Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: YAOI, AU, OOC dan hal absurd lainnya.

Pairing: Always NaruSasu

Rated: M for Mature, Sexual Content

.


You're My Sex Slave

.

By: CrowCakes

.

~Enjoy~

.

(Dalam chap ini tidak ada adegan lemonnya #plak XD)


.

.

Oke—Menggabungkan dua orang polisi dan satu tersangka penculikan di satu tempat adalah hal yang buruk.

Membawa bencana.

Malapetaka.

Yup!—Itu yang dialami oleh Naruto sekarang. Terjebak dengan dua orang polisi di apartemennya yang sempit. Ditambah sebuah kamar penyekapan sebagai saksi bisu tragedi penculikan Sasuke. Bukan hanya penculikan saja, tetapi juga penyiksaan dan pemerkosaan.

Oh great!—Naruto yakin dia akan dipenjara dengan hukuman berat karena perbuatannya itu.

Dan sekarang keadaannya juga berada di situasi yang genting. Ia diperintah untuk segera membuka kamar tempat penyekapan Sasuke oleh polisi-polisi tadi. Naruto berusaha mengelak dengan mengatakan bahwa kamar itu hanyalah gudang biasa, tetapi polisi tidak bisa dikelabui semudah itu. Jadi terpaksa, Naruto membuka pintu kamar dengan jantung yang hampir meloncat dari dadanya.

.

Cklek—Bidang datar kayu itu terbuka perlahan.

Kedua polisi tadi langsung menerobos masuk dan terkejut melihat pemandangan di kamar sempit itu. Terlebih Konan yang langsung menjerit kaget.

"ASTAGA!—" Mata wanita itu membulat seketika, "—Kamar ini benar-benar berantakan." Ucapnya seraya melihat berkeliling. Sifat para wanita memang mengutamakan kebersihan dibandingkan laki-laki, jadi jangan heran kalau Konan sedikit terkejut melihat kamar yang kotor itu.

Naruto yang tadinya memejamkan mata karena ketakutan hanya bisa membelalak kaget dengan heran.

A—APA?!

—Apa dia tidak melihat Sasuke di dalam sana?

Dengan gerakan cepat pemuda pirang itu ikut masuk ke dalam kamar, tetapi langsung membeku sesaat ketika tidak menemukan Sasuke yang seharusnya berada di atas kasur.

—Kemana pemuda itu?

—Dimana Sasuke? Apa dia melarikan diri? Tidak—itu mustahil. Jendela tertutup rapat dengan potogan kayu dan jeruji solid, tidak mungkin Sasuke kabur lewat jendela.

—Jadi kemana Sasuke sekarang?!

.

Yahiko menatap tembok kamar itu. Penuh foto Sakura dengan berbagai pose dan ekspresi. Ia yakin kalau Naruto adalah seorang pengutit sejati. Tetapi ia tidak berhak menangkap pemuda itu kalau tidak ada laporan dari sang korban. Jadi dia mengabaikan potret-potret tadi.

Matanya kembali menjelajah lemari kecil. Ada sisa roti dan botol mineral disana. Yahiko menduga, mungkin pemuda pirang itu baru saja selesai makan.

Matanya kembali beralih menatap sekeliling dan menemukan beberapa bercak darah di beberapa tempat. Lantai dan kasur. Yahiko memicingkan matanya, "Darah siapa ini?" Tanyanya pada Naruto.

Sang Uzumaki meneguk liurnya gugup sebelum menjawab, "Uhmm—darahku—aku terluka." Jelasnya lagi sambil menunjuk beberapa bagian tubuhnya yang penuh cakaran.

Yahiko menatap pemuda itu curiga, "Darimana kau mendapatkan cakaran ini?—Kucing?"

"Ah—uhmm—itu—" Belum sempat Naruto menjawab, suara Konan menyela pembicaraan tadi.

"Aku rasa itu cakaran seseorang." Ucap wanita itu seraya meneliti tubuh Naruto, "—Apakah pacarmu yang melakukannya?"

"Ah—uhm—yeah—begitulah." Jawab Naruto gugup, berharap kedua polisi itu percaya dengan kebohongannya.

Sayangnya, Yahiko masih curiga dengan Naruto, ia beralih menatap partnernya tajam, "Tahu darimana kalau cakaran itu dari pacar anak ini?" Tanya sang agent lagi.

Konan memutar bola matanya malas, seraya menunjuk ke arah kasur, "Lihat ranjang itu dari dekat. Aku melihat bercak sperma dan darah disana. Pasti anak ini melakukan sex sebelum kita datang kemari. Benarkan?" Terangnya lagi.

Naruto lagi-lagi hanya bisa mengangguk panik, "Ya—begitulah."

Yahiko menatap Naruto dengan picingan tajam, kemudian mendesah lelah, "Baiklah, aku percaya." Sahutnya singkat.

Naruto yang melihat kalau dua orang polisi itu sudah selesai dengan penyelidikannya mencooba bersikap tegas seraya melipat kedua tangannya di depan dada, "Kalau begitu, bisa tinggalkan aku sendiri?—urusan kalian sudah selesai, kan?" Ucap pemuda itu penuh nada sinis.

Konan mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, "Baiklah, bocah. Kami akan pergi." Ujarnya seraya menyeret Yahiko menjauh keluar dari kamar Naruto. Dan bergerak cepat menuju pintu depan.

BLAM!—Naruto segera menutup pintu depan apartemennya dengan keras tepat setelah dua polisi itu pergi. Ia menyenderkan tubuhnya sejenak di bidang datar kayu itu sebelum berlari kembali ke kamar penyekapan Sasuke.

"SASUKE!—" Pemuda itu berseru keras. Memanggil pemuda onyx itu. Ia sangat berharap kalau Sasuke bukanlah sejenis hantu yang bisa menghilang sesuka hati.

.

"Ya?" Jawaban terdengar dari arah kamar mandi. Pemuda Uchiha itu keluar dari dalam sana dengan rambut yang masih basah, "—Ada apa?" Tanyanya bingung.

Naruto membelalakkan matanya, terkejut, "Kau—sejak tadi berada di dalam sana?" Tunjuknya pada toilet.

"Ya, aku perlu membersihkan diri. Memangnya ada apa?—Tadi aku mendengar suara seseorang, apakah ada tamu?" Sasuke kembali bertanya pada pemuda pirang itu sambil bersender di ambang pintu toilet.

