AKU BUKAN YANG PUNYA XXX HOLIC KARENA AKU TIDAK SEJENIUS PARA LADY CLAMP. KALAU AKU YANG PUNYA, GENRE XXX HOLIC BAKAL BERUBAH 100 % JADI SHONEN AI.

3

Vision

x

x

x

Doumeki sangat akrab dengan neneknya sebelum ia meninggal. Wanita itu selalu menyambutnya dalam dekapan yang tidak pernah ibunya berikan. Apa yang selalu diingatnya tentang wanita itu adalah ia selalu memakai kimono dan monstuki yang indah. Warnanya merah tua dengan pola bunga teratai. Tapi neneknya sering sakit. Sampai suatu hari, ia tahu bahwa semua itu adalah konsekuensi menjadi seorang peramal. Setiap pengelihatan masa depan yang neneknya lakukan akan memberikan dampak pada dirinya, berupa luka dan rasa sakit.

Kakeknya pernah berkata, suatu hari ia akan memiliki peramalnya sendiri. Tugasnya untuk melindungi peramal itu, seperti peramal itu melindungi klan. Pada usia lima belas tahun, Doumeki mulai belajar apa arti menjadi pemimpin, apa arti seorang peramal untuknya. Tapi peramalnya tidak pernah datang dan Haruka juga meninggalkannya.

Tiba-tiba saja, Doumeki berdiri sendirian di puncak kekuasaan klan Doumeki.

Awalnya ia gamang, tapi pamannya, Asado, dan kepala pengawalnya, Kurogane, membantunya.

Tapi ia tahu, masih ada yang kurang.

Peramal klan.

Peramal klan bukan hanya pelindung, ia juga simbol dan kharisma suatu klan. Sejak ratusan tahun yang lalu, klan Doumeki memiliki peramal terkuat. Selalu peramal yang diusulkan oleh penyihir Yuuko. Tanpa peramal klan, Doumeki tahu, sekalipun tidak tampak, namun grup Doumeki dalam kondisi krisis. Banyak yang membelot, banyak klan-klan baru meragukan kekuasaannya. Ia membutuhkan peramal klan, segera. Tapi bukan yang diusulkan Jorogumo! Wanita itu selicik julukannya, tapi ia memiliki kekuasaan terlalu besar untuk tidak dihiraukan. Dan sekarang wanita itu mencoba memaksakan kandidatnya.

Naomi menatapnya dengan mata itu lagi dan senyumnya yang mengerikan. Lalu berkata, "Tidak ada ruginya menerima peramal ini," ia menepuk paha pemuda itu, "Kalau kau belum yakin, kau bisa tidak menjadikannya peramal klan."

Kimihiro masuk sambil membawa set minum teh, mata pemuda itu menyapu ke arah tamunya, dahinya berkerut. Shizuka menangkap eskpresi itu dan penasaran, tingkah Kimihiro seakan tahu jika Naomi wanita yang jahat. Kimihiro meletakkan cangkir di depannya. Pandangan mereka bertemu, ada kecemasan dimatanya sebelum ia menurunkan padangan. Mengejutkannya, Kimihiro tidak pergi, diam-diam ia duduk dibelakangnya.

Doumeki tidak mempermasalahkan itu.

Ia mengambil cangkirnya, menyesapnya. Sempurna.

Pada Naomi ia berkata, "Aku tidak bisa melakukannya, kau tahu. Tata caranya tidak begitu."

"Tapi kau membutuhkan peramal," wanita itu tersenyum.

"Benar."

"Yuuki sangat kuat."

Shizuka menyapukan pandangan sekilas pada pemuda itu, tanpa ekspresi. "Tak diragukan lagi. Tapi aku tidak bisa menerimanya."

Mata wanita itu berkilat, "Tiga hari. Hanya tiga hari kau akan tahu dia berguna."

Shizuka menghela napas. Ia bisa merasakan Kimihiro tegang di belakangnya. Shizuka tidak bodoh. Apa yang bisa dibuktikan dari seorang peramal dalam waktu tiga hari? Kecuali Jorogumo memiliki rencana lain yang lebih berbahaya. Shizuka berdiri. "Kurasa tidak ada yang harus kita bicarakan. Sementara kalian bisa menginap di kamar tamu." Shizuka akan mengingat memasang pengawalan penuh untuk mereka.

