R&R ^^ Don't like don't read!
Cast :
-Yesung as namja (Ppalgan : Pengguna kekuatan merah)
-Ryeowook as yeoja (Hayan : Pengguna kekuatan putih)
-Kyuhyun as namja (Pharan : Pengguna kekuatan biru)
-Sungmin as yeoja (masih dirahasiakan)
-Anggota Suju lainnya
-Anggota SNSD
Genre : Romance/Fantasi/Drama
Disclaimer : Ye punya Wook, Wook punya ye, Ye dan Wook saling mempunyai. XD
Warning : Genderswitch, abal, typo, OOC, gaje dan menyesatkan. Tapi bergizi dan baik untuk pencernaan. *dilempar* Sebelum baca, disarankan (wajib) liat ava nya author supaya bisa ngebayangi tokoh2 fic. R&R ^^ Don't like don't read!
.
Mata karamel yang begitu indah kini membulat seperti piring. Apa yang disuguhkan di depan matanya begitu menterkejutkan batinnya. Sedangkan sepasang manusia yang tengah duduk manis saling bercengkrama disana menolehkan pandangannya sesaat sebelum si wanita melemparkan senyumnya pada Wookie.
"Kaliann?"
.
"Sudah pulang, Wookie?" Sungmin melebarkan senyumnya, agak geli melihat pose Wookie yang masih cengo melihat pemandangan di depannya.
"Mau sampai kapan kau di depan pintu seperti itu? Minggir! Aku mau masuk!" Yesung yang heran melihat Wookie tak kunjung masuk menggeser tubuh Wookie ke samping, membuat tubuh mungil itu oleng sesaat tanpa mau melepaskan wajah bloonnya.
"..."
Tubuhnya mengkaku saat menangkap apa yang telah tersedia di depannya. Lengkaplah sudah pemandangan terbodoh yang tersaji—Wookie dengan tampang bloonnya dan Yesung dengan muka horornya.
"Ekspresimu berlebihan, hyung!" ucap namja di sebelah Sungmin sambil menyedekapkan tangannya di dada. Namja yang baru Wookie lihat wujudnya itu mampu memancing keningnya berkerut.
"Nuguya?" ucapnya mengerjapkan matanya, membuat tampang polos yang mampu membuat Yesung mendengus sesaat. "Apa yang kau lakukan pada eonnieku di dalam kamar? Kau tak berbuat yang macam-macam kan?" ucapnya sarkastis. Membuat namja yang diketahui sebagai Kyuhyun itu berjengit protes.
"Apa maksud mu? Hayan tidak diperkenankan menuduh orang dengan sembarangan!"
"Aku tidak menuduh mu! Aku hanya bertanya!"
"Oh ya? Tapi nada bicaramu itu membuaat ku tersinggung!"
"Tersinggung kata mu? Aku tidak—"
"BISA KALIAN DIAM?" suara menggelegar Yesung berhasil membungkam dua mulut yang sedari tadi tak bosan berseteru. Tampang kusut pemuda itu sanggup membuat Wookie yang berada disebelahnya bergidik ngeri. Ia tatap dengan takut wajah pemuda yang kini menatap Kyuhyun serius.
"Apa yang membuat mu kemari, Kyu?" suara berat nan dalam itu kembali menghipnotis ruangan menjadi serius. Baik Wookie maupun Sungmin–yang masih bingung dengan keadaan sekitarnya— hanya dapat memusatkan penajaman indra pendengaran mereka.
Kyuhyun menghela nafas sesaat sebelum ia melanjutkan ucapnnya. "Hah, aku menjemput mu, hyung. Hayan harus segera dibawa untuk dilatih,"
Degg
Perkataan Kyuhyun barusan mampu membuat jantung Wookie berdegup. Walaupun belum paham benar akan keadaan yang tengah dijalaninya, ia tahu betul apa maksud dari perkataan Kyuhyun barusan. Masih ada sepersekian bagian hatinya yang belum rela untuk meninggalkan kehidupannya di dunia nyata.
"Aku tahu. Kami baru saja akan berangkat," Wookie menoleh pada Yesung, melemparkan tatapan protes yang sama sekali tak digubris. "Tidak ada waktu untuk protes. Hati mu yang setengah-setengah itu yang membuat mu pantas dijuluki Rumput Liar yang sebenarnya!" kontan Wookie terdiam. Perkataan Yesung barusan tepat memanah titik terdalam jantungnya, telak sekali dengan keadaannya saat ini.
Pluk
Didongakkannya kepala mungilnya. Iris matanya kini menangkap bayangan nyata eonnienya yang tengah mengelus kepalanya lembut, memberikannya senyum penawar sakit yang selalu ia suka.
