Love in Secret

.

.

.

.

.

.

.

{Roronoa Zoro, Haruno Sakura} {Sanji, Nami}

.

.

.

.

.

.

.

.

©Aomine Sakura

.

.

.

.

Naruto, One Piece

.

.

.

.

.

.

.

DILARANG COPAS ATAUPUN PLAGIAT DALAM BENTUK APAPUN! JIKA TIDAK SUKA DENGAN CERITA ATAU ADEGAN DI DALAMNYA SILAHKAN KLIK TOMBOL 'BACK'! DLDR!

Selamat Membaca!

oOo

Seorang lelaki berdiri dengan Batu di tangannya. Sedangkan di pinggangnya terdapat tiga buah pedang.

"Siapa kau?"

"Ah ah.. Sebenarnya aku baru saja pulang dari latihan pedangku. Aku tidak bisa menutup mataku ketika ada seseorang yang membutuhkan bantuan seperti saat ini." Roronoa Zoro mengorek telinganya dengan acuh tak acuh.

Sedangkan Sakura menatap tidak percaya pada Zoro yang sekarang sedang berdiri. Apakah ini sungguhan? Apakah dia datang untuk menyelamatkannya?

"Ayo kita hajar dia!"

Zoro menyeringai ketika berbagai macam benda tajam di keluarkan. Dia paling suka dengan hal menantang nyawa seperti ini.

"Dulu di Amerika aku sering menemukan lawan yang tangguh. Aku harap kalian tidak kencing di celana."

Semuanya berjalan cepat dan Sakura bahkan merasa ini adalah mimpi. Beberapa orang yang membawanya dikalahkan dengan sabetan pedang milik Zoro.

"Hanya segini saja?"

Dor!

Sebuah peluru melesat tanpa Zoro menyadarinya. Selongsong besi itu menembus bahu kiri Zoro sehingga menyebabkan darah merembes ke pakaian yang dikenakan Zoro.

"I-itu balasan untukmu berengsek!"

Tanpa pikir panjang lagi, Sakura berlari mendekati Zoro. Dia memegang bahu Zoro dan melihat tangannya yang kini berwarna merah.

"K-kau tidak apa-apa?" tanya Sakura.

Zoro merasakan bahunya nyeri tapi ini bukanlah apa-apa. Dia pernah merasakan rasa sakit yang lebih dari ini. Apalagi dengan luka jahitan di dada dan kakinya. Luka bekas tembakan seperti ini bukanlah apa-apa.

"Bertahanlah, kita akan ke rumah sakit."

.

.

Sanji, Nami dan Robin berlari di lorong rumah sakit. Mereka bisa melihat Sakura yang duduk di ruang tunggu dengan wajah yang terluka sedangkan Zoro duduk dengan baju bersimbah darah.

"Apa yang kau lakukan, brengsek!" Sanji mengangkat kerah milik Zoro.

"Sanji-nii, ini tidak seperti yang kamu bayangkan." Sakura mencoba melerai calon kakak iparnya yang terlihat menyeramkan itu.

"Sakura, jika dia tidak melakukan hal ini kepadamu lalu apa." Nami memandang adiknya itu. "Kamu mengatakan jika kamu minta tolong."

"Lepaskan aku, brengsek." Zoro menatap Sanji dengan tajam.

"Kau mau mengajakku bertengkar, hah?"

"Dia menyelamatkanku."

Mereka semua memandang Sakura dengan pandangan bingung.

"Apa maksudmu, Sakura-chan?" tanya Robin.

"Aku dikejar oleh orang-orang yang tidak aku kenal. Aku nyaris diperkosa dan aku sangat takut saat itu. Lalu aku menghubungi Nami-nee meski aku tahu jika aku mungkin saja tidak selamat. Tapi kemudian dia datang dan menyelamatkanku. Meski bahunya harus tertembak peluru."

Sanji melepaskan cengkramannya pada kerah milik Zoro. Dia menatap Sakura dengan pandangan menyelidik.

"Kamu mengatakan hal seumurnya, bukan? Kamu tidak sedang mengada-ada kan? Atau kamu diancam olehnya?"

Zoro berdecak kesal.

