Nah, aku akan mencoba saran dari -san yang namanya mirip dengan saya (?) Terima kasih sarannya, sudah saya coba praktekkan di fanfic saya yang lain XD
Rencananya walau cuma ada 1 reviews sekalipun bakal saya lanjutin! Jadi berbahagialah yang sudah reviews XD #ditendang
gaya menulisku jadi berubah sedikit saja (walau cuma 1%)
Oh ya, dan maaf ada kesalahan. Yang chapter 1 itu tanggal 14 Agustus jadi bayangkan mereka berbicara saat tengah malam XD Lalu chapter 2 ini adalah tanggal 15 Agustus dimulai dari pagi saja.
Kita mulai saja ceritanya!


CHAPTER 2 - AMUSEMENT PARK


Shintaro POV

Aku mendengar suara-suara orang berbicara walau terdengar sedikit. Tapi aku masih merasa ingin tidur walau cuma sebentar. Terdengar beberapa suara yang rasanya aku kenal. Aku juga mencium bau makanan yang enak... 'Hah? Sepertinya aku sudah benar-benar tertembak oleh teroris-teroris itu. Tapi kenapa aku sama sekali tidak merasakan rasa sakit?'

Aku membuka mataku sedikit demi sedikit dengan pelan. Aku menengok sedikit ke samping kananku, masih dengan posisi tidur. Aku melihat mangkuk berisi air dan handuk di sebelah kananku.

Aku mulai berpikir,
'Ah... Sepertinya seseorang telah menjagaku. Terima kasih banyak...'

Aku terdiam sebentar sambil memeikirkan sesuatu, melihat mangkuk berisi air dan handuk itu.

Aku mulai mengucapkan sesuatu dimulai dengan suara yang kecil, kemudian ke suara yang besar.

"Sekarang kupikir-pikir..."

"DIMANA AKU SEKARANG!?" Aku berteriak sambil membangunkan diriku ke posisi duduk.

"EEEEK!" Aku mendengar teriakan seorang gadis. Setelah mendengarnya, aku langsung menoleh ke arahnya.

'Uwah! Jangan-jangan gadis ini yang telah menjagaku?'

Aku menatap gadis itu. Sepertinya aku membuatnya ketakutan... Dia sangat gemetar bahkan ia terjatuh dari bangkunya karena mendengar teriakanku. Aku harus menenangkannya...

"Ah... Itu..."

"Master~! Kau sudah bangun!?"

Aku mendengar suara Ene, 'perempuan virus' itu dengan suara yang terdengar ceria. Aku melihat dari gadis berambut putih itu ke arah pintu yang sudah dibuka.

'...Hah?'

Aku melihat 5 orang yang 4 orang diantaranya sudah kukenal wajah-wajahnya.

Aku melihat orang yang pertama. Rambutnya panjang bewarna hijau, memakai hoodie ungu dan celana panjang dan satunya pendek. Aku pikir memakai pakaian seperti itu bukannya sangat panas... !?, Itu laki-laki yang kutabrak waktu di departemen store! Kulihat-lihat lagi dia itu perempuan...

Aku melihat ke sebelah kiri perempuan hoodie ungu itu. Ada laki-laki dengan sengiran terlihat di mukanya. Rambutnya kuning dan memakai hoodie hitam berbintik-bintik hitam dan putih. I-I-I-Itu laki-laki mata kucing yang di sebelahku waktu itu disini juga...!?

Kulihat juga seorang gadis dengan rambut hitam dan hoodie putih diikat di pinggangnya dengan memakai celana selutut. Jangan-jangan dia gadis yang di sebelahku juga waktu di departemen store?

Nah, satu lagi yang sudah 'sangat' kukenal wajahnya. Dia... Jangan-jangan... Momo, adikku!?

"Haha, Master! Bagus kau punya banyak energi! Ayo kita semua pergi ke taman bermain bersama-sama~" ucap Ene dengan tersenyum ceria

"Kakak bodoh! Kenapa kamu pergi dan melakukan hal bodoh!? Aku sangat khawatir!" Momo berteriak ke arahku dengan sangat marah

"Eh...?" Aku melihat mereka dengan tatapan bingung terukir di wajahku

"Sudahlah, ini berkat Master sehingga kita semua selamat!"

"Ya... Walau tanpa ragu-ragu seperti itu" gumam Momo sambil menghela nafasnya

"Eh? Apa? Kalian membicarakan taman bermain? Sepertinya menyenangkan~" kata laki-laki bermata kucing itu dengan seringaian terukir di wajahnya

"Taman bermain... Bagus juga. Sudah lama aku gak kesana..." ucap gadis berambut hitam dengan menaruh tangannya di bawah dagunya

"Mary, taman bermain! Yay!" ucap laki-laki yang hoodienya mirip dengan katak

"A..Apa kita harus keluar lagi...?" gumam gadis berambut putih dengan menyandarkan dirinya di dekat kursi, tempat ia terjatuh tadi.

