Title : Chocolate, Eyes, and Love

Pairing : YunJae

Cast : Jung Yunho

Kim Jae Joong

Jung Jihye

Others…

Genre : Romance, Drama

Rated : T

Disclaimer : Mereka saling memiliki. YunAppa milik JaeUmma. JaeUmma milik YunAppa. :D
WARNING : ini Boys Love. YAOI. Gay. Men x Men. Yang gk suka mendingan jauh jauh!. No Bash ^^

^^Happy Reading^^

.

.

.

Semenjak malam itu, hubungan YunJae kian hari semakin merekat. Yunho seolah lupa bahwa ia telah memiliki tunangan yang sebentar lagi akan melaksankan pernikahannya. Begitupula dengan Jaejoong, dia merasa yakin bahwa hatinya telah jatuh pada namja tampan itu.

Apa hubungan mereka yang sebenarnya?

Tak ada pernyataan cinta dari keduanya, atau bisa dibilang seperti hubungan tanpa status.

.

"Yun, kau datang lagi?" Tanya Jaejoong. Ia heran mendapati Yunho setiap siang hari selalu menghampirinya dan mengajaknya makan siang.

"Wae? Kau tidak suka jika aku datang huh?" rajuk Yunho.

"Bukan begitu Yunnie. Hanya saja.. bagaiman dengan pekerjaanmu. Kau tidak takut dipecat?" Yunho hanya tertawa mendengar penuturan Jaejoong. Tentu saja ia tidak akan dipecat, yang ada malah dia yang memecat. Jangan lupakan bahwa Jung Yunho adalah Presdir Jung Corp.

"Tidak Boo. Aku diberi waktu break 2 jam untuk makan siang"

"oohh.." Jaejoong mengangguk seolah mengerti apa yang diucapkan oleh namja musang itu.

"Jja Boojae. Kita makan siang ne.. aku sudah beli makanan di café sebrang sana." Ajak Yunho.

"Tidak usah Yunnie. Itu kan makananmu, lagi pula kau harus menambah energimu dengan asupan kabohidrat supaya kau tidak cepat lelah. Hihihi"

"Ayolah Boo, aku kesini karena aku memang ingin makan siang denganmu.. kalau kau tidak mau aku juga tidak mau makan"

"Tapi Yu-"

"Tidak ada tapi tapian. Ayo buka mulutmu, biar aku yang menyuapi"

Menurut. Jaejoong hanya diam menuruti perintah Yunho, ia tahu bahwa Yunho adalah orang yang keras kepala sama seperti dirinya.

"Aish.. mulutmu kecil sekali sih. Buka yang lebar Boojae" goda Yunho.

"YAH! Makan sendiri. Dan jangan bilang mulutku kecil" marah Jaejoong. ia mengerucutkan bibirnya imut, kebiasaannya saat merasa kesal.

"hahaha.. maaf maaf. Tapi itu kenyatan kok"

"JUNG YUNHO"

"arra..arra"

.

Tanpa mereka sadari ada seseorang yang melihat adegan YunJae dengan tatapan iritasi. Sorot matanya menajam rahangnya mengeras dengan bunyi gemletuk dari giginya.

"Pak Lee. Ayo jalan"

"Baik Nyonya Jung"

.

.

.

"Unni coba lihat yang ini. Bagus bukan? Aku baru saja membelinya kemarin saat Hyunjoong oppa mengajakku kencan. Hihihi.."

"Benarkah kau kencan dengannya? Aigoo.. chukka ne.." ucap Tiffany tulus.

"hahaha.. gomawo unni.. omoo.. yang ini bagus sekali" histeris Jihye.

"eumm.. Jihye-ah?" panggil Tiffany.

"Ne? ada apa unni?"

"Bagaimana menurutmu tentang aku dan Yunho?"

"E-eo?"

"Kau kenapa? Kau tak apa bukan?" Tiffany mengibas bgibaskan tangannya di depan Jihye yang sedang terbengong.

