Bleach Disclaimer: Tite Kubo
Warning: OOC, Typo, Gaje.
Fic Khusus Untuk Usia 18+. Kurang dari itu mohon tekan tombol BACK
Setting Cerita Setelah Fullbring Arc (Bener gitu gk tulisannya?)
Love of an Adopted Brother
Chapter: 3
"Pulang." perintah Byakuya dengan arogannya.
"Tapi, Nii-sama..."
"Ada misi untukmu."
"Baiklah, Nii-sama."
Rukia pun bangkit dari posisinya yang berlutut dan berjalan mendekati gerbang Senkaimon yang masih terbuka dengan posisi Byakuya yang masih berdiri di sisi gerbang tersebut.
"Oi, Rukia!" panggil Ichigo.
"Sampai jumpa lagi, Ichigo. Aku pulang dulu."
Setelah Rukia memasuki gerbang Senkaimon, Byakuya pun membalikkan badannya dan memposisikan tangan kirinya di bahu Rukia, lalu menoleh kebelakang, menoleh Ichigo yang dalam keadaan masih terikat dengan tatapan yang tajam dan dingin. Ichigo hanya bisa melotot dengan tatapan Byakuya barusan. Saat pintu Senkaimon telah tertutup sepenuhnya, barulah ia berteriak.
"Oi, siapa yang akan melepaskan jurus ini dari tubuhku!"
(Tenang Ichigo, mungkin Kurosaki Isshin bisa membantumu.)
Ichigo meresapi tatapan Byakuya pada dirinya tadi. Seolah-olah mata Byakuya mengatakan padanya untuk tak menyentuh Rukia.
"Apa-apaan tatapan itu..."
Sesampainya di Soul Society, Rukia masih terdiam, berjalan di sisi Byakuya tanpa ada salah satu dari mereka yang memulai pembicaraan. Rukia masih shock atas apa yang yang kakaknya lihat tadi. Hampir saja Byakuya melihat Ichigo dan dirinya akan berciuman. Eh, tapi tunggu dulu! Apa dengan saling mendekatkan wajah berarti mereka akan berciuman?
Blush
Mengingat itu lagi wajah Rukia menjadi merah, dia sangat malu. Tapi tidak, dia harus melupakan masalah itu. Rukia baru ingat kalau tadi Byakuya menyuruhnya pulang karena ada misi,kan? Berarti dia harus fokus terhadap misi yang akan dia jalani tersebut.
"Ano, Nii-sama."
"Hm."
'Jutek seperti biasanya' kata Rukia di dalam hatinya.
"Apakah misi yang akan aku terima atas perintah dari Ukitake-taichou?"
"Ya, kuharap kau segera menemuinya."
"Baiklah, saya akan segera kesana. Saya mohon pamit, Nii-sama." Rukia memberi hormat kepada Byakuya sebelum dirinya pergi meninggalkan Byakuya.
"Ukitake-taichou, maaf saya mengganggu." salam Rukia saat telah sampai di ruang kerja Juushirou Ukitake.
"A, Rukia. Silahkan masuk."
"Saya mendengar dari Byakuya-taichou bahwa saya akan menjalankan sebuah misi."
"Ah, itu benar. Menurut laporan yang aku terima dari Yamamoto-soutaichou, ada hollow jenis adjuchas yang akhir-akhir ini menyerang penduduk kota Karakura. Kebanyakan korban adalah laki-laki semua dengan hilangnya tubuh kasar mereka dan hanya meninggalkan pakaian mereka tanpa meninggalkan jejak lainnya."
"Itu benar-benar aneh." sela Rukia ditengah penjelasan kaptennya yang panjang lebar.
"Ya, mengingat kekuatan adjuchas setara dengan kekuatan para wakil kapten, jadi aku menugaskanmu untuk menyelesaikan masalah ini. Kalahkan adjuchas tersebut, Rukia."
"Baik, Ukitake-taichou!"
"Kau akan melaksanakan misi ini dengan Kurosaki Ichigo. Kau pasti senang kan, Rukia?"
"Ta..taichou!" wajah Rukia sedikit memerah karena perkataan kaptennya tadi.
