Always Love U
Disclameir : kyuwook bukan punya saya.
Pairing : Kyuwook.
Warning : BL, Death cara, TYPO, GAJE, berantakan dan antek-anteknya.
Genre : Romance / angst (entah bisa di sebut angst atau tidak)
Request from lailatul magfiroh 16, mian kalau cerita yang eon buat tidak memuaskan.
Tidak suka jangan di paksakan membaca klik back aja, warning berlaku jadi No Bash.
.
.
Star
Chapter 3 ! End...
Namja tampan bertubuh tinggi itu berlari di sepanjang koridor rumah sakit, tak di hiraukannya teriakan 2 orang securiti di belakangnya, namja tampan itu hanya terfocus kearah depan atau lebih tepatnya sebuah pintu kamar pasien yang tak lain adalah kamar kekasihnya.
Kyuhyun -namja tampan itu- dengan piyama tidur yang masih di pakainya keluar dari rumahnya beberapa waktu yang lalu tanpa rasa malu dengan penampilannya yang tak karuan, namja tampan itu baru saja terbangun dari mimpi buruk tentang kekasihnya yang membuatnya tersentak dari tidurnya tepat pukul 12 malam, ia yang merasakan sebuah firasat tak enak langsung melesat begitu saja kerumah sakit tanpa berpamitan terlebih dahulu pada Appa dan Ahjumma-nya.
Cklek
Brak
Pintu kamar di buka dengan kasar oleh pemuda tampan itu, namun sesaat kemudian namja tampan itu memasang tampang terkejut dan tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"Kyu.." lirihnya sambil tersenyum melihat kedatangan kekasihnya.
Tap tap tap
Grep
Kyuhyun berjalan cepat kearah kekasihnya yang sepertinya sudah sadar dari koma-nya, di hirupnya aroma tubuh kekasihnya, masih sama dan sedikit tercampur bau obat-obatan mengingat ini adalah rumah sakit.
"Kau sudah sadar? Ini bukan mimpikan?" Kyuhyun mengeratkan pelukannya , menggesek-gesekan hidungnya di ceruk leher kekasihnya.
"Ne, Kyu." Jawab Ryeowook dengan suara lemah.
"Jangan membuatku khawatir lagi." Lirihnya, sebutir airmata turun dipipi putih Kyuhyun, Ryeowook tertegun hatinya sesak melihat kekasihnya menangis, 'bagaimana nanti jika kau benar-benar ku tinggalkan kyu' batinnya.
Tap tap brak
"Itu dia orangnya, yang tadi kami kejar karena memaksa masuk, uisa." Seru seorang securiti sambil tangannya menunjuk-nunjuk kearah Kyuhyun, sedangkan yang di tunjuk hanya menggaruk belakang kepalanya sambil tersenyum salah tingkah.
"Benar itu tuan Cho?" tanya sang dokter tajam.
"Ehehehe, ne, mian uisa, tapi aku sangat mengkhawatirkan kekasih 'cantik'ku ini, aku tadi bermimpi buruk, uisa." Katanya menjelaskan, sang dokter terdiam sesaat lalu tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ya sudah, tak apa, lain kali jangan di ulangi lagi ne, itu sangat mengganggu pasien lain yang sedang tidur, dan lagipula ini tengah malam."
"Ne uisa, kamsahamida." Ucap Kyuhyun, dokter dan securiti itu pun keluar dari kamar Ryeowook.
"Jadi ini sudah malam Kyu?" tanya Ryeowook yang langsung di jawab anggukan kecil kekasihnya.
"Aigoo~, aku baru menyadarinya." Kyuhyun memeluk erat kekasihnya.
"Tidurlah kembali, kau pasti masih mengantuk kan?" Kyuhyun merebahkan tubuh kekasihnya dan juga dirinya, di tariknya sebuah selimut untuk menutupi tubuh keduanya.
"Memangnya aku tidur berapa lama Kyu?" Ryeowook mendongak kearah kekasihnya.
"Sudahlah itu tidak penting, sekarang tidurlah, kau masih mengantuk bukan." Ryeowook tak membalas dan menuruti ucapan kekasihnya.
.
.
Esok harinya Kyuhyun seperti biasa pulang sekolah langsung menuju rumah sakit, namun kali ini wajahnya terlihat segar dan penampilannya pun rapih kembali, pagi-pagi sekali Kyuhyun pulang kerumahnya atas permintaan Ryeowook dan langsung mendapat ceramah gratis dari sang Appa.
Dengan santainya namja evil itu berjalan menuju kamar kekasihnya, namun begitu hampir sampai di tempat tujuan dirinya di kejutkan dengan pintu kamar kekasihnya yang terbuka lebar, ada apa ini? Pikirnya, tak mau berpikir lama Kyuhyun pun melangkah menuju kamar kekasihnya, samar-samar ia mendengar seseorang berbicara di dalam, Kyuhyun pun mempertajam pendengarannya.
"Wookie aku.. ingin minta.. maaf." Ucap orang itu pelan namun masih bisa di dengar nada suaranya agak bergetar , Kyuhyun kaget saat mengenal suara itu, ya itu adalah suara sahabatnya Changmin.
Kyuhyun diam-diam mengintip, tampak Ryeowook memandang bingung pada sahabatnya.
"Kau tau akulah yang waktu itu mengirimi mu sms atas nama Kyuhyun, ya aku diam-diam mengambil ponselnya saat dia sibuk latihan basket, lalu setelah kau tiba di gudang waktu itu aku langsung menguncimu dari luar." Ungkapnya, Ryeowook shok mendengar ucapan jujur sahabat kekasihnya.
"Aku tidak tahu harus berkata apa, Min. Aku.."
