DUG!

Sesuatu terjatuh dengan keras ke lantai.

Dengan setengah hati, Jin merelakan kelopak matanya membuka setengah. Memaksanya sadar dari tidur lelapnya akibat mendengar suatu barang jatuh sepersekon yang lalu. Sepasang netranya melirik ke arah jam digital yang berdiri manis di meja mini satunya dekat pintu lebar menuju balkon.

03.00 AM

Jin mengerang lirih.

Kucing mungkin, batinnya.

Namja rupawan itu pun berbaring ke sisi kanan, membelakangi pintu kaca yang tertutup oleh gorden. Matanya mulai menutup.

DUG!

Tunggu.

Tak lama kemudian, matanya kembali terbuka.

Ia tidak memelihara kucing, bukan?

Bagaimana kalau itu pencuri?!

Sontak namja itu pun bergegas bangun. Kakinya berjingkat dengan hati-hati, membawanya mengendap-endap kecil dengan cepat ke sumber suara barusan setelah membuka pintu masuk kamar tanpa suara.

DUG!

Ia melangkah menuju ruang tengah. Lelaki itu memang membiarkan lampu di ruang tengah menyala sebelum tidur tadi. Menyisakan area selain ruang tengah menjadi gelap gulita.

Jin mengedarkan pandangannya ke penjuru ruang tengah. Anehnya tidak menemukan jejak atau kehadiran apapun yang mencurigakan.

Lalu ia tak sengaja melirik ke bawah.

Salib?

Anehnya, salib itu terbalik.

Dan jumlahnya ada tiga.

Dari mana salib-salib itu?

Ia tak pernah memajang salib di apartemennya.


x

x

x

Kita terus berlari dalam hidup kita

Tak tahu pasti kapan akan berhenti

Tak tahu pasti kapan kita akan terjatuh

x

x

Ajeng Hyakuya proudly present

x

x

Darkest Nightmare

Chapter 2

INFESTATION

x

x

Genre : Horror, Supernatural, Romance

Rating : M++

Warning : Boys Love, Yaoi, Demonic Possession theme, NC-17 Sex, Rape, Disturbing Content

Main Pair : VJin / TaeJin

Side Pair : KookMin / JiKook, NamGi / MonGa

x

X

x


Dini hari itu kekalutan dan kecemasan tingkat tinggi memenuhi seluruh pikiran Jin tanpa celah. Ia hampir tak bisa tidur semalam karena otaknya tak berhenti memikirkan pikiran mengerikan bahwa makhluk yang menerornya kapan saja bisa datang dan membunuhnya saat terlelap.

Untungnya Tuhan masih berbaik hati membiarkannya kembali tidur dengan tenang dalam pengawasan-Nya hingga sang mentari terbit cukup tinggi di langit timur.

Namja muda itu akhirnya bangun dari ranjangnya setelah beradaptasi dengan suasana pagi—dan sedikit perenungan, beberapa menit. Dengan ringan melangkahkan kaki jenjangnya menuju balkon dan menyibak gorden coklat keemasan yang menyelubungi pintu dari kaca transparan di baliknya.

Jin mengharapkan sinar matahari yang menyilaukan sepasang matanya yang menyambutnya dibalik tirai. Namun yang ia dapat justru pemandangan langit yang tertutup oleh gumpalan awan gelap gulita yang membuat suasana pagi itu tak ubahnya petang hari.

Helaan napas keluar dari mulut Jin.

Apa langit sedang mewakili perasaannya saat ini?

Ia melangkah menuju pintu kamar. Tangannya dengan sedikit gemetar meraih gagang pintu. Terbersit keraguan untuk menariknya ke bawah.

Bagaimana jika makhluk itu masih ada di tempatnya?

Bagaimana jika sosok itu berdiri tepat di depannya saat ia membuka pintu?

Bagaimana jika entitas itu membiarkannya keluar kamar lalu menerkamnya?

Sang putra tunggal Kim itu menarik napas dalam-dalam dan—

Cklek!

... akhirnya membukanya.

Kedua bola matanya bergulir cepat, meneliti ke segala arah yang ada.

Tak ada yang berubah. Salib itu masih terdiam di posisi yang sama persis dengan yang ia ingat semalam.

Tunggu.

Ia menghampiri kumpulan benda asing itu. Mengamatinya dengan saksama disertai dengan dahi yang mengkerut bingung.

Ada yang janggal.