"Hahaha aku bercanda Rukia. Baiklah besok pagi kau boleh berangkat kembali ke kota Karakura, bersiap-siaplah."
"Baiklah. Saya mohon pamit, taichou."
"Ya, berhati-hatilah, Rukia."
Kini Rukia sedang berjalan di kediaman Kuchiki, ingin bersiap-siap untuk keberangkatannya ke kota Karakura besok. Saat dia sudah sampai di depan kamarnya dan menggeser pintu kamar, betapa kagetnya dia melihat sosok Byakuya tengah berdiri di depannya, lebih tepatnya dikamarnya sendiri.
"Byakuya Nii-sama!" kaget Rukia.
"Kau sudah kembali." kata Byakuya dengan nada yang datar.
"Apa yang Nii-sama lakukan di sini?"
"Seluruh tempat di kediaman Kuchiki ini adalah milikku, Rukia. Aku bebas melakukan apa saja di tempat yang menjadi hak milikku. Termasuk di kamarmu sendiri."
"Ma..maafkan saya, Nii-sama."
"Rukia aku ingin bertanya padamu."
"Ya, Nii-sama."
"Sudah sejauh mana hubunganmu dengan bocah Kurosaki itu?"
"A...apa... Nii-sama, kami hanya berteman biasa. Selayaknya aku dengan Renji, seperti itulah hubungan kami."
"Lalu, apa yang kulihat saat aku menjemputmu tadi?"
"Itu... Hanya kecelakaan, Nii-sama."
"Kalau aku tidak datang, apa yang kira-kira akan kalian lakukan?"
"Tidak ada, Nii-sama! Sudah saya katakan, itu hanya kecelakaan."
"Berdua saja, dikamar seorang lelaki dengan posisi seperti itu." Byakuya mengintimidasi Rukia dengan perkataannya yang bertubi-tubi seperti hendak menginterogasinya.
"Nii-sama... Saya..." Rukia tak bisa lagi berkata apa-apa. Bibirnya terasa kaku untuk berucap. Rasa takut menguasai dirinya, takut Byakuya akan marah atau menghukum dirinya.
Byakuya mendekati Rukia yang tengah gugup saat ini. Tangannya menggenggam tangan kiri Rukia dan mencengkramnya hingga Rukia meringis kesakitan.
"Nii-sama, sakit. Maafkan saya, Nii-sama." rintih Rukia.
"Apa kau menyukai lelaki itu, Rukia?" tanya Byakuya sambil menatap mata Rukia, seolah-olah dia bertanya pada mata Rukia dan ingin menemukan jawaban dari mata violet tersebut. Rukia yang ditatap seperti itu merasa sangat gugup dan hanya bisa mengalihkan pandangannya dari mata Byakuya.
"Ti...tidak Nii-sama, kami hanya teman."
"Kalau aku?"
"Eh?" tanya Rukia bingung atas pertanyaan Byakuya.
"Apa kau menyukaiku, Rukia?"
"Nii-sama! Tentu saja aku menghormati dan menyukai Nii-sama."
"Sebagai apa?"
"Nii-sama adalah kakakku. Benar, kan?"
Byakuya pun melepaskan cengkramannya dari tangan Rukia. Dan langsung pergi meninggalkan Rukia yang masih bingung dengan pertanyaan Byakuya tersebut.
'Jadi hanya sebagai kakak.' Hatinya sedikit sakit mendengar jawaban Rukia. Ya, dia memang adalah kakak Rukia. Kakak adopsinya. Tapi perasaannya pada Rukia bukanlah sebatas kakak dan adik lagi. Melainkan perasaan cinta seorang pria terhadap seorang wanita. Sayangnya perasaannya sama sekali tak mendapat balasan yang sama dari sang wanita.
Malam itu, Byakuya tidur dikamarnya dengan pikirannya yang masih kalut tentang Rukia. Dia sedikit gelisah, seperti ada yang mengganggu tidurnya. Dirasakannya ada sentuhan dan belaian yang lembut di dada bidangnya. Byakuya pun membuka matanya dan terkejut atas apa yang dia lihat. Sesosok yang cantik bagaikan dewi malam berkimono tidur warna putih berada di atas tubuhnya sambil membelai-belai dada bidangnya.
