All My Love Is For You
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rate I though would be just T XD
SasuXFemNaru
_
Previous Chapt
"Kupikir kau merasa naruto sedikit aneh akhir-akhir ini??" Sasuke berpikir sejenak
"Bagaimana mungkin Naruto menderita penyakit itu kyuu nii?"
"Maafkan aku Teme" dengan cengiran khasnya, namun sedikit berbeda karena
"Apa yang kau lakukan padanya Sensei" Sasuke menghampiri tubuh Naruto
"Dia mungkin akan segera mati Sasu" Ucap Kyuubi
"APA APAAN INI SEMUA"
"Jaga kesehatanmu otouto, aku bertemu seseorang disini" Senyum Itachi
Kesadaran akan sesuatu yang berharga selalu muncul saat kita mulai merasa sesuatu itu hilang
.
_
2. Grey Path
Cinta tak hanya sekadar kata, tak hanya sekadar romansa becek sepasang kekasih menuju kebahagiannya. Namun cinta berarti sangat dalam, begitu yang dirasakan Itachi pada keluarganya. Itachi sangat mencintai keluarganya, Ibu, ayah juga adik satu-satunya Sasuke.
Itachi sangat sibuk hari ini, projek penjelajahan Pluto mendapatkan hasil. Meskipun projek ini dimulai jauh sebelum dia bergabung namun tanggung jawab dipikulnya sekarang untuk menganalisa projek yang menempuh perjalanan dari 9 tahun lalu ini. Lelah, penat, Itachi ingin pulang sejenak menikmati masakan ibunya dan berbincang ringan dengan ayahnya, juga tak lupa mengerjai adiknya.
'Bagaimana keadaan otouto. Apa dia baik-baik saja?' tersenyum sekilas Itachi membayangkan keadaan Sasuke sekarang. Rambut ayam yang mencuat, kantung mata yang kentara, grumpy face juga sifat emosionalnya. Adik yang merepotkan pikirnya.
"Itachi kau bisa istirahat sebentar, kau terlihat mulai gila tersenyum sendirian seperti itu" Itachi memang terlihat sangat aneh ketika membayangkan keluarganya, apalagi jika sudah perihal imajinasi jahilnya tentang adiknya Sasuke
"Tak apa sir. Aku hanya sedang membayangkan adikku tadi." Kekeh Itachi pelan menanggapi saran rekan kerjanya
"Dasar brother complex" semua rekan kerja Itachi bahkan telah sepakat menyangkut keanehan itachi.
Semua orang beristirahat sekarang. Itachi berjalan menuju lokernya, mengambil sebuah handphone juga beberapa barang lainnya kemudian menutupnya kembali.
'Kurasa aku akan jalan-jalan sebentar.' Pikir Itachi melihat break kali ini akan sedikit panjang.
Itachi memang selalu seperti ini saat waktu luang yang cukup panjang didapatinya, berjalan-jalan tidak jelas kemudian singgah disebuah kedai eskrim, menelpon keluarganya dan kembali ke pekerjaannya. Padahal waktu breaknya hanya sekitar 1 jam, beberapa rekannya memilih tidur mengembalikan tenaganya, kegiatan ini seperti recharge untuk Itachi.
.
_
Di Kedai Eskrim
"Ah aku rindu rumah. Mungkin bulan depan aku ambil cuti saja." Itachi bergumam sendiri sembari menunggu pesanan eskrimya datang. Itachi sibuk dengan handphonenya, hanya sekadar melihat gambar keluarganya saat pesta kelulusan Sasuke menjadi dokter. Terlihat Sasuke yang melemparkan toganya ke udara juga orantuanya tersenyum menatap Sasuke, dan itachi benci saat dirinya tak ada disana saat itu.
Pesanan eskrimnya datang, sebuah mangkuk besar berisi eskrim rasa vanilla dengan topping buah. Tidak seperti Sasuke, Itachi sangat menggilai rasa manis. Tak lama dan mangkuk telah kosong, Itachi segera beranjak membayar eskrimnya kemudian pergi untuk kembali bekerja.
Itachi menikmati perjalanannya sembari mendengarkan senandung dari handphonenya. Senandung itu Sasuke yang menyanyikannya saat Itachi menelponnya bulan lalu, Itachi yang memaksa Sasuke tentunya, bagaimana bisa seorang Sasuke bernyanyi secara suka rela.
Sebuah panggilan kemudian membuat Itachi terpaksa melepaskan earphonenya
"Itachi nii-san. Itachi Nii-san!!"
Mencari asal suara Itachi mengedarkan visinya, dan yang Itachi temukan adalah seorang gadis berambut kuning
"Naruto?"
.
_
Itachi POV
"Bagaimana kabar Itachi nii-san. Sudah sangat lama ya tidak bertemu" Naruto terlihat sangat pucat.
"Sangat baik, terlepas dari rasa rinduku pada rumah. Bagaimana denganmu Naru, kudengar dari otouto katanya kau sekarang residen di Rumah Sakit swasta di Tokyo." Ya memang aku ingin segera pulang.
"Nii-san masih saja saa seperti dulu hehe. Begitulah Itachi nii aku residen disana sekarang."
Aku terakhir bertemu dengan Naruto saat Sasu membawanya ke rumah 5 tahun yang lalu. Waktu itu kurasa dia lebih berisi dari sekarang, dan kenapa dengan wajahnya, apa dia sakit.
"Sedang apa Naru disini? Kurasa seorang dokter residen tidak punya waktu luang bahkan untuk sekadar menelpon kakaknya, eh? haha" sasuke selalu mengatakan dia tidak punya waktu untuk menelponku, aku terkekeh mengingatnya.
"Kurasa nii-san sedang menyindir si teme. Hehe" Naru terlihat ikut tertawa merespon ledekanku, kemudian melanjutkan pembicaraan
"Aku hanya sedang ada urusan disini nii-san." Jeda sejenak
"Beberapa prosedure kedokteran" lanjutnya lagi.
'Hou, sedang dalam rangka riset rupanya.' Pikirku
"Apa otouto tahu kau sedang disini naru?"
