirik Ken yang duduk di sampingnya. Anak itu hanya mengerucutkan bibirnya sejak Luhan kembali ke sekolah Ken setelah mengantar Sehan sampai Ken tiba saatnya untuk pulang. Ken juga tidak mau berbicara pada Luhan pagi ini, membuat yang lebih tua mengernyit heran karena tak pernah Ken mendiamkannya dalam jangka waktu lama seperti ini.

"Ken-ah, wae geure? Ada apa hmm?" tanya Luhan saat mobilnya berhenti karena lampu lalu lintas yang memunculkan warna merah tanda berhenti.

Namun yang ditanya tidak menjawab. Wajahnya beralih ke jendela, menatap pemandangan di jalan yang seakan lebih mengasyikan ketimbang menjawab atau melihat wajah Luhan. Ken tetap mengerucutkan bibirnya, bahkan sampai mobil Luhan kembali berjalan.

"Kita jemput Sehan hyung dulu ne? Setelah itu makan siang bersama, otte?" Luhan kembali membuka suara. Namun lagi-lagi Ken tetap mendiamkannya. Sepertinya anak itu memang sedang tak ingin berbicara dengan Luhan. Dan Luhan hanya bisa menghela nafas melihat aksi ngambek Ken.

Lima belas menit kemudian mereka telah sampai di halaman parkir sekolah Sehan. Luhan segera melepaskan seatbelt nya dan melirik Ken yang bersedekap tangan di dadanya.

"Ken ingin ikut Eomma turun atau tetap disini hmm?" kali ini Luhan berusaha sabar. Meski Ken sedikit menekan kesabarannya, namun ia berusaha untuk mengontrol emosinya. Melihat Ken yang lagi-lagi mengacuhkannya, maka Luhan mengerti apa yang harus dilakukan.

"Arraseo, Eomma tak akan lama. Ken tetap disini dan jangan kemana-mana tanpa izin Eomma. Arraseo?" pesan Luhan dan hanya dibalas gumaman oleh Ken. Well, setidaknya Ken menjawab dirinya ketimbang mendiamkannya.

Ken menatap kesal Luhan yang semakin lama semakin menjauh dari matanya. Semakin kesal saat melihat Luhan yang berjalan ke arah mobil sambil mengenggm tangan Sehan.

"Eomma berubah. Tidak sayang Ken lagi. Eomma lebih sayang pada Sehan hyung. Hiks … Ken tidak suka … hiks," perlahan Ken mulai terisak, menumpahkan seluruh kekesalan yang dipendamnya.

Selama ini Ken selalu dekat dengan Luhan, bahkan lebih dekat ketimbang dengan Kai. Kemana-mana selalu bersama Luhan, keinginannya selalu dipenuhi Luhan dan ia hanya mau dengan Luhan. Sementara pagi ini berbeda dari yang sebelumnya. Ken yang biasanya selalu diantar Kai dan Luhan ke sekolahnya, pagi ini hanya diantar oleh Kai. Sementara Luhan –dengan patuh menuruti perintah Kai- mengantar jemput Sehan. Luhan seperti hilang dari sisinya. Wajar jika Ken kesal pagi ini.

Ken dengan cepat menghapus air matanya saat melihat Luhan membukakan pintu belakang untuk Sehan. Ia juga memalingkan wajahnya saat Luhan sudah duduk disampingnya dan mulai mengegas kembali mobilnya meninggalkan sekolah Sehan.

"Sehan-ah, kita makan siang dulu ne?" tanya Luhan lembut sambil melirik Sehan lewat kaca.

"Ne, Lulu Mama,"

Luhan hanya tersenyum mendengar jawaban Sehan. Ia kemudian melirik Ken yang masih tidak mau melihat wajahnya. Luhan tahu penyebabnya. Maka ia membiarkan Ken sementara seperti itu, pikirnya toh nanti ia akan membicarakannya di rumah. Kira-kira seperti itu pemikirannya, kalau saja Ken tidak secara tiba-tiba membuka suara.

"Ken mau ketemu Appa!" ujarnya tanpa melihat wajah Luhan.

"Tapi Appa masih dikantor, sayang. Appa masih harus bekerja. Nanti saja dirumah ne?"

"Ani. Ken mau ketemu Appa. Antar Ken ke kantor Appa!"

