Waringnya : Tolong jangan mengharap keseriusan dari chapter ini, chap ini adalah sekedar chap refreshing walau di chap sebelumnya juga tidak terlalu terasa keseriusannya. Happy reading aja lah.


Disclaimer : Masasshi Kishimoto.


1.

Di dunia properti. Maksudku di dalam dunia bisnis properti macam rumah, apartemen, tempat bisnis dan lain-lainnya. Yang namanya lokasi adalah hal paling pertama yang akan dipikirkan oleh siapapun yang ingin memulai usahanya.

Kalau ada yang pernah menonton acara di hari minggu yang menampilkan sekaligus memasarkan kawasan perumahan dan bisnis, harusnya kalian pernah dengar kalau menejer dari perusahaan yang bersangkutan bilang kalau bisnis properti itu punya tiga asas.

Lokasi. Lokasi. Lokasi.

Dengan kata lain. Sepertinya orang itu tidak tahu kata lain kecuali lokasi.

Normalnya aku akan berpikir begitu, tapi untuk sekarang sepertinya aku harus dipaksa setuju dengan orang yang bahkan aku lupa namanya itu. Sebab sekarang, kelompok kecil kami. Alias tim suksesku dalam pencalonan sebagai ketua OSIS sedang membicarakan masalah yang sama.

Dengan muka yang sangat serius.

"Bagaimana kalau kita mendatangi kelas satu-persatu?"

Di sampingku, Hanabi kelihatan sedang berpikir sangat keras. Dan setelah beberapa saat akhirnya dia mendapatkan kesimpulan yang baru saja dia lontarkan itu.

"Tidak bisa! ada sangat banyak alasan kita tidak bisa melakukan hal itu."

Dan ide itu ditolak mentah-mentah oleh Amaru.

Alasan pertama. Mendatangi kelas tidak akan efektif sebab murid tidak selalu ada di dalam kelas. Untuk bisa membuat seluruh isi kelas mendengar dan melihat apa yang timses kami sampaikan, kami harus masuk di saat jam pelajaran sedang berlangsung.

Dan hal itu akan menimbulkan masalah yang menjadi alasan kedua.

Alasan keduannya adalah. Selain kami jadi harus tidak mengikuti pelajaran, kami juga jadi mengganggu pelajaran orang lain. Dan meski memang ada tipe murid yang senang saat pelajaran diganggu, tapi mengganggu pelajaran sama sekali bukan ide yang bagus.

Apalagi kalau alasannya hanya kampanye. Bukannya mendapatkan simpati malah mungkin aku akan mendapat anggapan kalau aku ini orang yang mengganggu.

"Dan alasan terakhirnya adalah, ide itu sudah dipakai dua orang! lalu, sebab orang ini sangat tidak dikenal . . . ."

Maafkan aku karena sudah tidak terkenal. Dan tolong jangan lihat aku dengan tatapan seperti itu Amaru, rasanya aku jadi agak sakit hati.

"Karena itulah kita butuh Impact! sebuah cara kampanye yang akan membuat orang yang tidak hadirpun akan tahu kalau "ooooo itu Naruto" begitu."

"Kalau memang orang itu setidak dikenal itu, lokasi macam apapun kurasa akan percuma kalau dia yang naik ke panggung."

Sara baru saja menyiramkan air cuka ke luka di hatiku.

Ok. Aku memang tidak terkenal dan populer seperti mantan runner up pemilihan tahun sebelumnya si Amaru, atau bisa menarik perhatian seperti Sara, dan aku juga tidak punya penampilan yang unik seperti Hanabi. Tapi tolong jangan anggap kalau aku ini tidak dikenal siapapun.

"Kenapa mukamu? kalau kau punya masalah bilang saja."

"Tidak, aku sering sekali dengar kalian bilang kalau aku ini tidak dikenal jadi apa yang kita lakukan tempo hari itu tidak ada hasilnya?"

Apa yang kami lakukan tempo hari adalah strategi untuk mengangkat namaku ke permukaan sebagai langkah awal kampanyeku. Jika sampai sekarang aku masih tidak dikenal, kesimpulan yang bisa kudapat hanya ada satu. Usaha kami yang sebelumnya sudah gagal total.

"Tidak, kau sudah jadi terkenal terutama di kalangan murid laki-laki."

Seperti biasa, Shikamaru duduk di meja ketua dengan muka yang menunjukan kalau dia itu sepertinya tidur sambil bicara atau mungkin bicara sambil tidur.

Aku sudah mulai dikenal, tapi untuk suatu alasan fakta yang bilang kalau kebanyakan dari mereka adalah laki-laki. Aku tidak tahu alasannya, dan jika kupikirkan alasannya aku sama sekali tidak bisa paham bagaimana aku bisa terkenal di kalangan murid laki-laki.

"Apa aku harus menemui mereka?"

Tapi meski begitu, sebagai bentuk rasa terima kasihku kurasa menemui mereka adalah hal yang sepertinya patut untuk dilakukan. Aku tidak terlalu senang sebab mereka itu bukan siswi cantik tapi tetap saja. Mereka adalah calon pemilih yang suaranya sangat berharga.

"Kurasa idemu itu sangat buruk Naruto?"

Sama seperti hari-hari sebelumnya, Sara sedang duduk sambil memangku Hanabi layaknya boneka. Dan bukan hanya memangku, dia juga memeluk gadis kecil itu sambil melakukan banyak kontak fisik yang jika bukan dilakukan olehnya sudah sudah kulaporkan ke polisi sebagai pelecehan seksual pada anak di bawah umur.

"Mendatangi mereka sama saja dengan bunuh diri."

"Kenapa topiknya jadi berbahaya begini?"

Sebab Shikamaru kelihatan sudah tidak lagi sadar meski masih duduk di kursinya, Amaru menggantikan ketua klub kami untuk menjawab pertanyaanku.

"Untuk suatu alasan mereka mengadakan rapat yang judulnya 'bunuh Naruto' setiap pagi, jadi kurasa kalau kau ke sana kau tidak akan bisa lagi ikut pemilihan dan hal itu akan merepotkanku."

"Tolong khawatirkan sedikit saja keselamatanku!."

"Hal itu tidak penting."

Jangan remehkan nyawaku. Benda itu tidak dijual dimanapun dan aku hanya punya satu.

"Sekarang yang paling penting adalah pembicaraan kita, lokasi dan juga uang."

Jadi nyawaku sama sekali tidak ada harganya, yang mereka butuhkan hanyalah tubuhku. Jika aku mati dan ada remote control yang bisa digunakan untuk mengendalikan tubuhku, mungkin mereka akan benar-benar menggali kuburanku nantinya.

"Tunggu dulu Amaru."

"Aku ini kakak kelasmu."

Dilihat dari sudut pandang manapun kau itu lebih pantas jadi adik kelasku. Entah itu mental dan penampilan, kurasa semuanya masih ada pada taraf anak kecil. Kecuali otak dan pengalaman, aku sangat yakin kalau dia tidak punya satupun hal yang bisa dia gunakan mengkalim posisi sebagai kakak kelasku.

"Aku tidak bisa membaca pikiran tapi dari matamu aku merasa kau baru saja menghinaku."

"Mataku bisa bicara?"

Aku hanya ingin bercanda dan melepaskan suasana agak tegang yang sedari tadi kuraskan, tapi sepertinya si kakak kelas kecil kami sama sekali tidak menyukai ideku dan dengan tatapan mengintimidasi lucunya dia memeberiku sinyal untuk tutup mulut dan diam saja.

"Ahem!."

KAK Amaru batuk kecil lalu menunjuk whiteboard dengan penggaris kayu panjang yang kesulitan dia angkat. Setelah itu dia bilang.

"Untuk bisa memanfaatkan lokasi dengan baik kita perlu inspirasi, perlu barang dan peralatan yang tepat, karena itulah. . . ."

Dengan suara brak keras KAK Amaru memukul whiteboard sampai hampir jatuh lalu bilang.

"Kita akan liburan."

Kadang orang jenius itu susah dimengerti jalan pikirnya, karena mereka punya pikiran yang terlalu jauh ke depan mereka malah sering dianggap gila dan tidak realistis. Tapi dalam kasus ini, aku sangat yakin kalau keputusannya untuk mengajak kami berlibur bukan karena dia itu jenius atau kelewat pintar.

Tapi karena dia ingin bersenang-senang dan bersantai selama dua hari satu malam.

Kelihatan dari mukanya.

"Dan untuk persiapan, malam ini kita semua akan menginap di tempat Hanabi."

Aku tidak akan bertanya bagaimana kakak kelas kecil kami itu bisa punya pikiran yang melompat ke sana-ke mari tanpa batas bisa terbentuk, tapi setidaknya aku ingin tahu dari mana dia punya supply ide gila yang tidak ada batasnya itu.

OK. Menginap di rumah Hanabi memang bukan barang aneh bagi mereka. Tapi hal itu hanya berlaku sebelum aku juga numpang di rumahnya Hanabi.

Kamar di rumah itu hanya tiga. Satu kamar untuk kedua orang tua Hanabi, satu untuk Hanabi dan satu kamar tamu yang sedang kutinggali. Aku tidak tahu kenapa keluarga itu hanya punya kamar sebanyak itu tapi memang begitulah kenyataannya.

Jika semua orang menginap di rumah Hanabi berarti ada dua nasib yang kemungkinan besar akan menimpaku.

Satu aku disuruh tidur di sofa dan Dua mungkin aku malah akan disuruh tidur di luar sekalian.

Normalnya tentu aku hanya akan disuruh pergi ke tidur di ruang tamu, tapi melihat siapa yang jadi tuan rumah serta kejadian kemarin dengan Hanabi. Aku tidak bisa berhenti khawatir kalau-kalau orang nomor tiga di keluarga yang kutumpangi itu akan mengusirku sementara.

Sorenya semua orang minus Shikamaru dan aku pergi ke rumah Sara untuk mengambil perlengkapannya menginap dan berlibur. Lain dengan Shikamaru yang untuk suatu alasan jadi penghuni sekolah, aku langsung berjalan pulang.

Rencananya aku ingin memindahkan barang-barangku yang kira-kira akan jadi masalah jika tetap di dalam seperti pakaian dan benda-benda lain yang pasti kubutuhkan. Hanya saja rasanya aku agak capek dan kebetulan sekali di rumah sedang tidak ada orang lain. Sehingga pada akhirnya aku memutuskan untuk beristirahat sebentar.

Setidaknya begitulah rencananya.

Ketika aku membuka mata jam di atas mejaku sudah menunjukan pukul enam sore yang artinya aku sudah tidur selama tiga jam.

Ok, aku ketiduran sampai selama itu sama sekali bukan hal mengejutkan. Sebab beberapa hari ini tubuhku lumayan kecapekan dan pikiranku terus-terusan dibuat tegang oleh orang-orang di sekitarku mungkin tubuhku benar-benar rindu dengan apa yang namanya santai.

Yang kuherankan adalah.

"Ada apa dengan wajahku? jangan mencolek-coleknya sembarangan!."