"Majulah, Wookie!" ucap eonnienya semangat, memancing matanya untuk membulat tak percaya.
"Eonnie... Eonnie tahu?" anggukan Sungmin menjawab pertanyaan Wookie barusan. Sejenak mata foxy itu teralih pada Kyuhyun yang masih duduk di tepi ranjang Wookie. "Dia sudah menceritakan semuanya,"
Sungmin mengembalikan tatapannya ke arah Wookie. Menatap adiknya itu lembut, menyalurkan semangat yang diharapnya bisa menggerakkan hati Wookie. "Aku tahu, jauh di dalam hati kecilmu, kau pasti ingin sekali membantu semua orang," tambahnya kemudian.
Wookie terdiam, ia hanya mampu tertunduk lesu. Memang benar kata eonnienya. Ia ingin sekali membantu orang banyak. Apalagi ketika mengetahui bahwa dirinya sangat berpengaruh bagi keselamatan sebuah dunia, tentu dengan senang hati ia akan melakukannya secara cuma-cuma. Tapi bukannya apa, ia hanya takut kalau kecerobohannya akan berdampak buruk. Alih-alih menjadi pahlawan, ia malah kembali dihadapkan pada kehidupan Rumput Liarnya yang malang.
"Jangan ragu Wookie! Benar yang Yesung-ssi katakan tadi. Keraguan akan membuat mu jatuh!" ucapan Sungmin barusan sedikit demi sedikit berhasil membangkitkan semangat Wookie. Dengan tangan terkepal ia tatap Yesung yang balik menatapnya datar.
"Berapa lama aku akan membantu menyelamatkan duniamu?"
"Tak tentu. Bisa sebentar, bisa juga lama, atau malah selamanya?"
"MWO? Jangan bercanda!" keraguan kembali muncul dalam hati Wookie. Bayangan akan dirinya yang tak akan menginjak bumi lagi berputar indah di kepalanya. Membuat ia menggelengkan kepalanya gusar, berharap bayangan horor itu dapat sirna dalam sekejap.
"Lalu bagaimana dengan orang tua dan teman-temanku? Tak mungkin 'kan aku menghilang dari mereka tiba-tiba dan kembali entah kapan?"
"Jangan khawatir! Kami sudah memanipulasi ingatan mereka,"
"Eh?" Wookie menatap Kyuhyun heran. Perkataan tentang manipulasi ingatan itu masih terdengar janggal di telinganya.
"Mereka semua tidak akan mengingat mu selama kau pergi, dan semua akan berjalan normal kembali ketika kau kembali ke Sekai ini," jelas Kyuhyun, membuat alis Wookie berjengit. Orang tua dan semua orang akan melupakannya? Bahkan dalam kehidupan normal saja ia sudah terlupakan oleh banyak orang, masa sekarang orang tuanya harus ikut-ikutan melupakannya? Tidak adil, bukan?
"Apa Minnie-eonnie juga akan melupakan ku?" sejenak Kyuhyun menoleh pada Sungmin yang menatapnya memelas.
"Huh, kurasa tidak perlu," ucapnya yang langsung mengundang senyum berjuta watt dari Sungmin dan Wookie.
"Baiklah, tak ada waktu untuk bermain lagi! Cepat kemasi barang mu! Terlambat bergerak sedikit saja kita akan hancur," langsung saja Wookie bergegas menuju lemari pakaiannya, memasukkan apa saja yang ia rasa penting dan wajib untuk dibawa. Tak lama ia kembali kehadapan Yesung dengan membawa sebuah ransel pendaki gunung yang penuh dengan 'barang'.
"Kau kira kita akan mengungsi, hah? Tinggalkan sebagian barangmu!" bentak Yesung sambil berusaha menarik tas yang Wookie lindungi mati-matian.
"Bukankah kau bilang aku akan tinggal di dunia mu dalam jangka waktu yang lama?" protes Wookie dengan bibirnya yang sudah maju ke depan sambil tetap berusaha melindungi tasnya yang kini menjadi ajang perebutan antara dirinya dan Yesung.
Yang kecil tetaplah kecil. Bagaimanapun tenaganya jauh beribu kali lipat lebih kecil dibanding tangan kekar Yesung.
Mata sparkle Wookie sibuk mengamati Yesung yang kini tengah menggeledah isi tasnya. Alis yang berkerut didapatinya di wajah Yesung saat melempari beberapa isi tasnya.
"Apa-apaan isi tas mu ini? Majalah, novel, komik, DVD," ucap Yesung sambil melempari barang-barang itu keluar dari tas 'manusiawi' milik Wookie.
"Laptop, Indomie ayam spesial(?), pisang(?), dan... Burung?"