Kemarin tidak ada bekas darah segar di ketiga salib itu.

Jin sekilas mengecek dirinya.

Nihil.

Ia pikir itu darahnya sendiri. Tapi tak ada bekas sayatan di seluruh tubuhnya.

Netra kecoklatannya kembali berfokus pada kumpulan benda asing di hadapannya.

Goresan darah itu seperti membentuk huruf.

Tak lama kemudian, matanya membulat sempurna begitu menyadari huruf apa yang tertulis oleh darah di tiap salib itu.

J I N

Deru napasnya memberat. Tanpa sadar kakinya bergerak mundur ke belakang. Ketakutan.

Namja itu berusaha menetralkan tempo pernapasannya.

Hanya ada dua opsi.

Satu, melapor ke polisi.

Dua, pergi ke gereja.

...

Jin berdiri gelisah, terkadang mondar-mandir, sembari menunggu pintu lift untuk membuka. Dalam hati merutuki lift yang tak kunjung membuka. Singkat cerita beberapa waktu yang lalu ia bergegas mandi dan ganti baju secepat mungkin dan segera meninggalkan apartemennya. Omong-omong, ia memilih opsi dua. Yang ia alami saat ini sudah bukan ranah kepolisian untuk menangani.

Ting!

Begitu pintu lift membuka, irisnya menangkap pria muda dengan sweater hitam ditutup dengan blazer putih panjang dan celana satin sewarna arang.

"Ah, Taehyung-ssi,"

Taehyung reflek tersenyum ramah. "Halo,"

"Sekali lagi, terima kasih banyak untuk semalam," ucap Jin seraya membungkukkan badannya 30 derajat usai masuk ke dalam kotak besar itu.

"Sudah. Itu hanya kunci, kok. Biasa saja," timpal Taehyung, tak enak dengan sikap Jin yang terkesan berlebihan dalam berterima kasih.

"Tapi kalau tidak ada kunci, saya harus menunggu semalaman sampai petugas apartemen membuat kunci pengganti,"

Keduanya saling terdiam. Lalu tersenyum hangat satu sama lain.

Pintu lift pun menutup.

"Oh, iya. Maaf kemarin aku belum sempat berkenalan. Namaku Kim Seokjin,"

"Seokjin? Nama yang indah,"

Jin tersentak kecil mendengar pujian itu mengalun begitu saja dalam telinganya. Merasakan pipinya merona tipis.

Hei, dia itu laki-laki! Harusnya ia biasa saja.

Aish, kenapa malah sekarang ia jadi seperti 'fans-fansnya' di kampus?!

Netranya melirik ke pria yang kini tengah memandang lurus ke pintu lift. Dalam hati Jin tertegun menyadari betapa rupawannya wajah Taehyung dari radius dekat.

Kulit mulus seputih susu. Garis wajah yang terpahat dengan begitu sempurna tanpa celah. Obsidian jernih yang mengkilat tajam. Jin seakan hanyut jika tatapan itu bertemu dalam waktu yang lama dengan sepasang matanya.

Indah.

Dalam benak Jin terbersit pertanyaan apakah Taehyung manusia sungguhan atau justru malaikat yang turun dari langit ketujuh.

Karena mustahil ketampanan itu milik seorang manusia.

Namja itu sejenak berpikir.

Apa ini rasanya melihat orang yang jauh lebih tampan darinya? Omong-omong ia sendiri tak begitu merasakan kerupawanan dirinya saat bercermin. Hanya orang lain yang tahu kadarnya.

Tak lama, Taehyung menoleh ke arahnya. Wajahnya diam tanpa ekspresi. Ia lalu mendekatkan wajahnya ke arah Jin tanpa aba-aba.

Bodohnya, Jin justru hanya terdiam kaku. Seolah saraf tak sadarnya mati dan membuatnya tak bisa melakukan gerakan reflek untuk menghindar.

Astaga! Kenapa ia mendadak jadi secanggung gadis-gadis di drama?!

Sementara Jin tengah bergelut dengan pikirannya sendiri, Taehyung terus memperkecil jarak antara kedua wajah mereka dengan perlahan. Ia memiringkan kepala sedikit.

Hingga bibir mereka tinggal satu centi untuk bersentuhan.

Ting!