Untuk suatu alasan jari telunjuk Amaru ada di hidungku dan jari telunjuk Hanabi ada di pipiku, sedangkan Sara yang kuharapkan untuk menggantikan kedua anak kecil itu malah sedang sibuk melakukan inspeksi terhadap kamarku.

"Wajahmu kalau sudah bangun sama sekali tidak lucu! cepat tidur lagi dan jangan pernah bangun!."

"Aku tidak mau mati!."

Aku menghela nafas lau berdiri dan berjalan.

"Kemana kau Naruto?"

Amaru mengikuti arah geraku dengan kepalanya, setelah itu dia melihatku dengan pandangan penasaran.

"Kalian akan menggunakan kamar ini kan? aku akan memindahkan barang-barangku supaya tidak mengganggu, anggap saja aku tidak ada dan lanjutkan apapun yang kalian sedang lakukan tadi."

"Jangan membuat kami berdua jadi seperti orang jahat."

"Siapa yang bertindak seperti itu? ini normal."

Aku ini numpang, dan orang numpang itu level kekuasaannya ada di bagian paling bawah dari rantai makanan. Apa yang diinginkan tuan rumah adalah prioritas, jadi jika si pemilik rumah. Yang dalam kasus ini kita anggap adalah Hanabi menginginkan teman-temannya menginap, aku harus mendahulukan kepentingannya dan menyingkirkan keinginanku.

"Ah. . . . aku akan membantumu."

Entah kenapa, dengan cerianya Hanabi menawarkan bantuan dan memberiku pertolongan untuk membawakan beberapa barang-barangku. Tingkahnya memang agak aneh, tapi karena dia ingin membantu aku tidak tega menolaknya.

Aku ingin berterima kasih padanya, tapi semenit kemudian aku segera menyesali keputusanku sebab.

"Kenapa kau membawa barang-barangku ke kamarmu?"

"Bukankah kamarmu akan mereka gunakan?"

Tolong jangan gunakan nada normal! kalau kau memakainya perkataanmu jadi kedengaran kalau aku pindah ke kamarmu untuk tidur itu hal biasa. Jika ada orang lain yang mendengarnya pasti mereka akan salah paham dengan hubungan kita.

"Lagipula kita ini kan keluarga."

Sejak kapan?

"Sekarang memang masih belum resmi, tapi bukankah kita ini dijodohkan? berarti nanti kita akan jadi keluarga."

Yang nanti itu nanti dan yang sekarang itu sekarang. Lalu, tolong jangan bicara seperti itu, pernikahan kita itu masih jauh dan di masa depan belum tentu juga aku akan menikah dengamu gadis kecil.

Hanabi melirik ke kanan dan ke kiri lalu menunduk sebentar, setelah itu dia menggerak-gerakan badannya yang kecil itu seperti orang yang tidak nyaman saat duduk di sebuah kursi. Kemudian dia melihatku dari bawah menggunakan tatapan yang mungkin artinya adalah harap-harap cemas atau malu-malu mau.

Ugh. . . apa-apaan gerakan-gerakan imut itu.

"Naruto?"

Aaaaaa. . . aku bukan lolicon, aku bukan lolicon, aku bukan lolicon, aku bukan lolicon, aku bukan lolicon!

"Huuuuuu. . . . hahhhh. . . . "

"Kenapa kau menarik nafas sedalam itu Naruto?"

Aku sedang menenangkan diri bodoh.

"Jadi bagaimana?"

Sabar dulu.

"Barangku akan kuletakan di kamarmu tapi aku akan tetap tidur di sofa."

"Kenapa?"

Selain masalah moral aku juga punya pengalaman yang agak kompleks tentang masalah hubungan antara laki-laki dan perempuan.

Dulu saat masih SMP ada seorang gadis yang duduk di sampingku. Meski kami bukanlah teman lama tapi bisa dibilang hubungan di antara kami berdua itu sangat baik.

Dia sering sekali menceritakan tentang dirinya padaku, mulai dari tugasnya, ekstra yang dia ikuti dan bahkan pembicaraannya dengan anggota keluarganya di rumah. Selain itu kami juga cukup dekat sampai pada level saling pinjam-meminjam barang jadi hal biasa. Selain itu dia lebih sering memilih untuk duduk di mejaku untuk mengajak ngobrol saat istirahat daripada pergi dengan teman-teman perempuan lainnya.

Karena kedekatan kami teman-temanku kadang menggoda kami berdua lalu dengan muka malu-malu si gadis itu akan bilang kalau kami cuma teman.

Sampai saat itu datang.

Suatu hari dia bilang kalau dia punya seseorang yang dia sukai, dan tanpa rasa malu aku menanyakan namanya. Dia kelihatan malu dan tidak mau memberitahukannya, tapi aku memaksa dan bilang kalau akan membantu jika dia mau memberikanku setidaknya inisialnya saja.

N

Adalah inisial yang dia berikan.

Karena aku ini anak laki-laki bodoh yang ke PD-an saat itu juga aku langsung menanyakan hal yang sampai saat ini terus saja kusesali.

"Apa orang itu aku?"

Jawaban yang kudapat adalah. Dia menatapku dengan jijik lalu mundur beberapa langkah.

Dan bodohnya lagi, bukannya mundur aku malah maju lalu menembaknya.

"Tolong berhenti! memangnya kau ini siapa?"

Pandangan jijiknya padaku bertambah parah dan malah berubah jadi seperti orang yang melihat kecoak dan ingin menginjaknya sampai mati.

"Kita. . "

Kata-katanya tidak vulgar tapi nadanya sangat tajam dan menusuk.

"Jadi teman saja."

Apanya yang jadi teman?

Seperti yang sudah kalian duga, setelah kejadian itu dia bahkan tidak mau mendekatiku. Dan di belakangku dia juga sering sekali membicarakan bagaimana aku salah paham pada tindakannya sambil memuji diri sendiri.

Gara-gara hal itu aku jadi sadar kalau selama ini pertemanan kami berdua itu sepertinya hanya sepihak.

Sekarang aku akan menjawab pertanyaan Hanabi.

Kenapa?

Ada banyak orang yang bilang kalau hati wanita itu lebih lemah, tapi sekarang aku bisa bilang dengan yakin kalau hal itu bohong besar. Hati laki-laki, terutama yang masih remaja juga sama lemahnya. Dan mereka bahkan diberikan bonus bernama kebodohan.

Pikiran laki-laki itu simple.

Jika seorang wanita berbicara pada mereka, mereka akan berpikir kalau wanita itu tertarik padanya. Jika seorang wanita baik padanya, mereka berpikir kalau dia itu spepesial baginya. Jika seorang wanita sering bersama dengan seorang laki-laki, maka dia akan berpikir kalau wanita itu menyukainya.

Mereka itu gampang sekali salah paham dan mereka itu mudah sekali berasumi. Lalu asumsi mereka itu tidak punya halangan untuk mempengaruhi jalan pikir mereka. Membuat mereka pada akhirnya menyesal.

Jadi kesimpulannya adalah, sebelum aku salah paham dengan kata-kata serta tindakan Hanabi yang gampang menjebak itu aku harus menjaga jarak aman.

Ok. Semuanya paham kan? aku bukan menolak karena aku takut malamnya aku akan sadar atau tanpa sadar menyerang gadis kecil ini. Bukan karena aku grogi berada di dekatnya. Ok. Paham?

"Kasurmu kecil jadi tidak mungkin bisa muat untuk kita berdua, dan aku tidak mau tidur di lantai hanya gara-gara masalah semacam itu."

Jelas aku tidak bisa menceritakan alasan panjang lebarku itu padanya, oleh karena itu aku menggunakan alasan yang masuk akal itu untuk bisa menghindar.

"Tapi. . . "

Dia melihat ke arah kasur kecilnya. Jika kau tidak bisa membayangkan seberapa kecil kasurnya, ukurannya sama dengan kasur anak-anak. Tunggu dulu, bukan seperti tapi kasurnya memang kasur anak-anak. Anak sepuluh tahun ke bawah.

Di label bagian bawahnya ada tulisan "for kids ten years old below"

"Ya sudah, lagipula kalau Ayah sampai tahu mungkin kau akan dibunuhnya."

Ok, jadi secara tidak langsung dia bilang kalau tidur di kamarnya itu sama dengan bunuh diri. Untung aku tidak mengiyakan tawarannya.

Masalah selesai.

Adalah apa yang kupikirkan tapi kenyataannya tidak.

"Lama sekali kau Naruto, cepat bantu aku."

Ketika masuk ke ruang tengah, aku mendapati Amaru dan Sara sedang menggotong isi kamarku dan meletakannya di sana. Dan begitu melihat wajah bingungku, Amaru langsung angkat bicara.

"Aku agak merasa kasihan padamu karena secara tidak langsung sudah mengusirmu."

Kenapa cuma agak?

"Karena itu daripada tidur di dalam kamar kurasa jika semua orang tidur di luar akan lebih adil."

"Amaru.. . . "

"Tambahkan kak di depan namaku!"

Setelah itu Amaru menyuruhku untuk ke kamar untuk mengambil kasurku yang sesungguhnya. Sebab kedua bersaudara itu tidak kuat mengangkat benda itu, sampai sekarang yang mereka pindahkan hanyalah bantal dan selimut.

"Hah."

Dan mainan. Mainan?

Kasur yang berada di kamar tamu hanyalah spring bed kualitas sedang dengan frame kayu yang tidak terlalu banyak, dan karena kebanyakan isinya hanya busa dan per benda itu tidaklah terlalu berat. Hanya saja ukurannya agak merepotkan.

"Kalau begitu akan kudorong saja."

Aku menjatuhkan kasur itu lalu membuatnya berdiri vertikal, setelah itu aku mendorongnya dengan pelan agar tidak roboh.

"Tidak macho sekali."

Mungkin untuk mengambil barang lain, Amaru kembali ke kamar.

"Jika aku mengangkatnya kasur ini tidak akan bisa keluar sebab pintunya terlalu rendah."

Dia menghela nafas lalu bilang.

"Aku akan membantumu, kau tidak bisa melihat bagian depannya kan? aku akan jadi penunjuk jalan."

Dia berdiri di bagian depan kasur yang sedang kupegang lalu perlahan dia menariknya sambil menyesuaikan doronganku. Dengan bantuannya dalam beberapa saat kasur sudah bisa kami tempatkan di depan televisi di ruang tengah. Tapi jelas masalah belum selesai.

"Aku sangat penasaran tentang logika di balik susunan posisi tidur ini."

Tidak seperti kasur anak-anak di kamar Hanabi, kasur di ruang tamu adalah kasur ukuran besar yang bahkan muat untuk lima orang dengan ukuran mini. Dan bagi kami yang hanya terdiri dari dua orang remaja dan dua orang anak kecil, ruang yang bisa dimiliki oleh satu orangnya lumayan lega.

Tapi demi alasan moral serta etika, aku memutuskan untuk tetap tidur di sofa dan bukannya meminta bagian di antara ketiga gadis itu.

"Aku tidak bisa membiarkanmu bebas agar kau tidak bisa melakukan sesuatu pada Sara."