" I-itu.. kalian.. emm.. ka-kalian.. yah cocok.. hehe" Jihye tergagap menjawab pertanyaan Tiffany.

Sungguh dari lubuk hatinya ia tidak menyetujui pertunangan Yunho dan Tiffany. Tapi apa yang bisa ia lakukan untuk melawan ummanya? Ia hanya gadis remaja yang masih Kuliah.

Tiffany hanya tersenyum getir mengetahui respon yang diberikan Jihye. Dari gelagatnya saja ia sudah tahu bahwa Jihye masih belum menerima hubungan mereka.

'BRAK'

"u-umma.. astaga, umma mengagetkanku" Jihye dan Tiffany terpekik kaget karena sang umma yang dengan brutal menutup pintu hingga menyebabkan bunyi yang memekakan telingan.

"Tiffany, kau ada disini?" kata umma Jung tanpa menghiraukan celotehan Jihye.

"Ne Omonim"

"Baguslah, omonim mau pernikahanmu dan Yunho dipercepat satu bulan lagi"

"MWO?"

.

.

"UMMA TIDAK BISA MENGATUR SEENAKNYA SENDIRI.." bentak Yunho.

"Apa maksudmu? Jika bukan umma yang mengatur pernikahan kalian lalu siapa lagi?"

"Kenapa umma memutuskannya begitu saja? Aku tidak setuju"

"Yunho duduklah. Istriku, apa maksudmu berbicara seperti itu?" Tanya appa Jung.

"Apa? Aku hanya ingin pernikahan mereka berdua dipercepat apa yang salah?" sahut umma Jung enteng.

"Kau tidak bi-"

"Aku hanya tak ingin anakku menjadi gay"

Yunho hanya membelalakkan matanya mendengar ucapan ummanya itu.

"Apa maksud umma?"

"Jangan kira umma tidak tahu semuanya Jung Yunho. Jadi ini alasannya kau bersikap dingin pada Tiffany?"

"…."

"Huh? Tak bisa menjawab eoh? Umma tidak mau tahu, dan tidak ingin ada penolakan"

"Tidak. Aku tetap tidak setuju dengam umma" kekeh Yunho.

"Kalau kau tidak setuju, kau boleh melangkahkan kakimu dari rumah ini dan jangan kembali" murka umma Jung.

"CUKUP! Appa sudah muak dengan ini semua. Yunho pergi ke kamarmu!" perintah appa Jung mutlak.

"Aku masih belum sele-" ucapan Mrs. Jung terpotong karena suaminya.

"Tunggu apa lagi? Cepat masuk" Yunho menuruti perintah ayahnya tersebut. Mr. Jung sangat mengerikan jika sudah marah.

"Apa apa'an kau Jung Il Soo? Aku belum selesai bicara dengan Yunho" marah umma Jung.

"Disini aku yang mengatur. Kau, cepat kembali ke kamarmu!"

Mrs. Jung memandang suaminya dengan geram, sedetik kemudian ia meninggalkan appa Jung menuju kamar mereka.

Jung Il Soo aka Mr. Jung membanting tubuhnya diatas sofa sambil memijat keningnya yang terasa berdenyut denyut.

"Sepertinya aku harus mencari tahu yang sebenarnya" gumamnya.

.

Keesokan harinya..

.

Yunho yang sedang sibuk menandatangi pekerjaanya terganggu oleh kedatangan yeoja yang saat ini sudah berada di ambang pintu ruang kerjanya.

"Ada apa kau kesini? Tak tahukah jika aku sangat sibuk sekarang?" Tanya Yunho dingin.

"Oppa.. apa kau tahu bahwa..eemm"

"Cepat katakan! Jangan mengganggu seperti itu!" Yunho berbicara dengan nada yang amat sangat ketus, sedangkan Tiffany sendiri sudah meremasi rok pendeknya hingga menjadi kusut. Ia selalu gugup jika ada di dekat Yunho. namun saat ini bisa dibilang Tiffany sedang takut dengan Yunho.