Perempuan berambut hijau yang daritadi diam itu juga mulai berbicara , "Hei hei, maaf berisik. Untungnya, pelurunya tidak terkena kamu karena dia mendorongmu". Dia menunjuk gadis berambut hitam dengan ibu jarinya.

Gadis berambut hitam itu bereaksi dan berkata, "Eh, iya... Untunglah ya..."

Aku menatap gadis berambut hitam itu. Kurasa aku harus berterima kasih padanya. Kemudian aku mengucapkan terima kasih kepadanya.

Dia yang mendengarnya, langsung tersenyum senang dan memiringkan sedikit kepalanya. 'Dia... Manis juga... Tu-Tunggu! Kenapa aku menganggap orang yang baru kukenal itu ma-ma-manis!? Su-sudahlah, lupakan saja!' pikirku. Aku merasakan pipiku memerah tapi aku langsung menggelengkan kepalaku agar tidak ketahuan.

Aku menoleh kembali ke arah perempuan yang berambut hijau. "Ah, aku tidak tau situasi sekarang ini... Sebenarnya siapa ka.."

"Ah, maaf kakak! Biar aku perkenalkan. Mereka adalah Mekameka Dan..."

"Kau salah, Kisaragi", balas perempuan berambut hijau itu.

Mereka berlima menjawab bersama-sama,
"Kami adalah Mekakushi Dan"

Setelah mendengarnya, aku melihat mereka masing-masing dengan ekspresi bingung yang masih terlihat di wajahku daritadi.

"Eh? Mekakushi... Dan?"

"Itu... Nama grup yang diberikan olehnya dengan inisiatifnya sendiri" ucap perempuan berambut hijau dengan melirik ke laki-laki bermata kucing.

"Eh~ Memangnya kenapa? Namanya kendengaran keren kan~" balasnya dengan senyuman di bibirnya

"Ehehe... Aku juga adalah anggota Mekakushi Dan!" ucap Momo sambil tersenyum lebar. "Karena banyak yang terjadi saat kakak tidak tau!"

Kemudian, Mereka mulai menjelaskan semua yang terjadi padaku dan juga mereka.


Aku, Kisaragi Shintaro. Umur 18 tahun. Sekarang ini adalah seorang NEET. Hobiku bermain game komputer. Entah kenapa, aku berakhir di tempat rahasia ini. Aku juga tidak yakin mengapa ada adik perempuanku disini, juga. Tampaknya kita terjebak di 'suatu' kejadian.

"...Dan itulah yang terjadi" jelas mereka

"Setelah itu, akulah orang yang membawamu- dibawah panas teriknya matahari!" ucap Kano sambil mengedipkan mata kanannya juga menghela nafasnya.

'Jadi setelah aku mengirim Ene... Mereka menjalankan rencana mereka!?'

"Ini..."

'Aku tidak mengerti sama sekali...'

"Aku senang kalian semua sudah menyelamatkanku...?" ucapku sambil menundukkan kepalaku dengan rasa bingung dan pusing masih terlintas di kepalaku.

"Kenapa dia sepertinya menahan dirinya untuk mengatakan sesuatu?" kata Kano sambil menatapku

Aku mengabaikan perkataannya dan mulai berpikir kembali.
'Perempuan tak terlihat, Medusa, Orang yang bisa berubah bentuk... Aku kehilangan kata-kata, atau bisa dibilang... Mereka sekelompok orang-orang aneh! Lebih baik tidak terlibat dengan mereka...'

Setelah berpikir seperti itu, aku mendengar suara laki-laki bermata kucing itu,

"Aku yakin banyak hal yang ingin kau tanyakan~!"

Aku kembali mendongak ke atas untuk melihat wajah Kano.

"Eh?"

"Jangan khawatir! Akan kuperkenalkan diri kita masing-masing~!"

Laki-laki bermata kucing itu mulai memperkenalkan mereka.

"Orang dengan tatapan seram, Mekakushi Dan #1, ketua kita Kido~"

"Yah, maaf kalau punya tatapan yang seram..."

"Orang yang mirip seperti katak besar, anggota ke 2, Seto! Yang putih dan halus adalah Mary-chan, anggota ke 4!"

"Disebut mirip katak hanya karena aku memakai sesuatu yang hijau, itu sesuatu yang sederhana", ucapnya dengan tertawa kecil

"Tapi bukannya katak itu kecil?" ucap gadis itu dengan polos

"Dan juga para anggota baru! Kisaragi-chan #5, Ene-chan #6, dan Naisha-chan #10!"

Laki-laki bernama Kano melanjutkan perkataannya lagi,
"Terakhir, aku adalah anggota ke 3, Kano. Untuk kegiatan grup, tidak ada! Gimanapun juga, ada tugas-tugas tertentu yang kita lakukan saat berada di dalam situasi bahaya~ Walau kita sebenarnya biasanya riang~"

"Haa.. Begitu..." Aku masih merasa kebingungan. Tapi dia memperkenalkan Anggota kelompok..? Gawat. Entah kenapa aku merasakan firasat buruk.