Adalah apa yang Amaru bilang sebelum dia menariku ke kasur lalu memposisikan dirinya di antara aku dan Sara.

"Aku juga tidak bisa diam saja! nama baik keluarga ini akan tercemar kalau sampai kau kena kasus setelah menyerang mereka berdua."

Adalah apa yang Hanabi katakan sebelum mengambil tempat di samping kiriku lalu berbaring di atasnya sambil memegangi lenganku.

"Hanabi, jadi kau mau bilang kalau aku menyerangmu tidak akan masalah?"

Hanabi tidak menjawabku dan malah mengambil bantal lalu memeluknya di depan wajahnya.

Apa-apaan tingkah dere-derenya itu? jangan permainan hatiku yang lemah ini. Kalau kau terus bertingkah seperti itu aku akan benar-benar menembakmu nanti. Jagalah jarak dan sikapmu, aku tidak ingin diberi harapan hanya untuk dihancurkan nantinya.

"Aku tidak akan protes kalau kalian mau mesra-mesraan sebab kalian sudah dijodohkan, tapi jika ingin melakukan sesuatu lebih dari itu tolong segera pindah ke tempat lain! Sara masih di bawah umur."

Dari penampilan aku yakin sembilan puluh persen orang akan bilang kalau kau yang di bawah umur Amaru.

"Aku malah ingin melihat, kalau bisa aku ingin sekali mendokumentasikannya! kalau dilihat dari trend aku yakin para lolicon akan mau membeli filenya dengan harga tinggi dengan begitu kita bisa dapat dana tambahan untuk kampenya."

"Jangan melakukan tindakan ilegal, dan trend macam apa yang kau bicarakan? lalu, aku akan ditangkap polisi dulu sebelum uangnya bisa cair Sara!."

"Tenang saja, kalau kau ditangkap aku akan menggunakan uangnya untuk diriku sendiri."

Aku sama sekali tidak bisa tenang.

Dan, aku juga tidak bisa tidur semalaman.

2.

Paginya, dengan mata merah yang bukan disebabkan oleh iritasi ringan. Aku bangun dari kasur. Hanya dari kasur dan bukannya dari tidur. Bagaimana aku bisa tidur? di samping kiriku ada gadis kecil yang imut, di kananku ada gadis muda yang manis, dan di seberangnya ada remaja cantik yang kesemuanya sedang memasang wajah terbaiknya.

Wajah mereka saat tidur.

Aku pernah mendengar kalau seseorang akan kelihatan lebih menawan saat mereka sedang tidur sebab apa yang ditunjukan wajahnya sama sekali bukan ekting, tapi aku tidak mengira kalau efeknya sampai sehebat tadi malam.

Muka imut-imut Hanabi sudah sukses membuatku tidak bisa menahan diri untuk mencubit hidung kecil mungilnya. Muka manis Amaru juga tidak jauh berbeda, entah kenapa aku sangat gemas dan berakhir menjewer pipinya berkali-kali. Lalu kecantikan Sara lebih hebat lagi.

Gadis itu berhasil membuat kedua kelopak mataku jadi lebam dan membiru sebab saat aku terbawa suasana dan ingin menyentuh bibirnya dengan jariku, Hanabi dan Amaru bangun lalu meninju wajahku dengan sangat keras.

Dan kesialanku masih belum berhenti di situ. Ketika aku ingin mencuci muka di dapur, aku bertemu dengan seorang pria besar bertampang garang. Dia menggeretakan jari-jarinya seakan sedang bersiap untuk berolahraga.

"Kelihatannya tadi malam kau sudah bersenang-senang."

Aku jarang melihatnya sebab dia itu tidak sering berada di rumah, tapi aku masih ingat jelas siapa orang di depanku ini. Dia adalah ayahnya Hanabi, atau akan lebih tepat dibilang kalau dia itu adalah Malaikat kematianku.

"Kau tahu sendiri kan? . . . . . . . . . . . . . . . mencari wanita cantik itu adalah tujuan hidup laki-laki."

Dengan itu, selain selain mengompres kedua kelopak mataku yang sudah seperti alien aku juga harus menggulung tisu dan menyumpalkannya ke hidungku.

Aku benar-benar ingin menangis.

Pagi itu, para gadis mandi bersama untuk mengurangi waktu persiapan sedangkan aku jelas menolak saat ada yang mengusulkan agar aku mandi dengan ayahnya Hanabi. Daripada menerima usulan itu lebih baik aku tidak mandi.

Dan di saat para gadis sedang menikmati waktu mandinya secara bersama-sama, aku dipaksa untuk menaikan barang-barang kami semua ke dalam mobil yang sangat menyebalkan.

Menaikan barang-barang ke atas mobil memang tidaklah semenyulitkan itu, tapi mengaturnya adalah urusan lain. Apalagi kalau mobil yang akan kami pakai adalah mobil keluarga kecil yang kapasitas maksimalnya hanyalah lima orang.

Yang haruskan kulakukan agar aku bisa memasukan barang-barang kami yang jumlahnya sangat banyak itu bukanlah hanya sekedar memutar otak, tapi berjungkir balik. Bagaimana aku tidak pusing seratus keliling?

Mobil yang akan kami naiki berkapasitas lima orang sedangkan yang akan naik itu enam orang plus satu balita. Mobil yang akan kami gunakan punya sangat kecil bagasi, tapi satu orang membawa dua tas kecuali aku. Dan yang terakhir, gadis-gadis membawa pakaian untuk satu hari padahal liburan kami cuma berlangsung selama dua hari tiga malam.

"Kalau begini jadinya mungkin aku akan disuruh duduk di atap mobil."

"Siapa yang akan menyuruhmu melakukan hal berbahaya seperti itu?"

"Bukannya kau Hanabi?"

"Ak. . . . aku tidak sejahat it. . .itu."

Jadi kau tidak membantah kalau kau ini jahat?

Setelah selesai meletakan sebuah tas lagi, aku berbalik dan mendapati Hanabi yang berpenampilang sangat segar. Kalau harus dicari persamaannya mungkin dia bisa disamakan dengan buah manis yang dipetik saat pagi hari saat embun pagi masih menempel di kulit dan dahannya.

"Ugh. . ."

Apa-apaan penampilan super imutnya itu, apa-apaan replaynya tadi, lalu apa-apaan aroma manis yang melayang-layang di udara ini. Apa kau ingin membunuhku pelan-pelan, apa kau ingin membunuhku dengan keimutanmu?

"Naruto?"

"Aaaaaaa. . . . ."

"Kenapa kau Naruto?"

Aku berbalik lalu memukul bagian belakang mobil kecil di depanku dengan sekuat tenaga untuk menenangkan diri. Dan setelah alarm keamanan berbunyi, akhirnya aku bisa tenang lalu bisa menghadapi Hanabi.

"Aku tidak apa-apa."

"Kau sepertinya perlu memeriksakan diri ke dokter."

Asal kau tidak bertingkah aneh lagi aku tidak akan jadi gila.

"Daripada itu ada yang lebih penting."

Aku mengulurkan tangan kananku padanya dan untuk beberapa saat dia hanya memiringkan kepala lalu kelihatan berpikir. Setelah itu, dia mengangkat tangan kanannya lalu menaruh telapak tangan kecilnya di atas telapak tanganku.

"?, kenapa kau menaruh tanganmu?."

"?."

Dia malah tambah bingung.

"Aku meminta barang bawaan tambahanmu itu."

Matanya melebar dan seakan baru saja melihat hal paling mengherankan di dunia. Setelah itu.

"Dasar bodooooohhh!."

Dia meneriakiku sambil berlari setelah menjatuhkan barang bawaanya.

"Sebagai seorang lelaki, kau sudah gagal."

Amaru masuk ke dalam mobil.

"Kau benar-benar tidak paham wanita."

Sara masuk ke dalam mobil.

"Hah. . ."

Ibunya Hanabi yang sedang membawa si kecil ikut masuk ke dalam mobil.

"Grrrr…"

Dan ayahnya Hanabi menendang pintu mobil kecilnya.

Apa-apaan ini, kenapa aku juga kena marah oleh ayahnya Hanabi. Apa yang sudah kulakukan dan apa yang sebenarnya terjadi. Seseorang tolong beri tahu aku, dan kalian semua. Apa kalian serius akan berangkat sebelum aku sempat mandi.

Apa aku setidak penting itu?

Woi!

Seseorang jawab aku!.

Pada akhirnya tidak ada seorangpun yang mau menjawab pertanyaanku dan aku tidak bisa mandi lalu hanya cuci muka serta ganti baju. Aku menaruh tasku di bawah kakiku dan secara ajaib akhirnya aku bisa mendapat tempat duduk di dalam mobil super mini keluaraga Hanabi.

Hanya saja.

"Aku sangat penasaran tentang logika di balik susunan posisi duduk ini."

Sebelum geraman sempat keluar dari ayah Hanabi yang berada di balik setir, Amaru mendahului semua orang untuk menjawab pertanyaanku. Hanya saja jawabannya sama sekali tidak menjawab apapun karena yang dia bilang adalah.

"Jangan banyak protes dan nikmati saja, lagipula mobil ini untuk lima orang dan bukannya enam orang plus balita dan serta barang-barangnya!."

Ok, aku paham. Tapi tetap saja aku tidak bisa paham bagaimana keputusan ini dibuat.

Kenapa Hanabi harus di atas pangkuanku!? apa ada orang waras di sini?

Hanabi yang berada di atas kedua pahaku memutar lehernya dan menatapku, setelah itu dia bertanya.

"Apa kau tidak suka? apa aku berat?"

"Ugh. . . . bukan begitu. . . ini hanya masalah moral, kau tahu kan? moral."

Dan kenapa aku repot-repot menjelaskan dilemaku pada Hanabi?

Aku menawarkan Amaru untuk bertukar posisi, tapi dia langsung menolak sebab dia ingin melihat pemandangan dari jendela. Selain itu ide Amaru memangku Hanabi juga sudah out of question.

Aku menawari Sara untuk bertukar posisi, tapi dia sepertinya juga punya keinginan sangat tinggi untuk bisa melihat pemandangan dalam perjalanan. Dengan mata yang berbinar-binar dia bilang padaku kalau dia ingin duduk di samping. Walau ide Hanabi dipangku oleh Sara masih bisa diusahakan tapi gadis itu kelihatan sangat fokus dan aku sama sekali tidak tega untuk mengganggunya.

Ibu Hanabi juga tidak bisa diharapkan, sebab di pangkuannya ada seseorang yang jauh lebih membutuhkan. Lalu ayah Hanabi juga sama tidak mungkinnya. Meski memang Hanabi itu kecil tapi dia tidak lagi pada ukuran yang bisa diselipkan di antara setir dan pengemudinya.

Jika si pengemudi terganggu dan hilang konsentrasi, bisa jadi kami malah akan liburan di rumah sakit.

"Hahhhhh. . . . . ."

Aku menawari opsi lain seperti kami berempat tetap duduk dengan normal, tapi setelah dicoba ternyata himpitan yang diterima sangat menyakitkan sehingga posisi kembali seperti semula. Amaru di samping kiriku, Sara di samping kananku, dan Hanabi di atas pangkuanku.

