A CHANBAEK FANFICTION
.
.
.
My Bride
.
.
.
-AngelieChim-
.
.
.
Agustus 4/2018
.
.
.
[Chanyeol memuja Baekhyun dalam sunyinya malam. Mengagumi setiap tutur kata dan bagaimana belaian sugestif pada wajahnya mampu membuat tidur malamnya terasa lebih menyenangkan. Chanyeol tidak pernah meninginkan sebuah perubahan, namun inilah yang yang kenyataan berikan padanya, nyatanya dunia berputar dan semuanya menjadi berbeda. Baekhyun pergi begitu saja tanpa kabar, meninggalkannya tepat di hari yang seharusnya hari bahagia mereka. Chanyeol hanya menginginkan satu hal; dia hanya ingin Baekhyun percaya dan mengandalkannya-maka Chanyeol tidak butuh apa-apa lagi.]
.
.
.
.
©AngelieHermawan
.
.
.
.
.
.
"Untuk seorang yang sudah membuat kacau hari pernikahan orang, kau benar-benar tidak tahu malu, Baek."
"Uh-yeah? Bukankah itu milikku juga?"
"Pergilah."
"Tidak sebelum kau menjelaskan siapa dia."
"Demi Tuhan, jangan membuat dirimu lebih terlihat murahan. Mereka tahu siapa dirimu."
"Yeah? Pikirmu aku peduli? Sayang, ini pesta, singkirkan kerutanmu itu. Ayo bersenang-senang."
"Fuck off!"
.
.
.
.
.
.
.3.
-Boy From The Past-
"Kau oke?" Taehyung mengernyit mendapati kantung hitam di bawah mata Kakaknya. Baekhyun hanya meliriknya sekilas. "Yeah."
"Omong-omong, kemarin Minseok bilang padaku untuk produk smartphone yang ini kita menggunakan Android Platform versi 4.0." Baekhyun menyesap kopi instannya, lalu kemudian menopang kepalanya yang berat dengan kedua tangannya. Taehyung berjalan mendekat dan menarik kursi di depan Baekhyun. "Iya, mereka menamainya dengan nama dessert." Taehyung menimpali kemudian mencomot croissant di keranjang roti.
"Ugh. Keras, Ma." ringis Taehyung begitu sepotong roti beradonan lapis tipis itu terasa kaku di giginya. Mama Byun yang sedang berkutat dengan masakannya melirik Taehyung. "Itu croissant kemarin." sahutnya lalu kemudian menata empat buah mangkuk dan mengisinya dengan masing-masing menu sama rata.
"Baunya enak," Papa Byun tiba-tiba keluar dari kamar dengan setelah yang sudah rapi. "Bau tumis daging." serunya lagi begitu berada semakin dekat dengan meja makan dan dapur.
"Pagi, Sayang." sapanya kemudian mengecup singkat dahi istri satu-satunya itu. Dibalas oleh gumaman 'ya' singkat dari istrinya. Lalu ikut bergabung bersama kedua anaknya di maja makan. "Kau kenapa, Baek?" tanya Papa Byun begitu melihat kantung mata Baekhyun lalu menyeruput kopi Robustanya.
"Kurang tidur, Pa." sahutnya setengah sadar. Lalu tak lama datang Mama Byun dengan nampan besar berisi empat mangkuk untuk sarapan mereka berempat.
Taehyung menoleh cepat merasakan aroma menggoda itu semakin dekat dengannya, maniknya mengerjap lucu. "Apa itu?" tanyanya. Mama Byun meletakkan hati-hati keempat mangkuk di meja makan. "Bibimbap."
Mama Byun ingin membuat sarapan yang sehat untuk keluarganya selagi ia bisa, Bibimbap disajikan hangat dengan lauk yang sehat dan komplit. Semangkuk bibimbap ini berisi tumisan daging, sayur rebus, rumput laut, irisan sayur dan tak ketinggalan telur setengah matang yang terletak di tengah mangkuk sebagai primadona. Baekhyun jelas sangat membutuhkannya.
