Jimin tak menyangka akan bertemu dengan kapten -yang sekarang menurut Jimin- menyebalkan itu lagi, di tambah takdir mengatakan kalau dia berbagi lantai yang sama dengan tempat tinggalnya.. ugh! Jimin benar-benar kesal.
"Kau benar-benar menguntitku ya, Park Jimin?" Yoongi menatap wanita dihadapannya sengit. Tangan kanannya yang bebas, menyentuh kening Jimin jijik. "Sial, mimpi apa aku bisa bertemu denganmu lagi di rumahku sendiri." lanjutnya dengan nada remeh.
Jimin yang masih setengah mabuk itu hanya menatap Yoongi sayu, pipinya merona dan bibirnya yang terpoles lipstik merah tadi pagi sekarang terlihat pucat tanpa polesan apapun. "Kau.. dan mulut brengsekmu itu Min Yoongi. Sial aku benar-benar membencimu sekarang." Racau Jimin.
Yoongi hanya tertawa kecil, "Bagus, sekarang kembalilah ke apartemenmu."
Alis Jimin bertautan. "Ini apartemenku! kenapa kau ada di apartemenku!" matanya melihat penampilan Yoongi dari bawah ke atas. "dan juga kenapa kau berpakaian seperti itu? tidak sopan!"
Yoongi melihat penampilannya sendiri. Celana pendek Kumamon dan kaos putih gambar Gudetama sedang tengkurap yang lusuh itu sangat nyaman dipakai. Tidak ada yang salah dengan penampilan seperti ini di dalam rumah sendiri, lagi pula dirinya tetap lebih tampan daripada Kim Taehyung yang ketampanannya sering dikait-kaitkan dengan bahwa dia keturunan dari pangeran Adonis. "Kenapa? tidak ada yang salah dan aku tetap tampan."
"Cih, tampan kalau tidak sopan apa gunanya." Jimin mencibir. "Sudah minggir, aku mau masuk dan kau sebaiknya pulang sebelum aku memanggil petugas keamanan." Tangan Jimin terulur mendorong pintu yang di tahan oleh Yoongi, dan dengan santainya wanita itu masuk melenggang tanpa rasa bersalah menuju ruang dimana Yoongi biasa menonton tv sambil meneguk sebotol wine kesukaannya.
Sejenak Jimin berpikir, sejak kapan ada di rumahnya ada wine? Dan.. entah mengapa warna merah pekat yang ada di gelas bundar tersebut sungguh menggoda, tanpa ragu Jimin meneguk semua sisa wine yang ada di gelas bekas Yoongi menikmatinya. Masa bodoh.
Yoongi hanya bisa memperhatikan gelagat wanita yang -nampaknya makin mabuk- itu dari sudut ruangan dekat pintu masuk apartemennya. Kapten yang memiliki jam terbang lebih tinggi daripada kapten Jung itu terkejut dengan kemampuan alcohol tolerant seorang Park Jimin. Payah. Sok-sok an meneguk sebotol penuh red wine antik miliknya dan kemudian langsung pingsan tak sadarkan diri.
Hari ini seharusnya jadwal seorang Min Yoongi untuk bersantai dan menikmati koleksi wine mahalnya dengan tenang. Sambil memikirkan bagaimana nasib pekerjaannya yang berada di ujung tanduk. Tadinya Yoongi ingin menelpon seseorang dan mengajaknya bercinta di apartemen, namun sayang.. kehadiran Park Jimin merusak segalanya. Masa iya seorang Min Yoongi mengajak Park Jimin bercinta? Big no.
Tapi kalau dilihat-lihat, penampilan Jimin yang sekarang sangat berbeda ketika bertemu dengannya tadi pagi. Penampilannya sekarang lebih mirip anak sekolah menengah atas yang baru puber. Hanya kaos V neck putih dan cardigan warna salem dengan slim jeans warna navy dan.. tidak ada high heels ataupun bibir merah menyala, hanya ada sepatu converse warna biru sewarna celananya. Yoongi jadi berpikir kalau sebenarnya Jimin itu anak sekolah yang di suruh Sungjong untuk menggantikannya sementara.
Yoongi tidak peduli, yang jadi permasalahannya sekarang adalah bentuk tubuh Jimin yang tidak bisa dibilang seperti anak baru puber, belahan dadanya sedikit terlihat karena posisi tidur Jimin yang terlihat menguasai sofa Yoongi. Lelaki itu menerka-nerka jika ukurannya.. Agh, sial. kenapa juga dia harus memikirkannya?