Naruto menggigit bibirnya ragu, haruskah ia jujur atau berbohong? Dalam keadaan seperti ini, jujur adalah tindakan yang tepat untuk dilakukan.

"Sasuke, dengar—" Pemuda pirang itu memegang lengan Sasuke dan menariknya ke tepi ranjang, "—Kau tahu kalau aku sudah menjadi kriminal karena menculikmu kan?" Tanya Naruto serius. Pemuda onyx dihadapannya mengangguk.

"Ya?—Lalu?"

Naruto memijat keningnya yang berdenyut sakit, "—tadi ada dua orang polisi yang datang kesini menyelidiki tentang penculikanmu."

"Dua orang polisi?—"

"Ya—dan jujur hal itu membuatku panik." Sahut Naruto lagi.

Sasuke berdiri diam menatap pemuda pirang didepannya. Ia bingung harus berbuat apa. Memang Naruto menculiknya, menyiksanya dan memperkosanya, tetapi itu dulu—Well, tepatnya dua hari yang lalu—Dan sekarang ia tidak keberatan kalau harus diperkosa lagi, kecuali disiksa tentu saja. Sasuke benci disiksa.

"Mungkin aku memang harus pergi ke kantor polisi untuk mencabut laporan itu." Terang Sasuke mencoba memberi solusi.

"Tidak!—Tidak!" Naruto berdiri seraya menggerakkan tangannya panik, "—Itu tidak akan berhasil. Walaupun polisi sudah menyerah tetapi keluargamu ingin aku dipenjara."

Sasuke kembali berpikir, mencari jalan keluar lain, namun otaknya buntu tidak bisa berpikir apa-apa lagi, "Apakah ada solusi lain?"

"Aku tidak tahu—" Naruto mengusap wajahnya lelah, kemudian menatap Sasuke lagi, "—Apakah kau ingin kembali ke keluargamu?"

Sasuke mendesah pelan, "—Sebenarnya yang aku rindukan hanya kakakku saja. Aku menyayanginya. Aku tidak peduli dengan ayahku, jadi kalau disuruh memilih antara tetap disini atau pulang. Aku memilih tetap disini."

"Eh?" Naruto membelalakkan matanya kaget, "—Aku pikir kau ingin pulang."

Sasuke melipat kedua tangannya di depan dada, "Aku memang rindu dengan kemewahan dan kemegahan, tetapi aku tidak suka disana. Kau tahu—aku selalu dipaksa untuk menuruti perintah ayahku."

"Dipaksa? Seperti apa?"

Sasuke mendengus kecil, "—misalnya pacaran dengan putri president direktur Haruno's Corp hanya untuk bisnis."

"Jadi kau pacaran dengan Sakura hanya karena—"

"Bisnis?... Ya, itu benar." Jawab Sasuke malas.

Naruto tidak dapat menyembunyikan rasa keterkejutannya, sekarang ia semakin bersalah pada pemuda onyx itu karena menuduh pemuda itu seenak jidatnya saja, "Aku—minta maaf."

"Tidak ada yang perlu dimaafkan." Sela Sasuke langsung, "—kau tidak ada salah."

"Tidak, aku bersalah." potong Naruto cepat, seraya menggenggam tangan pemuda Uchiha itu, "—aku menculikmu, menyiksamu dan—" Ia menggigit bibirnya, tidak sanggup mengatakan 'memperkosa'.

Sasuke menoleh ke arahnya, melemparkan senyum kecilnya, "Well—aku sekarang tidak apa-apa. Lagipula kau sudah berjanji tidak akan menyakitiku lagi dan mau mengobati luka-lukaku."

Naruto membalas senyuman itu dengan lengkungan tipis miliknya, "Thanks—" Kemudian mengusap lembut pipi Sasuke pelan.

"Ngomong-ngomong—" Sasuke membuka suara lagi, "—bolehkah aku meminjam kemejamu?—seragamku tidak layak pakai." Tunjuknya pada pakaiannya yang robek dan penuh darah.

Naruto tertawa kecil, "Baiklah, tunggu disini." Perintahnya seraya bergegas keluar kamar menuju lemari terdekat, mengambil satu potong kemejanya dan kembali lagi ke tempat Sasuke, "—Pakailah, mungkin terlalu besar untukmu, tapi setidaknya kau memakai baju."

Sasuke tidak protes, ia segera mengambil kemeja yang disodorkan oleh pemuda itu dan memakainya dengan cepat. "Hmm—tidak buruk juga." Ucapnya pelan.

Naruto tersenyum kecil saat melihat Sasuke tenggelam dalam kemeja miliknya yang terlihat kebesaran, kemudian memeluk pemuda onyx itu dari belakang, sesekali kecupan singkat dilandaskan di bahu sang Uchiha, "—Jangan membuatku khawatir dengan menghilang seperti tadi, oke?"

"Aku tidak menghilang, aku hanya ke kamar mandi."

"Tetap saja—" Naruto mendeliknya tajam, "—jangan melakukan hal itu lagi."

"Hn—" Balas Sasuke singkat. Ia tidak berontak saat pemuda pirang itu menjatuhkan ciuman di pipi dan lehernya, bahkan ia pasrah saat Naruto menjatuhkannya lagi ke atas kasur dan menggerayanginya.

—Mungkin—Sasuke sudah mulai menyukai sang penculiknya.

.

.

.

Yahiko menggeram kesal di dalam mobil patrolinya, ia melirik sang partner dengan tajam, "Apa maksudnya semua ini, Konan?—Kau menyuruh kita pergi dari apartemen anak itu, dan sekarang malah mengawasinya dari dalam mobil patroli?—Sebenarnya apa yang kau—"

"Dia bohong—" Potong Konan cepat seraya mengeluarkan rokoknya dan menghisapnya dalam-dalam. Matanya tidak beralih dari jendela apartemen Naruto yang masih menyala.

"A—Apa?" Yahiko meliriknya bingung, "—Apa maksudmu?"

Konan tidak membalas tatapan pria itu, ia sibuk menghembuskan asap rokoknya, "—Anak itu berbohong. Kita sudah mengawasinya sejak tadi siang dan tidak melihat ada orang yang masuk ke apartemen itu. Jadi, tidak mungkin pacarnya datang berkunjung apalagi melakukan 'sex' dengannya." Lanjut wanita itu seraya membentuk gestur mengutip saat mengatakan 'sex'.

"Jadi, kau juga sadar?" Tanya Yahiko yang mulai mengerti arah pembicaraan Konan, "—Jangan-jangan kau sengaja menyebutkan 'pacar' agar Naruto menjawab 'iya'?—Begitu?"