"Kau akan menyesal," kata wanita itu.

Tapi Shizuka tidak berkata apapun. Ia memberi isyarat pada Kimihiro untuk mengikutinya.

Di koridor yang sepi ia berkata. "Bagaimana pendapatmu tentang Naomi dan peramal yang dibawanya."

Kimihiro mengerjap. Ia membuka mulut dan menutupnya kembali. Shizuka dengan sabar menunggu, mengamati bibir merah itu bergetar dan pipinya merona. Ia tidak berhenti menatap.

"Yah... aku tidak bisa berkata banyak. Wanita itu sepertinya berbahaya dan pemuda bernama Yuuki itu..." ia menyipitkan mata, "Tidak berbahaya, tapi ambisius..." Kimihiro merapatkan bibirnya.

Intuisi yang bagus.

Shizuka mengangguk puas. Pergi ke kamarnya, ia berkata, "Makan malam nanti aku ingin makan tempura."

"K-kau!"

Shizuka menoleh ke belakang, menaikkan sebelah alisnya. Kimihiro menyadari itu dan pipinya merona. Bibirnya mencabik saat bergumam, "Tempura... uh..." Shizuka tersenyum diam-diam.

xxXxx

Doumeki menyadari kedatangan Kimihiro sambil membawa nampan berisi set minum teh. Langkahnya terhenti saat menyadari jumlah orang sudah bertambah, tidak hanya Doumeki yang ada disana, tapi juga Kurogane dan Yuuki. Kimihiro menyipitkan mata.

Yuuki melihat Kimihiro dan berkata, "Apa kau tidak membawakan teh untukku juga, pelayan?"

Doumeki terhibur dengan ekspresi Kimihiro, gabungan antara kesal, terkejut dan menahan semua perasaan itu. Matanya bersirobok dengan mata biru membara itu. Alis Kimihiro berkedut. Pelayan itu memilih tidak menanggapi Yuuki dan malah bertanya pada Kurogane. "Apa kau juga ingin teh, Kurogane?"

"Tidak." Doumeki bisa merasakan kejengkelan Kurogane. Kemungkinan besar karena perkataan kasar yang dilakukan Yuuki pada Kimihiro. Kurogane punya kekaguman khusus pada Kimihiro yang membuat pria itu memahaminya. Membuat Doumeki semakin penasaran.

Tak lama, Kimihiro kembali sambil membawa cangkir. Mengisinya penuh dan meletakkannya di atas nampan dengan suara tuk yang keras. Kimihiro jengkel. membuat Doumeki semakin ingin menggoda pemuda itu. Tapi ia menahan diri. Mata biru itu sekali lagi bersirobok dengan miliknya, dan rona merah muda menjalar di pipi pucat itu. Mata Doumeki setengah tertutup saat memandang reaksi menarik itu. Ujung bibir Kimihiro berkedut.

Di sebelahnya Yuuki bicara, "Kau tahu, kau bisa memanfaatkanku, Doumeki-sama..." kata Yuuki. "Aku bisa berguna untukmu."

"Hn," cara membujuk yang murahan, bantin Doumeki.

Kimihiro tersenyum miring. Doumeki menaikkan sebelah alisnya.

Menyadari tatapannya, Kimihiro bertanya dengan pipi merah, "Ada lagi yang kau inginkan?" Kimihiro tidak bisa menahan kejengkelan dalam suaranya.

"Minumlah teh bersamaku."

Kimihiro kini benar-benar jengkel. "Jika kau tidak keberatan, Doumeki-san. Aku harus mengambil jemuran karena sebentar lagi akan hujan."

Ia melirik langit yang sangat cerah.

Kimihiro melontarkan tatapan jengkel, "Sebentar lagi akan hujan," gerutunya sambil beranjak pergi.

Dugaan Kimihiro benar. Hujan deras datang tiba-tiba, mengguyur dengan lebat. Ia mencari pemuda itu dan menemukannya duduk di atas tatami, melipat pakaian bersih. Taman yang tampak dari pintu geser yang terbuka menjadi latar belakangnya. Seandainya ia memakai kimono, alih-alih kemeja putih dan celana jins, tampilannya sempurna seperti lukisan. Tapi jins itu tidak tampak buruk juga dipakainya. Doumeki bisa melihat jelas bentuk tubuh ramping dan indah miliknya.

