17/9/17 & 20.22
All characters' name of Naruto belong to Masashi Kishimoto
"SOMEWHERE THE WIND IS BLOWING"
By Kohan44
.
"Neji, apa kamu tahu sehebat apa anak bermarga Nara?"
Neji menyalipkan selembar kertas ke salah satu halaman di buku catatannya sebelum menjawab Sasuke, "hebat itu relatif. Karena kata yang bias, penilaian orang pasti berbeda. Menurutku, dia itu anak yang melumat apapun yang lewat di depan matanya, dengan atau tanpa mata terbuka, dan segalanya seolah-olah tersimpan dengan baik, untuk diolah nanti jika dia membutuhkannya."
Kepala Sasuke berputar, menatap Neji dengan sorot aneh. "Aku tahu kamu ini pintar, tapi apa perlu mendeskripsikan seseorang dengan majas begitu?"
"Karena bakal terdengar berlebihan jika aku katakan Nara Shikamaru itu anak yang jenius. Mungkin IQ nya mencapai 200. Ya… entah lah."
Neji berbenah, memasukkan buku-buku ke dalam tas. Lalu beringsut meninggalkan ruangan tanpa kata. Sasuke menontonnya sampai punggung Neji menghilang di belokan koridor. Saat mendengar teriakan dari lapangan, Sasuke buru-buru melongo ke beranda, mencari seseorang yang dikenalnya. Teriakan itu terdengar amat familiar.
"Ih…" desisnya saat melihat Naruto saling baku hantam bercanda dengan Kiba dan Lee. Mereka nampak mem-bully Naruto, lalu menyeretnya ke dekat Gaara yang duduk di bangku taman. Gaara mendorongnya sampai Naruto jatuh ke perut Shikamaru yang tengah terlentang di kursi lain.
Sasuke merogoh saku, mengeluarkan ponsel untuk mengirim satu pesan singkat. Setelah terkirim, matanya tak beralih dari sekolompok anak iseng kurang kerjaan di bawah sana. Sasuke berharap Naruto bakal lari dari mereka untuk mengeluarkan ponselnya, atau berpura-pura dipanggil guru atau pergi ke toilet hanya untuk membalas satu pesan. Tapi tanda-tanda itu tak nampak.
"Ishh…" desisnya lagi, hampir putus asa ketika dia tiba-tiba dikejutkan dengan getaran pendek dari ponselnya. Layarnya menampilkan satu balasan pesan pendek dari nomor Naruto. Sasuke mendelik Naruto lagi. Naruto tidak memegang ponsel daritadi. Pesan itu berisi:
"Tidak boleh membawa ponsel ke sekolah. (by Ms Karin)."
"Aaarrghhh…."
Pada bel pulang sekolah, Sasuke menjadi murid pertama yang melesat keluar kelas. Jarak antara kelasnya dengan kelas Naruto membuat jantungnya berdegup kencang, takut kalau-kalau dia bakal terlembat, dan benar saja. Ketika Sasuke tiba di ruang kelas Naruto, sahabatnya itu sudah tidak ada. Setelah dikejar sampai gerbang sekolah, ternyata Naruto berdua bersama Shikamaru. Saat mata mereka saling bertemu, Sasuke kira Naruto bakal menghampirinya, tapi ternyata Naruto hanya melambaikan tangan kemudian berlalu pergi meninggalkan Sasuke bersama Shikamaru. Padahal biasanya, Naruto bakal mendatangi Sasuke hanya untuk sekedar berbasa-basi, dan jika sudah waktunya pulang, mereka akan berjalan kaki bersama.
Di keesokan harinya, dan di hari-hari selanjutnya, Sasuke duduk bersama Neji di meja kantin. Diam-diam matanya berlari dan jatuh di meja seberang, memperhatikan Naruto dan kawan-kawannya yang membuat seisi kantin jadi bising. Neji pun ikut menggerutu soal itu.
