Ready to Love, Ready to Hurt

Main Pairing : Kaibaek

Side Pair : Taoris, G-Top, Eunyeon

Summary : For him, love will never be a sweet thing, love is just a destroyer

***Chapter 2***

"Tao, kau bisa jaga rahasia, kan?"

"Rahasia apa, Kai?"

Belum sempat Kai menjawab. Seseorang mendobrak pintu rumah mereka. Bukan orang sebenarnya sih. Rambut hitam berkilau. Mata merah tajam. Rahang kuat. Postur tegap. Hidung mancung. Seunghyun. Si pemuda berambut hitam yang membantai desanya.

"Ya ampun! Bisa tidak sih masuk dengan beradab?! Kau tidak lupakan kau itu sekuat apa?! Ini pintu ke-3 yang rusak dalam saminggu! Ap—"

"Mana Kris?" suara Seunghyun tegas, tak terbantahkan. Seperti biasa. Dia bahkan tidak menunggu Yoona menyelesaikan ceramahnya soal pintu mahal. Tapi Kai bisa mendengar nada panik di suaranya. Kapan terakhir Kai mendengar Seunghyun panik?

Kris keluar dari kamarnya dengan tenang. Terlalu tenang malah. Bahkan rambutnya tidak tampak bergerak saat dia berjalan tanpa suara ke tengah ruangan. Mata merahnya menatap Seunghyun datar. Kehadiran Kris langsung menarik perhatian setiap vampir. Yoona berhenti mengoceh. Baekhyun muncul dari dapur –tempat mereka menyimpan persediaan darah binatang. Amber keluar dari kamarnya. Eunyeon datang dengan penampilan berantakan. Jiyong dengan gugup muncul dari belakang Seunghyun.

"Nephilim," suara Seunghyun terdengar asing. Ada kengerian yang salah dalam suaranya. Seunghyun tidak seharusnya ngeri. Lagipula, ini bukan kali pertama mereka melawan manusia berdarah malaikat itu, kan? Apa masalahnya?

Semuanya menatap Seunghyun heran. Termasuk Tao yang kini sudah ada di pelukan Kris. Semuanya. Kecuali Kris. Tentu saja. Dia hanya diam, memberikan Seunghyun kesempatan untuk melanjutkan. Matanya tak memberi kilatan heran atau apapun. Hanya merah. Tenang. Lengannya yang terlihat kuat membelai kepala Tao penuh kasih sayang. Cinta memang mengerikan.

"Seorang anak manusia mati. Tanpa darah. Mereka kira kita melanggar perjanjian. Hanya itu yang sempat kudengar dari pikiran mereka," nada ngeri masih terdengar dari suara Seunghyun. Tapi membicarakannya dengan Kris jelas mengurangi sedikit bebannya. Sekali lagi Kai dibuat iri dengan kemampuan membaca pikiran Seunghyun. Kenapa dia tidak memiliki kemampuan khusus? Bisa melihat masa depan seperti Jiyong mungkin. Atau dapat memberi ilusi kematian seperti Hyoyeon. Atau paling tidak kekuatan sebesar Kris.

"Jumlahnya?" tanya Kris tanpa ketertarikan yang berarti. Tapi, oh… siapa sih yang bisa membaca Kris?

Mendengar suara Kris selalu membuat Kai merinding. Selama lebih dari 2 abad menjadi bagian dari keluarga, Kai bisa menghitung dengan jari berapa kali Kris bersuara. Dan suaranya selalu memerintah. Tegas. Mengerikan. Kalau bukan Kris yang menjadi ketuanya, mungkin Kai sudah pergi meninggalkan keluarganya.

"Entahlah," kata Seunghyun. Alisnya yang tebal mengerut sedikit. Aneh melihat Seunghyun terlihat bingung. Diakan Seunghyun. Seunghyun tidak seharusnya bingung. "Mungkin 200 atau lebih."

"Begitu," suara Kris tetap tenang seolah dia baru saja mendengar seorang bocah memcahkan vas. Bukannya 200 nephilim bersiap mematahkan leher mereka. Nephilim kuat. Kai tahu itu. Dia sudah beberapa kali melawan mereka sebelum perjanjian dibuat. Dan yah… melawan seorang nephilim saja tidak begitu mudah. Kalau 200?