"Rukia, apa yang kau lakukan disini?" tanyanya pada sosok tersebut.
"Apakah ini menjawab pertanyaanmu yang tadi, Nii-sama?"
"Kau... Hentikan dan segera tinggalkan kamarku.""
"Maaf, Nii-sama. Apa Nii-sama marah padaku atas kelakuanku ini?"
"Rukia!"
"Nii-sama tak akan mungkin bisa marah padaku, kan? Karena, Nii-sama mencintaiku."
Byakuya membelalakkan matanya atas pernyataan Rukia.
"Benar, kan? Nii-sama..." tanya Rukia lagi.
Byakuya tak bisa mengelak, dia memang mencintai Rukia. Sambil menunggu jawaban Byakuya, gadis itu mulai mengincar bagian bawah Byakuya, mengelusnya dengan lembut dan penuh perhatian. Hal ini membuat milik Byakuya mengeras dengan cepatnya, membuat Rukia sedikit takjub.
"Diam berarti benar." kata Rukia. Kini tangannya mulai membelai wajah Byakuya.
"Rukia, kau tahu apa yang tengah kau perbuat padaku? Hentikan sekarang Rukia!" perintah Byakuya.
Rukia hanya diam, menatap mata kelabu milik Byakuya dalam-dalam. Dengan perlahan wajahnya mendekati wajah Byakuya sehingga bibir mereka saling bertemu satu sama lain. Byakuya yang mendapat perlakuan seperti pun terkejut bukan main. Tak pernah dirinya menyangka seorang Rukia bisa bertindak agresif seperti ini. Bagaimanapun juga, Byakuya adalah seorang lelaki yang jika mendapat perlakuan seperti itu oleh yang dicintai, tak akan bisa menolak. Byakuya pun membalas perilaku Rukia tersebut, membalas ciumannya dan mencoba untuk menerobos masuk ke dalam mulut Rukia untuk menemukan lidahnya. Rukia pun membuka bibirnya, memberi jalan bagi Byakuya sehingga lidah mereka saling bertemu, saling mengait menukarkan saliva mereka. Ciuman tersebut berubah menjadi ganas selama beberapa menit sampai akhirnya mereka membutuhkan oksigen dan melepaskan ciuman panas tersebut.
"Haah... Haah... Nii-sama." nafas Rukia tersengal-sengal, mencoba menghirup oksigen lebih untuk paru-parunya.
Tangan Rukia pun tak berhenti membelai-belai tubuh Byakuya sehingga membuat hormon pria tersebut bangkit. Dia pun melakukan hal yang sama, membalas Rukia dengan membelai punggungnya. Masih dengan posisi Rukia yang berada di atas tubuhnya, Byakuya menarik kimono tidur Rukia sedikit kebawah sehingga memperlihatkan bahunya yang mulus. Melihat itu, Byakuya membalikkan tubuh Rukia, memposisikan gadis itu dibawah tubuhnya dan mulai melepas semua yang menutupi tubuh Rukia hingga polos tak menyisakan sehelai benangpun. Byakuya menyentuh dada Rukia yang walaupun ukurannya pas-pasan, tapi bisa membuat pria itu terpesona. Dia sedikit melirik ke arah Rukia, dilihatnya mata Rukia yang terpejam saat dia menyentuh dada itu. Byakuya tak tahan melihat ekspresi Rukia, langsung saja dia melumat dada Rukia dengan lembut.
"Umhh... Nii-sama." desahnya.
Byakuya tak menghentikan aksinya, dirabanya milik Rukia yang sudah basah.
"Sejak kapan kau sudah sebasah ini, Rukia?"
Tanpa menunggu jawaban Rukia, Byakuya memasukkan dua jarinya ke dalam milik Rukia. Mengeluar-masukkan jarinya dengan cepat hingga jarinya sendiri basah karena cairan Rukia.
"Ohh... Nii-sama... Aku tidak bisa menahannya lagi! Ughh..!" Rukia mencapai klimaksnya.