"Tak perlu kau maafkan pun tak apa Wookie, ini memang salahku, kau koma itu karena perbuatanku, silahkan hukum aku sesukamu." Changmin terduduk dengan kedua tangan yang menapak lantai rumah sakit kepalanya tertunduk.
"Yak, apa yang kau lakukan eoh? Berdiri, jika kau memang bersungguh-sungguh meminta maaf tak perlu dengan cara seperti itu, lagipula aku sudah memaafkanmu." Changmin mendongak kearah Ryeowook lalu sesaat kemudian namja jangkung itu berdiri dan menghambur memeluk Ryeowook.
"Gomawo, Wookie, kau memang berhati baik, pantas Kyuhyun menyukaimu." Pujinya.
"Eh, a-anu itu..." Ryeowook bingung harus menjawab apa, pasalnya dia melihat kekasihnya di depan pintu kini menatap tajam keduanya tak lupa aura hitam dan api cemburu yang berkobar sebagai backgroundnya menguar dari tubuh kekasihnya.
Changmin yang merasa hawa aneh mulai melepaskan pelukannya lalu menatap Ryeowook kembali.
"Ada apa Wookie, kenapa wajahmu secperti melihat hantu begitu?" tanyannya bingung.
"Bukan hantu, tapi lebih tepatnya iblis." Jawab sebuah suara di belakang Changmin, seketika tubuh Changmin menegang dan bulu kuduknya berdiri meremang, dengan gerakan patah-patah namja jangkung itu menoleh kebelakang.
"Ehehehe K-K-Kyu, ini bisa di-.."
Bletak
"Beraninya kau memeluk Wookie-ku." Ucapnya galak sambil menjitak kepala sahabatnya tidak keras memang namun sukses membuat kepalanya benjol dan sedikit berasap (?).
"Itukan hanya reflek Kyu, kau pelit sekali." Ujarnya membela diri.
"Reflek katamu, bilang saja kau diam-diam mencuri kesempatan untuk bisa memeluk my sweetheart Wookie chagie benarkan." Baik Ryeowook maupun Changmin keduanya sweatdrop mendengar nama panggilan Kyuhyun pada kekasihnya.
"Err Kyu itu aku, ah, aku ingat hari ini aku harus menemani Umma kepasar, aku pergi dulu ne, Wookie semoga kau cepat sembuh." Ucapnya lalu berjalan keluar kamar rawat Ryeowook.
"Ya! Berani sekali dia melarikan diri." Sungut namja tampan berambut ikal itu.
"Kyu, apa yang kau bawa?" tanya Ryeowook saat melihat sebuah kantong plastik di tangannya.
"Ini topi rajut dan syal, aku sengaja membelinya untukmu." Katanya menjelaskan, Kyuhyun menghampiri kekasihnya lalu memakaikan kedua benda tersebut, sebenarnya topi itu sengaja di belikan Kyuhyun untuk Ryeowook agar tak banyak rambut Ryeowook yang mulai rontok berjatuhan di bantal.
"Selesai, aigoo kekasihku manis sekali." Pujinya sambil berdecak kagum, Ryeowook yang tak terima di sebut manis mengembungkan kedua pipinya yang alhasil mendapat cubitan gemas dari sang kekasih.
"Appo, ya! Jangan mencubit pipi, huh." Ketusnya sambil membuang muka, melihat itu Kyuhyun bukannya takut ia justru malah menyeringai.
"Siapa suruh kau bersikap lucu di depanku, heum." Ryeowook melolot tajam pada Kyuhyun, siapa yang sedang bersikap lucu, pikirnya.
"Ah ini sudah waktunya jam makan siang, kajja aku akan menyuapimu." Kyuhyun mengambil sebuah jeruk dari keranjang buah di atas meja yang ada di pinggir ranjang Ryeowook lalu mengupasnya.
"Kajja buka mulutmu, aaa."
"Sirheo, huh."
"Ya ya! Apa-apaan sikap itu, kajja makan, atau kau lebih suka mulutku yang menyuapimu, eoh." Ujarnya sambil menyeringai, Ryeowook yang melihat seringai mesum kekasihnya buru-buru melahap buah jeruk itu berikut jari tangan kekasihnya.
Hap krauk
"Appo! Kenapa kau malah mengigitku." Ringis namja tampan itu, di tiupnya jari telunjuknya yang kini terdapat bekas gigitan Ryeowook.
"Rasakan itu, dasar mesum." Ketusnya.
"Aishh, namjachinguku ini manis tapi bibirnya pedas sekali kalau berbicara, apa perlu aku cium setiap hari agar manis lagi seperti dulu." Imbuhnya.
"Apa maksud ucapanmu?"
"Atau aku culik saja ya, biar aku bisa leluasa menghukumnya." Gumamnya lagi menghiraukan pertanyaan Ryeowook barusan.
Ryeowook hendak menyela ucapan kekasihnya namun di urungkannya niat itu saat melihat seorang suster masuk kedalam kamarnya.
"Annyeong, tuan Kim Ryeowook, saatnya untuk di periksa." Ucap sang suster sambil membawa beberapa alat untuk mengecek kesehatan pasien.
"Suster, bolehkah kalau saya mengajak Ryeowook jalan-jalan?" tanya Kyuhyun, sang suster yang sudah mengecek kondisi Ryeowook menoleh kearahnya lalu tersenyum.
"Tentu saja, tapi tuan Ryeowook kondisinya belum pulih benar jadi saya sarankan agar mengunakan kursi roda."
"Ne suster, gomawo. Chagie kajja kau harus siap-siap." Ucap Kyuhyun.
"Memangnya kita mau kemana Kyu?" tanya Ryeowook saat dirinya sudah terlihat rapi dan duduk di kursi roda.