"Baekhyun." Panggil Papa Byun di tengah acara sarapan mereka.
"Ya?" Baekhyun menyahut.
"Kau sudah bertemu Chanyeol? Kalian sudah menyelesaikan masalah kalian?" Baekhyun terdiam. Chanyeol bahkan tidak sudi menatap wajahnya, bagaimana bisa menyelesaikan masalah mereka?
"Belum." Papa Byun menghela napas pelan, mencoba memaklumi posisi anaknya.
"Kalian harus segera bertemu, Baek. Minta maaflah, lalu selesaikan. Dia sudah terlalu baik pada kita." Baekhyun memandang Papanya sebentar, kemudian mengangguk singkat.
"Well, okay."
.
.
.
.
.
.
"Wtf. Aku tidak percaya harus ke sana lagi," keluh Baekhyun pada rekan-rekan kantornya.
Minseok terkekeh mendengarnya. Ini sudah dua minggu sejak rapat gabungan di kantor pusat mereka dan sekarang Divisi Perancang juga harus menyerahkan hasil kerja mereka untuk dibahas dalam rapat nanti, dan sialnya, yeah, kali ini Baekhyun akan pergi sendiri-berdua saja dengan Taehyung lebih tepatnya.
"Apakah di sana seburuk itu?" Jimin membeo. Baekhyun mendengus, "Yes. Which is you'll meet your ex." Joohyun dan Yeri langsung melotot.
"For real?!" jerit Yeri. "Aku tidak tahu Baekhyun-Oppa punya mantan di kantor pusat. Sebutkan siapa, aku sudah punya gambaran cowok-cowok hot di sana" sahut Joohyun girang. "Serius, kau mengerikan." Jimin menyela dan menatap Joohyun jijik.
"Sorry, ladies, mantanku bukan di kantor Papa, dia ada di salah satu perusahaan yang ikut kerja sama." Yeri tiba-tiba menyeletuk, "Mingyu sunbae, isn't?" Kening Baekhyun mengerut, "Siapa Mingyu?" Joohyun menggeplak pundak Yeri, "Sembarangan. Mingyu itu daun muda, terlalu hot diusianya, astaga" bicanya mulai melantur dan Jimin memutar bola matanya mendengar ocehan dua rekan perempuan satu divisinya ini.
"Chanyeol-hyung, right?" Jimin menyeletuk. Sementara yang lain hanya tersentak mendengar nama CEO yang cukup muda itu disebut.
"Chanyeol? Direktur DelotonCorp?" Minseok akhirnya ikut andil dalam berkomentar. Baekhyun kemudian mengangguk kaku. "What?!" Yeri menutup mulutnya, terkejut mendengarnya. "Dia adalah salah satu hot CEO yang paling sering dilirik, selain Taehyung tentunya."
"Yeah. Tapi sayang, dia selalu menolak ajakan kencan. Kudengar Ibunya sering menyusun kencan buta untuknya, tapi sepertinya dia tidak tertarik." Tambah Joohyun.
"Dari mana kau tahu?" Minseok bingung dari mana para perempuan ini bisa mengetahui informasi pribadi Park Chanyeol yang bahkan tidak sekantor dengan mereka.
"Wendy. Dia sekertaris pribadi Park Chanyeol, aku tidak tahu bagaimana Wendy mampu bertahan bekerja dan berada seruangan setiap hari dengan pria se-hot itu. Aku pasti tidak tahan." Joohyun berkata membuat yang lain berjengit jijik mendengarnya.
"Ewh." Jimin menjulurkan lidah geli.
"Sudah tahu aku orangnya gampang napsuan, kalian seharusnya terbiasa." Balas Joohyun cuek.