Konan menyeringai, "Pintar sekali. Aku sengaja menjebaknya dengan kata-kataku, hanya ingin mengetahui, apakah dia berbohong atau tidak."

"Dan nyatanya?" Tanya Yahiko lagi.

"Well—Kau sudah tahu bukan?—Anak itu berbohong."

Yahiko menyandarkan punggungnya ke jok mobil, "Apakah—Sasuke disekap di dalam sana? Maksudku—tidak mungkin anak itu mencakar tubuhnya sendiri."

Konan mengangguk serius, "Tidak salah lagi, Sasuke disekap di dalam sana."

"Kalau begitu, kita harus menyelamatkan Sasuke!" Seru Yahiko yang langsung membuka pintu mobil dengan tergesa-gesa.

"Tidak!—" Konan menahan tangan pria itu, "—Kita tidak boleh gegabah, yang pertama kita lakukan adalah melaporkan hal ini pada Itachi."

"Tapi bagaimana dengan Sasuke?!"

"Dengar—" Konan mendelik tajam, "—Kalau kita gegabah Naruto bisa membunuh Sasuke. Kau sudah lihat darah di kamar tadi, bukan? Anak itu psikopat, dia bisa melukai siapapun yang mengancam nyawanya."

Yahiko menggertakkan giginya kesal, "Aku mengerti... Baiklah kalau begitu, kita harus cepat memberitahukan hal ini pada komisaris." Lanjutnya lagi seraya menyalakan mesin mobil.

Konan tidak menjawab. Wanita itu tetap diam seiring dengan mobil patroli yang menjauh. Hanya matanya saja yang tidak lepas dari jendela kamar apartemen Naruto.

Ia berharap—Sasuke masih selamat saat ditemukan nanti.

.

.

.

_Apartement Naruto, Pukul 07.00 Pagi, Keesokan harinya_

.

Pagi itu Naruto bangun lebih cepat, ia melirik Sasuke yang masih tidur disebelahnya dengan pulas. Kemudian tersenyum kecil ketika mengingat bahwa sekarang mereka akan hidup bersama.

Great!—Tidak ada yang lebih membahagiakan selain bersama Sasuke sekarang.

Matanya beralih menatap ke sekeliling ruangan. Foto sakura bertebaran dimana-mana. Sedikit membuat mata Naruto sakit. Mungkin ia harus mengganti foto gadis itu dengan potret Sasuke.

Yeahkedengarannya bagus.

Naruto menggerakkan badannya untuk melepaskan pelukan Sasuke di lengannya. Kemudian beranjak turun dari tempat tidur.

"Nghh—Naruto?" Sasuke memanggil pemuda pirang itu dengan suara seraknya. Sesekali ia mengucek mata untuk memfokuskan pandangannya.

"Maaf sudah membangunkanmu." Ucap Naruto sambil melandaskan ciuman di kening pemuda onyx itu. "—Bagaimana dengan luka-lukamu?"

Sasuke melirik ke arah tubuhnya, "Lumayan membaik."

"Baguslah—" Naruto mencium pundak pasangannya itu, "—setelah pulang sekolah, aku akan membeli beberapa perban dan obat merah untuk lukamu."

"Kau akan ke sekolah?" Tanya Sasuke lagi seraya turun dari ranjang.

"Yeah—" Naruto mengobrak-abrik lemari pakaian untuk mencari seragam sekolahnya, "—hanya sebentar. Setelah itu aku akan segera pulang, oke?"

"Apa kau tidak takut?—" Suara Sasuke menginterupsi kegiatan Naruto.

"Apa maksudmu, Teme?"

"—Bagaimana kalau aku memilih kabur saat kau ke sekolah?" Tantang sang onyx lagi.

Naruto berpikir sejenak, kemudian menampilkan cengiran lebarnya, "Kau tidak mungkin melakukan hal itu—"

"Kenapa?—Aku berani melakukan itu. Aku akan kabur lalu melapor kepada polisi dan kau ditangkap. Cerita selesai." Jelas Sasuke lagi seraya melipat kedua tangannya dengan angkuh.

Naruto terkekeh kemudian mendekat ke arah Sasuke, dan melandaskan kecupan singkat di bibir sang Uchiha, "Aku pergi. Baik-baik disini, oke?"

Sasuke mendengus dengan rona merah saat Naruto menciumnya, "Curang—"

Sang Uzumaki tertawa lalu mengacak surai hitam Sasuke dengan lembut, "Bye—beristirahatlah dulu, lukamu harus segera pulih."

"Hn—" Jawab pemuda onyx itu lagi yang langsung bergelung dengan selimutnya.

.

.

.

_Konoha's Police Departement, Pukul 09.00 Pagi_

.

Itachi mengetukkan jari-jarinya di atas meja dengan gelisah, beberapa laporan dimeja kerjanya tidak tersentuh sama sekali. Yang dipikirkan pemuda itu adalah keselamatan Sasuke.

Ia mendapat laporan tadi malam oleh Yahiko dan Konan kalau Sasuke DIDUGA di sekap di apartemen Naruto. Tidak ada kepastian dan bukti memang, hanya saja Itachi juga yakin kalau adiknya disekap di apartemen itu. Ia harus menyelamatkannya, tetapi Konan bilang tunggu hingga pagi menjelang agar mereka lebih mudah menyelamatkan Sasuke saat Naruto pergi sekolah.

Dan pemikiran pintar itu tidak ditolak oleh Itachi sama sekali. Ia menurut dan mengikuti saran partner nya itu.

Cklek!—Pintu ruang kerjanya terbuka menampilkan sosok Konan yang membawa beberapa dokumen penyidikkan.

"Bagaimana kabarmu, Itachi?"

"Buruk. Bisakah kita langsung berangkat?" Tegas Itachi seraya mengambil jacketnya dengan cepat, dan memakainya dengan tergesa-gesa.

"Itachi, tenanglah, oke? Kita akan segera 'menjemput' Sasuke. Jadi bisakah kau sabar sedikit lagi?" Jelas Konan seraya menaruh lembaran dokumen tadi ke meja kerjanya.

"Aku tidak bisa menunggu lagi, Konan!—Adikku dalam bahaya!" Serunya dengan gerakan kesal.

Konan mendesah, "Baiklah, kita akan menunggu Yahiko dulu, setelah itu kita berangkat."

Itachi mendengus pelan, "Dimana Yahiko sekarang?"