Namja dengan marga serupa dengan Jin itu lantas menarik mundur badannya yang condong ke arah Seokjin. "Ah, kita sudah sampai,"

"Oh, iya. Kau tak perlu memanggilku dengan –ssi, cukup Taehyung saja," tuturnya diakhiri dengan lengkungan bibir yang nampak menawan. "Sampai jumpa lagi, Seokjin,"

Jin melangkah keluar lift menyusul pria yang kini sudah pergi jauh dari hadapannya. Digerakkannya telapak tangan kanan menyentuh dadanya. Merasakan jantungnya yang masih berdegup dengan cepat.

...

Lukisan mozaik Yesus Kristus terpampang megah dan indah di langit-langit altar. Tanpa cahaya sang surya pun seolah-olah tetap bersinar. Seakan sang Juru Selamat turun dari surga langsung ke dalam gereja melewati mahakarya seni itu.

Jin terdiam sejenak di depan altar. Lalu kedua tangannya menggenggam di depan dada. Kepala menunduk ke bawah. Kelopak mata menutup kelereng jernih kecoklatannya.

"Tolong lindungi hamba-Mu ini dari segala gangguan yang jahat, Tuhan,"

"Amin,"

Jin yang terkejut spontan membalikkan badan ke belakang. Di mana seorang namja, mungkin lebih muda darinya, melangkah menghampirinya.

"Saya jarang melihat anda di gereja ini. Jemaat baru?"

"Tidak. Saya hanya .. bimbang,"

"Nama saya Jung Hoseok, pastur pemula," ucapnya mengenalkan diri seraya mengulurkan tangan.

"Kim Seokjin," balas Jin dengan menjabat tangan itu sebentar.

"Kalau anda punya masalah atau kesulitan, saya bisa memberikan bantuan," tawarnya.

Jin tersenyum lalu menggeleng pelan. "Tidak, terima kasih,"

Raut wajah sang pastur yang mulanya tenang menyejukkan mengendur menjadi khawatir. "Anda nampak pucat? Apa anda belum sarapan?"

Belum sempat Jin menjawab dengan kata-kata, Hoseok sudah menyela terlebih dahulu. "Tunggu di sini sebentar," Ia pun berlari ke ruangan sebelah kiri altar. Menghilang di balik salah satu pintu.

Jin yang memandang kepergian temporer sang pastur hanya tersenyum simpul. Hoseok jika dipikir-pikir imut juga. Apalagi saat tersenyum. Demi Tuhan, dimple-nya menggemaskan sekali. Dan entah mengapa pastur belia itu mengingatkannya pada salah satu temannya yang juga bermuka manis-manis imut.

Siapa lagi kalau bukan saudara Min Yoongi.

Jimin sebenarnya bisa. Tapi Hoseok lebih 'nangkep' imutnya ke Yoongi.

Cuma sayangnya, Yoongi agak judes-judes cuek. Cute-nya jadinya tak bisa 24 jam per 7 hari.

Ah, sudahlah, Jin. Tidak baik membicarakan orang. Yang ada nanti malah yang dia bicarakan bisa bersin di tempat.

Beberapa sekon kemudian, Hoseok telah kembali dengan sekantung plastik putih. "Kebetulan masih ada foccacia(1) dua. Semoga mengenyangkan,"

"Terima kasih banyak," balas Jin seraya menerima pemberian itu. "Kalau begitu saya pamit dulu,"

"Hati-hati,"

...

Jimin meletakkan semangkuk jajangmyeon (2) di meja ruang tamu sebelum duduk di sebelah Jungkook dalam sofa. "Makanlah. Kau pasti lapar,"

"Terima kasih," gumam Jungkook, bibirnya mengulas senyum tipis. Sejurus kemudian mulai menyantap hidangan sederhana di hadapannya.

Jimin diam-diam curi-curi pandang pada sang kekasih yang tengah sibuk makan.

Namja Park itu sebenarnya agak bingung dengan perubahan sifat Jungkook sejak seks terakhir mereka di toilet kampus kemarin. Ia menjadi lebih lembut dan pemalu, seperti saat ia pertama kali bertemu dengan pemuda Jeon itu. Sedangkan di antara masa awal dan masa sekarang, ada masa tengah.

Di masa tengah itu, Jungkook begitu dominan, agresif, penuh nafsu begitu keduanya bersetubuh. Terus-menerus melahap tubuhnya hingga ia sendiri kewalahan. Sedang di luar seks, pemuda Jeon itu menjadi lebih sopan, tenang, serta percaya diri.

Kembali ke masa sekarang.