"Say-…"

"Ken mau ketemu Appa!" Luhan terkesiap mendengar Ken yang terlihat membentak dirinya. Ini pertama kalinya Ken berbicara dengan nada tinggi seperti ini pada Luhan. Dan Luhan dibuat terkejut.

"Baiklah, Eomma akan antar Ken ke kantor Appa. Tapi setelah kita makan siang ne?" Luhan memilih mengalah ketimbang ia mendapati Ken mungkin secara tiba-tiba menyuruhnya untuk menurunkan anak itu di jalan.

.

.

.

.

Being Forgotten

.

.

.

.

Detik demi detik berlalu. Jarum jam terus berputar hingga sekarang berhenti tepat di angka sembilan. Ini sudah jam sembilan malam dan Luhan masih setia duduk di sofa ruang tengah. Sesekali ia berjalan ke arah pintu atau hanya sekedar menengok. Namun nihil, tidak dilihatnya tanda-tanda kehadiran Kai dan Ken. Padahal biasanya Kai selalu pulang tepat pukul tujuh malam. Tapi ini sudah dua jam, dan Luhan mengkhawatirkan keadaan ayah dan anak itu.

"Lulu Mama, Ken dan Kai ahjussi belum pulang eoh?" tanya Sehan yang tiba-tiba sudah ada di samping Luhan. Sehan sedari tadi melihat dari celah pintu kamarnya dan mendapati Luhan mondar-mandir tak karuan.

"Sehan kenapa belum tidur eoh? Ayo, tidur ne? Bukankah besok Sehan ada tes membaca?" Luhan balik bertanya.

"Sehan tidak bisa tidur kalau Ken dan Kai ahjussi belum pulang, Mama,"

Luhan hanya tersenyum kecut mendengarnya. Ia membawa Sehan duduk di pangkuannya. Menyandarkan kepala Sehan di dadanya dan mengelus rambut hitam anaknya. Sehan, tak pernah hanya memikirkan Sehun atau Luhan saja. Sehan, selalu memikirkan orang-orang yang berada di sekitarnya. Tak peduli seperti apa perlakuan orang-orang itu pada Sehan, baik atau buruk, Sehan tetap membalasnya dengan perhatian penuh sayang.

"Sehan temani Lulu Mama menunggu Ken dan Kai ahjussi pulang ne? Bolehkan Lulu Mama?"

Luhan hanya mengangguk setuju. Ia menggoyang-goyangkan tubuhnya pelan, mengayunkan Sehan seperti ayunan. Sesekali ia cium pipi kanan Sehan dan membelai rambutnya yang menutupi dahi.

"Appa pasti iri kalau melihat Sehan yang sedang dipangku Lulu Mama. Hehehe," Sehan terkekeh membayangkan Sehun yang cemberut karena tidak pernah dipangku Luhan.

"Eoh? Benarkah? Appa pasti lucu sekali jika sedang cemberut," balas Luhan ikut terkekeh.

"Kalau Sehan sedang rindu Lulu Mama, Sehan selalu menatap foto ini," curhat Sehan. Tangannya mulai mengambil foto Luhan yang dulu ia temukan, namun masih terlihat bagus, tak lecek sama sekali.

Luhan terkejut saat melihat foto yang digenggam Sehan. Foto yang dulu Sehun berkata jika itu adalah akan menjadi foto favorit Sehun sepanjang masa. Luhan menutup matanya, mencoba mengingat kembali saat-saat dulu ia masih berpacaran dengan Sehun. Manis dan begitu berharga. Hingga Luhan tak pernah sejengkal pun rasanya ingin berpisah dengan Sehun. Tapi itu dulu. Ya, dulu. Sebelum gelombang pahit itu menguji rajutan asmara mereka berdua.

Luhan tersenyum sendu. Membayangkan Sehan setiap hari hanya menatap fotonya. Membayangkan setiap bulir bening yang jatuh dari mata rusa anaknya, saat Sehun selalu menelponnya, memintanya untuk mengunjungi Sehan, namun ia tak pernah mau melakukannya.

"Lulu Mama disini sangat cantik. Appa juga bilang seperti itu," puji Sehan.

"Sehan juga tampan. Appa juga. Iyakan?"

Sehan mengangguk menyetujui. Betapa bahagianya ia hari ini. Bisa merasakan quality time bersama Luhan. Jika ia meminta lebih pada Luhan, apakah Luhan bersedia? Seperti ia meminta …

.