"Kembalikan! Kau boleh membuang barang yang lain, tapi jangan yang ini!" Wookie memeluk benda yang kini sudah berada di dekapannya. Untuk yang satu ini dia memang tak bisa merelakannya begitu saja. Bagaimanapun kalau benda ini tak ada, ia tak akan pernah bisa tidur!
"Burung aneh begitu tak perlu dibawa-bawa!"
"Angry Birds tidak aneh!" bantah Wookie mengerucutkan bibirnya. Ia benar-benar tak rela jika boneka favoritenya itu diolok-olok.
"Apapun! Ayo pergi!" bagaimanapun juga adu mulut dengan wanita cerewet disampingnya itu jauh lebih tak penting dibanding apa yang telah menanti mereka. Segera ia pusatkan perhatiannya di telapak tangannya. Seberkas cahaya merah berkumpul di sana, membuat Sungmin yang memperhatikan mereka dari tadi berdecak takjub. Yesung mengarahkan tangannya ke dinding kamar Wookie. Dengan segera cahaya merah yang kini tampak berpusar itu membentuk sebuah lubang dimensi di dinding kamarnya, sebuah jalan menuju awal dari segala petualangan yang baru saja akan dimulai.
"Wooww... Ke~re~n," ucap Wookie takjub. Bibir menganga lebar serta mata bulatnya yang mengerjap imut membuat wajahnya tampak sedikit berlebihan.
"Ayo pergi! Apalagi yang kau tunggu?" Yesung yang sudah berada di ambang pintu dimensi menoleh ke arah Wookie, lalu ia alihkan pandangannya pada Kyuhyun—memberi kode pada namja itu agar segera menyusulnya. Sementara Wookie kini telah menghambur ke pelukan Sungmin, berekspresi seakan ia akan lenyap selamanya dan tak akan pernah kembali.
"Nona burung aneh! Kau ingin menunggu sampai aku menjambak rambutmu dan menyeret mu dari tempat ini?" suara horor Yesung barusan sempat membuat Wookie bergidik. Dengan langkah secepat kilat ia berdiri di samping Yesung yang sudah siap melangkah masuk menuju Soraguene.
Grepp
Dengan cepat Wookie alihkan pandangannya pada Yesung yang kini tengah menggandeng telapak tangannya. Dahinya berkerut sejenak. "Kenapa harus pake gandeng-gandeng?"
"Berisik! Kyu, cepatlah menyusul!" dan dalam satu langkah, dua manusia itu kini telah lenyap ditelan lingkaran merah yang perlahan mulai mengecil.
"Adikku akan baik-baik saja, kan?" Kyuhyun menghentikan langkahnya, sejenak ia pandangi Sungmin yang memandangnya penuh harap. "Aku tak bisa menjamin,"
"Apa maksud mu? Kalian harus bisa menjaganya dengan baik!" Hampir saja Sungmin menahan Kyuhyun yang akan melangkah ke lubang dimensi. Namun tatapan pemuda yang entah kenapa melembut padanya itu sanggup membuat Sungmin kehilangan kata-kata.
"Percaya pada hyungku,"
Cringg
Ruangan itu kini mulai diliputi cahaya seiring dengan mengecilnya lingkaran merah yang kini sudah menelan tubuh Kyuhyun. Cahaya yang kini menyelimuti seluruh ruangan tampak begitu menyilaukan mata bagi Sungmin, membuatnya harus memicing agar terhindar dari sinar yang rasanya menusuk bola mata.
Seberkas sinar merah muda melingkupi tubuh gadis itu, membuat matanya harus terbuka dan terkejut akan keadaan sekitarnya. Rasa hangat menjalar di tubuhnya kala sinar-sinar itu mulai memakan tubuhnya satu persatu. Sedikit demi sedikit, tubuh gadis itu lenyap tak bersisa. Meninggalkan ruangan yang tadi ramai kini lenggang. Ada apa dengan Sungmin?
.
.
"Wooaaaa~" kepalanya melongok kesegala arah tanpa menghentikan tatapan takjubnya.
"Bisa kau hentikan wajah burungmu itu?" Wookie mengernyit, dialihkannya tatapannya pada pemuda disampingnya—menatapnya tak suka. "Kenapa harus wajah burung?"
"Karna itu terlihat bodoh!"
Pletakk
"Aww, apa yang kau lakukan?" Yesung mengelus kepalanya yang terasa panas.
"Itu karna kau mengatai ku berwajah burung!"
"Memang wajah mu seperti burung! Persis seperti boneka-boneka bodoh yang kau bawa!"