"Tapi kita tidak melanggar perjanjian," suara Eunhyuk jelas marah.

"Brengsek," Yoona terdengar tidak begitu senang.

"Kau yakin? Mungkin kau salah dengar," Baekhyun terdengar tidak yakin dengan ucapannya sendiri. Sejak kapan Seunghyun salah dalam membaca pikiran seseorang?

"Ya sudah, mereka sudah datang, kita harus menyambut tamu kita, kan?" Kai nyaris terlonjak mendengar suaranya sendiri. Begitu pula yang lain. Yoona menaikkan sebelah alisnya. Amber mengeluarkan suara seperti batuk –meskipun vampir tidak bisa sakit. Jiyong mencengkram tangan Seunghyun Kuat. Seunghyun, Hyoyeon dan Eunhyuk hanya diam. Sedangkan Baekhyun menatapku seolah Kai adalah vampir paling idiot di muka bumi. "Maksuku—"

"Tidak bisakah kita minta bantuan pada pada srigala?" reaksi yang lain sudah parah saat mendengar ucapan Kai. Dan menjadi sangat tidak elit saat mendengar usul Tao. Bahkan Kris menunjukkan reaksi. Tubuhnya terlihat menegang sebelum kembali tenang.

Yoona yang pertama bicara. "Kita tidak bekerja sama dengan anak-anak bulan," suaranya rendah dan berbahaya. Bukan jenis suara yang biasa digunakan pada Tao.

"T-Tapi—"

"Kuara bukan ide buruk," kata Kris. Perut Kai serasa di peras saat berbikir mereka harus bekerjasama dengan anak bulan. Tentu saja ingatan tentang bagaimana Baekhyun ketakutan di tengah lingkaran anak-anak bulan masih mengganggunya. Tapi bukan itu saja. Anak bulan berbau seperti anjing basah. Dan daging mentah. Membayangkannya membuat Kai ingin muntah –kalau dia masih bisa muntah.

"Kris—"

"Baekhyun tetap di sini, aku yang akan bicara ke Yunho," Kris terdengar yakin. Diam-diam Kai merasa beruntung memiliki ketua seperti Kris. Dingin tapi peduli dengan keluarganya. Kris berusaha melindungi Baekhyunkan tadi. "Waktu yang kita miliki?"

Jiyong yang dari tadi diam akhirnya bersuara. Suaranya terdengar kecil dan jauh. Sangat berbeda dengan suara Seunghyun. "Mu-mungkin 1 jam, nephilim butuh sedikit waktu untuk bersiap, dan kelihatannya mereka belum terlalu siap tadi."

Kris mengangguk. Dan hilang. Berteleportasi ke sarang para anak bulan. Untuk pertama kalinya Kai berdoa semoga Kris bisa kembali dengan selamat. 'Kami membutuhkanmu, ketua'

Teleportasi selalu membawa rasa pening pada setiap vampir yang menggunakannya. Untunglah latihan ratusan tahun membuat Kris tahan. Paling tidak dia tidak perlu merasa mual dan menunjukkan wajah aneh di hadapan anak-anak bulan.

Dengan tenang Kris berjalan mendekati sungai –pembatas. Dan tepat ketika ujung sepatu Kris menyentuh tepi sungai, suara geraman terdengar. Para werewolf dan penciuman mereka yang tajam.

Seekor srigala bertubuh sedikit lebih besar dibanding yang lain maju mendekati tepi sungai di seberang Kris. Tubuhnya nyaris sebesar lemari. Bulunya hitam, nyaris tidak terlihat di malam hari. Matanya kuning cerah. Cara berjalannya tegap layaknya seorang pemimpin. Alpha. Yunho.

"Hormatku, bangsa anak-anak bulan," sebenci apapuun Kris pada manusia srigala, melawan mereka semua sendirian jelas bunuh diri. Tidak hormat nyaris tidak ada bedanya dengan melawan mereka.

Yunho tanpak menunjukkan rasa hormatnya. Dia berhenti menggeram berbahaya. Diikuti yang lain. Dan mereka perlahan berubah kembali menjadi sosok manusia. Yunho yang paling depan. Melindungi anggotanya dari Kris. "Apa maumu, penghisap darah?"

