Feliciano menghitung bintang dan beberapa meledak direngkuh usia.

Ia terbangun bersama tujuh dentang lonceng gereja. Perapian di belakang sofa tempatnya tidur tinggal rongga hitam berisi arang. Jendela di sisi ruangan terbuka—angin menerbangkan lembar-lembar kertas yang tadi malam ia tumpuk di atas meja. Satu melayang di dekat kakinya, menampilkan deskripsi tentang lukisan karya Da Vinci beserta foto lukisannya yang terbalik.

Satu hari lagi terlewat, dan Feliciano merasa tangannya telah membeku saking kesepiannya. Di rumah megah yang hanya dihuni ia dan kakek yang tak pernah membuka mata, kedatangan fajar lebih terasa seperti momen-momen menjelang kematian, daripada harapan baru akan hidup.

Feliciano mendengar desah angin, kicau burung, gemerisik daun.

Meski musim semi selalu digambarkan sebagai awal yang baru, Feliciano telah lelah menunggu. Dua tahun yang bergerak monoton ini sudah lebih dari cukup untuk membuatnya kehilangan senyum.

"Tapi Fratello ingin aku tetap hidup," Feliciano bersenandung, "Fratello, Fratello, Fratello."

Ia menyembunyikan wajah di antara lutut.


Suatu hari Fratello pergi dan Kakek terjebak di dalam mimpi.

Di antara jari-jari Feliciano, ada getar yang menyiksa tiap kali ia memejamkan mata dan memikirkan punggung Fratello yang bergerak menjauh. Ia bangkit dari sofa dan segala mimpi terhembus angin pagi musim semi. Feliciano menarik ujung bibir, berusaha tersenyum, tapi lengkung lemah itu begitu mudah meluruh. Kesal, ditatapnya kertas yang berceceran di sekitar ruangan.

Pekerjaan baru, misi baru, target baru—jiwa letih yang sama. Sambil menyenandungkan lagu tentang kutukan Tuhan, Feliciano bergerak menuju dapur. Mungkin dia bisa membakar beberapa kerinduan seperti api unggun menghanguskan kayu, membuatnya tak berbentuk.

Feliciano menyalakan kompor, memasak air, dan membuka lemari untuk melihat menu sarapan yang akan ia buat pagi ini. Kakeknya jarang makan selama dua tahun ini. Feliciano sudah berusaha untuk memaksakan makanan masuk ke perutnya, tapi sang kakek tetap keras kepala. Maka Feliciano hanya memberinya makan sekali sehari, mengawasi dengan hati yang berdenyut nyeri betapa kurus tubuh kakeknya di bawah selimut wol merah yang tak membuat penampilannya lebih baik.

Airnya mendidih dan dengan asal Feliciano memasukkan batangan-batangan pasta ke dalam panci. Ia bersenandung lagi, memutuskan untuk membuat saus.

Feliciano benar-benar ingin tersenyum.


Musim semi adalah waktunya menanam benih.

Kebun tomat di belakang rumah adalah satu-satunya hal yang mengingatkan Feliciano akan bagaimana cara tersenyum. Fratello akan membunuhnya apabila ia sampai menelantarkan kebun tomat kesayangan sang kakak. Setelah sarapan (dan melihat apakah sang kakek mau menelan beberapa suap pasta), Feliciano berdiri di ambang pintu belakang, menatap tanah kosong yang baru lepas dari salju musim dingin.

Musim gugur lalu, karena terlalu emosi, Feliciano membunuh semua pohon tomat yang ada. Selama tiga hari setelahnya, Fratello menyiksanya dalam mimpi.

Nah, sekarang, bagaimana cara menanam tomat?

Tetangga sebelah muncul membawa jawaban: "Letakkan saja tomat-tomat yang telah kaubelah di tanah."

Bukan cara yang elit untuk menanam tomat.

Tapi Feliciano tetap mengucapkan terimakasih, berhati-hati agar suara riangnya tak terdengar dipaksakan. Entah sejak kapan, ia berhenti menambahkan 've~' di sela-sela kalimatnya.

Mungkin Fratello akan senang.


Kamar Fratello tetap dingin bahkan setelah Feliciano membuka jendela dan membiarkan matahari musim semi mengirim sinarnya masuk. Ada lukisan tragedi berdarah di seberang jendela, tepat di samping kiri pintu kamar—favorit Fratello. Feliciano sering kali mengecam kegilaan yang mendekap tiap gores warna, membandingkannya dengan lukisannya sendiri yang lebih mengalirkan ketenangan. Tapi, tentu saja, Fratello tak mendengarkan.

Feliciano membiarkan tawanya bergema. Sudah dua tahun ini dia tak pernah menyentuh kuas dan cat warna. Rasanya rindu untuk membiarkan tangannya menari di atas kanvas, menggores permukaannya yang kasar, meninggalkan cerah tinta di atasnya.

Feliciano menyapu kamar, menghapus debu dari setiap sudut yang dapat ia lihat. Tidak ada bau Fratello tertinggal di kamar itu. Lemari pakaiannya kosong, dikuras habis dan dibawa pergi.

Usai membersihkan kamar, lonceng gereja berdentang dua belas kali. Feliciano memasak makan siang, kemudian makan sambil menonton TV. Ia membaca ulang informasi tentang lukisan Da Vinci—meski sudah menghafalnya di luar kepala—lalu menghela nafas.

Jika Kakek sudah bangun, mungkin ia bisa pergi mengunjungi Roma. Didengarnya kabar bahwa Fratello tinggal di sana setelah meninggalkan rumah.


Ketika senja datang, Feliciano masuk ke dalam kamar kakeknya. Selimut wol merah masih menutupi tubuh sang Kakek, tak bergeser sedikitpun. Dengan hati-hati, Feliciano menarik selimut ke dagu, bersenandung lagi—kali ini lagu pengantar tidur—dan menatap tubuh kurus kakeknya.

Kakeknya begitu lemah. Feliciano pernah tanpa sengaja menduduki tangan sang kakek, menghasilkan bunyi "krak!" tulang patah yang mengerikan.

Malam ini, Feliciano akan menjaga kakeknya. Seperti biasa.

"Aku rindu Kakek," ia bergumam. "Kapan Kakek bangun?"

Dia bahkan tidak bisa mendengar suara nafas kakeknya.

"Aku juga rindu Fratello. Aku ingin bertemu dengannya." Feliciano melipat kedua tangan, meletakkan kepala di atas tempat tidur. "Apa aku boleh bertemu dengannya?"

Dua tahun lalu, Kakek memaksa dua orang cucunya untuk bersumpah.

"Kenapa aku tidak boleh bertemu dengannya?"

Feliciano bertanya pada tengkorak yang ia baringkan di atas tempat tidur.


A/N: Hell, too much angst. And I miss my Lovino already. God.