Jangan dipikirkan lebih jauh.

"Jadi kau koki, sekaligus tukang cuci dan peramal?"

Alis Kimihiro berkedut. Kecemasan dan rasa takut berkilat dimatanya. Doumeki mengerutkan kening.

"Apa yang kau lakukan disini?" ia seakan menyemburkan pertanyaan. Gerakan tubuhnya tidak nyaman.

"Ini rumahku kalau kau tidak tahu."

"Tapi ini bagian pelayan."

"Bagian pelayan juga rumahku," ia duduk di sebelah Kimihiro, menyilangkan kakinya dengan nyaman. "Kau tidak membuat cemilan?"

"Kalau kau tidak melihatnya, aku sedang sibuk!"

"Hm..." Shizuka menatapnya dengan pandangan aneh.

Lalu Kimihiro tersadar sikapnya tidak pantas dilakukan. "Uh... Kau ingin cemilan seperti apa?"

Doumeki mengangkat kedua alisnya.

"Kau bilang kau ingin cemilan!" ia melemparkan kemeja ke atas tatami, melemparkan pandangan garang sekaligus malu. Rona merah sekali lagi menjalar.

Mata biru itu mengerjap, "Jangan."

Doumeki mengangkat sebelah alis.

"Jangan tersenyum mengejek padaku!"

Doumeki mengusap bibirnya, ia tersenyum?

Kimihiro berdiri, "Aku akan membuat cemilan apapun, kalau begitu." Ia buru-buru pergi ke dapur.

Doumeki menyandarkan tubuhnya ke pintu geser, merenung. Sudah lama ia tidak merasa sesantai ini, ia suka mengobrol dengan Kimihiro. Doumeki beranjak dari tempatnya, ia tidak sabar menunggu Kimihiro. Mungkin jalan-jalan ke dapur akan menyenangkan. Ia tidak pernah ke dapur.

Para pelayan terbelalak saat melihat Doumeki. Tapi ia hanya menatap mereka tanpa ekspresi dan mengangkat alis saat salah satu pelayan menjatuhkan nampan. Banyak pelayan perempuan berlari mendekat dan menatapnya dari jarak aman. Sejak ia bisa mengingat, ia bukan artis. Tapi tingkah mereka seperti bertemu dengan salah satu dari mereka.

Matanya menangkap sosok ramping Kimihiro. Ia tidak pernah melihat orang memasak, dan ia tidak bisa mengatakan seseorang itu ahli atau tidak. Tapi gerakan Kimihiro sangat efisien, hampir memiliki ritme, dan tidak ada gerakan yang sia-sia. Tangannya tidak pernah berhenti. Tangannya tidak pernah kosong.

Ia mendekatkan badannya, sedikit merunduk untuk mengintip di balik bahu Kimihiro. Harum vanila tercium saat wajahnya tak jauh dari leher pemuda itu. "Kau membuat Takoyaki?"

Kimihiro terlonjak dari tempatnya. Ia menoleh terkejut, memandangnya dengan matanya yang besar. Bibir mereka hanya berjarak satu senti. Bibir itu terbuka, Doumeki menyipitkan mata. Lalu momen itu buyar saat Kimihiro melompat ke samping, membuat jarak aman. "Apa yang kau lakukan disini!"

"Dapur juga rumahku, jika itu yang kau tanyakan."

"BUKAN ITU MAKSUDKU! Apa kau tidak bisa menunggu sebentar?"

"Takoyaki—"

"Apa?!"

"Takoyaki mu gosong."

Kimihiro segera melompat dan dengan cekatan mengambil bola-bola itu dari cetakannya. Hanya butuh beberapa detik, takoyaki berpindah aman ke atas piring. Doumeki tak repot-repot merubah posisinya, membuat mereka kembali berdiri rapat. Ia bisa merasakan panas punggung Kimihiro di bagian depan tubuhnya, atau kaki mereka yang sesekali bersentuhan. Tapi Kimihiro tidak menyadarinya. Ia sedang memasukkan adonan kembali ke dalam cetakan.