"Apa kamu bisa suruh teman kamu itu diam?" kata Neji.
"Teman siapa?" Sasuke membalas enggan sembari mengaduk-aduk mangkuk mie.
"Siapa lagi kalau bukan Naruto."
Tangan Sasuke berhenti sesaat. Dia tertegun menonton gumpalan mie. Neji jadi ikut menonton, mencari tahu apa yang mungkin sedang terjadi. Lalu mendapati Sasuke memberi respon, mengangkat kedua bahu. "Kamu bilang saja langsung pada orangnya."
Mendengar nada yang tidak mengenakkan, Neji pun tak membalas, dan hanya terdiam sembari sesekali menatap bergantian antara Sasuke yang berbahu layu dan sekelompok anak-anak yang tengah menikmati jam istirahat mereka dengan cara paling maksimal.
.
.
SOMEWHERE THE WIND IS BLOWING
.
.
Kadang angin bertiup ke timur menandakan hujan, kadang angin bertiup ke barat menandakan kemarau, dan kadang angin bertiup kesana kemari membuatku mengira-ngira apa yang mungkin terjadi. Hari pun tak bisa kutebak. Awalnya pagi cerah, lalu berubah menjadi siang mendung. Kukira bakal hujan, jadi aku terburu-buru pulang. Ternyata, hari itu hujan enggan turun.
Baru saja tiba di depan rumah, Naruto pun menyapa begitu menyadari kehadiranku.
"Kamu gk maen dulu?" kataku, merasa aneh melihat kepulangan Naruto di jam sesiang ini.
"Udah kelas tiga, waktunya belajar serius." Jawabnya membuatku ingin tertawa terbahak-bahak. Padahal baru kemarin aku melihatnya berleha-leha di depan tv. Sayangnya, aku harus menahan tawaku. Shikamaru berdiri di sebelahnya.
Oh… Shikamaru?
Nara Shikamaru membungkuk memberi salam hormat lalu menyapa, "Good afternoon, Miss!maaf mengganggu. Naruto memintaku belajar bersama."
"Oh…" aku tertegun, karena aku sangat tidak mengira anak ini bakal berkunjung ke rumah kami. Maksudku, bahkan Kiba dan Lee yang di sekolah nampak akrab dengan Naruto pun belum pernah bermain ke sini. Selalu saja teman yang diajak berkunjung itu Sasuke seorang. "Oh, maksudku, justru bagus! Naruto kalau kuajari sering protes."
Keduanya pun segera masuk ke lantai atas, ke kamar Naruto. Saat aku masuk ke kamar untuk menyuguhkan jamuan, mereka berdua memang terlihat belajar. Setelah menyimpan makanan di meja, aku membiarkan pintu kamar sedikit terbuka supaya aku bisa berdiri di samping pintu dan menguping apa yang sedang mereka lakukan. Aku ingin tahu apakah mereka masih belajar ketika aku tidak ada, dan… aku malah mendapat jawaban lebih dari pertanyaan yang aku butuhkan pada saat itu.
Aku masih ingat hasil bimbingan konseling Naruto yang belum memutuskan kemana dia akan melanjutkan sekolah. Kalau Naruto bersungguh-sungguh belajar seperti ini, dia pasti sudah memutuskan sesuatu dan pasti sekolah yang ditujunya adalah sekolah itu. Sekolah bergengsi yang 'kalau bukan orang berprestasi yang berhasil melewati tes, maka orang itu pasti orang berfinansial tinggi atau keturunan Uchiha'.
.
.
SOMEWHERE THE WIND IS BLOWING
.
.
Sasuke menarik kerah kemeja Naruto sampai Naruto tersentak kaget dan membuat Kiba serta Lee yang berada di kedua sisinya ikut terlonjak. Sasuke menyeretnya menjauh dari yang lain.
"Kalem dikit bisa kali," kata Shikamaru yang tak suka dengan cara Sasuke menyapa Naruto.