"Kita akan ke suatu tempat chagie." Jawab Kyuhyun sambil mendorong kursi roda yang di duduki Ryeowook.
.
.
Saat turun dari mobil Ryeowook langsung di suguhi pemandangan yang menakjubkan di depan sana, laut biru dengan pasir putih sebagai pijakan juga angin laut yang lembut menerpa wajahnya.
"Kau mengajakku ke pantai Kyu?" tanya Ryeowook, keduanya kini sudah turun dari mobil Kyuhyun yang terparkir tak jauh dari bibir pantai.
"Ne, kau lihat lautnya indah kan."
"uhmm, aku suka laut." Ujarnya, Kyuhyun tersenyum lalu mulai mendorong kursi roda yang di duduki Ryeowook lalu membawanya kesisi pantai di mana ombak gelombang ombak seakan saling berlomba untuk mendekati keduanya lalu menyapa kaki mereka.
Ryeowook berdiri lalu merentangkan kedua tangannya merasakan hembusan angin laut yang terasa menyejukan kedua matanya terpejam menikmati belaian angin yang menerpa kulit wajahnya.
Kyuhyun menggeser kursi roda yang menghalangi jaraknya dengan Ryeowook lalu memeluk tubuh kurus itu penuh sayang di benamkannya kepalanya diceruk leher Ryeowook menghirup dalam-dalam aroma tubuh kekasihnya, Ryeowook menurunkan lengannya yang terentang lalu menyentuh tangan sang kekasih yang melingkar erat di pinggangnya.
"Bulan depan kita menikah." Ucap Kyuhyun.
"Eh? Maksudmu?" tanya Ryeowook, ia ingin memastikan pendengarannya.
"Aku bilang kita akan segera menikah, aku sudah bicara pada Appa dan beliau setuju dan merestui kita." Lanjutnya.
"Tapi Kyu kita masih sekolah."
"Tak apa, lebih cepat itu lebih baik dan yang terpenting Appa sudah setuju." Ryeowook memandang lurus kearah depan.
"Kyu, percuma saja kita menikah, kita tidak akan sempat melaluinya, hidupku sudah tidak bertahan lama Kyu, kau tak akan bahagia."
Kyuhyun membalikan tubuh kekasihnya agar menghadap kearahnya lalu menatap Ryeowook tajam, "Yang menentukan aku bahagia atau tidak itu adalah diriku sendiri." Desisinya tajam.
"Kyu.." Ryeowook kehilangan kata-katanya.
"Menikahlah denganku Kim Ryeowook." Ucapnya tulus dan penuh keyakinan.
"Ne aku mau." Jawabnya, Kyuhyun tersenyum lalu mengeliminasi jarak diantara keduanya.
.
.
"Suster Ryeowook menghilang!" seru Eunhyuk panik setengah mati, namja bergummy smile itu awalnya ingin menjenguk Ryeowook di kamarnya namun saat membuka pintu wajahnya langsung berubah pucat karena tak mendapati Ryeowook di kasurnya.
"Tenang saja, tadi tuan Cho sedang mengajaknya jalan-jalan." Jelas sang suster, Eunhyuk menghela nafas lega namun raut wajahnya kembali menunjukan ekspresi kaget.
"Jadi Ryeowook sudah siuman?" tanya Eunhyuk.
"Ne tuan Ryeowook sudah siuman tadi malam."
"Syukurlah," ujarnya tersenyum senang namun sedetik kemudian senyum itu menghilang kembali karena mengingat sesuatu, "YA! DASAR KAU EVIL BERANI SEKALI KAU MEMBAWA KABUR SEPUPUKU!" makinya kencang pada sosok yang entah berada di mana menurutnya, Donghae dan suster langsung menenangkan Eunhyuk yang sepertinya sudah kalap dan hendak mencari keberadaan keduanya.
"Tenang Hyukk, Kyu pasti menjaganya kok, dia hanya mengajak jalan-jalan saja supaya Wookie tidak merasa bosan." Ucap Donghae sambil menahan lengan kekasihnya di bantu sang suster.
"Andwae, Wookie harus kembali, akan kubunuh si evil itu." Eunhyuk terus memberontak, "Evil awas kau!".
.
.
Bunyi deburan ombak yang menabrak batu karang di sekitar tepi pantai saling bersahutan, sungguh suasana yang romantis bagi setiap pasangan yang berada di tepi pantai di sore hari di temani mentari sore yang mulai atau hampir tenggelam, namun bukan itu obyek perhatian kita kali ini melainkan dua insan bergender sama yang kini sedang asik melumat bibir satu sama lain.
Mereka adalah Kyuhyun dan Ryeowook, posisi keduanya pun tidak bisa di bilang aman terbukti dari posisi Ryeowook yang berada di bawah dengan Kyuhyun diatasnya sangat intim bukan, sesekali ombak yang lumayan besar menabrak tubuh keduanya seolah mengajak keduanya untuk terseret bersama sang ombak sampai ketengak lautan luas.
"Eunghh.." terdengar lenguhan dari bibir cherry Ryeowook yang kini tengah di lumat Kyuhyun dengan sedikit kasar tak lupa gigitan-gigitan kecil di bibir bawah Ryeowook yang kini sudah mulai bengkak.
Tubuh keduanya basah namun keduanya seakan tak peduli dengan semua itu, Kyuhyun merasakan dorongan kecil di dadanya yang menandakan sang kekasih sudah kehabisan nafasnya alhasil Kyuhyun yang dengan wajah terpaksa melepaskan ciumannya.
"Kau ingin membuatku mati, Kyu." Ucap Ryeowook dengan nada ketus.
"Kkk, itu tidak mungkin chagie." Sahutnya, keduanya lalu mendudukan diri menghadap kearah mentari yang bersinar kejinggaan tanda mulai tenggelam.