Perjalanan kami dimulai dan siksaan nikmat untuku baru saja dimulai.

Ok, Hanabi sangat ringan kalau dikira-kira mungkin beratnya bisa disamkan dengan anak SD tapi sayangnya dia itu sangat hiperaktif dan terus-terusan bergerak ke san-ke mari tanpa memperdulikanku. Kursinya.

Demi menjaga keamanan dan hal-hal tidak di inginkan dari terjadi, aku memangku tasku untuk digunakan sebagai batas antara area aman dan area tidak aman yang bisa diduduki Hanabi. Dia memang berpenampilan anak kecil, tapi dia bukan anak kecil.

Dia seorang gadis remaja, gadis remaja cantik yang kebetulan saja arah kecantikanya lebih condong ke imutnya anak kecil. Dengan mengetahui fakta itu saja, berhasil melakukan kontak fisik super dekat dalam waktu lama dengannya sudah lebih dari cukup untuk membuat fisik dan mentalku mengalami ketegangan.

If you know what i mean.

Ok.

Tahu kan?

Sebab perjalanan kami berlangsung sangat lama aku mencoba mengobrol dengan Amaru, tapi sebelum aku sempat bicara apapun dia sudah menyuruhku untuk tidak mengganggunya. Usaha keduaku denga Sarapun sama buruknya, bukannya mengobrol dia malah terus-terusan menggoda Hanabi yang pada akhirnya selalu saja melampiaskan amarahnya padaku ketika dia tidak bisa lagi mengelak.

Membuatku jadi babak belur.

Dan tentu saja aku mencoba mengajak ngobrol Hanabi, tapi entah karena apa setiap topik yang kami bawa selalu saja berakhir dengan cepat. Dan karena semua orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing, akhirnya aku bisa merasakan kalau seseorang baru saja kehilangan kesadarannya.

"Kurasa kau perlu menyingkirkan tasmu dan segera mencontohku."

Dengan menggunakan kaca di depannya ibu Hanabi melihatku, setelah itu dengan penuh perasaan dia memeluk adik Hanabi yang masih kecil.

Dari luar saja aku bisa melihat seberapa sayangnya dia pada anak kecil di pangkuannya itu, setiap gerakannya dilakukan dengan hati-hati dan lembut. Perhatian yang dia berikan tidak berhenti meski si kecil tidak kelihatan bisa merasakannya lagi.

Tapi. Kalau aku harus mencontohnya maka jawabanku adalah pass.

"Aku akan memindahkan tasnya."

Dari tadi pinggang Hanabi menekuk ke belakang, dan dari luar saja postur tidur semacam itu sama sekali tidak akan terasa nyaman. Karena itulah aku menurunkan tasku. Lagipula asalkan dia tidak bergerak harusnya semua area pangkuanku aman untuk diduduki.

"Dan tolong maafkan aku."

Sebab dia sedang tidur tentu dia tidak bisa mengubah posisinya sendiri, karena itulah aku memegang pinggangnya lalu menariknya sedikit ke belakang. Membuatnya bisa menyandarkan diri dengan posisi yang kurasa jauh lebih nyaman.

Sampai saat itu niatku benar-benar murni. Murni seratus persen. Tidak ada sedikitpun kemesuman di niatku ikut tercampur. Tapi. Tapi. Tapi. Tapi. Tapi, paha putih mulus yang sedikit kelihatan di antara kaus kaki panjang serta roknya yang pendek tiba-tiba sangat menarik perhatianku.

Tahan diri Naruto. Dia masih kecil meski hanya secara fisik. Selain itu kedua orang tuanya juga ada di depanmu, lalu apa kau tidak merasa bersalah sudah mengambil kesempatan dalam kesempitan. Lagipula pahanya tidak semenarik itu, menyentuhnya sama sekali tidak ada untungnya.

Meski aku terus meyakinkan diriku kalau dengan semua sugesti di atas, tanganku tetap saja bergerak dan semakin mendekat. Semakin mendekat. Semakin mendekat. Dan ketika jari telunjuku sudah hampir sukses menempel pada kulit mulusnya.

Suara klakson super keras dan panjang berhasil mengagetkan seisi mobil.

Adik Hanabi yang bangun karena kaget langsung menangis dengan keras, Amaru yang sepertinya juga ketiduran menabrakan kepalanya ke kaca mobil, Sara yang sedang membuka botol air mineral menjatuhkannya dan membuat pakaiannya basah.

Sedangkan Hanabi. Begitu dia bangun kepalanya langsung menyundul daguku, lalu gara-gara panik dia jadi asal bergerak dan hampir jatuh menindih Amaru. Hanya saja di saat-saat terakhir aku berhasil menangkapnya dengan melingkarkan kedua lenganku pada tubuhnya.

Atau lebih tepat dibilang kalau aku meremas dada dan perutnya yang rata dengan sangat erat sampai dia bersuara "kya".

Ini gawat.

"Ha-Hanabi. . . . kau tahu kalau ini. . . semacam kecelakaan. . . heheheheh. . . ."

Gadis mini itu turun dari pangkuanku untuk sejenak lalu naik lagi dengan posisi menghadapku. Membuatku benar-benar menyesal sudah mengenakan celana panjang, sebab jika aku menggunakan celana pendek aku akan bisa merasakan secara langsung kulit paha Hanabi.

Sebelum aku sempat bisa menerka apa yang ingin dia lakukan. Sebuah rasa sakit di wajahku membuatku pada akhirnya hanya bisa melihat kegelapan.

3.

"Naruto. . . Naruto . . . cepat bangun! kita sudah sampai."

Sampai di mana? kenapa ada bidadari di depanku?

"Apa aku sudah mati?"

"Kau hanya pingsan! dan cepat bantu aku."

Ah, aku ingat. Hanabi sudah meng-K.O-ku.

"Yang lainnya?"

"Ayah dan Ibu Hanabi sedang mengurus penginapan, sedangkan Kakak dan Hanabi. . . . . "

Sara melihat ke arah pantai, dan di sana ada dua orang gadis kecil yang sedang berlarian di atas pasir dengan senangnya.

"Aku tidak percaya mereka benar-benar melakukannya."

Mereka memang kelihatan seperti anak kecil, tapi tetap saat mereka itu dua orang remaja yang sudah lewat masa pra-nya. Sepertinya memang kedewasaan seseorang tidak bisa diukur dari sekedar umur.

"Tapi mereka kalihatan senang, jadi biarkan saja."

"Kau benar."

Aku turun dari mobil dan menghirup udara yang rasa-rasanya agak berbau garam. Dan walau aku tidak bilang, sebenarnya aku benar-benar berharap kalau service 'rok terbawa angin' bisa kunikmati hanya saja beruntungnya. Sara mengenaan celana.

"Ada apa?"

"Tidak apa-apa."

Jelas tidak mungkin aku bilang kalau aku kecewa dengan keadaan, karena itulah karena panik aku segera mengalihkan pandanganku ke tas panjang di kedua tangannya yang kelihatan berat. Lalu sesaat kemudian, aku memutuskan untuk mengulurkan tanganku padanya.

Dia melihat ke mataku dengan agak bingung, lalu dia melepaskan satu tangannya dari pegangan tasnya dan kemudah dia menggunakan tangannya yang sudah bebas untuk menggenggam telapak tanganku.

"? . . . . kenapa kita jadi bersalaman?"

"?."

Dan sama seperti Hanabi, dia segera melepaskan tangannya lalu pergi berjalan dengan sangat cepat membawa muka marah.

"Apa yang sudah kulakukan?"

Dan apa dia serius mau meninggalkanku sendirian untuk mengurus dua anak kecil di pantai sana?

"Narutooooooo!. . . . . "

Dari jauh, aku bisa melihat Hanabi dan Amaru yang pakaiannya sudah blepotan pasir sedang melambai-lambaikan tangannya padaku sambil tersenyum cerah.

"Huhhh. . . apa boleh buat? tunggu akuu!."

Setelah kami bertiga puas bermain, aku mendapat sms dari Ibu Hanabi kalau semua urusan sudah beres. Dia mengirimkan lokasi di mana penginapan kami berada sambil menyuruh kami semua untuk cepat ke sana sebab paginya, tidak ada satupun yang sempat sarapan.

Setelah mengunci pintu mobil dengan kunci cadangan yang sengaja ditinggalkan untuk kami, aku, Hanabi, dan Amaru berjalan menuju penginapan dengan kaki telanjang. Jika aku melakukannya hanya karena tidak ingin mengotori barangku, mereka berdua melakukannya karena tidak punya pilihan sebab saat bermain tadi mereka memutuskan sandal masing-masing.

"He he he he."

Melihatku tertawa sepertinya sama sekali tidak membuat mereka berdua senang. Setelah keduanya menatapku dengan pandangan marah, tanpa perjanjian terlebih dahulu keduanya menarik kakinya masing-masing dan dalam waktu yang sama. Mereka menendang tulang keringku.

Hanya saja kali ini.

"Adududududu . . . . "

Sebab kedua tidak ada yang mengenakan alas kaki, bukannya aku malah merekalah yang kesakitan. Dan ketika aku berpikir akhirnya bukan aku yang sial, aku langsung sadar kalau pikiranku sama sekali tidak realistis.

"Gendong aku!."

Kenapa ujung-ujungnya aku yang sial?

Jika aku menggendong Hanabi aku tidak bisa menggendong Amaru, jika aku menggendong Amaru aku tidak menggendong Hanabi. Menumpuk mereka agar bisa kugendong sekaligus juga sudah out! tapi jika mereka tidak kugendong aku yakin kalau nantinya aku pasti akan dapat masalah yang lebih merepotkan.

"Kalian berdua berdirilah di depanku."

Meski tidak tahu dengan apa yang akan kulakukan, tanpa diduga kedaunya langsung menurut dan berdiri di depanku secara bersebelahan. Setelah itu aku berjongkok dan memposisikan pundaku di depan tubuh mereka, lalu dengan sekali coba aku berhasil membut keduanya menjatuhkan tubuhnya ke pundaku.

"Apa yang kau lakukan orang mesum!?"

Adalah apa yang Hanabi katakan.

"Jangan sembarangan menyentuh-nyentuhku!?"

Adalah apa yang Amaru katakan.

"Jenisunya aku!."

Adalah apa yang aku pikirkan.

"Jenius dari hongkong!?"

Seperti karung, aku meletakan tubuh kedua gadis kecil itu di atas pundaku lalu menguncinya menggunakan lenganku. Dengan begitu aku tidak perlu repot serta tidak perlu bolak-balik hanya untuk membawa keduanya ke penginapan.

Kukira masalahku selesai. Tapi seperti yang suah pernah terjadi sebelum-sebelumnya.

Aku selalu sial.

"Ada penculik!."

Adalah teriakan yang dilontarkan seseorang begitu melihat apa yang kulakukan pada Amaru dan Hanabi, dan bukan hanya itu. Untuk memperkeruh suasanan, Amaru juga membalas teriakan itu dengan.

"Tolooooongg!."

"Diam kau!."

Tanpa ada yang mengomando aku segera berlari dengan sekuat tenaga.