"Hn. Aku memberitahunya lewat email sebelum aku lepas landas." Senyumnya lagi
Sasuke tak punya banyak teman dekat, hanya beberapa. Beberapa yang kutahu Nara Shikamaru yang sekarang menjadi kepala kepolisian di distrik daerah rumah kami, Sai si pelukis aneh, Haruno Sakura anak pemilik butik langganan ibu, Hyuuga Neji, dan Hyuuga Hinata si kembar dengan mata yang aneh yang terkenal dengan keluarga gangsternya. Dan teman terdekatnya Uzumaki Naruto, gadis berisik yang membuatku aneh bagaimana bisa otouto betah dengannya padahal dia tidak suka orang yang berisik. Hingga aku tahu satu hal, sepertinya otouto menyukai Naruto namun dia tidak sadar dengan perasaannya. Dasar otouto.
"Apa kau sehat naru? Wajahmu pucat dan kau berkeringat" segera kuusap pelipisnya. Wajahnya dingin sekali. Naruto terlihat tidak nyaman dengan perlakuanku. Kami memutuskan untuk berbincang sebentar kemudian memilih sebuah kursi di taman kota, naru membenarkan posisi duduknya.
"Aku hanya kelelahan nii-san, tak usah khawatir. Dan..." ucapnya terpotong kemudian berdiri dan membungkuk
"Maafkan aku, tapi bisa tolong rahasiakan keadaanku sekarang pada sasu. Aku tak mau dia khawatir berlebihan. Nii-san tahu betul Sasuke seperti apa?" kemudian naru duduk kembali
"Baiklah, tapi bisa kau ceritakan padaku bagaimana keadaanmu sekarang?"
.
_
Bagaimana bisa gadis seberisik naruto memiliki penyakit serius seperti itu. Apa otouto benar-benar tidak tahu bagaimana keadaan Naruto selama ini? Semoga semuanya baik-baik saja pikirku.
Kubuka handphone, menekan speed dial no 4. Aku jadi khawatir dengan keadaannya. Nada tunggu terus saja berbunyi, jangan-jangan otouto masih tidur. Sesaat kemudian terdengar tanda seseorang mengangkat teleponnya
"Ohayou otouto, di jepang pasti masih pukul 4. Tumben kau sudah bangun" ucapku dengan nada seperti biasa
"Hn, ohayou nii san. Kau menelpon, makanya aku bangun. Ringtone special yang kau pasang membuatku hampir tuli jika tak kuangkat segera" suaranya terdengar serak, dia benar-benar baru bangun rupanya. Dia membahas ringtone lagi, kurasa ringtonenya berhasil untuk mengerjainya, aku tersenyum lagi
"Hahaha, tak usah memuji nii sanmu yang super keren ini sasuke." Aku terkekeh ringan membayangkan ekspresi wajahnya saat mendengar ucapanku ini
"Ada apa nii san menelpon sepagi ini. Kalau tak ada yang penting kututup telponnya, aku masih ngantuk"
"Aku hanya ingin melaporkan keadaanku disini otouto, karena aku yakin kau pasti sangat rindu dan khawatir padaku haha. Dan juga ingin tahu kondisimu" Aku memang mengkhawatikanmu otouto.
"Aku baik-baik saja nii san. Kau tak usah mengkhawatirkanku." Semoga memang keadaanmu baik-baik saja otouto
"Jaga kesehatanmu otouto, aku bertemu seseorang disini" kurasa otouto harus tahu aku bertemu naruto hari ini.
"Hn. Kau juga nii san." Terdengar suara desahan, kurasa kau sedang mempertahankan kesadaranmu otouto
"Apa kau tidak penasaran, hn? Siapa orang yang kutemui disini?"
"Sudahlah nii san, aku sedang tidak dalam mood baik untuk membicarakan perempuan yang kau goda." dia selalu saja begitu, menyimpulkan tanpa berpikir panjang
"Terserahlah. Oh iya salam pada ibu dan ayah. Katakan pada mereka aku akan menelpon mereka besok pagi"
"Hn. Jaga dirimu nii san." Terkadang aku masih tersentuh dengan sikapnya yang sangat jarang dia tunjukkan pada orang lain. Orang hanya tak bisa melihat sisi dirimu itu otouto.
"Hn. Jaa waga no otouto."
Panggilan rutin berakhir dan satu hal yang kutahu
"Kau masih belum berubah otouto."
Hari sudah mulai larut, dan waktu istirahatku sepertinya sudah habis dari beberapa jam yang lalu. Saat bekerja waktu tak pernah terasa sesingkat ini. Kuharap semuanya akan baik-baik saja.
Normal POV
Terkadang manusia itu terlalu percaya diri, hingga lupa semuanya tak akan sama saat Tuhan berkata tidak untuk semua usaha mereka.
Hari masih muda, saat Sasuke perlahan membuka matanya. Tangannya masih menggenggam handphone saat dia mulai mendudukkan dirinya. Membenarkan posisinya sekarang, Sasuke bersandar pada bantal biru berukuran besar di tempat tidurnya, bantal itu pemberian naruto saat dia masih di dorminori dulu.
"Dasar nii-san tak tahu diri. Ini masih pagi dan aku harus bangun. Menyebalkan" mengawali hari dengan umpatan, dan tak layak dicontoh. Tapi begitulah Sasuke, umpatan untuk kakaknya adalah sebuah penghormatan.
Sudahlah abaikan bagian ini, semua orang sudah tahu dengan jelas bahkan tanpa lisan yang baik darinya, bagaimana Sasuke begitu bangga, mencintai, dan menghormati kakaknya Itachi.
.
_
Kembali pada rutinitas keseharianya menjadi seorang residen bedah jantung. Hari ini cukup berat untuknya, bagaimana tidak 3 pasien rawat jalan tiba-tiba perlu penanganan prosedur bedah karena berbagai alasan. Collaps karena kelelahan hingga serangan jantung mendadak ketika perjalanan dari wisata. Beruntung mereka tidak datang dalam waktu bersamaan dan sial karena mentor utamanya Kakashi sensei tidak sedang di tempat. Belum lagi pengalihan pasien dadakan karena rekannya yang berhalangan karena seminar.
Jadi dokter itu merepotkan? Mungkin, tapi bukan itu. Beban seorang dokter adalah menjadi penengah antara hidup dan mati untuk si pasien. Mengerikan? Bagi orang awam, namun untuk mereka itu sebuah konsekwensi. Maka dari itu mereka akan terus belajar, bukan untuk lulus dari sebuah ujian maupun test, melainkan untuk bisa selangkah lebih dekat dengan kehidupan daripada dengan kematian.
Sasuke baru saja menyelesaikan operasi terakhirnya, berjalan perlahan menuju post suster untuk menulis apa yang terjadi di ruang operasi tadi.