"Lihat mentarinya indah sekali." Tunjuk Ryeowook kearah mentari di depan sana, melupakan kekesalannya yang tadi pada Kyuhyun.
"Ne, ah tapi sebaiknya kita segera kembali kerumah sakit chagie, uisa dan suster pasti mengkhawatirkan kita, kajja."
"Eh tapi aku masih ingin di sini Kyu." Tolak Ryeowook, Kyuhyun menggeleng.
"Tidak bisa, kajja kita harus kembali." Mau tidak mau Ryeowook menuruti kata-kata Kyuhyun.
Kyuhyun mendudukan Ryeowook di kursi roda lalu mendorongnya menuju mobil.
.
.
Kyuhyun dan Ryeowook tiba di rumah sakit dan keduanya langsung mendapat teriakan melengking yang dahsyat dari Eunhyuk, sebenarnya itu di tujukan untuk Kyuhyun namun Ryeowook juga kena karena ada di dekat Kyuhyun dan bermaksud membela.
"Lain kali minta ijin dulu padaku, arra." Ucap Eunhyuk mengakhiri ceramah panjangnya, untung saja Ryeowook dan Kyuhyun juga kekasih Eunhyuk –Lee Donghae- tidak kejang-kejang mendengar ceramahan namja manis pemilik gummy smile itu, karena bisa di pastikan bukan hanya Ryeowook saja yang menginap di sana kedua namja tampan itu pun akan ikut menjadi pasien dadakan.
"Hyung ada yang ingin ku katakan padamu." Akhirnya setelah sebelumnya Ryeowook hanya membuka tutup mulutnya tidak jelas karena terhalang ceramah sang sepupu ia pun mulai berbicara.
"Kau ingin berkata apa?" tanyanya dengan nada judes, masih kesal intinya.
"Aku.. akan menikah.. dengan Kyu..err.." Ryeowook memandang ragu-ragu pada Eunhyuk yang kini menatap serius dirinya, "bulan depan." Kalimat terakhir itu Ryeowook langsung bersembunyi di belakang calon suaminya.
1 detik
No respond
2 detik
Eunhyuk mengerjap-ngerjapkan mata.
3 detik
Mulut Eunhyuk setengah terbuka
4 de..
Brukk
Eunhyuk pingsan di tempatnya dengan tubuh yang langsung di tahan kekasihnya.
"Hyung!." Ryeowook yang panik langsung menghampiri sepupunya.
"Sepertinya dia shok." Ucap Donghae.
Eunhyuk kembali sadar lalu memandang tajam Kyuhyun, "tunggu aku benar-benar sadar evil." Ucapnya sebelum benar-benar pingsan lagi di pangkuan kekasihnya, O_O.
.
.
2 hari setelah kejadian yang hampir 'merenggut' nyawa tuan muda Cho itu akhirnya Ryeowook di ijinkan pulang dari rumah sakit, Kyuhyun tidak mengantarnya pulang karena namja berwajah evil itu sedang sibuk mengurus semua perlengkapan pernikahannya, dan ada satu hal juga yang perlu di ketahui Eunhyuk akhirnya setuju dan merestui pernikahan sepupunya setelah ia siuman dari pingsannya, yah awalnya Eunhyuk mencak-mencak dulu tapi akhirnya luluh juga.
Tiba di rumah sederhana Eunhyuk dan Ryeowook, namja mungil itu kini lebih memilih langsung masuk kamarnya dan beristirahat sedangkan sang sepupu menemani kekasihnya di ruang tamu.
"Apa kau yakin dengan keputusanmu merestui pernikahan mereka, kau tahukan kalau mereka masih kelas 2 SMA." Eunhyuk menghela nafas berat.
"Awalnya aku berpikir begitu dan lagi wookie tidak bisa bertahan lagi, tapi melihat raut wajah bahagianya aku tidak bisa berkata apa-apalagi, aku hanya ingin dia selalu tersenyum dan bahagia sebelum..sebelum waktu menghapus senyum dan kebahagiaannya." Donghae tertegun, yah melihat seseorang yang kau sayangi bahagia tentu kau juga akan merasa bahagia bukan.
"Jika memang kebahagian Wookie adalah Kyuhyun, tak apa, aku merestuinya. Kau mengerti maksudku kan?"
"Aku mengerti, semoga saja apapun jalan yang mereka pilih, itu yang terbaik untuk mereka." Ujarnya sambil merangkul bahu kekasihnya.
Di balik pintu kamar Ryeowook, namja mungil itu mengintip dan mendengarkan semua percakapan Eunhyuk dan Donghae, Ryeowook menangis sambil tersenyum, ya dia terharu.
"Gomawo hyung, aku sangat bahagia kau tidak perlu khawatir, sekali lagi gomawo." Bisiknya pelan sambil melihat pasangan Haehyuk di celah pintu kamarnya yang terbuka kecil.
.
.
.
"Ahjumma, kau yakin tuxedo ini sangat cocok dengan konsep pernikahan kami?" tanya Kyuhyun sambil melihat pada sepasang tuxedo berwarna putih cream yang terpajang di depannya, saat ini Kyuhyun sedang memesan sepasang tuxedo untuk pernikahannya dengan Ryeowook 3 minggu lagi dengan di temani sang ahjumma tercinta.
"Tentu saja kalian akan sangat serasi memakai ini, apalagi Ryeowookie, aigoo dia pasti manis sekali." Ujarnya sambil menangkup wajahnya sendiri dengan kedua tangannya, tatapan matanya berbinar sambil menerawang keatas.
"Baiklah, aku akan ikuti apa yang di katakan ahjumma, nah sekarang semua perlengkapannya sudah selesai." Kyuhyun menghembuskan nafas lega, ya semua perlengkapan pernikahannya memang sudah lengkap, dari mulai gedung , undangan, cincin, hingga tuxedo pernikahan pun sudah tersedia hanya tinggal menunggu hari H saja.