Kris diam sejenak. Membiarkan udara malam menerbangkan helaian pirangnya. "Nephilim," suara Kris tenang seolah dia tidak sedang berbicara dengan srigala sebesar lemari. "Mereka menemukan seorang anak manusia mati tanpa darah, mereka mencurigai kami—" Kris diam sejenak, tetap terlihat tenang. "—mereka kira kami melanggar perjanjian."

"Perjanjian untuk tidak akan memangsa manusia lagi," ucap Yunho, menjawab pertanyaan yang dilontarkan mata anggotanya. "Mengejutkan kau mau menyetujui perjanjian itu, penghisap darah."

"Aku punya keluarga."

"Ah, benar juga," Yunho sedikit menggerakkan tangannya. "Omong-omong, apa urusannya nephilim dengan kami?"

"Ada sekitar 200 nephilim yang bergerak. Sedangkan jumlah kami hanya 10," Kris menatap langsung mata Yunho. Merah bertemu hitam. "Dengan segala hormat, aku ingin meminta bantuan kalian."

Para werewolf tampak terkejut. Ada beberapa yang menggeram marah. Banyak juga yang menggumamkan 'tidak ada persekutuan dengan penghisap darah'. Saat itulah Kris sadar jumlah anak-anak bulan yang dipimpin Yunho lumayan banyak. Mungkin ada sekitar 30 ekor. Atau lebih. "Aku juga akan meminta bantuan beberapa vampir kenalanku," lanjutnya tanpa sadar.

Yunho tampak tidak terlalu senang. Werewolf itu mengangkat tangannya. Menenangkan anggotanya yang lain. Dan dalam sekejap, keadaan kembali sunyi. "Kau tahu kami tidak begitu suka bersekutu dengan vampir, kan?"

"Aku tahu," ucap Kris. Mendapat dengusan dari beberapa anak bulan. "Tapi coba kau pikir, Yunho. Kami tidak melanggar perjanjian, dan hanya kami vampir di daerah ini."

Yunho diam. Berpikir. Tidak untuk waktu lama. Sebelum dia mengusap wajahnya dengan kasar. Untuk sesaat dia terlihat lelah. Dan tua. "seseorang berusaha menghapus keberadaan vampir dengan menggunakan perjanjian, dan mungkin target berikutnya,"

Kris sedikit terkejut dengan perubahan sifat Yunho dari tegas, berani, dan berbahaya. Menjadi lemah, lelah, dan tua.

"—werewolf," para anak-anak bulan menjawab dengan serempak. Seolah mereka telah berlatih sebelumnya.

Kris hanya mengangguk. Tidak menunjukkan ekspresi apapun. Yunho berbalik menatap anggotanya. Berkomunikasi tanpa suara. Hanya tatapan dan rasa percaya. Kris selalu kagum bagaimana anak-anak bulan bisa sekompak itu.

Yunho berbalik menatap Kris. Kembali dengan wujub tegas, berani, dan berbahaya. "Berapa banyak vampir kenalanmu itu?"

Kai POV

Aku tidak pernah tahu kalau melihat Kris bisa sangat melegakan. 10 menit terakhir terasa seperti neraka. Tao tidak bisa berhenti gemetar dan Hyoyeon berusaha sebisanya untuk menenangkannya. Tapi Tao tidak butuh Hyoyeon, dia butuh Krisnya. Semua vampir di ruangan ini membutuhkan Kris. Bahkan Seunghyun yang selalu tenang terlihat sedikit linglung tanpa Kris. Dan begitu kepala pirang Kris muncul di tengah ruangan, aku berani bersumpah semuanya mendesah lega. Bahkan Tao langsung melompat ke pelukannya. Sungguh pasangan yang manis. Apa Baekhyun akan memelukku begitu seandainya aku yang pergi?

Kelegaan kami tidak berlangsung lama. Bau daging mentah yang lumayan familiar. Bau anjing basah. Anak-anak malam setuju untuk membantu kami? Hebat.

Tapi ada bau lain. Bau tanah liat yang bercampur darah. Vampir. Tapi aku sudah lebih dari hafal bau keluargaku. Dan ini jelas bukan keluargaku.

"Siapa mereka?" tanyaku entah pada siapa.

"Kenalanku," balas Kris. Nada suaranya mengisyaratkan kalau tidak ada pertanyaan lagi. Maka aku diam.

