Title : Our Hero Academia
Disclaimer : Naruto : Masashi Kishimoto. Boku No Hero Academia: Kohei Horikoshi
Warn : PowerfulNaru, OOC, Typo. Etc.
Summary : Ini hanyalah kisah Uzumaki Naruto melewati jalur yang panjang untuk menjadi pahlawan terkuat sepanjang masa.
P.s. : don"t like, don't read.
Chapter 3 : Senior High School Yuei
...
All Might, dia adalah pahlawan terhebat di dunia, dia adalah sang simbol perdamaian bagi dunia ini.
Tak ada yang tau nama aslinya, umur, maupun bakatnya. Dia adalah pahlawan favoritku. Dia selalu tersenyum ketika menyelamatkan ataupun melawan para Penjahat.
Namun, setelah bertarung melawan seorang penjahat beberapa tahun yang lalu, mengakibatkan luka yang begitu dalam baginya sehingga dia hanya bisa menjadi pahlawan selama 3 jam dalam sehari.
Dan aku, Izuku Midoriya. Anak tanpa bakat yang ia beri harapan agar menjadi pahlawan terhebat sepertinya.
...
"Izuku, apakau sudah membawa bekalmu?" wanita yang sedikit gemuk dengan warna rambut hijau ini adalah ibuku.
"Sudah" jawabku singkat karena sedang fokus memasang tali sepatu.
"Bagaimana dengan sapu tangan? Air minum? atau pakaian ganti?"
"Sudah, sudah. Kaa-san, aku tak ingin pergi ke kolam renang. Jadi tak perlu membawa baju ganti" jawabku. Akupun berdiri dan memakai tasku.
Ku buka pintu dan menatap wajah ibuku sekali lagi.
"Ittekimasu" ucapku sambil tersenyum dan kemudian keluar rumah dengan semangat yang membara.
...
Aku sampai di depan gerbang sma yang paling ku impikan. Sma Yuei, memiliki ijazah dari sma ini adalah salah satu syarat untuk masuk kedalam agensi pahlawan.
"Jantungku deg-degan dan perutku mual seperti ingin bab" gumamku sambil berjalan pelan dan memegang perutku.
Slik!
"Heh!" Aku terkejut, jarak antara lantai dan wajahku hanya sekitar satu jengkal.
Aku melihat kebelakang dan melihat seorang gadis berambut coklat yang tersenyum ke arahku. Aku berusaha bangkit secara perlahan. Ini terasa seperti tak ada gravitasi.
"Berjalanlah dengan hati-hati. Kalau jatuh bisa gawat" ucapnya sembari tersenyum manis.
Aku menjadi glagapan untuk menanggapinya. Ini adalah pertama kalinya bagiku untuk bicara dengan gadis seusiaku.
"Ah... ia... a-arigatou" ucapku sambil tersipu malu sedangkan dia hanya tersenyum dan mengangguk lalu melanjutkan perjalanannya. Aku hanya bisa memandangi punggungnya dari jauh.
"Berjalanlah dengan baik. Deku!"
Tok!
Kaacchan, sebutanku untuk teman masa kecilku yang satu. Dia adalah sosok yang begitu menginspirasiku. Angan-angannya, semangatnya ya.. walau aku sering di buli olehnya. Tetap saja dia adalah sosok yang begitu penting bagi pertumbuhanku menjadi sosok yang seperti sekarang.
Dia baru saja berjalan melewatiku dan menjitak kepalaku dengan kuat.
"Ohh... Izuku!" Seseorang menyapaku dan aku menoleh untuk melihat siapa yang menyapa.
Dia adalah Uzumaki Naruto, 2 tahun lalu aku tak mengerti apa yang ia maksud ketika kami berpapasan di terowongan. Sekarang aku mengerti apa yang ia maksud. Dia juga adalah anak tanpa bakat sepertiku dan ya... tekatnya yang kuat juga membuatnya memijakkan kakinya di sini berdampingan dengan orang-orang yang berbakat.
