Halo salam kenal dengan kegajean saya yang overload
Terima kasih atas review yang sudah membuat saya semangat lagi untuk melanjutkan kealayan saya pada fic super alay yang pernah saya buat ini.
Baiklah mari kita mulai
Selamat menikmati
Chapter 3
The Final
Cagalli menutup hidungnya dengan tissu untuk menghentikan perdarahan yang setiap kali terjadi di saat bangun tidur. Meski sudah 2 bulan ini dia menikah dengan Athrun Zala Pria kaya yang sudah membuatnya menikah gara-gara hutang yang dimiliki ayahnya. Pria alay yang sudah menjadi suami sahnya di mata hukum dan agama. Tetap saja masih belum bisa membuat Cagalli terbiasa. Karena dia masih memiliki rasa pada orang yang dulu dicintainya.
"Darling aku ada rapat awal pagi ini dan mungkin aku akan pulang sangat larut"
"Lalu?"
"Mungkin aku akan makan pagi dimobil?"
"Jangan alasan... cepat duduk dan makan sarapanmu..." Cagalli sudah mengeluarkan deathglare
"Baik..." Athrun seperti kucing penurut mendengar perintah Cagalli
"Oh ya... minggu ini tolong batalkan semua janjimu. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, bisa? Hari minggu ini saja tolong usahakan ya?"
"Baik... darling" Athrun memakan sandwich gosong yang biasanya cagalli buat
"Oh ya... ini kartu kredit gunakan untuk memenuhi kebutuhanmu, belilah apapun yang kau suka dan gunakan sesukamu." Athrun meletakkan kartu kredit disamping Cagalli
"Apapun milikku adalah milikmu jadi jangan sungkan gunakan semuanya..."
"Tapi aku..."
"Tak apa darling aku akan berangkat sekarang... boleh aku menciummu?"
Cagalli memerah... merah seperti kepitih rebus
"Di...dimana? malu kita dilihat pelayan"
"Kau ingin aku menciummu dimana?"
"Uh..." Cagalli bingung menjawab dimana
Athrun mencium kening Cagalli
"Aku berangkat..."Athrun berjalan pergi
Cagalli membeku seperti patung
"Nyonya? Anda tak apa?" Myrna salah satu pembantu dirumah cagalli dan athrun
Cagalli tetap terdiam
Deg deg deg deg...
"Nyonya?" Myrna khawatir
"Aku tak apa Myrna..." Cagalli sadar
"saya sangat senang anda menikah dengan tuan muda"
"Eh? Kenapa?"
"Karena tuan muda menjadi lebih sering dirumah dan sarapan pagi. Sejak kecil tuan muda tak pernah berkumpul bersama keluarganya karena kedua orang tuanya sibuk bekerja. Dan dia sudah bekerja dikantor sejak kelas 5 SD. Tak pernah sekalipun saya lihat tuan muda semanja itu pada orang lain. Hanya pada andalah saya pernah melihat tuan muda manja.
"Myrna..."
"Tuan muda sudah saya anggap seperti anak sendiri... saya akan selalu berdoa pada Tuhan untuk kebahagiaan anda berdua Nyonya... saya pamit..."
"Myrna..."
Cagalli mulai bingung sekarang... perasaan apa yang dia rasakan saat ini... jantungnya berdegub kencang dan mulai terasa berisik. Cagalli memerah dan segera berlari untuk berangkat kesekolah.
Let time go by go back to the past
Mirialia memandang Cagalli yang duduk disamping jendela yang memandang tatapan kosong. Dia menyadari bahwa setiap tanggal dan bulan ini adalah hari tersedih Cagalli. Dan Mirialia tak ingin menggangu Cagalli untuk saat ini. Mirialia duduk disamping Cagalli dengan diam. Tak lama hujan turun dengan begitu derasnya. Mirialia dan Cagalli sehari ini dengan diam melewati hari. Hujan mewakili tangisan dalam hati Cagalli. Begitu pelajaran selesai Cagalli segera pulang. Mirialia ingin mencegah namun tertahan karena dia tahu kondisi Cagalli saat ini.