Kami bertiga baru bisa sampai di penginapan saat siangnya. Dan begitu berhasil pulang kami bertiga menerima omelan panjang kali lebar kali tinggi yang dibacakan oleh ibunya Hanabi selama hampir satu setengah jam tanpa henti.

Kenapa?

Sebab orang yang mengira kalau aku ini penculik berteriak ke sana ke mari dan membuat semakin lama pengejarku jadi semakib banyak, dan sebab mobilitasku sudah dikurangi oleh sangat banyak faktor pada akhirnya aku berhasil tertangkap dan di bawa ke pos polisi terdekat.

Kami sudah mencoba menjelaskan kalau semua yang dituduhkan padaku itu salah dan sebenarnya kami bertiga itu hanya main-main. Tapi bukannya melepaskan kami, si petugas malah menghubungi orang tua Hanabi dan menyuruh mereka untuk datang menjemput kami.

"Huuuuaaaaaaahhhhhhhhh . . . . . ."

Ini adalah helaan nafasku yang paling sampai dengan saat ini. Setengah hari baru berlalu, tapi fisik dan mentalku rasanya sudah sangat capek.

Kami bertiga sangat lapar, tapi sebelum makan kami diharuskan untuk mandi terlebih dahulu. Dan jika dilihat dari penampilan kami yang sudah tidak karuan, saran itu sama sekali tidak kedengaran buruk. Lagipula, mandi juga sangat efektif untuk membasuh rasa capek di tubuh dan pikiranku.

Sebab tingkat kelaparanku sudah sangat akut, aku memutuskan untuk tidak berlama-lama di kamar mandi. Dalam sepuluh menit saja, acara mandiku sudah selesai. Dan begitu aku keluar dari kamar mandi.

"Oh. . kau sudah selesai Naruto."

Hanabi sudah duduk di tengah ruangan sambil meminum jus jeruk dingin yang kelihatannya sangat segar. Setelah menghabiskan beberapa teguk jus yang dia minum langsung dari botolnya, dia mengeluarkan suara puas yang membuatku berpikir kalau jus itu memang benar-benar enak.

"Eh Naruto, apa kau kenal dengan polisi tadi? sepertinya dia hafal dengan wajahmu?"

Bukan hanya hafal mukaku. Polisi yang kami temui tadi juga hafal betul setiap inci perumahan tempatku tinggal dulu sebab kunjungannya ke rumahku sudah tidak bisa kuhitung. Tapi membicarakan masalah itu dengan Hanabi adalah hal yang sangat tidak ingin kulakukan.

". . . . . . kau masih lapar kan Naruto?"

Dan sepertinya Hanabi tahu betul apa yang sedang kupikirkan.

"Tentu saja, sekarang bolehkah aku balik bertanya padamu Hanabi?"

"Tidak usah minta ijin dulu."

"Ok kalau begitu. . . apa-apaan pakaianmu itu? dan kenapa kau ada di kamarku?."

Aku tahu kalau pertumbuhan tubuh Hanabi agak terbelakang, tapi meski begitu lekuk-lekuk tubuhnya itu adalah milik seorang gadis remaja. Dengan mengenakan hot pants pink tipis yang super pendek serta kaos oblong yang sepertinya ukurannya ngepress, dia berhasil membuat mataku sepertinya tidak mau mengalihkan pandanganku darinya.

Dan hal itu sangat berbahaya. Kalau aku terus-terusan diperlihatkan pemandangan seperti itu, cuma masalah waktu sampai aku jadi tidak bisa berdiri.

"Cepat ganti pakaianmu! jangan terlalu banyak memperlihatkan kulitmu!."

Uwaah. Apa yang baru saja kukatakan. Kenapa kata-kataku sok sekali? aku ini cuma orang numpang. Kenapa tiba-tiba aku bertingkah seperti ayahnya yang overprotective itu.

"Ini juga adalah ruanganku, jadi apa yang kuapakai di sini adalah kebebasanku."

Dia melihatku lagi seperti sedang melakukan konfirmasi.

"Tapi kalau kau menginginkannya . . . . . . aku akan berganti."

Setelah itu, suasana di antara kami jadi terasa agak aneh dan hal itu membuatku dan Hanabi jadi susah bicara.

Tapi tunggu dulu.

"Aku tidak salah dengar kan? kau tadi bilang kalau ini juga adalah ruanganmu?"

"Un, Ayah hanya menyewa dua kamar jadi kamar ini akan digunakan oleh kita berempat."

Aku tahu kalau permintaanku sangat tidak sopan, tapi rasanya aku benar-benar ingin menghajar ayahnya Hanabi.

"Tapi kau tidak perlu khawatir, kamar ini punya dua kasur."

Bagaimana tidak khawatir. Sekarang malah aku jadi tambah khawatir. Kalau masalah ini tidak disiasati dengan baik aku akan berakhir tidur di lantai dan aku tidak mau melakukannya.

"Jadi kalau begitu kalian bertiga akan tidur bersama sedangkan aku menggunakan satu kasur sendirian saja."

Ukuran kasur di ruangan ini lumayan besar, dan karena Amaru serta Hanabi punya badan yang kecil harusnya Sara tidak akan punya masalah menampung keduanya.

"Bagaimana kalau tidurnya seperti kemarin? Naruto?"

"Ditolak!."

Apanya yang tidur? aku sama sekali tidak bisa tidur. Dan paginya malah aku dapat bonus mata biru karena dihajar olehmu dan Amaru.

"Bagaimana kalau begini? kau tidur dengan Amaru sedangkan aku akan tidur satu ranjang dengan Sara."

Wow, jeniusnya aku. Dengan begini semuanya untung, terutama aku.

Begitu mendengar ide brilianku Hanabi langsung jadi cemberut dan mengeluarkan muka marah yang malah kelihatan lucu. Aku tahu kalau ideku kedengaran gila, tapi dia tidak perlu semarah itu sebab aku tidak serius.

Jika aku benar-benar membagi tempat tidurnya seperti itu. Mungkin saja aku akan benar-benar harus memanggil Amaru kakak.

"Bu. . bukannya aku tidak suka, tapi kau terlalu banyak memperhatikan gadis lain, kau masih ingat kalau kita sudah dijodohkan kan?"

"Aku juga berharap kalau kau ingat jika perjodohan kita itu adalah keputusan sepihak kedua orang tua kita."

Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, mencari gadis cantik adalah hal normal untuk seorang laki-laki. Apalagi remaja sepertiku. Dan jelas hal itu akan membuatku akan memperhatikan gadis-gadis di manapun aku berada.

Aku tahu kalau kau itu sangat imut Hanabi, dan mungkin keimutanmu tidak ada tandingannya. Tapi manusia itu tidak pernah puas dengan sesuatu. Meski aku bisa melihatmu dengan sesuka hati tapi jelas aku masih ingin melihat yang lainnya.

Dan perjodohan kita juga adalah keputusan sepihak dadakan dari orang tua kita berdua. Kita mungkin dijdohkan, tapi bukan berarti kalau kita punya perasaan semacam itu. Lalu, hubungan kita juga tidak ada pada level yang seperti itu.

"Ak . . . . "

"Kau ini bukan anak kecil lagi, kau tidak perlu dengan buta menuruti keinginan mereka! jika kau menolak aku yakin orang tuamu akan mau mebatalkan perjodohan kita jadi. . ."

Kau tidak perlu bertingkah cemburu seperti itu dan membuatku jadi harap-harap cemas.

Hanabi kelihatan ingin bicara, tapi dia sepertinya kesulitan menemukan kata-kata yang tepat atau bingung ingin mengatakan apa. Dan meski aku agak tidak tega untuk menambah hal yang harus dia pikirkan, tapi aku akan tetap melakukan pressing sampai semuanya jelas.

"Atau kau benar-benar menyukaiku?"

Laki-laki itu simple. Dan sebelum aku salah paham lalu menganggap kalau hubungan di antara kita itu sudah lebih dari orang yang numpang dan orang yang ditumpangi, aku ingin segera meng-clearkan semuanya.

"Aku. . . ."

Aku menatap mata Hanabi dengan intens, lalu dia mengalihkan pandangannya dariku dan malah menatap ke arah kanannya. Dia mengepalkan tangannya, tapi kepalan tangan kecilnya itu bergetar. Setelah beberapa saat Hanabi tetap masih tidak bisa bilang apa-apa, hanya saja dia kembali melihat ke arahku kemudian.

Dia menutup matanya.

"Hah?"

Aku sama sekali tidak menyangka kalau jawaban semacam ini yang aku dapatkan. Jawaban tidak menjawab yang membuatku malah jadi semakin tidak tahu harus melakukan apa.

Kalau di film-film yang sudah pernah kutonton, aksinya adalah kode untuku agar melakukan sesuatu padanya. Tapi sebab kami tidak punya hubungan apa-apa aku jadi tidak yakin dengan apa yang harus kuperbuat. Serta menanyakannya langsung juga terlalu memalukan untuk kulalkukan.

Timingnya benar-benar sangat tidak tepat.

Pikiranku boleh bingung, hatiku boleh ragu, tapi tubuhku dengan jujurnya bergerak mendekati Hanabi dan tanpa kusadari. Kedua lengan Hanabi sudah kupegang dengan erat.

Lalu ketika aku ingin melakukan finishing move, alias mendekatkan wajahku. Tiba-tiba Amaru membuka pintu dengan diikuti Sara di belakangnya.

"..."

"..."

"..."

"..."

Selama beberapa detik kami semua hanya diam. Dan yang pertama kali membuka mulut adalah Sara yang dengan sangat cepatnya langsung menutupi kedua mata Amaru menggunakan telapak tangannya.

Sebenarnya yang kakak itu siapa?

"Maafkan kami, sepertinya kalian sedang sibuk."

Dengan masih menutupi mata kakaknya, Sara memutar badannya dan membuat badan kakaknya berada di balik badannya yang mungkin tujuannya adalah supaya Amaru tidak bisa melihat apa yang sedang kulakukan dengan Hanabi.

Sara menutup pintu dengan tenang.

"Hanabi."

"Iya."

"Sepertinya kita perlu memisahkan diri."

Aku sudah melepaskan kedua lengan Hanabi, tapi gadis kecil itu malah memegangi bagian depan kaos oblongku dengan sangat erat.

4.

"Aku tahu kalau kalian sudah dijodohkan! tapi tahan diri sedikit dan lihat-lihat suasana! kalian harus ingat kalau tempat ini bukan hanya milik kalian!"

Aku ingin menjelaskan sesuatu pada senior kami secara umur itu, tapi aku tidak bisa menjelaskan apa-apa sebab pada dasarnya apa yang dia katakan adalah memang apa yang sudah terjadi.

"Lalu apa rencana kita selanjutnya, untuk pemilihanku."

Mendengar ucapanku, Amaru kelihatan sangat marah.

"Aku tahu kau sedang mengalihkan pembicaraan! tapi aku akan tetap menjawab pertanyaanmu itu."

Rencana hari ini adalah.

"Tidak ada rencana, aku sudah bilang kalau kita ini perlu liburan kan? dan satu-satunya hal yang dilakukan saat liburan yang bersenang-senang! memangnya apa lagi?"