Pagi ini terasa menyenangkan bagi Taehyung, ketika membuka mata pertama kali langsung menghadap seorang Jeon Jungkook yang tengah tidur pulas. Wajahnya tetap cantik walaupun sedikit berminyak, mulut dan matanya sedikit terbuka, dan gurat-gurat kelelahan terlihat jelas di wajah manisnya. Malahan wajah seperti itu yang terlihat imut di mata Taehyung. Lelaki itu selalu ingin merasakan pagi-paginya akan di hadapkan dengan pemandangan seperti ini. Menikah dengan Jungkook adalah salah satu wishlistnya.
Jangan lupa, seorang malaikat kecil diantara mereka yang menambah yakin sorang Kim Taehyung untuk cepat-cepat menikahi Jungkook. Kim Ahreum yang menggemaskan.
Ahreum bukanlah anak biologis Taehyung dan Jungkook. Ayah dan Ibu Taehyung menyembunyikan identitas ibu kandung Ahreum karena alasan itu adalah permintaan terakhir ibu kandung Ahreum yang harus di penuhi, dan alasan itulah yang membuat Taehyung frustasi tidak bisa menikahi Jungkook secepatnya. Ayah Taehyung tidak melarang Taehyung untuk menikahi gadis manis dan cerdas seperti Jungkook, bahkan ayah dan ibu Taehyung sudah berbicara scara personal kepada Jungkook untuk bersabar dan memohon pada gadis itu untuk mencoba menerima kehadiran Ahreum dan menjadikan dirinya sabagai ibu pengganti sementara Ahreum yang masih balita pada waktu itu.
Awalnya Jungkook terkejut mendengar cerita orang tua Taehyung tentang siapa Ahreum dan nasib dari ibu kandungnya. Jujur, ketika mendengar kejadian yang sebenarnya, Jungkook merasa panas. Namun ketika mendengar cerita lebih lanjut, Jungkook mencoba untuk memahami dan menerima kenyataan. Pada akhirnya Jungkook pun menuruti permintaan kedua calon mertuanya untuk menjadi ibu bagi Ahreum. Jungkook menerima Ahreum sebagai putrinya dengan senang, hatinya berdesir ketika bertemu Ahreum yang terlelap di box bayi dengan damainya. Ahreum adalah nama pemberian ibu kandung bayi mungil tersebut, karena orang tua Taehyung bilang, ibu Ahreum sebenarnya seorang malaikat cantik yang hidupnya kurang beruntung. Jungkook hanya mengangguk tanpa mengalihkan perhatiannya pada bayi mungil cantik tersebut. Nampaknya, Jungkook benar-benar sudah jauh cinta dengan malaikat kecil bernama Kim Ahreum.
Semua kebahagiaan terasa sedikit tergores ketika orang tua Taehyung meminta Jungkook untuk tidak memberitahu apapun kepada Taehyung tentang Ahreum, malah ibu Taehyung meminta Jungkook untuk mengatakan jika Ahreum adalah anak kandungnya. Karena mereka tidak mungkin memberikan Ahreum kepada Seokjin. Melihat raut wajah orang tua Taehyung yang begitu penuh harapan besar padanya, mau tidak mau Jungkook luluh dan menyanggupinya asal hubungannya dengan Taehyung di restui. Restu Jungkook sudah di pegang, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat. Bersabar, karena semua akan indah pada waktunya.
"Appa.." Suara malakat kecil menyadarkannya dari mengaggumi sang kekasih. "Halo sayang, Good morning sweetheart." jawab Taehyung dengan suara khas bangun paginya yang berat. Ahreum menggeliat menyesakkan kepalanya pada Taehyung. "Kita mau kemana hari ini? Jalan-jalan yuk, kita bertiga." Ajak Taehyung sambil mengelus kepala anaknya sayang. Ahreum mendongak, "Ayo kita naik gunung dan berkemah!"
Seruan Ahreum yang kelewat semangat itu membangunkan Jungkook dari lelapnya. "Good morning my princess." sapa Jungkook sambil menggeliatkan badannya, lingerie satin one piece pink nya memperlihatkan lekuk tubuhnya dan mencetak jelas payudara bercup C kesukaan Taehyung. Jangan heran bagaimana Tehyung bisa tau detil ukuran pakaian dalam Jungkook. Salahkan hormonnya!
"Kau tidak menyapaku, bunny?" Taehyung pura-pura ngambek. Ahreum tertawa kecil menggumamkan kata-kata bunny sambil memeluk dan mengecup bibir ibunya tak lupa mengucapkan selamat pagi. Jungkook memutar bola matanya malas "Ya baiklah, selamat pagi Kim Taehyung." Ucap Jungkook sambil sedikit menguap.