"Benar! Jadi kau bisa tenang, Shintaro-kun~"

Aku melihat wajah perempuan bernama Kido itu yang sudah menunjukkan tatapan menyeramkan di wajahnya, "Kano, omong kosong apa yang kau bicarakan?

"Ah gawat..."

"Ah!"

Perempuan itu memukul laki-laki Kano itu sampai mimisan.

'Eh, sepertinya aku merasakan de javu?'

"Shintaro-kun"

Saat mendengarnya, Aku mulai merasakan firasat buruk.

"Karena kau menemukan rahasia kita... Kita tak bisa membiarkanmu kabur..."

Aku mulai merasa gugup. 'Mereka menggunakan cara yang sama ke Momo!?'

"Maaf, ini salah orang bodoh ini... Mekakushi Dan #7 Shintaro, kau tidak punya alasan untuk menentang"

Sejak mendengarnya, di dalam hatiku, aku merasakan hatiku berteriak.


Aku dengan sekumpulan orang yang disebut gang bernama 'Mekakushi Dan' ini, berjalan di tengah panas teriknya matahari. Keringat bercucuran dari tubuhku. Aku merasakan tubuhku sangat kepanasan, ditambah badanku sudah basah terkena keringat yang bercucuran tersebut.

"Panas... Taman bermain apa... Aku tidak bisa mengatasi ini... Benar-benar tidak bisa..."

'Jika Ene tidak ada disini, aku sudah menolaknya...' pikirku, sambil masih membungkukkan badanku karena kepanasan.

"Hei"

Aku menoleh ke suara itu. Ternyata yang berbicara adalah gadis berambut hitam yang kira-kira namanya adalah Naisha..?

"...Ada apa?"

"Kau keringatan. Kenapa kau pakai jersey di hari panas gini?"

Dia menatapku sebentar, terlihat ia seperti memikirkan suatu ide atau sejenisnya. Lalu ia mendapatkan ide. Setelah mendapatkan ide itu, dia mengambil sesuatu di dalam kantong celananya. Lalu dia mengeluarkannya. Ternyata dia mengambil sebuah saputangan. Saputangan itu terlihat halus, bewarna putih, dan bahannya berkualitas, -yang sepertinya, terlihat mahal... Apa dia orang kaya...?

"Ini, kau pakai saja" katanya dengan tersenyum sambil menyerahkan saputangan itu kepadaku.

"Eh? Umm..." Aku menatap saputangannya beberapa saat. Aku merasa tidak enak... Masa aku meminjam sesuatu yang mahal?

"G-Gak usah deh..." ucapku sambil mengembalikan lagi saputangan itu kepadanya

"Kenapa?"

"I-Itu... Kau gak tau kalau saputanganmu itu kelihatan mahal?" Aku menunjuk saputangannya yang sudah kukembalikan.

"Benarkah?" katanya sambil memperhatikan saputangannya dari berbagai arah dengan cara mengangkatnya dengan kedua jarinya

"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Momo yang mulai penasaran dengan pembicaraan kita.

"Oh, Momo. Tidak... Aku merasa saputangannya itu terlihat mahal"

"Eh, saputangan apa?" Momo melihat saputangan yang dipegang oleh Naisha. Ia mulai terkejut.

"Eh!? Saputangannya bagus! Aku belum pernah melihat yang seperti ini..."

Naisha yang mendengarnya, memiringkan kepalanya dan berkata, "Bukannya ini biasa saja...?"

"Ini jelas kelihatan mahal!" ucap Momo sambil mengagumi saputangan itu.

"Ada apa?" sela... Ryoto? yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah kita.

"Cuma masalah saputangan kok. Hehe" Naisha tersenyum kecil, yang terlihat di wajahnya.

Aku menatap sekilas laki-laki dengan hoodie mirip katak itu dan bertanya, "Kau... Siapa? Ryoto?", ucapku menyela sedikit pembicaraan mereka.

Momo memukul perutku dan mulai menegurku. "Kakak! Nama dia itu Taketo! Kau selalu tidak pernah mengingat nama orang..."

"Kau salah. Nama dia adalah Seto", ucap Mary dengan menekankan kata Seto dengan tanpa ekspresi pula.

Kami berdua terdiam. Merasa bersalah mengucapkan nama yang salah di depan orangnya. Sementara, Naisha menahan tawanya.

"Tidak apa-apa kok! Ryoto dan Taketo nama yang keren!", katanya dengan tersenyum. Dia melanjutkan perkataannya. "Ngomong-ngomong, apa di 2 abad lalu ada taman bermain?" tanya Seto kepada Naisha untuk mencari topik baru

'2 abad lalu...?'

"2 abad lalu? Maksudmu?" tanyaku mulai penasaran

"Ah iya, kau belum tau ya? Naisha-chan itu dari 2 abad lalu"

"Eh...? EEEEHHH!?" teriakku karena sangat, sangat, sangat terkejut.