"Apa kau tidak mendengarnya, koki sialan?"

"Hah? Apa katamu?"

"Dia menyelamatkanku, Sanji-nii." Sakura tersenyum. "Maafkan aku karena membuat kalian khawatir."

"Syukurlah jika begitu." Nami bernapas lega. "Lain kali aku tidak akan membiarkanmu pulang sendirian saat malam hari."

Robin tidak bisa menahan tawa anggun miliknya. Nami mulai mengeluarkan semua kekhawatirannya dan dia yakin, Sakura tidak akan dibiarkan sendirian setelah ini.

"Sebagai imbalan terima Kasih, bagaimana jika kami mengantarkanmu pulang?" tanya Robin. "Bukankah bahumu juga sedang terluka."

"Robin-cwhan! Kau bidadari sekali." mata milik Sanji mulai berubah.

"Aku tidak-"

"Kami tidak menerima penolakan."

.

.

"Disini rumahmu?" Sanji menghentikan mobilnya di sebuah rumah megah.

"Aa." Zoro membuka pintu mobil. "Terima Kasih atas tumpangannya."

Robin tersenyum ketika memandang Zoro. Sedangkan Sakura merasakan sesuatu berdegub dalam dadanya. Rasanya dia seperti kembali ke masa lalunya.

Kenshi.

"Kami seharusnya yang berterima Kasih." Sanji buka suara. "Cepatlah masuk ke rumahmu, aku tidak mau melihat wajah bodohmu."

"Ck, kau brengsek sekali."

Mobil yang dikendarai Sanji meninggalkannya seorang diri. Dia memandang rumahnya yang tampak sepi dan gelap. Rasanya dia seperti tinggal di kastil berhantu.

Mengeluarkan kunci dari saku celananya, Zoro membuka pintu rumahnya. Melepas sepatunya, dia merasakan bahunya sangat nyeri. Sepertinya dia terlalu ceroboh hingga membuat gangster sialan itu mampu menembaknya. Untungnya lukanya tidak serius.

Mengusap belakang lehernya, dia baru merasakan tubuhnya sangat letih. Dia baru menyadari jika sekarang pukul satu malam. Pantas saja tubuhnya sangat lelah sekali.

Tetapi, dia masih tidak habis pikir. Mengapa dia mau menyelamatkan Sakura. Tadinya dia akan menutup mata dan telinganya. Pura-pura tidak tahu. Tetapi entah mengapa, kakinya bergerak sendiri dan tangannya tanpa di perintah mengambil Batu dan melemparkannya begitu saja.

"Kau sudah pulang, Zoro."

Menolehkan kepalanya, dia melihat ayahnya, Dracule Mihawk sedang duduk dan meneguk segelas anggur.

"Oh, ayah sudah pulang."

Zoro merasakan suasananya sangat canggung. Dia jarang bertemu dengan ayahnya dan ketika bertemu seperti ini, dia merasa canggung. Sepertinya dia belum terbiasa dengan ayahnya.

"Aku dengar, kamu menyelamatkan gadis dari kampusmu." Mihawk memandang putranya. "Apa lukamu baik-baik saja?"

Ah. Zoro tidak heran jika ayahnya mengetahui semuanya. Tentu saja, sebagai seseorang dari kepolisian, ayahnya pasti mengetahui apa yang terjadi padanya. Bohong jika tidak ada yang melapor pada polisi tentang kejadian tadi.

"Ya. Dokter sudah mengobatinya." Zoro melangkahkan kakinya menuju kamarnya. "Aku mau istirahat."

"Apa kamu mau ayah memberesi mereka?"

Menghentikan langkah kakinya, Zoro menolehkan kepalanya.

"Tidak perlu. Aku tidak punya urusan dengan mereka."

Mihawk memutar gelas di tangannya sebelum meneguk anggur di dalam gelasnya yang tinggal setengah. Dia memandang pintu kamar Zoro yang sudah tertutup rapat.

"Dia mirip sekali denganku. Ne, Margaret?"

.

.

"Untung saja Franky mau meminjamkan mobilnya pada kita." Nami merebahkan dirinya di sofa.