"Jangan gugup begitu Kyu, semua pasti berjalan lancar."
"Aku tidak gugup." Sangkalnya, padahal sudah jelas sekali raut wajahnya penuh kecemasan, sang bibi tersenyum kecil melihat tingkah keponakannya.
"Siapapun pasti akan merasa gugup jika sudah berhadapan dengan pernikahan mereka Kyu, itu hal yang wajar." Ahra mengusap lembut rambut Kyuhyun.
'Semoga semuanya berjalan dengan lancar' batinnya.
.
.
Tok tok tok
Cklek
Terdengar bunyi pintu yang di ketuk lalu di buka oleh pemiliknya di kediaman Eunhyuk dan Ryeowook, seorang namja paruh baya bertubuh tegap berdiri di depan pintu rumah mereka.
"Ahjussi silahkan masuk." Eunhyuk mempersilahkan namja paruh baya yang ternyata adalah tuan Cho untuk masuk kedalam rumahnya.
"Ne kamsahamnida, Hyukk. Ku dengar Ryeowookie sudah pulang?" tanya Tuan Cho saat ia sudah masuk dan duduk di sofa ruang tamu yang kebetulan masih ada Donghae yang duduk di sana, sepertinya namja tampan berwajah ikan itu masih betah dan belum ada niat untuk pulang.
"Ah ne, mau ku panggilkan Ahjussi?" tanya Eunhyuk.
"Tak perlu, biar aku yang menemuinya di kamarnya." Kata Tuan Cho, pria tua itu berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju kamar calon menantunya yang tak jauh dari sana.
Cklek
Pintu kamar Ryeowook di buka oleh sang calon ayah mertua, layaknya keluarganya sendiri Tuan Cho tidak pernah berbasa-basi atau pun menganggap Ryeowook hanya sekedar kekasih anaknya saja tapi Tuan Cho justru selalu ingin mengenal lebih jauh sosok calon menantunya, dengan cara mengakrabkan diri layaknya keluarga.
"Ryeowookie." Panggil Tuan Cho lembut, di lihatnya sosok Ryeowook yang sedang duduk di sisi tempat tidur.
"Appa? Kenapa datang kemari? Bukankah Appa sedang sibuk?" tanya Ryeowook, jujur ia agak sedikit kaget dengan kedatangan ayah dari kekasinya.
"Hahaha, sekali-sekali tak apakan menjenguk menantuku yang baru saja sembuh dari sakit, lagipula pekerjaanku tidak terlalu sibuk sekarang." Jelasnya, Ryeowook tertunduk malu apalagi mendengar kalimat 'menantu' yang meluncur dengan mulus dan tanpa beban dari bibir calon mertuanya.
"Apa kau akan membiarkan Appamu ini hanya berdiri saja di sini?" tanya Tuan Cho dengan nada jahil, Ryeowook tersentak dan buru-buru meminta calon mertuanya untuk duduk di sisinya.
"Ah Appa, mianhae silahkan duduk di sini." Tuan Cho terkekeh melihat tingkah lucu Ryeowook setelah berhasil duduk di sampingnya, Tuan Cho langsung mengacak rambut Ryeowook pelan yang membuat Ryeowook mempoutkan bibirnya, Tuan Cho kembali tertawa karena berhasil menggoda menantunya namun tawa itu kini berubah menjadi tawa getir kala setelah ia melepaskan tangannya dari rambut Ryeowook ia bisa menemuka beberapa helai rambut milik namja mungil itu terselip diantara jemarinya.
"Wookie, Appa senang melihatmu sadar kembali, kau tahu Kyuhyun seperti kehilangan semangat hidupnya saat kau masih koma." Kata Tuan Cho.
"Mian, aku tidak..."
"Kau tidak perlu meminta maaf Wookie, Appa justru sangat berterima kasih padamu, berkat kau Kyuhyun mau berubah, berkat kau Kyuhyun bangkit dari keterpurukannya saat harus kehilangan Umma-nya, kau yang mengubah semuanya Wookie." Katanya lagi, Ryeowook tertegun perkataan Tuan Cho sungguh menenagkan hatinya.
"Appa salah, Kyu berubah karena kemaunya sendiri, bukan karena aku." Ujarnya, Tuan Cho kembali tersenyum lembut.
"Tetap saja dia berubah setelah bertemu denganmu. Tolong Wookie, tolong bahagiakan anak Appa satu-satunya ne, jaga dia apapun yang terjadi akan Appa terima asal dia bahagia bersamamu." Ryeowook tercekat mendengar permintaan ayah Kyuhyun, nada suaranya bergetar seperti menahan tangis.
Ryeowook tidak mampu untuk menjawab ucapan Tuan Cho, entahlah apa ia sanggup membahagiakan Kyuhyun di usianya yang semakin sempit 'bisakah aku membahagiaknnya?' batinnya bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Tuan Cho beranjak dari duduknya merasa pembicaraannya dengan calon menantunya sudah cukup.
"Ah sepertinya Appa harus segera pulang, terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk mengobrol, lain kali Appa akan datang lagi kemari kalau sempat. Jaga kesehatan ne, Appa pulang." Katanya, Ryeowook ikut berdiri lalu mengantar Tuan Cho sampai di depan pintu keluar rumah.
"Appa hati-hati di jalan ne." Tuan Cho menoleh kearah Ryeowook lalu tersenyum lembut sambil menganggukan kepalanya.
"Ne," sahutnya lalu masuk kedalam mobil miliknya, dapat Ryeowook lihat pria tua itu melambaikan tangannya sebelum mobil benar-benar melaju kencang.