Malam sudah semakin larut karena jarak rumah barunya dengan sekolah cukup jauh membuatnya berjalan dalam hujan lebih lama. Badannya sudah bergetar karena dingin merasuki tubuhnya. Wajahnya semakin pucat dan bibirnya bergetar, namun Cagalli tetap berjalan tegap. Cagalli sampai dirumah dengan basah kuyub.
"Nyonya muda? Apakah supir tidak menjemput anda?"
"Dia menjeputku Myrna.. aku sedang ingin jalan kaki saja. Siapkan makan malam untuk Athrun saja Myrna... aku ingin tidur dulu."
"Baik... Nyonya..."
Cagalli berjalan menuju kamarnya... dia memandang foto ibunya. Cagalli terisak... besok adalah hari kematian ibunya. Dengan badan yang masih basah kuyub tak bisa dibedakan mana air mata Cagalli dan tetesan air hujan yang menetes dari rambutnya. Cagalli tertunduk. Tiba-tiba dia merasakan kehangatan. Athrun memberikan handuk hangat untuk menutupi tubuh Cagalli.
"Kau boleh menangis tapi jangan sampai kau sakit. Keringkan tubuhmu dan lekaslah tidur..."
"Kau tidurlah dulu..."
Athrun tersenyum dan mengeringkan dengan pelan tubuh Cagalli.
"darling kau tak lagi sendiri... ada aku disisimu... bagilah kesedihan itu denganku."
"Terima kasih... Athrun ..." Cagalli untuk pertama kalinya tersenyum dengan lembut.
Cagalli tertidur karena kelelahan dan Athrun dengan pelan menggendongnya ketempat tidur.
-==-=-=-=-=-==POPCAGA=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Athrun dan Cagalli sampai di pemakaman dengan membawa bunga Lily kesukaannya. Namun sudah ada sebuket bunga Lily didekat batu nisan ibunya.
"Ayah sudah kesini rupanya..." Cagalli tersenyum
Athrun memperhatikan ada yang janggal pada Cagalli. Cagalli menggunakan drees hijau. Make up minimalis yang membuat dirinya semakin cantik. Dan tak lupa Cagalli mengenakan cincin kawinnya.
"Kenapa kau berdandan darling..."
"Ibuku bilang jika datang kepemakamannya harus dengan suamiku dan berdandan sedikit girly. Dia ingin mengenal suamiku, jadi Athrun..." Cagalli bingung untuk memulai pembicaraan.
Athrun tersenyum dengan lembut.
"Selamat siang Ibu... Aku suami Cagalli... namaku Athrun. Aku memang masih 20 tahun tapi aku sudah punya pekerjaan dan cukup mapan. Ibu tenanglah... aku akan menjaga cagalli dan mencintainya seumur hidup. Mungkin banyak hal yang akan kami lewati jadi tolong jaga kami ibu"
Cagalli tersenyum dengan lembut
"Baiklah aku takkan sungkan pada ibu"
Athrun langsung menarik Cagalli dan mencium bibirnya. Mata Cagalli membelalak dan mendorong tubuh Athrun.
"Athrun BODOH..."
Athrun hanya tersenyum nakal memandang Cagalli yang memerah seperti tomat
"Mungkin denganmu aku bisa melewati kesendirian ini..." batin Cagalli
"Ayolah darling... kita bisa melakukan itu malam ini? Aku sudah mendapat ijin dari ibumu"
"Tetap saja lelaki mesum" batin Cagalli
"Kau tahu darimana bodoh..." Cagalli berjalan sambil menahan amarahnya
"Tanya saja pada ibumu... kalau tidak percaya darling..." Athrun mengejar Cagalli
"Huh... sudah jangan mengikutiku..."Cagalli berhenti berjalan dan memandang Athrun yang terengah-engah .
"Darling...?"
"Panggil aku Cagalli..." Bentak cagalli
"Ca..."
"Cagalli..." jelas Cagalli
"Ca... Caga..."
Cagalli mencium lembut bin singkat bibir Athrun
"Cagalli?" heran Athrun
"Mungkin aku sudah jatuh cinta padamu... Athrun..."
"Eh..."
+_Owari_+
Halo halo... mungkin ini alur kecepatan bahkan dipaksakan... yah... mungkin akan saya perbaiki suatu saat nanti... sampai jumpa lagi...