Aku sudah agak memprediksi jawaban itu, tapi mendengarnya secara langsung tetap agak membuatku sedikit shock.

"Meskipun begitu, aku tidak akan membiarkanmu mendekam di penginapan dan tidur seharian!."

Bagaimana dia bisa membaca pikiranku.

"Aku tidak perduli!."

Setelah sudah pasti kalau kegiatan kali ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan pemilihan , aku bisa dengan bebas menolak apapun yang mereka minta. Sebab ikut atau tidakpun tidak akan ada bedanya. Ini adalah sebuah kesempatan besar untuk bisa sejenak menenangkan diri dan menjauh dari masalah.

Aku tidak akan menyia-nyiakannya begitu saja.

"Kalian tidak akan bisa memaksaku."

"Benarkah?"

Amaru menyeringai lalu meletakan kedua tangannya di atas pinggangnya, dan dengan muka sombong dia melihatku dengan pandangan remeh.

Setengah jam kemudian aku ikut kembali ke pantai.

"Aku tidak percaya, ternyata aku ini lolicon."

"Jangan menyalahkan diri sendiri Naruto, kemanisan kakakku memang tidak bisa ditolak."

Di sampingku berdiri seorang bidadari cantik yang mengenakan sebuah baju renang one pieces berwarna biru. Dan meski jelas yang namanya baju renang itu terbuka, tapi apa yang dia kenakan itu tidak memberikan efek sensualitas terlalu mencolok.

Lekuk tubuhnya yang indah bisa terlihat dengan jelas kaki jenjang dan mulusnya bisa kuliat sampai puas, pundak dan lehernya bisa kupandang tanpa harus mengendap-endap. Tapi meski begitu aku masih bisa bilang kalau dia itu cantik dan bukannya sexy.

Semurni itulah penampilannya. Sama sekali tidak terasa erotis. Walau tidak akan pernah membuat bosan untuk dipandang.

"Jangankan kau yang laki-laki, aku saja yang perempuan tidak tahan saat melihat kemoean kakaku! jika tidak ada orang aku bahkan sudah menubruknya, menjatuhkannya ke kasur, menindihnya dan bermain dengan badannya sampai puas."

"Stop! stop! stop! stop! stop! kau ini adiknya kan? jadi kau yang sudah membut dia trauma!?"

"Aku rasa yang kulakukan itu normal, tugas kakak itu melindungi adiknya, dan tugas seorang adik adalah memuaskan kakaknya."

"Apanya yang normal!? dan logika macam apa yang baru saja kau bilang itu!?"

"Tapi kakak tidak pernah marah saat aku melakukannya."

"Jadi kau sering melakukannya!?"

"Kakak malah akan 'ah' 'ih' 'uh' dan pasrah saja."

"Sudah kubilang stop! jangan pamer di depanku."

Aku harus segera telpon polisi. Di sini ada gadis mesum pedo siscon yang senang membully kakaknya sendiri. Sialan, aku benar-benar iri padanya. Aku ingin segera bertukar posisi dengannya. Apa tidak ada yang mampu membenturkan kepala kami berdua agar jiwa kami bisa saling bertukar.

Reaksiku mungkin terlihat aneh, sebab begitu melihatnya, Sara malah jadi tertawa.

Ketika aku sedang sibuk terpana dengan senyum Sara kedua gadis kecil yang sedang bermain di tepi pantai melambaikan tangannya pada kami. Dan dua gadis kecil yang kumaksud adalah siapa lagi kalau bukan kakak kelasku Amaru dan tuan rumahku Hanabi.

Jelas mereka berdua juga mengenakan baju renang. Tapi tolong jangan ada yang menyuruhku untuk menjelaskan bagaimana rupa dan penampilan mereka. Jika aku melakukannya aku yakin seratus persen kalau siapapun yang mendengar penjelasanku akan merasa kalau aku ini lolicon.

Jadi untuk amannya aku akan bilang kalau mereka berdua itu benar-benar imut mengenakan baju renang yang aku tidak tahu dibuat untuk siapa. Anak-anak atau gadis pra remaja.

"Jadi apa yang akan kita lakukan?"

Aku sendiri ingin duduk saja di tempat duduk dan memandangi ketiga gadis itu, kalau bisa aku juga ingin meminjam kamera seseorang untuk mengabadikan gambar-gam. . . . maksudku momen-momen langk. . . maksudku momen berharga ini.

Ketiga gadis itu saling menatap satu sama lain. Setelah itu mereka bilang.

"Aku ingin berenang dengan ikan Hiu!."

"Aku ingin membuat istana pasir!."

"Aku ingin memotret gadis cantik!."

Rasanya kepalaku benar-benar pusing.

Hanabi itu kecil dan aku bahkan ragu kalau dia bisa berenang melawan ombak untuk bisa sampai ke tengah laut untuk bertemu hiu. Hanya saja sebelum memikirkan hal itu, ada satu hal yang harus lebih dahulu diperhatikan sebelum dia asal ngomong.

Di laut negara ini hiu sudah tidak ada. Dan jika adapun Hanabi yang sekecil pinguin itu tidak akan dijadikan teman berenang melainkan cemilan.

Sekilas, keinginan kecil Amaru untuk membuat istana pasir kedengaran normal. Tapi dari sekop yang tingginya saja dua kali lipat badannya, aku mulai berpikir kalau dia akan benar-benar membangun sebuah istana dari pasir dan bukan miniaturnya yang biasanya hanya dibuat dengan ember.

Lalu Sara, untuk suatu alasan sudah berhasil mencuri ideku dan dan mulai berburu gadis cantik untuk jadi objek fotografi. Dengan tidak memperdulikan fakta kalau yang dia perlu lakukan untuk mendapatkan foto-foto yang dia inginkan hanyalah melakukan selfie.

Dan sebelum aku sempat memberikan reaksi apa-apa, Hanabi sudah menariku lalu dengan tatapan marah dia membawaku ke tempat penyewaan peralatan diving.

"Kau serius Hanabi?"

"Aku selalu serius!."

Aku malah berharap untuk yang satu ini dia tidak serius.

Begitu sampai di tempat itu, akhirnya aku sadar kalau kekhawatiranku itu berlebihan. Tanpa diduga keterbelakangan pertumbuhan tubuh Hanabi malah menolongnya sebab begitu dia bilang dia ingin melakukan diving tidak ada yang mau memberikannya peralatan dengan alasan kalau Hanabi masih di bawah umur.

Dan karena sekarang kami ini sedang liburan, tentu saja kami tidak membawa kartu pelajar yang bisa membuktikan kalau umurnya sama denganku. Dia memintaku untuk menjelaskan keadaannya pada para pemilik penyewaan peralatan, tapi aku malah bilang kalau Hanabi itu baru sepuluh tahun.

Jadi pada akhirnya, setelah Hanabi memukul-mukul badanku dia menyerah dan mulai berjalan mengikutiku yang sedang mencari dua gadis lain.

Dalam beberapa saat saja usahaku langsung membuahkan hasil. Atau lebih tepat kalau kubilang, tanpa usahapun aku sudah bisa menemukan lokasi di mana salah satu dari dua bersaudara yang tadi memisahkan diri dariku dan Hanabi.

"Sepertinya sara sudah kena batunya."

Dia bilang dia akan memotret gadis-gadis cantik tapi sekarang bukan hanya dia tidak bisa melakukannya, tapi malah dia yang jadi obyek fotografi oleh banyak orang. Hal itulah yang membuatku gampang menemukannya sebab dia sedang dikerubungi banyak orang seperti gula ditengah kerumunan semut.

Dia mencoba tidak memperdulikannya tapi jumlah orang yang mengganggunya semakin bertambah, dia mencoba menghindar tapi mereka terus mengikutinya, dan dia coba menolak dengan halus tapi orang-orang yang mengejarnya benar-benar keras kepala.

Lalu ketika kelihatannya dia akan segera meledak. Dia melihatku dan segera berlari menuju aku dan Hanabi berada, setelah itu dia bersembunyi di belakangku sambil memeluk lengan kiriku.

"Lakukan sesuatu sayang!."

"Hah? apa kau sedang menembaku!."

"Jangan banyak tanya dan ikut saja!."

Beberapa orang masih mengejarnya tapi sebagiannya memilih pergi dengan muka kecewa setelah melihatku. Aku harap kalau Sara tidak menggunakanku hanya sebagai pacar bohongannya untuk mengusir orang kurang kerjaan, tapi beginipun aku sudah cukup bersukur.

Bisa melakukan kontak langsung dengan kulit mulusnya serta bisa merasakan tekstur lembur di dadanya saja sudah lebih dari cukup sebagai bayaran.

"Naruto!"

Seperti yang sudah kubilang. Meski ada yang pergi dan menyerah tapi masih saja ada yang mengejar dan mengikuti Sara sampai di depanku. Dan orang-orang itu adalah tiga orang paruh baya yang membawa kamera yang kelihatannya mahal.

"Maafkan aku, tapi bisakah kalian meninggalkan gadis ini?"

Sebab mereka itu lebih tua dariku dan tidak kelihatan seperti orang yang punya niat buruk, aku berusaha sesopan mungkin untuk bilang kalau kehadiran mereka itu agak mengganggu.

"Harusnya aku yang minta maaf karena sudah menggganggu pacarmu tapi. . "

Salah satu dari ketiga orang itu mendekatiku lalu memberikanku kartu namanya.

"Kapan-kapan hubungi aku, kalau dia mau jadi model kau juga akan kecipratan hasilnya."

Aku melihat kartu namanya dan melihat logo dari sebuah majalah pria dewasa.

"Kau tahu kalau dia masih di bawah umur kan? kalau iya cepat pergi sebelum aku memanggil polisi dasar orang mesum!"

"Masalah umur bisa diatas. . . "

"Pergi kau!."

Aku melihat ke dua orang lain yang masih menungguku. Dan dengan tatapan sinis aku memberi isyarat kalau mereka juga harus segera pergi dari pandanganku sebab meski aku bukan ayahnya aku sama sekali tidak ada niat untuk memperbolehkan siapapun mengkomersialkan pemandangan tubuh Sara.

"Sebelumnya aku harus bilang dulu kalau kami tidak seperti orang tadi! jadi mari kita bicarakan masalah ini dengan baik-baik!."

Sekali lagi, aku mendapatkan kartu nama dari kedua orang itu.

"Ini. . ."

Aku tahu kalau kecantikan gadis itu levelnya sangat tinggi, tapi sama sekali tidak menyangka kalau Sara bisa menarik mata seorang dari fotografer majalah fashion terkenal.

"Yang kami lakukan bukan tindakan kriminal dan melawan hukum, dan bahkan jika kau bisa membujuk pacarmu untuk menjadi model kami kau akan bisa dapat bagian."

"Serius?"

Kakiku ditendang oleh Hanabi dan perutku disikut oleh Sara.

"Maaf sepertinya untuk sementara ini kecantikannya hanya boleh aku yang menikmatinya."

Meski tidak puas dengan alasan yang kulontarkan kedua orang tadi akhirnya mau pergi.