"Kenapa?" Sasuke menyembur. "Kami teman dekat, mau begini atau begitu, terserah kami!"
"Santai bro," Kiba ikut menimpali. Dia berjalan di antara Shikamaru dan Sasuke, mengantisipasi kalau-kalau sesuatu terjadi.
"Kalian pulang duluan aja. Naruto ada urusan denganku." Kata Sasuke dengan terang-terangan menegaskan nada pengusiran, terutama matanya yang melekat pada Shikamaru.
"Urusan apa memangnya?" kata Lee bernada lurus.
"Urusan rumah tangga, ya? Cieee…" Kiba menimpali dengan cepat, membuat Lee tersadar kemana arah pembicaraan ini, dan secepat itu pun ikut menggodai mereka.
"Oh, gitu ya?" kata Lee terkikik. "Ciee… ciee…"
"Apaan sih?!" Naruto menggerutu, mengacungkan kepalan tangan dan melayang-layangkannya seolah bakal menghajar mereka, tapi gertakan macam itu tak mempan untuk dua orang itu.
"Cuekin aja," kata Sasuke yang berlalu seolah mengajak Naruto mengikutinya. Sementara Kiba dan Lee belum berhenti berteriak cie-cie sampai Naruto geram.
"Udah deh, jangan campurin urusan orang." Celetuk Shikamaru yang langsung menghentikan teriakan cie-cie.
"Shika cemburu, ya?" sahut Kiba. "Ciee..ciee… cinta segitiga. Suitsuwiw!" Lee ikut menimpali.
"Terserah." Shikamaru pun berlalu ke arah berlawanan dengan Sasuke, diikuti Gaara. Kiba dan Lee mengekor di belakang sambil masih berseru cie-cie.
.
"Apa sih, Sasuke?"
Sasuke tak langsung menjawab. Dia malah menonton Naruto sampai Naruto salah tingkah. Matanya berlarian menghindari mata Sasuke, dan kakinya bergerak-gerak gusar, tak bisa menyembunyikan rasa gugup.
Sasuke berdecak sambil membuang tatapan. "Kalau kamu mulai gk suka berteman denganku, harusnya kamu bilang. Jadi kita bisa berpisah dengan baik-baik."
Naruto membuat mimik ha? Dan Sasuke berdecak lagi.
"Apa sih?" kata Naruto.
"Sekarang kita kelas tiga, dan kita gk satu kelas lagi. Sebentar lagi kita juga bakal lulus. Aku gk tahu kamu mau ke SMA mana, tapi sebelum aku gk bisa bilang apa-apa, ayo berpisah dengan cara baik-baik. Semoga kamu masuk SMA yang kamu inginkan."
Dengan itu, Sasuke mengambil tasnya lalu melesat meninggalkan Naruto.
"Sasuke!"
BRUK! Naruto terjatuh, mengaduh kesakitan menabrak ujung meja. Dia tak bisa berbuat apa-apa selain diam sampai rasa sakitnya hilang, tapi kepalanya dipenuhi kebingungan dan kekesalan atas perlakuan Sasuke.
.
.
SOMEWHERE THE WIND IS BLOWING
.
.
Pada banyak kasus, aku tidak tahu masalah apa yang mengganggu murid sehingga mereka malas belajar atau setidaknya berkonsentrasi menerima ajaran di kelas. Tapi jika murid itu Uchiha Sasuke, aku tahu jawabannya benar-benar. Dia tipikal murid yang tak akan lengah dengan mudah. Dia tipikal murid kompetitif yang tidak akan mempedulikan apapun selain pemahamannya terhadap pelajaran. Saat aku melihatnya menunduk dan menyimpan kepala di atas meja di hampir separuh jam pelajaran, aku tahu masalahnya bukan pada finansial, kekurangan asupan gizi karena terlewat jam makan pagi, atau permasalahan keluarga. Seorang Uchiha masih bisa hidup 100 tahun meski tidak bekerja berkat aset harta kekayaan. Sesuatu terjadi dalam hubungannya dengan Naruto.