"Dia memang pria yang baik." Robin tersenyum.

Sakura menundukan kepalanya. Biar bagaimanapun, semua ini karena kesalahannya. Meski sebenarnya bisa disebut dengan kecelakaan.

Tetapi, dia telah membuat kedua kakaknya bahkan mungkin Sanji-nii dan yang lainnya khawatir.

Tetapi ada sesuatu yang mengganggunya. Rasanya Zoro seperti Kenshi yang selalu menyelamatkannya saat terdesak. Dia tidak percaya pada kebetulan, jika bisa di bilang, mungkinkah itu takdir?

Tidak mungkin Zoro kebetulan lewat di tempatnya dalam bahaya jika tidak ada benang merah yang menghubungkan.

Sakura seperti melihat Kenshi ketika Zoro berdiri dengan memegang Batu di tangannya. Dan entah mengapa dadanya terasa sangat sesak.

"Pokoknya, kamu tidak akan aku biarkan sendirian."

Sakura tersadar dari lamunannya dan memandang Nami. Sanji kemudian muncul membawa tiga cangkir berisi coklat hangat.

"Aku membawakanmu coklat hangat." Sanji memberikan cangkir berisi coklat hangat kepada Sakura. "Mungkin itu bisa menenangkanmu."

"Terima Kasih." Sakura memandang ketiganya. "Aku tidak tahu bagaimana jika tidak ada kalian."

"Jangan berterimakasih pada kami." menghembuskan asap rokok. "Bukankah marimo itu yang menyelamatkanmu?"

Robin tertawa kecil.

"Sakura, bagaimana jika kamu tidur bersamaku?"

Sakura memandang Robin dan senyumnya merekah.

"Um!"

"Robin-cwhan, Sakura-cwhan, bolehkah aku-"

"Sanji-kun!"

"Hai', Nami-swan."

oOo

Zoro membuka matanya ketika jam alarm berbunyi. Sebelah tangannya mematikan alarm dan merasakan bahunya nyeri. Dia tidak tahu jika sebuah peluru dapat membuat bahunya nyeri seperti ini.

Bangkit dari posisi berbaringnya, Zoro memandang tubuhnya di cermin. Dia bukan sekali dua kali mendapatkan perban di tubuhnya, dia tidak asing dengan perban yang menempel di tubuhnya.

Tetapi untuk luka ini, dia yakin jika dia tidak akan bisa membuka perbannya sembarangan sebelum lukanya benar-benar sembuh.

Saat di Amerika, dia adalah salah satu berandalan yang kerap sekali terlibat masalah dan tawuran. Luka-luka seperti ini sudah tidak asing baginya, tetapi dia tetap saja manusia yang bisa merasakan rasa sakit.

"Nii-chan, kamu sudah bangun?" Peronna membuka pintu kamar kakaknya dan melongokan kepalanya. "Apa kamu baik-baik saja? Ayah sudah menceritakan semuanya padaku, apa kamu mau aku mengganti perbanmu?"

"Tidak perlu, aku baik-baik saja."

"Dasar sok kuat." Zoro mengabaikan cibiran adiknya. "Jika butuh sesuatu panggil aku."

Zoro membiarkan adiknya menutup pintu kamarnya. Dia harus segera berganti pakaian dan pergi ke kampus.

.

.

"Sakura!"

"Sakura, apa kamu baik-baik saja?"

Kantin yang tadinya sudah ramai bertambah gaduh ketika dia datang. Tentu saja teman-teman kakaknya suka sekali membuat keributan. Dia sudah memprediksi jika hal ini akan terjadi.

"Lihatlah luka di bibirmu itu, Sakura." Ussop memandang Sakura. "Apa itu sakit?"

"Tentu saja, bodoh!" Sanji memandang Ussop sebelum mengalihkan pandangannya kepada Sakura. "Apa kamu ingin sesuatu?"

"Tidak. Terima Kasih, Sanji-nii." Sakura tersenyum. "Ini hanya luka ringan, Ussop-nii. Aku baik-baik saja."

"Tapi bagaimana kamu bisa selamat dari para preman itu?" tanya Franky.