"Btw, dari mana kau tahu, Jim?" tanya Yeri mengubah topik, mengarah pada Jimin. "Umh, saat aku main ke rumah Taehyung dulu, aku sering melihat Chanyeol dan Baekhyun-hyung bersama. Bahkan dulu mereka sudah sempat sebar undangan, fyi." Jimin mengetukkan-ngetukkan pena pada meja.
"Baek, seriusan?" Minseok langsung mencecar Baekhyun dengan pertanyaan. Baekhyun hanya meringis pelan, kemudian mengangguk mengiyakan. "Sayangnya, iya. Canggung sekali, astaga. Aku tidak tahu mau menempatkan mukaku di mana lagi kalau bertemu dengannya lagi." Baekhyun mengusap wajahnya frustasi-nyaris gila.
"Kau harus jaga jarak agar tidak terlibat hubungan yang mungkin menyebalkan, Oppa." Yeri mulai menyuarakan sarannya. "Masalahnya, Papa menyuruhku minta maaf dan menyelesaikanya dengan baik-baik, Yeri-ya. Itu berarti aku harus menemuinya lagi, kan? Aku bisa gila." Baekhyun mencoret-coret gemas kertas kosong di mejanya.
"Kau membencinya?" tanya Jimin. "Anyi. Aku hanya tidak kuat berada di dekatnya lagi. Kurasa, yeah, dia yang membenciku." Baekhyun tersenyum simpul.
"Kalau begitu kau hanya takut dia tidak ingin kembali padamu." Canda Jimin lalu berjalan untuk mengambil kopi dingin.
"Mungkin memang begitu.." Baekhyun tergelak parau.
.
.
.
.
.
.
"Aku tidak tahu kalau kau securang ini." Taehyung mengolok Kakaknya atas tindakannya. Berusaha berbicara dengan Chanyeol dengan rencana tiba-tiba masuk, menyapanya, kemudian bicara baik-baik. Tanpa janji. Itu pasti membuat Chanyeol tidak bisa menolak. Dasar licik.
"Diamlah, idiot. Kalau aku menghampiri dan membuat janji dulu dengannya aku pasti ditolak. Seratus persen ditolak mentah-mentah." Sungutnya.
Sepuluh menit yang lalu rapat kedua mereka sudah selesai dan berjalan dengan lancar. Semua puas pada hasil kerja Divisi Perancang yang menciptakan Android Versi 4.0 dengan nama 'Ice Cream Sandwich'. Dia menemukan Chanyeol duduk di sebrang dengan raut kaku, seperti biasa. Sekarang Baekhyun tidak ingin menunda-nunda lagi, ia ingin bertemu Chanyeol. Chanyeol masih bersama kedua karyawannya di dalam ruang rapat yang tadi, sementara Baekhyun mengintip dari luar.
Maka Baekhyun memanfaatkannya untuk masuk dan mendapati raut tanda tanya dari kedua karyawan yang dibawa Chanyeol itu. Sementara Chanyeol memasang wajah dua kali lipat lebih kaku dari yang tadi. Setelah dua karyawan pengganggu itu pamit keluar, Baekhyun baru berani bersuara. Semakin mendekat dan berujar rendah di hadapan Chanyeol.
"Chanyeol.." suara dari kerongkonganya lolos begitu saja dengan getar keraguan. Bola mata Chanyeol melebar mendapati sosok Baekhyun dan suara itu memangilnya sekarang. Chanyeol jelas tidak mengharapkan keberadaan Baekhyun saat ini. Ini bukan hal baik dan Chanyeol tidak menyukainya.
"Hey," Baekhyun tersenyum canggung di sana. Chanyeol membeku kaku sementara isi pikirannya tenggelam dan berteriak riuh dalam kepalanya.