Untuk mencegah kejadian yang sama terulang lagi, aku memutuskan untuk terus bersama Sara. Dan sepertinya karena kehadiranku dengan Hanabi dia tidak bisa berkonsentrasi sehingga akhirnya memutuskan untuk membatalkan kegiatannya berburu gadis cantik.

Kami semua memutuskan untuk mencari Amaru, dan begitu kami mememukannya.

"Aku tidak percaya kalau kau benar-benar membuat istana pasir."

"Aku selalu serius!."

Keseriusan gadis-gadis kecil ini benar-benar sesuatu.

"Jangan cuma melihat dan bantu aku!."

Yang dia maksud dengan istana pasir adalah benar-benar istana pasir. Bukan istana pasir yang terbuat pasir yang dicetak dengan ember. Dia menggunakan skop kebesarannya untuk mengumpulkan pasir menjadi gundukan besar dan mengeraskannya setelah itu dia membentuknya dengan teliti menggunakan benda-benda yang ada di sekitarnya.

"Aku tidak tahu kenapa kau membuat benda sebesar ini."

Tapi aku akan membantu, sebab kelihatannya menyenangkan.

5.

"Sialan!."

Kami bertiga membantu Amaru untuk mendirikan istana pasirnya, dan dengan kerja sama kami harusnya semuanya berjalan lancar. Walau tidak akan sebagus buatan para profesional minimal istana kami bisa berdiri.

Adalah yang kukira akan terjadi.

Hanya saja karena terlalu sibuk dan fokus membangun, kami semua lupa dengan lokasi si Amaru memutuskan untuk mendirikan istana pasirnya. Saat siang ombak masih lumayan jauh dari tempat kami berada, hanya saja ketika kami sudah hampir selesai dan tinggal melakukan finishing hari sudah sore.

Yang artinya adalah garis pantai naik dan hal itu sukses membuat air bisa mengikis istana kami dan pada akhirnya runtuh. Atau lebih tepat dibilang larut.

Meski memang pada akhirnya semua rencana mereka gagal dan aku tidak melakukan apa-apa kecuali mengawasi ketiganya, aku tetap merasa senang. Secara fisik memang aku agak capek, tapi secara mental rasanya keteganganku benar-benar sudah hilang. Aku bahkan tidak memikirkan masalah pemilihan barang satu kalipun sampai saat ini.

Jadi secara umum tujuan utama Amaru sudah tercapai. Melakukan refreshing.

Sekarang otaku benar-benar fresh.

Sekali lagi, adalah apa yang kukira akan terjadi.

Ok, masalah pemilihan sudah tidak membuatku tegang. Tapi sekarang ada masalah baru yang membuatku benar-benar tegang. Dan tegannya itu bukan di sana, tapi di sini. Aku tidak akan mengatakannya sebab nanti omonganku akan disensor.

Tapi yang jelas sekarang aku sedang tegang.

"Kenapa kau dari tadi diam terus Naruto?"

Aku tidak bisa bilang kalau aku sedang tegang.

"Hey Amaru."

"Tambahkan KAK!."

Kau itu masih kecil.

"Jangan memandangku dengan tatapan menghina itu!."

Intusininya benar-benar sesuatu.

"Amaru. . . apa tidak sebaiknya kita tidak gantian saja menggunakan tempat ini?"

"Hahhhh . . . . kalau kau mau bisa menggunakannya besok cepat keluar dari sini!."

Akan kujelaskan keadaanku sekarang.

Aku dan gadis-gadis yang hanya memakai handuk untuk menutupi badannya ini sedang berendam di satu tempat di dalam air panas. Dengan kata lain kami semua sedang berada di pemandian air panas campuran.

Fasilitas pemandian air panas di sini katanya sangat terkenal, jika dalam jam-jam biasa pengunjungnya bisa sangat banyak dan katanya bahkan sampai di dalam jadi sesak. Karena itulah aku dan gadis-gadis ini memutuskan untuk mengunjunginya saat jam makan malam agar bisa mendapatkan space yang lebih luas serta suasana yang agak lebih tenang.

Dan begitu kami datang ke sini harapan kami benar-benar terkabul. Di dalamnya hanya ada beberapa orang tua yang kelihatannya sedang santai total dan anak-anak kecil yang sedang buru-buru mengejar waktu untuk makan malam.

Jika aku menunggu mereka selesai makan pengunjung lain akan keburu selesai makan malam dan datang ke sini, setelah itu aku harus dipaksa ngantri untuk bisa masuk lalu begitu di dalam aku harus berdesak-desakan dengan banyak orang. Kalau aku ingin merasakan sedikit ketenangan aku harus menunggu sampai besok.

Resiko itulah yang harus kuhadapi jika aku pergi sekarang.

"Lagipula aku juga yakin kalau kau ini sebenarnya tidak ingin meninggalkan tempat ini, kau ini kan orang mesum jadi pasti kau tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa melihatku."

"Laki-laki mesum itu normal Amaru!."

"Tambahkan kak!."

"Kemesuman kami itu diperlukan oleh dunia! Selain itu mencari wanita cantik juga adalah insting dasar seorang laki-laki! Jadi jangan buat aku kedengaran seperti seorang kriminal."

"Kata-katamu persis seperti seorang kriminal yang sedang membela diri."

"Terserah kau saja! Lagipula aku tidak tertarik melihat tubuh anak-anakmu itu!."

Seperti yang sudah Amaru bilang. Aku memang tegang tapi untuk harus melewatkan pemandangan ini, rasanya aku juga masih merasa benar-benar berat. Meski memang memiliki tubuh anak-anak yang paling jauh bisa disamakaan dengan anak SMP, tapi tidak diragukan lagi kalau Amaru itu seorang gadis cantik yang manis. Selain itu di sini juga ada Sara yang bisa dibilang adalah definisi kecantikan itu sendiri.

Tidak bisa melihar mereka yang sedang cuma mengenakan handuk pendek di tubuhnya saja mungkin benar-benar akan membuatku menyesali hidup.

"Ngomong-ngomong di mana Hanabi?"

"Jiwa loliconmu bangkit."

"Tolong lihat cermin dan bandingkan dirimu dengan Hanabi lalu merenunglah loli nomor dua!."

Tinggi mereka hanya beda tiga senti, lingkar tubuh mereka hanya dibedakan dengan dada Amaru yang sizenya A, dan mereka sama-sama punya muka anak-anak. Jadi bisa dibilang kalau mereka ini sebelas dua belas.

"Mesum! Mesum! Mesum! Mesum! Mesum!."

"Yang mesum itu adikmu!?

Sebab diam-dia dia membawa kamera dan merekam kakak lolinya sendiri.

Setelah beberapa menit, kami belum juga selesai membicarakan siapa yang mesum, siapa yang jadi tersangka, siapa yang jadi korban dan hukuman macam apa yang akan diterima olehkul. Dan akhirnya, entah itu karena kurang pengetahuan, pengalaman, atau beda umur aku selalu kalah dalam adu serang verbal yang kami lakukan.

"Kalian sedang apa?"

Hanabi datang dan menanyakan apa yang sedang kulakukan dengan Amaru.

"Kami sedang latihan debat!."

Sejak kapan?

"Apa itu benar Naruto?"

"Benar! Benar! Iya! Kami sedang latihan debat!."

Aku tidak bisa bilang kalau yang kami debatkan adalah aku ini lolicon atau bukan dan siapa yang lebih loli, Amaru atau Hanabi serta siapa yang lebih mesum. Aku atau Sara.

"Oh begitu."

"Ouuaaaaahhhhhh. . . . capeku rasanya sudah hilang! Sara ayo kita ikut makan malam."

"He? Mau ke mana kalian?"

"Aku sudah bilang kalau kami mau makan malam kan? Kau dengar tidak?"

"Aku dengar! Tapi apa kalian serius mau pergi? Maksudku Hanabi baru sampai dan belum menyentuh air sedikitpun."

"Di sini kan ada kau."

Jadi secara tidak langsung dia menyuruhku untuk tinggal dan menunggui Hanabi sampai selesai sedangkan mereka berdua makan malam.

Amaru langsung pergi menuju tempat ganti, tapi Sara berhenti dulu dan bilang.

"Kami juga takut jadi pengganggu."

Gadis itu melihat ke kanan dan kiri dan melihat kalau tempat ini sudah kosong lalu kembali berbicara.

"Nikmati waktu kalian, aku juga akan bilang kalau kalian akan terlambat makan malam jadi kau tidak perlu khawatir dicari-cari. . . . . kurasa kalian menghilang satu atau dua jampun tidak masalah."

Gadis ini benar-benar mesum. Aku yakin seratus persen.

"Apa maksudnya Naruto?"

"Kau tidak perlu tahu Hanabi."

Kau masih di bawah umur.

"Apa aku menyusahkan, kalau iya aku akan akan akan langsung kembali ke penginapan."

"Tidak apa-apa, aku akan menemanimu! Jadi jangan khwatirkan apapun dan nikmati saja airnya."

"Um. . kalau kau bilang begitu . . ya sudah."

Dia turun ke dalam kolam sambil menahan handuk yang melingkar di atas dadanya, setelah itu begitu dia sampai di dasarnya dia segera duduk lalu meluruskan kakinya merenggangkan otot-ototnya seperti kucing yang baru bangun tidur.

Setiap gerakannya kelihatan lucu, tapi dibalik kelucuannya ada banyak hal tidak terduga yang turut dia tunjukan padaku. Ketika dia merenggangkan kedua tangannya ke atas, dia membuat handuk yang dia kenakan jadi sedikit turun dan memperlihatkan dada mungilnya yang imut-imut.

Ketika dia menggerak-gerakan lehernya bagian itu jadi terlihat dengan sangat jelas olehku. Aku tidak tahu bagaimana caranya tapi entah kenapa rasanya lehernya jadi kelihatan benar-benar sensual. Aku memang tidak tahu alasannya tapi yang jelas alasannya buka karena aku ini lolicon.

Dan yang terakhir, begitu dia duduk di dasar kolam dan meluruskan kakinya. Handuk yang dia kenakan jadi sedikit tertarik ke atas sehingga benda itu benar-benar hanya menyangkut di batas aman saja.

Sedikit lagi dan aku bisa melihat lebih dari itu. Dan kenyataan kalau aku tidak tahu apakah dia itu mengenakan dalam atau tidak juga membuatku jadi semakin tegang.

"Sialan! sekarang aku benar-benar tidak bisa berdiri."

"Naruto?"

"Jangan perdulikan aku Hanabi, bagaimana kalau kita membicarakan pemilihan saja?"

Kalau aku terus terfokus padamu aku tidak mungkin akan bisa tenang.

"Aku juga ingin membicarakan masalah itu."

"Apa yang kau ingin bicarakan? apa kau sudah punya rencana baru untuk menaikan ratingku di sekolah?"

"Sebenarnya aku ingin bilang. . . ."

Aku boleh keluar dari pemilihan jika aku mau.

"Kenapa?"

"Dari awal aku sudah tahu kalau permintaanku itu menyusahkan, tapi beberapa hari ini aku sadar kalau permintaanku juga memberatkan."