'Tunggu'

Kalau dipikir-pikir, itu 'Sangat tidak mungkin'...

"Tunggu! Itu gak mungkin kan?" lanjutku sambil mengeluarkan senyuman kecil yang kupaksakan.

Naisha yang mendengar perkataanku, dengan yakin, melangkahkan kakinya mendekatiku.
"Benar kok. Tapi aku dari Indonesia. Kalau gak percaya, aku akan sebutkan apa yang berbeda walau cuma sedikit..."

Aku tersenyum sedikit. Tapi senyuman itu pasti terlihat sedikit mengejek bagi mereka. "Palingan kau juga hanya asal menyebut"

Aku melihat wajahnya lagi. Dia terlihat marah dan kedua alisnya berkerut dengan cemberut. Aku membuatnya marah, ya...?

"Huh!" Dia -masih dengan wajah cemberutnya- segera memalingkan wajahnya dariku.

'Uh, dia benar-benar marah?'

"He-Hei..." ucapku berusaha menenangkannya dengan rasa bersalah di hatiku.

"Cklek!"

'Cklek'?

Aku mencari sumber suara tersebut. Ternyata suara itu berasal dari Naisha. Dia membawa sebuah HP di tangannya dengan posisi memfoto, tepat di depanku. Tunggu, memfoto di depanku? Dia memfotoku?

"Heheh, reaksimu menarik", katanya sambil melihat hasil fotonya itu

"A-Apa-?" ucapku, masih kebingungan

"Tidaaak~"

Setelah itu, dia berjalan santai sambil bersenandung layaknya seseorang yang mendapatkan sesuatu yang menarik.

'Apa-apaan perempuan itu? Gadis aneh..'

Setelah itu, aku juga mendengar beberapa suara tawa yang terdengar ditahan-tahan. Aku menengok ke arah belakangku.
Momo, tertawa dengan tubuhnya yang sedikit bergetar.
Seto, suara tawanya terdengar kecil karena menahannya dengan memegangi perutnya.
Mary, dia hanya tersenyum kecil yang ekspresinya itu terlihat senang.
Dan Ene, tertawa terbahak-bahak sambil menggoyangkan kedua kakinya keatas.

"Hei, apa-apaan kalian?" kataku kepada mereka, yang masih sibuk tertawa.

"Tidak... Lucu saja kakak bisa dikerjain oleh seorang gadis" gumam Momo yang masih terus tertawa.

"Hei, ini gak lucu! Dan aku gak merasa dikerjain!", kataku dengan menaikkan salah satu alisku.

"Tidak kok... Tidak ada apa-apa kok, Shintaro", ucap Seto dengan tersenyum. Lalu dia mulai tetap berjalan pelan di belakangku sambil menggendong Mary di punggungnya.

"Hihihi~"

Aku mendengar suara tawa Ene juga yang sudah mulai mereda. Tapi, tawa nya dia lebih tidak enak didengar. Terasa dia juga sedang mengerjaiku juga. Aku menundukkan kepalaku dan melihat Ene yang sedang menutup mulutnya.

"Oi, kenapa kau tertawa?"

"Tidaaak kok~"

Setelah mengucapkan hal yang tidak meyakinkan itu, Ene memindahkan dirinya ke HP Momo sambil terus tertawa kecil.

'Tch! Mereka semua mengerjaiku! Apa yang terjadi sih!?'

Aku mulai merasa kesal karena merasa dikerjai mereka semua. Kemudian, aku melihat mereka semua berkumpul di belakangku dengan melihat isi HP yang dipegang oleh Naisha. Aku mulai menghampiri mereka. Tapi, tiba-tiba mereka mengalihkan pandangan mereka ke arah bis yang datang. Dari dalam bis itu, keluarlah Kido dan Kano yang sudah berjalan turun dari bis.

Momo menatap Kido dan Kano yang sedang turun dari bis itu dan berkata, "Itu Danchou-san? Ah, benar!". Momo melihat orang-orang yang juga turun dari bis tersebut. "Uwaah, banyak sekali orangnya. Aku akan menghubungi mereka melalui HP!"

Momo mengambil HPnya lalu menelpon ke nomor HP Kido. Setelah selesai menelpon, dia menutup teleponnya.

Aku menghampiri Momo dan tersenyum, "Kalau ada Kido dengan kemampuannya, kita bisa bermain sepuasnya ya".

Momo menoleh ke arahku. Dia tersenyum senang dan membalasku,
"Iya!".

Dia terlihat sangat senang mendapatkan teman-teman baru.

"Maaf, lama"

Aku melihat Kido, yang disusul dengan Kano, berjalan menuju kita.

Setelah itu, kita semua memasuki taman bermain. Kemudian, aku melihat sekeliling taman bermain itu, juga wahana di sekitarnya.

'Ada labirin es, roller coaster, rumah hantu, shooting game, dll... Taman bermainnya besar juga'.

"Ayo kita naik roller coaster!"