"Ada orang tidak sayang nyawa yang menyelamatkannya hingga membuat bahunya sendiri harus tertembak." Nami menjawab.

"Apa itu orang yang mirip dengan Kenshi?" Luffy yang sedang makan bertanya.

"Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Nami.

"Jadi benar, jika pria yang mirip Kenshi itu yang menyelamatkan Sakura?" Ussop memandang mereka dengan pandangan tidak percaya.

Sakura mengabaikan perbincangan yang terjadi. Emerladnya memandang seorang pria yang berjalan melewati kantin.

Nami menolehkan kepalanya ketika Sakura bangkit dari duduknya.

"Ada apa, Sakura?" tanya Nami.

"Aku lupa jika aku harus menemui Hancock sensei." Sakura tersenyum. "Aku harus pergi."

Sanji menghembuskan asap rokoknya ke udara dan Robin menopangkan dagunya. Tentu saja mereka tahu alasan Sakura tiba-tiba pergi seperti itu.

.

Sakura melangkahkan kakinya menaiki tangga. Dia yakin jika Zoro tadi menuju atap kampus. Membuka pintu atap, Sakura bisa melihat Zoro sedang tidur.

Dengan ragu-ragu Sakura melangkahkan kakinya dan duduk di samping Zoro.

"Apa yang kau lakukan disini?"

Zoro sedikit membuka matanya dan melirik Sakura.

"Aku hanya ingin tahu apakah kamu baik-baik saja."

"Hanya luka seperti ini tidak akan membunuhku."

"Terima Kasih banyak untuk yang kemarin, apa aku bisa melakukan sesuatu untuk membalas kebaikanmu?"

Mengorek telinganya, Zoro memasang wajah yang menyebalkan. Sebenarnya dia hanya ingin membantu gadis itu saja, dia tidak ada niatan untuk meminta imbalan atau apapun.

"Bisakah kamu berhenti bersikap menyebalkan?"

Sakura tidak bisa menahan tawanya. Dia mengeluarkan sebuah kotak bekal berwarna biru.

"Untukmu."

Mengangkat satu alisnya. Zoro memandang Sakura.

"Apa ini?"

"Untukmu. Aku membuatkannya sebagai ucapan terima Kasih." Sakura meletakan kotak bekal yang dibawanya. "Aku harus pergi."

Entah mengapa Sakura merasa lebih hidup. Dia bisa tersenyum, rasanya setelah kematian Kenshi dia tidak bisa tersenyum. Dan dia sudah lupa bagaimana rasanya seperti ini.

.

.

"Ah menyebalkan, aku tidak bisa mengerjakan satu pun kuis dan saat ini aku sangat lapar."

Kampus sudah cukup sepi saat Luffy berjalan keluar dengan rambut acak-acakan.

Ini sudah tiga hari sejak dia dan Hancock tidak saling berbicara. Bahkan Hancock tidak membalas pesan dan tidak mengangkat telepon darinya.

Dia mulai merindukan kekasihnya itu. Meski usianya dan Hancock terpaut cukup jauh, tetapi dia sangat menyayangi Hancock. Dia sangat merindukan Hancock. Lebih tepatnya masakan wanita itu.

Biasanya Hancock selalu memasakan makanan kesukaannya dan selalu memperhatikannya. Dia tidak tahu, jika berpisah akan sesakit ini.

Kemudian langkah kakinya terhenti. Matanya menatap seseorang yang berdiri di tengah halaman kampus. Luffy bahkan tidak mau mempercayai apa yang dilihatnya.

"Hancock? Apa yang kamu lakukan disini?" Luffy menghampiri wanita berambut hitam itu.

Boa Hancock tidak menjawab. Dia menghamburkan dirinya dan memeluk Luffy. Pria berambut hitam itu bahkan terkejut ketika sebuah pelukan dia terima.

"Hancock? Kamu kenapa?"

"Aku merindukanmu." Hancock tidak bisa menahan semua rasa rindunya dan memandang Luffy. "Maafkan aku Luffy, aku bahkan tidak bisa marah lama-lama denganmu. Aku sungguh merindukanmu."

"Shishishi.." Luffy tertawa dan mengusap rambut kekasihnya dengan lembut. "Aku juga merindukanmu."