"Apa saja yang kalian bicarakan tadi?" tanya Eunhyuk yang berdiri di belakang Ryeowook.
"Masalah Kyuhyun." Jawabnya sambil berjalan kearah sofa.
"Jadi Cho ahjussi benar-benar merestui kalian?"
"Ne, Appa memang meresrtui kami." Jawabnya, "Hae hyung bisakah aku meminta tolong padamu?"
"Ne boleh, apa itu?"
"Aku ingin hyung yang menjadi pengiringku saat berjalan di altar nanti." Kedua pasangan di depannya terkejut dan melotot tak percaya.
"Lho? Kenapa bukan Hyukkie?" tanya Donghae yang merasa tak enak pada Eunhyuk.
"Tak apa Hae, aku juga merasa kau memang lebih cocok yang menjadi pengiring pengantin untuk Wookie." Sela Eunhyuk.
"Ah baiklah aku bersedia, hehehe."
.
.
Hari pernikanan Kyuhyun dan Ryewook pun telah tiba, gedung pernikahan keduanya pun tampak sudah ramai dengan para tamu undangan yang terdiri dari rekan-rekan bisnis Tuan Cho dan juga teman-teman yang sekelas dengan keduanya.
"Kyu kau tampak sangat keren dan tampan dengan tuxedo itu." Puji Changmin sambil menonjok pelan bahu Kyuhyun.
"Tentu saja aku harus kelihatan tampan dan keren di depan pengantinku." Balasnya narsis, Changmin sweatdrop mendengar ucapan narsis sahabatnya.
"Lalu mana Wookie, apa dia belum datang?" tanya Changmin sambil melihat-lihat sekitar.
"Sebentar lagi dia datang, ah aku harus segera ke altar sambil menunggu pengantinku datang." Kata Kyuhyun sambil berjalan menuju altar pernikahannya.
"Ne, jangan gugup Kyu, kau pasti bisa." Ucap Changmin menyemangati, Kyuhyun mengacungkan jempolnya.
.
.
"Wookie sudah siap?" tanya Donghae.
"Ne hyung, tapi aku gugup sekali, aku takut semuanya gagal dan berantakan." Jawabnya, kentara sekali jika ia memang sedang gugup.
Namja mungil itu sebenarnya sudah siap beberapa saat yang lalu hanya saja ia terlalu gugup, berbagai pemikiran buruk pun mulai merasuk di pikirannya, bagaimana jika ia tiba-tiba merasa lidahnya kaku saat berkata 'aku bersedia' walaupun sebenarnya sangat mudah, bagaimana jika terjadi sesuatu padanya misalnya dia tiba-tiba saja ambruk, bagaimana jika pernikahannya gagal karena dirinya dan berbagai pemikiran buruk lainnya terus berseliweran di otaknya, membuatnya tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya.
"A-appo," lirihnya, Donghae yang melihat kondisi Ryeowook mendadak ikut panik apalagi melihat cairan merah yanh mulai keluar dari lubang hidung namja mungil itu.
"Wookie, kau baik-baik saja, hidungmu berdarah?"
"Tak apa hyung aku bisa menahanya, kajja sebaiknya kita cepat kesana." Ryeowook mengambil selembar tisu untuk mengelap darah di hidungnya, untung saja darahnya tidak menetes ke tuxedo putihnya.
"Tapi kau terlihat pucat sekarang, sebaiknya di tunda dulu pernikahan ini Wookie." Saran Donghae, Ryeowook menggeleng cepat.
"Anio hyung, aku tak apa, awalnya aku memang berpikir seperti itu, tapi aku tidak ingin Kyu dan Appa kecewa, kajja kita kesana." Ryeowook menarik tangan Donghae.
.
.
Kyuhyun berdiri dengan gelisah di altar, wajah terlihat cemas sambil terus menatap kearah pintu masuk, namun wajahnya berubah cerah saat mendapati sosok yang di nanti kini sudah berada di depan sana berjalan menghampirinya.
Namja mungil itu tersenyum pada calon suaminya yang kini juga sedang membalas senyumnya. Ryeowook kini sudah berada di depan Kyuhyun, Donghae pun melepaskan gandengannya lalu menyerahkan tangan Ryeowook pada Kyuhyun yang dengan senang hati di terima namja tampan itu.
"Bisa kita mulai?" tanya seorang pendeta di depan keduanya, Ryeowook dan Kyuhyun mengangguk bersamaan.
Tuan Cho dan Eunhyuk tampak antusias dengan moment ini terbukti keduanya kini sibuk dengan kamera di tangannya yang terus menyorot keduanya.
"Cho ahjussi, lihat mereka berdua serasi sekali." Eunhyuk mengeluarkan pendapatnya.
"Ne, ah lihat wajah Kyu sangat gugup, hahahaha." Ujar Tuan Cho sambil tertawa melihat anaknya yang terlihat gugup saat pendeta di depannya mengucapkan ikrar pernikahannya.
"Saya bersedia." Terdengar sebuah jawaban yang meluncur dengan mulus dari bibir Kyuhyun, yah walau pun awalnya terlihat gugup namun bisa di atasi olehnya, sang pendeta beralih kearah Ryeowook dan mengucapkan kalimat yang sama.
Ryeowook merasakan suhu tubuhnya meningkat antara gugup dan juga rasa sakit di kepalanya yang sedari tadi dia tahan, namja mungil itu sebisa mungkin tetap focus walau kini pandangannya mulai memburam.
"Sa..saya..ber..bersedia.." tepat saat mengucapkan kalimat itu namja mungil itu ambruk di depan namja yang kini sudah sah menjadi suaminya, tidak, Ryeowook tidak pingsan karena ia masih mempertahankan kesadarannya.