Tiga hari yang lalu dia tidak sengaja membaca sms dari ayahku yang dikirimkan pada ibunya. Di dalam pesan itu ada pertanyaan dari ayahku pada ibunya Hanabi tentang penggunaan uang kirimanku. Dia bilang kalau aku sudah minta uang lagi padahal baru saja dikirimi.

Ibunya tidak bisa menjawab dan bilang hal asal seperti aku menghabiskan uang kirimkan untuk kencan dengan Hanabi. Tapi Hanabi tahu kalau uang yang kumiliki mengalir ke tempat lain. Sebagian besar uangku kugunakan untuk membiayai operasional tim sukes kami.

Memang anggota lain membantu masalah finansial, tapi sebab mereka sudah sangat banyak membantu di area lain kadang aku lebih memilih mengorbankan uang sebab aku tidak bisa berkontribusi dalam area lain.

Aku tidak punya banyak koneksi seperti Amaru dan aku juga tidak secerdas dia dalam melakukan seperti Sara aku juga tidak pandai berhubungan dengan orang lain, serta diapun sangat hebat dalam menarik perhatian masa agar mereka bisa memperhatikan apa yang dia ingin sampaikan.

Shikamaru jarang sekali kelihatan, dan meski kelihatanpun dia hanya tidur selagi kami semua melakukan rapat. Tapi dia punya peranan sangat besar dalam pengambilan keputusan kelompok kecil kami. dan sampai sekarang, keputusan yang dia buat selalu tepat sasaran.

Di antara mereka bertiga cuma aku . .

". . . .Yang tidak berguna."

Yang ingin mengatakan hal itu adalah aku, tapi yang mengatakannya duluan adalah Hanabi.

"Aku memberimu masalah dan aku memberimu tekanan, tapi di sisi lain aku tidak pernah membantumu."

"Hahahahahah. . . haha kukira kau akan mengatakan apa? dasar bodoh!"

"Heh?"

"Kau memang benar-benar menyusahkan. . tapi. . ."

Alasanku masuk dalam pemilihan sama sekali tidak keren, tujuanku untuk menang benar-benar tidak berguna, selain itu aku juga harus korban fisik, mental, serta harta. Tapi meski begitu saat melakukan kegiatan kampanye kami bersama dengan mereka, semua terasa menyenangkan.

"Dan yang mengumpulkan orang-orang menyenangkan itu adalah kau."

"Tapi. . . . "

"Kau tahu tidak Hanabi? aku ini orang yang tidak terlalu perduli dengan diri sendiri."

Aku tidak punya sesuatu yang benar-benar kuinginkan, aku tidak punya hal yang benar-benar ingin kulakukan, dan aku tidak punya terlalu banyak motivasi untuk menggerakan diri melakukan dan suatu hal. Dan semua itu terjadi karena aku tidak terlalu perduli dengan diriku sendiri.

Tidak punya apapun aku tidak perduli.

"Berhubung aku tidak punya apa-apa untuk dihilangkan, dan berhubung aku juga tidak terlalu ingin melakukan sesuatu untuk diriku sendiri aku berpikir."

Jika aku punya banyak waktu luang, kenapa tidak aku tidak menggunakan waktu itu untuk orang lain? jika aku tidak punya mimpi bagaimana kalau aku membantu seseorang mewujudkan mimpinya? lalu jika aku tidak perduli pada diriku sendiri bagaimana kalau aku mulai memperhatikan orang lain?

Bukankah dengan begitu aku akan jadi lebih berguna? keberadaanku akan lebih punya makna.

"Dan orang lain yang kumaksud itu adalah kau. . . . lalu akan kuberitahukan kau satu hal lagi. . "

Jika aku harus membantu seseorang, yang harus kubantu adalah gadis kecil di depanku ini. Selain dia adalah tuan rumah yang permintaanya tidak bisa kutolak, dia juga adalah orang yang terdekat denganku, lalu. .

"Aku tidak mau kau jauh dariku."

Kau tahu Hanabi?

"Dengarkan aku dengan baik Hanabi! katanya di belakang pria hebat ada wanita hebat. dan menurutku kau adalah gadis kecil yang hebat!, meski aku bukan remaja laki-laki yang hebat."

"Aku tidak tahu kau itu memuji atau menghina."

"Tapi yang jelas yang kau berikan padaku bukanlah kesusahan melainkan handicap lalu, bukan juga tekanan tapi dorongan!."

Kau memberiku sesuatu untuk diraih, dan karena itulah aku tidak ingin kehilanganmu agar aku tidak jadi kosong lagi.

"Jangan menyuruhku untuk berhenti sebab aku belum berhasil memberikanmu apa yang kau mau, dan selama aku mengusahakannya teruslah temani aku."

"Um. . "

Dia tersenyum lalu mengangguk. Dan di saat itu pula, aku menyadari kalau bibir tipis lembabnya yang terkena sedikit sinar terlihat begitu menggoda sampai-sampai jantungku yang tadi sempat tenang kembali berdetak lebih kencang.

Lalu begitu pandanganku lebih turun aku menemukan rambutnya yang basah serta pundak kecilnya yang kelihatan sangat halus. Biasanya aku akan berhenti mengomentari penampilannya pada level imut-imut, tapi untuk sekarang.

Entah kenapa aku berpikir kalau dia itu menggairahkan.

Mungkin Amaru benar tentangku. Mungkin aku ini memang benar-benar lolicon sebab walau memang Hanabi itu remaja seumuranku tapi dia kelihatan seperti anak sd. Dan yang bisa bilang seorang gadis dengan penampilan anak sd itu menggairahkan hanyalah lolicon.

"Hanabi."

Tapi aku sedang tidak terlalu perduli dengan hal itu.

"Engh. . . . Naruto. . . . "

Aku sudah berada tepat di depan Hanabi dengan kedua tanganku memegang erat pundaknya yang kecil dan dari sana, aku terus memandang gadis kecil di depanku. Yang kemudian menutup matanya.

Gawat. Kalau begini mungkin kami benar-benar akan terlambat untuk makan malam.

Di hari selanjutnya, lebih tepatnya di sore harinya kami semua kembali menaiki mobil kecil keluarga Hanabi dan menuju rumah alias pulang. Dan di perjalanan pulang kamipun, posisi duduk masih tidak berbeda terlalu jauh.

Sebab souvenir yang dibeli oleh kedua orang tua Hanabi, Sara, serta Amaru lumayan banyak. Ruang untuk kami bisa duduk jadi semakin kecil, oleh karena itu bukan hanya aku yang harus memangku Hanabi tapi Sara juga harus memangku kakaknya yang tidak bisa diam.

"Kenapa kalian terus diam? dan dari kemarin kalian juga sering diam-diaman seperti ini."

Kenapa Amaru harus menanyakan hal semacam ini sekarang?

"Tidak ada apa-apa, aku hanya capek saja."

"Apa kau juga Hanabi?"

Hanabi juga seperti Amaru, dia adalah gadis yang mendekati hiperaktif jadi melihatnya diam dan duduk tenang itu bisa dibilang adalah hal aneh.

"Ak. .aku tidak apa-apa."

Tidak akan ada yang percaya kata-katamu Hanabi.

"Kami berdua capek gara-gara ya. . yang tadi mala. . . aku hampir tidak bisa mengimbangi Naruto"

Ayah Hanabi tidak bisa melihatku, tapi meski begitu aku bisa merasakan kalau dia benar-benar sedang marah besar.

"Diam kau Hanabi! dan kalian semua! jangan pandanga aku seperti itu! aku dan Hanabi cuma main tenis meja setelah keluar dari pemandian air panas! cuma itu! percayalah padaku!"

"Jadi kalian melakukan sesuatu di dalam pemandian? begitu maksudmu?"

Orang macam apa dia? apa ibunya Hanabi punya indra keenam? padahal aku sudah sengaja tidak menyebutkan tempat itu dalam kata-kataku tadi.

"Sepertinya bullseye."

"Mem. . mem. . memang benar tap. . tapi Naruto tidak melakukan leb. . ih dari . . . ."

Dia tidak bisa mengatakannya. Dan jelas aku juga tidak bisa mengatakannya. Tapi mungkin ibunya Hanabi sudah tahu apa yang putrinya maksud.

"Tiup mataku Sara! rasanya melihat sepasang kekasih yang sedang bercumbu membuat mataku jadi benar-benar perih."

"Baiklah kak."

"Iyau. . . ap. . apa yang kau lakukan, tiup mataku bukan telingaku."

"Maaf, salah sasaran!."

"Mata dan telinga itu jauuuuuuhhhhh! . . hinya. . . "

Dengan begitu, liburkan kamipun selesai dan semuanya kembali ke rumah masing-masing kecuali aku yang numpang di rumah Hanabi. Besoknya kami berangkat ke sekolah dan begitu sampai di gerbangnya aku langsung kaget.

"Sepertinya kita sudah kalah start."

Di depan gerbang sudah ada beberapa stage dari beberapa calon, banyak sekali poster calon lain, dan bahkan selebaran yang dibagikan oleh mungkin simpatisan atau tim sukses calon-calon lain.

"Sial, gara-gara kau mengajaku berlibur aku jadi tidak bisa memanfaatkan waktu kosong untuk melakukan persiapan kampanye besar-besaran minggu ini."

"Liburan itu idemu Amaru!."

"Kita harus rapat!."

Aku tidak tahu seberapa gawatnya situasi sekarang, tapi kalau dilihat dari ekspresi susah yang ditunjukan oleh Amaru seperti posisiku sedang tidak dalam keadaan baik. Yang dari awal memang tidak pernah baik.

Kami semua buru-buru menuju ke ruang di mana Shikamaru berada. Dan begitu kami masuk, bahkan sebelum Amaru bisa bicara apapun Shikamaru sudah bilang. . .

"Kita tidak bisa melakukan hal seperti mereka! kenapa? kita tidak punya uang! dan sekarang kita tidak punya sumber uang! paham?"

"Sialaaaannn! ok! Plan B dimulai!."

Tunggu. Apa plan A-nya?

"Mulai hari ini sampai tiga hari ke depan kalian semua harus mencari uang!."

Kecuali Shikamaru.

Sepertinya pencalonanku tidak akan berjalan mulus.


Sumber inspirasi saya sedang bener-bener kosong. Sebab kebanyakan saya punya ide dari hasil baca LN, dan sekarang LN yang saya baca itu kalo gak stalled, ya di lisensikan sehingga traslatenya otomatis berhenti.

Beberapa Judul yang saya sangat suka itu.

Heavy Objet : rilisnya setun sekali. Masih lama.

No game No life : dilisensikan. translasi berhenti.

Gakusen Toshi Asterix : translasi pending.

Antimagic Academy 35th platoon : Pindah hosting.

Tsukumodo antique shop : translasi slow.

Ero manga sensei : belum rilis lagi.

Hidan no aria : dilisensikan. diremove.

Oreimo: End.

Silver cross & draculea : End.

Rakudai Kishi No Cavalry : masih teaser.

Kalo ada yang punya judul bagus mohon kasih tahu saya.