Doumeki menusuk satu takoyaki, gerakannya membuat tubuh mereka kini benar-benar menempel, dan lengannya yang terjulur seperti sedang memeluk dari belakang. Kimihiro membeku. Semua gerakan sengaja dilakukannya dengan lambat, matanya tidak lepas dari Kimihiro. Pipi pucat itu kembali merona. Doumeki memasukkan takoyaki ke dalam mulutnya.

Alisnya berkedut, Doumeki menghitung, satu, dua, tiga... "Kau!" ia berbalik, "Apa kau tidak punya sopan santun—" Doumeki tidak repot-repot melangkah ke belakang. "Kau terlalu dekat!" Doumeki tersenyum miring dan dengan berat hati membiarkan momen itu berlalu.

"Takoyaki..."

Kimihiro kembali pada kesibukannya. Doumeki bersandar di pinggir meja, mengamati Kimihiro dengan perasaan terhibur. Jika para pelayan tersenyum dan terkekeh diam-diam, Doumeki tidak memperdulikannya.

xxXxx

Kimihiro mengerutkan dahinya, tatapannya jauh ke depan. Ia bisa melihat pipi merona dari tempatnya. "Jangan mengikuti aku! Kau terlalu dekat!" mereka berjalan di koridor menuju ruang makan.

"Kau membawa takoyakiku."

"Kalau begitu bawa sendiri!"

"Hn."

"Apa itu Takoyaki?" Kurogane ikut bergabung.

"Selamat datang," sapa Kimihiro. Doumeki ingin disambut seperti itu juga. Lain kali.

Doumeki menyadari lampu ruang makan menyala dari pintu terbuka di ujung lorong. Tiba-tiba, terdengar suara keras dari sanna. Doumeki berlari ke arah keributan itu. Yuuki tergeletak di lengan Naomi.

"Ada apa?"

"Yuuki mendapatkan pengelihatan, Doumeki-san!"

Doumeki melirik takoyaki tumpah di tatami, sausnya mengalir di sela-selanya. Ia menoleh ke belakang, Kimihiro dan Kurogane sudah menghilang.

xxXxx

Awalnya, terdengar keributan di ruang makan. Lalu, tiba-tiba langkahnya goyah saat pengelihatan Kimihiro bergeser dari koridor menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda. Seperti penggalan film yang diputar dengan berbagai emosi yang menyerangnya. Kimihiro bisa merasakan tubuhnya limbung ke satu sisi. Matanya terbuka, tapi tak ada yang terlihat kecuali gambaran masa depan. Ia merasakan nafasnya sesak walau mulutnya terbuka. Ia merasakan lengan familier menahannya, "Bawa aku pergi dari sini," hanya itu yang bisa diucapkannya pada lengan itu, sebelum serangan datang lebih kuat.

Ia berusaha memahami apa yang dilihat dan didengarnya. Berusaha mengurai pengelihatan saling tumpang tindih itu. Banyak orang yang tidak dikenalnya, tapi emosi negatif itu sangat familier untuknya. Emosi-emosi itu menyerangnya bertubi-tubi. Lalu pengelihatan itu kembali bergulir dengan cepat, kembali normal. Kimihiro menyadari kakinya tidak lagi menyentuh lantai. Kepalanya jatuh di lengan yang kuat.

Ia mengerjap-ngerjapkan mata, berusaha fokus. Kurogane memandangnya dengan dahi berkerut, bibirnya serupa garis tipis dan suaranya geram sekaligus bingung saat bertanya, "Kau tidak apa-apa?"

Kimihiro menegakkan punggung, ia berada di ruangan kosong. Kimihiro hanya bisa diam untuk beberapa saat. Kurogane berjongkok disisinya, menahan tubuh dengan satu lengan.

"Kau mimisan."

Kimihiro mengusap hidung dengan punggung tangannya, melihat darah merah tertoreh disana. Kimihiro benci bau darah, baunya seperti karat. Kurogane memberikan sapu tangannya. "Ada apa? Apa kau sakit?"

"Kurogane, dengarkan aku baik-baik," ia menelan ludah. Tidak yakin apa tindakannya benar. Tapi saat ini sangat mendesak. "Akan ada pemberontakan yang dipimpin orang bernama Moritaka Shou. Kau mengenalnya?"