Tiba-tiba pergerakan Ahreum yang sedikit terburu-buru itu membuat Jungkook menyingkap selimutnya dan memberikan ruang bagi anaknya itu untuk turun dari kasur. "Mau kemana sayang?" Tanya Jungkook.
"PIPIS!" Balas gadis kecil itu sambil sedikit berteriak. Jungkook dan Taehyung hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya geli. Ahreum benar-benar menggemaskan.
Taehyung langsung menghujani ciuman panas pada Jungkook tepat ketika suara pintu kamar mandi di tutup oleh Ahreum. "Nanti malam titipkan Ahreum pada Seokjin noona atau orang tuaku, please? Aku benar-benar merindukanmu bunny." Ucap Taehyung di sela-sela ciuman panas mereka.
Jungkook tidak menjawab, ia hanya menikmati ciuman panas Taehyung yang benar-benar ia rindukan. Tangannya melingkari pundak Taehyung ketika lelaki itu mendominasinya dari atas. Tangan Taehyung meremas sebelah payudaranya yang telah menegang. Wanita itu menahan desahannya mati-matian supaya tidak terdengar oleh anaknya. Kalau tidak ada Ahreum, dipastikan pagi ini Jungkook tidak akan "bebas".
Jungkook menepuk-nepuk dada bidang Taehyung untuk segera menghentikan sesi make out mereka karena mendengar suara flush toilet dari dalam kamar mandi. Dan berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa di depan Ahreum.
Langkah kaki kecil itu kembali dan langsung menerobos ke dalam selimut di antara orang tuanya. "Eomma, hari ini kita naik gunung dan berkemah yuk. Mumpung Appa tidak terbang." Pintanya sambil menoel-noel pipi ibunya dengan jari telunjuk mungilnya.
"Baiklah, kau mau eomma membuatkan apa untuk kita berkemah?"
"Kimbab! kalamari! Dan.. eum, appa! Appa mau apa?" Gadis kecil itu menoleh pada ayahnya.
Taehyung tersenyum. "Appa mau eommamu, sayang." Langsung mendapat tatapan mengerikan dari Jungkook.
Sedangkan Ahreum hanya mengedip-ngedipkan matanya tidak mengerti. "Eh?"
Hanya lantunan musik nostalgia yang mengalun menemani perjalanan Seokjin dan Namjoon ke bengkel. Suasana canggung masih awet tercipta. Namjoon sesekali melirik wanita di sebelahnya takut-takut dia sedang memikirkan bagaimana cara melakukan percobaan bunuh diri. "Hey Miss.."
"Seokjin, kau sudah tau namaku kapten Kim." potong Seokjin cepat.
"Kalau begitu, jangan panggil aku dengan sebutan kapten Kim. Panggil aku Namjoon." Balas lelaki itu tenang.
Seokjin melirik Namjoon sejenak, dan kembali melihat jalanan Seoul yang lumayan padat. Sebenarnya Seokjin menahan rasa kagumnya mati-matian melihat gaya berpakaian Namjoon yang menurutnya super stylish dan membuat hatinya sedikit berdesir. Lelaki itu benar-benar terlihat tampan dengan hanya menggunakan kemeja berwana hitam dan celana chinos warna hitam dipadukan dengan sneakers berwarna putih. Bentuk badannya sangat proporsional. Seokjin benar-benar bisa di buat salah tingkah sendiri hanya dengan melihat gaya berpakaian Namjoon. Berbeda dengan dirinya yang memakai gaun hitam ala perjamuan malam dengan model sabrina mengerucut tepat di atas belahan dadanya. Gaun yang dalam semalam telah bersih dan wangi, terima kasih kepada Kim Namjoon.
"Seokjin, mau mampir ke kedai kopi sebentar? Kita belum sarapan dan mengemudi dalam keadaan perut kosong tidak baik untukku." Namjoon memutar stir kendalinya ke arah kanan dan membuat tubuh Seokjin sedikit terhuyung ke arah kiri menubruk lengan kanan Namjoon yang terlihat sangat kokoh.
Raut wajah Seokjin memerah, masalahnya Namjoon membelokkan mobilnya secara tiba-tiba dan kepalanya terantuk ujung pundak Namjoon sedikit membuat nyeri. "Kau sengaja ya! Aish!" Seokjin mengusap-usap kepalanya yang sedikit pusing. "Kau bisa menyetir tidak sih? Kalau tidak biar aku yang menggantikan." Lanjutnya ketus.