Terdengar suara Mary yang sangat bersemangat dengan mengepalkan kedua tangannya. Kedua matanya berbinar-binar.

'Tunggu, Roller Coaster? Gawat...'

"Sebaiknya aku mencari tempat untuk beristirahat"

Aku berusaha mencari alasan untuk kabur. Aku tidak ingin naik roller coaster. Sangat tidak ingin.

Aku mulai berjalan pergi menjauhi mereka. Tapi, sebelum aku dapat 'menyelamatkan' diriku, tanganku ditarik oleh Momo.

"Kau mau kemana? Ayo naik!"

"Tu-Tunggu...!"

Tanpa mendengarkanku, Momo terus menarikku.

Setelah itu, kita semua menaiki roller coaster itu. Di roller coaster itu, barisan paling depan, terdapat Seto dan Mary. Barisan kedua, ada aku, Ene -karena dia ada di dalam HPku- , dan Momo. Barisan ketiga, ditempati Naisha. Dan barisan terakhir, ditempati oleh Kido dan Kano.

Aku mulai panik dan ketakutan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya putaran-putaran itu.

Saat aku masih memikirkan tentang roller coaster ini, aku mendengar suara Naisha yang menyapaku, "Kau baik-baik saja? Jangan sampai muntah lho. Hehe"

Aku mengabaikan kata-katanya. Hal yang kupikirkan saat ini hanyalah, 'aku bisa mati...'

Mulailah roller coaster itu bergerak. 'Gawat, aku sungguh bisa mati'. Roller coaster yang kita naiki, berjalan menuju puncaknya kemudian siap-siap untuk turun ke putaran-putaran yang sudah bisa membuatku mual. Aku tahu kalau aku sudah sampai di bagian ini, aku tidak bisa kembali lagi. Tidak bisa.

Lalu, akhirnya, dalam beberapa detik yang sangat mengerikan itu, roller coaster mulai turun dan melaju sangat cepat.

Saat turun dan seterusnya itu, aku berteriak sangat keras sampai rasanya mau muntah karena putaran-putaran ini.

"Sangat menyenangkan!", Momo mengangkat kedua tangannya dengan gembira.

"Ini hanya selevel anak-anak...", gumam Kido dengan pucat.

"Ooh.. Selevel anak-anak ya", kata Kano sambil sedikit menyengir.

"A-Aku tidak tahu kalau ada putaran yang kebalik...", Naisha menutup mulutnya dengan wajah yang pucat juga.

"Shintaro-san, kalau kamu tidak turun, orang yang mau masuk tidak bisa menempati", ucap Mary kepadaku.

"Uh..."

Rasanya... Aku benar-benar ingin muntah...

"Kakak?", Momo mendekatiku karena aku belum turun dari roller coaster tersebut.

Wajahku sekarang ini pasti terlihat lebih pucat dari Kido maupun Naisha. Aku benar-benar mual. Rasanya ada yang memaksaku untuk mengeluarkan sesuatu dari mulutku.

Saat itulah, aku muntah.

Setelah melihatku muntah, semua anggota Mekakushi Dan langsung panik.

Aku duduk di bangku panjang bersama Kano untuk beristirahat. Sementara Momo, Ene, Mary, Naisha, dan Kido sudah pergi untuk menaiki roller coaster itu sekali lagi. Aku menghela nafasku untuk menenangkan diriku dari rasa mualku. Lalu, aku merasa ada sesuatu yang dingin yang ditempelkan di pipiku. Aku berteriak karena terkejut dan langsung segera menoleh ke belakang. Ternyata itu adalah Seto yang menempelkan minuman kaleng di pipiku.

"Kau membuatku kaget!", teriakku kepadanya sambil memegang dadaku.

Dia tersenyum, lalu memberikan minuman kaleng itu kepadaku.

"Maaf, maaf. Soalnya kamu terlalu terbuka"

"Memangnya kau apa!? Seorang samurai!?", ucapku kepadanya.

Seto yang mendengarnya, tertawa. "Hahaha! Yah, sangat menyenangkan bisa bermain bersama semuanya seperti ini, kan?"

"Itu benar! Ini pertama kalinya kita bisa melakukan hal seperti ini, kan? Lagipula biasanya kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu setiap hari, Seto~", balas Kano dengan tersenyum santai.

Aku masih terus duduk sambil membungkuk. Aku hanya diam di tengah-tengah pembicaraan mereka berdua yang terlihat seru itu. Sampai aku mendengar Kano menyebut nama adikku, dengan sengiran di bibirnya.

"...Yah, Seto, menurutmu gimana Kisaragi-chan~?"

Seto menjawabnya, "Dia benar-benar anak yang sopan dan baik! Aku tidak menyangka kalau dia itu adalah idola!"

"Iya kan? Saat Kido membawa dia, aku sangat terkejut, kau tahu? Wajah kebingungan Kido waktu itu... Kukuku"

Lalu, Kano melanjutkan kata-katanya lagi.