Baekhyun berdehem kecil kemudian. "Kau juga tak ingin melihatku bukan?" tawa ringis Baekhyun terdengar pelan berujar. Chanyeol bangkit dan marapikan kertas-kertasnya kemudian menatap Baekhyun enggan, hendak keluar dari ruangan itu, namun tertutupi tubuh sialan Baekhyun. "Kalau kau sudah tahu, maka cepatlah menyingkir dari sana. Kau menutupi pintu." Chanyeol berujar dingin. Kerutan tak suka jelas terlihat pada dahinya, seperti menghina, mencemooh. Baekhyun masih tersenyum maklum dengan respon yang Chanyeol berikan.
"Tunggu-Chanyeol." Baekhyun berujar dan mendekat semakin persisten. "Kita tidak bisa selesai begini saja." Pupil hitamnya menatap intens pada Chanyeol. "Setidaknya aku ingin meluruskan salah paham di antara kita."
Chanyeol tersulut murka.
"-salah paham?" Chanyeol menimpali cepat. Tawa singkat lepas dari kerongkongannya, seolah mengejek Baekhyun dengan segara penuturannya tadi. "Kau anggap ini salah paham?" desaknya.
"Bagian mana yang kau sebut sebagai salah paham, Baekhyun?" maniknya mencecar Baekhyun dengan kilatan emosi. Chanyeol berjalan menghampiri Baekhyun, mendorong bahu kecil itu hingga menghasilkan suara tubrukan dengan dinding dan menahannya di sana. Melupakan kertasnya di meja begitu saja.
"Katakan Baekhyun-ah, di mana? Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku salah paham?" onyx Baekhyun bergetar merasakan kedua tangan besar Chanyeol menekan kasar bahunya. Mengukungnya dengan rasa kebencian yang Baekhyun sendiri adalah penyebabnya. Itu membuktikan seberapa hancur Chanyeol selama ini. Chanyeol begitu hancur.
"Chanyeol-" Baekhyun bahkan tidak bisa bergerak untuk keluar dari kukungan mematikan Chanyeol. "Aku tidak bermaksud menghancurkanmu, Chanyeol. Aku justru pergi-agar kau tidak terlibat." Baekhyun mendesis merasakan cengkraman kuat Chanyeol pada pundaknya.
Chanyeol menatap Baekhyun tajam. Ia tidak peduli apapun yang hendak Baekhyun katakan-karena percuma. Baekhyun sudah meninggalkannya dulu dan ia tak punya kuasa untuk memutar balik roda sang waktu, maka apapun yang keluar dari mulut Baekhyun akan terdengar seperti nonsense di telinganya. Ia tidak peduli. Tapi lihat bagaimana Baekhyun menyebutnya dengan istilah 'salah paham'. Itu hanya membuat Chanyeol terlihat bodoh karena tidak bisa mengetahui apapun tentang Baekhyun dulu. Ini sangat mengecewakan, tapi lagi-lagi Chanyeol tidak berhak menghakimi Baekhyun secara sepihak begitu saja.
Ribuan malam telah terlewat begitu saja setiap detiknya tanpa adanya kabar satupun. Dia mencampakkan Chanyeol begitu saja di tengah jalan berliku tanpa arah, menenggelamkan cinta dan harapan yang telah ia gantungkan setinggi langit. Baekhyun seharusnya mengerti bahwa kekecewaan bisa mengubah seseorang begitu banyak. Meluruhkan kepercayaan yang dulu sempat ia berikan penuh. Baekhyun seharusnya sadar bahwa-luka tidak dapat hilang, tergantikan begitu saja oleh waktu.