Masih segar dalam ingatannya saat di mana Jungkook memeluknya dengan tangisan. Seolah dia sangat menyesal sudah menyentuh tubuh sang kekasih.

Apa jangan-jangan sang dominan punya kepribadian ganda?

"Kook," panggil Jimin dengan ragus.

"Ya?"

"Kau terlihat murung terus akhir-akhir ini. Ada apa? Ceritalah,"

Jungkook menolehkan kepala ke arahnya. Memandang Jimin lama dengan tatapan serius. Sedang Jimin yang diberi tatapan itu ikut merasa tegang.

"Kau tambah manis. Aku jadi diabetes,"

Jimin spontan tertawa kecil. Memukul ringan bahu kekasihnya itu sembari berbisik 'bodoh'. Lalu menghamburkan diri ke rengkuhan sang dominan.

Ia senang berada dalam pelukan Jungkook. Merasa nyaman menyandarkan kepalanya di dada bidang namja yang lebih tinggi darinya itu. Merasa kecil, tapi aman. Nyaman, aman.

Mengabaikan sejenak pikiran-pikiran yang membuatnya cemas.

...

Jin tak menyangka kalau acara jalan-jalannya untuk menyegarkan pikiran bisa berlangsung hingga menjelang awal malam. Sebenarnya bukan cuma jalan-jalan. Ia sempat mampir ke perpustakaan umum dekat taman untuk membaca beberapa literatur terkait mata kuliahnya.

Kini, si Kim muda tengah berjalan pulang ke apartemen melewati kerumunan orang-orang yang tengah menikmati gemerlapnya malam di jalanan Seoul.

"Apa kabar?"

Pria berstatus mahasiswa itu lekas menoleh. Ia merasa keheranan karena tak pernah mengenal orang yang memberinya salam itu. "Baik," balasnya nyaris tak terdengar.

"Akhirnya aku menemukanmu,"

Kali ini seorang wanita paruh baya berbicara padanya. Jin merasa ada yang tak beres. Jadi, ia pun mulai mempercepat langkahnya.

"Kim Seokjin,"

Langkah cepatnya berubah menjadi lari. Ia tak tahan.

Ada yang benar-benar tak beres di sini!

Tanpa sengaja, Jin menyenggol seorang anak kecil. "Ah, maaf—"

"Kau akan jadi milikku,"

Mata namja itu membulat, penuh ketakutan seutuhnya. Apalagi anak kecil itu tersenyum aneh padanya.

Ia lantas kembali berlari. Berusaha sebisa mungkin menghindari orang-orang yang tengah berlalu lalang. Sebenarnya ada apa ini?!

Jin akhirnya berhenti di salah satu gang kosong. Napasnya cepat dan tak karuan.

Namun ia tak menyadari sepasang tangan yang muncul dari dinding.

Greb!

Tangan dingin nan asing itu tiba-tiba merengkuhnya dari belakang dengan kencang.

"Argh!"

"TOLONG!"

Jin berusaha melepaskan kuncian tangan pada lehernya. Ia bisa merasakan tangan itu begitu kuat dan kaku untuk dilepas.

"Let me in, Seokjin,"

"Let me in,"

"Let me in,"

"TOLO—"

Tiba-tiba, jari-jari tangan nan asing melesak masuk ke dalam mulutnya ketika ia berteriak. Membungkam segala suara yang berusaha ia keluarkan.

"Let me in,"

Jemari dingin itu mengetuk berirama di atas lidahnya. Kemudian bergerak perlahan lebih dalam mempenetrasi oralnya.

"Let me in,"

"Let me in,"

Desahan napas menggelitik telinga kirinya.

Pandangan Jin mengabur.

Gelap.

...

Jin mengerang lirih kala kesadarannya kembali. "Aku di mana?" gumamnya nyaris tanpa suara. Kepalanya terasa berdenyut nyeri.

"Syukurlah kau sudah sadar,"

Jin pun mendongak ke atas.

"Yoongi? Namjoon?"

"Kami tak sengaja menemukanmu pingsan di sini," jelas Namjoon, secara tak langsung menjawab satu pertanyaan yang jelas terbersit dalam pikiran temannya itu begitu melihat keduanya.

Jin yang sejak sadar berada dalam posisi terduduk lantas memandang ke arah kanan dan kiri. Jadi tadi ia jatuh pingsan? Karena apa? Seingatnya ia sedang dalam perjalanan pulang. Dan tiba-tiba sudah ada di sebuah jalan sempit yang kosong.