"Pernikahan kita dipercepat satu bulan"

"I know"

Yeoja itu mendongakkan kepalanya yang sedari tadi tertunduk. Ia memandang Yunho lama sebelum akhirnya berucap.

"Bagaimana menurutmu?"

Yunho menghentikan pekerjaannya sejenak.

"Menurutku bagaimana? Tentu saja aku keberatan. Kau tahu, aku tidak ingin menikah dengan orang yang tak kucintai" jawab Yunho cepat.

"Wae? Kau bisa belajar untuk mencintaiku bukan?" sahut Tiffany tak mau kalah.

"Hufft.. sudahlah, keluar dari ruanganku sekarang. Aku tidak mau melihatmu saat ini" usir Yunho tak berperasaan.

"Tapi ak-"

"Kau tidak tahu bahasa manusia eoh? Aku bilang pergi ya pergi"

Akhirnya Tiffany keluar dari ruangan Yunho dengan wajah bersedih. Ia mengambil ponselnya yang berdering. Sebuah pesan dari Mrs. Jung.

From: Jung Omonim

'Apa kau ada waktu? Omonim ingin bertemu sekarang di café biasanya.

Ada sesuatu yang ingin omonim bicarakan berdua denganmu.'

Sedangkan di dalam ruangan. Tangan Yunho bergerak menuju laci lalu ia mengambil figura berisi foto Jaejoong yang ia ambil diam diam. Jaejoong terlihat sangat cantik dengan keranjang coklat di pangkuannya.

"Aku harus bagaimana Boo?"

.

.

'Tumben Yunnie tidak mendatangiku?' gumam Jaejoong dalam hati.

Jaejoong yang sejak tadi sudah menunggu kedatangan Yunhopun mulai nampak kecewa.

"Dimana dia? Apa Yunnie sangat sibuk hari ini ya?"

Chakkaman!

"Aish Kim Jae Joong.. apa yang kau pikirkan? Memangnya kau ini siapanya Jung Yunho? kekasih saja bukan" gumamnya lagi. Namun tak bisa dipungkirin ada rasa sakit di dalam lubuk hatinya. Ia sudah terlalu sering berdekatan dengan Yunho sehingga membuatnya bergantungan dengan namja tampan itu.

"Anyeong unni.." suara yeoja mengintrupsi lamunan Jaejoong.

"Jihye?"

"Ne ini aku unni. Jung Jihye si yeoja cantik. Hehehe.."

"Astaga! Kau dari mana saja? Oppa merindukanmu" ucap Jaejoong tulus. Yang dibalas dengan senyuman manis Jihye.

"Hehehe.. mianhae unni"

"Kau sendiri? Dimana Hye Sun?" Tanya Jaejoong saat ia menyadari tak ada tanda tanda kehidupan dari Hye Sun.

"Heuhh.. bocah tengil itu sedang pergi berkencan dengan kekasih barunya" jawab Jihye sambil mendudukkan badannya disamping Jaejoong.

"Jinjja? Lalu bagaimana denganmu sendiri eoh? Apa ada perkembangan dengan flower boymu itu?" Jihye tersenyum malu dengan perkataan Jaejoong barusan.

"itu.. umm, kami sudah berpacaran" jawab Jihye malu malu.

"Jinjja? Aigoo.. dongsaengku sudah pada besar rupanya" ucap Jaejoong senang. Senang? Tentu saja ia akan senang jika orang yang ia sayangi juga senang. Benar benar baik bukan..

"Unni.. aku mau coklatku" tagih Jihye.

"Ah ne. oppa sampai melupakannya"

"Ya! Kenapa unni memanggil oppa lagi" tegur Jihye dengan bibir mengerucut.

"Oppa kan namja, jadi wajar Jihye-ah"

"Shirro.. aku suka memanggil unni, bukan oppa" Jaejoong menghela napasnya sebentar. Ck, yeoja di depanya ini keras kepala rupanya.