Konan terlihat berpikir sejenak, "Tadi aku melihat dia sedang berbicara di telepon dengan ayahmu."

"A—Ayahku?—Maksudmu Fugaku?—Untuk apa Fugaku menelepon Yahiko?"

Konan mengedikkan bahu, "Entahlah, awalnya ayahmu ingin berbicara denganmu tetapi karena kau sibuk, ayahmu akhirnya berbicara dengan Yahiko mengenai kasus penculikan Sasuke."

"Lalu?" Tanya Itachi yang mulai penasaran.

"Yahiko memberitahu segalanya, termasuk dugaan tentang Naruto yang menculik Sasuke." Sahut Konan lagi.

Itachi menggebrak meja dengan geram, "KALIAN MEMBERITAHU FUGAKU SEGALANYA?!"

"H—hei, ada apa? Memangnya kenapa kalau kami memberitahu tentang hal itu?—Bukankah wajar memberitahu keluarga korban mengenai situasi sekarang ini?" Jelas wanita itu lagi.

Itachi mengerang, "Kalau keluarga korban lain sih tidak masalah, tetapi yang kita bicarakan disini adalah Uchiha Fugaku! Apa kau sudah berpikir apa yang akan laki-laki itu lakukan?"

"Ha? Memangnya Fugaku akan melakukan apa?"

Itachi memijat keningnya sakit, "Fugaku akan membebaskan Sasuke dengan tangannya sendiri dan menghukum penculiknya dengan caranya juga."

"Maksudmu?" Konan mulai merasa panik dengan penjelasan Itachi.

"Fugaku—akan membunuh penculiknya."

"Wait!—itu tidak masuk akal. Fugaku bisa dipenjara kare—"

"Konan, kita sedang membicarakan Uchiha Fugaku disini, konglomerat terkaya. Dia bisa membeli 'hukum' dengan uangnya. Dan kita tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikan kekuasaannya."

"Shit!—" Konan menggebrak meja. "—Seharusnya aku bisa berpikir lebih cerdas lagi."

Belum sempat Itachi menjawab kekesalan wanita itu, suara Yahiko menginterupsi pembicaraan mereka.

"Guys—ada apa? Wajah kalian pucat." Ucap pemuda berambut jingga itu.

Konan melirik Yahiko kemudian menyeretnya pergi, "Kita harus berangkat sekarang. Cepat!"

"Ta—tapi—laporanku—"

"Lupakan soal laporan, Yahiko!—" Itachi kembali menyahut dengan galak, "—Kita harus segera pergi!"

"Oke—asalkan beritahu ada apa sebenarnya ini." Jelas Yahiko seraya berlari mengikuti dua rekannya itu.

"Ya—Akan kujelaskan di dalam mobil." Balas Itachi lagi.

.

.

.

_Apartement Naruto, Pukul 10.00 Pagi_

.

Sasuke masih mengistirahatkan tubuhnya di kasur selama beberapa menit, kemudian beranjak dari ranjangnya saat perutnya berteriak minta diisi.

Hmm—mungkin sedikit roti akan mengurangi rasa laparnya.

Puas dengan keputusannya, Sasuke segera turun dari ranjang menuju dapur terdekat. Ia berharap Naruto punya kulkas untuk menyimpan beberapa makanan. Setidaknya satu buah tomat pun tidak apa-apa.

Langkahnya terdengar berat karena sendi-sendinya masih terasa sakit dan tubuhnya belum pulih dari luka. Tetapi ia mencoba bertahan demi mengisi perutnya yang kosong. Bagaimana pun juga, dia tidak ingin mati kelaparan disini.

Mata onyx nya mulai menjelajah seisi dapur. Ruang sempit itu hanya sedikit memiliki perabotan memasak. Hanya ada 3 piring, 2 gelas, beberapa sumpit, satu kompor dan panci, serta—kulkas.

Oh thanks god!—Sasuke tidak perlu mati kelaparan.

Pemuda onyx itu segera membuka lemari es dan meneliti isinya.

Hmm—hanya ada cup ramen, beberapa botol air mineral dan—roti.

Yes!—akhirnya dia bisa mengisi perutnya lagi.

Sasuke segera mengambil roti tadi dan menggigitnya dengan tidak sabaran. Tawar. Dan terasa dingin.

Memang tidak enak, tetapi setidaknya ia tidak kelaparan lagi.

Saat mulutnya sibuk mengunyah, matanya melirik seluruh isi dapur. Foto Sakura tertempel diseluruh temboknya. Bahkan tidak hanya dapur, ruang depan, kamar tidur dan bahkan kamar mandi pun tertempel foto gadis berambut pink itu.

Sasuke tidak habis pikir kenapa Naruto memuja Sakura berlebihan seperti itu. Gadis itu hanya anak manja yang menyebalkan. Mungkin Sasuke harus melepaskan foto-foto Sakura di seluruh apartemen Naruto dan menggantinya dengan kertas tembok dengan warna biru malam. Warna kesukaannya.

—Sedikit dekorasi tidak akan membuat pemuda pirang itu marah, kan?

Tepat ketika Sasuke ingin melaksanakan niatnya itu, sebuah gedoran dari arah pintu depan hampir membuat pemuda itu terlonjak kaget.

"Siapa yang bertamu pagi-pagi begini?" Bisiknya pada diri sendiri.

Apakah Naruto sudah pulang?

Dengan rasa penasaran yang besar, Sasuke bergerak menuju pintu depan apartemen, menyentuh kenopnya takut-takut, dan membukanya perlahan. Ia berharap kalau yang mengetuk pintu tadi adalah Naruto, dengan membawa perban dan makanan.

Jujur, roti tawar tadi belum membuat perutnya kenyang.

Cklek!—Pintu terbuka lebar. Menampilkan tiga sosok yang berdiri di ambang pintu dengan wajah terkejut. Salah satunya adalah sosok yang dikenal oleh Sasuke.

"Itachi-niisan—?" Ucap pemuda onyx itu yang agak kaget dengan kedatangan kakaknya.

Itachi yang tidak menyangka bertemu adiknya itu, hanya bisa tercengang tidak percaya, "Sa—Sasuke?!" Ia menarik lengan Sasuke dan memeluknya erat. "—Oh god, aku mengkhawatirkanmu." Lanjutnya lagi, kemudian melepaskan pelukan pada sang adik dan meneliti tubuh pemuda itu.

Beberapa lebam, dan luka mengerikan terlihat jelas di tubuh putih Sasuke. Itachi menggeram marah, "Apa dia yang melakukan semua ini, Sasuke?"