"Dan juga ada Ene-chan! Gadis itu datang muncul keluar dan juga gadis yang baik, ya!"

Aku hanya diam mendengarkan mereka. Lalu mereka berbicara lagi.

"Tapi, aku bingung apa yang terjadi dengannya, ya...? Apa ada seseorang yang menggerakkan dia dari suatu tempat?"

"Aneh, kan! Bagaimana caranya kamu bertemu dengannya pertama kali!? Apakah dia salah satu dari fads terbaru? Sebuah website kencan online atau sejenisnya?"

Aku mulai bereaksi dan berteriak kepada mereka, "Apa kau itu bodoh!?"

Seto melihat ke arahku dan berkata, "Sudah, sudah, Shintaro-san! Kita semua sudah datang kesini dan yang kita lakukan hanyalah bersenang-senang saja atau kamu akan kalah, kau tahu! Jadi..."

Aku merasakan firasat buruk dari nada bicaranya.

Seto melanjutkan perkataannya dengan gembira, mengedipkan salah satu matanya, juga mengarahkan ibu jarinya kepada dirinya, "Aku akan ikut denganmu dan kita bisa melakukan perjalanan dengan roller coaster lagi! Bagaimana!?".

"J-J-Jangan bilang 'Bagaimana'! Setidaknya, aku tidak akan naik itu lagi meski aku sudah berada di dunia berikutnya! Sebenarnya aku juga baik-baik saja walau kalian tidak menemaniku jadi pergilah ke suatu tempat...", lanjutku sambil berteriak pada Seto.

Karena mengucapkan hal seperti itu, aku mengingat sesuatu yang penting.

'Tunggu! Sekarang, Ene berpindah ke HPnya Momo... Yang artinya...'

Aku menelan ludahku dan melanjutkan berpikir.

'Bukankah ini kesempatan untuk mengepakkan sayapku sendiri...!?'

"Tidak ada waktu selain sekarang!", teriakku dengan tanpa sadar berdiri.

Seto dan Kano terkejut dan melihatku. Kano yang masih bingung, berkata, "Eh, Apa, Apa... Ada apa tiba-tiba? Perampasan?"

Aku berteriak ke arah Kano, "Kenapa perampasan!?". Lalu aku segera menggelengkan kepalaku dan memikirkan suatu alasan dengan cepat. "Tidak... Aku akan pergi jalan-jalan sendiri! Tapi, jangan ikuti aku! Bye!".

Setelah itu, aku langsung segera melangkahkan kakiku pergi dari mereka. Mereka berdua masih duduk terus menatapku dengan kebingungan dan tidak dapat berkata apa-apa.

Aku terus berjalan di tengah-tengah banyaknya orang dengan santai.
'Ya... Sudah berapa lama sejak aku tak punya waktu sendiri... Jika aku tidur, aku hanya akan langsung terbangun; jika aku menggunakan internet, aku pasti diganggu... Aku selalu hidup dalam ketakutan karena Ene. Sekarang... Aku dilepaskan dari kutukannya... Aku bebas!'

Aku mengangkat kedua tanganku lebar karena sangat senang terbebas dari Ene. Aku mulai menunjukkan ekspresi sangat bahagia dan mataku berbinar-binar sambil tersenyum lebar.

'Tapi, lihat aku sekarang! Aaaaaah! Ini hebat aku bisa sendirian!'

"Pffft!"

Terdengar suara tawa yang sepertinya kukenal dari belakangku. Aku memutar kepalaku ke belakang, dan melihat Naisha yang sedang menahan tawanya karena melihatku.

"Hahaha! Hebat sekali reaksimu! Coba ulangi sekali lagi! Hahaha!", kata Naisha sambil terus tertawa kencang.

Wajahku memerah karena dia melihatku seperti itu. Sejak kapan dia melihatku...

"Oi... Daritadi kau mengerjai-"

Sebelum aku menyelesaikan kata-kataku, aku melihat kembali dia yang sudah terjatuh ke tanah. Aku segera mendekatinya dan membungkukkan badanku dengan panik.

"Ka-kau tidak apa-apa!?"

Aku menatap wajahnya. Tapi ia tidak bereaksi.

'Sepertinya ia pingsan... Apa yang harus kulakukan!?'

Aku menengok ke arah kanan dan kiri untuk mencari suatu ide. Lalu aku melihat bangku panjang untuk beristirahat yang kutempati tadi bersama dengan Kano dan Seto. Tapi Kano dan Seto sepertinya sudah pergi dari bangku itu.

Aku menengok kembali ke arah Naisha.

'Ini hanya akan kulakukan sekali... '

Aku memposisikan tangan kananku di belakang lehernya dan tangan kiriku di kakinya. Rambutnya yang tergerai, terasa lembut di tanganku. Wajahnya juga hanya 20 centi di dekatku.

Aku menggendongnya dan segera berjalan menuju bangku itu.

Sambil berjalan, aku menatap kembali wajahnya dengan berpikir, 'Kulitnya... Halus sekali...'