"Angry Birds tidak bodoh!" Yesung menghela nafas lelah. Bertekak dengan gadis burung ini memang tidak ada untungnya. Lebih baik ia segera menghadap ummanya dan memberikan 'barang' pesanannya dengan segera.
"Terserah apa kata mu!" dilangkahkannya kakinya mendekat pada gerbang tinggi berwarna putih itu, gerbang utama kerjaan Soraguene—tempat makhluk seperti nya tinggal.
Kriieeettt
Dua pintu besar itu terbuka, menyajikan pemandangan yang tak pernah Wookie duga sebelumnya. Mulutnya langsung melongo parah ketika kakinya melangkah masuk ke dalam.
Sebuah kerajaan yang didominasi warna putih. Bukan hanya gedung-gedung –yang dimata Wookie tampak seperti menara-menara di negri dongeng— yang berwarna putih. Tapi jalanan, pohon-pohon bahkkan tanah sekali pun hampir didominasi warna putih—warna kesukaan Wookie.
"Apa semua orang di negri mu begitu menggemari warna putih? Sampai-sampai tanah pun bisa berwarna putih. Ini sangat keren!" pekik Wookie riang sambil menggosokkan kedua telapak tangannya. Entah kenapa sejak melangkah masuk ke Soraguene, seluruh tubuhnya merasa kedinginan.
"Kau buta? Ini salju, bodoh!" Salju? Astaga! Bodoh sekali Wookie baru menyadari tumpukan halus yang ia pijak sekarang adalah kumpulan salju. Negri yang sudah menyihir Wookie dengan warna putihnya ini sanggup membuatnya lupa berpikir waras. Pantas saja ia kedinginan! Roknya saja membiarkan setengah bagian dari pahanya terbuka, belum lagi kemeja seragamnya yang terlalu tipis untuk daerah bersalju. Bukankah di Seoul sedang mengalami musim panas saat ini?
"Soraguene memang mengalami musim salju setiap saat," ujar Yesung datar sambil berlalu, seolah mampu membaca apa yang tengah dipikirkan oleh gadis mungil di samping nya.
"Kau membaca pikiranku?" Wookie mulai beranjak mengikuti Yesung yang sudah beberapa langkah di depannya.
"Tidak!"
"Sudah jangan bohong! Sora seperti mu pasti mampu membaca pikiran orang!"
"Tidak penting!" Yesung mempercepat langkahnya, tidak mau ambil pusing oleh gadis cerewet yang terlalu ingin tahu di sampingnya. Dalam hati ia mengutuk manusia yang dengan laknatnya menghadirkan manusia seberisik Wookie. Lama-lama bisa tuli juga ia kan?
"Ya! Tunggu aku, Yesung!"
.
.
Leetuk tengah berdoa di depan altar ketika seseorang masuk ke dalam rumah suci yang lagi-lagi didominasi warna putih itu. Tautan tangannya terlepas tepat saat pemuda dengan jubah kerajaannya itu berhenti di belakangnya.
"Apa aku mengganggu doa noona?" Leetuk tersenyum saat membalikkan badannya. Menatap pemuda itu penuh kasih. "Tidak Woonie, aku sudah selesai," Siwon tersenyum lega. Ada beberapa hal yang harus ia sampaikan pada 'istri' nya itu.
"Mereka sudah sampai, noona,"
"Benarkah? Apa keempatnya sudah datang?" Leetuk berbalik, merapikan bunga-bunga yang terletak pada vas-vas besar di samping altar.
"Ne! Anak itu memang benar-benar seperti appanya!" sejenak Leetuk tertegun. Perkataan Siwon barusan sedikit menyenggol perasaan hatinya. Tangannya yang tadi sibuk menggerayangi bunga, kini berhenti. Mata indahnya sudah menengadah ke atas, menerawang ke langit-langit Gereja seolah ia akan menemukan wajah familiar di atas sana. Sejenak sebuah senyum manis terukir di wajah indahnya.
"Tentu Woonie. Yesung benar-benar anak appanya!"
"Mian noona, gara-gara aku hyung jadi..."
"Yang lalu biarlah berlalu, Wonnie. Sekarang yang kau butuhkan hanya menatap ke masa depan. Tidak ada gunanya mengharapkan orang yang tak mungkin akan kembali," sejenak Siwon terdiam. Perkataan Leetuk ada benarnya. Sekeras apapun ia menyesal atau meminta maaf, orang yang telah bersatu di dalam tanah tak akan mungkin bisa bangkit dan menyapa mereka lagi.
Ia tertunduk begitu dalam saat merasakan tepukan halus di punggungnya, membuatnya harus mendongak dan menatap Leetuk yang selalu tersenyum padanya.