"Nii-san dengar—aku—"

"JAWAB!" Teriak Itachi marah sembari mengguncang pundak sang Uchiha muda, "—Dimana. Naruto?" Desisnya tajam.

Sasuke terlihat meringis kesakitan, "Ugh—dia—sedang ke sekolah."

Itachi menggeram marah, "Aku akan membunuh anak itu. Aku bersumpah." Ucapnya seraya berbalik menuju ke arah mobil.

Konan mencoba menahan lengan rekannya itu, "Itachi, tunggu! Jangan gegabah!"

"AKU TIDAK BISA TINGGAL DIAM, KONAN!"

"Tetap saja, kau ini polisi. Hentikan bersikap kekanakan seperti itu." Tegas wanita itu lagi, mulai emosi.

Itachi mengepalkan tangannya marah, "BAGAIMANA KAU BISA TENANG KALAU ADIKMU DISIKSA SEPERTI ITU!" Tunjuknya kasar pada seluruh tubuh Sasuke. "—KAU LIHAT LUKA MENGERIKAN ITU!—AKU BERSUMPAH AKAN MEMBUNUH PEMUDA ITU!" Tepat setelah teriakannya, Itachi bergegas menuju mobilnya dan melaju kencang menuju Konoha Gakuen. Meninggalkan dua rekannya yang sedikit frustasi termasuk Sasuke yang mulai panik.

"Kita harus segera menghentikan Itachi-niisan." Tukas Sasuke cepat.

Yahiko dan Konan melirik pemuda itu heran.

"Bukankah seharusnya kau senang Naruto akan 'ditembak mati' oleh kakakmu?" Potong Yahiko cepat.

Sasuke menggeleng cepat ketika membayangkan kakaknya akan menembak tubuh pemuda pirang itu hingga berlubang, "Tidak!—Tidak!—Kalian semua salah paham."

"Apanya yang salah paham?!" Tanya Konan semakin frustasi.

Sasuke tidak mempedulikan perkataan wanita itu dan segera menghentikan taksi yang lewat, "Akan kujelaskan nanti. Sekarang kita harus mengejar Itachi-niisan!" Ucapnya panik.

"Hei—bisakah kau sopan pada orang yang lebih tua, Uchiha Sasuke?" Sahut Konan mendeliknya tajam.

Sasuke membalas tatapan wanita itu lebih galak lagi, "Cepat!" Serunya yang lebih mirip perintah.

Konan mengerang kesal dan segera menyeret Yahiko untuk naik ke dalam taksi demi mengejar komisarisnya itu.

Ughh—hari yang menyebalkan.

.

.

.

_Konoha Gakuen, Pukul 11.00 Pagi_

.

Disekolah, tepatnya di kelas, Naruto melakukan kegiatannya seperti biasa. Dan berpenampilan seperti biasa juga. Yang berbeda darinya hanyalah satu hal, yaitu ia lebih sering tersenyum sendiri dan tidak lagi menatap Sakura dengan pandangan takjub. Ia bahkan tidak mempedulikan hinaan yang mampir di telinganya.

Wow!—ia tidak menyangka kalau jatuh cinta membuatmu tidak peduli dengan dunia sekitar. Yang dipikirkannya hanyalah sosok Sasuke seorang. Bagaimana pemuda onyx itu mendesah, mengerang dan bergetar erotis.

Ahh—Memikirkan hal itu membuat Naruto ejakulasi dini di kelas.

BRAK!—Sakura menggebrak meja Naruto dengan keras sambil menatapnya tajam. Pemuda pirang yang sedang duduk itu hampir terjungkal ke lantai karena kaget. Terlebih lagi menatap Sakura yang berada tepat di depan matanya.

Kalau sekarang Naruto masih memuja Sakura, mungkin saja pemuda itu akan bersujud syukur karena gadis itu mau 'menggebrak' mejanya dan menatapnya penuh intimidasi seperti itu, namun sekarang, ia hanya menghela napas malas dan mendengus kecil.

Well—Sakura sudah tidak menarik lagi bagi matanya.

"Mau apa kau kesini." Desis Naruto tajam.

Sakura tercengang melihat reaksi pemuda pirang itu, ia tidak menyangka kalau Naruto akan menatapnya penuh kebencian. Seharusnya semua siswa memujanya dan menghormatinya. Bukan malah menatapnya dengan death glare.

Gadis itu mencoba tidak mempedulikan delikan ganas Naruto, ia membalasnya dengan tatapan merendahkan, "Dimana. Sasuke?" Tanyanya sinis.

Naruto memutar bola matanya, tidak peduli, "Aku tidak tahu." Sahutnya.

"Jangan membohongiku, Miskin. Katakan dimana Sasuke!—Kau terakhir kali bersama pacarku di toilet." Desis gadis itu.

Pemuda pirang dihadapannya hanya mendengus kesal, "Sudah kukatakan, aku tidak tahu!"

Tepat saat Sakura ingin memaki Naruto, sebuah suara menyela pertengkaran itu.

"Dimana Naruto?!" Seru suara tadi dengan nada dingin dan mengancam. Seluruh siswa dikelas menatap pria misterius yang berdiri di ambang pintu kelas dengan tatapan ketakutan, kemudian menunjuk ke arah meja belajar pemuda itu dengan cepat.

"Ingin berbicara apa denganku?" Jawab sang Uzumaki.

Pria tadi hanya berdiri tegap dengan kebencian diwajahnya, "Aku Uchiha Fugaku—" Ada desis tajam dari nada suaranya, "—Dan aku kemari untuk berbincang denganmu mengenai putraku, Uchiha Sasuke." Ucapnya lagi, seraya menjentikkan jarinya keras. Beberapa suruhan Fugaku langsung masuk ke dalam kelas, mengunci kedua tangan Naruto dan menyeretnya menjauh.

"HEI!—LEPASKAN AKU!" Teriak pemuda pirang itu lagi.

Fugaku mendeliknya dingin, "Aku tidak akan membebaskanmu, sampai kau memberitahu keberadaan anakku." Desisnya tajam kemudian bergerak menjauh dari kelas. Meninggalkan bisikan heran dari seluruh siswa termasuk Ino yang menyikut Sakura dengan penasaran.

"Sebenarnya ada apa?" Tanya gadis berkuncir pirang itu.

Sakura mengedikkan bahu, "Aku tidak tahu. Tapi kalau ayah Sasuke-kun sudah turun tangan, berarti hal itu adalah masalah yang besar." Jawab gadis pink tadi.