Seandainya mata Kurogane bisa lebih lebar dari sekarang, tapi ia hanya mengangguk.

"Orang itu akan menyerang bagian grup Doumeki, klan Yuzu, besok malam. Kita bisa menghentikannya sebelum pertikaian dimulai. Apa kau mengerti?"

Kurogane mengangguk.

Kimihiro mencoba berdiri, tapi Kurogane tidak melepaskan bantuannya.

"Jangan ceritakan ini pada siapapun, kau mengerti?"

Kurogane terdiam beberapa saat. "Kimihiro-sama, apa kau adalah—"

"Jangan."

Kurogane terdiam. "Aku yakin kau punya alasan."

"Aku punya alasan."

"Baiklah." Kurogane mengangguk. "Apa aku perlu mengantarmu ke kamar?"

"Tidak usah. Pengelihatan itu bukan yang paling buruk."

Kurogane mengerutkan kening. "Kau harus mengatakannya pada Shizuka."

Kimihiro menggeleng. "Tidak."

"Ada alasannya?"

Kimihiro mengangguk.

"Baiklah," ia menyentuh bagian belakang kepalanya, mendesah keras. "Kupikir secara insting aku sudah tahu. Tapi itu tetap mengejutkan. Aku percaya, kau menyembunyikan semua ini demi kebaikan klan, sekalipun aku tidak mengerti di bagian yang mana? Tapi aku percaya padamu."

"Terima kasih," bisik Kimihiro, merasa tidak nyaman. "Pergilah. Aku yakin Doumeki membutuhkanmu."

Kurogane mengangguk dengan berat hati meninggalkan Kimihiro sendirian. Mata biru itu mengikutinya, sampai ia meninggalkan ruangan.

Setelah Kurogane menutup pintu, Kimihiro merosot jatuh. Ia benar-benar lelah. Sebentar saja. Ia akan istirahat sebentar.

xxXxx

Kurogane menggeser pintu dan masuk. Ia melihat punggung tegang Shizuka. "Dari mana saja kau?"

Kurogane tidak menjawab.

"Aku hampir berpikir mengangkat Yuuki sebagai peramal klan."

"Hampir."

Shizuka berbalik, ia tampak frustasi. Keningnya berkerut dan mata emasnya menya-nyala. Kurogane membayangkan jika Shizuka menjambak rambut. "Sayangnya aku tidak sebodoh itu. Kau tahu, kelompok Wakasuji akan menyerang?"

Kurogane mengangguk.

"Tapi peramal itu tidak tahu kapan penyerangan itu terjadi—aku berharap aku memiliki peramal seperti nenek—" Kurogane memotong, "Besok malam."

Shizuka mendongak terkejut.

"Penyerangan itu dilakukan besok malam. Kita masih bisa mencegahnya."

"Bagaimana kau bisa tahu?"

Kurogane diam.

"Kurogane, katakan."

"Kau mempercayaiku?"

"Tentu saja—"

"Jadi, percayai itu."

Mata emas Shizuka bergerak, ia bisa merasakan otak cerdas pemimpin klan-nya bekerja. Shizuka dan Haruka memang individu berbeda, tapi untuk masalah seperti ini, mereka hampir identik. Tak sampai waktu lama pemahaman muncul dimatanya. "Aku mengerti," bisik Shizuka dengan hati-hati.

Kurogane mengangguk. "Aku akan menyiapkan pasukan." Sambil berkata begitu ia merunduk dan mengundurkan diri. Saat membuka pintu, pertanyaan Doumeki menghentikan langkahnya. "Apa.. dia baik-baik saja?" mengejutkan, berkebalikan dengan wajah tanpa ekspresinya, pertanyaan itu diajukan dengan penuh perhatian, kekhawatiran.

Kurogane mengerling ke belakang, "Dia bilang yang dilihatnya bukan yang paling buruk."

Kurogane meninggalkan ruangan dengan bayang-bayang mata emas yang berkilat marah. Senyum diam-diam menghiasi bibirnya, bukan berarti ia melanggar janjinya pada Kimihiro, karena Shizuka menyadarinya sendiri. Itu diluar kemampuannya untuk menahannya.

xxXxx