"Selamat malam Sasuke-sensei" ujar seorang suster
"Hn" respon biasa, mode biasa dari seorang Sasuke.
Sasuke menginput dengan santai terlihat tidak terganggu dengan suster yang terlihat ingin diperhatikan dengan terus menatapnya. Kemudian berlalu menuju ruang istirahat setelah sedikit memberi kode bahwa dirinya pamit pada suster jaga.
.
_
Terlelap adalah hal yang sangat manusiawi, dan di ruang istirahat ini Sasuke nampak tanpa beban menutup sejenak visi dan menarik kesadarannya pergi. Duduk bersandar dengan dengkuran ringan dan nafas yang teratur, dilihat dari sudut manapun Sasuke yang keras kepala, egois, bengis, kaku dan perfeksionis masihlah seorang manusia yang merasakan tekanan, lelah, bingung, juga pernah putus asa akan sesuatu.
Dering handphone tiba-tiba mengenyahkan kesunyian di ruangan itu, tertulis Otou-sama pada handphone yang tergeletak pada meja di samping sasuke. Berkali-kali berdering, namun Sasuke bergeming tetap pada posisi terlelap tak terganggu sedikitpun.
.
_
Tiga puluh menit berlalu. Visi sasuke mulai terbuka perlahan
"Nampaknya aku tertidur. Yatuhan berapa lama aku tertidur?" menggosok matanya ringan sembari bergumam tidak jelas adalah upaya sasuke menyadarkan kembali dirinya. Tanpa menunggu lama lengannya menggapai handphone yang sedari tadi tergeletak di atas meja. Ketika mengaktifkan layar handphonenya Sasuke tersadar sebuah kesalahan besar yang ia lakukan hanya karena ia mengikuti naluri manusiawinya untuk terlelap. Tidak menunda Sasuke berlari sekuat tenaga meninggalkan ruang istirahat.
Tertulis 15 panggilan tak terjawab dari Otou-sama dan sebuah pesan pada handphonenya
"Sasu. Kaa-san mu tak sadarkan diri dan sekarang masuk UGD. Jika kau sudah membaca pesan ini segeralah ke emergency room rumah sakitmu."
.
_
Sasuke POV
'Yatuhan apa yang sudah kulakukan. Bagaimana bisa aku tidur sedangkan kaa-san sedang dalam kondisi yang gawat. Yatuhan ampuni aku. Otou-sama maafkan aku. Nii-chan maafkan otoutou mu yang bodoh ini. Kaa-san bertahanlah' kuracaukan ini berkali-kali dalam hati sembari berlari sekuat tenaga menuju tempat dalam pesan yang tou-san kirim.
Kulihat tou-san dengan ekspresi yang tidak jelas ketika kaa-san yang terbaring tak sadarkan diri diperiksa oleh dokter ER yang bertugas
"Tou-san!" Panggilku dengan terengah
"Sasu! Kau kemana saja??" Wajah tou-san menyiratkan kekhawatiran yang luar biasa, mata berair, nafas cepat, wajah yang pucat dengan bulir keringat pada dahinya. Bukan ekspresi tousan yang biasanya.
Kuraih tangan tou-san, kugenggam sekuat tenaga
"Maafkan aku tou san. Maafkan aku. Telponmu tadi tidak terangkat. Aku tadi tertidur." Sesalku sangat, kuucapkan dengan gelisah
"Sudahlah Sasu. Tak apa apa, semoga saja ibumu baik baik saja. Tadi tou-san hanya kaget. Demi tuhan kukira tuhan sudah mengambil kaa-sanmu Sasu. " Sesal benar-benar memenuhi diriku ketika mendengar tousan dan melihat kaa-san yang masih diperiksa dokter.
.
_
Kaa-san sudah dipindahkan ke ruang rawat inap.
Demi tuhan baru pertama kali aku melihat kaa-san seperti ini. Di keluarga kami hanya kaa-san yang terlihat sehat sepanjang tahun dibandingkan kami aku, nii-san dan tou-san yang cenderung abai dan kurang memperhatikan kesehatan dan malah sering merepotkan kaa-san ketika tiba-tiba mengeluh tidak enak badan dan sebagainya.
Kaa-san terbaring lemah. Wajahnya pucat. Dan baru kusadar terlihat lebih kurus.
"Ibu anda nampaknya stress berkepanjangan sasuke-san. Tekanan darahnya rendah, kondisi hati ibu anda juga dalam kondisi kurang baik, sepertinya ibu anda tidak makan dengan baik. Sejauh ini kondisi ibu anda terkendali sasuke-san. Tunggu sampai IV-nya habis dan biarkan beliau istirahat, nampaknya ibu anda juga tidak tidur dengan baik, kantung matanya kentara sekali. Semuanya baik-baik saja. Anda tenang saja dan doakan beliau" Teringat perkataan dokter emergency room yang menangani kaa-san tadi.
Stress? Bagaimana bisa. Padahal ibu selalu nampak ceria ketika kami berkumpul di rumah.
"Sasu!"
"Iya tou-san" kulihat tou-san masih sangat khawatir dengan kondisi kaa-san. Meski tau dan paham dengan penjelasan dokter tadi nampaknya tou-san masih akan terus menempel dengan kaa-san. Tangan kaa-san digenggam tou-san sedari tadi
"Kau bisa kembali pada pekerjaanmu sasu. Tou-san lihat rumah sakit sangat sibuk tadi" kupikir tou-san benar. Departemenku bahkan terasa seperti kekurangan dokter.
"Baiklah tou-san. Jaga kaa-san dengan baik. Nanti aku kembali lagi kesini"
"Tenanglah. Kau pikir siapa yang menjaga kaa-san selama kalian sibuk dan bahkan jarang pulang ke rumah" menyindir heh, dasar tou-san.
"Hn. Aku pergi tou-san" tou-san hanya mendengus ketika mendengar hn, khas keluarga kami sekali nampaknya.
.
_
Naruto POV
Bau antiseptik, suara hening yang memekakan telinga, terbaring sembari menatap langit-langit tinggi rumah sakit nampaknya bukan hal yang buruk setelah pemeriksaan rumit sepanjang hari ini.
Sesaat teringat percakapan dengan itachi nii-san
"Aku sakit nii-san."