.

.

.

.

BLAM!—Itachi menutup mobilnya dengan keras. Ia sudah sampai tepat di depan pagar Konoha Gakuen dan siap mencincang habis pemuda bernama Naruto itu. Bahkan ia tidak segan-segan menembak Naruto kalau pemuda itu membuatnya emosi.

Ia bergerak cepat masuk ke dalam gerbang Konoha, tetapi baru selangkah berjalan, gerakannya terhenti ketika melihat Naruto dipaksa masuk ke dalam sebuah mobil hitam mewah milik suruhan Fugaku.

Itachi langsung bersembunyi di balik tembok pagar saat mobil tadi bergerak keluar dari gerbang Konoha Gakuen, melaju kencang dari gedung sekolah. Ia menebak kalau Fugaku sudah mengetahui keseluruhan kasus itu dari mulut besar Yahiko.

Sial!—Ia akan memberikan surat peringatan pada agent idiot itu. Dan kini keselamatan Naruto mulai terancam. Sejujurnya, ia senang kalau Fugaku membunuh anak itu, tetapi ia tidak mau nama Uchiha tercoreng karena perbuatan bodoh ayahnya.

.

"ITACHI-NIISAN!—" Teriakan Sasuke membuat sang Uchiha tertua itu menoleh kaget. Terlebih lagi melihat adiknya keluar dari dalam taksi bersama dua rekannya.

"Kenapa kau menyusulku?"

"Aku ingin memberitahu soal Naruto pada nii-san—" Sahut Sasuke tanpa memberikan kesempatan Itachi bicara, "—Kau tidak boleh memenjarakan Naruto." Lanjutnya cepat.

"Ha?—Apa kau bodoh?!—Dia sudah menyiksamu!" Tegas Itachi lagi.

"Aku tahu!—Hanya saja—" Sasuke menggigit bibirnya gugup, "—Aku tidak bisa melihatnya dipenjara."

"Kenapa?!"

"Itu—cerita yang sangat panjang." Sahut Sasuke lagi.

Itachi melipat kedua tangannya di depan dada, "Jelaskan dengan singkat." Perintahnya.

Sasuke bergerak gelisah, "Begini, awalnya dia memang menculikku dan menyiksaku, bahkan aku dihajar sampai babak belur—" Ada jeda di kalimatnya saat ia mendengar Itachi mulai menggeram penuh kemurkaan mendengar kisah pendek itu. Sedikit gugup, Sasuke mencoba melanjutkan ceritanya lagi, "—Tetapi semua berubah ketika dia memperkosaku dan meminta ma—"

"APA?!" Teriakan tiga polisi didepannya menyela perkataan Sasuke. Termasuk Itachi yang langsung terbelalak lebar mendengar pernyataan adik kesayangannya itu. Bagian disiksa dan dihajar memang membuat Itachi hampir meluapkan emosinya, tetapi saat Sasuke mengatakan 'diperkosa', emosi itu semakin meluap dan hampir membuatnya stres sesaat.

"Bisakah jangan berteriak? Telingaku berdenging." Tukas Sasuke sambil melempar death glare nya.

Itachi menyambar pundak Sasuke dan mengguncangnya keras, "KAU DIPERKOSA?!—BAGAIMANA BISA?!"

"Nii-san tenanglah, aku tidak apa-apa." Sela Sasuke lagi.

"BAGAIMANA BISA KAU BAIK-BAIK SAJA?!—KAU ITU DIPERKOSA!"

"Nii-san! Berhenti berteriak!" Seru Sasuke yang tak kalah emosinya.

Konan mencoba menenangkan komisarisnya itu, sedangkan Yahiko menatap prihatin pada Sasuke.

"Pasti berat disekap lalu diperkosa seperti itu." Ucap Yahiko seraya mengelus puncak kepala Sasuke lembut.

"Jangan. Menyentuhku." Desis sang Uchiha bungsu seraya menepis tangan Yahiko dari kepalanya, "—Kenapa menatapku dengan tatapan kasihan seperti itu?!—Sudah kukatakan aku baik-baik saja!—Lagipula aku dan Naruto sudah memiliki hubungan 'khusus'!"

"Khusus?" Itachi mendelik galak, "—Apa maksudmu dengan hubungan 'khusus' itu?"

"Well—" Sasuke menyentuh tengkuk lehernya gelisah, "—sepertinya aku dan Naruto 'pacaran'." Tangannya membuat gestur mengutip saat mengatakan 'pacaran'.

"APA?!" Lagi-lagi ketiga polisi itu berteriak keras. Bahkan kali ini, Itachi hampir pingsan mendengar pernyataan mengejutkan itu. Sudah cukup dengan stres yang dialaminya, kini sang Uchiha tertua harus merasakan darah tinggi nya yang mulai kambuh lagi.

Konan yang pertama kali mencoba mengklarifikasi perkataan Sasuke, "Jadi—kau disekap, lalu disiksa, kemudian diperkosa dan sekarang kau bilang bahwa kalian pacaran?!" Jelasnya seraya menatap Sasuke tidak percaya.

"Yeah—begitulah." Sahut Sasuke malas.

"Sasuke, aku mohon jangan bercanda di saat begini." Tukas Itachi yang mencoba menenangkan denyutan sakit di keningnya.

"AKU TIDAK BERCANDA!—" Seru Sasuke kesal, "—Jadi aku harap nii-san tidak memenjarakan Naruto."

Itachi berhenti memijat keningnya dan menatap Sasuke dengan serius, "Kalau soal Naruto, aku melihatnya dipaksa masuk ke dalam mobil milik Fugaku."

"A—Apa?!—Kenapa nii-san tidak mencegah ayah?"

"Heh!—untuk apa? Aku malah berterima kasih kalau Fugaku mau membunuh anak itu."

"Nii-san!—" Sasuke menggertak marah, "—Aku harus mencegah ayah untuk melakukan hal kejam pada Naruto." Tegasnya lagi seraya menghentikan taksi yang lewat.

"Hei, Sasuke!—" Itachi menyambar pergelangan tangan adiknya cepat, "—Jangan bertindak bodoh!"

Sasuke menepis cengkraman kakaknya itu, "—Kalau Nii-san tidak mau membantuku, aku bisa melakukannya sendiri!"

Itachi mendesah. Berdebat dengan Sasuke disaat genting begini bukanlah hal yang pintar, jadi yang dilakukannya hanyalah menuruti permintaan adiknya itu, "Baiklah, aku mengerti. Kita akan ke tempat Fugaku. Tapi ingat jangan bertindak idiot."