Lalu, aku sepertinya mulai menyadari apa yang kupikirkan. Pipiku kembali memerah dan memalingkan wajahku darinya.

'Uuh... Apa yang kupikirkan sih...'

Saat aku memalingkan wajahku darinya, aku melihat orang-orang yang menatapku dengan tersenyum dan bahkan ada beberapa orang yang wajahnya terlihat sedikit memerah. Mereka mengiraku apa dengan Naisha...? Apa-apaan mereka... Jelas-jelas dia sedang pingsan begini.

Tidak, tidak, tidak! Tidak usah pedulikan mereka. Tapi kenapa rasanya bangku itu jauh sekali? Panas...

Beberapa saat kemudian, aku tiba di bangku itu dan menaruh Naisha pelan-pelan di bangku dengan posisi tidur. Karena bangku ini cukup panjang, aku dapat duduk di sebelahnya dan membungkukkan tubuhku serta menaruh kedua tanganku di bawah daguku.

'Haaah... Harusnya aku bisa bebas, tapi dia pingsan... Aku tidak tega meninggalkannya'

"Shi-Shintaro..."

Aku mendongak ke atas karena mendengar seseorang memanggil namaku. Ternyata suara itu adalah Kido, yang juga sedang bersama-sama dengan Momo.

"KA-KAKAK! A-A-A-APA YANG KAU LAKUKAN PADA NAISHA-CHAN!?", teriak Momo dengan panik.

"Eh? Apa maksudmu?"

"Ka-kau ternyata...", kata Kido dengan suara kecil.

"Maksud kalian apa!?"

"KAKAK MENGGENDONG NAISHA-CHAN SAAT PINGSAN DAN SENYUM-SENYUM SENDIRI... JANGAN-JANGAN SAAT KAMI TIDAK MELIHAT KALIAN, KAU MAU MELAKUKAN SESUATU PADANYA!?"

Wajahku berubah dari merah menjadi sangat memerah dan membalas perkataan Momo.

"APA-APAAN PIKIRANMU ITU!? KEMARIN JANGAN-JANGAN KAU BACA KOMIK SHOUJO ATAU SEMACAMNYA, YA?"

"E-EH!? JADI BENAR KAKAK MAU MELAKUKAN SESUATU KE ORANG YANG BARU KAKAK KENAL!? MENJIJIKKAN!"

"OI! SIAPA BILANG!? KAU BACA KOMIK APA SIH!?"

"KA-KALAU BUKAN, BERARTI KAKAK MEMIKIRKAN HAL MESUM!? SOALNYA KAKAK ITU SELALU MELIHAT GAMBAR MESUM DI KOMPUTER KAKAK KAN?"

Aku terdiam.

'... Kenapa Momo tahu hal itu? Ini... Gawat... Apa karena dia diberitahu Ene?'

Setelah berpikir, aku mendengar suara menjengkelkan. "Hehe! Tadi aku merasakan Master senyum-senyum dan wajahnya memerah kok~ Mungkin dia memikirkan 's-e-s-u-a-t-u'?"

Terdengar suara 'gadis virus' dari dalam kantong celanaku. Dengan cepat, aku segera mengambil HPku. Terlihat 'ia' sedang tertawa senang.

Aku menempatkan HP itu tepat di depan mataku. "E-Ene!? Sejak kapan kau..."

"Kakak..."

'Glek'

Aku menurunkan HPku dengan sangat pelan lalu melihat kembali Momo yang sudah marah dengan mengepalkan tangan kanannya. Dia... Salah paham.

"TIDAK! DENGARKAN AKU DULU, MOMO..."

Tanpa mendengarku, Momo segera meninju perutku dengan keras.

Aku memegang perutku dengan kesakitan. 'Sakit...!'

Kido yang daritadi hanya memerhatikan Naisha tanpa memedulikan pertengkaran kami, berkata, "Kisaragi, sepertinya dia sudah bangun"

Momo mendekati bangkunya, tempat Naisha tertidur, dan melihat wajahnya dengan dekat.

"Belum tuh..."

"Tapi dia tadi seperti berbisik sesuatu..."

Momo berusaha diam dan mendengarkan Naisha. Aku juga mengikuti Momo. Aku melihat sedikit air mata mengalir dari matanya, juga mulutnya bergerak sedikit seperti mengigau. Jangan-jangan daritadi dia tertidur... bukan pingsan...?

"...Noel..."

Kami berempat mendengar igauan Naisha. Dia tadi berkata apa? Noel?

"Noel? Siapa itu?", ucap Ene sambil berpikir.

"... Tidak tau... Tapi dia terlihat sedih...", jawab Kido yang menatap wajahnya dengan serius.

Setelah mengigau, Naisha membuka matanya pelan-pelan. Dia mengambil waktu beberapa detik agar mengingat apa yang terjadi. Lalu dia membangunkan dirinya ke posisi duduk. Kami semua terus menatap dia. Walau kami menatapnya dengan serius, dia melihat kami pula dan tiba-tiba senyuman terlihat di wajahnya.