"Sakit? Kukira seorang dokter tidak bisa sakit"
Kurasa dia memang benar-benar kakak sasuke. Bahkan setelah wajah kagetnya yang terkendali dia masih bisa terdengar menyebalkan
Aku terkekeh sendiri membayangkan bagaimana mereka hidup bersama selama ini.
"Aah aku jadi memikirkanmu lagi teme. Sialan" racauku sendiri ketika apa yang kupikirkan mulai menjurus lagi pada seseorang yang sedang kuhindari dan tidak ingin kutemui beberapa waktu ini.
Bertahun-tahun aku mengenalnya. Kupikir awalnya kami tak akan bisa seakrab ini. Dia seorang Uchiha Sasuke yang menyilaukan setidaknya itu yang kupikirkan ketika awal mengenalnya. Bagaimana tidak wajah yang tegas dan good proportion membuat siapapun baik lelaki ataupun wanita tak bisa berpaling ketika melihatnya. Cerdas tangguh dan tekun, ditambah aura kuat yang mendominasi membuat kami yang berjuang seadanya termasuk aku merasa tidak layak bisa berteman dengannya. Tapi mungkin tuhan punya pendapat lain.
Teringat ketika pertama kami berinteraksi. Sebuah bentakan tegas memang khasnya sekali waktu itu
"Bisakah kau diam!" aku bahkan masih ingat raut wajahnya
"Haha menggelikan kenapa aku jadi nostalgila" berbicara sendiri nampaknya jadi kebiasaanku akhir-akhir ini.
Hening lagi.
"hah membosankan, aku jadi ingin bertemu ayah
"mengobrol dengan nii-san sepanjang hari
"menemani nee-san belanja hingga dimarahi gaara nii-san
"dan mengerjai si teme"
Normal POV
"hah membosankan, aku jadi ingin bertemu ayah
"mengobrol dengan nii-san sepanjang hari
"menemani nee-san belanja hingga dimarahi gaara nii-san
"dan mengerjai si teme" racaunya sendirian sembari berbaring menatap langit-langit.
Sesaat tadi hening kemudian terdengar isakan memecah keheningan ruangan tempatnya menginap dua hari ini
"Ayah aku ingin pulang." Naruto meraung serak, tangisannya tumpah seperti emosi yang dipendamnya selama ini, beberapa saat seperti itu hingga lelah menarik diri naruto untuk terlelap dengan wajah lembab dan mata yang berair.
Naruto berjuang sendirian selama ini. Menangisi dirinya sendiri, menyemangati dirinya sendiri. Mungkin ayahnya yang sangat protektif selalu bersamanya, nii-san dan nee-sannya yang cerewet membuat harinya selalu tersenyum namun tak ada yang tahu senyuman dan cengiran itu merupakan upaya terbaiknya.
Penderitaan dan rasa sakit naruto jalani sendiri dalam diam dan doa yang selalu dia panjatkan. Secercah kebahagiaan naruto rasakan ketika akhirnya bisa menjadi mahasiswa kedokteran, impiannya sedari kecil. Naru kecil berkata lantang
"Aku ingin menyembuhkan kepedihan orang yang menderita karena penyakitnya" Namun nampaknya kebahagiaan itu hanya angin sepoi yang lewat sejenak
Putus asa mulai datang
Ketika Naruto sadar bahwa kondisinya semakin buruk. Naruto tak boleh terlalu lelah namun sebagai dokter residen itu sebuah hal yang tidak mungkin. Jadwal tidur yang tak menentu, makan yang seadanya juga dengan waktu yang tidak teratur sedangkan beban pekerjaannya menuntutnya untuk totalitas. Naru menjalani itu dengan sepenuh hati namun raganya tak bisa
Malam ketika naruto tak jadi menemui Sasuke adalah titik terendah hidupnya.
"Mohon maaf naru-chan. Nampaknya kau harus menyerah. Kondisimu tidak memungkinkan" Naruto menyadari bahwa menjadi dokter itu sebuah hal yang mustahil untuknya ketika Jiraya sensei mengatakan itu.
"Maksud sensei?" naruto mencoba untuk pura-pura bodoh sejenak
"Waktumu tinggal satu tahun naruto"
"Padahal malam ini aku akan makan ramen dengan Sasuke, sensei. Bagaimana bisa kau mengatakan itu" Naruto tak sadarkan diri setelahnya.
Dan beginilah kehidupan baru naruto selama ini berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain sesuai rekomendasi Jiraya. Itu dia lakukan bukan karena tak ada rumah sakit yang bagus di Jepang tapi karena
"Aku tidak ingin keluargaku menderita ketika melihat kondisiku sensei. Juga
"Aku tak mau Sasuke tahu bagaimana aku hidup kedepannya
"Dan aku ingin berjuang. Sendirian" Ucap naruto ketika memohon pada Jiraya
Sebuah kebohongan yang naruto buat. Dan menjadikan dirinya sebagai
OBJEK PERCOBAAN dengan harapan bahwa
"Setidaknya hidupku bisa bermanfaat untuk dunia ini. Dan orang yang menderita penyakit sepertiku bisa hidup lebih lama hehe" Cengiran naruto seperti biasa. Namun tak seperti biasanya Jiraya sensei bukan membalas cengirannya malah terisak sembari tertunduk ketika mendengar naruto mengatakan itu diruangan kerjanya.
"Naru. Kuharap kau bisa hidup lebih lama lagi" Isak Jiraya sensei
.
_
Seharian ini Sasuke bekerja keras. Sesuai seperti kata Tou-sannya rumah sakit memang sedang cukup sibuk. Dua operasi besar menghabiskan seluruh tenaganya. Operasi pertama menjadi asisten dalam operasi VIP yang dilakukan kakashi sensei. Operasi Jantung Buatan. Prosedur ini butuh kesabaran, ketelitian dan konsentrasi yang ekstra, menghabiskan waktu kurang lebih 7 jam. Kemudian sekitar dua jam kemudian Sasuke harus menghadapi operasi darurat seorang pasien yang tertusuk batang baja di dadanya 5 jam lebih dan sasuke yang lelah terus berjuang hingga akhirnya tugasnya selesai.
Namun
'Bruk' Sasuke limbung dan tak sadarkan diri sesaat meminggalkan ruangan operasi
.
_
"Sasuke sensei demam. Apa kita harus beritahu orang tua nya?" Sasuke pada akhirnya tak bisa terus sok kuat dan profesional. Suhu tubuhnya 38.2 derajat sekarang. Semua staff bedah mengkhawatirkan keadaannya sekarang
"Bukankah tadi ibunya juga baru masuk UGD"
"Kupikir akan lebih baik jika kita tidak memberi kecemasan tambahan untuk keluarganya."