Namjoon tersenyum sambil melirik Seokjin yang sedang manyun. "Sorry, aku tidak sengaja. Caraku mengemudi ya seperti ini, Seokjin. Maaf, apakah caraku membuatmu terluka?" Tangan kanan Namjoon terulur untuk menyentuh kepala wanita bersurai legam tersebut, namun dengan cekatan Seokjin menepisnya. "Fokus menyetir, aku tak apa."
"Kita sudah sampai." Namjoon menarik rem tangan. "Kau mau disini dan kubawakan pesananmu atau kita sarapan disini?"
Wanita itu berpikir sejenak, ia agak tidak percaya diri dengan gaun malamnya, salah kostum hanya untuk sarapan santai. "Apa kau meninggalkan coat atau jaket di bagasimu? Aku tidak percaya diri dengan baju seperti ini."
"Kenapa? kau terlihat cantik dengan gaun itu. Tidak perlu merasa kecil, Seokjin."
"Namjoon. Aku tidak percaya diri karena salah kostum, aku tidak merasa kecil. Tolong perhatikan perbendaharaan kata-katamu."
Alis Namjoon bertautan, terserah apa kata gadis ini. Yang penting sekarang dia sungguh merasa lapar. "Kau tunggu disini sebentar, jangan keluar. Aku tidak akan lama."
"Nam-"
Seruan nama Namjoon terpotong ketika secara tiba-tiba lelaki itu keluar mobil dengan tergesa. Seokjin merutuki nasibnya yang benar-benar sial. Kalau bukan karena lelaki yang dulu pernah menjalin hubungan dengannya itu, dia tidak mungkin mengalami ban bocor dan sampai terjebak bersama kapten Kim Namjoon yang menggairahkan.
Lima belas menit Seokjin menunggu kapten Kim kembali entah darimana. Wanita itu sesekali melirik jam yang berada didashboard mobil, sambil mengigiti bibirnya. Ia gugup dan bingung. Sampai akhinya seorang Kim Namjoon kembali membawa dua buah kantong belanjaan dengan label Gucci dan Dior.
"Gantilah dengan ini, aku menunggumu di luar. Tenang saja aku tidak akan mengintip" ucapnya sebelum Seokjin mengucapkan apa-apa dan menutup pintu mobilnya. Secepat kilat, Seokjin mengganti gaun malamnya dengan kemeja semi formal tak berlengan dan juga celana jeans slim fit yang sedikit agak ketat. Kemudian ia keluar dan melihat penampilannya dari pantulan kaca mobil mewah Kim Namjoon. Gayanya sangat pas di padukan dengan stiletto merah darah Christian Louboutin miliknya.
Namjoon menoleh ketika mendengar suara pintu mobil di tutup. Lelaki itu terperangah dengan wanita asing tersebut. Ternyata pakaian dan celana yang di belikannya sangat pas dengan tubuhnya, dan Seokjin terlihat sangat cantik juga elegan di saat yang bersamaan. Tanpa sadar, senyum merekah di sudut bibirnya. "Kau cantik." Pujinya kemudian.
Seokjin menoleh dan tersenyum simpul. "Bagaimana kau bisa tahu ukuran pakaianku, Namjoon?" tanyanya penasaran.
"Err, hanya menerka saja."
Wanita itu mengangguk. "Tapi sejujurnya celana ini agak sedikit sempit. Mungkin aku yang bertambah gemuk."
Alis Namjoon bertautan. "Sudahlah, ayo cepat sarapan dan ambil mobilmu.".
.
.
"Jadi, kau adalah pramugari Emirates?" Tanya Namjoon setelah mengantri dan duduk di tempat yang menurut mereka aman.
Seokjin mengangguk, mengunyah sandwich octopusnya dengan perlahan dan menelannya. "Senior. Memangnya kenapa?"
Namjoon menggeleng sambil tersenyum simpul. "Tidak.. hanya saja aku merasa pertemuan kita seperti takdir."
"Kau merayuku?" Seokjin memicingkan mata rubahnya. "Oh, Namjoon. Aku akan mengganti semuanya. Em maksudku yahh baju-baju ini."
Lelaki itu tertawa kecil dalam gumaman mengunyahnya, jari telunjuknya yang terlihat kuat itu bergoyang ke kanan dan ke kiri guna menjawab pernyataan yang Seokjin lemparkan. "Tidak perlu, anggap saja itu hadiah." Jawabnya setelah menyeruput Americanonya. "eum, Seokjin. Apa.. kau sudah punya kekasih?"