"Kalian semua kenapa? Haha, aneh sekali", ucapnya dengan senyuman indah yang terukir di wajahnya.

Kita berempat masih diam. Naisha menatap kami dengan bingung. Agar dapat memecah keheningan ini, aku bertanya dengan memberanikan diriku, "... Noel? Siapa itu?"

Dia sekilas terlihat kaget dan terus menatapku. Kemudian ia memalingkan wajahnya dari kami semua.

"... Bukan siapa-siapa... Tidak usah khawatir...", bisiknya sambil tersenyum. Tapi senyumannya kali ini terlihat dipaksakan.

Setelah itu, tidak ada satupun dari kami yang dapat memecahkan keheningan ini. Suasana ini seperti orang-orang yang mengadakan uji nyali saat tengah malam, tapi semuanya sangat ketakutan sampai-sampai tidak ada satupun yang berani berbicara apapun.

Tiga menit kemudian, Momo lah orang pertama yang berhasil berbicara lagi.

"Na-Naisha-chan! Apa kau ingin main lagi?"

Naisha mendongak agar bisa melihat Momo dengan jelas. Lalu dia menjawabnya dengan tersenyum,
"Tidak... Aku lapar. Kalau mau, kalian juga boleh pergi main kok! Aku disini saja! Aku akan cari makanan sendiri"

"Baiklah, ayo kita pergi, Kisaragi", ajak Kido.

"Eh?"

Kido mendekat pada Momo, Ene, dan aku, dan berbisik kepada kami.

"Kita biarkan dia disini dulu untuk menenangkan dirinya... Shintaro, belilah makanan untuknya"

"Kenapa aku?", protesku

"Sudah! Lakukan saja, Master!"

Aku menghela nafasku, "Ya, ya... Baiklah...", gumamku menyetujui Kido

Kido melihat ke arah Naisha lalu menghampirinya. "Kalau begitu, kami pergi main dulu. Shintaro akan membelikanmu makanan, jadi duduk sajalah disini".

Setelah itu, Kido membalikkan badannya lalu pergi menjauhi kami, disusul dengan Momo di belakangnya. Aku memerhatikan mereka sampai mereka tidak terlihat lagi.

"Master! Disana sepertinya ada crepe!"

"Ah iya, kita juga harus pergi"

Aku mulai berjalan pula ke arah yang ditunjukkan Ene. Aku terus berjalan lurus melewati banyak orang yang berjalan entah kemana. Kemudian, aku melihat toko crepe beserta orang yang menjualnya. Aku terus berjalan sehingga tibalah aku di depannya, memikirkan crepe mana yang kira-kira dia suka. Dengan saran Ene, aku memilih crepe yang sederhana, yaitu rasa coklat keju. Aku takut salah membeli crepe yang nantinya mungkin akan terasa ekstrim di lidahnya sehingga ia tidak menyukainya. Dia bilang dia berasal dari 2 abad lalu kan? Yah, walau aku kurang percaya, tapi setidaknya aku mempercayainya sedikit. Kalau dia dari masa lalu, aku yakin dia akan merasa aneh pada crepe rasa ramen, crepe rasa kare, crepe rasa tuna, dan semacamnya. Aku sendiri sudah mual mendengar nama crepe nya.

Masih berjalan kembali ke tempat dimana Naisha berada dengan membawa crepe untuknya di tangan kananku dan HPku di tangan kiriku, aku sudah dapat melihat Naisha. Aku mengangkat sedikit crepe di tanganku dengan refleks dan berusaha memanggilnya.

"Naisha"

Dia tidak mendengarku. Sepertinya dia terlalu serius sampai tidak mendengarku... Terlalu serius?
Tunggu, siapa itu?

Aku melihat satu orang lagi yang berdiri di depan Naisha. Laki-laki itu berambut hitam ikal sedikit dengan pakaian formal, atau... pakaian butler?

'Siapa laki-laki itu?', pikirku sekali lagi.

'Orang itu... Sepertinya mengenal Naisha juga sebaliknya...?'

Aku tahu kalau aku tidak boleh ikut campur. Cuma, nanti aku yang kena marah Momo atau Kido, bahkan seluruh Mekakushi Dan kalau salah satu anggota mereka diculik atau apa...

Dengan membawa crepe dan HP di kedua tanganku, aku berjalan menghampiri mereka...


"The warmth of the sunlight was like what I felt the times I dozed at the classroom window seat, and it seemed as if "that familiar voice" was talking to me."

-Shintaro


Author's Note : yak! Akhirnyaaa... Ngomong-ngomong percakapan Seto dan Kano kusingkat agar tidak terlalu panjang. Dan ada beberapa adegan lainnya yang kusingkat pula. Aku gak sadar kalau chapter kali ini sangat panjang! Jadi nikmati sajalah XD
Terima kasih sudah membaca sampai chapter kedua!