"Baiklah. Tapi jika dalam 2 jam kondisinya memburuk aku tak mau ambil resiko. Kita harus beri tahu mereka ok?"
Dengan segala pertimbangan, staff bedah memutuskan untuk tidak menghubungi orang tua sasuke dengan harapan dalam dua jam semuanya akan membaik.
.
_
Tiga puluh menit berlalu sasuke perlahan kembali pada kesadarannya, namun demam dan kondisinya belum sepenuhnya baik. Sasuke beringsut lemah mendudukan dirinya sendiri
"Ah. Nampaknya aku lemah" ucapnya pelan setelah menyadari posisinya sekarang.
Sasuke melamun, memikirkan segala yang terjadi padanya belakangan ini.
"Apa aku terlalu memaksakan diriku akhir-akhir ini?" dia mendengus sendiri setelah berbicara pada dirinya sendiri
"Kurasa aku mulai tertular kebiasaan naruto. Meracau sendiri" kekehnya lagi kemudian mengusap wajahnya. Melirik snelinya yang tergantung tak beraturan pada tepi ranjang kemudian meraihnya. Seketika mengambil handphone dalam kantongnya. Membuka menu panggilan kemudian menekan speed dial nomor 3. Sasuke menghubungi kakaknya, Itachi.
Dia tahu saat ini tak mungkin kakaknya sedang luang dan bisa mengangkat telpon darinya, namun setidaknya Sasuke sudah mencoba. Menunggu beberapa saat berharap ada sebuah suara yang ingin dia dengar sekarang
"Nomor yang anda tuju sedang sibuk cobalah beberapa saat lagi" sayup-sayup terdengar dan terkaan awal sasuke nampaknya benar. Kakaknya sedang sibuk dan tak bisa dihubungi.
Dulu ketika sasuke kecil dia sangat bergantung pada kakaknya, namun bukan bermanja seperti seorang adik kecil yang lucu. Itachi selalu ada untuknya bahkan tanpa sasuke minta. Sasuke tidak pernah mengadu namun Itachi selalu tahu ketika dia dalam masalah. Sasuke juga tidak cengeng tapi itachi akan menepuk pundaknya ringan kemudian mengusap kepalanya dan berbisik "Tak masalah sasu. Kau bisa menangis" dan yang dia lakukan hanya menunduk lebih dalam, menyembunyikan wajah basahnya.
Layar handphonenya kembali gelap, Sasuke menunduk menatap warna putih seprai.
Bahunya nampak mulai bergetar. Sasuke terisak dalam keheningan
"Aku harus bagaimana niisan? Aku merasa gagal menjadi dokter" sasuke menangis sembari terus menggenggam handphonenya
Lirih isakan menggema, rasa sesal, gelisah, khawatir dan takut menguasai benak.
Bertanggungjawab adalah poin dari semua emosi yang nampak pada sasuke saat ini.
Menjadi dokter berarti harus selalu profesional menangani setiap pasien namun untuk kasus kali ini sasuke lalai akan sebuah hal yang penting.Kondisi kesehatan jiwa dan raga orang terdekatnya.
Juga kesadaran yang terlambat muncul bahwa perhatian sekecil apapun terhadap orang terdekatmu membangun sebuah ikatan jiwa untuk kepekaan melebihi sebuah hal tabu bernama komunikasi. Dan sasuke tidak mendapatkan keduanya, baik komunikasi, maupun kepekaan.
Tinggal beberapa menit lagi menuju pergantian hari, satu detik kedepan merupakan sebuah masa depan yang harus dijalani. Mungkin tangisan bukanlah sebuah jalan untuk mempermudah namun setidaknya tangisan bisa membuka jalan lain yang tidak terpikirkan sebelumnya.
Alternatif jalan untuk masa depan yang lebih baik.
Tangisan malam ini usai dengan sebuah dengkuran halus dari sesosok manusia berwajah sendu dan tenang yang meringkuk menggenggam handhone. Semoga esok hari yang menyenangkan dan menenangkan.
.
_
Dunia ini sangat rumit, banyak variabel yang perlu dilakukan untuk bisa bertahan dalam zona kehidupan saat ini. Namun dalam hati sanubari setiap manusia ini tersimpan naluri yang tak bisa dienyahkan dengan variabel apapun.
Cinta.
Cinta menyertai kehidupan dunia yang rumit ini dengan sebuah alur yang kompleks. Hidup tidak selalu harus mengurusi cinta namun naluri ini akan membimbingmu, sadar atau tidak. Menuju upaya terbaik untuk tujuan kehidupanmu.
Sasuke tersadar pagi itu pukul 04.00 karena sebuah mimpi tentang memori masa kecilnya.
Masa kecil dimana kaa-sannya saat itu selalu tersenyum bahkan ketika wajah kecut hanya bisa ditampilkannya sehari-hari, dan sosok kaku tou-sannya yang tidak pernah berkata jangan untuk setiap hal yang dilakukannya namun memberikan pilihan dengan sebuah penjelasan yang singkat juga tegas. Jangan lupakan nii-sannya yang selalu ada untuknya saat itu, sosok pelindung sekaligus sosok yang terus kukejar, hingga hari ini.
Sasuke bangun dari pembaringannya, berdiri lemah meraih snelinya kemudian melangkah dengan tujuan yang pasti. Ruang rawat inap kaa-sannya.
Di depan pintu ruang tujuannya sasuke kemudian terdiam, mengintip ke dalam lewat sebuah lapisan kaca transparan yang berada tepat di depan matanya.
Nampak tou-sannya yang tidur dengan posisi duduk, kepalanya meringkuk lemas di atas sebelah telapak tangan kaa-sannya di pembaringan. Sedangkan sosok kaa-sannya, terduduk sembari mengusap lembut surai tou-sannya, membelainya ringan dengan wajah yang biasa sasuke lihat.
Perlahan pintu terbuka, Sasuke masuk tanpa mengucapkan apapun. Melenggang menuju kaa-sannya.
Kaa-sannya hanya tersenyum lembut ketika sadar sasuke berada dihadapannya.
Tanpa usaha berlebih dan paksaan Sasuke tersenyum, meluapkan rasa lega.
