Tato
One piece
Rated: K+-T
Disclaimer: Milik Eiichiro Oda. Aku hanya meminjam mereka untuk membuat cerita ini.
Chapter2
Tatoku
Setelah Luffy mengikuti Nami, Robin kemudian duduk di dek depan. Dia memandang ke atas.
"Hidung panjang-san~" Dari menara pengawas, muncul kepala Ussop. Dia lalu melihat kebawah dan melihat Robin yang sedang duduk.
"Ada apa Robin?" Usopp mencoba melihat lebih jelas tetapi dia terpeleset dan hampir jatuh."Eeek!" Usopp menutup matanya. Tetapi ketika merasa dia tidak jatuh, Usopp pun membuka matanya dan menemukan tubuhnya di pegang oleh tangan-tangan yang keluar dari dek itu. Akhirnya Usopp selamat. Robin menggunakan kekuatannya.
"Apa kau tidak apa-apa hidung panjang-san?" Tangan-tangan itu menghilang.
"Eh, eh..iya. Terimakasih..!" Usopp masih berdebar-debar. Dia hanya melambaikan tangan."Ada apa Robin?"
"Tidak..tapi apa kau melihat doktor-san?" Robin memegang rambutnya yang tertiup angin.
"Oh.. Chopper masih bersama Zoro!" Setelah mendapat jawaban, Robin hanya melambaikan tangannya. Usopp kembali duduk di menara pengawas. Robin memejamkan matanya dan menyilangkan kedua tangannya.
"Luffy..mana yang kau suka?" Nami meletakkan tiga desain di atas meja.
"Nah.." Luffy mengamati kertas-kertas itu.
"Aku suka ini..tapi aku juga suka yang ini. Bagaimana?" Luffy memegang kedua kertas itu dan memperlihatkannya kepada Nami. Nami terlihat berpikir kemudian mengambil kedua kertas dan membawanya ke meja kerjanya.
"Nah Luffy, aku akan mencoba menjadikan satu dari dua desain ini. Kau boleh pergi sekarang." Nami mengibas-ngibaskan tangannya.
"Eh, kenapa aku harus pergi?" Luffy berdiri di dekat Nami. "Lagipula, kenapa kau mau membuatkan aku desain Nami?" Untuk sesaat, sepertinya otak Luffy dapat bekerja. Dia menjadi penasaran.
"Eh?" Nami menjadi gugup."Karena..kau temanku.." Nami memaksakan diri tersenyum untuk menutupi kegugupannya.
"Oh, begitu?" Luffy mengangguk sambil cengar-cengir."Kalau begitu aku akan menunggu.." Luffy kemudian duduk di lantai.
"...baiklah.." Nami memulai membuat perpaduan desainnya.
Robin lalu membuka matanya dan meletakkan tangannya di dagu."Hm..sepertinya navigator-san dan kapten-san baik-baik saja." Robin kemudian membuka buku dan mulai membaca.
XXX
Makan Siang yang tertunda
Di dapur, Sanji masih sibuk mengaduk adonan. Dia melirik ke arah jam."Baru pukul dua.." Sanji meletakkan panggangan kuenya dan melepas celemeknya. Dia lalu berjalan dan mengambil dua piring yang dia simpan-makan siang mereka-. Kalau saja saat itu Sanji tidak menyembunyikannya, pasti Luffy sudah menghabiskan semuanya. Dengan helain nafas panjang, diambilnya dua piring itu. Dia lalu keluar. Namun sebelumnya, dimasukkan kue nya ke dalam lemari penyimpanan dan dikunci. Sanji berjalan ke ruangan dimana Chopper biasanya meramu obat. Sanji pun membuka pintu dan menemukan rusa itu sedang membelakangi pintu. Chopper menoleh dan melihat Sanji sedang berdiri.
"Ah, Sanji!" Chopper menghentikan kegiatannya dan menghampiri Sanji.
"Ini untukmu.." Sanji menyerahkan piring kepada Chopper. Dia melihat sekeliling."Dimana dia?" Chopper menerima piringnya. Dia memang lapar.
"Maksudmu Zoro?dia sedang di kamar mandi mengoleskan obat.
"Kalau begitu, berikan ini kepadanya." Sanji memberikan piring satunya dan pergi. Chopper kemudian berteriak 'terimakasih Sanji!' dan meletakkan salah satu piring di meja. Zoro kemudian kembali. Saat melihat Chopper makan, dia menjadi merasa lapar.
"Chopper-"
"Zoro~ini bagian untukmu. Sanji tadi kemari." Zoro kemudian mengambil piringnya dan memakannya. Diluar, Sanji menyalakan rokoknya dan tersenyum. Dia lalu berjalan kembali ke dapur.
Tiga puluh menit kemudian,
"Cemilan telah siap!" Sanji membuka pintu dapur dengan semangat. Dia dapat melihat Robin yang sedang membaca. Dengan hati-hati Sanji berjalan dan meletakkan piring berisi kue di meja.
"Apa cemilannya Sanji!" Sanji mendongak dan melihat Usopp.
"Turun kalau kau mau makan!" Sanji menoleh ke arah Robin dan meletakkan secangkir kopi."Ah, Robin-shwan..dimana Nami-chan?"
Robin menutup bukunya yang berjudul 'The Secret of Egyptian Word' dan menatap Sanji."Navigator-san sedang berada di ruang kerja..kalau boleh..apakah aku boleh bertanya koki-san?" Robin tersenyum.
"Ya, tentu saja Robin-swan!" Sanji memegang tangannya dan menaikkan satu kakinya.
"Hm..aku merasa koki-san agak aneh. Aku tidak bermaksud apa-apa tetapi aku menyadari koki-san memanggil dengan -shwan?" Robin tidak masalah dengan hal itu. Tetapi dia hanya ingin memastikan kenapa koki mereka memanggilnya terbalik dengan navigator mereka.
"Oh, benarkah Robin-shwa.." Sanji terdiam. Dia melepaskan pegangan tangannya dan mengerutkan kening."Aku pikir aku akan menemui Chopper." Sanji membungkuk kemudian berjalan pergi.
"Kemana Sanji?" Usopp telah turun dan berjalan menuju meja. Diambilnya kue kering itu.
"Koki-san menemui doktor-san.." Robin membuka bukunya lagi.
"Apa Sanji sakit?" Usopp mengambil kue itu lagi sebelum Luffy datang.
"Hm.." Dari kejauhan, tampau sebuah sampan yang mengeluarkan api mendekati going merry."Aku harap dia tidak keberatan aku mampir." Seorang laki-laki bertelanjang dada dan memakai topi terlihat berdiri di kapal kecil itu."Luffy~"
TBC