.

.

.

"Sehan mau Lulu Mama tinggal bersama Sehan dan Appa di apartemen. Sehan mau selalu tidur bersama Lulu Mama dan Appa. Bermain bersama, menonton kartun bersama, dan berjalan-jalan ke taman hiburan bersama,"

.

.

.

.

Luhan tak mampu menjawab. Sejujurnya, jauh di lubuk hatinya, ia juga menginginkan hal yang sama dengan Sehan. Namun bisakah? Bisakah ia meninggalkan Kai dan Ken hanya untuk kebahagiaan dirinya? Bolehkah? Apa Kai akan mengizinkannya? Dan terlebih … apa Ken juga akan mengizinkannya? Luhan masih terasa berat jika harus meninggalkan, bahkan barang sehari pun. Sepertinya … Luhan mungkin tak akan pernah bisa mengabulkan keinginan Sehan baru saja … sampai kapanpun.

Selanjutnya hanya ada keheningan yang menjemput diantara mereka. Sehan berkali-kali menguap dan Luhan berkali-kali pula menyuruh Sehan tidur dengan ia mengantarkan Sehan ke kamar. Namun Sehan hanya menggeleng, meyakinkan Luhan kalau ia masih kuat melek hingga Kai dan Ken kembali ke rumah.

.

.

Cklek

.

.

Luhan tertegun mendengar suara pintu yang dibuka. Luhan segera mengangkat Sehan dari pangkuannya dan berjalan menuju pintu. Nafasnya berubah menjadi lega saat melihat dua orang yang ditunggunya adalah yang membuka pintu itu, dengan posisi Ken yang tertidur di gendongan Kai.

"Mengapa baru pulang Kai-ya? Dan … kau tak bawa mobilmu?" tanya Luhan. Ia segera mengambil Ken dari gendongan Kai dan berganti menggendongnya.

"Mian, Lu. Dan … aku cukup lelah jika harus menyetir makanya aku memilih naik taksi. Bawalah Ken ke kamar. Seharian ini ia menangis terus di kantorku. Ia pasti lelah,"

Luhan tak ingin bertanya lebih lanjut. Kai benar-benar tidak berbohong, gurat wajah Kai benar-benar terlihat seperti orang yang tidak tidur dua hari dua malam.

"Kalian sudah makan malam?"

Kai hanya mengangguk dan Luhan juga cukup mengerti akan hal itu. Maka ia bawa Ken dan Sehan ke atas dengan Kai yang menyusul di belakangnya. Luhan kemudian membaringkan Ken di kasur dan setelah itu ia mengantar Sehan kembali ke kamarnya.

"Apa yang tengah kau pikirkan, Kai-ya?" tanya Luhan begitu melihat Kai selesai mandi dan berpiyama lengkap.

"Dia kembali, Lu,"

"M-maksudmu?"

"Dia … berada disini," Luhan membulatkan matanya. Ia tahu jelas tentang 'dia' yang dimaksud Kai.

"…"

"Gwenchana, aku akan mengurusnya,"

"T-tapi Ken …"

"Tenanglah Lu. Percaya padaku kita bisa menanganinya. Kau percaya padaku, kan?"

.

.

.

END OR TBC ?

.

.

Author's notes:

Sebelumnya saya minta maaf karena baru update. Saya baru saja kembali dari hiatus. Masih pada nungguin ini gak yaa? *ENGGAAAAKKK* *OKESIP* #apalah.

Ini kayaknya kok makin ngebosenin yaa *hiks*. Saya gak buat konflik yang terlalu berat dulu memang di chapter ini. Capek yes buat konflik. Bener-bener mem-pressure banget. Sementara saya sedang stuck bener bener stuck. Boleh kecewa kok kalo chapter ini ga memuaskan tapi jangan bash pakai kata-kata yang gak manusiawi please.

Untuk FF saya yang berjudul Open Arms, maaf banget saya belum bisa update. Dan mungkin agak lama. Sekali lagi mianhae readers-nim *bow*.

Okelah, segitu aja dulu yaa. Makasih buat yang sudah menyempatkan baca dan review termasuk yang cuma numpang lewat aja. Maaf kalau belum bisa balesin review nya yaa. Silahkan kritik, saran dan pendapatnya boleh kasih ke saya, asal gak nyelekit.

See you di chapter selanjutnya. Gomawo ^^