"Luffy.." Hancock merasakan wajahnya memerah ketika melihat betapa tampannya kekasihnya. Kemudian dia Buru-buru mengalihkan wajahnya yang memerah.

"Yosh! Karena sekarang kita sudah baikan! Ayo kita makan, aku lapar Hancock."

Wanita yang sedang di mabuk Cinta itu menganggukan kepalanya. Dia mengamit lengan prianya dan tersenyum bahagia.

"Aku akan buatkan masakan yang enak untukmu."

"Yosha!"

.

.

.

Roronoa Zoro meletakan tangannya di belakang kepalanya dan memandang langit-langit kamarnya. Dia sedang malas melakukan kegiatan apapun dan rasanya ada yang aneh dengan tubuhnya.

Matanya memandang kotak bekal milik Sakura yang sekarang ada di meja makannya. Dia tidak tahu jika Sakura pandai memasak, masakannya terasa benar-benar lezat dan dia tidak berbohong akan hal itu. Sesamapainya di rumah, dia mencuci kotak bekalnya itu dan Peronna kemudian memergokinya.

Adiknya yang cerewet dan menyebalkan itu bahkan menginterogasinya terus menerus tanpa henti. Meski dia sudah menjelaskan jika kotak makan itu bukan dari kekasihnya, Peronna tidak mau mempercayainya dan terus menginterogasinya.

Bahkan pagi ini pun sama, Peronna tidak lelah untuk menanyakannya. Telinganya terasa mau pecah. Untung saja saat dia pulang, Peronna belum pulang dari sekolahnya.

Saat melewati kelas fakultas Seni Budaya, dia tidak sengaja memandang Sakura yang sedang mencatat materi yang sedang diterangkan oleh dosen. Dan entah mengapa, Sakura terlihat sangat cantik saat itu. Ada sesuatu yang berdebar di dalam dadanya.

Bangkit dari duduknya, dia mengambil jaketnya. Meski musim gugur baru saja mulai, tetapi angin yang berhembus cukup kencang mampu membuatnya kedinginan juga.

"Nii-chan mau kemana? Ini sudah hampir makan malam."

Zoro memandang adiknya yang sedang menyiapkan makan malam. Adiknya itu memang sangat rajin, berbanding terbalik sekali dengannya.

"Aku akan makan malam di luar saja."

"Dengan kekasihmu?" Peronna menatap kakaknya dengan curiga. "Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dariku, nii-chan. Jika kamu memiliki kekasih, tidak ada salahnya kamu menceritakannya padaku."

"Berisik."

Peronna mengedip-ngedipkan matanya dan memandang kakaknya yang hilang di balik pintu. Dia mengangkat bahunya dan kembali melanjutkan acara memasaknya.

Mungkin sebuah burger akan membuat moodnya membaik.

.

.

"Kamu tidak perlu repot-repot melakukan hal ini, Sanji-nii."

Sakura duduk di salah satu kursi di restaurant. Sanji menghidupkan rokoknya sebelum menghembuskan asapnya ke udara.

"Tidak apa sekali-kali kita makan di restaurant bukan?" Sanji tersenyum. "Mellorine~ kamu sangat cantik sekali malam ini, Sakura-cwhan."

Sakura tidak bisa menahan tawanya. Kekasih kakaknya memang terkadang mata keranjang ketika melihat wanita cantik. Tetapi dia tahu, jika Sanji adalah pria yang Setia.

"Apa ada makanan yang kamu inginkan?" tanya Sanji.

"Bagaimana dengan steak dan milkshake?"

"Akan segera aku pesankan, Mellorine~"

Sembari menunggu Sanji memesankan makanan untuknya, dia mengeluarkan sebuah buku gambar. Suasana cafe yang tenang dan nyaman membuatnya ingin menuangkan segala imajinasinya.

Tangannya dengan mudah menggambar apa yang dia inginkan.

Pintu cafe terbuka dan seorang pria muncul. Matanya memandang sekelilingnya dan terpaku ketika melihat rambut merah muda yang duduk membelakanginya.

Langkah kakinya menghampiri wanita itu.