Sasuke tidak menjawab, ia hanya mengangguk paham.

.

.

.

_Uchiha's Mansion, Pukul 12.00 Siang_

.

Kediaman Uchiha merupakan istana yang terlalu megah bagi orang miskin seperti Naruto. Lantai porselin putih yang mahal, beberapa guci dan patung bernilai seni tinggi, serta lukisan besar sang kepala keluarga terpampang megah di ruang depan, membuat nyali orang yang bertamu ke istana itu akan ciut melihat kemewahan keluarga Uchiha.

Sayangnya, nyali Naruto lebih ciut menghadapi todongan pistol tepat dikepalanya daripada sibuk melihat-lihat ruangan megah itu.

Dihadapannya, Fugaku duduk angkuh dengan mata berkilat tajam, sedangkan dua bodyguard nya sibuk menodongkan pistol ke sisi kiri dan kanan kepala Naruto.

"Bagaimana ruangan ini?—Indah bukan?" Ucap Fugaku seraya melebarkan kedua tangannya, seakan-akan ingin menunjukkan kemewahan ruang tempat penyekapan itu.

Pemuda pirang itu melihat sekelilingnya, ukuran kamar itu dua kali lipat lebih besar dari apartemennya, dengan kabin-kabin tinggi, meja kayu panjang dengan ukiran seni, serta beberapa dekorasi yang kelihatannya sangat mahal kalau dilelang.

Naruto kembali beralih menatap Fugaku kemudian menangangguk ketakutan. Sang kepala keluarga Uchiha hanya mendengus kecil.

"Jadi—" Fugaku mengambil cerutu di saku jasnya, "—apa kau yang menculik anakku?"

Naruto meneguk ludahnya, gugup, "Uhm—bisa dibilang begitu—"

CRIK!—Bunyi pelatuk pistol yang ditarik membuat Naruto menggigil ketakutan, apalagi todongan pistol tadi semakin mendekat ke sisi kepalanya.

Fugaku mengangkat tangan kanannya untuk menghentikan pergerakan bodyguard nya, ia kembali berbicara, "—Apa yang sudah kau lakukan pada putraku?" Pertanyaan cukup sederhana namun penuh intimidasi keluar dari mulut dingin sang kepala keluarga.

Pemuda pirang itu mulai berkeringat dingin, "A—Aku menyekapnya dan menyiksanya—" Ada jeda di kalimat Naruto sebab dua bodyguard tadi hampir menarik trigger pistol.

Fugaku kembali menatap Naruto dengan tajam, "—Lanjutkan." Perintahnya tegas.

Sang Uzumaki meneguk ludah, ketakutan, "—Da—Dan memperkosanya."

BRAAK!—Gebrakan meja yang dilakukan Fugaku membuat Naruto terlonjak kaget, termasuk dua bodyguard nya yang juga ikut terkejut mengetahui boss mereka marah besar.

"Kau—apa?" Desisan tajam keluar dari mulut Fugaku seiring tatapannya yang semakin bengis.

"A—Aku memperkosanya." Ulang Naruto lagi hampir mati ketakutan.

"Bunuh." Perintah sederhana yang keluar dari mulut Fugaku membuat Naruto membelalakkan matanya ngeri.

"Tu—Tunggu dulu!—" Naruto mencoba bertahan saat dua bodyguard tadi bersiap-siap menarik trigger pistol. "—A—Aku pacaran dengan Sasuke."

Semua gerakan di ruangan itu terhenti, termasuk Fugaku yang membeku ditempat, ia menoleh dengan kaku, "—Kau bilang apa?"

Naruto lagi-lagi meneguk salivanya, "A—Aku pacaran dengan Sasuke."

"JANGAN BERCANDA, BOCAH!"—DUAGH!—Fugaku menghadiahi Naruto bogem mentah tepat di pipi, membuat pemuda pirang itu terjatuh ke lantai dengan debaman keras. "—Jangan membuatku ingin membunuhmu dua kali." Desisnya tajam.

Naruto meludahkan rasa asin yang mampir di mulutnya ke lantai porselin, "—aku tidak berbohong. Setelah aku memperkosanya aku sadar kalau aku menyu—"

"DIAM!—" Fugaku menarik kerah baju Naruto, "—Kau pikir aku termakan omonganmu?—Dengar Nak, tidak ada orang yang jatuh cinta setelah diperkosa. Kau kebanyakan bermimpi."

"AKU TIDAK BOHONG!—AKU BENAR-BENAR MENYU—"

BUGH!—Perut Naruto ditendang secara kasar oleh sang kepala keluarga Uchiha. Membuat pemuda itu berteriak kesakitan dan kembali memuntahkan darah.

Fugaku melihat rintihan Naruto dengan tatapan tajam dan dingin. "Kau sepertinya tidak mengerti cara berbicara dengan baik dan benar, huh?—Baiklah, aku akan mengajarimu pelajaran yang sepantasnya kau terima." Desisnya dengan suara serak yang berat.

Fugaku menjetikkan jarinya keras, kemudian salah satu bodyguard nya membawa tongkat baseball yang penuh dengan paku runcing. Sang kepala keluarga Uchiha menimang-nimang benda tadi ditangannya. Mata hitamnya semakin gelap dengan luapan kemurkaan.

"—Kita akan mulai pelajaran pertama kita." Ucapnya dingin sembari mengangkat tinggi-tinggi tongkat tadi ke udara.

.

Sang sapphire membelalakkan mata dengan penuh kengerian dan teror saat tongkat itu berayun ke arah kepalanya.

.

DUAAGH!—Hantaman keras itu dilanjutkan dengan teriakan nyaring dari sang Uzumaki.

.

"AAAAAAARRGHHHH!"

.

.

.

.

.

.

BRAAK!—Pintu depan kediaman Uchiha didobrak kasar oleh Sasuke.

"AYAH!—" Pemuda onyx itu berteriak memanggil sang kepala keluarga Uchiha dengan panik.

Itachi yang berada dibelakang Sasuke ikut mensejajarkan langkahnya, "Sasuke—aku akan mencoba mencari Fugaku di lantai dasar." Ucap sang kakak lagi.

"Bagaimana dengan kami?" Potong Konan seraya menunjuk dirinya dan Yahiko.

Itachi menoleh sekilas. "Kalian berjagalah di depan."

"Baik!" Sahut kedua polisi itu bersamaan.