"Wookie!" pekik Kyuhyun panik, para tamu udangan langsung berdiri begitu juga dengan Eunhyuk dan Tuan Cho yang berlari menghampirinya.
"Chagie bertahanlah."
"Mianhae.. aku baik-baik saja.. bantu aku berdiri.." Kyuhyun menbantu Ryeowook berdiri.
"Wookie, kamu baik-baik saja nak, wajahmu pucat sekali." Tanya Tuan Cho dengan mimik khawatir.
"Gwaenchanna Appa, aku masih bisa bertahan." Jawab Ryeowook denga suara berat menahan rasa sakit yang menderanya.
"Haah~" Tuan Cho menghela nafas, "Sebaiknya acara ini cepat di selesaikan agar Ryeowook bisa beristirahat, kalau masalah pesta ini biar Appa yang mengurusnya." Ucap Tuan Cho.
"Ne Appa." Kyuhyun menyetujui saran Appanya.
Acara pun kembali di lanjutkan, tubuh Ryeowook terpaksa di topang Eunhyuk karena takut namja mungil itu ambruk kembali.
Kyuhyun mengambil sebuah kotak berwarna merah yang berisi dua buah cincin berwarna perak keemasan dengan sebuah batu permata berwarna biru di tengahnya, namja tampan itu mengambilnya satu lalu memakaikannya di jari manis Ryeowook, sedangkan Ryeowook dia di bantu Eunhyuk untuk memakaikan cincin di jari manis Kyuhyun.
"Dengan ini kalian sah menjadi pasangan, silahkan cium pasangan anda." Kyuhyun mendekati Ryeowook mencium kening namja mungil itu, perlahan ciumannya turun dan berhenti di bibir.
Bunyi tepuk tangan dari para undangan terdengar dan mengakhiri moment yang cukup menegangkan tadi.
"Kyu mianhae, aku..."
"Ssstt, jangan di teruskan aku bahagia dan juga merasa lega sekarang." Ucapnya, memeluk erat pasangan hidupnya.
Tes tes
Cairan pekat berwarna merah mengalir dari lubang hidung Ryeowook, Kyuhyun seketika langsung panik di raihnya selembar tisu untuk membersihkan darah yang terus mengalir.
"Kyu, aku lelah kedua mataku juga terasa berat."
"Tidurlah, aku akan menggendongmu, kita akan segera pulang." Ucap Kyuhyun, di gendongnya tubuh Ryeowook ala bridal.
Tuan Cho menatap nanar putra dan menantunya, pria tua itu pun tak sanggup menahan kesedihannya.
"Hyukkie, tolong ikuti mereka." Perintahnya pada Eunhyuk.
"Ne. Hae kajja kita kuti mereka." Eunhyuk menarik lengan Donghae keluar dari gedung pernikahan itu.
.
.
"Kyu, aku ingin pergi kepantai yang waktu itu pernah kita datangi." Pinta Ryeowook dengan suara lemah.
"Ne, chagie kitak akan kesana." Jawab Kyuhyun, sebisa mungkin menahan tangisnya walau airmatanya jelas-jelas sudah terjatuh di kedua pipinya.
'Aku tahu chagie, ini adalah hari terakhirmu, tapi sungguh aku tak sanggup jika harus kehilanganmu, mianhae jika aku terpaksa melakukan ini chagie, mungkin kau akan marah tapi aku tidak punya pilihan lain selain ikut denganmu.' Batin Kyuhyun, diraihnya sebuah cutter di kantong celananya kemudian tanpa sepengetahuan Ryeowook, Kyuhyun memotong urat nadinya.
.
.
Tiba di tepi pantai Kyuhyun dan Ryeowook turun dari dalam mobil, Kyuhyun menggendong 'istri'nya menuju sisi laut di dudukannya Ryeowook di atas pasir lalu dirinya pun ikut duduk sambil memeluk erat pasangan hidupnya.
"Lihat lautnya sangat indah." Ryeowook membuka kedua matanya, yang sedari tadi selalu terpejam.
"Ne, aku ingin sekali berenang di sana, tapi aku tidak bisa karena dulu aku pernah tenggelam di laut saat mengambil sebuah bola." Ujarnya.
"Jinja? Kenapa tidak bilang padaku chagie, padahal aku bisa saja mengajarimu."
"Kau katakan itu pun percuma saja, aku phobia berenang sejak saat itu." Ungkapnya, Kyuhyun merasakan beban di pundaknya, rupanya Ryeowook kini bersandar di bahunya.
"Kyu aku mengantuk, bolehkan jika aku tidur di bahumu?" tanya Ryeowook nada suaranya semakin lemah.
"Ne chagie, tidurlah jika kau sudah merasa ngatuk, aku disini menemanimu." Tak ada sahutan lagi dari Ryeowook, Kyuhyun tersenyum pahit 'kita akan tidur bersama chagie' batinnya, perlahan ia pun menutup kedua matanya sambil tetap memeluk tubuh yang sudah dingin dan kaku di pelukannya.
Kedua pasangan Donghae dan Eunhyuk yang berhasil mengejar keduanya hanya berdri di kejauhan memperhatikkan keduanya.
"Mereka romantis sekali ne." Celetuk Donghae tanpa mengalihkan pandangannya.
"Ne, tapi bukankah seharusnya mereka pulang kerumah Cho ahjussi, kenapa malah datang kemari." Sahut Eunhyuk, andai keduanya tahu jika pasangan di depannya kini telah menutup mata untuk selama-lamanya mungkinkah keduanya hanya akan memperhatikan dari jauh.
"Apa kita hampiri saja, aku tidak mau jika Cho ahjussi marah karena keduanya tidak ada di rumah saat ia pulang." Saran Donghae.