"Maafkan aku," lirih Baekhyun serak. "Maafkan aku yang bertindak tanpa memikirkan perasaanmu lebih dulu. Andai saja aku punya fungsi otak yang lebih baik maka seharusnya aku tidak memilih opsi kabur." Baekhyun tersenyum sendu. Melihat wajah mengeras Chanyeol yang terlihat sama sekali tidak bisa dicairkan. Menghela napas pelan kemudian kembali berujar, "Mungkin kau tidak bisa memaafkanku, tapi aku tetap harus minta maaf. Well, kalau begitu, aku tidak memintamu untuk memafkanku, aku hanya ingin kau paham dengan apa yang sebenarnya terjadi. Sekarang aku tidak mengharapkan kata maafku kau balas, tapi aku mohon, tolonglah paham dengan yang terjadi. Chanyeol, aku-"
"Aku tidak peduli." Ucapan Baekhyun terhenti oleh suara Chanyeol. Dia melepas pundak Baekhyun dan berpaling pada kertas-kertasnya kemudian menatap Baekhyun tajam.
"Aku tidak butuh alasan egoismu, Byun. Pergilah-pergi, jangan muncul lagi di hadapanku. Enyahlah." Dia melengos menghampiri pintu, tetapi Baekhyun dengan sigap mencekal tangannya, "Setidaknya dengarkan aku dulu," Baekhyun menimpali dengan suara frustasi. "Jangan pergi begitu saja, kau tidak tahu apa yang terjadi padaku." Chanyeol murka. Byun Baekhyun di hadapannya seperti mengoyak harga dirinya dan terlihat menyerupai bajingan yang tidak tahu apa-apa tentang Baekhyun dulu.
"Kau yang pertama memutuskan untuk pergi, Baekhyun. Jangan berlagak seolah aku yang jahat di sini," Chanyeol menghela napas, "Kau yang duluan memutuskan untuk pergi, maka, pergilah.." dia menunduk untuk melepas cekalan Baekhyun pada lengannya.
"Tapi jangan kembali lagi padaku, Baekhyun. Aku bukanlah orang yang sama lagi." Lalu keluar begitu saja meninggalkan Baekhyun sendiri yang merosot jatuh di dalam sana. Di luar, dia berpapasan dengan Taehyung yang menunggu di pojok sekitar lima meter dari sana. Taehyung mengernyit padanya.
"Kau tak seharusnya menyakitinya, hyung." Dia memulai duluan. Chanyeol mendengus, "Jaga kakakmu itu, Taehyung. Beritahu dia untuk lebih tahu diri sedikit." Kemudian pergi meninggalkan Taehyung mengepal di sana. Taehyung menendang tempat duduk tempatnya tadi dan kemudian masuk untuk menghampiri Baekhyun.
Baekhyun tersentak melihat Taehyung tahu-tahu sudah berdiri di depannya. "Bangun, astaga. Kau seperti gembel." Taehyung tidak pernah baik dalam menghibur orang lain. Baekhyun mengerti itu kemudian tersenyum dan bangun. Pundak dan punggungnya masih nyeri dan ia meringis pelan. Taehyung mengerut melihat Kakaknya itu
"Dia terlalu kasar. Harusnya aku masuk saja tadi." Sungutnya pada diri sendiri. Baekhyun melotot medengarnya. "Bisa-bisanya kau hanya diam saja sejak tadi melihatku didorong begitu?" Taehyung meringis merasakan cubitan anarkis Baekhyun pada perutnya. "Aku tidak mau menggangu acara lepas rindu kalian, astaga, Baek, appo." Taehyung memelas semelas mungkin. Dia pikir aku peduli? –Baekhyun.
Kemudian mereka keluar dari ruangan itu, hendak menemui Papa Byun untuk makan siang bersama. "Jangan beritahu Papa." Baekhyun memecah keheningan, mencengkram lengan Adiknya pelan. Taehyung mendengus, "Why? Ingin Papa tetap melihatnya sebagai pria super baik?" ucapnya sakras. Baekhyun memutar mata "Are you fucking serious, man, aku yang sudah menyakitinya, kalau kau lupa." Taehyung berdecak mendengar argumen Kakaknya. "Jadi menurutmu tingkahnya barusan itu terpuji?," dia menggeram, "Fuck, kau selalu membelanya."