Biasanya aku tahu lebih dulu masalah itu apa dari Naruto, tapi akhir-akhir ini Naruto sibuk kedatangan Shikamaru atau berkunjung ke rumah keluarga Nara untuk belajar sampai tak sempat berbagi cerita di sekolah seperti biasanya. Bagiku, ini hal yang baik. Bahkan jika akhirnya mereka berhenti menjadi teman, aku rasa aku bakal lebih menyukai fakta itu daripada melihat nilai Sasuke merosok. Itu yang aku pikirkan, sampai…
PLAK!
Satu set dokumen data pribadi siswa dilempar ke mejaku. Di lembar paling atas terdapat foto seorang anak pemilik data tersebut. Anak itu tidak tersenyum. Sorot matanya tegas, meyakinkan siapapun yang melihat bakal berfikir bahwa anak tersebut memang pantas mendapatkan seluruh catatan riwayat pendidikan dalam dokumen tersebut.
"Bu Karin, ini pertama kalinya saya mendapat teguran langsung dari walimurid." Kata Pak Kepala Sekolah. "Saya bisa maklum jika yang melapor itu orangtua biasa-biasa saja, tapi ini Uchiha! Saya tahu betul reputasi dan riwayat keluarga ini. Semua orang pasti tahu soal pendidikan mereka dan pengaruh peran mereka di sosial. Bu Karin, masalah apa yang terjadi pada Sasuke sampai nilai UASnya serendah ini? Dia ini kelas tiga, lho… sebentar lagi UN, sebentar lagi tes masuk SMA."
"Tidak. Anak ini tidak punya masalah." Jawabku.
"Oh, kalau begitu, apa mungkin Bu Karin salah memasukkan nilai siswa?"
Aku benci menghadapi masalah ini. Bukan hanya karena ini bersangkutan dengan Uchiha Sasuke, tapi Pak Kepala sekolah seolah-olah berkata aku telah menukarkan nilai Naruto dengan nilai Sasuke. Guru-guru lain pun mulai bergosip soal nilai Naruto yang mendadak meroket, berbanding terbalik dengan apa yang terjadi pada Sasuke. Padahal, mereka tidak sekelas, dan aku tidak sebodoh itu untuk salah memasukkan nilai siswa.
"Saya akan bertanggungjawab atas permasalahan ini, Pak. Tolong beri saya waktu untuk menyelesaikannya." Begitu kataku, kemudian aku mendatangi Sasuke di suatu jam istirahat.
Anak itu cenderung penyendiri, lebih suka hal-hal sepi. Aku sedikit heran dia bisa berteman baik dengan Naruto yang bawel. Jika tidak bersama Naruto, dia suka menghabiskan jam istirahatnya dengan Neji si anak yang jarang berbicara. Hari ini aku beruntung, karena dia sedang berdiri sendirian di beranda lantai dua. Setelah kuajak ngobrol-ngobrol sebentar, anak pintar ini langsung paham maksud pembicaraanku.
"Tidak perlu khawatir, Ms. Aku menyadari kesalahanku di semester kemarin. Sekarang aku tidak akan mempedulikan apapun selain sekolah."
"Oh, begitu. Goodluck, then!" kataku sekenanya saja sambil mengira-ngira kenapa perasaan hatiku biasa saja menghadapi ini. Jika aku tidak benar-benar menyemangati Sasuke, aku mungkin bakal dipecat lalu kelimpungan mencari pekerjaan baru.
.
.
SOMEWHERE THE WIND IS BLOWING
.
.
"Naruto, kamu sakit?"
Naruto menggelengkan kepala.
"Kenapa? Kamu kelihatan lagi gk mood belajar. Kita istirahat dulu aja. Ibuku baru beres bikin kue, ayo kita cicipi."