"Ohayou" ucapku sambil berbungkuk didepannya bagaimanapun dia tetap lebih tua dariku
"Hm" dia menjawab singkat dan kamipun mulai berjalan bersama menuju ruang perkumpulan murid yang mendaftar.
...
Kamipun tiba di ruangan itu, ruangan ini mirip dengan ruangan untuk menonton di bioskop.
"Selamat datang, murid-murid baru. Tanpa basa-basi kalian lagi. Aku akan menyampaikan beberapa hal sebelum kalian memulai tes masuknya" ucap seorang guru dengan kalung yang mirip dengan loudspeaker lalu bergeser ke sisi layar dan muncul 3 gambar robot berwarna hitam.
"Yang pertama, sama seperti yang ada di kartu tes kalian. Kalian akan melawan ke 3 robot ini. Masing-masing dari mereka memiliki nilai yang berbeda sesuai dengan tipe robotnya. Mulai dari yang terkecil yaitu 1 sampai yang terbesar yaitu 3. Kalian harus mengahancurkan mereka dan dapatkan nilai yang tertinggi untuk lulus. Ada pertanyaan?" Pria itu menjelaskan apa yang harus kami lakukan agar dapat lulus.
Seorang anak berkaca mata dan berbaju biru mengangkat tangannya dengan cepat.
"Ya, anak berkaca mata!" Pria itu menunjuknya dan semua lampu mati dan menyisihkan sebuah lampu untuk si anak berkacamata itu.
"Begini, di kartu ini ada 4 buah gambar, apakah ini sebuah kesalahan cetak? Dan untuk anak berambut hijau dan berwajah bintik-" dia menggantung kalimatnya dan menunjuk ke arahku yang membuatku kaget.
"Kau terlalu banyak ngoceh. Terimakasih sensei" ucapnya dan membungkuk lalu duduk kembali.
Guru tadi terdiam melihat tingkah lakunya yang menurutnya terlalu kaku.
"Entok... ekhem.. maksudku... itu adalah sebuah robot yang bernilai 0 dan kalian kusarankan menjauhinya karena dia adalah tipe robot yang akan mengamuk bila berada di kerumuni banyak orang. Dan satu lagi yang ingin kusampaikan. Lampauilah PLUS ULTRA!" Ucapnya dengan teriakan yang bersemangat ketika mengantakan Plus Ultra diikuti semua murid baru termasuk aku.
...
Aku akhirnya sampai di lokasi tempur G. Aku tak dapat melihat wajah yang familiar. Mungkin mereka tak membiarkan satu murid berada di lokasi pertempuran yang ada murid dari satu sekolah yang sama.
"Hm..." aku bergumam kecil dan menoleh ke arah kanan untuk melihat para peserta ujian yang lain. "Beberapa dari mereka terlihat lemah" gumamku sambil melihat mereka satu per satu.
Pandanganku terhenti melihat seorang anak yang memiliki dua warna rambut yang berbeda di bagian kanan berwarna putih dan di bagian lainnnya memiliki warna merah.
Jrkkk!
Pintu besar itu terbuka, dan tanpa membuang-buang waktu. Para peserta langsung merangsek masuk sedangkan aku hanya berjalan santai.
Sepertinya kepribadianku agak berubah setelah berlatih sendirian karena di tinggal Kakashi-sensei, mungkin ini pengaruh dari kekuatan yang dia 'wariskan' kepadaku.
"Target di temukan!" Lamunanku buyar ketika mendengar suara robotic dari arah belakangku, akupun menoleh dan melihat 5 biji robot yang bernilai 3.
"Kalian terlalu menggangguku" ucapku sambil memasang kuda-kudaku dan memandang mereka satu persatu secara bergantian.
Srk!
Aku langsung merangsek maju dengan kecepatan tinggi.
"Satu!" Aku berucap sambil memukul bagian leher dari robot itu hingga tembus. Ku cabut kepalanya itu dan melompat kebelakang dan melempatkan kepala yang kucabut tadi ke robot kedua yang sudah berada di hadapanku hingga mengancurkan kepalanya.