"Kau tidak apa-apa, Jin?" kini Namjoon ganti bertanya padanya.

"Apa kau tadi bertemu pencuri?" sambung Yoongi.

Putra tunggal konglomerat itu lantas menggeleng kecil sebagai balasan bisu atas dua pertanyaan yang dilontarkan padanya.

"Ayo, kita antar kau pulang,"

Ia pun menerima uluran tangan dari dua sahabatya itu dan berdiri perlahan-lahan.

"Terima kasih,"

"Jangan-jangan kau habis minum-minum, ya?" selidik Yoongi, memandang penuh curiga dari ujung rambut hingga ujung kaki saudara Kim Seokjin.

"Tentu saja tidak!" tandas Jin dengan cepat.

"Suga, jangan mulai lagi," tegur Namjoon.

Mendengar dirinya disebut dengan nama panggilan 'sayang'-nya, kontan Yoongi mendengus lirih dengan raut 'ya-ini-salahku'. "Iya, maaf. Cuma bercanda,"

...

Tak terasa mereka sudah berada di depan pintu apartemen milik Jin. Sang pemilik pun merogoh saku celananya dan mengeluarkan kunci kepemilikannya. Sejurus kemudian memasukkannya ke dalam lubang kunci dan membuat pintu bisa dibuka.

Ia termenung menatapi gagang pintu masuk.

Bagaimana kalau mereka berdua melihat salib mengerikan di apartemennya?

Ia tak mau orang lain terlibat masalahnya saat ini.

Cklek!

Dengan hati-hati, namja itu masuk ke dalam. Mengedarkan pandangan ke penjuru ruang tengah yang tak jauh dari pintu masuk.

'Tidak ada?' batin Jin bingung dalam hati.

Di mana salib-salib itu? Padahal ia tidak membuangnya tadi.

Selain itu, pintunya ia kunci. Tidak mungkin petugas kebersihan masuk. Tidak ada acara petugas kebersihan keliling di tempatnya kecuali jika diminta.

"Kau berkeringat banyak, Jin. Apa badanmu terasa panas?" celetuk Yoongi. Lalu ia menempelkan telapak tangannya ke dahi Jin. "Tidak panas. Dingin malahan,"

"Kalian pulanglah. Aku mungkin kurang istirahat," pinta Jin.

"Benar kau tidak apa-apa?"

Namja itu mengangguk mantap.

"Ya sudah," lirih Yoongi. Tak mau berdebat banyak meski ia khawatir dengan temannya itu.

Namjoon tersenyum simpul. "Kami pamit dulu, ya,"

"Kalau ada sesuatu, telpon saja aku. Atau Namjoon. Oke?"

"Oke,"

"Sampai jumpa lusa di kampus,"

"Ya,"

Dengan begitu, tinggallah Jin sendiri di apartemennya.

...

"Kau diganggu?"

Jin mengangguk. Ini kedua kalinya ia bertemu dengan Hoseok di gereja yang sama.

"Ada tiga salib terbalik di apartemenku. Saat aku pergi dan pulang, salib-salib sudah itu tidak ada. Lenyap entah ke mana," tutur Jin.

Hoseok nampak berpikir sejenak, sebelum bersuara. "Salib terbalik punya dua makna. Yang pertama adalah simbol dari Santa Patrick yang memilih untuk disalib secara terbalik agar penderitaannya dapat menebus dosa seluruh umat manusia. Sedangkan yang kedua yaitu lambang setan yang mewakili kegelapan, kematian, kesesatan dan penentangan terhadap Tuhan," jelasnya dengan detail.

"Dari ceritamu, sepertinya memang gangguan dari setan," simpul Hoseok.

"Setan?"

"Terkadang, setan bisa mengincar tubuh manusia. Mereka akan merusak para manusia tak bersalah itu baik jiwa maupun tubuhnya agar manusia yang telah rusak itu ikut bersama mereka ke dalam neraka. Kau pasti tahu film The Exorcist, bukan?"

Namja Kim itu menganggukkan kepala singkat.

Hoseok lalu mengambil pena di saku bajunya dan mulai menulis sesuatu di selembar kertas .

"Ini, bawalah," Jin pun menerima kertas yang berisi banyak kata itu.