"Dimana Yunnie umm.. maksudku Yunho. biasanya dia yang mengambil coklat pesananmu"

"Molla unn.. mungkin oppa sedang sibuk bekerja" Jaejoong mengangguk.

Jihye hanya menatap Jaejoong sendu. Pikirannya kembali berputar dimana sang umma yang dengan egoisnya memajukan tanggal pernikahan Yunho dengan Tiffany. Sebenarnya ia tahu bahwa Yunho dan Jaejoong saling mencintai walaupun belum ada yang saling menyatakan cinta dari kedua belah pihak itu sendiri. Jihye tahu karena setiap pulang dari kuliah ia dan Hye Sun selalu menyempatkan diri melihat keadaan Jaejoong, dan kedua yeoja cantik ini sempat terkejut saat mendapati Yunho sedang menyuapi Jaejoong.

Jaejoong memberikan sebungkus coklat pada Jihye yang langsung dibayar dengan gadis manis itu.

"Gomawo unni.." sedangkan Jaejoong hanya tersenyum manis sebagai jawaban.

.

.

"Joongie pulangg…" ucap Jaejoong saat memasuki istana kecilnya.

Kim Junsu yang mendengar suara Jaejoong langsung berlari menghapiri Jaejoong dan menuntunnya masuk ke dalam rumah.

"Hyungie.. aku punya berita mengejutkan untukmu" celetuk Junsu bersemangat.

"Benarkah? Memangnya ada apa Suie?" Tanya Jaejoong penasaran.

"Temanmu Jung Yunho itu ternyata adalah Presdir Jung Corp. Putra sulung dari keluarga Jung yang terhormat itu" tutur Junsu menggebu gebu.

"Mwo? Dari mana kau tahu itu Suie?" kaget Jaejoong. Bagaimana tidak kaget, jika orang yang selama ini merasuki pikiran dan hatinya adalah salah satu orang yang berpengaruh bagi Korea.

"Tadi siang aku melihat beritanya dari televise yang saat itu sedang menayangkan wawancara live dengan Jung Yunho"

'pantas saja dia tdak menemuiku'

"Hyungie, kau tidak apa apa?" Junsu khawatir saat Jaejoong tiba tiba menjadi diam.

"E-eh. Gwechana Suie. Hyungie hanya terlalu terkejut"

"Uhm Hyung? Apakah kau menyukai Yunho hyung?" Tanya Junsu to the point.

"Hahaha.. bicara apa kau ini Su, tentu saja tidak. Hyung tidak setingkat dengan Jung Family itu" ungkap Jaejoong. Walaupun begitu ia mengakui adanya rasa sakit misterius di hatinya.

"Joongie, kau sudah pulang?" umma Kim tiba tiba muncul dari dapur.

"Ne umma. Baru saja Joongie sampai" jawab Jaejoong sambil berjalan dengan Junsu yang tengah menuntunya.

"Ya sudah. Makan dulu ne chagy. Umma memasakkan makanan favoritmu"

"Ne Hyungie. Aku tadi juga membantu umma memasak, sekali sekali sambil belajar memasak untuk Chunnie" Jaejoong dan Mrs. Kim tersenyum maklum menanggapi celotehan Junsu itu.

.

"Kenapa kau tak bilang padaku Yunh? Kenapa kau menyembunyikan jati dirimu dariku?" gumam Jaejoong yang saat ini tengah duduk santai di depan teras sendirian, menikmati semilir angin malam yang berhembus lembut.

Ia tampak begitu cantik dengan kaos lengan panjang bewarna merah maroon yang dipadukan celana training krem. Begitu menawan dan tenang . berbeda dengan hati dan pikirannya yang diliputi dengan keresahan dari satu namja. Jung Yunho.

"Ah ternyata Hyungie sedang disini. Suie mencari hyung dari tadi" ucap Junsu tiba tiba menghampiri Jaejoong dan duduk di sebelahnya.