"Bagaimana keadaan kaa-san. Apakah sakit?" Kaa-sannya tersenyum lagi, lebih lebar dari senyuman sebelumnya hingga kedua matanya nampak menjadi sebuah garis
"Apakah kaa-san selalu seperti ini setiap hari? Berjuang sendirian. Menghadapi kami." Belum ada jawaban, hanya sebuah lengan lemah yang terjulur menuju wajah sasuke, mengusap pipinya perlahan
"Kami yang tidak pandai berekspresi, dan selalu membuatmu khawatir sendirian" mata sasuke mulai berair
"Kaa-san tidak apa apa Sasuke." Wajah sasuke menunduk, air matanya menetes membasai tangan kaa-saannya
"Kaa-san tidak apa-apa." Dengan wajah basah sasuke terseyum lagi
"Syukurlah"
.
_
Sasuke POV
Bagaimana bisa senyum kaa-san begitu ringan?
Padahal aku yakin beban pikirannya cukup rumit selama ini. Selama hidup bersama kami, bersama aku itachi nii-san dan tou-san.
"Kaa-san tidak apa apa Sasuke."
Kenapa kau tersenyum lagi. Apanya yang tidak apa apa. Mataku mulai panas dan visiku mulai buram. Aku malu, sangat malu. Bahkan ketika wajah terbaik yang ingin kuperlihatkan, kenapa malah tangisan yang kusuguhkan.
"Kaa-san tidak apa-apa." Sekali lagi, enyahlah rasa malu, aku tak peduli lagi dengan wajahku sekarang. Aku hanya ingin memberikian senyuman terbaik untuk kaa-san sekarang.
Aku tersenyum ringan
"Syukurlah" namun sial, kenapa singkat sekali. Padahal aku ingin berkata lebih manis.
Setidaknya aku sudah mencoba. Namun satu kata tadi sebuah ketulusan dariku. Syukurlah kaa-san tidak apa apa.
.
_
Normal POV
Sasuke sedang berbincang ringan dengan kaa-sannya ketika tou-sannya bangun.
Mereka tertawa geli melihat wajah bangun tidur seorang Uchiha Fugaku. Fugaku yang kebingungan kemudian melenggang sempoyongan meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata.
"Kau mau kemana anata?" fugaku berbalik
"Panggilan pagi hari" dan tawa ringan meramaikan pagi itu.
.
_
Sudah pukul 06.00 dan Sasuke masih enggan meninggalkan ruangan ibunya. Padahal biasanya sebelum pukul 6 Sasuke sudah mulai berkeliling bangsal menyapa pasiennya dan mengecek kondisi mereka.
"Sasuke"
"Iya kaa-san"
"Apa seorang dokter punya waktu luang di pagi hari?" bertanya lebih baik dari pada membuat pernyataan, kebiasaan Uchiha Mikoto ketika menegur seseorang. Habit can't change easily right?
Sasuke hanya menggaruk kepalanya sebagai respon. Rasa enggan menggantung memberatkan raga untuk pergi menjalankan tugas. Setiap anak pasti tahu dengan jelas rasanya
"Ibu dengar dari Itachi Naruto ada di US? Nee sasuke?"
Wajah sasuke merengut bingung mendengar pertanyaan ibunya.
"Kapan Itachi-nii menelpon kaa-san?"
"Sebelum kau masuk ruangan tadi. Suaranya parau sekali. Tou-sanmu sepertinya mengirimkan kabar tidak enak ke nii-sanmu" anak mana yang tak akan panik ketika mendengat ibunya masuk rumah sakit
'Kenapa nii-san tidak memberitahuku kalo ia bertemu dengan naru disana'
'Kenapa kemarin ketika menelpon dia hanya menggodaku saja. Keriput sialan'
'Kenapa naruto tidak mengabari aku.'
Racauan tidak jelas mulai memenuhi pikiran Sasuke. Rasa kesal menyergap membawa perubahan pada gerak-gerik sasuke.
"Tanyakan sendiri pada nii-sanmu sana!" seorang ibu mengerti kondisi anaknya bahkan tanpa lisan menjelaskan semuanya. Sasuke mengangguk
"Mungkin nanti kaa-san. Nampaknya aku memang harus segera bertugas" Getar handphone dalam kantong snelinya memberikan pertanda waktu kerja sasuke sudah dimulai
Setelah memeluk ibunya kemudian berpamitan, Sasuke bergegas.
"Sensei. Seorang anak perempuan usia 8 tahun dibawa oleh kakaknya karena mengeluh nyeri dada. Ketika sampai di rumah sakit dia tiba-tiba terjatuh kemudian tidak sadarkan diri." Suara laporan unit gawat darurat menyampaikan kondisi yang harus sauke hadapi
"Lanjutkan" sasuke berlari
"Dari beberapa pemeriksaan nampaknya. Pasien ini memiliki kelainan jantung"
Dengan semua drama kehidupan yang sasuke alami, dia tetaplah seorang dokter yang harus menolong pasiennya
.
_
Manusia biasanya merasa semua akan baik-baik saja setiap harinya.
Mereka akan hidup lebih baik setidaknya dari hari sebelumnya. Dengan optimisme dan upaya yang mereka maksimalkan.
Terkadang rasa aman muncul setelahnya, membuat diri mereka lalai dan tidak sadar dengan variabel yang bisa saja muncul kapanpun dimanapun pada siapapun.
Beberapa sadar dengan cepat kemudian menjadi diri yang membuat zona aman mereka tetap bertahan.
Beberapa lainnya bergeming dan melanjutkan apa yang dilakukan saat itu, tanda-tanda tak biasa dianggap sebagai sebuah hal yang biasa, bukan sebuah hal yang perlu diatasi cepat, mereka menundanya bahkan menepisnya sampai satu titik fatal mereka sadar.
Apakah ini sudah terlambat?
Sosok berbalut pakaian khas berwarna biru meninggalkan medan perangnya, Operation Room. Medan perang dimana upaya penyelamatan terbaik tim bedah upayakan demi kehidupan yang lebih baik dari pasien.
Gloves yang berlumur darah teronggok pada sebuah container dengan gloves lain yang telah lebih dulu terisi disana. Nasib serupa didapati masker yang digunakan sosok tersebut. Ketiadaan masker menampakkan sosok tadi yang ternyata adalah
"Kakashi sensei" sosok tadi berbalik ketika namanya dipanggil
"Ah, Sasuke. Selesai bertempur?" nampak seringai setelahnya
"Hn."