"Omong-omong kau sudah dapat nomor telponnya?" Baekhyun mengalihkan topik pada lelaki cantik yang bekerja pada Chanyeol yang mereka temui dua minggu lalu. "Belum. Tadi saat kau masuk, dia keluar bersama sekertaris Chanyeol, aku sudah memintanya tapi dia acuh padaku." Ucapnya murung. Bakhyun tergelak lepas, "Dia tidak melihatmu sebagai pria, astaga." Taehyung manyun mendengarnya, "Dia salah makan atau apa, jelas-jelas tampangku tidak diragukan lagi, apa susahnya tinggal memberikan nomornya. It's prove he's lucky!" sahutnya tidak terima. Ini kejadian memalukan sekaligus mengecewakan bagi Taehyung. Seumur hidupnya ia tidak pernah mendapat penolakan seperti ini. Apa-apaan itu tadi. Taehyung langsung bad-mood mengingatnya.
Baekhyun masih mengulum senyum geli. Sejauh yang ia mengenal Adiknya, Taehyung memang populer sejak sekolah. Banyak yang menyukainya dan karena itu dia mudah bergaul, mengabaikan sifatnya yang nakal. Tentu saja penolakan seperti ini sangat asing baginya yang selalu diinginkan oleh semua orang. "Minta tolong Joohyun, Tae. Dia temannya si sekertaris Chanyeol itu, Wendy. Siapa tahu dia bisa kririm nomornya si Jeon itu."
"Memang brilliant, Kakakku." Taehyung kembali ceria. Baekhyun mendengus geli.
.
.
.
.
.
.
Baekhyun dan Taehyung sudah sampai di depan Kantor Presedir MJCorp itu. Taehyung mengetuk pintu dan memanggil Papanya. Setelah tersahut mereka masuk dan melihat Papanya sedang kedatangan tamu yang familiar. Papanya tersenyum pada Baekhyun.
"Baek, kalian sudah lama tidak bertemu." Papa Byun berkata pada Baekhyun kemudian terkekeh menepuk pundak pemuda yang menjadi tamunya itu.
"Long time no see, Baek. Tega sekali tidak mengabariku." Dia tersenyum dan mendekat ke arah Baekhyun. Taehyung tersenyum kecil dan menggeser sedikit tubuhnya dari Baekhyun.
Baekhyun masih memaku melihat sosok yang sudah lama tidak ia temui itu. Dengan surai pirang dan tubuh tegapnya. Baekhyun mematung, ia sangat merindukannya. Ia tersenyum kemudian berjalan maju untuk mendekap erat tubuh tinggi tersebut.
"Hey,"
.
.
Dialah anak laki-laki dari masa lalunya,
.
.
"Kris."
~oooOOOooo~
"Kau gila, Baek. Just wow. Kau pergi, sangat lama. Lalu sekarang, kau di sini, di hadapanku. I miss you so bad, moron." Kris beralih memeluk Baekhyun dengan lebih kencang. Baekhyun tercekik karenanya.
"Dia mau mati, Kris, astaga," Taehyung mencibir sikap Kris yang menurutnya-too soft. Kris melepaskannya lalu nyengir,
"Maaf."
Baekhyun mengangguk dan kemudian Papa Byun kembali bersuara,
"Ikut makan siang dengan kami, Kris?" tawarnya.
"Aye-Aye, Papa Byun."
Lalu mereka berempat naik mobil Taehyung dan langsung menuju restoran yang diinginkan Papa Byun.
.
.
.
.
.
.
Kris adalah teman dekatnya sejak dulu. Dia, Luhan dan Kris hanyalah sekumpulan remaja nakal yang suka hang out bersama. Mereka bertiga berteman sejak sekolah menengah pertama dan memutuskan ke sekolah menengah akhir yang sama.