"Ah, aku tidak menyangka jika akan bertemu denganmu disini."

Mengangkat kepalanya, Sakura tidak bisa menahan keterkejutannya. Dia benar-benar tidak mengira jika yang berdiri dihadapannya adalah orang yang sedang dia pikirkan.

"Zoro senpai?"

"Apa yang kamu lakukan disini?" kemudian mata milik Zoro menatap buku di tangan Sakura. "Apa kamu sedang menggambarku?"

"Apa yang senpai pikirkan." Sakura menutup bukunya. "Senpai sendiri kenapa ada disini?"

"Aku lapar, apa tidak boleh aku datang kemari saat lapar?"

"Ya bukan begitu juga." Sakura menjadi sedikit salah tingkah.

"Oi, kuso Marimo! Apa yang kamu lakukan disini?!"

Sanji menatap Zoro dengan pandangan berang. Sedangkan Zoro menatap Sanji dengan cuek.

"Aku ingin makan, apa tidak boleh?"

Sakura membulatkan matanya ketika Zoro duduk di sampingnya dan tangannya berada di belakang punggungnya seolah sedang merangkulnya. Sedangkan Sanji menatap pria berambut hijau itu dengan pandangan tidak suka.

"Kau-"

"Sudah Sanji-nii. Bukankah makan bersama jauh lebih baik?"

"Tapi, Sakura-cwhan-"

"Sanji-nii, tidak apa-apa."

Sanji mengalah dan duduk dihadapan keduanya. Dia mengambil rokok dari saku jaketnya dan menghidupkannya. Sakura menarik napas panjang dan lega, sepertinya semua akan baik-baik saja meski suasana memanas.

.

.

.

"Ngghh.."

Nami sedikit membuka matanya ketika merasakan ada seseorang yang memeluknya dan mencium pundaknya yang terbuka. Tanpa melihat pun, Nami tahu siapa yang sedang memeluknya.

"Sanji-kun, sudah pulang?" tanya Nami dengan suara serak.

"Um ya." suara berat Sanji menjawab. "Bagaimana dengan restaurant?"

"Tidak ada yang istimewa." Nami menjawab sembari memejamkan matanya kembali. Dia dapat merasakan Sanji menurunkan tali tanktopnya.

"Ngghh... Sanji-kun." Nami menggeliat ketika sebuah tangan meremas payudaranya.

"Oh Nami-san, kau membuat milikku mengeras."

Nami sudah tidak bisa berfikir lagi. Rasa lelah sudah menyergapnya dan dia hanya bisa pasrah ketika Sanji melakukan apapun yang dia mau.

.

.

.

Hanya dengan celana panjang hitam yang dipakainya, Sanji menghembuskan asap rokoknya ke udara. Dia menuju balkon kamarnya dan memandang kota Tokyo yang Indah dengan lampu-lampu yang menyala dengan terang.

Setelah bercinta dengan kekasihnya, dia menjadi tidak bisa memejamkan matanya. Padahal, biasanya dia akan kelelahan setelah melakukannya hingga pagi menjelang. Tetapi entah mengapa, ada suatu perasaan yang mengganggunya dan dia tidak tahu apa itu.

Ponsel dalam saku celananya bergetar. Mengambilnya, Sanji memandang nomor pribadi yang tertera di layar ponselnya.

"Moshi-moshi."

"Sanji ka?"

Sanji mengangkat satu alisnya. Dia merasa tidak mengenali orang yang sedang menghubunginya.

"Siapa disana? Aku tidak mengenalmu."

"Bisa kita bicara? Ini tentang keluargamu."

Jadi, perasaan yang mengganggunya adalah ini?

"Aku akan kesana, katakan saja dimana tempatnya."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tbc

Yosh yosh, kembali lagi dengan Saku disini wkwkwkwkwk.. Adalah yang merindukanku?

Hayoloh.. Apa yang sebenarnya terjadi pada sanji? Oh ya, dan harap di baca setelah buka puasa meski adegan ehemnya udah di kurangi sih.. Untuk jaga-jaga aja wkwkwkwkwk..

Sampai ketemu di chap depan!

-Aomine Sakura-