"Hn" Kakashi sensei nampak ingin menggoda juniornya
"Anda tidak cukup pantas ketika meniruku sensei. Wajah anda lebih bersahabat daripada wajahku."
Mereka tertawa ringan setelahnya
"Bagaimana tadi operasimu? Kulihat pasienmu masih sangat muda"
"Upaya terbaik sudah aku lakukan. Setidaknya aku berharap kata sukses ini bukan hanya di ruang operasi tapi hingga anak itu bisa tumbuh besar kemudian menikmati hidupnya" semua dokter selalu berharap lebih dari sekadar keberhasilan sejenak
"Ah. Menyianyiakan hidup maksudmu?" mereka tertawa ringan lagi
"Kelainan jantung selalu menghantui anak-anak dengan orangtua yang kurang peka akan kondisi mereka. Beruntung untuk anak ini karena kakaknya sigap dan menyadari kejanggalannya." Kakashi menyimak, obrolan khas para dokter bedah
"Ah tentang kelainan jantung. Kudengar dari jiraya sensei Naruto juga menderita kelainan jantung bawaan ibunya. Semoga dia baik-baik saja"
Mendengar itu wajah sasuke mengeras, kemudian menunduk sembari tersenyum lemah
"Aku tak tahu harus berkata apa sensei"
Kakashi tahu dengan jelas bagaimana Naruto dan Sasuke peduli satu sama lain. Mereka sangat akrab dari saat mereka masih di akademi. Tentu membebani hati ketika tahu orang terdekatmu ternyata sedang menderita. Kakashi menepuk bahu sasuke
"Aku tahu Naruto kuat. Dia pasti bertahan" sasuke hanya menunduk
"Sampaikan salamku padanya." Kakashi pergi menjauh setelahnya, mengangkat tangan kanannya tinggi tanpa berbalik
Seketika Sasuke ingat saran kaa-sannya untuk menelpon Itachi, merogoh handphone pada kantong celana bedahnya.
'Apakah nii-san sudah selesai bekerja?'
Perbedaan waktu diantara mereka adalah 14 jam. Jam menunjukkan pukul 10.46 pada layar handphonenya. Berarti di tempat Itachi pukul 20.46 dan Sasuke tidak begitu yakin kakaknya sudah luang dan bisa mengangkat telponnya.
Hendak mengurungkan niatnya namun
"Kupikir tak ada salahnya mencoba" Bergegas menekan speed dial kemudian menunggu
Dan
"Oy pantat ayam. Tidak ada kerjaan. Kenapa banyak sekali miscal darimu"
'Syukurlah diangkat' sasuke tersenyum, kakaknya memang khas sekali
"Hn"
"Kalo hanya ingin berkata Hn tak usah menelponku. Pekerjaanku masih banyak" itachi sepertinya kesal
"Tadi aku hanya merasa ingin menelponmu, dan syukurlah tidak kau angkat nii-san" tak mungkin Sasuke ceritakan dirinya yang menangis sesenggukan saat itu
"Apa kau merasa ingin menangis Sasu-chan?" tepat sasaran. Padahal itachi hanya berniat menggoda adiknya
"Kupikir kau memang benar-benar kakakku nii-san"
"Aku juga akan seperti itu ketika ada di posisimu. Tak usah malu" sasuke menyeringai mendengarnya
"Ah iya sasuke. Bagaimana keadaan kaa-san?"
"Tak usah khawatir nii-san. Kaa-san bahkan sudah tertawa tadi pagi" Kata tertawa jelas sebuah indikator yang meyakinkan untuk keluarga mereka
"Syukurlah. Aku hampir berlari ke bandara ketika tou-san memberitahu via chat. Ah sial. Aku jadi ingin pulang saja"
"Kau yang punya cita-cita itu dulu. Tanggung sendiri resikonya"
"Adik sialan" mereka terkekeh bersamaan
"Itachi nii. Apa benar kau bertemu naruto disana?" pembicaraan berlanjut
"Ah iya. Ingat ketika tempo hari aku menelponmu kemudian bertanya 'tebak aku bertemu siapa disini?'"
"Tadinya aku ingin menggodamu, tapi yaa tidak sesuai harapanku. Aku bertemu dengannya beberapa menit sebelum menelponmu." Itachi melanjutkan
"Apa dia nampak baik-baik saja nii-san?" Kekhawatiran nampak kentara pada pertanyaan itu
"Aku tak bisa menjawabnya otouto. Kau tahu aku orang yang memegang janjiku. Naruto bilang jangan mengatakan kondisinya padamu"
Sasuke terdiam, menatap sekitar kemudian berjalan menuju tempat duduk terdekat.
"Aku tak akan memaksa. Semoga dia baik-baik saja"
"Doakan saja dia Sasuke. Nampaknya dia tak ingin membebani pikiranmu. Positive Thinking"
Hening beberapa detik
Sasuke mengulum senyum tulus, kemudian
"Terima kasih itachi nii. Kupikir kau kakak yang cukup baik"
"Selama ini kau baru sadar otouto. Oh tuhaaan, bagaimana mungkin adikku sangat tidak peka" Itachi mulai menggoda Sasuke lagi
Mereka kemudian tertawa bersama
"Jaga dirimu nii-san. Jangan bermain dengan sembarang wanita disana"
"Hn. Kau juga Sasu. Jadilah dokter keren yang bisa jadi panutan dunia"
"Apa nii-san belum sadar. Aku memang sudah keren" nampaknya sifat narsis itachi tertular pada sasuke
"Terserahmulah. Dan tentang Naruto. Aku juga sedikit khawatir. Coba kau hubungi keluarganya. Sekalian menyapa calon mertua haha"
"Sialan. Tapi baiklah akan kucoba. Selamat bekerja keras."
"Jaa sasu chaaaan"
Mereka memang tak nampak saling peduli. Namun ikatan kakak beradik tak hanya terukur dari yang nampak kan?
.
_
Semuanya berjalan seperti biasanya. Itu yang Namikaze Minato pikir selama ini.
Ketiga anaknya hidup dengan baik.
Naruko tumbuh menjadi gadis dewasa dan bijak seperti mendiang istrinya dulu, meskipun tuhan belum bisa memberikan apa yang diinginkannya saat ini, seorang anak. Setidaknya dia hidup bahagia bersama suaminya. Lelaki aneh berkantung mata pemilik agensi besar Sabaku Corp, Sasbaku Gaara.