Aku tidak diberi waktu lama untuk fokus pada bau asing itu. Seorang –atau mungkin seekor—anak bulan berjalan ke tengah ruangan. Hidungnya sedikit mengernyit saat memasuki ruangan. Rambutnya pendek. Dan seperti rambutnya, anak bulan yang satu ini juga pendek.

"Hormatku, sunny," rahangku nyaris menyentuh lantai saat mendengar suara Kris. Kris bilang 'hormatku'? Wow.

"Kris, apa kami sudah boleh masuk?" tubuhnya memang kecil. Tapi aku tidak mau berurusan yang satu ini, dia terlihat berbahaya.

"Tentu," hanya itu yang diucapkan Kris sebelum dia kembali menenangkan Tao. kulihat kepala Tao bergerak. Melihat si anak bulan pendek melalui Kris. Dia tampak lemah. Kapan dia menyadari kalau bertingkah lemah di depan anak bulan bisa berbahaya?

"Terima kasih, Sunny," suaranya tidak lebih keras dari bisikan. Tapi Sunny mendengarnya sejelas mendengar geraman werewolf yang mulai tidak sabar di luar. Ayolah… werewolfkan pendengarannya tidak normal. Meskipun aku ragu apa masih ada bagian dari hidupku yang bisa disebut normal.

Si anak bulan pendek mengangguk. Tersenyum tipis namun hangat pada Tao. Anak ini hebat!

Ruangan ini nyaris penuh dengan anak bulan dan beberapa vampir yang tidak kukenal secepat si anak bulan pendek itu keluar. Para vampir asing ini tampak tidak terlalu nyaman berada satu ruangan dengan anak bulan. Begitu pula sebaliknya.

Secara refleks aku merangkul pundak Baekhyun saat seorang anak bulan mendekatinya. "Hei, aku ingat kau! Kaukan yang waktu itu masuk daerah kami tanpa izin."

Baekhyun memucat –kalau dia bisa lebih pucat lagi. Kueratkan rangkulanku. Memandang anak bulan itu dengan kebencian sebanyak yang kubisa. "Sentuh dia sekali saja, kau aja melihat tubuhmu dililit rantai perak."

"Oh," si anak bulan sialan ini tersenyum mengejek. Lalu dia tampak pura-pura menyesal. Menjijikkan. "Kukira kita sekarang berteman, vampir."

Kalau bukan karena suara Kris yang terdengar menuntut, sudah kulempar bajingan ini ke cairan perak. "Hentikan, Kai. Sehun, dengan segala hormat, bisa kau tinggalkan keluargaku?"

Rasanya ingin muntah saat si anak bulan itu menyeringai. Dan pergi. Menghampiri anak bulan lainnya. Tapi ada sedikit rasa senang saat Kris menyebutku 'keluargaku'.

Baekhyun makin merapatkan dirinya padaku. Tidak bagus. Atau mungkin bagus juga, toh… aku sudah tidak punya detak jantung. Jadi baekhyun tidak akan mendengar suara jantungku yang menggila.

"Kau akan tetap disampingku, kan? Kai?" matanya menatapku penuh harap. Dan aku merasa melihat kakakku yang dulu. Kakakku yang lemah dan penakut. Bukannya vampir kejam yang bisa membunuh tanpa perasaan bersalah.

"tentu, kakak"

Sudah 50 menit. Kalau perkiraan Jiyong benar, tinggal 10 menit. Para werewolf dan vampir sedang bersiap menghadapi serangan. Banyak dari mereka yang terlihat asing di mata Baekhyun. Meskipun ada beberapa anak bulan yang diingatnya saat dulu ia tak sengaja masuk ke sarang mereka. Sampai sekarang baekhyun masih meruntuki kebodohannya. Padahal Kai, adiknya, merupakan pelacak yang andal.

Adik. Kai akan selalu menjadi adik kecilnya. Tidak akan pernah lebih.

Baekhyun tetap menempel dengan Kai saat mereka berkeliling. Kai terlihat memesona. Kulitnya pucat bersih. Matanya merah anggun. Tubuhnya tinggi langsing. Ia mengenakan kemeja dan celana hitam. Benar-benar kontras dengan warna kulitnya. Puluhan pisau tersinpan dengan sempurna di kantung-kantung khusus di ikat pinggangnya. Juga ada pisau khusus di pergelangan tangannya. Kai memang memesona.