Blaar!
Kedua robot itu meledak secara bersamaan, aku tersenyum kecil melihatnya.
"Target terkunci!"
Wush!
Aku menoleh kebelakang dan melihat sepasang misil sedang melesat ke arahku.
Trang!
Trang!
Ku tendang dua rudal itu hingga melesat ke atas dan lalu aku berlari ke arah robot ke tiga yang menembakkan rudal kepadaku.
Duak!
Aku tak sengaja melonggarkan pertahanku dan dari arah kananku robot ke empat menubrukku dengan kuat hingga membuatku terpental beberapa meter.
"Cih!" Aku mendecih dan berusaha berdiri.
"Aku Uzumaki Naruto, calon pahlawan terkuat"
Brush!
...
Izuku sedang berlari mencari robot untuk di hancurkan. Namun percuma karena ketika dia berjumpa dengan robot tadi. Dia tak daoat melakukan apa-apa dan malah membiarkan orang lain mengambil jatahnya.
Tiittt! Tittt! Tittt!
Sebuah sirine berbunyi dan orang-orang berhamburan melarikan diri.
'Ada apa ini?' Izuku bertanya dalam hati melihat sebuah robot yang amat besar.
'Wanjrrr! Gede amat!' Ia menjadi panik dan mencoba berlari mundur namun ia terpeleset dan terpaksa harus merangkak.
"I-itai!" Rangkakkannya terpaksa berhenti ketika mendengar suara rintihan yang suaranya yang familiar. Dia menoleh kebelakang dan melihat gadis yang menyelamatkan dirinya di gerbang sedang terjepit dan tak bisa bergerak.
Tak perduli seberapa besar musuh yang harus di hadapi. Seorang pahlawan harus tetap berdiri dengan gagah.
Dia berdiri dengan perlahan dan mulai berjalan ke arah gadis yang akan terlindas oleh robot besar itu.
Selain melawan musuh, tugas utama seorang pahlawan adalah menyelamatlan warga.
Jalan santainya mulai menjadi jalan cepat dan lari kecil.
Ada dua tipe pahlawan, pahlawan yang hanya menjadi pahlawan dan pahlawan yang ingin menggapai puncak.
Muncul garis panjang yang mirip dengan urat berwarna merah menjalar dari kaki hingga kepalanya.
Dan untuk menggapai puncak kau harus melompat setinggi mungkin.
Brrzzz!
Izuku lamgsung menghilang dalam kilatan berwarna merah. Ia melompat langsung melewati celah jari robot itu dan mencapai kepalannya.
Dan ini adalah langkah awalmu.
"SMMASSH!"
Blaarrr!
...
"Haaahh! Haaahhh!" Naruto berdiri dengan memegang lututnya dengan nafas yang tersenggal-senggal.
Di sekitarnya banyak puing-puing robot yang ia kalahkan. Setelah mengalahlan ke 5 robot tadi, ia langsung berlari mencari banyak robot agar ia dapat lulus.
"Aku sudah berada di batas aman kurasa" gumamnya dan kemudian berdiri tegak, kemudian kembali berjalan santai melewati orang-orang yang terduduk kelelahan. Ujian baru saja selesai dan ia mendapat nilai 50 tanpa poin penyelamatan.
"Aku harap setelah ini, akan ada tugas yang begitu menantang" ucapnya lalu menghilanh di telan kegelapan.
.
.
.
TBC
Bagaimana? Ada peningkatan? Sepertinya ada yang janggal dari gaya penulisan saya kali ini. Tapi saya tak tahu apa. Kalau ada yang mengetahuinya diharapkan melapor agar dapat saya perbaiki (jika mampu).
Dan saya harap Naruto tak terkesan terlalu cold atau dark dan sebenarnya Izuku juga seorang MC di fic ini tapi saya agak kebingungan untuk fokus dengan 2 karakter tersebut.
Oklah segini saja untuk kali ini.
Bima Ootsutsuki~ LogOut~