"Ini semua bukan salah mu, Wonnie! Ini hanya sebagian kecil dari takdir yang harus diterima setiap makhluk. Jangan pernah menyesali apa yang telah terjadi," untuk sejenak Siwon bisa merasakan hatinya diliputi kedamaian. Noona atau 'istri' nya ini benar-benar mampu memancarkan aura-aura positif yang dapat menenagkan semua orang, termasuk dirinya.
"Bangkitlah! Kau punya Kyuhyun dan juga 'orang itu'. Aku tahu, bagaimanapun 'dia' masih mengharapkan kehadiran mu, Woonie!"
"Tapi noona—"
"Jangan selalu memendam perasaan mu, Woonie. Sesekali jadilah anak pembangkang seperti Yesung atau hyung mu dulu!" mendadak senyum mengembang di permukaan bibir Siwon. ia bersyukur karna memiliki 'istri' sekaligus noona yang begitu mengerti akan keadaan hatinya.
"Gomawo, noona,"
.
.
Bruuukk
"Awww,"
"Appoo~"
Dua makhluk yang barusaja terlempar dari lingkaran yang berbeda itu tengah jatuh bertubrukan di atas hamparan salju yang dingin. Tubuh yang saling timpah itu sanggup membuat mereka meringis beberapa saat sebelum menyadari kehadiran masing-masing.
"Kau?" pekik Kyuhyun saat melihat sebuah 'benda' bernyawa tengah menindihnya dengan ekspresi tak kalah kagetnya.
"Mian," ucap benda itu buru-buru bangkit dan duduk di atas hamparan salju dangan rona di wajahnya.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Kyuhyun, berhasil menyadarkan benda itu dari semburat merah yang tadi melanda pipinya.
"Aku tidak tahu. Tadi saat kau pergi tiba-tiba ada cahaya merah muda aneh yang mengelilingi ku. Tau-tau saat membuka mata aku sudah...em.. menimpah mu," ucapnya tergagap. Wanita yang dikenali sebagai Sungmin itu kini tengah tertunduk malu. Entah kenapa kejadian tadi tak mau lepas dari benaknya. Wajah Kyuhyun yang tepat berada dibawahnya membuat kembali rona merah muncul di permukaan pipinya.
"Hatcchii!" Kyuhyun mengalihkan tatapannya ke arah Sungmin, melihat gadis bantet yang tengah mengusap hidungnya hingga memerah.
"Kau kenapa?" tanyanya pelan, sedikit nada kecemasan melihat gadis yang wajahnya tengah memerah.
Sungmin melongokkan kepalanya, tak menggubris pertanyaan Kyuhyun barusan. Kepalanya hanya menoleh kesana kemari sambil memperhatikan alasnya duduk sekarang. Salju!
"Ommoo~ Tempat ini bersalju! Huatchi!" pekiknya kaget sambil sesekali menyemburkan bersin dengan kuatnya. Cairan atau yang bisa dikataakan sebagai lendir itu mulai menguak keluar dari lubang hidungnya, membuatnya tampak seperti anak TK yang menyedihkan. Tapi tidak untuk Kyuhyun!
Namja itu sibuk terkikik geli menatap wajah Sungmin yang menurutnya terlalu kekanakan. Dengan sedikit merangkak, pemuda itu sudah duduk di samping Sungmin. Mengeluarkan selembar kain dari saku celanya dan mengusapnya lembut pada kedua hidung lawan jenisnya itu, membuat Sungmin tertegun sesaat.
"Kau ini seperti anak TK saja! Bahkan kau lebih kekanakan dari adikmu itu!" Kyuhyun terkikik sesaat, membuat Sungmin berdecak kesal dengan pipi dan bibir yang ia kembungkan. Alih-alih berhenti, Kyuhyun malah makin geli dibuatnya.
"Aku bukan anak TK! Salahkan saja salju yang turun ini! Salju memang tak pernah mau berteman dengan ku," kini wajahnya tertunduk, masih dengan pipi yang mengembung, ia buat wajahnya tampak seperti seseorang yang paling menyedihkan di dunia. Membuat Kyuhyun lagi-lagi harus berdecak geli melihat tingkahnya.
"Kenapa Tuhan menciptakan makhluk menggelikan seperti mu?"
Pluk
Sebuah jubah berwarna biru tersampir di pundak Sungmin.
"Eh?" Sungmin menatap Kyuhyun yang sudah berdiri. Sejenak rasa hangat menjalari bagian tubuhnya ketika dengan dalam ia menghirup aroma tubuh yang menguar dari jubah milik pemuda itu.
"Ayo pergi! Kau pasti juga terlibat dalam kejadian ini," Sungmin menatap uluran tangan itu. Tangan yang begitu besar kini tengah tersodor di depan wajahnya, mengajak tangan mungilnya untuk segera menyatu di dalam genggaman hangat itu.