Sejauh yang ia ingat, selama ini Kris selalu menjaganya. Dia adalah satu-satunya pria yang mendapat kepercayaan penuh Papanya. Saat ingin jalan-jalan keluar dalam acara sekolah atau yang lain, pasti Papanya akan menitipkan Baekhyun bersama Kris. Mengingat betapa sopan dan baiknya Kris di mata kedua orang tuanya. Mereka tidak tahu jika Kris tidaklah seteladan itu sebagai murid.
Tapi di luar semua itu, Kris selalu memperlakukannya dengan baik. Kris selalu tahu cara membuatnya tertawa lepas, sebelum ia bertemu Chanyeol. Mamanya juga sangat mempercayakan Baekhyun pada Kris, baginya, Kris adalah sosok menantu yang selalu ia idamkan. Siapalagi jika bukan untuk Baekhyun. Saat mendengarnya, Kris hanya tertawa menanggapi.
Membuat Baekhyun berpikir betapa berharganya Kris untuknya.
.
.
.
.
.
.
"Sekarang warna rambutmu sama dengan punyaku." Kris berbisik saat akhirnya mereka duduk di kursi restoran. Taehyung dan Papa sedang sibuk memesan makanan.
"Yeah. Aku berniat menggantinya, mm, this weekend." Kris menyatukan kedua alisnya, seperti berpikir.
"Pink?" Baekhyun tergelak, "Pink, my ass." Lalu mereka berdua tertawa renyah bersama.
"Menurutmu mana yang lebih baik untukku? Grey or Gold?" Kris meringis membayangkan Baekhyun dengan kedua warna itu. Itu terdengar aneh.
"Black." Sahutnya mantap. Baekhyun mengernyit, "Tuhan, aku tidak menyebutkan black untuk warna ideal rambut baruku." Kris terkekeh ringan, "Kau seksi dengan rambut hitam, Byun. Trust me." Baekhyun mencibir Kris dengan perkataannya barusan.
"Kau sama menyebalkannya seperti Taehyung." Kris pura-pura melotot "Taehyung bilang kau seksi?" Baekhyun langsung menggeplak kepala Kris kesal, yang benar saja. "Kris?! Apa yang membuatmu jadi begini konyol?" Kris meringis merasakan pulukan Baekhyun, sakit, man.
"Aye, aku hanya bercanda. Jangan ngambek begitu, astaga, how adorable." Kris memajukan tubuhnya, mencubit kedua pipi Baekhyun gemas.
"Ehm." Deheman Papa Byun membuat Kris sigap menarik kedua tangannya. Baekhyun malu karena terlihat seperti remaja ingusan yang jatuh cinta di depan Papa dan Adiknya. Kau dua puluh tujuh, astaga. Batin Baekhyun merutuki pipinya yang memanas.
"Kalian asyik sekali. Suaraku sampai tidak digubris," Taehyung memasang wajah ngambeknya yang menjijikan. Baekhyun berdecak malas, "Apa, ha?"
"Kau mau pesan apa, Baek?"
"Samakan saja denganmu." Sejujurnya dia tidak tahu makanan apa saja yang ada di restoran ini, jadi dia lebih memilih untuk mengikut Taehyung dari pada dibilang kampungan oleh Adiknya yang kurang ajar itu.
"Baek," panggil Kris pelan setelah semuanya memesan makanan. "Hmm?" Baekhyun menanggapi sekenanya, dia masih fokus melotot membaca berita skandal kencan artis kesukaannya.
Dia fanboy HyunA, man.
"Sekarang kau bagaimana dengan si Chanyeol-Chanyeol itu?" Baekhyun langsung menoleh pada Kris yang juga menatapnya.
"Bubar, selesai." Sahutnya singkat. Tidak peduli juga tentang Chanyeol lagi. Masa Bodo. Dia masih sakit hati dengan perlakuan kasar Chanyeol tadi.
"Wew. Aku tidak percaya. Mana mungkin kalian bubar begitu saja. Kau kan budak cintanya dia. Dia juga cinta mati denganmu, kan." Bantah Kris setengah mengejek.