"Benar juga, kajja kita kesana."
Eunhyuk dan Donghae sudah sampai di depan pasangan Kyuwook, namun keduanya terkejut saat melihat pasangan di depannya kini sedang tertidur menurut dugaan mereka.
"Kyu ireona, kau dan Wookie harus segera pulang." Kata Eunhyuk sambil menggoyang-goyang tubuh Kyuhyun, kening Euhyuk mengerut karena Kyuhyun tak bergerak sama sekali, Eunhyuk mengerling kearah Donghae.
"Biar aku coba bangunkan." Kali ini Donghae yang akan mencoba membangunkan Kyuhyun namun arah matanya melihat sesuatu yang ganjil di pergelangan tangan kanan Kyuhyun, di raihnya tangan namja berwajah Evil itu alangkah terkejutnya kedua pasangan itu begitu melihat sayatan yang lumayan dalam tepat di nadi namja evil itu.
"Ommo, Kyu.." pekik Eunhyuk tak percaya dengan apa yang di lihatnya, seketika tubuhnya lemas dan jatuh terduduk di depan pasangan yang kini sudah menjadi mayat itu.
"Pabbo, Kyu kau sungguh pabbo hiks kenapa hiks... kenapa kau tega tidak memberitahukan ini pada kami.. hiks.. kenapa kau begitu nekat Kyu..." makinya pada sosok di depannya di sela isak tangisnya.
"Hyukkie, sudah sebaiknya kita segera hubungi Cho ahjussi." .
.
.
Suasana di pemakaman Kyuhyun dan Ryeowook di penuhi dengan aura kesedihan dari orang-orang yang datang, teman-teman sekolah dan guru-guru keduanya pun banyak yang menangisi kepergian keduanya mereka tak menyangka baru saja mereka menghadiri pernikahan keduanya kini mereka harus datang kepemakaman keduanya.
Eunhyuk yang berada di posisi depan bersama kekasihnya tak henti-hentinya menangis sejak pemakaman berlangsung, Tuan Cho yang berada di samping Eunhyuk hanya diam tak mengatakan sepatah kata pun ia hanya memandang sedih kedua makam di depannya, berbeda dengan Ahra yang keadaanya sama seperti Eunhyuk.
Para pelayat satu persatu pulang hingga kini hanya menyisakan empat orang di sana, Eunhyuk , Donghae, Ahra dan Tuan Cho, posisi mereka sama sekali tak berubah.
"Aku sudah mengira hal ini akan terjadi." Tuan Cho akhirnya membuka suara, ketiga orang yang berada di sana menoleh bersamaan kearahnya.
"Maksud Ahjussi?" tanya Eunhyuk.
"Saat Kyuhyun mengutarakan keinginannya untuk menikah dengan menantuku, aku sudah menyadari ada yang tidak beres dengan keinginannya, tapi aku tidak bisa melarangnya saat itu." Ungkapnya.
"Wae?"
"Karena aku melihat keseriusan di wajah putraku, aku pernah berkata padanya, apapun keputusannya itu adalah pilihan yang terbaik untuknya, dan jika keputusannya untuk menikah dengan menantuku adalah kebahagiaannya maka aku akan merestuinya. Tapi aku tidak pernah tau jika Kyu memiliki keputusan akhir yang seperti ini."
"Aku pun tidak menyangkanya sama sekali ahjussi, Wookie bahkan tidak mengatakan apa-apa sebelum ia pergi, dan Kyuhyun malah berbuat nekat seperti ini." Eunhyuk menundukan kepalanya.
Tuan Cho menatap lekat dua nisan di depannya, menghela nafas sejenak lalu menghembuskannya, "Kyu, Appa harap setelah ini kau benar-benar bahagia di sana dengan menantuku, jaga dia, cintai dia, kau harus selalu bersamanya, di sini Appa hanya bisa mendo'akanmu dan Appa berharap kau mendengar apa yang Appa ucapkan." Ucapnya.
"Wookie, hyung hanya berharap kau juga bahagia di sana bersama Kyuhyun, Hyung janji akan sering-sering berkunjung kemari bersama Hae, hyung harap kau juga mendengar ucapan hyung." Ucap Eunhyuk sambil membungkukan tubuhnya lalu tegak kembali.
"Ah sepertinya kita harus segera pulang hari sudah semakin sore." Kata Ahra.
"Benar juga kajja." Keempat orang itu pun beranjak dari sana.
Tak lama setelah keempat orang itu pergi dari sana dua sosok tak kasat mata memperhatikan kepergian mereka, senyum berkembang di bibir pucat keduanya.
"Semuanya tenang saja, kami pasti akan bahagia." Ujar salah satu dari sosok itu sebelum akhirnya menghilang kembali.
~END~
huwaa ending macam apa ini#nangisguling2...
Annyeong semuanya,, lama banget ya ff ini ga update... mana ga jelas pula endingnya plus ceritanya ancurrrr.. huwee mianhae buat semuanya jika endingnya macam begini dan banyak kekaurangan di mana-mana... suweerrr kimi bener-bener ga bisa bikin ending yang bagus T.T...
Buat yang udah nyempetin buat baca, mereview, memfav and yang memfollow, kimi ucapkan banyak-banyak terima kasih..
Dhia bintang, guest, wookiepoopz, dheek enha1, kyuwookiddo, ryeoyun, mie2ryeosom, opie90, ryeozaki, guest, nanisaaa, nishaRyeosomnia, augesteca, ghaldabalqies, ahrastringself, key yoshi, guest, guest 2, myryeongkU, pinky05kwmS, ryeo ryeong...
Sekali lagi makasih buat semuanya, sampai ketemu lagi di ff kimi yang lain...
Akhir kata untuk yang terakhir kalinya...
Review...