Shikamaru menarik nampan di sudut meja. Memindahkan segelas jus ke dekat Naruto lalu membuka selembar tisue yang menutupi kue yang terlihat masih hangat dari panggangan. Naruto mengamatinya, memperhatikan bagaimana Shikamaru menikmati kue-kue kering itu dengan sungguh-sungguh.
"Shikamaru,"
"Ya?"
"Udah satu semester kita kayak gini…"
Shikamaru menaikkan alis, matanya melayang cepat ke mata Naruto yang menonton lantai kamar. Shikamaru tak bisa menebak kemana arah pembicaraan ini. Naruto pun melanjutkan.
"Terimakasih sudah mengajariku sampai sejauh ini, sampai nilai UAS ku membuat kalian semua kaget. Aku sangat bersyukur memiliki kamu sebagai temanku."
"Apaan sih?" Shikamaru menaruh kembali setengah potong kue yang sudah di gigitnya untuk meneguk jus. "Kok geli ya? Udah lah, santai aja."
"Aku cuma merasa harus berterimakasih, karena aku gk bisa ngasih apa-apa."
Shikamaru menuangkan jus dari teko keramik ke gelasnya sendiri sambil berkata, "aku juga mau berterimakasih kalau gitu. Karena berkat kamu, aku makin jarang bermalas-malasan. Kalau butuh bantuan apa-apa, gk usah sungkan. Kita kan teman."
"Oh, iya ya… kita teman." balas Naruto sekenanya saja. "Shika, menurut kamu teman itu apa?"
"Emm… teman itu… yang selalu bareng kamu, lagi susah ataupun senang."
"Kalau…. Ini cuma kalau, kalau kamu punya orang yang nyium kamu, apa itu masih teman?"
"Kamu punya pacar?"
"Ha?"
"Siapa yang nyium kamu?"
"Jawab dulu!"
"Kalau sama lawan jenis, gk mungkin cuma teman biasa kan?"
Naruto berpikir keras bagaimana cara membawa obrolan ini senatural mungkin tanpa Shikamaru menyadari siapa yang sedang mereka bicarakan, terutama mengetahui kalau orang itu adalah laki-laki.
"O-oh, memangnya…" Naruto memulai, "memangnya ada sesama jenis berciuman?"
"Aku sih belum pernah dicium Ayah, tapi kalau anak lain mungkin pernah."
"Eh, bukan ciuman yang kayak gitu. Maksudnya, dengan teman."
"Hmm, kalau sesama anak perempuan saling cium sih, ya biasa… cara temenan perempuan kayaknya emang gitu, tapi kalau laki-laki…"
"Ini bukan aku, ya.. ini orang lain. Aku cuma nanya aja."
"Kamu suka sama orang itu?"
"Aku? Ini kan masalah orang lain. Aku cuma nanya aja."
"Oh. Jadi orang itu suka gk sama orang yang nyiumnya?"
"Yaa.. umm… yaa.. yaa mana aku tahu!"
"Ah, yasudah deh… Lagian aku gk paham soal urusan kayak gitu."
"Kamu gk pernah suka sama seseorang, Shika?"
"Pernah. Tapi kayaknya dia suka sama orang lain."
Pembicaraan soal teman tapi berciuman itu pun berakhir. Naruto tidak ingin membuat Shikamaru curiga dan mengetahui bahwa ini masalah antara dirinya dengan Sasuke. Jadi Naruto membahas hal-hal lain.
Naruto sudah lama tidak berkomunikasi dengan Sasuke, bahkan tidak bertukar satu pesan pun. Setiba di rumah, Naruto menonton layar ponselnya, menampilkan satu halaman teks kosong dengan kolom penerima ditujukan untuk Uchiha Sasuke.
Hubungan apa yang sedang mereka miliki saat ini?
.
.
SOMEWHERE THE WIND IS BLOWING
.
.
Bersambung.