"Yeah, yeah. Omong-omong kau tidak tanya kenapa aku pergi selama ini?" tanya Baekhyun penasaran.
"Owh!" Kris menepuk jidatnya sendiri, "Aku lupa tadi. Ayo cerita padaku, cerita~" rengeknya seperti bocah. Baekhyun menghela napas heran dengan kelakuan Kris.
"Bagaimana bisa kau lupa dengan hal begitu?" Kris langsung berujar spontan, "Aku hanya terlalu merindukanmu, rasanya tidak penting alasan mengapa kau pergi kalau nyatanya kau sudah ada di hadapanku sekarang." Baekhyun terdiam mendengarnya. Hening, sebelum Kris kembali menyahut.
"Cerita~ please~" pintanya dengan wajah memelas.
"Okay."
"HAH?!" Kris berteriak membuat atensi semua orang di restoran itu terpaku padanya. Baekhyun menunduk malu, meringis melihat kelakuan Kris yang menyebalkan.
"Bagaimana bisa, Baek?! Aku tahu kita nakal tapi.. narkoba? My precious lil Baek? Astaga." Taehyung dan Papa Byun hanya menjadi penonton aksi kedua sahabat konyol ini.
"Ya begitu. Sudahlah, aku sudah berhasil melewatinya." Ucap Baekhyun. Kris hanya mengangguk-angguk pelan. Tidak lama itu makanan mereka datang dan mereka makan siang sambil sesekali diselingi obrolan kecil.
Kemudian mereka kembali ke gedung MJCorp untuk mengembalikan Papa Byun dan Kris. Taehyung dan Baekhyun ikut turun untuk melihat Kris pulang.
"Aku duluan, Papa Byun. Baek, Taehyung. Gonna miss y'all. Baek, chatting, okay?" Lalu dia pergi ke mobilnya untuk kembali ke kantornya yang berada di luar kota.
"Baekhyun," Papa Byun memanggilnya tanpa menoleh, tetap tersenyum pada sosok Kris yang menjauh.
"Dia selalu baik. Kris selalu jadi orang yang baik hati." Kemudian Papa Byun menatap wajah Baekhyun. "Aku harap kau menemukan seseorang yang seperti dia nanti." Kemudian menepuk pundak kedua anaknya pelan dan berjalan masuk ke gedung kantornya.
Baekhyun masih termenung mendengar kalimat Ayahnya. Hmm. Kode. Taehyung merangkul pundaknya dan mengajaknya masuk mobil.
"Jangan dipikirkan. Mau movie marathon di rumah? Bareng Mama." Baekhyun nyengir.
"Of course, yes."
.
.
TBC
.
.
~oooOOOooo~
It's me:
jal jinae jal jinae jal jinae Day day
Now I'm feeling
ilbureo ilbureo ilbureo Baby
I'm a liar
Hey, it's been like 1 month :'v siapa yang kecanduan I'm So Sick -Apink? / just me. lol. Soo, kenapa lebih dari seminggu ini? harusnya ini update tanggal 22, bahkan draftnya di Doc Manager juga 22 Juli tapi wordsnya cuma 450an :))) gamau kan isinya cuman segitu? so okey, aku lanjutin sampe malem ini, aku cicil dikit-dikit dari kemaren. Finally, yuhuu, i'm back with one new chapter that feel so boring hiks :')
Tbh, i feel a lil bit disappointed 'bout the comparison between visitors and reviewers. but well, that's okay i'll just have to work harder :)
As always, big thanks to all my readersnim yang udah read, review, favorites, and follows. N yes, i change the summary hehe :)) kenapa? mau aja :)))
Last, sorry for any typos left :( I love y'll so much, have a nice dream and have a good day!
#HyunAE'Dwan (͡° ͜ʖ ͡°)
RnR
Regards,
Angelie