"Baca. Kalau bisa hafalkan. Setiap kau melihat makhluk yang mengganggumu, ucapkan kalimat itu dengan lantang,"

Jin memandang pastur itu dengan penuh rasa syukur. "Terima kasih,"

Hoseok tersenyum seraya mengangguk. "Jangan takut pada anak buah Iblis. Kalau kau takut, mereka akan semakin mudah menguasaimu. Yakinlah bahwa Tuhan akan menolongmu. Bahwa Dia akan selalu melindungimu,"

...

Jin yang kini berbalut baju santai bersiap untuk tidur usai mengisi perut dengan makan malam.

Namun, saat ia akan mencapai pintu ruang tidur, seluruh lampu berkedip-kedip. Sebelum mati total. Membuat seisi ruangan yang mulanya terang kini menjadi nyaris gelap gulita jika saja tak ada sinar rembulan yang menyeruak dari jendela.

Terdengar suara senandung samar-samar dari belakangnya. Jin pun kontan berbalik.

Bayangan gelap pekat itu muncul lagi. Jaraknya hanya satu meter darinya. Ia bisa melihat sekilas mulut yang menyunggingkan seringai angkuh.

"My perfect vessel,"

"I have wait so long to get inside you."

Suara deep itu membuat bulu kuduknya meremang. Ia bisa merasakan aura dominasi dan kegelapan yang bercampur menjadi satu terpancar dari sang entitas.

Jin menarik napas dalam-dalam. Sebisa mungkin meredam tremor yang mulai didera tubuhnya.

Telunjuk kanannya terarah ke sosok itu. "Aku tidak akan takut lagi," ucapnya penuh keyakinan dan keberanian.

"Really? Proof it,"


.

.

TBC

.

.


Sejak keduanya menjadi sepasang kekasih, Namjoon dan Yoongi lebih sering menghabiskan waktu di rumah sang dominan. Sekalian berbincang-bincang mengenai dunia rap. Berhubung keduanya sama-sama mencintai salah satu elemen dari musik hip hop itu.

"Namjoon,"

"Ya, Suga?"

"Apa kau merasa ada yang aneh dengan Jin?"

Namjoon menautkan alis kanannya. "Aneh?"

"Entahlah. Saat kita mengantarnya pulang waktu itu, aku tak sengaja melirik ke salah satu kaca toko,"

"Anehnya aku tak melihat bayangannya. Tapi bayangan seorang laki-laki. Dia menoleh ke arahku. Dan menaruh telunjuknya di depan bibirnya,"

"Seperti ... dia memintaku untuk diam,"


(1) Foccacia = Roti dari Italia. Teksturnya empuk dan padat. Bagian atasnya diolesi rempah-rempah dan minyak zaitun.

(2) Jajangmyeon = Mie khas Korea Selatan dengan saus pasta kacang kedelai hitam.

Maaf ya kalau Vjin-nya kurang banyak sementara ini. Tapi tenang, mulai chap depan akan Ajeng usahain buat banyakin momen Vjin.

kim joungwook : Ini TaeJin. Ya, makasih banyak.

taejinnie : Wah, kita sama! Oke, siap. Seperti janji Ajeng di atas. Iya, uke-nya Jin.

yuyuu : Jin emang harus ekstra hati-hati sama si alien. XD Maaf kalau agak lambat update-nya.

Vlicious : Iya, nggak apa-apa. Jin emang sengaja tak bikin agak lugu di sini. Iblisnya sama si V beda orang apa satu orang? Kalau kamu lihat sinopsis, pasti tahu. Tapi, sebenarnya ini juga misteri yang rada ambigu. Jadi, ikuti kelanjutan cerita aja, ne?

Guest (2) : Wah, maaf. Masalahnya lagi nggak mood bikin enaena. Jadi nggak bisa bikin tiap chapter. Tapi Ajeng usahakan buat ngebanyakin enaena-nya sesuai request-mu.

seokjintae : Masa? Eh, tapi bisa, sih, ada slow motion terus efek-efek love-love gitu. XD Iya, seme-nya V uke-nya Jin.

Guest (4) : Ya, betul sekali! *kasih anak-anak BTS* Makin banyak horornya? Siap~

Terima kasih juga untuk Guest (1), Guest (3), Kim, shin se gi, males login untuk review-nya. And terima kasih buat Xiaver dan Gingsulnya Woojin, jinjun299, Ezra Kece, serta untuk favorite dan follow-nya sejak chapter kemarin.

Jangan lupa review atau PM, ya. Yang mau kritik, saran, komentar, atau requset, ayo! Jangan malu-malu.

Ajeng pamit.

Annyeong!