Greep
Rasa hangat yang begitu menggetarkan langsung menyergap bagian dada Sungmin saat tangannya bergabung dalam tangan besar Kyuhyun. Desiran halus yang begitu menggetarkan hatinya itu sanggup membuatnya tertegun beberapa saat sambil memandangi wajah Kyuhyun yang tersenyum padanya.
"Ayo berdiri, Minnie! Apalagi yang kau tunggu?"
"Eh? Ia!" dengan langkah canggung ia berdiri dan mulai mengikuti pemuda yang tengah menyeretnya lembut. Bukankah ini terlalu cepat? Tapi Sungmin tak tahu kenapa ia bisa begitu terseret pada pesona pemuda tampan ini. Dalam waktu sekejap—bahkan belum sampai sehari— hatinya telah meletup-letup saat pemuda itu melakukan semacam kontak fisik dengan nya. Apa Sungmin kini tengah dilanda kasmaran karna jatuh cinta?
.
.
"Ppalgan-ssi sudah datang! Kyaa~"
"Kyaa~ Ppalgan makin tampan yah~"
"Saranghae Ppalgan~"
Suara bisikan—atau yang lebih pantas dibilang teriakan— itu menggema di sepanjang koridor tempat Yesung dan Wookie menapak. Setiap mata yang menangkap sosok Yesung pasti langsung berdecak kagum dengan penuh cinta. Decakan kagum yang sebagian besar berasal dari para yeoja itu pula lah membuat Wookie mual dan ingin muntah. Benarkah mereka mengagumi orang jutek seperti Yesung?
"Uwweekk!" Yesung mendelik tajam ke arah Wookie. Gadis yang tengah berpose layaknya wanita hamil yang sedang mual itu membuat Yesung berdecak risih.
"Jangan bertingkah seolah aku makhluk paling menjijikkan di dunia!" ucap Yesung sengit, tak mengindahkan tatapan hina dari Wookie.
"Apa mereka tidak buta?"
"Maksudmu? Tentu saja tidak!"
"Kau benar! Mereka memang tidak buta... Tatapi mereka GILA!" sembur Wookie, sukses memancing urat-urat Yesung keluar. "Kau pasti bercanda! Mana mungkin orang seperti mu memiliki banyak penggemar. Mereka, para sora ini benar-benar sudah gila!" Wookie meremas rambutnya sendiri frustasi.
"Kau tak tahu siapa aku?"
"Kau itu Yesung! Namja dengan kepala persis helem!"
"Ck, kau ini! Kau benar tidak mengenali aku ya?" Yesung mengembangkan seringaiannya saat matanya menangkap raut bingung dari makhluk di sampingnya. Niatnya untuk balas dendam sudah bermunculan di ubun-ubun, tinggal menunggu waktu peluncurannya beberapa saat lagi.
"Apa kau kenal Kim Jong Woon?" tanya Yesung—masih dengan seringaian yang tak mau lepas dari wajahnya.
"Tentu saja kenal! Dia itu penyanyi nomor satu di hatiku!" jawaban Wookie barusan makin menambah intensitas kelebaran seringaian Yesung.
"Dan kau tahu aku siapanya Kim Jong Woon?" Wookie mengerjapkan matanya sesaat sebelum menggeleng dengan polosnya. "Aku ini Sepupunya!"
"HAH? Jangan bercanda!" pekik Wookie kaget sesaat sebelum ia mulai terkikik geli. "Kalian saja beda dunia! Sandiwaramu benar-benar bodoh! Ahahah," tawanya meledak, menyadari kebodohan dari namja yang kini makin menyeringai menatapnya.
"Kau tidak percaya pada ku, hm?" Wookie menghentikan tawanya dan beralih menatap Yesung—masih dengan tatapan gelinya.
"Kau berharap aku mempercayai perkataan orang idiot? Jangan bercanda!" Yesung makin menyeringai. Tibalah saatnya dimana bom akan meledak.
"Kami itu sepupu jauh! Aku itu sepupu dari anak sepupu sepupu ummanya yang menikah dengan sepupu dari suami sepupu cucunya nenek sepupu buyutnya yang menikah dengan sepupu nenek moyangnya Kim Jong Woon!" Yesung terkikik geli melihat wjah Wookie yang melongo parah. Ia yakin benar, jika di dalam otak gadis itu tengah berputar penjelasan yang bahkan ia sendiri tak mengerti.
"Ulangi!" ucap Wookie, belum sepenuhnya mengerti akan ucapan Yesung.
"Maaf aku sudah lupa!"
"Kau membohongi ku!"