Meskipun awalnya dirinya tak habis pikir, bagaimana bisa anak gadis yang dia rawat dengan baik bisa berhubungan dengannya.
Kyuubi, anak lelaki satu-satunya yang selalu bisa minato banggakan. Dia tumbuh dengan mental yang kuat, mengingatkan pada dirinya ketika masih muda. Karir atlitnya diluar ekspektasi minato. Meskipun harus berjuang mati-matian untuk menjaga tubuhnya, kyuubi tak berkecil hati dan terus berjuang sekuat tenaga.
Dan anak bungsunya, permata yang tuhan berikan sebagai ganti mendiang istrinya Uzumaki Kushina, Naruto lahir menjadi pelita kegelapan yang ia rasakan sejenak ketika kushina meninggal. Meskipun tumbuh tanpa sosok ibu Naruto selalu berkilauan. Kedua kakaknya sangat menyayanginya dengan cara mereka.
Minato mensyukuri kehidupannya. Dia mendapatkan cinta yang banyak dari ketiga anaknya.
Namun Minato lupa satu hal. Pemikirannya adalah musuh nyata, penyebab ia bisa kehilangan istrinya, kebahagiaannya saat itu.
Ingatannya masih sangat jelas ketika Kushina sangat bahagia dengan kehamilan anak ketiganya. Menganggap bahwa tak akan ada rintangan kecil dikehidupannya ketika itu. Minato miss satu hal saat itu, alasan mengapa kushina tak pernah mengajaknya ketika memeriksa kehamilannya.
"Tak apa-apa minato-kun. Aku bisa sendiri. Kau pasti lelah setelah bekerja keras seminggu ini"
"Aku pergi sendiri saja, rekan kerjamu butuh bantuanmu"
"Ah. Maafkan aku tak memberitahumu. Tadi siang aku ke rumah sakit. Melihat perkembangan anak kita hehe"
Dia piikir semua baik-baik saja, seperti biasanya.
Hingga tiba-tiba Kushina mengeluhkan kenapa anak dalam kandungannya tidak bergerak meskipun sudah masuk bulan ke 6.
"Jantung anak kalian lemah. Kuharap kalian bisa menerima itu"
"Dan kupikir ini tidak akan baik kedepannya. Kita semua paham dengan baik bagaimana kondisimu Kushina. Kau menyianyiakan kondisi tubuhmu untuk kandunganmu kali ini. Dia tak akan berkembang dengan baik dalam rahimmu."
Kushina yang bersikeras mempertahankan kandungannya memberinya keyakinan bawa semuanya akan baik-baik saja.
Dan pada hari persalinan Minato dihadapkan pada dua pilihan
"Kau harus memilih antara istrimu atau anakmu Minato. Kondisi istrimu buruk, dia tidak bisa melahirkan secara normal. Kau paham seterusnya"
Pemikiran masih menjadi musuh Minato yang nyata. Saat ini bahkan dia masih berpikir bahwa semuanya baik-baik saja. Dia tidak menyadari bahwa anak bungsunya sedang diambang hidup dan mati.
.
_
Sasuke POV
Setelah beberapa hari berjuang, akhirnya aku bisa sedikit bernafas lega. Hari ini Kaa-san bisa pulang setelah rawat inap selama 2 hari, dan Kakashi sensei memberiku waktu tiga hari untuk rehat.
"Kaa-san. Tou-san. Aku pulang" suara rendah menggema.
Sejuk, harum mint, dan keheningan yang tak pernah berubah dari rumah ini
Tou-san dan Kaa-san sedang berada di ruang tengah ketika aku datang.
"Hn. Sasuke" tou-san melihatku denganwajahnya yang datar, khasnya sekali
"Kenapa tidak bilang kalau hari ini kau bisa pulang Sasuke" ibu merajuk, lucu sekali
"Kalau kami tahu, kita kan bisa pulang bersama-sama"
"Aku juga baru tahu beberapa menit yang lalu. Maafkan aku" sedikit menyesal.
"Istirahatlah. Kau pasti sangat lelah Sasu. Kaa-san buatkan menthol tea" wajah ibu sudah tidak pucat
"Hn"
Kemudian kamar menjadi tujuanku. Segera berbaring ketika melihat kasurku.
"Haaaaaah" hari yang melelahkan hati dan jiwa.
Menatap langit-langit kamar mengingatkanku pada pesan nii-san.
"Coba kau hubungi keluarganya. Sekalian menyapa calon mertua haha" dasar nii-san sialan, masih sempat menggodaku.
Tapi bagiamana menghubunginya, menghubungi siapa?
Aku tak tahu kontak Kyuubi-ni maupun Naruko neesan. Aatu harus kuhubungi
Namikaze Minato. Ah tidak tidak aku masih ingat ketika pertama kali menelponnya dulu. Padahal aku hanya ingin tahu kenapa Naruto tidak masuk kuliah selama seminggu. Sikapnya terlalu protektif.
"Terima kasih atas semuanya Sasuke. Kurasa kau tak perlu menghubungi Naruto lagi" Minato san kemudian menutup panggilannya
Akhir pembicaraan kami saja menggantung dan aneh ketika itu.
"Tapi aku tak punya pilihan lain" aku sadar itu
.
_
TBC
Next Chapt
"Semuanya nampak mudah ketika aku bersamanya. Namun untuk sulit untuk bisa bersama dengannya saat ini"
Langit biru siang itu dan kulihat sepasang netra saphire tertuju padaku dengan sinar yang lemah
"Kenapa kalian tidak pernah memberi tahu ayah"
"Aku akan membantumu Sasuke."
Dalam hidup sebuah pengorbanan adalah hal yang mutlak untuk bisa mendapatkan sesuatu
Sasuke meraung ketika sadar apa yang dilakukannya
.
_
Author Note
Aaaaaaaaaa so much sorry for being so damn long time
Sekitar setahun hamba hilang - bener gk sih?
Here I am. sekali lagi maafkan RL life need so much support.
Skripsi ini membuat gw mulai gilaaaaa #plak XD
Btw ini gw garap sepenuh hati
semoga berkenan. #bow
Thanks for reviewer yang membuat diri ini jadi bersemangat hehe
Jika sudi #cry
Come again and review lagi hehe
Another things chapter kali ini cukup panjang #sorry
Semoga chapter selanjutnya gak terlalu lama #doainskripsigw
Saa
See ya X)