Byakuya sudah merasa miliknya sangat sesak, ingin merasakan milik Rukia. Pria itupun menanggalkan kimono tidurnya sendiri hingga menunjukkan miliknya yang sangat terlihat gagah dan kokoh di depan Rukia.
"Rukia, apa kau yakin dengan ini? Aku akan menghentikannya sebelum terlambat."
"Lakukan, Nii-sama. Aku mohon..." pinta Rukia dengan wajah yang memelas.
Tanpa pikir panjang lagi, milik Byakuya mengambil posisi di depan milik Rukia, mencoba menerobosnya. Dengan beberapa kali hentakan, miliknya sudah berada di dalam milik Rukia.
"Umhh... Lakukan, Nii-sama. Lakukanlah..."
Mendengar permintaan itu, Byakuya mulai menggerakkan pinggulnya. Rasa nikmat telah menguasai tubuhnya dengan cepat.
"Kau sangat cantik, Rukia. Kau sangat nikmat." bisiknya di telinga gadis itu.
"Nii-sama, aku... Tidak tahan lagiii! Aaaakhhh...!"
Rukia telah mencapai klimaksnya, Byakuya semakin mempercepat gerakannya sehingga dirinya pun mencapai klimaksnya saat itu juga. Saat semua itu berakhir, Byakuya memejamkan matanya dengan peluh yang menetes di tubuhnya. Dia ingin menggenggam tangan Rukia dan memeluknya kembali, tapi dimana Rukia? Mengapa Rukia menghilang begitu saja?
"Rukia!"
Teriak Byakuya di atas futonnya. Saat itu juga dia baru menyadari ada yang aneh dengan dirinya. Dia masih memakai kimono tidurnya dengan lengkap dan keadaan futon dan selimutnya terlihat masih sangat rapi. Ternyata dia hanya bermimpi.
"Hmph... Mimpi."
Tanpa Byakuya sadari, ada sosok Rukia yang berdiri mematung di depan pintu kamar Byakuya. Gadis itu menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya. Mata violetnya melebar dengan sempurna atas apa yang gadis itu dengar dari dalam kamar Byakuya.
"Nii-sama..."
To Be Continue
Author's Note:
Kyaaaaaaaaaaa! Maafkan Saya! Saya telah membuat Byak-kun menjadi memalukan seperti ini! Saya pasti bakal dihajar oleh Byakuya FC! Ah iya, chapter yang kemarin-kemarin terlalu pendek, habisnya saya updatenya terlalu cepat sih. Kalau untuk mengupdate chapter yang panjang, sepertinya butuh waktu yang lama untuk mengupdatenya. Maaf ya minna. Untuk para reviewers, terimakasih sudah memberi saya masukan atas fic gaje saya ini ya, sebagai author baru saya harus lebih banyak belajar lagi.
snow: Apa benar fic ini menarik? Terimakasih ya sudah direview.
ChappyBerry Lover: Haha iya maaf ya chap 2 lebih pendek drpd chap 1. Semoga chap ini bisa lebih panjang daripada yg kemarin.
Crystalline Arch: Iya saya ada masukin sedikit filler di animenya, saya bahkan lupa mencantumkan peringatan filler nya di chap 2 karena terburu-buru.
Miss K: Saya sudah berusaha membuat chap ini sedikit lebih panjang, yang kemarin jadi pendek karena updatenya kecepatan. Maaf ya kalau fic ini sedikit membosankan. Saya akan lebih berusaha lagi.
joshua-sama: wah kalau Ichigo langsung dibunuh saat itu juga kasihan Rukia dong, bisa pingsan ditempat dia. Hehe.
Mikyo: Tentu saja Byakuya cemburu kalau posisi mereka seperti itu. Ini udah update, Thanks ya udah review.
Kinkyou Sou: Thanks ya udah direview, senpai! Chap ini ada lemonnya sih tapi sayang, cuma mimpi tuh hahaha. Apakah chap ini sudah sedikit lebih panjang? Hikz. Ahhh Senpai! Maaf ya aku adalah silent reader di fic mu yang berjudul PROTECT YOU, kapan diupdatenya senpai? Penasaran sama cewek yang ada dalam masa lalunya Ichigo.