"Joongie hyung sedang apa?"

" Hyung hanya menikmati ketenangan hyungie saja"

"Jinjja? Apakah aku mengganggu?" Tanya Junsu khawatir.

"Kapan hyung bilang kau mnengganggu hum? Tentu saja jika ada Suie hyung malah terhibur bukan terganggu" jawab Jaejoong polos. Junsu merasa hatinya menghangat karena ucapan Jaejoong. Hyung cantiknya itu benar benar berhati malaikat.

"Kapan kau akan mengatakannya hyungie?" Jaejoong mengkerutkan dahinya bingung dengan ucapan Junsu.

"Apanya?"

"Perasaanmu pada Yunho hyung"

"Hahaha.. sudah hyung bilang kan. Hyung tidak punya perasaan apapun dengannya Suie"

"Mengaku sajalah hyung. Suie tahu semua tentang hyung karena hyung memang tidak bisa berbohong. Hyungie menyukai Yunho hyung kan?"

"Ha~aah.. entahlah Suie. Hyungie masih belum yakin, kau ingat bukan hyung dan Yunho belum terlalu saling mengenal"

"Hyung, cinta memang susah disadari kapan datangnya. Tapi kau akan menyadarinya saat cinta itu pergi. Dan hanya menghasilkan sebuah penyesalan dikemudian hari"

Jaejoong tersenyum getir menyimak ucapan Junsu. Terkadang adiknya bisa menjadi lebih dewasa dibandingkan dengan dirinya.

"Memangnya yunho menyukaiku Suie? Ia hanya menganggapku sebagai saudara saja" kata Jaejoong lirih.

"Apa kau belum bisa merasakannya hyung?" Tanya Junsu.

Dilihat dari sikap maupun sifat Yunho pada Jaejoong, jelas sekali Yunho menyukai Jaejoong, tapi kenapa namja cantik itu seolah ingin menyangkal?

"Aku tidak pantas bersanding dengannya Suie. Yunho lebih membutuhkan yeoja yang cantik, baik, dan normal tentunya. Jika Yunho denganku, aku hanya akan membuatnya terbebani dengan kebutaanku"

Apakah itu alasanmu Jae?

.

Yunho yang sedari tadi melihat Jaejoong dan Junsu sesekali ia mencuri dengar percakapan kakak beradik itu hanya menatap nanar pada namja cantik bak malaikat itu.

Diam diam ia pergi ke rumah Jaejoong, karena rindu yang padaya. Tak ada niat untuk masuk berkunjung ataupun bertegur sapa dengan Duo Kim tersebut. Yunho lebih memilih memantau malaikatnya dari jarak jauh. Bersembunyi di balik pagar tembok perkarangan rumah keluarga Kim.

Salahkan pendengaran Yunho yang tajam hingga bisa menangkap percakapan Duo Kim itu, saat mendengar ucapan terakhir Jaejoong, tubuh Yunho seolah dibanting ke dasar jurang berduri. Begitu menyakitkan. Kenapa Jaejoong bicara seperti itu? ia mencintai kekurangan dan kelebihan namja cantik itu. tak peduli jika Jaejoong buta. Menurut Yunho, Jaejoong adalah makhluk sempurna yang pernah dilihatnya.

"Kenapa kau berbicara seperti itu Boo?" mata elangnya menatap dalam Jaejoong.

"Aku mencintaimu Jaejoongie. Aku akan berusaha mendapatkanmu. Tunggu aku nae sarang" lirih Yunho.

Biarlah seperti ini dulu, dengan keadaan Jaejoong yang tak mengetahui perihal pernikahannya.

.

.

.

^_^ Te Be Ce ^_^

.

.

(a/n: hiyaaa… mianhae atas keterlambatanku publish nih ff, abis Dini lagi gak mood karena UNAS -_-

Yang udah baca. Tinggalin jejak neee.. Review :D)