"Tidak!"
"Ia! Mengaku saja!" alih-alih menjawab, Yesung malah menjulurkan lidahnya, membuat gadis mungil itu berdecak sebal dengan pipi yang dikembungkan sekembung-kembungnya. Sanggup membuat Yesung terkikik dalam diam.
"OPPAAAA~"
Bruukk
Tubuh mungil itu menghambur begitu saja ke pelukan Yesung yang reflek menangkap dan membalas pelukan tangan mungil itu. Suara yang tadi melengking kini tengah teredam oleh dada yang membungkam bibir mungilnya.
"Kau bisa membunuh ku kalau terus-terusan menerjang ku saat aku datang, Luna," celoteh Yesung pada gadis yang masih betah bercengir ria di dalam pelukannya. Sedang gadis mungil lain di sampingnya hanya memandang heran.
"Habis oppa lama sekali kembali! Luna merindukan oppa!" bisiknya manja sambil menarik lengan baju Yesung. Sejenak ia alihkan pandangannya pada gadis di samping Yesung. Gadis yang hampir sama mungilnya dengan ia itu kini tengah menatap ke lain arah. Seperti tak mau menatap pemandangan yang tengah ia ciptakan. Mendadak seringaian mengerikan hinggap di bibir manisnya. Dia ini, benar-benar adiknya Yesung!
"Waa~ Oppa pulang-pulang bawa kakak ipar! Nomu yeopeosseo~" ucapnya dengan mata bling-bling yang begitu mengerikan. Kini ia lepas pelukan hangat oppanya dan beralih mendekat pada Wookie.
"Eonnie~ namaku Luna, adik sepupunya Yesung oppa. Jadi kapan eonnie dan oppa menikah?"
Blush
"Apa-apaan pertanyaan mu itu, Luna?" sergah Yesung, sedikit salah tingkah akibat perkataan polos yang dengan tak berotak keluar dari bibir Luna.
"Wae oppa? Bukankah eonnie ini cantik?" Kini luna mendekat pada Wookie dan memeluk gadis itu secara sepihak. "Waa~ bahkan pelukannya terasa begitu hangat! Apa oppa sudah pernah mencobanya?"
"Ya! Bocah ini!"
"Eonnie, nama eonnie siapa?" Luna mendongak menatap Wookie tanpa ada niatan melepas pelukannya. "Eh? Wo-Wookie," jawab Wookie tergagap.
Sedari tadi Wookie hanya bisa terdiam dan mematung dengan telinga yang berdenging panas. Sungguh wajahnya pun tengah memerah saat ini.
"Waa~ Bahkan nama eonnie pun begitu manis. Eonnie mau ya menikah dengan oppa ku?"
"Eh?" sungguh saat ini Wookie bingung bagaimana harus bertindak. Yeoja yang kelewat ramah dalam pelukannya ini benar-benar membuatnya salah tingkah. Sedangkan Yesung hanya menatap horor ke arah mereka. Mengutuk habis-habisan adik sepupunya yang suka asal bicara.
"Eonnie tau? Oppaku itu sangat sinis! Mana ada yeoja cantik yang betah lama-lama dengannya. Tapi kalau dengan eonnie aku yakin dia akan mati kutu!" bisik luna, berharap Yesung tak mengetahui suara keras(?) nya.
"Aku dengar itu, bocah! Kau kira ada orang berbisik dengan suara sekeras itu?" Luna cemberut, membuat Wookie terkikik pelan. Sepertinya yeoja yang masih betah di dalam pelukannya ini begitu ingin menjahili oppanya itu. Sejenak pikiran negatif akan kedekatan Yesung dengan yeoja ini mendadak sirna. Tunggu! Jadi maksudnya ini apa?
"Oppa, tidak baik mencuri dengar perkataan orang!" sejenak suara Luna menyadarkan kembali Wookie ke alam sadarnya. Ia tatapi Yesung yang tengah menatap dirinya dan juga seseorang dalam pelukannya itu dengan kesal. Mendadak lidahnya terjulur saat mata mereka bertemu, membuat Yesung makin menggeram kesal.
"Aishh.. Kalian benar-benar!" dan kini Wookie dan Luna sukses cekikikan menikmati kemenangan mereka. Padahal baru saja mereka kenalan, tapi tanpa Wookie duga sudah menjadi dekat begini. Apa seluruh Sora di Soraguene seramah dan semenyenangkan ini? Kecuali Yesung tentunya!
~0~(YeWook)~0~
"Bagaimana perkembangannya?"