Seokjin hanya tersenyum sembari tertawa. "Kau benar-benar sedang merayuku. Dan ya, aku mempunyai kekasih. That's why I am here."
"Bukan begitu, biasanya pekerjaan kita menuntut untuk tidak bisa memiliki orang spesial. Seperti kau contohnya, menjadi seorang pramugari tidaklah mudah. Ketika kau memutuskan untuk menikah, itu berarti kau harus melepaskan segala keatributan pramugarimu dan keluar dari maskapai kan? Berbeda dengan kami yang pilot, kalau menikah, ya menikah saja." Namjoon menautkan jarinya di bawah dagunya. "kalau kami para pilot tidak bisa menjalin hubungan lebih karena pekerjaan yang membutuhkan waktu ekstra, dengan kata lain jika mau berhubungan pun kau harus tahan dengan yang namanya hubungan jarak jauh. Dan tidak semua orang bisa menyanggupi tahan dengan hubungan seperti itu."
"Bahkan aku tidak punya niat untuk menikah, Namjoon. Aku dan kekasihku hanya sebatas yaa kekasih. Kami berdua tidak berkomitmen untuk menikah karena suatu hal."
"Kekasihmu… mandul?" ucap Namjoon asal.
Seokjin terkejut dan seketika tertawa lepas. "Tidak tidak. Hahaha dia tidak seperti itu. Haha aduh perutku, ya Tuhan.. dia tidak seperti itu Namjoon. Dia memiliki kualitas sperma yang sangat menagaggumkan! Aku pernah mengecek kesehatan kami di rumah sakit dan hasilnya sungguh membuatku tercengang. Bahkan dokter menyarankanku untuk cepat-cepat menikah dengan pria berkualitas sperma mengaggumkan sepertinya."
Namjoon tersenyum kecil dan merasa lucu ketika Seokjin mengucapkan semuanya secara terang-terangan. Dalam hatinya membatin, Seokjin sungguh terlihat cantik ketika tertawa. Dan siapapun kekasih dari seorang Kim Seokjin, Namjoon yakin dia pasti lelaki terpayah sedunia karena menyia-nyiakan seseorang seperti Seokjin.
Pagi itu, suasana di maskapai cukup ramai seperti biasa. Ada Jung Hoseok yang dengan menari-nari tidak jelas karena girl grup favoritenya tampil di televisi, ada Kim Myungsoo yang sedang menelpon kekasihnya, dan sangat terdengar jika dia sedang di marahi kekasihnya karena menelpon pagi-pagi. Dan ada juga pilot blasteran Amerika-korea yang sedang sibuk membaca buku berbahasa korea yang sesungguhnya ia tidak mengerti, Christian chimchim.
Ruangan khusus pilot yang selalu ramai itu menjadi ruangan surga bagi para calon pramugari baru di maskapai. Banyak yang mencuri-curi pandang karena ketampanan pilot Korean Air sudah terkenal dimana-mana. Setiap salah satu dari sekian banyak pilot itu keluar hanya untuk membeli kopi atau kudapan siang, para calon pramugari yang sedang berlatih itu pasti menyempatkan untuk memberi salam 'modus' agar dapat perhatian. Karena memang jalan satu-satunya menuju food court adalah melewati kelas calon pramugari tersebut.
Hoseok yang sedang asyik menari itu di kejutkan dengan sebuah pesan singkat dari ponselnya. Layarnya menampakan jika ia harus menyampaikan pesan kepada kapten Min Yoongi. Tanpa banyak bertanya, ia pamit dan segera menuju ke ruangan dimana tempat Yoongi berada.
Pintu berwarna hitam itu di ketuk oleh Hoseok, namun tidak menadapatkan jawaban sama sekali. Dengan inisiatif, Hoseok menelpon Kapten Min yang juga tidak mendapatkan jawaban. Dengan penuh kesabaran, ia mengetuk pintu itu lagi sambil membuka pintu yang ternyata tidak di kunci sambil mengucap "Kapten Min, aku masuk.." dan Hoseok hanya bisa menghela napas melihat kelakuan kedua orang di hadapannya. "Setidaknya kalian harus mengingat tempat dan waktu. Jangan ceroboh seperti ini."
.
.
.
Min Yoongi dan Kim Namjoon sedang berciuman mesra penuh gairah.
.
.
.
Tubekolosis chap 4
udahh saya mau kabur dulu XD pyong~