Itachi kembali beralih pada adiknya, "Kau—lantai atas." Perintahnya lagi.

Sasuke hanya mengangguk cepat dan bergegas menaiki tangga untuk mencari keberadaan Fugaku. "AYAH!—DIMANA KAU!" Teriak Sasuke lagi.

Tangannya gemetaran memikirkan nasib pemuda Uzumaki itu. Ia terus berdoa semoga ia tidak menemukan Naruto dalam keadaan tidak bernapas.

Please!—ia tidak ingin Naruto mati.

"AYAH!—JAWAB AKU!" Teriak Sasuke lagi semakin keras.

Ia mendobrak kamar tidur pria itu—Nihil!

Ia kembali mencoba ruang kerja ayahnya—Kosong!

Sasuke terus bergerak dari satu ruangan ke ruangan lain, namun ia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Naruto maupun ayahnya.

Sial!sebenarnya dimana mereka?! Rutuk pemuda onyx itu dalam hati.

Tepat ketika ia ingin kembali ke lantai dasar, sebuah teriakan dari lantai atas membuatnya menoleh cepat.

Sasuke terbelalak menyadari kebodohannya, "Benar!—lantai tiga!" Ucapnya lagi seraya bergegas lari menuju ke arah asal teriakan.

Pemuda onyx itu bergegas menaiki tangga, kemudian mendobrak ruangan terdekat dengan suara -BRAK!- keras.

.

"Ah!—Sasuke—" Suara Fugaku yang pertama kali mampir ditelinga pemuda onyx itu saat pintu terbuka lebar. Sang kepala keluarga duduk angkuh di kursi kerjanya sambil melebarkan kedua tangannya, seakan-akan menyambut kedatangan putra bungsunya itu.

"—Aku tidak menyangka kau bisa bebas." Ucap Fugaku lagi dengan nada suara lega.

Sasuke hanya menatap ayahnya tajam, "Dimana. Naruto?" Desisnya.

Fugaku terdiam menatap kemarahan putranya itu, "—Untuk apa mengkhawatirkan penculikmu, Sasuke?"

"AYAH!—JAWAB PERTANYAANKU!—DIMANA NARUTO?!" Raung Sasuke emosi.

Fugaku menampilkan tatapan dinginnya lagi, kemudian menjentikkan jarinya.

Salah seorang anak buah Fugaku masuk ke dalam ruangan sambil menyeret tubuh Naruto yang tergolek lemah dengan badan penuh luka dan memar. Bahkan pelipis serta bibir pemuda pirang itu robek dengan luka yang parah.

"Na—Naruto!" Seru Sasuke panik sembari memeluk tubuh pemuda pirang itu. "—Naruto!—Jawab aku!" Teriaknya lagi seraya menyentuh pundak sang Uzumaki.

Fugaku yang berada dihadapan mereka hanya menatap tanpa ekspresi, ia menjetikkan jarinya lagi dan anak buahnya sudah menyeret tubuh Naruto mendekat ke arahnya. Sedangkan tubuh Sasuke di pegangi erat oleh para bodyguard agar berhenti berontak.

"LEPASKAN AKU, BRENGSEK!" Raung Sasuke marah, mencoba meronta dari cengkraman para anak buah ayahnya agar bisa menyelamatkan Naruto.

Fugaku bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke laci meja kerjanya, "—Kau tahu, Sasuke. Anak ini mengatakan kalau kalian 'pacaran', bukankah itu hal terkonyol yang pernah aku dengar?" Ia menatap putra bungsunya itu tajam, "—Katakan kalau itu bohong." Perintahnya seraya mengelus lembut pistol yang diambilnya dari dalam laci.

Sasuke menggigit bibirnya panik, "Ayah, aku mohon jangan melakukan hal itu." Pinta pemuda onyx itu ketakutan saat moncong pistol menyentuh kening Naruto.

Fugaku tidak mempedulikan permohonan anaknya, matanya berkilat tajam menatap Naruto, "—Tenanglah Sasuke, aku akan membebaskanmu dari penculik menjijikan ini."

"Ayah aku mohon!—Hentikan!" Sasuke meronta semakin liar. Mencoba membebaskan dirinya dari cengkraman para bodyguard.

.

Dihadapan Sasuke, Naruto mencoba membuka matanya yang bengkak karena dihajar hingga babak belur. Penglihatannya buram dan tidak fokus, telinganya juga berdenging sakit, tetapi ia masih bisa mendengar samar-samar teriakan dan tangisan Sasuke.

Naruto tidak tahu kenapa Sasuke berteriak dan meronta-ronta seperti itu. Yang ditangkap pendengarannya adalah suara Sasuke yang terus memohon memanggil ayahnya.

Mata biru Naruto kembali beralih ke arah sosok sang kepala keluarga Uchiha yang berdiri disampingnya. Laki-laki itu mendekatkan moncong pistol ke arah sisi kepalanya. Naruto yakin ia tidak akan selamat di tembak di kepala, apalagi dengan jarak sedekat itu.

—Apakah ia akan mati?

Ia berharap di surga nanti kehidupannya akan lebih baik. Setidaknya ia tidak perlu lagi di-bully setiap harinya.

Naruto kembali memejamkan matanya perlahan. Berharap kematian tidak sesakit yang dibayangkannya.

.

Fugaku kembali mendesis tajam, "—Matilah kau, manusia rendahan."

Trigger pistol di tarik.

.

Sasuke meraung lebih keras, "AYAH!—JANGAN!"

.

.

.

DOOORR!

.

Satu peluru dimuntahkan keluar dari moncong pistol.

Tubuh Naruto tersungkur dilantai dengan cepat.

Selanjutnya yang pemuda pirang itu tahu, cairan merah kental tadi mulai menjalar perlahan membasahi lantai porselin mahal itu dengan aroma yang menjijikan.

Ia tidak sanggup berteriak, hanya sapphire birunya yang sempat menangkap ekspresi ngeri di wajah Sasuke sebelum warna hitam kembali mendominasi penglihatannya.

.

Ternyata mati—tidaklah sesakit yang dibayangkannya.

.

.

.

TBC

.

Oke Bersmbung dengan gajenya... Btw, maaf ya kalau di chap ini pendek dan gak ada adegan melon nya #plak *lemon maksudnya*

... Dan sekali lagi terima kasih buat yg udah setia baca n review... reader, reviewer, dan silent rader, kalian semua adalah harta berhargaku *Cium satu-satu sampe bibir monyong*

.

RnR Please! ^^