"Tidak ada perkembangan pesat, master. Jantungnya masih lemah, tapi sarafnya sudah mulai bekerja,"
Wanita yang dipanggil master itu kini menyeringai di dalam kegelapan. Cahaya dari lilin yang merupakan satu-satunya penerangan diruang gelap itu mampu memberikan kesan mengerikan akan bayangan tubuh pucatnya.
"Berapa lama lagi aku menunggu sampai tubuhnya bisa dimasuki?" matanya beralih menatap sosok yang tengah terbaring di peti kaca dengan beribu kabel merayapi bagian-bagian tubuhnya.
"Mungkin sekitar dua minggu, master," kepalanya mengangguk sesaat sebelum ia membuka penutup kaca itu dan membelai pipi pemuda yang tengah tertidur pulas.
"Bangunlah sayang... Bersama, kita hancurkan mereka!"
Bersumbing
Anyeongggg semuaaaa~ *dilempar panci ama readerdeul*
Mian saya apdetnya lama ^^' Saya hanya manusia yang tak luput dari dosa(?)
Makasi uda baca dan riview fic saya ya readerdeul, aku cinta kalian ^^
Oia, adakah dari para readerdeul yang baca fic author yang judulnya NEVER STOP LOVING YOU? Kalau ada itu uda saya buat squelnya, bagi yang berkenan silahkan baca dan riview ya *promo*
Tapi bagi yang belum baca jangan khawatir, dunia belum berakhir(?) masih ada kesempatan buat baca dan riview kok ^^ *promo lagi*
THreeAngels K.R.Y : Ehe, itu bersumbang maksudnya supaya para reader mau bersumbang riview buat fic gaje ini *nyengir Siwon* Ini uda apdet chingu. Maksi uda R&R yak :D Jangan lupa untuk R&R lagi ^^ oia, Pak Sabar itu sebenernya guru Sosio aku :p kakakak XD
YeMiharuginzz : Ehe, maaf. Tanganku kadang terlalu bandal untuk diajak kompromi. Malasnya baru nempel mulu :D Maksi uda R&R yak :D Jangan lupa untuk R&R lagi ^^
Kim Ahiko-chan : Mian aku ga bisa apdet kilat :'( Hehe.. itu juga iklan fav saya *bangga* Mengenai perpanjangan fic, mungkin belum bisa diwujudtin, mian ya saeng *bungkukbungkuk*. Maksi uda R&R yak :D Jangan lupa untuk R&R lagi ^^
RyeoCi69 : wakak. Tadinya ini fic mau saya buat serius gitu, tapi otak saya keseringan bernegasi, jadi lari dari terget utama *ngetawai kebodohan sendiri*. Ok deh, ini uda apdet! Maksi uda R&R yak :D Jangan lupa untuk R&R lagi ^^
ryeocloud : Eitss, sabar dulu ching! Cinta butuh tahap *dilempar terasi* XD. Oke, ini dia chap 3 nya! Maksi uda R&R yak :D Jangan lupa untuk R&R lagi ^^
Enno KimLee : tau tu si KyuMin! Hobbi banget ngiketin diri pake benang merah! Bikin sirik tau ga! *dilempar* ok chingu, ini sudah apdet, Maksi uda R&R yak :D Jangan lupa untuk R&R lagi ^^
cloudify2kim : Hehe, sengaja di OOC-in si author, biar agak beda gitu *halah* waa, makasi banyak atas masukannya chingu, saya sangat termotivasi ama masukan yang begini ni :D ini dia chap 3 nya. Maksi uda R&R yak :D Jangan lupa untuk R&R lagi ^^
ellyteuk93 : Gomawo ^^ Ini uda lanjut! Maksi uda R&R yak :D Jangan lupa untuk R&R lagi ^^
uthyRyeosomnia : Eh jinja? Adu, aku minta maaf ya, gara2 ini fic laknat kamu sampe dikeluarin dari kelas *bungkukbungkuk* kenapa ga panggil aku buat ngegatak itu guru? #pletak. Ok, ini dia chap 3 nya saeng, Maksi uda R&R yak :D Jangan lupa untuk R&R lagi ^^
LeeSungHye040497 : Ehehe, maksi dudut. Ini uda aku apdet, Maksi uda R&R yak :D Jangan lupa untuk R&R lagi ^^
Makasi buat semua yang uda baca sekaligus riview fic aku :D
Makasi buat yang uda ninggalin jejak baik yang log in ataupun anonym, buat silent reader *kalo ada* juga makasi banyak, sekali-sekali riview donk XD. Tanpa kalian fic ini ga bakal jalan.
Terakhir, author perlu semangat buat ngelanjutin fic ini. Belakangan semangat ngetik author berkurang :'(
Untuk itu author menunggu para readers mengirimkan semangat lewat riview dibawah ini :D
Riview pleasee! Gomawo :*