Tidak ingin terlalu tenggelam dalam pesona adiknya, Baekhyun segera meliarkan pandangannya. Seorang werewolf laki-laki tengah berdiri dengan dua kaki di depan werewolf wanita. Mereka tertawa. Baekhyun merasa kasihan. Bisa saja ini jadi saat terakhir mereka tertawa bersama. Bagaimana kalau itu dia dan Kai? Bagaimana kalau dia tidak akan bisa bersama dengan adiknya lagi?

Baekhyun mengalihkan perhatiannya. Melihat pasangan vampir yang saling menempelkan kening mereka. Mereka terlihat sedang ngobrol. Terlihat bahagia. Seolah semuanya baik-baik saja dan nephilim yang siap mematahkan leher mereka tidak akan pernah datang. Padahal bisa saja salah satu dari mereka mati. Hilang begitu saja.

Vampir itu kembali meliarkan pandangannya. Mencari apapun yang lebih menarik dari pasangan vampir itu. Dan dia menemukannya. Bukan pemandangan terbaik sebenarnya.

Kris sedang duduk berlutut di depan Tao yang duduk di atas sofa. Tao tampak sedang menangis. Dan mata Kris. Oh ya ampun, Baekhyun belum pernah melihat mata Kris yang seperti itu. Ia terlalu terbiasa dengan mata Kris yang dingin menusuk. Bukan mata Kris yang lembut dan penuh cinta. Bahkan Kris kalah oleh cinta.

Tidak ingin menangis, Baekhyun mengalihkan pandangannya. Dan malah menemukan Eunhyuk dan Hyoyeon berciuman. Vampir tidak memerlukan napas. Lalu kenapa mereka harus melepas ciuman mereka? Merekakan bisa berciuman sampai para nephilim itu datang. Jawabannya datang secepat dia bertanya.

"Aku mencintaimu," suara Eunhyuk terdengar lembut. Tidak seperti Eunhyuk yang biasanya. Hyoyeon tertawa. "Aku tahu, dan aku juga mencintaimu." Lalu mereka berciuman lagi. Kali ini Baekhyun bisa melihat pipi Hyoyeon yang basah.

Baekhyun tidak menyadari dia menangis sampai Kai menariknya menjauhi kerumunan dan mengusap pipinya lembut. Air mata Baekhyun semakin deras mengalir. Nephilim bukan lawan yang mudah. Dan 200 nephilim. Itu mimpi buruk.

"Kakak, kau kenapa?" suara Kai lembut. Seolah Baekhyun patung kaca rapuh yang bisa retak kalau dia terlalu kasar.

"Berhenti memanggilku kakak," ucap Baekhyun lirih. Dia bisa melihat kepedihan di mata Kai. Kepedihan yang sebelumnya tidak ada. Dan Baekhyun merasa seperti orang paling kejam di dunia. "Maaf."

Kai tersenyum. Hanya sebentar. "Kak, aku mau bicara," katanya. "Dengar, ini mungkin terdengar aneh. Tapi aku harus mengatakannya. Kau tahukan, bisa saja aku mati sekarang. Bukan berarti aku masih hidup juga sih. Hanya saja—"

"Bisa kau langsung keintinya?"

"Ok, hanya jangan menamparku begitu kau mendengarnya, ok?" Baekhyun memutar bola matanya. Kai menarik napas yang tidak perlu. "Kak, aku tahu aku ini adikmu. Dan percayalah, menjadi adikmu adalah hal terbaik yang bisa kuminta. Terima kasih sudah mau merawatku selama ini. Mungkin apa yang ingin kukatakan akan membuat hubungan kita rengang. Tapi aku harus mengatakannya, aku tida—"

"Intinya, Kai."

Kai diam. Baekhyun diam. Mata mereka bertemu. Dua manik merah. Baekhyun mulai merasa gugup sekarang. "Kak—" Kai lagi-lagi menarik napas yang tidak perlu. "—aku mencintaimu."

Baekhyun belum sempat melakukan apapun. Belum sempat menampar adiknya. Belum sempat meneriaki adiknya. Belum sempat membalas pernyataan cinta adiknya. Saat suara debuman yang mengerikan terdengar. Dan rumah mereka yang damai mendadak menjadi medan perang.

Hehe, maaf ga jelas banget!

Thank's for Reading

Review, please ^_^